The 10th member–>part 2

THE 10th MEMBER

Part 2

Mihye Publishing

Cast     :           Choi Minhye, The 10th member aka Minhye_harmonic

All members of Gilrs’ Generation

Other Cast : Kim Yoori aka Yoori―Hotaru-eonni, kekekekekeke kau kumasukkan sebagai cameo..

cover credit: Cute Pixie@bananajuice03.wordpress.com

Warning           : OOC, AU, Typo sana-sini*gue males ngedit

Disclaimer       : Ini hanya fiksi!! Tidak nyata! Jangan salahkan kebodohan author dalam menggambarkan karakter para member SNSD. Maklumilah! Gue bukan SONE!

previous—>

part 1

DON’T COPY-PASTE MY FANFICTION!!!!

SILENT READER KAGA BOLEH BACA!!!!!

Malam semakin larut dan mencekam. Minhye mempererat jaketnya dan mulai mempercepat langkah. Kali ini ia pulang terlalu larut―akibat mendapat tugas tambahan dari dosennya, pekerjaannya lebih merangkap sebagai asisten dosen. Ada rasa was-was dan sedikit takut setiap ia pulang terlalu malam, terlebih kali ini dia sendirian. Biasanya Oppa-nya akan

menjemputnya.

Perasaan was-was semakin menjadi-jadi sewaktu sekelompok pemuda―yang tadi ia temui―mengikutinya. Semakin cepat laju langkah Minhye, semakin mendekat para pemuda mabuk itu.

“Hei, gadis manis. Mau kemana?” Tanya pemuda gondrong yang sekarang sudah berada di hadapan Minhye, merentangkan tangan. Dari mulutnya tercium jelas bau alkohol―membuat isi perut Minhye bergolak ingin keluar. Minhye selalu ingin muntah jika mencium bau alcohol yang begitu menyengat.

Sekarang ia sudah terkepung, Minhye mencoba membebaskan dirinya dengan memasang wajah tenang―walau ia sudah ketakutan setengah mati―dan menyibak tubuh-tubuh besar para pemabuk itu.

“Jangan sentuh aku!” Seru Minhye kasar seraya menonjok wajah pria gondrong itu. Tidak kena, tangannya sudah keburu dicengkram lelaki yang satunya. Minhye mengibaskan tangannya sewaktu tangan jahil mereka berusaha menyentuh wajahnya. Ia mulai menganalisis kemungkinan besar kemenangannya melawan empat pemuda mabuk. 10%. Terlalu kecil. Tidak ada salahnya kalau di coba, batinnya menyakinkan.

Minhye memasang kuda-kuda dan mata awasnya. “Semakin kalian mendekat, kalian akan tahu rasa.” Minhye berusaha memperingatkan, tapi ada seorang yang berani maju. Tendangan Minhye langsung mendarat ke selangkangan laki-laki itu.

Cepat-cepat Minhye mengambil langkah seribu sebelum hal fatal terjadi. Mungkin bukan keberuntungan Minhye, salah satu dari mereka berhasil menangkap lengannya.

“Apa yang kau lakukan!” Geram pria―yang Minhye tendang―tadi. “Pegang dia!” Perintahnya.

“Lepaskan!” Berontak Minhye kala kedua tangannya dicengkram erat oleh dua pemuda lainnya. “Kubilang jangan sentuh!” Pekiknya secara menelengkan kepalanya kasar, sewaktu tangan pemuda di sebelah pemuda yang seperti ketua dari mereka menyentuh pipinya.

“Lepaskan dia!” Seseorang berteriak diiringi suara pukulan, tepat di belakang Minhye. “Minhye! Kemari!” Dia menarik Minhye ke belakang punggungnya.

“Mau menjadi seorang pahlawan hah?” Cibir pemuda gondrong seraya berusaha bangkit dan melayangkan pukulan ke arah laki-laki itu―yang menyelamatkan Minhye.

“Tak akan kubiarkan, tangan kotor kalian menyentuh wajahnya!” Teriaknya di saat-saat memukul wajah-wajah para pemabuk itu.

Kejadian berlalu begitu cepat, dimana sedetik laki-laki penyelamat itu berhasil melumpuhkan semua pemabuk itu. Dan sedetik kemudian laki-laki itu tumbang setelah salah-satu dari mereka menusuk punggung laki-laki itu.

“Apa yang kalian lakukan!” Jerit Minhye marah, matanya berkilat. Ia menarik pisau berlumur darah itu dan berjalan―dengan tubuh bergetar hebat―ke pemabuk-pemabuk itu.

Entah Minhye mendapat kekuatan dari mana bisa menjatuhkan semua pemabuk itu. Mungkin ia mendapat energy dari amarah yang begitu besar. Ia mengacung-acungkan pisau hendak menancapkan ke salah satu dari mereka. Gerakan ayunan pisau Minhye berhenti tepat saat sirine polisi berbunyi. Ia mengurungkan niat waktu beberapa polisi menangkap para pemabuk itu. Minhye melempar pisau itu dan berlari ke arah laki-laki tadi―yang masih terbaring di jalanan, menolak diangkat ke dalam ambulance.

“Gwencanayo?” Tanya laki-laki itu lirih. Minhye mengangguk kecil, bulir-bulir air mata mulai menyusuri pipinya. “Jaga semuanya untukku….” Matanya perlahan menutup. Dan seulas senyum tersungging, begitu damai. Walau masih ada sisa ekspresi kesakitan di wajahnya.

Minhye menggeleng-geleng cepat. “Tidak…tidak! TIDAK!!!!!!!!”

Minhye terbangun dengan keringat dingin membasahi bajunya. Ekspresinya masih terlihat shock. Hal pertama yang ia lakukan setelah terbangun dari salah satu mimpi―sekaligus kenangan―buruknya adalah melihat Tiffany, apakah ia terbangun juga mendengar teriakannya. Ia bernafas lega, Tiffany tidak terusik sama-sekali.

Ia menyibak selimutnya lalu turun dari ranjang kecilnya―terletak di sudut kamar Tiffany yang tidak terlalu luas. Dengan terseok-seok Minhye berjalan keluar kamar, menuju pantry. Minhye menyalakan lampu dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya.

“SAENGIL CHUKAE! CHOI MINHYE!” Seru Taeyeon riang, ia menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan tiup lilin.

Pukul 00.00 itu yang dilihat Minhye sewaktu melirik ke jam digital yang melingkar manis di tangannya. Ia tersenyum, terpaksa. Lalu meniup lilin dari kue sponge coklat―yang susah payah Taeyeon buat. Ia memiliki harapan hanya satu. “Semoga semuanya baik-baik saja.” Harapan bukan untuk dirinya, tapi untuk semuanya.

“Aku hampir lupa hari ulang tahunku.” Minhye tertawa hambar, bagaimana ia lupa, hari ulang tahunnya mengingatkan pada kenangan terburuk di sepanjang perjalanan hidupnya.

Taeyeon menatapnya lamat-lamat seraya memotong kue sponge itu dan meletakkan di piring kecil. Taeyeon tidak tahu apa yang terjadi pada Minhye, yang ia tahu Minhye tadi berteriak ketakutan sewaktu ia mengintip dari celah pintu kamar. Dalam pikirannya Tiffany sudah melakukan hal keterlaluan pada Minhye, nyata-nyatanya Tiffany tertidur pulas dengan telinga terpasang headphone. Tawa dan senyuman tadi, ia tahu itu hanya tawa dan senyuman paksa.

“Kau kenapa?” Taeyeon tidak bisa menahan godaan untuk tidak  bertanya, tangannya menyodorkan piring berisi potongan sponge dan secangkir tea hangat.

“Gomawoyo~,” Kata Minhye pelan. Ia menyesap tea hangat itu seraya membalas tatapan Taeyeon. Ia mengubah tatapan matanya, lebih bersahabat, ingin Taeyeon tidak tahu dan menganggap semua baik-baik saja.

“Kau kenapa?” Taeyeon mengulang pertanyaannya.

Bad dream.”

***

Latihan skill dance. Begitu alasan Minhye ketika ditanyai tentang kedatangannya ke kantor SMent dengan tumpukan buku di tangan. Kentara sekali sepulang kuliah ia langsung datang ke Sment. Hyoyeon yang paling surprise dengan kedatangan Minhye―biasanya Minhye selalu menolak untuk datang ke SMent. Ia memperagakan dance mereka kali ini dengan lagu Kissing You. Lagu yang sebenarnya milik Wondergirls, tetapi hak lagu tersebut sudah berada ditangan SNSD―SMent membeli hak tersebut.

Hyoyeon nampak terkagum-kagum dengan penguasaan dance Minhye yang begitu cepat. Ia hanya memperagakan sekali, dan Minhye sudah bisa mempraktekkan dengan baik, tanpa kesalahan.

“Dia hebat.” Puji Hyoyeon setiap kali mereka menyinggung soal skill dance Minhye yang diatas rata-rata.

“Berhentilah memujinya!” Sahut Tiffany, jengah. “Dan berhenti membandingkan skill dance-ku dengan skill dance the 10th member!” Ia merengut kesal, pergi meninggalkan ruang tengah dan membanting pintu kamarnya keras. Bersamaan dengan munculnya Minhye dari pintu masuk dorm.

“Minhye-ah! Kau sudah selesai test? Kita bisa jalan-jalan sekarang?” Tanya Taeyeon riang, berlari menghampiri Minhye yang menggantung jaketnya di gantungan dekat pintu masuk.

Sebelum Minhye sempat mengeluarkan kata-kata, ia merasakan ponselnya bergetar panjang diiringi alunan piano klasik, panggilan masuk. Minhye merogoh saku celana dan menjawab panggilan itu dengan cepat.

Ia menutup telefon dengan raut wajah pucat bercampur cemas. Segera dipakainya kembali jaketnya lalu menitip tumpukan buku-buku pada Taeyeon. Tanpa pamit dan mengatakan ingin kemana, Minhye melesat pergi dengan matic putihnya.

***

Seorang wanita paruh umur empat-puluhan meronta-ronta saat sejumlah wanita berpakaian putih berusaha menahannya. Ia menjerit dan dengan kasar menjambak rambut salah-satu dari mereka. Kegiatan itu berhenti kala matanya menangkap sosok yang amat dikenalnya datang menghampiri.

“Minhye,” Gumam wanita itu, antusias. Ia berusaha membebaskan diri dari tangan-tangan para wanita itu. Setelah merasa bebas, wanita itu berlari, memeluk Minhye dan menangis kencang. Minhye mengelus rambut wanita itu, berusaha menenangkan.

“Kenapa bisa terjadi?” Tanya-nya lirih seraya menatap wanita berpakain putih di sebelahnya namun memiliki dandanan berbeda dengan wanita berpakain putih lainnya―memiliki bunga mawar di sakunya. “Yoori-eonni?”

***

“Eonni!” Pekik Seohyun dari kamarnya, ia berlari ke ruang tengah di mana semua member berkumpul―minus Minhye―seraya meletakkan laptopnya ke meja yang mereka kelilingi.

Choi Siwon’s Girlfriend?

Choi Siwon baru saja kedapatan oleh papparazi, berpelukan dengan seorang gadis di sebuah taman. Mungkinkah dia adalah gadis yang selama ini diberitakan telah mendapat tempat di hati seorang Choi Siwon sejak lama?

“Lalu? Kenapa kau begitu heboh, Seohyun? Itu urusan Sunbae.” Taeyeon hendak menutup laptop Seohyun tapi langsung dicegah oleh Tiffany.

“Yang dimaksud Seohyun adalah ini!” Serunya seraya menunjuk ke sebuah foto yang berada di bawah berita tersebut. Foto seorang Choi Siwon berpelukan dengan…Choi Minhye?

“Minhye menolak tawaranmu hanya untuk berkencan dengan Choi Siwon? Dasar tak tahu diri!” Umpat Tiffany, jiwa profokatornya bangkit.

Taeyeon menggeleng. Tidak, Minhye tidak seperti itu. Tapi ia mengenali jaket beserta backpack yang dikenakan gadis di dalam foto tersebut. Semua itu yang dipakai Minhye sebelum tadi pergi entah kemana.

***

Pintu dorm menjeblak terbuka Sooyoung muncul dengan tangan penuh mendekap kantung kertas berisi belanjaan. Tiffany mengekor masuk dengan belanjaan tak kalah banyak.

Setelah menyerahkan belanjaan kepada Hyoyeon dan Taeyeon, Sooyoung duduk diruang tengah dengan sebuah kotak―terbungkus rapi―di hadapannya.

“Itu…” Tiffany menuding kotak itu dengan perkataan menggantung.

Sooyoung mengangguk cepat. Ia nyengir lebar. Bersamaan dengan munculnya Taeyeon dari dapur, membawa sebuah sponge cake yang diatasnya ditancapkan lilin.

“Aku tak menyangka kalian akan membuat pesta ulang tahun untuk ‘the 10th member’.” Tiffany sewot sendiri.

Sooyoung tertawa. “Aigoo…ternyata kau tahu? Kupikir kau tak tahu ulang tahun dia.” Katanya disela-sela tawa yang masih berkumandang. Taeyeon mengangguk-angguk, tanda setuju.

Mulut Tiffany langsung terkatup rapat. Ia mulai berpikir, sejak kapan ia mengetahui ulang tahun gadis paling ia benci sedunia? Atau mungkin ia menguping pembicaraan Taeyeon? Mustahil!

“Aniyo. Hanya menebak.” Kilah Tiffany sebelum menutup pintu kamarnya keras.

Kembali Sooyoung tertawa melihat sikap Tiffany. Sooyoung yakin, Tiffany diam-diam memperhatikan Minhye. Dari dalam kamar Tiffany mengintip―untuk memastikan ekspresi wajah Sooyoung dan Taeyeon―Tiffany yakin, sekarang image bahwa dirinya begitu membenci Minhye hancur di mata Sooyoung dan Taeyeon.

Jam menunjukkan pukul 11.oo pm dan semua member-member SNSD duduk bosan di mengitari kue sponge untuk Minhye. Taeyeon berhasil membujuk semuanya―termasuk Tiffany―untuk ikut serta dalam pesta kejutan ulang tahun Minhye.

Ketika semuanya sudah beranjak masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat, Taeyeon masih setia menunggu. Tepat sebelum Tiffany membuka pintu kamar, terdengar suara pintu ditutup. Tiffany yakin itu Minhye.

Tiffany menyalakan lampu ruang tengah dan mendapati Minhye mengendap-ngendap masuk. Ia berkacak pinggang dan bersiap menyemburkan kata-kata pedas untuk the 10th member.

“Baru pulang jam segini? Darimana saja kau?” Suara Tiffany menggelegar. Membuat Taeyeon yang tertidur di sofa―terlalu lama menunggu―langsung terloncat bangun.

Minhye diam. Ia tidak menggubris pertanyaan―bentakan Tiffany. Matanya memandang ke arah meja, penuh kotak kado dan sebuah kue sponge menarik perhatiannya. “Ini untukku? Bukannya ulang tahunku seminggu lalu?” Desis Minhye tidak percaya. Tiffany langsung menggeleng-geleng marah.

“Ya! Kau tidak tahu apa! Dia memaksa aku―kami untuk membuatkan pesta untukmu! Bukannya berterima kasih malah bertanya “pesta ini untukku?”.” Tiffany membeo perkataan Minhye dengan nada dibuar-buat.

Ia kembali siap menyemburkan kata-kata kalau tidak mendengar Taeyeong menyela dan memekik. “Hentikan!”

TBC

9 responses

  1. Aku yakin Tiffany gak jahat, pasti dia baik, cuman gengsi aja *sotoy, ehehe*. Bagus kok chingu! Aku penasaran jadinya, Yoori itu siapanya Minhye? Huwaa penasaran!! Good job chingu! Love this ff, update ya! Ditunggu!

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s