Sun For The Moon [ONESHOT]

Sun For The Moon

Main Cast   : Hwang Tiffany , Lee Jinki ( Onew ) , Kwon YuRi .

Author        : Fidhasoo

Genre         : Fluff .

Length        : OneShot.

Rated         : PG 13

Desclaimer : I don’t own them.They belong to her/his parent and GOD.This plot is mine, it’s all my imaginatiom and I shared it to you.

Summary   :

Aku tak pernah memandangmu

Kau terlalu sempurna untuk dilihat

Kau bagaikan matahari yang terang

Dan terlalu menyilaukan

Sehingga untuk aku menoleh pun sulit

Matahari itu datang mendekat

Dengan sinarnya yang panas

Meski kita memilki perbedaan

Aku hanyalah bulan yang tak bisa bersinar

Hanya bersinar karena bantuannya

Matahari yang sangat jauh perlahan mendekat

Masuk kedalam hatiku yang sudah tersakiti

Tapi matahari dan bulan memang tak sama

Itu juga yang membuat kami terdiam

Karena matahari terlalu sempurna untuk bulan

Bukankah Matahari tercipta untuk Bulan??

***

“Fany , kau sudah belajar untuk ujian kali ini??” Tanya seorang anak berambut coklat , kepadaku. Ia adalah Yuri, sahabatku.Kulitnya tak terlalu putih,tapi ia sangat bersinar bagaikan sinar bintang yang terlihat di malam gelap. Ia sangat manis, bagaikan bintang. Mungkin ialah bintang yang ada di bumi.

“Tentu.” Jawabku singkat, lalu menjatuhkan tasku diatas meja belajar yang akan kupakai untuk melalui pekan ujian.

“Kau tak perlu belajar, kau terlalu pintar fany.” Itulah Yuri , ia selalu merendah. Ialah bintang kelas. Cantik, rupawan, ramah, baik hati, dan kepintarannya. Bagaimana mungkin akan ada lelaki yang menolaknya? Oleh karena itu aku menganggapnya sebagai bintang. Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertinya. Ia akan setia mendengarkan keluh kesahku. Ia yang sahabat terbaikku.

“Kau jauh lebih pandai dariku Yuri.” Ucapku padanya sembari mengeluarkan buku matematikaku. Pelajaran yang akan diujikan pertama kali adalah Matematika. Bidang yang dulu kukusai, tapi entahlah sekarang. Sejak adanya Yuri dan Lee Jinki aku merasa tersisihkan. Setelah itu kulihat Yuri juga tengah mengambil buku matematika dan mulai membacanya.

Lee Jinki, ia adalah matahari kelasku. Bagaimana tidak, ia sempurna seperti matahari. Oleh karena itu , aku menyebutnya sebagai matahari. Ia pandai, tampan , ramah , baik , dan atletis. Aku tak pernah berani menolehnya sedikit pun. Bukan menoleh yang sebenarnya, maksudku aku tak pernah berani mencoba menyukainya meskipun semua wanita dikelasku tergila-gila padanya. Aku tak suka manusia sempurna. Terlebih lagi aku mengetahui dengan pasti Yuri menyukai Lee Jinki.

Aku memandang keluar kelas, dan dapat kulihat Jinki memasuki kelas bersamaan dengan Lee Taemin. Lee Taemin lelaki yang kusukai. Ia sangat tidak sempurna. Jauh dari kata sempurna. Wajahnya memang cukup rupawan, tapi tidak dengan otaknya.Kalian ingin tahu apa yang membuatku menyukainya? Perhatiannya padaku. Ia sangat perhatian padaku. Ia selalu menjagaku dan mengutamakanku. Tapi sayangnya itu terjadi sebelum 2 bulan yang lalu. Saat ia dan mantan sahabatku berpacaran.

Seo Joo Hyun , atau yang lebih dikenal dengan Seohyun. Dialah pacar Lee Taemin dan juga mantan sahabatku. Dulu mungkin kami cukup dekat, tapi setelah ia berpacaran dengan Lee Taemin ia menghindariku. Mungkin ia takut aku akan merebut Lee Taemin, karena perhatian Lee Taemin yang tak kunjung memudar saat awal-awal mereka berpacaran. Hatiku memang sakit saat mengetahui mantan sahabatku itu berpacaran dengan lelaki yang kusukai. Bagaimana tidak?? Seohyun pun mengetahui aku menyukai Lee Taemin, tapi ya inilah kenyataannya mereka berpacaran.

Ini harus kulupakan, hati yang tersakiti saat memandang lee Taemin. Aku terlalu bodoh untuk jatuh kedalam lubang yang membuatku menangis. Aku memanglah bulan. Seonggokan sampah angkasa, yang tak berguna. Bulan hanya berguna bagi bumi. Tidak seperti matahari , yang berguna bagi seluruh alam semesta. Bulan juga tidak sempurna. Cahaya yang diperolehnya hanya sebentar. Tidak seperti matahari yang cahayanya abadi.

“Tiffany Hwang, bisa kemari sebentar?” Sebuah suara mengagetkanku. Aku mencari asal suara tersebut. Dan terlihatlah Lee Jinki tengah melambai kearahku. Ia tidak tersenyum , tapi ia memang matahari. Sinarnya menyilaukanku. Aku berjalan mendekatinya.

“Bisa kau bantu aku menyelesaikan soal seperti ini?” Tanya sembari menyodorkan lembaran soal matematika yang sedang dikerjakannya. Aku melihat Kwon Yuri tengah melihat kearah kami.

“Melengkapkan kuadrat. Apa kau tak mengerti ??” Ternyata matahari tak sepenuhnya sempurna.

“Iya, coba jelaskan.” Aku mengambil pensil dari tangannya dan duduk dikursi sebelahnya. Tanpa banyak kata aku mengerjakan soal itu. Ia memperhatikan dengan seksama.

“Kenapa hasilnya pecahan ini 4?” Tanyanya, membuatku bingung. Setahuku itu memang rumusnya.

“Itu rumusnya, kita harus mengalikannya dengan angka 2. 2 dikali 2 hasilnya 4, oleh karena itu 4 adalah hasilnya.” Ia mengangguk mengerti.

“Sebenarnya aku sudah mengerti. Aku hanya ingin mengetes kamu yang mengalahkanku dalam ujian sebelumnya.” Jawabnya lalu berdiri meninggalkanku. Ia ternyata menyebalkan. Ia merendahkanku. Aku memang hanya bulan yang tak mampu bersinar tanpa bantuan dari matahari, tapi sungguh aku tak ingin ia yang menjadi  mataharinya. Aku berdiri melewatinya. Ia melihatku lalu tersenyum sinis.

“Terimakasih, songsaenim.” Ucapnya dengan senyuman sinis itu. Aku meliriknya sekilas lalu kembali berjalan menuju tempat dudukku. Kau kira aku tak bisa mengalahkanmu. Memang kau sempurna, tapi ada saatnya kau harus kukalahkan.Aku membanting buku matematika yang sejak tadi ku pegang. Ini pertama kalinya aku diremehkan oleh orang yang tak pernah bicara denganku. Karena memang matahari yang sempurna itu , takkan mau menengok kearah bulan sepertiku.

“Kau kenapa fany-ah?” Tanyanya terdengar khawatir.

“Aku bingung denganmu. Bagaimana mungkin kau menyukai orang yang menyebalkan seperti dia?” Tanyaku dan ia mengangkat alisnya.

“Siapa yang kau maksud fany?” Ia belum mengerti apa yang kumaksud. Ia memang pintar, karena terlalu pintar. Ia terkadang berpikir dengan lambat, seperti saat ini.

“Lee Jinki. Memangnya siapa lagi?” Aku balik bertanya. Dan ia hanya tersenyum.

“Ia hanya bercanda fany-ah tak perlu didengar.” Ucapnya bijak. Tetap saja aku merasa direndahkan. Ini menyedihkan.

***

Hasil Ujian akan segera dibagikan. Aku sungguh menunggu hari ini. Dimana disekolah akan dipasang pengumuman besar mengenai peringkat 100 teratas dari masing-masing angkatan. Biasanya aku masuk 10 besar. Aku berjalan menuju kelasku dengan perasaan khawatir. Aku takut, kali ini aku tak bisa masuk peringkat 10 besar.

Semua murid kelasku ternyata sudah berkumpul di depan mading yang ada didepan kelas kami. Termasuk si manusia sempurna, Lee Jinki. Ia menatapku sinis. Apa peringkatnya diatas peringkatku??

Aku berada di peringkat 2 dan kulihat matahari itu, 1 peringkat dibawahku. Aku mengalahkannya. Itulah sebabnya ia menatapku dengan sinis. Sementara Yuri , ia berada di peringkat 1. Aneh, biasanya matahari itu selalu bertengger diperingkat 1 . Ada apa dengannya. Aku berjalan kembali menuju kelas.

“Fany-aahh chukkae. Kau peringkat 2.” Ucap Yuri sambil tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat seluruh anak kelas kami pingsan. Kulihat Lee Jinki terdiam di tempatnya. Ia terus menatapku. Kali ini bukan tatapan sinis seperti tadi, melainkan tatapan yang tak dapat kuartikan. Bukan tatapan benci, ya seperti itulah. Aku juga tak mengerti.

“Fany…” Yuri memanggilku lagi.

“Kau mungkin tak pernah menyadarinya, tapi sudah 1 minggu terakhir ini. Aku memperhatikan Lee Jinki sering melihatmu.” Ucapnya dengan wajah sedih. Senyum manis yang tadi terulas, berubah seketika.

“Maksudmu?” aku masih tak mengerti dengan maksud perkataan Yuri. Lee Jinki memperhatikanku?? Ia pasti sangat benci padaku.

“Ia menyukaimu,bukan aku.” Ucapnya menjatuhkan badannya di kursi miliknya lalu menghadapku.Aku tersentak mendengarnya. Aku lupa Yuri menyukai Lee Jinki.

“Kau pasti salah mengira.” Ucapku sambil tersenyum. Tak mungkin Lee Jinki menyukaiku. Walaupun memang 1 minggu terakhir aku jadi jauh lebih akrab dengan Lee Jinki. Dan itu terkadang ia akan tersenyum manis padaku, bahkan tatapan sinis juga.

Aku ingat sejak hari dimana aku mengajarinya soal matematika. Ia selalu memanggilku dengan sebutan “Hwang Songsaenim” dan itu ia hanya berikan padaku. Aku juga ingat ia jadi sering menatapku saat aku sampai dikelas. Aku juga ingat ia sering memerhatikanku jika aku sedang bicara didekatnya. Aku juga ingat saat aku memegang kertas hasil ulangan bersama YuRi dan Sunny , yang dipanggilnya hanyalah aku. Aku juga ingat saat mengulang hasil ulangan bahasa Inggris ia menunggu hasil diriku disebutkan baru ia keluar kelas dan mengajakku keluar kelas, karena kita tidak mengikuti tes ulang. Aku baru sadar 1 minggu ini ia benar – benar berada disekelilingku, dan itu mampu melupakan rasa sakit hatiku jika melihat Lee Taemin.

“Ia menyukaimu.” Ucap YuRi menekan kata ‘menyukaimu’ .

“Itu tak mungkin.” Ucapku berusaha menolak pikiran itu. Ia tak boleh menyukaiku ataupun aku yang menyukainya. Kwon YuRi sahabatku menyukainya lebih dulu.

“Itu kenyataannya Fany,, lagipula aku merasa lebih akrab jika aku bersama dengan Minho.” Ia menatapku, wajahnya tak lagi melukiskan kesedihan. Seakan Choi Minho adalah orang yang ia sukai. Choi Minho , ketua kelas kami yang tak banyak bicara. Untuk berbicara didepan kelas saja ia tidak pernah.Pasti selalu Kim Taeyeon , wakil ketua kelas kami yang akan berbicara. Choi Minho , lelaki dingin tapi sifat rajinnya patut diacungi jempol.Ia-lah pria idaman ke-dua dikelas kami, setelah Lee jinki. Apa mungkin Kwon YuRi telah menyukai Choi Minho?

“Hwang songsaenim.” Panggil Jinki dari balik punggungku. Aku segera membalik bdanku untuk menghadapnya.

“Berhentilah memanggilku dengan embel-embel songsaenim.” Aku berkata seperti itu sembari  meletakkan tanganku diatas dada dengan tatapan angkuh. Aku benci ia memanggilku dengan sebutan ‘Hwang Songsaenim’ entah karena apa.

“Fany ,, Jinki ,, aku keluar dulu ya.” Ucap YuRi mencoba meninggalkan kami berdua. Aku yakin ada maksud tertentu dari senyum manis yang ia lontarkan tadi.

“YuRi , aku ikut.” Ucapku mencoba menghindar dari Lee Jinki.Aku tak mau YuRi sakit hati. Aku yakin senyum manis yang ia lontarkan tadi , berupa senyum palsu.

“Aku belum selesai berbicara Hwang Tiffany.” Ia tak menambah embel-embel songsaenim lagi. Ia menyebutkan namaku.

“Mau bicara apalagi? Cepatlah sebelum YuRi benar – benar meninggalkanku.” Aku melihat ke arah YuRi yang sudah berada dilorong depan kelas kami. Aku baru menyadari bahwa hanya tinggal kami berdua yang ada di kelas ini.

“Mungkin ini terlalu cepat..” ucapnya menggantungkan kata-katanya. Ia menjatuhkan badannya pada kursi yang ada dihapanku. Matanya tetap menatapku tajam.Sinar matanya sangat menyilaukan, kau tahu dengan keadaan seperti ini. Ia terlihat seperti matahari yang tengah memancarkan sinarnya.

“Mungkin ini terlalu mengada- ada..” Ia kembali menggantungkan kata-katanya.

“Kau ini mau bicara apa sih?” Tanyaku mulai tak mengerti akan maksudnya.

“Kau itu matahari , Hwang Tiffany.” Tidak , bukan aku yang matahari. Kau-lah matahari. Aku hanyalah bulan yang tetap membutuhkan matahari disampingku. Entah mengapa aku merasa nyaman jika Lee Jinki ada didekatku. Suhu disekitarnya terasa hangat, itu yang membuatku nyaman. Ia bagaikan matahari yang memancarkan kehangatannya.

“Dan aku hanyalah bulan , yang membutuhkanmu.” Aku mulai tak mengerti arah mana pembicaraan ini.

“Kau pasti mengigau.” Ucapku sembari berdiri. Berusaha mengabaikan kejadian ini, tapi ia kembali menarikku duduk dihadapannnya. Kali ini tangannya menggenggam tanganku erat.

“Aku membutuhkanmu.” Ucapnya dengan tulus.

“Aku menyayangimu , meskipun ini terlalu cepat. Tapi rasanya aku sudah menyayangimu sejak lama. Aku mencintaimu. Meskipun aku tak tahu pasti seperti apa rasa cinta yang mereka maksud. Karena yang aku tahu hanyalah kau yang selalu mengganggu pikiranku. Maukah kau menjadi Sun For The Moon??” Ia menatap mataku lurus. Tajam , hangat dan menusuk. Itu tatapan mata yang kulihat.

“Kau-lah matahari . Kau nampak begitu sempurna , seperti matahari. Sinarmu terus memancarkan kehangatan. Sedangkan aku hanyalah bulan. Yang dingin tanpa matahari. Yang tak bisa bersinar tanpa matahari.” Ucapku membalas perkataannya tadi.

“Jadi kau bulan dan aku matahari?”

“Menurutmu?”

“Iya aku matahari dan kau bulan. Tapi tahukah kau matahari akan sangat sedih jika bulan tak disisinya. Karena Matahari tercipta untuk membantu bulan. Jika bulan tak disisinya, Bagaimana matahari menjalankan tugas yang sebenarnya??” Ia menatapku dengan wajah yang sangat lucu.

“ Jadi kau memaksa aku untuk terus berada disisimu??”

“Begitulah , karena aku adalah Sun For The Moon.” Ucapnya sambil tersenyum manis dan mencium keningku.

“Dan kau Moon For The Sun.” Ucapnya sambil berlari karena telah berhasil mengecup bibirku cepat. Aku berlari mengejarnya.

Mungkin memang Matahari tercipta untuk Bulan ,dan Bulan memang tercipta untuk Matahari.Takdir yang menyatukan kita. He’s Sun For The Moon ,and I’m Moon For The Sun.

THE END

22 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s