[PG+16 / STRAIGHT] Morning After Dark Part 1

Title: Morning After Dark
Author: azura-chan (chingzz)
Beta Reader: hanashinki @ wordpress.com
Rating : PG+16 / straight
Casts: Lee Ki Kwang (BEAST) and OC
Other Casts: Yoon Doo Joon (BEAST)
Genre: Fantasy, AU, Horror, Thiller, Fluff
Length : 2 Shots
Part: 1 of 2
Disclaimer: I don’t own the Ki Kwang and Doo Joon characters here. They belong to themselves, and this story is only a fiction. So please don’t sue me.

©azura-chan 2010 All rights reserved. Distribution of any kind is prohibited without the written consent of azura-chan.

credit by azura-chan (ezra @ artfratermyra)

PART ONE

Larik cahaya mentari seolah mengintip dari balik tirai jendela. Sepasang makhluk haus darah bernaung di balik sibakannya. Dekapan sang pria kian mengerat, saling menghangatkan tubuh mereka.

YA! Ki Kwang, tutup tirai itu,” perintah Yeon Ri, berusaha menghalau terik sinar mentari yang menghujam matanya. Ki Kwang bergumam kecil, urung melepaskan dekap erat pada tubuh yang berbaring di sampingnya.

YA! BANGUN!” Yeon Ri menggeliat, berusaha melepaskan diri dari tangan yang melingkar di pinggangnya.

“Sudahlah, tutup saja matamu dengan bantal.” Ki Kwang melempar benda empuk di bawah kepalanya. Yeon Ri menghela napas; merasa tak adil dengan perlakuan Ki Kwang barusan. Namun, gadis itu hanya dapat memukul pelan punggung polos yang tersampir di hadapannya.

Ki Kwang berdecak, tak tahan dengan rengekan Yeon Ri yang semakin menjadi. Dengan langkah sedikit limbung, ia menyeret telapak kakinya, menjejaki lantai, dan menutup tirai jendela.

“Bagaimana? Kau senang?” tanya Ki Kwang dengan wajah lusuh.

Yeon Ri meringis, bersikap acuh tak acuh atas permintaannya barusan. Sudut bibirnya berusaha menyulam senyuman maaf, namun sayang Ki Kwang tetap tak menanggapi niat baik itu.

Mianhada,” ucap Yeon Ri, menarik kedua lengan Ki Kwang untuk kembali melingkari pinggangnya.

“Aku malas.” Dengan cepat Ki Kwang menarik tangannya dari genggaman Yeon Ri. Kata-kata ketus itu begitu mencerca perasaan. Namun, dalam hitungan detik saja, punggungnya sudah berbalik, menghadap tembok tanpa meninggalkan kalimat perpisahan.

YA!” Jari-jari telunjuk Yeon Ri mulai menari, meninggalkan jejak di permukaan kulit Ki Kwang. Ia menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kejahilan Yeon Ri. Namun, alih-alih berhenti, Yeon Ri malah menangkap tubuh kekar itu ke dalam dekapan.

Ki Kwang hanya terdiam, membiarkan tubuh dingin itu menyelimuti dirinya. Di balik kekesalan, ia terkikik geli di dalam hati. Gadis yang amat dicintainya begitu polos hingga terkadang membuat ia kesal.

 

****

“Bagaimana? Kau sudah siap?” Ki Kwang sibuk bersolek di depan cermin. Tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya terlihat sangat pas.

Sedetik kemudian, seorang wanita cantik jelita muncul di sampingnya. Bibirnya  merekah, membentuk senyuman tipis yang bersanding sempurna.

“Sepertinya kau salah menggunakan dasi.” Jemari terampil Yeon Ri langsung mengambil alih, membenahi simpulan dasi yang bergelimpung di leher pria pujaannya.

“Nah, sudah selesai.” Yeon Ri tersenyum bangga melihat hasil kerjanya.

Okay, mari kita berangkat.” Kaki-kaki itu melesat; menghampiri pintu gerbang. Derit suara pintu kayu seolah menuntun kepergian sang pasangan.

Rasanya ganjil saat melihat kedua kaki jenjang Yeon Ri berdiri kokoh, menginjak tanah. Kursi roda yang tersorot sinar rembulan itu seakan menguak kembali puing peristiwa di balik sebuah kisah. Setelah sebuah gigitan terpatri di leher kanannya, kehidupan Yeon Ri pun berubah.

Ia sudah tak lagi merasakan kepedihan. Saklar penderitaannya secara otomatis padam. Di hatinya hanya ada rasa bahagia. Hari-hari yang dihabiskannya bersama Ki Kwang terasa amat sempurna. Meski rasa haus itu terkadang menggerogoti relung hati, namun Yeon Ri tak pernah kekurangan penawar.

 

****

Deretan lampu remang seolah menaungi sisi jalan. Kendaraan masih berlalu-lalang, dan suara decitan ban saling bersahutan. Yeon Ri menjilat sekilas taring yang terhunus di sudut bibirnya. Ia menyeringai tipis, mencium aroma yang menggiurkan.

Aroma itu begitu memikat dan membuatnya terlena dalam sekejap. Mata kecokelatannya mengeruh, berubah warna—menjadi merah darah, bercampur hasrat membara.

“Eits, kau harus menahannya, chagi.” Ki Kwang berujar cepat, menahan tangan kekasihnya. Yeon Ri berdecak. Hatinya tak sabar menancapkan kedua taring itu ke salah satu leher di sekitar.

YA! Lepaskan aku!” Yeon Ri benar-benar tak dapat menahan nafsu berburunya. Tubuh itu terus memberontak, mencoba lepas dari genggaman Ki Kwang.

“Terserah apa katamu. Semakin kau memberontak, maka aku akan terus menahanmu untuk berdiri di sini semalaman,” ujar Ki Kwang, mengancam.

Yeon Ri mendengus kesal. Dengan wajah tertekuk masam, ia pun menuruti perintah Ki Kwang.  Pria di sampingnya itu tersenyum. Ia mencubit pipi Yeon Ri sekilas lalu menuntunnya ke arah sebuah pub di seberang jalan.

Suasana dunia malam begitu gegap gempita. Kedua makhluk haus darah itu ikut berbaur dengan makhluk lainnya. Lampu-lampu menari buas, membiaskan cahaya ke arah hamparan manusia. Dentuman suara musik elektronik pun tak kalah membahana. Ruangan sesak itu pun kini terasa amat bingar.

“Baiklah, sekarang kita berpencar,” bisik Ki Kwang ke telinga gadis di sampingnya.

Yeon Ri tersenyum puas. Genggaman yang membelenggu tangannya kini terlepas. Dan ia pun langsung melesat ke arah kerumunan di lantai dansa.

 

****

Rentetan gigi putih itu berjajar rapi di antara gusi Yeon Ri, seiring ia berlenggang dengan gaya andalan. Cocktail dress-nya yang sedikit terbuka, menjadi pesona bagi para manusia. Sedikit saja tubuh itu melenggok, beberapa pasang mata sudah mendelik ke arahnya. Semburat kemerahan yang mewarnai pipi pucat itu hanyalah topeng yang dapat terungkap kapan saja. Namun, seorang pria paruh baya langsung tergoda dengan bodohnya.

Ahgassi?” tanya sang pria dengan gaya megahnya. Yeon Ri tersenyum tipis, menghentikan lenggak-lenggok tari yang sedang ia nikmati. Matanya mendelik sekilas, lalu melayangkan pandangan bertanya.

Ye?” Yeon Ri mendekatkan tubuhnya. Sang pria meringis, melihat tingkah Yeon Ri yang begitu menggoda.

“Bagaimana jika aku menyewamu untuk semalam?” tawarnya. Yeon Ri bersorak di dalam hati. Pria tolol itu dengan mudah terjerumus dalam perangkap standarnya.

“Tentu saja, itu bisa diatur. Bagaimana jika kita membicarakannya sembari minum di ruanganku?” Ia menuntun pria itu ke sebuah ruangan. Suasana gelap langsung menyergap, namun Yeon Ri urung menyalakan lampu ruangan.

Ahjussi, bagaimana jika kita selesaikan masalahmu sekarang?” Nada menggoda itu begitu kuat, dan hasrat sang ahjussi kian terpacu.

Sekilas pandangannya terlihat bahagia. Perlahan tangan Yeon Ri membelai pipinya, dan menatap dalam kedua manik mata itu.

“Lupakan kejadian hari ini, dan jadilah milikku.” Taring-taring tajam itu langsung menusuk ke leher sang ahjussi. Cairan merah terang menyeruak keluar, membasahi permukaan bibir Yeon Ri. Ia menjilatnya dengan buas.

Seringai kemenangan langsung terukir sempurna pada bibirnya. Rasa manis yang khas langsung merenggut jiwa, menjadikannya begitu bernafsu untuk memiliki.

Tubuh sang ahjussi sudah tak bernapas. Darahnya terkuras habis oleh Yeon Ri yang begitu berambisi. Mata gadis itu berkilat, menatap sebuah celah di antara pintu. Taring-taringnya kembali meruncing tak puas, menikmati setiap tetes cairan penawar dahaga itu.

 

****

Tequilla.” Jari telunjuk itu mengarah ke sebuah botol bertutup abu.

“Ke mana saja dirimu?” Ji Won—sang bartender—dengan sigap menggapai botol yang dimaksud, lalu mencampurnya dengan sedikit ‘ramuan’ penggelitik.

“Sedikit sibuk dengan urusan di luar,” ujar Ki Kwang santai, memainkan kaki kelas di atas meja.

“Bagaimana dengan teman wanitamu yang baru?” Alis Ji Won terangkat; terperanjat ingin tahu. Ki Kwang hanya tergelak, berusaha menutupi rahasianya di balik derai tawa.

“Kutinggal di kastil, seperti biasa.”

Ji Won mendengus. Setidaknya ia tidak bodoh untuk mempercayai kata-kata bualan dari pelanggannya itu. Namun, sepertinya ia tak memiliki hak untuk mengorek informasi lebih. Dengan terpaksa, ia hanya dapat mengulum senyum sambil menyerahkan segelas kecil tequilla yang telah dipersiapkannya.

Vodca.” Tanpa disangka, seorang wanita ber-bonet jelaga telah duduk di samping pelanggan setia. Ia tersenyum simpul, menyodorkan sedikit uang tip untuk sang bartender di sana.

Tangan Ji Won menggapainya. Ia berdeham kecil, lalu balas tersenyum; bukti memberikan pelayanan terbaik.

“Kau pengunjung baru?” Ki Kwang membuka topik pembicaraan. Sang wanita berbalik, dan bibir maroon-nya merekah. Ia mengangguk cepat, tanpa membuka suara.

“Oh.” Ki Kwang kembali menegak tequilla dalam gelas mungilnya. Pandangan itu menerawang; menembus bonet sang wanita. Entah apa yang bergemuruh di hatinya. Gundah bagai menghunjamnya, membuat ia bertanya-tanya.

Sepertinya aku pernah mengenal wajah itu, pernyataan demi pernyataan seakan termaterai pada pusat otaknya.

“Bagaimana dengan kau?” Pertanyaan sang wanita membuat ia terhenyak sekejap.

“Aku? Aku pelanggan lama,” ujarnya singkat, sedikit terbata-bata.

“Sudah kuduga. Kau sangat akrab dengannya.” Telunjuknya mengarah ke arah Ji Won yang berdiri di ujung meja bar sambil mempersiapkan minuman.

Jaesonghamnida, maafkan bila aku salah mengenali orang. Tapi, kurasa kita pernah bertemu sebelumnya.” Pesona wanita itu meredup seketika. Ia hanya sanggup untuk diam, tak berani berkata-kata, sedangkan Ki Kwang malah mengernyit heran—bertanya-tanya dalam hati akan identitas dari wanita yang tengah duduk di sampingnya.

Paras jelita itu mulai tampak. Dari balik bonet hitam yang dikenakannya, sang wanita mengetatkan bibir, membentuk lengkungan tipis. Mata Ki Kwang kian menyipit, mencoba untuk menerka.

“Ki Kwang-ssi, kurasa kau masih saja cerdik seperti sedia kala.” Suara menggoda itu seolah menegangkan sarafnya. Ia terdiam sejenak, tak percaya.

“Soon Hee?!” Ki Kwang memekik. Kedua manik matanya membulat, seolah mencuat dari kelopak. Wanita yang bernama Soon Hee itu memberikan senyum setengah mencibir dari bibir kemerahan yang bersanding di atas dagunya.

“Bagaimana—” Ki Kwang sudah terlambat untuk melanjutkan kata-kata. Sebuah telunjuk manis menempel pada bibir pucatnya.

“Rupanya kau masih saja menganggap bahwa diriku tak dapat menemukanmu. Setelah kau melepaskan diri dari kejaran saudara-saudaramu, kau kira kau masih dapat bersembunyi dengan aman di kastil tua itu?”

“Aku memang terlalu naif, tapi kuharap kau jangan menganggu hidup indahku.” Soon Hee terbahak, mendengar ucapan Ki Kwang itu. Laki-laki di hadapannya masih saja berpikiran singkat seperti dulu. Namun sayang, dendam membara itu tidak lah padam dengan sendirinya.

“Oh, baiklah jika begitu, tetapi kurasa aku ingin sekali bermain-main sedikit dengan gadis barumu.” Tak disangka, Soon Hee begitu pintar memainkan lakonnya. Seorang wanita ber-bonet jelaga sangatlah mudah untuk menipu Ki Kwang. Dan terlebih lagi, laki-laki dungu itu hanya mempedulikan kebebasan tanpa melihat celah yang terberai di antara permintaannya.

Kelopak mata sayu itu berubah wujud seketika. Degup hati Ki Kwang tak terkontrol. Walaupun jiwanya telah mati—membeku bagai es di tengah salju—namun perasaannya terhadap Yeon Ri tak akan berubah. Gadis yang begitu dicintainya sekarang berada di dalam bahaya.

Ki Kwang menghela napas. Ia benar-benar frustasi menghadapi olokan wanita yang telah berbayang dalam siluet kehidupannya. “Aku tak habis pikir, mengapa kau sangat senang mengganggu kehidupanku?”

Soon Hee tertawa kecil. “Aku memang sangat menyukai itu. Rasanya aku tak pernah puas untuk mengganggu hidupmu.”

“Kau ingin diriku, ‘kan? Jika begitu, tolong lepaskanlah Yeon Ri. Kurasa kau menangkap orang yang salah. Ia hanyalah seorang gadis yang kucintai, ia tak mengerti apa-apa. Jadi kurasa, itu tak adil baginya.”

Soon Hee mengumbar seringai kemenangan. Hanya dengan trik rendahan saja, Ki Kwang sudah terjerumus dalam perangkapnya.

 

****

Riak hujan seolah menghujam permukaan bumi. Langit tampak berubah wujud, tersela di antara lukisan awan kelabu. Hari sudah menjelang pagi. Kegusaran Yeon Ri memuncak seiring dirinya kehilangan Ki Kwang. Pub sudah hampir lengang dari pengunjung. Dan cahaya matahari pun sebentar lagi menyeruak masuk.

“Sial, ke mana orang itu?” Yeon Ri berdecak tak sabar, mengetuk jemarinya di atas meja.

“Er, ahgassi sebenarnya Anda mencari siapa?” Tak sengaja Ji Won—sang bartender—mendengar umpatan kesal Yeon Ri barusan. Hatinya menebak tentang wanita baru yang dimiliki oleh pengunjung kesayangannya semalam.

“Kau mengenal Lee Ki Kwang?” tanya Yeon Ri, mendelikkan mata.

“Iya, ia pengunjung setiaku. Dan jika aku boleh tahu, untuk apa kau mencarinya?” Ji Won mencoba untuk mengorek informasi lebih. Namun sayang, Yeon Ri sama sekali tak ingin membahas hubungannya dengan pria bernama Lee Ki Kwang itu.

“Di mana ia sekarang?!” Ekspresi Yeon Ri tampak terkejut. Tanpa mengacuhkan pertanyaan Ji Won, ia langsung menyergap.

“Dia.. aku pun tak tahu di mana ia sekarang. Tapi, semalam ia sudah dibawa oleh seorang wanita.” Ji Won heran melihat ekspresi wanita di hadapannya. Walaupun tak dapat membuat kesimpulan, namun hipotesisnya tepat. Yeon Ri adalah wanita yang Ki Kwang maksud dalam pembicaraan mereka semalam.

Tanpa berbasa-basi Yeon Ri langsung berlari keluar gedung pub. Ia sudah tak memedulikan pancaran mentari. Namun untungnya, sang dewa langit tak membiarkan makhluk itu terbakar begitu saja. Langit di pagi hari diliputi oleh awan tebal serta kabut yang merajalela.

Mata Yeon Ri menyapu pandang ke arah sisi jalan yang mulai disarati oleh para pedestrian. Ia harus melawan mual di perutnya sekuat tenaga. Meski semalam hasratnya telah terpenuhi, namun pagi ini godaan itu kembali merayu taring-taringnya untuk menikung keluar.

Kerumunan orang berkeliling di sekitarnya. Yeon Ri tak dapat mencium aroma khas  Ki Kwang. Namun, tiba-tiba saja seorang pria sebaya menepuk bahunya. Ia terkesiap dan berbalik.

“Doo Joon Oppa?” Yeon Ri benar-benar tak menyangka bahwa ia akan bertemu kembali dengan pria yang dulu amat disayanginya.

Doo Joon menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan sempurna. “Ya! Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya.

Entah apa yang menjadikan Yeon Ri tak dapat berkata-kata. Wajah itu sudah cukup membuat ia terkejut. Dan kini jantungannya hanya dapat berdegup tak karuan. Ia ingin menutupi taring-taring yang kini bertumbuh di sudut gusinya, namun rasanya itu sangatlah mustahil. Kodratnya telah berubah, ia bukanlah Yeon Ri yang dulu Doo Joon kenal.

 

**TO BE CONTINUED**

13 responses

  1. Ping-balik: Search Fanfic Here ! « Korean Fanfics Lovers

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s