The 10th Member

THE 10th MEMBER

Part 1

Mihye Publishing

Cast  :       Choi Minhye, The 10th member aka Minhye_harmonic

All members of Gilrs’ Generation

Other Cast : Lee Sooman

Kim Donwi

Kaoru Kasuga, Manager Kaoru aka Nadd

Beenbin Hibari, sahabat Choi Minhye, pemilik café

Yuya Matsushita, penyanyi asal Jepang, kekasih Beenbin

Warning     : OOC, AU, Typo sana-sini*gue males ngedit

Disclaimer  : Ini hanya fiksi!! Tidak nyata! Jangan salahkan kebodohan author dalam menggambarkan karakter para member SNSD. Maklumilah! Gue bukan SONE!

DON’T COPY-PASTE MY FANFICTION!!!!

SILENT READER KAGA BOLEH BACA!!!!!


***

“Kau yakin benar dia?” Tanya seorang lelaki paruh baya setelah selesai melihat ‘hasil’ yang dibawa mata-mata-nya.

Pemuda dihadapannya mengangguk pasti. “Saya undur diri. Lee Sooman-sajjangnim.” Pamit pemuda itu, membungkuk hormat dan berlalu dari hadapan Lee Sooman.

Sepeninggal pemuda itu, Sooman kembali memutar rekaman yang diberikan kepadanya tadi. Sebuah senyum tipis menghiasi wajah wibawanya.

***

“Eonni bercanda?!” Seru Tiffany keras. Membuat seluruh member terpaku melihat reaksi Tiffany. Ya memang semua tidak setuju, tapi protes, Tiffany lebih keras menyuarakannya.

Kaoru Kasuga, Manager SNSD itu hanya menghela nafas panjang. Ia menjelaskan semuanya, dari perintah Sooman sampai alasan kenapa harus ada ‘the 10th member’ di SNSD.

Manager Kaoru menyodorkan selembar foto berukuran 3R kepada Taeyeon. Dan langsung direbut Tiffany begitu foto itu berpindah ke tangan Taeyeon. Lagi-lagi semua heran melihat sikap Tiffany, tapi dalam pikiran mereka semua hanya pendapat bahwa sikap Tiffany itu wajar, sejujurnya mereka juga sedikit kesal pada gadis yang disebut-sebut Kaoru sebagai ‘si beruntung’.

“Aku merasa mengenalnya.” Kata Seohyun ketika melihat foto gadis yang sedang duduk sendirian dengan latar daun-daun berguguran. Yakin, diambil ketika musim gugur tahun lalu.

***

Denting bel pintu café memecah keheningan café yang telah sepi pengunjung. Hanya ada seorang gadis dengan rambut digelung ke atas―sedang membersihkan meja, teman gadis tersebut dan seorang pria yang baru masuk. Gadis―dengan gelung rambut―itu berhenti dari kegiatannya sejenak untuk melihat pengunjung yang datang menjelang waktu tutup.

“Choi Minhye, benar begitu?” Tanya pria itu. “Perkenalkan saya Kim Donwi, asisten Lee Sooman-ssi.”

Minhye menegapkan badannya untuk bisa menatap Kim Donwi dengan jelas. “Ada keperluan apa?” tanyanya datar. Tangannya kembali sibuk me-lap permukaan meja.

“Direktur mengharapkan kedatangan Anda. Besok.” Donwi meletakkan sebuah amplop coklat besar di atas meja lalu berbalik, pergi. Bel kembali berdenting. Suasana café kembali diselimuti sunyi.

***

Semua member SNSD berkumpul di ruang rapat. Hari ini mereka akan dipertemukan langsung dengan ‘si beruntung’. Mereka semua penasaran, meski sudah melihat fotonya, melihat secara langsung mungkin akan mengikis rasa tidak relanya mereka mendapat anggota baru. Para lead mungkin akan berusaha sedikit keras untuk melatih anggota baru―mereka mendengar kalau gadis itu sama-sekali tidak mencicipi title trainee SM.ent.

Hyoyeon, mulai berpikir tentang formasi-formasi dance mereka, sedangkan Jessica lebih kepada kualitas suara sang anggota baru. Urusan pembagian lirik, itu belakang―tergantung pada kualitas suara.

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, pintu ruangan terbuka dan muncul Direktur Lee Sooman dan Donwi mengikut dibelakang. Tapi tanda-tanda kedatangan ‘si beruntung’ tak ada sama sekali, membuat para member SNSD saling melempar pandang penuh tanya.

“Kalian mencarinya?” Tanya Sooman, mengerti maksud pandangan mereka.

“Ne,” Taeyeon mengangguk sopan diikuti para dongsaengnya. “Saya―kami pikir, dia akan bertemu dengan kami hari ini.” Ujar sang leader, mewakili semuanya.

Nampak seulas senyum muncul di wajah Sooman. “Tenanglah, Agassi, silahkan masuk.” Sooman mengeraskan sedikit suaranya dan menghadap pintu. Tepat saat itu, muncul seorang gadis berambut lurus sebahu dengan mata lentik dan pipi chubby. Kulit wajahnya begitu halus dan warna kulitnya terkesan pucat. Tapi itu menjadi seperti daya tarik. Sekejap member dan manager SNSD terkesima oleh aura yang dipancarkan gadis itu.

“Chonun Choi Minhye imnida.” Minhye membungkuk sejenak lalu menegapkan badannya kembali. Matanya melirik ke semua wajah para member yang sedikit terkejut. Mungkin karena aura yang sengaja ia tebar. Aku memang keren. Batinnya narsis. Pandangannya terhenti pada satu-satunya orang yang menatapnya sinis. Ujung bibir Minhye tertarik, membentuk seringaian khas sambil balas menatap Tiffany, membuat Tiffany melongo melihat seringaiannya.

***

K-POP gempar!

Semua berpusat dari SMent yang baru saja melansir bahwa SNSD mengalami pertambahan member. Berbagai tanggapan dan argument muncul, pro dan kontra. Meski begitu kebanyakan pro dikarenakan SNSD adalah girlgrup baru dan formasi mereka belum begitu melekat pada fans, jadi penambahan member tidak terlalu mempengaruhi para Sone.

Meskipun penambahan member, SNSD seperti biasa selalu muncul dengan sembilan membernya―kemunculan member ke sepuluh jarang terjadi. SMent memberikan alasan bahwa member baru dari girlgrup yang mereka naungi adalah mahasiswi tingkat akhir. Jadi untuk beberapa saat tidak terlalu diikutsertakan dalam beberapa kegiatan SNSD. Beberapa netizen mempertanyakan alasan SMent yang sedikit ‘masuk akal’ menurut beberapa orang. Tapi beberapa saat kedepan, tak ada yang mempermasalahkan.

Sebulan sudah Minhye tinggal di dorm SNSD dan menjadi member ke sepuluh di SNSD. Tinggal di kamar yang tidak terlalu besar dengan Tiffany―yang tidak menyukainya―membuat Minhye sedikit merasa tidak enak.

Berbagai upaya dilakukan Tiffany untuk menyingkirkan Minhye―dari kamarnya dan dari SNSD. Termasuk mengompori para member agar menjadi benci pada Minhye. Berhasil.

Pagi dingin bulan desember, semua sibuk dengan berbagai kegiatan―kecuali Minhye. Tentu saja, masuk SNSD bukan berarti ia akan menjadi ‘si sibuk’. Ia tetap pada rutinitas biasa, walau terkadang ada kegiatan SNSD wajib ia ikuti. Minhye diam saja melihat kegaduhan dorm. Memilih menikmati coklat panasnya, tanpa memedulikan beberapa suara yang melengking. Ia bergidik, telinganya pengang.

Matanya menangkap tatapan mata Hyoyeon yang seolah meminta bantuan. Minhye beranjak dari kursi, menuju Hyoyeon yang kewalahan membawa customs mereka. Dengan cekatan ia membantu Hyoyeon memasukkan customs ke dalam Van SNSD. Tanpa mendengar ‘terima kasih’ dari Hyoyeon, Minhye melengos pergi meninggalkan Hyoyeon yang menatapnya bingung.

Minhye tahu mereka semua tidak terlalu menyukainya. Itu tidak terlalu penting baginya. Selama ia masih mempunyai benda istimewa itu, semua tidak menjadi masalah. Tiffany tidak menyukainya? Berusaha menyingkirkannya? Minhye tahu itu. Dari awal pertemuan, aura Tiffany sudah memancarkan ketidaksenangan yang amat sangat. Tapi perjanjian itu membuatnya tidak bisa menghindar dari Tiffany.

Orang ketiga yang membuat Minhye berusaha untuk nyaman tinggal di dorm dan menjadi ‘the 10th’ adalah Taeyeon. Meski tidak terlalu menampakkan ‘rasa terima’ atas dirinya adalah ‘the 10th’, ia sudah bisa membaca tatapan dan sikap Taeyeon padanya. Sayangnya itu hanya sementara, Taeyeon keburu termakan hasutan Tiffany.

***

Tiffany sibuk membolak-balik lembar-lembar majalah yang baru saja ia temukan di kantong jok kursi Van mereka. Pikirannya tidak focus, sibuk memikirkan cara apa lagi yang akan ia gunakan. Selama ini ia melihat bahwa Minhye sosok ‘tahan banting’. Beberapa cara ia lakukan untuk membuat gadis itu tidak tahan, tapi itu percuma saja. Meski cara membuat semua member membenci dirinya. Itu tidak membantu sama sekali, Minhye tampak tenang-tenang saja.

“Hei, Hyoyeon. Wajahmu tadi kenapa?” Tanya Tiffany sehabis mengembalikan majalah tersebut ke dalam kantong jok.

“Ha?” Hyoyeon menaikkan sebelah alis, tak mengerti.

“Maksudku, ekspresi wajahmu saat ‘the 10th’ meninggalkanmu.” ‘the 10th’ begitulah Tiffany menyebut Minhye. Sejujurnya Tiffany tidak mau memanggil Minhye dengan nama sebenarnya.

Nampak Hyoyeon mengangguk. Tanda mengerti. “Aku hanya heran pada gadis itu, ia selalu pergi di saat aku ingin mengucapkan terima kasih.” Jelasnya sambil menyambar keripik kentang yang hendak masuk ke dalam mulut Sooyoung. Menimbulkan sedikit kegaduhan di dalam Van dengan teriakan tidak terima Sooyoung.

***

Sibuk. Semua sibuk, mempersiapkan pesta kejutan untuk Yuri. Minhye yang sedari tadi duduk diam―karena tidak ada seorang pun yang meminta bantuan, atau lebih tepatnya tidak mau dibantu olehnya―langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur, bermaksud membantu Hyoyeon dan Taeyeon memasak.

Taeyeon melambaikan tangannya begitu juga dengan Hyoyeon. Tanda tak mau dibantu. Padahal pekerjaan mereka banyak dan menumpuk. Di ruang tengah hanya ada Sooyoung, Sunny, dan Seohyun. Sama sibuknya. Menata ruangan dan mendokarasi dengan pernak-pernik. Beginilah ulang tahun wanita, penuh pernak-pernik dan segala macam persiapan. Tiffany, Jessica dan Yoona sibuk mengulur-ulur waktu Yuri untuk kembali ke dorm―pergi berbelanja tepatnya.

Karena semua mengabaikan dirinya, dengan tekad sebagai ‘anggota baru’ yang baik, Minhye memakai mantel berpergiannya dan melesat dengan motor matic putih yang ia parkir di basement apartemen.

Denting bel pada pintu café kembali berkumandang. Minhye melepaskan helm-nya dan langsung menghampiri gadis dengan blazer coklat yang sedang menikmati coffelatte, duduk dekat jendela.

“Kau bisa bantu aku?” Tanya Minhye tanpa basa-basi setelah meletakkan ransel beserta helm di meja.

Gadis itu mengerutkan kening. Tak mengerti.

“Buatkan aku kue tar. Sponge juga boleh. Apalah…please?” Ujarnya, memohon. “Please, Beenbin. Bantu aku.”

Beenbin tersenyum. Ia beranjak dari duduknya menuju dapur cafe―diikuti Minhye dengan tangan penuh, memegang ransel dan helm-nya.

Beberapa jam kemudian, Minhye muncul dari pintu café dengan wajah berseri. Di tangannya terdapat sekotak ukuran sedang kue yang sudah ia―dan Beenbin―persiapkan untuk ulang tahun Yuri. Minhye dekat dengan Yuri? Tidak juga. Minhye baik pada Yuri karena ia sudah dengan senang hati membantu Minhye mencari buku-buku penunjang untuk perlengkapan menyambut final test yang diadakan sebentar lagi.

“Kau yakin akan membawanya dengan itu?” Beenbin menunjuk ke arah matic Minhye, terparkir sembarangan di depan café.

Minhye mengangguk mantap. Ia menaiki matic kesayangannya itu dan mengulurkan tangan untuk mengambil kotak kue tersebut dari Beenbin. “Berikan! Aku sudah terlambat. Sebentar lagi Yuri pulang!”

Beenbin menggeleng. “Tidak!” Ia mengeraskan suaranya. Dengan begitu ia berharap Minhye mengurungkan niat―bodoh―membawa kue seorang diri. Dengan menaiki motor? Bodoh. Jempol Beenbin teracung kebelakang tepat saat itu, seseorang muncul dan dengan gaya cool-nya bersandar di tembok―melayangkan pandangan tajam namun mempesona ke mereka berdua. “Biar aku dan Yuya yang akan mengantarnya.”

“Ha? Terus aku?” Minhye menunjuk dirinya sendiri.

Pria yang temannya tadi panggil Yuya berjalan mendekati mereka. “Perkenalkan, saya Yuya Matsushita. Artis terkenal.” Yuya membungkuk dua kali dan terus mengucapkan ‘artis terkenal’.

Minhye bengong melihat tingkah pria Jepang di hadapannya itu. Narsis sekali dia! Semula ia ingin saja tertawa mendengar dan melihat gaya Yuya memperkenalkan diri, namun urung. Bukan waktu yang tepat.

***

Pesta sudah dimulai dan Minhye baru datang dengan kotak kue ia bawa hati-hati. Sepertinya suasana pesta melupakan keberadaan Minhye. Dengan perasaan sakit Minhye berjalan menuju balkon, meletakkan kotak kue di sampingnya dan mulai duduk rileks di lantai balkon yang dingin. Kepala Minhye menengadah, memandang langit kelam.

Dulu ia sering seperti ini, memandang langit kelam―bedanya dulu, langit kelam bertiraikan bintang dan cahaya bulan temaram―bersama seseorang, tapi sekarang ia sendirian menikmati langit yang begitu luas. Mau menangis? keburu derap langkah menyentakkan dari nostalgia masa lalunya.

“Sendiri?” Tanya seseorang yang ternyata Taeyeon.

“Menurutmu?” Jawab Minhye, sedikit ketus. Ia sengaja tidak menelengkan kepala untuk melihat Taeyeon, takut Taeyeon bisa melihat wajah kesedihannya.

Dirasakannya Taeyeon mengambil duduk di sebelahnya. Hening, tak ada yang bicara. Minhye ingin membuka topic pembicaraan namun urung, ia masih ingat Taeyeon marah―karena salah paham―padanya, ini pertama kali mereka sedekat ini semenjak Taeyeon membentaknya, dua minggu lalu.

“Mian…” Kata Taeyeon lirih. Walau begitu Minhye dapat mendengar perkataan Taeyeon barusan. “Kurasa…” Ada jeda lama dalam kalimatnya. “Aku sudah sedikit keterlaluan padamu.” Terdengar hembusan nafas berat.

“Mungkin aku juga. Semua ini salah paham. Mianheyo..” Minhye berusaha bersikap formal pada Taeyeon.

“Tidak usah formal. Biasa saja.” Mata Taeyeon tertuju ke arah kotak di samping Minhye. “Apa itu?” Tunjuknya.

“Bukan ap―hei! Letakkan kembali!” Perintah Minhye sedikit kesal pasalnya Taeyeon membuka kotak tersebut.

“Ini untuk Yuri?”

Dan anggukan kecil Minhye mengembangkan cengiran Taeyeon. “Kau baik.”

*TBC*

19 responses

  1. Ping-balik: Search Fanfic Here ! « Korean Fanfics Lovers

  2. Kalo misalnya SNSD beneran tambah personil,pasti banyak yg dulunya SONE jadi Antis *aku sama sekali nggak berharap itu terjadi*
    Tapi,Authornya kreatif banget deh,sampe kepikiran bikin cerita yg cukup menggemparkan ini
    Berhubung aku SONE yg pnasaran banget sama SNSD #maklum,SONE baru he he#,aku suka jalan ceritanya yg BERBEDA dari author lain.Menurutku ini KEREN #NO BASHING#

  3. Kalo misalnya SNSD beneran tambah personil,pasti banyak yg dulunya SONE jadi Antis *aku sama sekali nggak berharap itu terjadi*
    Tapi,Authornya kreatif banget deh,sampe kepikiran bikin cerita yg cukup menggemparkan ini
    Berhubung aku SONE yg pnasaran banget sama SNSD #maklum,SONE baru he he#,aku suka jalan ceritanya yg BERBEDA dari author lain.Menurutku ini KEREN #NO BASHING# *Mian kalo kepanjangan komennya*

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s