WGM [Because, I Love You, Part 2/2]

Kekekekke… gw kembali… ini last part untuk episode [Because, I Love You]

yang WGM selanjutnya masih dalam proses.. kekekekek…

Baru hari ini gw menyadari bahwa judul tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan tema FF, hahahahah… gw goblok yah?

Okeh dah.. langsung aj.. cekidot..

Disclaimer : DON’T COPY-PASTE MY FANFICTION!!!

warning : banyak typo sana-sini…. *gw males nge.edit*

PART 2

“Jagi~! Jagi~!” Suara Kyuhyun membuyarkan lamunanku.

Aish…anak itu menganggu saja!

“Sepertinya aku akan pulang larut malam.”

“Baguslah kalau begitu.” Ucapku apatis.

End of Minhye POV

Kyuhyun POV

“Baguslah kalau begitu.” Ucapnya apatis.

Baguslah? Apa-apaan ini? Kutatap ia lamat-lamat, tak ada tanda penyesalan. “Mian, aku tidak bisa mengantarmu pergi.”

“Baguslah…” Bagus lagi? Teganya kau, Minhye!!! Rasanya emosiku ingin meledak.

Kembali kutatap ia, lihat! Wajahnya begitu gembira! Ekspresinya! Seperti gadis SMA yang sedang kasmaran! Ah……eotthokke?

“Baiklah.” Kataku sebelum menutup pintu, meski tidak dapat kupungkiri, ada nada kesal dalam perkataanku. Semoga ia mendengar nada itu.

End of Kyuhyun POV

***

Normal POV

Minhye serius menatap sosok pada pantulan cermin, sosok yang sibuk memperhatikan gaun putih selutut yang dikenakannya. Sosok dengan rambut mengembang(karena di-blow) kecoklatan. Sosok itu adalah dirinya sendiri.

7.00 pm, Minhye mempersiapkan dirinya untuk pergi. Ia mengunci apartemen sambil bersenandung kecil—sudah lama ia tidak melakukan hal seperti itu. Ia menyapa setiap orang yang ia temui dan memberikan senyum ramah (Ryeowook, tetangganya sampai terheran-heran sendiri melihat gadis ‘pelit’ senyum dan kata-kata sapaan menjadi begitu ramah).

Sewaktu ia membuka pintu taksi dan hendak masuk, sebuah tangan menarik lengannya. Menutup pintu taksi pelan dan membawa Minhye masuk ke dalam mobil.

“Apa-apaan ini!” Minhye menyuarakan protesnya, sesaat setelah mobil mulai melaju kencang menyusuri jalanan.

Minhye terus memberengut kesal sambil sesekali mengumpat, sampai sebuah panggilan menghenyakkan kekesalan sewaktu dia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.

“Ne? Kyuhyun-ssi? Ah…Kyuhyun?” Mata Minhye melirik dan mendesis sebal, sedangkan Kyuhyun melirik penasaran.

“Ne, Arasso.” Jemari Minhye menekan icon loudspeaker pada layar ponsel dan menyodorkannya pada Kyuhyun.

“Yeoboseyo…Kyuhyun-ah!” Teriak seseorang dari seberang, terdengar begitu panic dan begitu girly untuk ukuran suara pria. Suara Sungmin.

“Ada apa, Hyung?”

“Kau bisa bantu aku? Sekarang?”

“Eh? Sekarang?”

***

Pelan Minhye menutup pintu taksi setelah membayar bill terlebih dahulu. Ia tersenyum penuh kemenangan dan berjanji dalam hati untuk mentraktir Sungmin di restoran Italy jikalau ia berhasil menyatakan perasaannya dengan mulus pada Yonghwa (walaupun secara tak sengaja Sungmin memberikan andil untuk Kyuhyun patah hati).

Atmosfir menjadi terasa berbeda ketika Minhye ikut bergabung di dalam reuni. Minhye merasakan atmosfir kehangatan, beda dengan diluar, atmosfir awal musim semi yang dingin.

Sesekali ia berteriak girang dan tertawa lepas kala bertemu dengan kawan-kawan lamanya.

“Minhye-ah?” Panggil seseorang sewaktu Minhye hendak mengambil sepotong pudding caramel. Ia menelengkan kepala dan mengangkat sebelah alisnya.

“Benar kau Minhye? OMO~! Lihat kau sekarang!” Serunya seraya menatap Minhye dari ujung kaki sampai rambut. “Ini aku! Chieun!” Tunjuk Chieun pada dirinya kemudian tertawa.

Lama Minhye memandang Chieun—masih dengan alis terangkat malah bertambah ekspresi herannya dengan mengernyitkan dahi—setelah habis tawa Chieun yang berakhir dengan tawa canggung karena diperhatikan seperti itu oleh Minhye. Tawa Minhye meledak, membuat Chieun geleng-geleng kepala frustasi.

“Aku tak menyangka, kau semakin menjadi aneh.” Komentar Chieun, “Walau kau kini bertambah cantik, apa selama di Amerika kau melakukan operasi plastic?”

“Operasi plastic? Kau gila! Aku tak pernah…”

Belum selesai Minhye menyelesaikan bantahannya, seseorang menyela pembicaraan.

“Mian…Minhye-ssi? Apa kau kenal dia?” Telunjukknya teracung pada sesosok pria, Minhye langsung menelan ludah kecewa.

“Wae? Apa kau kenal dia, Minhye? Dia tampan. Apa kau kenal dia Simii?” Tanya Chieun pada wanita itu.

Sebelum wanita itu menjawab dengan nada gemas. Minhye angkat bicara duluan. “Jangan bodoh Chieun. Untuk apa Simii-ssi menanyakan padaku kalau ia tahu? Aish…babo…Aku kenal Simii-ssi. Dia suamiku.” Ujarnya, ogah-ogahan.

“Omo~, suamimu!” Pekik Simii dan Chieun bersamaan.

“Sudahlah… Kutinggal sebentar.” Minhye menghampiri Kyuhyun yang langsung tersenyum lega melihat kedatangan Minhye.

***

Gelas minumannya masih penuh, Minhye sama sekali tidak berniat untuk meminumnya. Ia sibuk mencari Yonghwa.

Ditelinganya masih jelas terngiang percakapannya barusan dengan Chieun setelah Kyuhyun meninggalkannya untuk menyapa Siwon, rekan bisnisnya.

“Kau tahu, dia tampan.”

“Siapa? Kyuhyun? Ambillah?”

“Kau serius? Aku akan mengambilnya.”

“…”

“Apa kau yakin masih menyukai Yonghwa-ssi?”

“Bukan menyukai tapi mencintai!”

“Kau tahu, Seohyun-ssi dan Yonghwa-ssi telah menikah?.”

Minhye POV

Aku terus menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran buruk gara-gara Chieun. Masa Yong sudah menikah? Ah…mana mungkin! Kalau ia sudah menikah, kenapa ia sama sekali tidak menggundangku?! Tanpa sadar aku mendekap erat kotak kecil berpita biru, kotak yang sama seperti yang kuserahkan pada Yong saat acara perpisahan. Di dalamnya ada gelang itu, dan dua kalung buatanku sendiri, kubuat setahun lalu untuk Yong, bukan Kyuhyun.

“Ah…Minhye-ssi.” Sapa seseorang, ternyata Seohyun.

“Wah…kau tampak sama seperti dulu, awet muda.” Pujiku setelah mengamati Seohyun, dari ujung kaki sampai rambut(persis yang kulakukan pada Chieun), ia hanya tambah tinggi saja.

“Bisa saja.” Tampaknya ia tersipu malu mendapat pujian, bisa dilihat dari kibasan tangan di depan wajahnya. Sesuatu yang melingkar di pergelangan Seohyun menarik perhatianku.

Kuperhatikan lamat-lamat, itu…gelang pemberianku pada Yong. Aku tidak bercanda! Kentara sekali, karena gelangku hanya ada dua di dunia.

Aku berasa seperti berada di pinggir jurang…tersudut.

“Apa yang kau perhatikan?” Tanya-nya, kemudian ia tersenyum malaikat, sepertinya ia tahu aku memperhatikan apa. “Ini, pemberian Yong. Ketika kami honeymoon.” Ujarnya dengan nada bangga. “Bukankah ia romantis, eh?”

Dan aku tergelincir dari tepi jurang yang licin, tapi aku tak jatuh…kedua tanganku berpegangan pada bebatuan jurang. Mencoba bertahan.

“Jagi~, bisa kita pergi sekarang?” Sebuah suara familiar membuatku menoleh ke belakang, kulihat Yong tersenyum, senyum yang dulu aku sukai, tapi rasanya ketika melihat senyum itu. Aku terluka…

“Ah…Minhye-ah, apa kabar? Kudengar kau sudah menikah? Wah…chukkae, sayangnya aku baru tahu. Kenapa kau tidak datang ke pernikahan kami?” Selidik Yong, pura-pura marah.

DEG! Pernikahan? Aku tidak salah dengar???

Peganganku mulai melemah, tapi aku masih bertahan…

“Kenapa kau tidak datang? Padahal aku sudah mengirimkan undangan pernikahan kami.” Tambah Seohyun.

Tenyata itu bukan omong kosong belaka…

“Kapan?” Harus aku akui, suaraku tercekik.

“Sebulan yang lalu.” Ucap Yong, wajahnya memancarkan kegembiraan yang amat sangat. Mungkin ia mengingat kembali pernikahannya, dan Seohyun mengangguk membenarkan. “Oh iya, jagi~. Aku ingin membuat pengakuan padamu, sebenarnya gelang itu adalah gelang persahabatan dari Minhye-ah.”

Jadi…itu benar gelangku…

“Anggap saja itu hadiah pernikahan.” Kataku cepat-cepat.

Peganganku terlepas, dan aku jatuh…aku ingin berteriak minta tolong. Sebelum aku menghantam bumi dengan keras.

Hingga sebuah tangan meraihku. Mencoba menarikku kembali, dan kuharap tangan itu milik…

Kyuhyun.

End of Minhye POV

***

Normal POV

Wajah Minhye kelihatan benar-benar shock, Kyuhyun semakin erat merangkul Minhye. Ia tahu bagaimana dan apa rasanya. Sewaktu mereka keluar gedung, spontan Minhye melepas rangkulan Kyuhyun dan berlari meninggalkannya.

Ia terus berlari dengan air mata berderai, Kyuhyun ada di belakang—berusaha mengejar. Minhye tidak peduli saat ia terjatuh akibat high heelsnya patah—terus berlari meski kedua lututnya terluka.

Tatkala Minhye kehabisan tenaga, Kyuhyun berhasil mendapatinya kemudian menarik Minhye ke dalam dekapannya. Membuat tangis gadis itu kembali pecah dan perasaan buncah Minhye meledak pada dekapan Kyuhyun. Minhye mulai merasakan betapa menenangkannya dekapan Kyuhyun.

“Uljima…” Kata Kyuhyun dengan suara serak, jemarinya lembut menyusuri helaian rambut Minhye yang berantakan. Kali ini, mereka sama-sama memiliki persamaan. Persamaan itu mungkin berbeda dalam pandangan Minhye dan Kyuhyun. Kyuhyun juga sakit, Minhye menangis sampai seperti ini dikarenakan oleh sesosok makhluk berlabel ‘cinta pertama’, sekarang ia tahu betapa besar rasa cinta Minhye untuk Yonghwa, tanpa ada sedikitpun untuknya. Membuatnya semakin merasakan sakit…

Kyuhyun melepas jasnya dan menyelimuti bahu Minhye dari gigitan angin malam. Lama ia menatapi wajah Minhye, seutas senyum—menyedihkan—terukir jelas.

“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya Kyuhyun, memecah keheningan.

“Molla.” Jawab Minhye, suaranya sedikit terguncang, namun ia berusaha untuk mendatarkan suaranya.

“Mungkin…” Minhye membuka kotak(yang semula ia akan serahkan pada Yonghwa) dan mengeluarkan gelang beserta dua buah kalung. Ia mengangkat ketiga benda itu tinggi-tinggi dengan telapak tangannya, kemudian melemparnya ke hamparan rumput dan semak belukar, tepi sungai. “Aku harus membuang kenangan itu semua.”

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku…hanya ingin meninggalkan semuanya di sini.”

Tanpa berkata lagi Minhye melangkah meninggalkan Kyuhyun yang masih diam terpaku. Tangannya melambai menyetop taksi yang kebetulan berlalu di jalan dekat sungai Han. Dari balik kaca ia masih bisa melihat Kyuhyun diam laksana patung.

Sepeninggal Minhye, Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah rerumputan tepi sungai yang basah. Sebuah senyum tipis tersungging.

***

KLEK

Pintu apartemen terbuka, Minhye masuk dan menyalakan lampu. Tepat tengah malam ia baru tiba di apartemennya, seharusnya ia sudah pulang dua jam yang lalu. Dia membersihkan make up yang carut-marut dan merapikan rambutnya, kemudian mengganti gaunnya dengan baju rumahan.

Minhye memeriksa apartemen, dan tidak mendapati tanda-tanda bahwa Kyuhyun sudah pulang. Sembari menikmati coklat panas, ia duduk bersila di sofa—sibuk menggonta-ganti channel—menunggu Kyuhyun pulang.

Hingga pukul tiga pagi Kyuhyun belum juga pulang. Karena terlalu lama menunggu Kyuhyun dan matanya sudah berat, Minhye tertidur di sofa.

DRAP…DRAP…

Samar-samar Minhye menangkap derap langkah, semakin lama semakin jelas dan mendekat. Ia tersentak bangun kala pintu apartemen terbuka, muncul Kyuhyun yang basah kuyup.

Walau Minhye ingin sekali menanyakan apa yang terjadi dan kenapa Kyuhyun pulang terlambat, toh ia cepat-cepat mengambil handuk dan membantu mengeringkan rambut Kyuhyun yang basah.

“Ya! Tanganmu kenapa?” Pekik Minhye tertahan melihat kedua belah tangan Kyuhyun penuh baret luka.

Yang ditanya hanya nyengir. Minhye beranjak dari sofa, dan kembali sesaat kemudian dengan kotak P3K. Ia membuka kotak P3K dan mengeluarkan gunting, kain kasa dan botol sedang berwarna putih. Tak lupa mengeluarkan kotak kecil berisi plester luka. Minhye menggunting kain kasa dan menuang sedikit isi dari dalam botol putih itu ke wadah kecil menyerupai cawan, mencelupkan ujung kain kasa yang telah ia lipat persegi ke dalam cairan berwarna merah pekat tersebut (Kyuhyun malah menatapnya bingung).

“Bo ga?” Tanya Kyuhyun sewaktu Minhye menyodorkan tangannya—seperti meminta sesuatu.

“Berikan tanganmu.” Pintanya.

Kyuhyun langsung menyembunyikan tangan di belakang tubuhnya. “Kau mau apakan?”

“Berikan!” Lantas Minhye menarik tangan Kyuhyun, lalu mengusap baret-baret pada tangan, telapak serta jari-jari Kyuhyun.

Empunya hanya bisa pasrah dan mengeluh betapa perihnya sewaktu beberapa luka bersentuhan dengan kasa berlumur obat merah. Sesekali mata Kyuhyun melirik, mencoba mencari celah untuk menatap wajah Minhye yang setengah tertunduk. Sudut bibirnya naik, membentuk sebuah senyuman.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Minhye, mengagetkan Kyuhyun yang sedari-tadi menatapi dirinya.

“Selesai.” Ucapnya setelah selesai menempelkan plester-plester luka pada tangan Kyuhyun.

Minhye membereskan peralatan yang ia gunakan dan menyusunnya kembali di kotak P3K. Ketika ia hendak beranjak untuk mengembalikan kotak P3K dan sekaligus berniat untuk menuju kamarnya, tangan Kyuhyun menahannya.

“Kumohon jangan pergi.” Lirih Kyuhyun. Minhye memandangnya tak mengerti. Ia menarik Minhye hingga terduduk kembali di atas sofa.

“Kumohon.” Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Minhye, membuat pemiliknya bereaksi menolak. “Kumohon…” Kedengaran begitu meminta dengan sangat. Akhirnya Minhye memberikan bahunya untuk Kyuhyun.

Hening, tak ada yang bicara. Hanya suara hujan yang mewarnai suasana pagi pukul 3 itu.

“Kau baik, wae?” Tanya Kyuhyun dengan mata terpejam.

Minhye tersenyum, meski begitu Kyuhyun tidak melihat senyumnya. Tapi Kyuhyun merasakannya…

“Jadi selama ini…aku jahat ya?” Minhye pura-pura sedih sewaktu Kyuhyun mendongak menatap wajahnya.

“Ani…!!” Bantah Kyuhyun. “Aku tak pernah melihat kau sebaik ini.”

“Kalimatmu menunjukkan dulu aku adalah orang jahat, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun memandang Minhye lemah. “Jangan panggil aku Kyuhyun-ssi. Panggil aku yeobo~.” Pintanya, terdengar begitu manja.

Minhye POV

Kyuhyun menatapku, terlihat lemah. “Jangan panggil aku Kyuhyun-ssi. Panggil aku yeobo~.” Pintanya, terdengar begitu manja.

Aish…apa maunya anak ini? Sudah dikasih hati, mintanya jantung. Sudah baik aku tak lagi ketus padanya.

Lagi-lagi ia memaksakan kepalanya menyandar di bahuku.

“Jagi~, aku ingin selalu seperti ini. Saranghae…kau cinta pertamaku.” Ujarnya manja.

DEG! Cinta pertama…Kyuhyun, kau mengingatkanku pada Yong. Kau jahat.

Kyuhyun memandangku heran saat melihat wajahku yang shock. “Wae?”

Ah…wae? Wae? Sialan kau Kyuhyun!

“Kau mengingatkanku padanya.”

“Apa kau masih mencintainya…”

“Aku tidak secepat itu melupakan seseorang, terlebih dia adalah cinta pertamaku.”

Aku bisa merasakan Kyuhyun mengeratkan genggamannya pada telapak tanganku, entah genggaman menenangkan atau kemarahan. Aku tidak pandai menilai gerak tubuh seseorang. Jangan salahkan kekuranganku!

End Minhye POV

__________________________________________________________

Dentang jam menunjukkan pukul 6.00 am, perlahan Minhye membuka matanya. Semalam ia tertidur di sofa dengan posisi duduk dan Kyuhyun bersandar pada bahunya. Seulas senyum terukir, ada perasaan aneh menyusup ketika wajah Kyuhyun yang sedang terlelap itu ia tatap.

__________________________________________________________

PROLOG___1

“Kenapa kau baik padaku?” Tanya Minhye pelan. “Kau tahu aku mencintai Yong, kenapa kau tidak meminta cerai? Wae?”

“Kau mau tahu jawabannya? Kau mau tahu jawaban bohong atau jujur?”

“Ya! Aku serius!” Minhye membelalak, marah.

“Jawaban bohong, karena aku tidak pandai mencari gadis galak dan menyebalkan seperti dirimu. Jawaban jujur……saranghae, jagi~”

“Ya! Jadi kau menganggapku gadis galak dan menyebalkan! Kyuhyun!!!” Pekik Minhye sebelum melayangkan pukulan, dan Kyuhyun evil laugh…

__________________________________________________________

PROLOG___2

Hujan datang, dan Kyuhyun masih membungkukkan badannya dan tangannya sibuk mencari-cari sesuatu di rerumputan tepi sungai, ia selalu mengaduh kesakitan tatkala tangannya tergores duri dan meninggalkan baret pada tangannya.

Ia tersenyum setelah menemukan kalung yang tadi Minhye lempar. Meski ia kurang puas tidak menemukan gelang dan kalung Minhye yang satunya.

Meski aku tahu kalung ini sebenarnya bukan hak-ku. Tapi sekali ini saja, biarkan ini menjadi milik-ku. Jikalau…kau tidak bisa kumiliki.

*END(?)*

13 responses

  1. Ping-balik: Search Fanfic Here ! « Korean Fanfics Lovers

  2. kyuhyun y beda di ff ini,,,, disini dia yg menanti cinta dr pasangan y biasa y kan malah cwe y yg menanti cint y kyuhyun….
    pa lg yg pas tau dia nyari kalung n gelang yg dibuang minhye terharu…..
    q suka…..
    ini udah tamat ya???

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s