Love and Hate

Author : Annisa Nendita HalingDamanik

Cast : Yesung, Sooyoung, dll

Aku tak tahu kenapa aku bisa menyukainya. Yang jelas, jantungku berdebar saat aku melihatnya. Hmm, kata teman-temanku sih, aku jatuh cinta padanya. Tapi entahlah. Mungkin hanya rasa suka. Eh, apa mungkin rasa suka sampai seperti itu? Berdebar-debar? Ya ampun…

” Sooyoung! Jangan melamun terus dong!” tegur Taeyeon padaku saat aku sedang asik memperhatikan Yesung oppa yang sedang mendribble bola basketnya. Aku tak peduli. Aku tetap memperhatikan Yesung oppa.

” Sooyoung! Kalau kau tetap berdiri seperti itu dan memperhatikan Yesung oppa, kau akan ketinggalan gerakan!” kali ini gantian Tiffany yang menegurku. Aku segera tersadar.

” Kalian mengganggu saja, deh! Aku kan sedang serius!” ucapku. Teman-temanku yang lain langsung menatapku tajam.

” Serius memperhatikan Yesung oppa maksudmu? Haah! Kau ini! Sudah tahu dia itu jutek sekali! Masih saja kau sukai! Memangnya kau tak punya selera lain ya?” tanya Seohyun tajam. Aku jadi sedikit tersinggung.

” Ya sih, kayaknya aku bakalan cari cowok lain yang lebih keren deh. Contohnya seperti…” aku mencari-cari kesekeliling aula. Tak ada siapa-siapa kecuali aku dan para anggota SNSD yang lainnya. Oya, lapangan!

” Seperti…?” desak Seohyun.

” Ah! Seperti Kyuhyun oppa mungkin!” seruku meledek Seohyun. Benar saja, gadis ini langsung cemberut. Aku tertawa.

” Huh! Ambil saja sana kalau kau mau! Aku suka sama yang lain saja!” katanya ngambek. ” Yesung oppa juga kelihatannya jomblo!”

Oow, ucapannya membawa-bawa nama Yesung oppa! Aku langsung melipat tanganku. ” Kau kan sudah punya Kyuhyun oppa! Buat apa mengambil Yesung oppa! Yesung oppa milikku tahu!” kataku.

” Kau lupa apa pura-pura lupa? Kyuhyun oppa kan sudah kau ambil!” balasnya.

” Hei, aku kan tidak benar-benar!”

” STOOOPPP!!!” teriak Jessica. Seohyun yang ingin membalas langsung berhenti. Aku pun jadi diam karena teriakan Jessica tadi. ” Nah, diam kan lebih baik! Ayo kita mulai lagi latihannya.” kata Jessica sambil mengambil posisi. Kamipun melanjutkan latihan cheers kami yang tadi sempat tertunda.

-LAH-

Aku berjalan dengan tergesa-gesa menelusuri koridor sekolah. Pasti kalian sudah tahu tanpa perlu aku ceritakan bukan? Yup! Aku terlambat. Gara-gara latihan kemarin yang melelahkan, aku jadi terlambat bangun. Dan akhirnya, akupun terlambat kesekolah.

Tanpa melihat-lihat, aku berjalan terus. Aku tak mempedulikan apapun selain keterlambatanku ini. Dan aku tak bisa membayangkan apapun selain…

BRUK!!!

Yup, karena aku tak memperdulikan apapun, akupun tak membayangkan apapun selain wajah Bu Nanhee. Termasuk tabrakan dengan orang lain yang padahal akan memperhambat waktuku. Rasanya aku ingin sekali marah pada orang itu. Langsung saja kuangkat kepalaku menatap orang yang telah menabrakku ini. Ups!

” O, oppa? Sedang apa kau disini? Bukankah ini sedang jam pelajaran?” tanyaku saat melihat siapa yang menabrakku. Ehm, maksudku, siapa yang aku tabrak.

” Minta maaf padaku sekarang!” ucapnya tanpa peduli dengan pertanyaanku tadi.

” Minta maaf?”

” Ya, karena kau sudah menabrakku, kau harus minta maaf padaku!” katanya angkuh. Aku menyipitkan mataku. Tapi, demi orang yang kusukai, apa salahnya. Lagipula aku sadar kok, kalau aku yang salah.

” Ya, aku minta maaf karena sudah menabrakmu, oppa.” kataku selembut-lembutnya. Yesung oppa menyipitkan matanya. Lalu pergi. Aku menyunggingkan senyum saat dia sudah berlalu. Aku senang sekali karena bisa tabrakan dengan cowok yang aku sukai. Huaaah!! Rasanya seperti terbang, deh.

Saking senangnya, aku tak sadar kalau aku telat. Akupun masuk kedalam kelas dengan senyum mengembang. Bu Nanhee yang sedang mengajar menatapku dengan tajam. Ya ampun! Aku sama sekali lupa! Aku telat..

” Sooyoung, letakkan tasmu dan pergi ke perpustakaan. Cari dan tulis pakai tangan tentang sejarah Korea. Kumpulkan besok.” suruh bu Nanhee. Nadanya yang dingin mampu membuat aku beku dalam waktu sekejap. Aku mengangguk dan segera pergi keperpustakaan.

Di perpustakaan, aku melihat Yesung oppa sedang membaca buku dipojok ruangan. Aku tersenyum. Bukan padanya. Melainkan pada diriku sendiri. Kapan lagi aku bisa berduaan dengan Yesung oppa? Yeah, meski aku tak menghampirinya, setidaknya aku dan dia hanya berdua diperpustakaan.

Aku mulai mencari buku sejarah korea dengan hati berdebar. Jelas saja pakai berdebarnya, Yesung oppa dekat sekali denganku. Dan dia sedang duduk dibawah sambil membaca buku. Aah, tampan sekali dia.

DUKK!!

Aku terjatuh untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini karena kakiku tersandung. Dan kalian tahu apa yang membuatku jatuh? Aku tersandung kaki Yesung oppa! Ya ampuun!! Aku senang sekali. Meskipun sakit, tapi aku tidak peduli. Yang penting secara tidak sengaja, aku telah bersentuhan dengannya. Aaaah!! Rasanya ingin teriak sepuasnya deh!!

” Sepertinya kau tak pernah lihat apa yang ada disekitarmu, ya!” sindir Yesung oppa. Aku berdiri. Merapikan rokku dan kembali mencari buku. ” Kau seharusnya jalan memakai kaca pembesar. Atau, matamu ditambahkan saja. Supaya, jika melihat gampang!” lanjutnya. Aku tetap diam. ” Hei, kau ini bisu, ya?!”

” Apa perlu aku jawab?” tanyaku polos. Yesung oppa malah melengos dan pergi. Bukan. Bukan keluar perpustakaan. Tapi pergi menjauh dari tempatku sebelumnya. Aku jadi serba salah. Aku sudah membuatnya marah.

Aku melanjutkan pencarianku. Setelah beberapa menit, aku tidak menemukan buku yang kucari tersebut. Yang aku temukan hanyalah novel-novel yang tidak aku mengerti. Haaaa! Aku lelah sekali mencarinya! Bu Nanhee tega sekali padaku. Seandainya saja aku tidak telat!

” Kau mencari buku ini?” tanya seseorang padaku. Aku mendongak. Ternyata Ryeowook oppa yang datang. Ia membawakan buku sejarah korea untukku. Aku tersenyum. Lalu menerima buku tersebut.

” Terimakasih, oppa. Bagaimana oppa bisa tau kalau aku mencari buku ini?” tanyaku heran. Ryeowook oppa tersenyum.

” Tadi aku sempat melihatmu telat. Tanpa sengaja, aku mendengar apa yang disuruh bu Nanhee padamu.” jelasnya.

” Lalu, oppa menyusulku dan berbaik hati mencarikan aku buku ini?” tanyaku kegeeran. Ryeowook oppa tersenyum. Lalu menggeleng.

” Nona Sooyoung, kau mencari buku sejarah dideretan novel-novel dewasa. Jelas saja tidak ketemu.” jelas Ryeowook oppa sambil tertawa kecil. Aku memanyunkan bibirku.

” Lalu, apa yang oppa lakukan disini?”

” Aku menjemput Yesung kesini.”

” Apa? Yesung oppa dijemput? Seperti anak kecil saja! Haha..”

” Kalau kau tidak tau apa-apa, jangan berkomentar yang macam-macam!” tegur seseorang yang aku kenal. Itu Yesung oppa. Ternyata dia mendengarku.

” Ups! Maaf, oppa. Aku nggak bermaksud untuk menertawakanmu.” kataku merasa bersalah. Yesung oppa hanya diam. Lalu menarik pergi Ryeowook oppa.

” Ayo! Leeteuk pasti sudah menunggu!”

-LAH-

Toko buku hari ini ramai sekali. Sepertinya aku harus bersabar mengantri di kasir. Tapi, pasti Taeyeon dan Tiffany akan menunggu. Ah, sebaiknya aku sms saja mereka. Tapi, tidak perlulah.

Aku pun melangkah masuk dan mulai mencari buku sejarah korea. Memang sih, tadi pagi Ryeowook oppa sudah berbaik hati memberikan buku. Tapi rasanya ada yang kurang. Jadi aku mencari lagi.

BRUK!!

Sepertinya hari ini aku banyakan nabrak orang. Karena terlalu ramai, aku tak memperhatikan orang-orang disekitarku. Aku malah sibuk sendiri dengan pikiranku. Meskipun tidak terjatuh, tetap saja sakit. Lagipula siapa sih yang menabrakku hingga sakit seperti ini?

” Oppa?” tanyaku begitu tau siapa yang bertabrakan denganku.

” Sepertinya kau betul-betul harus tambah mata, deh! Kau jalan tidak pernah lihat-lihat!” omel Yesung oppa. Aku menunduk. ” Selain itu kau juga tidak punya telinga, ya!”

” Maaf, oppa. Aku tidak sengaja.” ucapku. Yesung oppa diam. Lalu pergi.

Aku memandang punggungnya yang semakin menjauh. Aku sangat merasa bersalah. Juga semakin tidak mood untuk mencari tambahan sejarah korea. Lebih baik aku menyusul Taeyeon dan Tiffany saja.

Di salah satu FO, aku mendapati Taeyeon dan Tiffany sedang ngobrol dengan Leeteuk oppa dan Hangeng oppa. Selang beberapa menit, aku melihat Yesung oppa datang mendekat. Lalu Leeteuk oppa, Yesung oppa dan Hangeng oppa langsung pergi.

Setelah mereka pergi, aku langsung menghampiri Taeyeon dan Tiffany.

” Sooyoung? Darimana saja kau? Lama sekali sih? Padahal tadi ada Yesung oppa lho.” kata Taeyeon seolah menggodaku.

Aku tersenyum kecil. ” Biarlah. Tadi aku sudah melihatnya ditoko buku.” kataku lemah. ” kita pulang yuk! Aku lelah.” ajakku. Taeyeon dan Tiffany hanya mengangguk. Lalu mengikutiku ke parkiran.

Sesampainya aku dirumah, aku langsung tiduran dikasur dan menatap langit-langit kamarku. Dalam hati aku bertanya-tanya. Kenapa sih, Yesung oppa selalu saja tidak suka bila bertemu denganku? Apa dia membenci ku? Apa dia tidak menyukaiku? Tapi kenapa? Apa ada yang salah denganku? Apa aku pernah buat salah padanya?

Sungguh aku tak mengerti. Apa yang buat Yesung oppa membenciku? Padahal aku tak pernah bicara secara pribadi padanya. Kalau berpapasan pun jarang kami berbicara. Sekedar senyum pun tidak. Dia memang cuek dan jutek. Tapi kenapa harus seperti ini?

Yesung oppa… Seandainya saja dia tahu kalau aku menyukainya. Seandainya saja dia tahu aku menyayanginya. Hmm, aku hanya bisa berandai-andai agar bisa dekat dengan Yesung oppa. Ah, apa mungkin aku harus melupakan Yesung oppa? Tapi, apa secepat itu mengambil keputusan? Mungkin saja Yesung oppa sedang bad mood. Ahh! Ayo Sooyoung! Jangan menyerah!!

TOK! TOK! TOK!

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku membukanya. Ternyata Yoona datang kekamarku. Aku tersenyum melihatnya. Tapi sayangnya Yoona tak membalas senyumanku. Matanya tampak sembap. Sepertinya ia habis menangis.

” Ada apa Yoona? Mengapa matamu merah?” tanyaku agak panik.

” Aku, aku putus dengan Kibum oppa. Aku sedih sekali, Sooyoung.” curhatnya. Aku juga sedang sedih.

” Putus? Putus kenapa, Yoona?” tanyaku lagi.

” Dia, dia lebih memilih Hyekyo eonnie daripada aku. Padahal jelas-jelas Hyekyo eonnie sudah punya Hyunbin oppa! Dasar Kibum oppa! Aku benci dia!” umpat Yoona sambil memukul-mukul bantalku yang dipangkuannya.

” Hatimu sakit, Yoona?” tanyaku bodoh. Yoona menatapku.

” Sangat sakit, Sooyoung! Sangat menyakitkan!”

” Apa kau juga merasa sakit hati jika Kibum oppa tak pernah menyukaimu?”

Yoona menatapku tambah tajam. ” Jelaslah, Sooyoung! Apa kau sedang ada masalah?” aku menggeleng.

” Aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedih atas kabar darimu.” ucapku berbohong sambil memalingkan wajahku.

” Jangan bohongi aku, Sooyoung. Aku tahu kau sedang ada masalah. Ceritakan padaku!” katanya sambil mengapit kepalaku dan menghadapkannya kearahnya agar aku dapat melihatnya.

” Sungguh! Aku hanya turut bersedih!”

” Baiklah. Kau memang tidak pernah mau cerita. Selalu saja menyimpan perasaanmu. Dan, sebenarnya aku tidak putus dengan Kibum oppa. Hanya ingin membuatmu bercerita.” jelasnya. Lalu pergi.

Setelah kepergian Yoona, aku termenung lagi. Masih Yesung oppa yang aku pikirkan. Tak ada yang lain. Hanya Yesung oppa. Aku juga masih memikirkan perasaan Yesung oppa padaku. Apa benar dia membenciku atau ada hal lain yang membuatnya tak menyukaiku. Ah, entahlah.

-LAH-

Pagi ini ada class meeting. Karena hari ini adalah hari sabtu. Dan, setiap hari sabtu, sekolahku selalu mengadakan class meeting. Biasanya perlombaan basket atau futsal antar kelas. Tapi, entahlah, kenapa hari ini perasaanku sangat tidak enak. Aku sangat takut. Apalagi jika nanti aku ketemu dengan Yesung oppa. Aku tak peduli. Aku mengambil baju cheers ku dan memakainya.

” Hanya perasaanmu saja.” kata seseorang sambil menepuk bahuku. Aku menoleh. Ternyata Taeyeon sudah dibelakangku sambil tersenyum.

” Maksudmu?” tanyaku penasaran.

” Tidak kok. Aku tahu kau merasa gelisah.” jawab Taeyeon. Aku tersenyum. Senyum maksa. Karena sejujurnya, aku nggak tahu kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. Apalagi sampai bicara seperti itu. Seolah dia tahu dengan apa yang kurasakan.

Saat aku sedang bersiap-siap mengambil pom-pom ku, perasaan tak enak itu kembali hadir. Entahlah. Apa hanya perasaanku, atau memang akan ada yang terjadi.

Kelas XII sebentar lagi akan main dengan kelas XII lainnya. Dan Yesung oppa bermain mewakili kelasnya. Ya, memang kemampuan Yesung oppa tak ada duanya. Karena Yesung oppa adalah kapten basket.

Ditengah permainan, aku melihat ada yang tidak beres dengan Yesung oppa. Yesung oppa terlihat susah payah dalam mendribble maupun mengejar bola. Aku jadi khawatir. Apa Yesung oppa sedang sakit?

” Wooaa, sepertinya ada yang tidak beres ya, dengan Yesung? Apa dia sakit?” teriak seseorang. Aku menoleh. Ternyata Hyekyo eonnie. ” Hei, ada apa dengan Yesung tercintamu itu?” tanya Hyekyo eonnie. Aku merasa tersindir. Tapi tak mampu bicara apa-apa. Aku tahu Hyekyo eonnie hanya bercanda.

” Aku tak tau eonnie. Tapi sepertinya oppa memang sedang sakit.” kataku. Hyekyo eonnie tersenyum. Lalu mengangguk-angguk.

Tak lama setelah itu, ada ribut-ribut dilapangan. Semua langsung menghambur kelapangan. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi tampaknya, hal itu suatu yang buruk. Bahkan jantungku semakin berdebar-debar dan panik.

” Sooyoung, Yesung oppa terjatuh. Ayo kita lihat!” ajak Hyekyo eonnie sambil menarikku menuju ketengah lapangan. Benar saja, ditengah lapangan Yesung oppa sedang berusaha berdiri. Aku yang panik, refleks menghampirinya.

” Oppa, oppa nggak papa? Apa yang sakit oppa? Boleh aku bantu berdiri?” tanyaku beruntun. Yesung oppa hanya menatapku penuh kebencian. Lalu menepis tanganku.

” Tidak perlu! Aku bisa berdiri sendiri! Jangan sentuh aku!” bentaknya. Aku tertegun. Aku kaget sekali dia membentakku. Sungguh. Aku tak pernah menginginkan ini.

” Nggak papa, oppa. Aku hanya ingin membantu. Tapi jika oppa merasa keberatan dibantu olehku, aku minta maaf, oppa.” ucapku. Lalu pergi dari lapangan dengan air mata menggenang dipipi. Aku sakit sekali diperlakukan seperti itu oleh Yesung oppa.

Aku pergi ketaman dibelakang sekolah. Disana, aku menangis sejadi-jadinya. ” Kenapa Yesung oppa segitu bencinya terhadapku? Apa ada yang salah denganku? Apa aku tak pantas untuknya? Apa…”

” Yesung oppa mu tak membencimu. Tapi kau tetap salah. Dan kau bukannya kau tak pantas untuk Yesung oppa.” seseorang memotong ucapanku. Aku menoleh. Ternyata Taeyeon.

” Tapi kenapa dia tak ingin dibantu olehku? Kenapa dia menatapku seolah dia benci padaku? Kenapa? Dan, apa maksudmu dengan aku tetap salah?”

” Kau akan tahu nanti, Sooyoung. Kumohon bersabarlah.” pinta Ryeowook oppa yang entah kapan sudah berada disamping Taeyeon.

” Aku tak ingin menunggunya lagi. Aku sudah lelah. Aku putus asa. Aku tak ingin dia tahu perasaanku. Biarkan saja perasaan ini menjadi kenangan. Dan, rahasia. Aku mohon jangan beritahu Yesung oppa tentang ini.” pintaku. Ryeowook oppa dan Taeyeon mengangguk saja.

Setelah itu, aku pergi keluar sekolah. Berniat untuk pulang. Tapi didepan gerbang, aku melihat tukang balon yang sedang membagikan balonnya untuk anak-anak kecil. Untuk mengobati rasa sakit hatiku, aku pergi menemui tukang balon itu dan membelinya satu balon untuk aku terbangkan ditempat sepi. Ya, kebiasaanku jika sedang sedih.

” Mas, beli balonnya satu ya, yang warna hijau.” pintaku.

” Wah, saya nggak jualan balon warna hijau tuh. Soalnya kalau warna hijau gampang meletus.” kata tukang balon itu. Aku mengerutkan kening. Bingung. ” Tapi saya punya balon khusus untuk cewek yang lagi patah hati sepertimu.” katanya lagi. Lalu memberikan sebuah balon hati untukku. Aku menerimanya. Tapi kok ada cincin yang dikaitkan?

” Mas, kok ini ada cincinnya?” tanyaku heran. Tukang balon itu mengambilnya lagi dari tanganku. Lalu, tukang balon yang aku tak tahu wajahnya itu pun menyuruhku masuk kedalam balon-balon tersebut. Aku menurut saja. Didalam balon-balon ini, aku dapat melihat sang tukang balon. Tapi tak begitu jelas karena dia memakai topi.

” Cincin itu buatmu.” kata sebuah suara yang aku kenal. Tapi bukan si tukang balon.

” Maksudnya?”

” Maaf aku telah membuatmu sakit hati. Tapi jujur, aku tak bermaksud untuk melakukan itu.”

” Aku nggak ngerti.” kataku.

” Jujur saja, selama ini aku tak pernah membencimu.” aku makin tak mengerti. ” Saat kau menabrakku, aku sangat senang. Juga saat kau tersandung kakiku. Aku sangat menyukainya. Tapi kenapa kau tak pernah mau melawanku? Padahal aku sangat menantikan perlawananmu.”

” Aku makin nggak ngerti. Maaf.”

” Karna rasa cintamu padaku, kau jadi tak pernah melawanku. Kau terlalu polos. Bahkan saat tadi aku bentak, kau masih bisa dengan tenangnya mengatakan maaf.”

” Apa sih maksudmu?”

” Sooyoung! Kau salah padaku! Kau seharusnya melawan apa yang kukatakan padamu! Aku ingin bicara padamu. Tapi aku takut. Waktu kau telat, aku yang harusnya minta maaf padamu. Karena aku yang telah sengaja menabrakmu. Agar kau merasakan kehadiranku.”

” Kau ini siapa? Nggak mungkin kau Yesung oppa! Yesung oppa tak mungkin menyukaiku!”

” Kata siapa? Yesung oppa mu lebih mencintaimu dibanding dengan yang kau tahu!”

” Nggak! Kau bohong!”

” Aku serius, Sooyoung. Kalau kita tabrakan, aku yang selalu menabrakmu. Bukan kau. Dan tadi, aku sengaja membuat badanku lemas agar kau khawatir padaku. Aku juga sengaja membentakmu. Dan aku ingin menunjukkan cintaku padamu lewat ini.”

” Sebenarnya kau siapa? Mengaku saja!” kataku sedikit berteriak. Tiba-tiba, satu persatu balon itu berterbangan. Dan orang dihadapanku ini menyisakan satu balon yang ada cincinnya tadi. Lalu, dilepaskannya topi dari kepalanya.

” Oppa?”

” Sooyoung, saranghae.” ucap Yesung oppa sambil berlutut dan memberikan balon tadi. Aku diam. ” Sooyoung?”

” Maaf, oppa. Aku nggak bisa.”

” Sooyoung?”

” Aku udah terlanjur sakit hati sama perlakuan oppa tadi. Aku nggak mau lagi mengulang rasa sakitku, oppa.” kataku. Aku sendiri tak tahu kenapa bisa bicara seperti itu. Harusnya aku mengatakan hal lain.

” Yasudah. Tapi, boleh aku minta tolong padamu?”

” Apa, oppa?”

” Tolong terbangkan balon ini serta cincinnya.” aku mengangguk. Secepat itukah Yesung oppa menyerah? Terpaksa aku harus membuang balon itu beserta cincinnya.

” Tapi, oppa tutup mata.” aku mengajukan syarat. Yesung oppa menurut. Segera aku terbangkan balon itu. ” Udah, oppa. Boleh dibuka kok matanya.” kataku. Yesung oppa membuka matanya. Kasihan sekali.

” Terimakasih Sooyoung..” ucapnya. Lalu berbalik. Aku segera menahannya. ” Ada apa?”

” Seingatku, kalau didalam basket, oppa nggak pernah nyerah. Tapi kenapa kalau soal cewek semudah itu oppa nyerah?”

” Maksudmu?”

” Oppa jahat! Oppa buat aku sakit hati dan selalu mikir kalau oppa membenciku! Oppa selalu menyakiti hatiku dengan ucapan oppa! Oppa jahat! Tapi kenapa aku tetap menyukai oppa? Kenapa aku tetap ingin ada didekat oppa?! Bahkan untuk menolak oppa aku tak mampu!” tangisku. Aku tahu oppa pasti bingung.

” Sooyoung. Sudahlah. Kau sudah menolakku dan kau bilang tak mampu?”

” Lihat ini!” aku menunjukkan jari manisku yang telah tersemat cincin darinya. Ya, tadi sebelum menerbangkan balon, aku copot terlebih dahulu cincin itu. ” Aku tak mampu kan? Meski bibirku mengatakan kalau aku menolak oppa. Tapi sebenarnya hatiku tak bisa, oppa.”

” Sooyoung…”

” Maaf, oppa.” ucapku sambil memeluknya. Yesung oppa membalas pelukanku. ” Tolong tutup matamu.” pintanya. Aku menurut. Tiba-tiba, sesuatu yang lembab dan basah menghampiri mulutku. Aku menikmatinya. Sungguh sangat menikmatinya.

Tak lama kemudian, Yesung oppa melepas ciumannya padaku. Aku tersenyum. Lalu memeluknya lagi.

” Aku mohon, jangan pernah membenciku. Saranghae, oppa.” bisikku. Lalu dia menciumku lagi.

” Aku janji…”

END

22 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s