WGM [Because, I Love You, Part I]

Annyeong…

Gw dateng… dengan FF baru.. (meninggalkan Hate You, My Lovely yang belum kelar)

Okeh… cekidot..

Disclaimer : Please don’t copy-paste my Fanfiction!

***

Minhye POV

Hujan. Makin lama makin deras. Kupercepat laju motorku, tetes-tetes air bagai jarum menghujam kulitku. Pluk…pluk…pluk… air hujan membuat irama ketika menghantam helm. Di saat begini aku sempat menyesali menolak tawaran Kyuhyun untuk menjemputku.
Cepat-cepat kuparkir motorku di basement apartemen, kemudian berlari menuju lift.
“Annyeong haseyo…” Aku membungkuk sedikit kala bertemu Heechul di dalam lift.
Kupandangi angka-angka yang terus naik sampai pada angka 11, letak apartemenku berada. Ketika keluar lift aku sempat mendengar Heechul bergumam, “Ckckckckc, Kyuhyun benar-benar, istri sendiri dibiarkan kehujanan.”
Aku tersenyum kecut, sekarang Heechul sudah berprasangka buruk pada Kyuhyun. Bailah…aku ini istri yang tidak baik. Tapi…biarlah, aku tidak mau tahu!
Kubuka pintu apartemen tanpa mengucap sepatah kata pun, aku capek dan tidak mau bertemu Kyuhyun untuk saat ini. Aku melangkah menuju pantry, dan Kyuhyun tidak ada. Kamar, balkon, ruang TV, hampir semua tempat kusambangi tapi dia tidak ada. Bagus…sekarang dia di mana dan ke mana? Apa dia pergi selingkuh? Baguslah…aku punya alasan untuk mengajukan cerai padanya.
Dari semula sejak pernikahan hasil rencana keluarga Kyuhyun dan keluargaku, aku sudah sangat membenci dirinya, tidak.tidak.tidak, aku benci dia semenjak kami masih berumur lima tahun. Sewaktu Kyuhyun membuatku pertama kalinya menangis di depan umum, ketika ia merusak prakarya tanah liat yang sudah susah-susah kubuat. Ah…itu membuatku semakin membenci dirinya.
Kuraih handuk kecil putih yang tergantung di kamar mandi, sembari mengeringkan rambut aku melongok ke bawah tempat tidur, mungkin saja dia tertidur di situ—itu sih hanya insting-ku, kalau itu benar…tidak buruk.
Dentang jam menunjukkan pukul 9.00 pm, bagus.bagus. sekarang aku panic. Kyuhyun belum juga pulang, kutekan panggilan tercepat di ponselku yang langsung tersambung ke nomor Kyuhyun langsung disambut Nona Operator yang mengatakan bahwa, “nomor yang Anda tuju sedang berada di luar batas area.” Hufft! Apa-apaan ini!

Aku terbangun kala matahari menembus celah tirai dan mulai menggelitik kelopak mataku untuk segera terbuka. Aku baru sadar kalau aku kini sudah berada di atas tempat tidur, tapi semalam aku tidak ingat, aku hanya mengingat kalau semalam aku tidur di sofa. Deru nafas terdengar jelas di telingaku, pelan kutelengkan kepala dan…OMO~~~…Kyuhyun tidur tepat di sampingku, pantas saja rasanya ada yang aneh. Sialan anak ini!
“AAAAAAAAA!!!!!” Refleks aku memekik keras sebelum mendorongnya hingga terjungkal dari atas tempat tidur.
“Ya~, jagi~, bisakah kau tidak berteriak pagi-pagi begini?!” Kupelototi dirinya yang mencoba bangun dengan wajah kesakitan.
“Siapa yang menyuruhmu tidur denganku!!!” Tanganku teracung ke wajahnya, aku benar-benar marah.
“A…aku lupa.”
Bo ga?! Dia lupa! Aku tidak percaya ini, sudah tiga bulan kami tinggal seatap dan tak pernah sekalipun tidur bersama, sekarang dengan mudahnya ia mengatakan lupa? Aku tidak percaya ini!
“Oh iya, semalam Heechul-hyung memberikan ini padaku, katanya kau harus datang tepat waktu.” Ia menyodorkan sebuah amplop putih dengan motif timbul bunga sakura di sudut kanan bawah amplop.
End Of Minhye POV

—-
Kyuhyun POV
Tepat saat kusodorkan amplop titipan Heechul seketika air mukanya berubah. Ia langsung tersenyum sumringah, fiuh…aku kini bernafas lega; Minhye tak jadi memarahiku.
Sepanjang pagi ini ia terus bersenandung, aneh…tidak biasanya ia seperti ini. Dan terus bergumam ‘reuni’ bagai menghafal mantra, rasanya dadaku sesak; perasaan tidak enak masuk menyusup begitu saja.
“Kau kenapa?” Usikku ketika kami sarapan dengan menu yang ‘tidak biasa’.
Minhye menoleh dan lagi-lagi tersenyum.

“Malam ini sepertinya kau harus makan di luar, Kyuhyun-ssi. Aku ada acara reuni dari sore, mungkin larut malam baru pulang.”
“Wae?”
Ia mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak peka. “Sampai sesenang ini?” Aku mengangguk, Minhye terkekeh, wajahnya memerah. “Kau masih ingat, aku pernah menceritakan soal cinta pertamaku?”
OMO~~~…Apa ia lupa kalau dia berbicara tentang pria lain di depan suaminya sendiri. Argh! Aku cemburu!
“Arasso…”
Kulihat ia kembali senyam-senyum sendiri. OMO~~, Eotthokke? Aku harus mencegah dia untuk bertemu orang itu…
FLASH BACK…
“Bisa jelaskan padaku? Kau selalu bersikap apatis terhadapku, wae?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja sewaktu kami duduk bersama di balkon, setelah selesai beres-beres di apartemen baru kami.
Tampak Minhye samasekali tidak terkejut dengan pertanyaanku, “Haruskah?”
Aku mengangguk meyakinkan, aku harus tahu alasannya, terlepas dari bagaimana perasaanku ketika mengetahui yang sebenarnya.
“Aku tidak pernah mencintaimu, dan terlebih aku sudah punya seseorang yang aku cintai.”
Ah…sakit sekali mendengar hal itu, tapi eotthokke?
Hembusan nafas beratnya terdengar begitu lambat olehku. Kembali ia melanjutkan kalimatnya. “Dan orang itu adalah…Jung Yonghwa.”
Bo ga!!! Jung Yonghwa!! Siapa dia?! Berani-beraninya merebut cinta yang seharusnya untukku. Tapi eotthokke?
End of FLASH BACK
AND
End of Kyuhyun POV

***

Minhye POV

Hari ini aku memaksa Kyuhyun untuk cepat-cepat berangkat ke kantornya, hari ini aku benar-benar bahagia. Berkali-kali kupeluk amplop itu sambil senyam-senyum, ah…aku jadi tidak sabar bertemu dirinya…Jung Yonghwa, pemuda yang sampai sekarang merebut jantung hatiku. Tapi bagaimana dengan Kyuhyun? Aish…masa bodoh…

Sebuah kotak kecil berlapis debu tipis; baru saja kukeluarkan dari dalam kardus. Kotak itu masih sama seperti dulu—sebelum aku menyimpannya—hanya pita hijaunya yang kusam termakan waktu. Perlahan kusingkap penutupnya, memperlihatkan sebuah gelang manic hitam dengan sebuah bandul peach blossom putih. Gelang ini adalah hasil buatan tanganku dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Aku membuatnya dua, untuk diriku dan untuk…(jangan berpikir untuk Kyuhyun) Jung Yonghwa tentunya. Bisa kubayangkan betapa memalukannya diriku dulu; menyerah gelang itu ketika acara perpisahan berakhir, tahu bagaimana ekspresi Jung Yonghwa? Dia sangat bahagia! Ah…

Kupakai gelang itu lagi, rasa-rasanya seperti merasakan bahwa Yonghwa berada di dekatku. Apa ini sudah masuk kategori selingkuh?

FLASH BACK…

Ini tahun ketiga aku duduk di bangku SMA, aigoo~ akhirnya sebentar lagi aku lulus. Ini sangat menyenangkan, sewaktu aku hendak meletakkan ranselku, sebuah tangan menghalangi niatkku. Kutatap pemilik tangan itu, sambil memberi isyarat ‘apa maumu?’

“Mian, ini tempatku Goo Minhye-ssi.”

Apa yang ia katakan? Tempatnya! Lancang sekali ia mengatakan itu, padahal aku sudah duduk di sini hampir setahun semenjak naik kelas 3. Seohyun menghampiri kami, ia tersenyum bak malaikat.

“Mian, Minhye-ah~, ini memang tempat duduknya. Park Jungsoo-seonsaengnim memintamu untuk pindah ke sudut.” Katanya sambil menunjuk sudut kanan kelas, OMO~ Seonsaengnim sialan~, tega-teganya dia…

Aku memberengut kemudian berjalan gontai menuju pojok, tampak seorang pemuda tertidur di meja dengan wajah ditutup buku, OMO~, dia teman dudukku? Ini tidak salah!

Sewaktu ia membuka buku yang menutupi wajahnya dan menguap lebar, baru sadar aku…ternyata dia…Jung Yonghwa, aigoo~ kalau pulang nanti aku ingin datang ke ruang guru dan bertemu Park Jungsoo-seonsaengnim; mengucapkan berjuta rasa terima kasih..

“Murid baru?” tanya Yonghwa sesaat setelah bel pulang berbunyi.

OMO~, apa dia bilang? Murid baru? Sadarkah ia? Aku temannya semenjak SMA kelas satu. Ckckck…

“Aniya~, kau lupa denganku? Goo Minhye?”

Yonghwa terdiam sesaat, lalu ia tertawa keras. “Omo~, mian.. aku lupa.” Dia terus tertawa sampai seluruh kelas menatapnya sambil mengangkat telunjuk di atas dahi dan digerakkan naik turun dengan posisi miring empat puluh lima derajat.

Makin lama aku makin risih dengan tawanya. “Aish…bisakah kau berhenti tertawa, Yonghwa-ssi? Mereka kira kau gila.”

Tapi dia tidak memedulikan ucapanku, semakin tertawa sembari mengacak-ngacak rambutku. Aish…apa aku menyukai michin namja ini? Ckckckck……

***

Hari-hari berlalu, kuhabiskan dengan terus bersama dengan Yong. Yong. Yong. Sekarang aku memanggil dia, Yong. Hahaha, rasanya seperti memanggil pacar saja.

Berkali-kali Seohyun kudapati menatap kami iri, OMO~~ dia iri? Apa dia menyukai Yong? Molla!

Tak terasa acara perpisahan besok akan digelar. Semenjak kemarin aku terus berpikir; apa yang harus kuberikan pada Yong sebagai kenang-kenangan atau mungkin tanda cinta. Ah…pikir apa aku ini!

“Minhye-ah! Kau sembunyikan di mana gelang yang baru kubeli dari Amerika!” Pekikan Lee Sungmin, sepupuku memberikanku ide cemerlang.

“Mana!” Tagihnya setelah aku meletakkan beberapa kotak plastic berisi manic-manic di meja belajarku.

“Bisakah kau masuk kamar orang dengan mengetuk pintu!” Protesku, kulihat ia merengut, hahaha…aku senang mengalihkan pembicaraan, teringat aku lupa menaruh gelang itu dimana. Mampus.

“Aku sudah melakukannya. Tapi kau terlalu asyik dengan kotak-kotak itu!” Sungmin menunjuk ke arah tumpukan kotak manic di hadapanku. Aku nyengir, aku harus bilang apa padanya?

“Jangan nganggu aku, Sungmin!” Kudorong ia keluar kamar, tapi tak bisa.

“Mana.”

“Mian…sepertinya hilang.”

“AAAAAAAA!! Bohong! Aish…kau ini bagaimana!”

Tiba-tiba saja sebuah kepala muncul dari balik pintu, aish…muncul si IKAN. Lee Donghae.

“Kau mencari ini?” Ia mengacungkan sebuah gelang hitam dengan bandul bulan sabit pink. Ckckckck…sampai kapan kau akan menjadi seorang maniak pink, Lee Sungmin!

“Ya~~, sejak kapan ada padamu?” Jerit Sungmin girang, bagus… aku tidak jadi dimarahi. Gomawo Donghae…

Aku tidak menghiraukan mereka berdua, kini aku terfokus pada seutas benang, jarum serta beberapa manic hitam mengilat diterpa cahaya lampu di meja belajar. Jujur, aku tidak pandai dalam hal berurusan dengan jarum, berkali-kali jariku tertusuk benda mungil itu. Ah…tidak peduli, yang sekarang kupedulikan hanya senyuman tulus tersungging di wajah Yong.

Jarum jam pendek mengarah pada angka 3, Sungmin yang berjanji menemaniku sudah tertidur pulas di atas karpet bulu domba berwarna coklat yang tergelar di tengah ruang kamarku. Sudut bibirku terangkat, akhirnya aku berhasil menyita jatah tidur dengan dua buah gelang manic berbandul peach blossom.

Apa aku terlalu berlebihan? Hanya menyatukan manic-manic dengan seutas benang sampai jam tiga pagi. I think so…

“Irona!” Kubangunkan Sungmin yang semakin tertidur pulas. Tangannya mendekap teddy bear pink. OMO~ aku baru sadar, ternyata piyamanya juga berwarna pink. Ckckkc…

“Aish…lima menit lagi, Eomma.”

Apa? Eomma? Aish…Sungmin, kau pikir aku Eomma-mu!

Sewaktu aku hendak beranjak dan berniat mengambil selimut untuk membekap Sungmin, aku melihat segelas air putih di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Aha…aku punya ide.

“Minhye-ah! Teganya kau!” Pekikan Sungmin memenuhi ruang kamar ketika kusiram wajahnya dengan air. Selanjutnya aku…tersenyum setan.

***

Dengan gelisah aku menunggu detik-detik berakhirnya upacara perpisahan. Mungkin semenit sekali aku berbalik ke belakang, menatap Yong yang tertunduk selama upacara berlangsung. Pasti dia tidur…

Tepat setelah menerima piagam penghargaan siswa terbaik lulusan tahun ini, aku bergegas turun dari panggung dan berniat menyerahkan gelang yang kubuat semalam, padanya. Tapi Yong tidak ada, kursinya kosong. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang penuh oleh murid dan orang tua murid, terlalu sulit untuk mencarinya. Aku tidak punya cukup waktu untuk mencari Yong.

“Minhye-ah, wah…chukkae!” Sungmin menghampiriku lalu merangkul erat. “Apa kau kenal laki-laki bernama Jung Yonghwa? Katanya ia menunggumu di atap.”

Yong? Atap? Tanpa memedulikan perasaan Sungmin yang kutinggal pergi tiba-tiba, aku berlari menaiki tangga; menuju atap gedung sekolah.

BRAKK!

Aku bisa melihat Yong tersenyum padaku, senyum yang kusukai.

“Apa kau akan pergi?” Tanya-nya, terdengar sedih.

Aku mengangguk. Apa dia sedih? “Kau tahu…ehm…gomawo.” Aku tidak bisa mengatakannya sekarang.

“Untuk?”

Kuserahkan kotak kecil berpita biru padanya, Yong mengangkat sebelah alisnya.

“Terimalah.” Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berlari meninggalkan Yong. Aku pergi tanpa memberitahu dia, bagaimana perasaanku sesungguhnya.

End of FLASHBACK

***

“Jagi~! Jagi~!”

Suara Kyuhyun membuyarkan lamunanku. Aish…anak itu menganggu saja!

*TBC*

****

So? geje kga? hahahah.. please REVIEW!

12 responses

  1. hello I was luck to search your website in baidu
    your post is superb
    I obtain much in your website really thanks very much
    btw the theme of you blog is really magnificentsuper
    where can find it

  2. Ping-balik: Search Fanfic Here ! « Korean Fanfics Lovers

  3. mwo..? sakit hati, terus cemburu ya kyu..? HAHHAA.. aku bahagia, biasanya kau yang selalu membuat orang patah hati.. wkwkwk# plaaak di gampar sparkyu..

    thor, epepnya bagus.. bahasanya juga baguss.. like this..🙂

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s