BEST FRIEND?!! -Chap 1-

Author: Annisa Sooyoung Yesung (Choi Ri Rin)

Cast:

-Sooyoung (SNSD)

-Yesung (Super Junior)

-Amber (f x)

-Jonghyun (SHINee)

-Yuri (SNSD)

-Kyuhyun (Super Junior)

-Krystal (f x)

-Minho (SHINee)

-Tiffany (SNSD)

-Siwon (Super Junior)

-Sulli (f x)

-Taemin (SHINee)

-Taeyeon (SNSD)

-Leeteuk (Super Junior)

Other Cast:

– Dongwoon (B2ST)

Genre: Romance, Drama, Horror, Friendship

Length: Chapter

NB: Mian ya, kalo pair ini sangat membosankan dan GA BANGET, tapi aku udah ga rela kalo 2 tokoh utama ini brng yg lain. mian banget ya, mian.. apalagi yg ga suka sama pair yang aku buat. mian lagi ya…

AND PLEASE NO BASHING!!!

DON’T BE A SIDERS.

HAVE TO COMENT THOUGHT ONLY ONE OR TWO WORDS

BEST FRIEND?!

Seorang gadis melangkahkan kakinya memasuki gedung bercat hitam kusam. Langkahnya tampak ragu-ragu. Namun matanya terlihat tegas menelusuri setiap jengkal gedung itu.

Sepertinya ia kenal dengan gedung ini. Setiap lorongnya terasa sangat familiar. Tiba-tiba sesuatu mencengkram kakinya. Ia melihat kearah kakinya dengan ragu. Rasanya ia ingin berteriak melihat makhluk itu mencengkram kakinya.

Makhluk itu. Tak bisa digambarkan secara materi. Itu sangat menyeramkan. Itu seperti monster yang siap memangsa manusia. ARRRGH! Itu mulai menggigit kaki gadis itu. Mengoyak kulit dibagian betis gadis itu. Gadis itu tak bisa berteriak. Ia lemas.

Samar-samar, ia mendengar alunan musik. Memecah suasana hening sekaligus menemani monster itu melakukan aksinya. Gadis itu semakin kelojotan merasakan sakit dikakinya yang semakin dalam. Alunan musik itupun semakin terdengar miris dan menyayat hati.

***

” Soo, hei Soo! Bangun! Kau kenapa?” tanya seorang namja sambil menepuk-nepuk pipi gadis disampingnya. Gadis itu tampak gelisah. Keringat dingin bercucuran didahinya. Sepertinya ia bermimpi seram.

Namja itu menepuk pipi gadis itu lebih keras. Membuat gadis itu terbangun dengan kaget dan terduduk menghadap namja itu. Nafasnya memburu. Ia seperti habis dikejar-kejar oleh setan. Namja itu dengan lembut mengusap peluh yang membanjiri dahi gadis itu.

” Kau mimpi apa, chagi?” tanya namja itu lembut. Gadis itu langsung memeluk namja didepannya. Namja itu terlihat mengelus punggung gadis itu dengan lembut. ” Kau kenapa, chagi? Kau mimpi buruk, eh?” tanya namja itu lagi. Gadis itu mengangguk lemah. ” Ya sudah, tidurlah kembali.” kata namja itu. Gadis itu menuruti.

” Oppa juga tidur ya. Aku ingin kau peluk aku.” pinta gadis itu. Namja itu langsung mengangguk. Lalu namja itu menyelimuti gadis itu dan ia pun masuk kedalam selimut itu sambil memeluk gadis itu. Gadis itupun tertidur pulas hingga pagi.

***

Choi Sooyoung. Beberapa hari ini gadis itu selalu dihantui oleh mimpi-mimpi aneh dan menyeramkan yang membuatnya lemas. Untung selalu ada namjachingunya yang menemaninya setiap malam. Sehingga gadis itu tak terlalu takut untuk menghadapi mimpi-mimpi itu.

Namjachingunya yang bernama Yesung itu memang selalu ia minta untuk menginap dirumahnya. Meskipun ia tahu Yesung memiliki adik. Tapi hanya dengan hadirnya Yesung, ia jadi tak terlalu takut untuk menghadapi mimpi-mimpi aneh itu.

” Chagi, bangunlah. Sudah siang. Kau tidak kuliah? Ayo.” Yesung membangunkan Sooyoung yang masih dalam pelukannya itu. Sooyoung menggeliat sebentar. Lalu memeluk Yesung dan menyembunyikan wajahnya didada Yesung. Ia masih tak ingin bangun.

” Oppa, kita bolos saja. Aku masih mengantuk. Jangan lepas pelukanmu. Hangat.” pinta Sooyoung manja. Yesung tersenyum dan mengelus pelan rambut Sooyoung. Sooyoung mengeratkan pelukannya.

Yesung mengangkat wajah Sooyoung. Menatapnya dalam dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sooyoung. Mereka berciuman. Yesung memasukan lidahnya kemulut Sooyoung. Menelusuri setiap rongga mulut Sooyoung. Sooyoung membalasnya. Mereka bertukar liur dan lidah selama beberapa menit. Lalu Sooyoung menghentikan ciumannya. Mengambil napas sedalam-dalamnya.

” Kau terlalu bernafsu, oppa. Aku sampai tak bisa napas gara-gara dirimu. Huh.” Sooyoung pura-puar ngambek. Yesung terkekeh pelan. Melihat namjachingunya tertawa, Sooyoung langsung mencubit dada Yesung. Yesung meringis kesakitan. Yesung pun membalasnya dengan satu gigitan kecil di leher. Membuat tubuh Sooyoung bergetar.

Tiba-tiba Sooyoung melihat sesosok yeoja dengan pakaian pink penuh darah dan luka. Di cermin. Membuat Sooyoung refleks mendorong tubuh Yesung dan menatap cermin dengan napas yang memburu. Ia kaget sekali. Shock. Akhir-akhir ini yeoja itu pula yang selalu mengganggunya.

” Wae, chagi? Kau melihat sesuatu?” tanya Yesung khawatir. Sooyoung langsung memeluk Yesung lagi dengan erat.

” Aku melihat perempuan itu lagi oppa. Di cermin. Aku takut.” kata Sooyoung. Yesung membalas pelukan Sooyoung hangat. Ia mengusap-usap rambut panjang Sooyoung. Ia tahu apa yang selama ini Sooyoung lihat. Yeoja itu seperti menyampaikan sebuah pesan untuk Sooyoung. Kasihan Sooyoung. Ia ketakutan.

***

Toilet wanita selalu ramai. Tak pernah sepi. Sebagian besar para wanita itu menghabiskan waktunya di toilet. Entah hanya untuk sekedar berdandan atau memang mempergunakan toilet sesuai dengan fungsinya. Yang jelas, semua dilakukan ditoilet secara bersamaan.

Sooyoung mencuci tangannya diwastafel. Lalu sedikit merapikan rambutnya yang agak berantakan. Setelah itu keluar. Diluar, ternyata 2 sahabatnya menunggu. Amber dan Yuri. Sooyoung tersenyum melihat kedua temannya itu.

” Hei. Kenapa kau tidak pergi ke kampus kemarin? Mr. Lee memberikan kuis. Kau harus mengikuti susulannya.” kata Amber. Sooyoung nyengir.

” Menghabiskan waktu berdua saja dengan Yesung oppa.” jawab Sooyoung bangga.

” Aish! Dasar kau! Kau kan tinggal berdua! Masa rela mengorbankan kuliah hanya untuk berdua! Ckckck!” ledek Yuri. Sooyoung mencibir.

” Hei, sudahlah. Ayo kita ke kantin. Yang lain sudah menunggu.” ajak Amber. Sooyoung dan Yuri pun ikut kekantin.

Benar saja. Dikantin sudah ada Krystal, Tiffany, Taeyeon, Sulli, Leeteuk, Taemin, Minho, Siwon, Kyuhyun dan Yesung. Melihat itu, Sooyoung langsung menghampiri Yesung dan memeluknya. Yesung balas memeluk dan mencium kening Sooyoung.

” Ya ampun! Sepertinya kalian tidak puas ya, hanya tinggal berdua. Masih saja memperlihatkan kemesraan kalian!” ledek Krystal. Sooyoung dan Yesung terkikik geli.

” Kalau begitu, cepatlah kau dan minho jadian. Biar kau tak meledek kami lagi, Krys.” kata Yesung sambil mengacak-acak rambut Krystal. Wajah Krystal langsung memerah. Apalagi Minho.

” Aigoo!! Lihat perbuatanmu oppa! Wajah Krystal dan Minho memerah!” ledek Sooyoung sambil meloncat-loncat. Yesung terkekeh melihat adiknya. Sudah besar rupanya.

” Aish, oppa! Eonni! Aku dan Minho oppa hanya teman!” sanggah Krystal sebelum ia diledek lebih jauh lagi. Apalagi yang lain sudah mulai nyengir-nyengir nggak jelas.

***

Mr. Lee masih menjelaskan. Namun Sooyoung mulai tidak fokus. Entah kenapa, ia teringat oleh mimpinya tadi malam. Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam lewat disetiap penjuru ruangan. Dan berhenti tepat didepannya.

” ARGGGHHHH!!” Sooyoung berteriak ketika melihat wajah itu. Tak berbentuk. Yesung disampingnya langsung memegang bahunya untuk menenangkannya.

” Ada masalah denganmu, Sooyoung?” tanya Mr. Lee menghentikan pelajarannya sebentar. Sooyoung, dengan napas memburu langsung membereskan buku-buku, pulpen dan laptopnya. Lalu menyampirkan tasnya dibahu.

” Aku, aku butuh ketenangan. Permisi, Mr. Lee.” ujar Sooyoung sopan. Lalu keluar kelas dengan langkah besar. Yesung pun langsung menyusul Sooyoung tanpa membereskan buku-bukunya. Hanya laptop dan tas.

Yesung menemukan yeojachingunya terduduk di bangku taman. Wajahnya pucat dan terlihat tegang. Yesung langsung menghampirinya dan duduk disampingnya. Tahu bahwa Yesunglah yang duduk disampingnya, Sooyoung langsung menyandarkan kepalanya dibahu Yesung.

” Katakan padaku. Apa yang kau lihat?” tanya Yesung. Sooyoung terdiam sebentar sebelum ia mengambil napasnya.

” Bayangan, wajah. Dan, wajah itu menyeramkan. Dia, dia tak berbentuk.” cerita Sooyoung. Yesung mengerutkan keningnya.

” Menurutmu, apa yang ingin mereka sampaikan padamu? Sebuah masa lalu yang belum terselesaikan? Atau mereka ingin sesuatu darimu?” tanya Yesung lagi. Sooyoung menatap Yesung.

” Maksudmu?” tanya Sooyoung balik.

” Mm, terkadang makhluk-makhluk tak terlihat disekitarmu itu memiliki masa lalu yang belum mereka selesaikan. Atau lebih tepatnya, balas dendam. Dan mereka memilih orang tertentu untuk menyelesaikan masa lalu mereka.” jelas Yesung. Sooyoung mengerutkan kening. ” Bisa juga ada sesuatu yang kau miliki dari seseorang yang dekat denganmu, dan makhluk itu mengincarnya.” lanjutnya.

” Tapi, kenapa harus aku? Aku tak kenal mereka dan aku tak tahu apapun tentang masa lalu mereka. Bagaimana aku membantu mereka?” tanya Sooyoung panik. Ia sedikit mengeluarkan air mata.

” Aku juga tidak tahu, chagi. Tapi aku akan membantumu. Mungkin kau memang orang yang tepat.” jawab Yesung sambil mencium kening Sooyoung. Sooyoung memejamkan matanya. Mencoba memberi ketenangan pada dirinya sendiri.

***

Amber, Minho, Yuri, Kyuhyun dan Leeteuk langsung menghampiri Sooyoung dan Yesung dikantin setelah pelajaran Mr. Lee selesai. Mereka khawatir akan keadaan sahabat mereka.

” Gwenchanayo?” tanya Yuri sambil mengelus punggung Sooyoung yang sedang memainkan HPnya. Sooyoung mengangkat wajahnya dan tersenyum.

” Gwenchana.” jawab Sooyoung.

” Kau kenapa sih, tadi?” tanya Amber. Sooyoung menggeleng. Ia tak ingin teman-temannya terlibat.

” Kau melihat sesuatu? Tadi aku melihat sekelebat bayangan hitam di kelas. Lalu, berhenti didepanmu.” kata Minho misterius. Sooyoung refleks menoleh dan menatap Minho. ” Wae? Apa itu yang membuatmu seperti tadi?” tanya Minho risih.

” Kau, melihatnya juga?” selidik Sooyoung. Minho mengangguk pasti.

” Ya ampun! Aku pikir hanya aku yang merasakan itu pada Sooyoung. Beberapa hari ini aku sering bermimpi tentang Sooyoung. Dia, dia masuk kesebuah gedung tua dan aku melihat makhluk aneh menggigit betisnya dan mengoyak-ngoyaknya. Selain itu, aku mendengar suara musik. Sangat menyayat hati.” kata Amber. Sooyoung beralih menatap Amber.

” Beberapa hari ini, mimpi itu menghantuiku. Kau tahu sesuatu?” tanya Sooyoung. Amber menggeleng. ” Atau, kau melihat sesuatu disisi lain gedung itu?”

” Emh, ya! Seorang gadis. Dia memegang sebuah kotak musik. Dan suara yang mengiringi pekerjaan makhluk itu adalah suara yang berasal dari kotak musik yang dibawa gadis itu.” jawab Amber. Sooyoung terenyak. Gadis?

” Beberapa hari ini juga aku sering dihantui oleh seorang gadis.” aku Sooyoung.

” Kau mengenal gedung tua itu?” tanya Leeteuk. Sooyoung mengangguk. ” Itu gedung apa?”

” Bekas panti asuhan. Milik kakekku.” kata Sooyoung.

” Masih dipakai?” sambung Kyuhyun. Sooyoung menggeleng lemah.

” Kebakaran 10 tahun yang lalu.” kata Sooyoung. Kyuhyun mengangguk-angguk mengerti.

” Mh,” sebelum Yuri bertanya, Sooyoung sudah menutup telinganya.

” Cukup! Cukup! Aku tak ingin membahasnya.” Sooyoung menutup telinganya lebih erat. Membuat mereka semua kebingungan. Yesung segera memeluk Sooyoung. Menenangkan gadisnya.

Sekelebat bayangan hitam langsung hadir kembali disekeliling Sooyoung. Alunan musik, dan suara anak kecil. Semua berbaur dan mengganggu Sooyoung. Ia tak merasakan lagi pelukan Yesung. Mencoba membuka mata. Dia tak ada dikantin lagi. Gedung familiar ini. Kenapa ia bisa disini? Kemana teman-temannya yang lain?

” Youngie. Kau datang mengunjungiku? Aku pikir kau sudah lupa padaku.” seorang gadis kecil menghampiri Sooyoung dan menariknya masuk ke dalam gedung itu. Sooyoung mengikuti. ” Aku sudah menunggumu selama 10 tahun disini. Aku merindukanmu. Kau tak lupa kan padaku?”

” Yoona? Kau Yoona?” tanya Sooyoung. Gadis itu -Yoona- membalikkan tubuhnya. Menatap Sooyoung sedih.

” Ternyata kau sudah lupa padaku, ya? Kau memiliki teman-teman baru dan melupakanku? Kau jahat Youngie! Pantas saja kau tak pernah menemuiku!” tangis Yoona. Sooyoung menggeleng.

” Bukan. Bukan itu. Aku, aku masih mengingatmu, Yoong. Aku tak mungkin lupa padamu.” kata Sooyoung merajuk. Yoona langsung tersenyum lagi.

” Benar? Kalau begitu ayo kita main! Oya, kau masih menyimpan kotak musik dariku, kan?” tanya Yoona lagi. Sooyoung tertegun. Kotak musik itu? Dimana? ” Youngie? Kau masih menyimpannya kan?”

” Ah, ne. Aku masih menyimpannya. Tenang saja.” kata Sooyoung berbohong.

” Baguslah. Kalau kotak itu hilang, aku tak akan memaafkanmu. Hihi…” ancam Yoona. Sooyoung bergidik ngeri. ” Ayo kita main. Kau ingin main apa?” Yoona meminta usul Sooyoung.

” Terserah kau saja.”

” Bagaimana kalau kita bermain dengan salah satu anggota tubuh? Seperti tangan atau jantungmu?” usul Yoona. Sooyoung makin bergidik. Yoona tertawa. ” Ayo kita mulai. Baringkan tubuhmu disitu. Kita akan mulai darimana? Jantung? Atau, nadimu?” tanya Yoona. Sooyoung ketakutan. Tapi ia tak menolak. Ia tetap berbaring sesuai dengan perintah Yoona.

Sooyoung sudah berbaring. Ia merasa gelisah. Tapi tetap saja ia diam. Sedangkan Yoona mulai mengambil pisau dan menelusuri wajah Sooyoung dengan mata pisau. Sooyoung bergidik. Tapi ia tak berontak.

” Youngie, siap ya. Hana, dul, SET!!”

” ARGGGHHH!!” jerit Sooyoung sambil memegangi dadanya. Tak terasa apa-apa.

” Sooyoung!! Kau kenapa?!” jerit yang lain panik. Terutama Yesung. Sooyoung tampak ketakutan dan napasnya tersengal-sengal.

” Haii, eh, eonni kenapa?” tanya Krystal sambil menghampiri Sooyoung.

” Aku, aku kenapa? Kenapa aku bisa disini? Tadi, tadi aku kan… ARGGGHH!! Apa yang terjadi padaku?!” Sooyoung berteriak pelan.

” Kau daritadi disini. Hanya saja, kau melamun dan tiba-tiba kau berteriak.” jelas Yuri. Sooyoung berusaha mengingat apa yang terjadi tadi. Ah, ya! Ia bertemu Yoona. Dan ia hampir membunuhnya. Sooyoung mengingat lagi. Kotak Musik!!

Sooyoung cepat-cepat beranjak dari kursinya dan meninggalkan mereka semua. Yesung mengejarnya. Sooyoung sudah siap dengan mobilnya ketika Yesung memaksa untuk masuk. Dengan cepat, Sooyoung membukakan pintu untuk namjachingunya itu dan langsung melancar dijalan.

Sesampainya dirumah, Sooyoung cepat-cepat pergi ke gudang dan mencari kotak musik pemberian Yoona itu. Ia mengobrak-abrik seluruh gudang dibantu oleh Yesung. Tapi ia tetap tak menemukannya. Dimana ia menyimpan kotak musik itu? Sooyoung melangkahkan kaki ke kamarnya. Ia mencarinya dilaci-laci meja belajarnya.

Beruntung, ia menemukan kotak musik itu di salah satu laci. Tapi sepertinya sudah rusak. Saat ia buka, kotak musik itu tak berbunyi lagi seperti dulu. Sooyoung terduduk lemas. Yesung menghampiri.

” Kau bawa saja ke tempat service. Pasti bisa berbunyi lagi.” usul Yesung. Sooyoung menaruh kotak musik itu dimeja.

” Aku lelah. Ingin tidur saja.” kata Sooyoung. Lalu berganti baju dan tidur.

” Tidurlah. Aku dibawah.” kata Yesung sambil beranjak dari duduknya. Tapi Sooyoung segera menahannya. ” Wae?”

” Temani aku, oppa. Jangan kemana-mana. Sini.” pinta Sooyoung sambil menggeser tubuhnya. Memberi ruang untuk Yesung.

” Manja sekali sih, kau! Baiklah. Aku temani.” kata Yesung sambil menaiki ranjang. Sooyoung langsung memeluk Yesung.

” Oppa, aku tak mengantuk. Tapi aku lelah. Kita disini saja ya, sampai pagi?” pinta Sooyoung lagi. Yesung mengangguk sambil mengelus pipi Sooyoung lembut.

***

Amber melangkahkan kaki menuju parkiran. Jalannya sempoyongan. Amber membuka pintu mobilnya. Lalu melihat jam tangannya. Masih jam 3 pagi. Tapi, kenapa sudah sepi? Apa orang-orang tidak membawa mobil? Tumben sekali.

DRRRTT DRRRTT…

Hpnya berbunyi. Ada telpon masuk. Dengan samar-samar, Amber melihat siapa yang meneleponnya. Dongwoon? Ada apa kakaknya itu menelepon?

” Yeoboseo?” kata Amber.

” Kau dimana?” tanya Dongwoon keras.

” Aku? Aku dimana saja. Kau tak perlu tahu!” jawab Amber dengan sedikit membentak. Ia bersender pada mobilnya. Tangannya bertumpu pada pintu mobilnya yang masih terbuka.

TRAK!!

Tiba-tiba saja HPnya terlempar jauh dari tangannya. Amber dengan takut menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Kenapa HPnya bisa terlempar? Dengan cepat, ia ambil HPnya dan memutuskan sambungan teleponnya dengan Dongwoon. Lalu cepat-cepat pergi dari sana.

Sampai rumah, sudah pukul 4 pagi. Dengan cepat, Amber membuka pintu rumah dan masuk. Dongwoon menahannya masuk. Ia ingin menginterogasi adiknya.

” Kemana kau jam segini baru pulang?” tanya Dongwoon.

” Kemana saja! Suka-suka aku! Kau kan tidak peduli padaku! Jangan tanya-tanya!” bentak Amber masih dalam keadaan mabuk. Dan entah kekuatan darimana ia bisa menyetir.

” Hei, aku ini kakakmu! Jelas saja aku peduli!” balas Dongwoon. Amber tersenyum sinis.

” Kau bilang kau peduli? Cih! Kalau kau peduli, kau tak mungkin melarangku untuk melakukan hal yang aku suka! Dan kau tidak akan mengekangku seperti ini!” kata Amber keras.

” Ini semua demi kebaikanmu! Aku tak bermaksud mengekang! Hanya saja aku ingin kau meneruskan cita-cita appa!” Dongwoon menegaskan. Amber menggeleng keras.

” Aku bukan kau yang memang ingin menjadi dokter! Cita-citaku bukan dokter! Aku hanya ingin menjadi…”

” Fotografer? Itu tidak menjamin masa depanmu! Appa ingin kau menjadi dokter!” potong Dongwoon.

” Kau bukan appa! Kau tak berhak menyuruhku!” bentak Amber. Lalu beranjak dan pergi kekamarnya dengan langkah sempoyongan. Dikamarnya, Amber segera berganti baju. Lalu tidur.

***

” Kau sudah mengambil temanku! Kau pantas mati, Amber!!” teriak seorang gadis dengan pisau ditangannya. Amber berteriak berusaha menghindari ancaman pisau itu. Tapi nihil. Gadis kecil itu sudah menangkapnya. Amber meronta-ronta. Tapi gadis itu malah menyayat pipinya.

” ARRRGGGHHH!!” teriak Amber kesakitan. Gadis itu tersenyum. Licik.

” Sebelum aku melakukan pekerjaanku, aku harus menyalakan ini dulu.” kata Gadis itu sambil membuka kotak musik miliknya. Terdengarlah suara itu. Amber bergidik ngeri ketika mendengar alunan suara itu.

” Siapkah dirimu, Amber? Kau akan menemui ajalmu.” kata gadis itu manis. Namun mengancam. Amber meronta-ronta. Membuat gadis itu marah dan langsung menancapkan pisaunya di mulut Amber.

***

Amber bangun dengan keringat diwajahnya. Mimpinya itu seakan nyata. Siapa gadis itu? Dan kenapa menuduhnya mengambil temannya? Sinting! Amber melihat ke arah jam dinding. Masih pukul 7. Ia sudah tak mengantuk lagi. Dengan cepat, ia keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.

Ternyata Dongwoon belum berangkat kuliah. Masih diruang keluarga menonton TV. Amber mengambil roti dan memakannya. Lalu menghampiri Dongwoon yang masih menonton TV. Dongwoon yang melihat adiknya duduk disampingnya hanya diam saja. Lalu kembali menonton.

” Kau tidak berangkat kuliah?” tanya Amber.

” Tumben kau peduli.” sindir Dongwoon.

” Yah, sebelum aku pergi meninggalkanmu!” kata Amber asal. Dongwoon langsung menjitak kepala adiknya. ” YA!! Kau ini! Jangan memukul kepala orang sembarangan!” omel Amber.

” Kau yang mulai! Jangan bicara sembarangan! Kau mau meninggalkanku kemana hah?” omel Dongwoon balik. Amber masih mengusap-usap kepalanya. ” Sudahlah! Aku pergi dulu!” pamit Dongwoon.

” Uhm, oppa! Bisakah kau pulang cepat malam ini? Aku janji deh, tidak akan kemana-mana. Tidak akan membuat marah! Suer! Tapi pulang lebih cepat ya?” pinta Amber manja. Dongwoon merasa aneh dengan permintaan adiknya itu. Tapi ia tetap saja mengangguk.

” Baiklah, aku pergi dulu.” kata Dongwoon. Lalu mengendarai motornya menuju kampus. Amber segera masuk ke kamarnya. Mandi dan siap-siap pergi ke kampus. Setelah itu ia mengendarai mobilnya menuju kampus.

***

Kelas masih sepi. Membuat Amber mengurungkan niatnya memasuki kelas. Ia lebih memilih duduk ditaman. Ramai. Sambil membuka-buka buku, Amber mendengarkan musik. Tiba-tiba ia merasakan ada yang duduk disampingnya. Amber menoleh. Ternyata Jonghyun.

Dengan senang, Amber memeluk Jonghyun. Sudah 2 hari tak bertemu Jonghyun. Kemana saja sih, namja ini? Tak merindukannya ya? Jonghyun membalas pelukan Amber dan menciumnya.

” Kau kemana 2 hari ini? Tak rindu padaku, ya?” tanya Amber kesal. Ia pura-pura marah.

” Aku 2 hari kemarin memang tidak datang ke kampus. Ada urusan keluarga. Dan, aku sangat merindukanmu, kok. Kata siapa aku tak merindukanmu?” jelas Jonghyun sambil menoel dagu Amber.

” Aish! Kau genit!” manja Amber. Jonghyun hanya cengengesan mendengarnya.

***

Akhirnya kotak musik itu bisa berbunyi lagi. Sooyoung melangkah senang. Disampingnya ada Kyuhyun yang menemaninya menservice kotak musik itu. Sooyoung melangkahkan kakinya dengan langkah lebar. Ia sedang senang.

” Sampai sesenang itu ya?” tanya Kyuhyun. Sooyoung tersenyum menatap Kyuhyun.

” Ini pemberian sahabat lamaku. Tapi rusak. Untung saja bisa berbunyi lagi.” jawab Sooyoung ceria. Kyuhyun tertawa. ” Hei, aku lapar. Kau lapar tidak?” tanya Sooyoung. Kyuhyun mengangguk. Sooyoung tersenyum. Lalu menarik Kyuhyun ke sebuah restaurant. ” Karena kau sudah berbaik hati menemaniku, kau kutraktir.” Kyuhyun mengangguk saja.

***

Amber masuk kedalam toilet wanita dan segera membasuh wajahnya. Ia tampak lelah setelah pelajaran Mr. Soo Man tadi. Apalagi tugas yang diberikan sangat berat. Dan Sooyoung tidak masuk. Ia pergi bersama Kyuhyun.

BRAKK!!

Tiba-tiba pintu belakang Amber tertutup dengan keras. Amber refleks membalik badannya. Siapa itu? Bukankah tadi ia hanya sendiri disini? Tidak ada siapa-siapa lagi. Hanya dia. Tak lama, terdengar suara air mengucur dari dalam. Amber menghela napas lega. Ternyata memang ada orang.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari dalam bilik tersebut. Amber mendelik ngeri. Suara tangisannya sangat lirih dan dalam. Membuat siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri. Dengan seluruh pikiran positif yang tersisa, Amber mengetuk pintu bilik tersebut.

3 ketukan pertama. Tak ada jawaban. Suara tangisan makin terdengar jelas.

3 ketukan kedua. Masih tak ada jawaban. Namun suara tangisan mulai sedikit mereda.

Saat mencapai ketukan terkahir, pintu terbuka dan sesosok gadis manis keluar dengan mata bengkak dan sembap. Amber tersenyum. Ternyata memang makhluk hidup. Bukan setan atau sejenisnya. Amber mulai penasaran dengan apa yang gadis ini alami, dan kenapa bisa disini.

” Kau kenapa?” tanya Amber lembut. Gadis itu mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan Amber. Amber sedikit takut saat melihat pandangan gadis itu. Kosong. Namun ekspresi wajahnya sedih. Sangat sedih. ” Ada apa denganmu? Siapa yang membuatmu menangis?”

” Seseorang bernama Liu telah mengambil sahabat terbaikku. Youngie mencampakan aku dan meninggalkan aku hanya demi si Liu itu!” gadis itu menceritakan seluruhnya tanpa menyadari adanya kejanggalan. ” Aku benci Liu! Aku berjanji akan membuat gadis itu menyesal!!”

” Hei, kau tak boleh menyimpan rasa dendam anak manis.” nasihat Amber. Gadis itu tersenyum.

” Maaf. Tapi aku memang sudah benar-benar membenci Liu! Aku ingin membunuhnya sekarang!” teriak gadis itu sambil mengeluarkan pisau dari dalam tasnya. Amber langsung bergidik ngeri.

” Kau mau apa?” tanya Amber.

” Membunuh Liu.” jawab gadis itu dingin.

” Kau yakin? Jangan bunuh dia. Liu mungkin tak bermaksud mengambil sahabatmu. Mungkin juga kaulah yang sebenarnya salah paham.” cegah Amber.

” Oya? Jadi yang bersalah adalah Youngie? Aku harus membunuh Youngie?”

” Bukan. Cobalah kau bergabung dengan mereka.” saran Amber.

” TIDAK!! Liu tetap bersalah! Kalau saja dia tidak mendekati Youngie, ini pasti takkan terjadi! Aku benci Liu!!!!!” teriak gadis itu sambil menusukkan pisaunya keperut Amber.

Seketika itu juga Amber sadar dari lamunannya. Ia menatap kesekeliling. Tak ada siapa-siapa selain dirinya. Untunglah tadi hanya sebuah lamunan. Pikir Amber sambil mencuci kembali wajahnya. Setelah mencuci wajah, Amber melihat seorang anak kecil dibelakangnya.

Amber bergidik ngeri. Ia memegang tengkuknya dan menengok kebelakang. Anak itu masih disana. Memperhatikannya. Dahi Amber mengeluarkan keringat dingin. Ia benar-benar takut. Tak berani bergerak. Uhm, lebih tepatnya ia tak bisa bergerak. Dirinya seperti terkunci. Anak itu mulai mendekati Amber. Mengeluarkan pisau dari belakang bajunya. Entah dapat darimana pisau itu. Amber berusaha bergerak. Namun tak bisa.

” Amber? Chagi, kau lama sekali. Ayolah. Sebentar lagi ada mata kuliahnya Mrs. Narra.” panggil Jonghyun. Amber menoleh. Ia kembali bisa bergerak. ” Chagi?” panggil Jonghyun lagi. Amber melirik tempat anak kecil tadi. Tidak ada. Dia sudah pergi. Amber segera keluar.

” Ah, mian chagi. Aku lama.” kata Amber. Jonghyun tersenyum lalu mengacak-acak rambut Amber dengan sayang.

” Gwenchana, chagi. Ayo cepat.” kata Jonghyun sambil merangkul Amber. Mereka pergi ke kelas.

***

Malam harinya, Dongwoon benar-benar pulang lebih cepat. Ini pertama kalinya Amber mau bicara baik-baik dengannya. Tidak teriak-teriak seperti selama ini. Semoga saja Amber mau menuruti aku sebagai kakaknya. Pikir Dongwoon.

” OPPA!!!” seru Amber begitu Dongwoon datang. Dongwoon tersenyum. Sekaligus bingung. Tak biasanya Amber bersikap begini ramah. Dan Amber menggunakan aegyo-nya. Like a child.

” Amber, kau tak apa, kan? Kau demam?” tanya Dongwoon. Amber cemberut.

” Oppa kira aku sakit? ANDWE!” Amber mengerucutkan bibir. Dongwoon tertawa. Lalu menoel bibir Amber yang maju itu. ” Aish! Oppa ini!”

” Oya, ada apa sih kau menyuruhku pulang lebih awal?” tanya Dongwoon.

” Aku ingin bermain dengan oppa. Oppa tak ingin bermain denganku?” tanya Amber balik. Ia menatap Dongwoon. Dongwoon langsung merasakan hawa tidak enak. Mata Amber. Beda. Itu bukan mata Amber.

” Main? Kau sudah besar masih ingin bermain?” ledek Dongwoon. Ia berusaha menepis pikiran negatif itu.

Amber menganggukan kepalanya seperti anak kecil. ” Ne. Tapi bukan mainan seperti anak kecil! Aku ingin menghabiskan waktu bersama Dongwoon oppa berdua saja. Kita habiskan waktu sampai pagi!” seru Amber bersemangat. Lalu menarik Dongwoon masuk mobil.

” Mau pergi kemana? Ini sudah malam.”

” Bagaimana kalau kita ke pantai?” usul Amber. Dongwoon mengangguk dan segera menjalankan mobilnya menuju pantai.

***

Pukul 03.00 pagi. Amber masih tak ingin pulang. Ia hanya ingin ditempat ini. Dipantai ini bersama Dongwoon. Kakak kandungnya yang sudah hampir setengah kedewasaan hanya untuk bertengkar dengannya. Entah kenapa, malam ini Amber ingin bersama Dongwoon. Ingin damai.

” Oppa, maaf selama ini aku selalu marah padamu. Maaf selama setengah kedewasaan kita, masa remaja kita, hanya dihabiskan dengan bertengkar. Aku sadar kita tidak wajar. Tidak seperti kakak-adik pada umumnya. Maaf.” ucap Amber sambil sedikit menitikkan air matanya. Dongwoon langsung menatap adiknya.

” Aku juga minta maaf. Selama ini, selama setengah kedewasaan kita, masa remaja kita, hanya dihabiskan dengan pertengkaran yang selalu saja dimulai karena keinginanku. Keinginan appa. Menjadikanmu dokter. Aku sadar kalau aku tidak berhak mengatur hidupmu. Tidak berhak menentukan masa depanmu. Tugasku hanya menjaga dan membimbingmu. Maaf.” balas Dongwoon sambil merangkul hangat adiknya. Amber tak berontak. Ia merasa nyaman.

” Oppa, sadarkah kau mengutip ucapanku?” goda Amber. Dongwoon tertawa. Amber ikut tertawa.

” Amber, mulai detik ini aku akan menyatakan kalau aku takkan pernah mengatur hidupmu lagi. Aku biarkan kau meraih cita-citamu sendiri. Berkaryalah sebanyak mungkin dan buat aku dan mendiang appa bangga.” kata Dongwoon. Amber tersenyum.

” Oppa, mulai detik ini aku akan menyatakan kalau aku takkan pernah melawan oppa lagi. Aku akan selalu nurut padamu. Aku takkan lagi menjadi dongsaeng yang durhaka. Dan terimakasih atas kebebasannya. Aku janji akan membuatmu, dan mendiang appa bangga padaku.” Amber pun membalasnya.

” Amber, kalau gitu sekarang kau yang mengutip ucapanku.” ledek Dongwoon. Amber balik tertawa.

” Baiklah Amber eonni. Waktumu habis. Besok, pukul 6 sore ya. Bersiap-siaplah.”

Amber bergidik ngeri. Suara siapa tadi? Bukankah dipantai ini hanya ada aku dan Dongwoon oppa? Siapa? Kenapa dia mengatur pertemuan dengan sahabat dan pacarnya? Amber mulai mengeluarkan keringat dingin. Membuat Dongwoon panik melihatnya.

” Kau sakit? Ayo kita pulang.” kata Dongwoon sambil menarik lengan Amber.

” Andwe! Aku masih ingin disini! Kumohon. Aku tidak papa.” tolak Amber dengan wajah memelas. Dongwoon tak bisa menolaknya. Mereka kembali duduk. Dan sesaat sebelum Amber menyandarkan kepalanya di bahu Dongwoon, anak kecil itu menampakkan dirinya.

***

Amber menyandarkan kepalanya di bahu Sooyoung. Membuat Sooyoung menjadi bingung. Ada apa dengan Amber? Kenapa tiba-tiba jadi lemas begini? Sepertinya tadi tidak selemas ini. Tadi ia masih bercanda dengan Jonghyun dan juga Yesung. Tapi kenapa sekarang jadi begini?

” Amber, waeyo? Kau sakit?” tanya Sooyoung panik. Amber hanya menggeleng. Bagaimana menjelaskannya pada Sooyoung? ” Amber? Ada apa? Ceritakan saja.” kata Sooyoung. Amber lagi-lagi menggeleng. ” Oh, ayolah. Jangan membuat aku panik.”

Amber mengarahkan kepala Sooyoung agar menatapnya. ” Gwenchana. Aku tidak apa-apa. Kau jangan panik begitu dong.” Amber meyakinkan. Sayangnya Sooyoung makin nggak tenang melihat tatapan Amber yang sangat beda.

” Oke. Tapi kau benar-benar tidak apa-apa kan? Kau tidak sakit? Tidak ada masalah?” tanya Sooyoung sangsi.

” Tidak. Aku 100% baik-baik saja. Percayalah.” sekali lagi Amber meyakinkan. Sooyoung mengangguk. Namun hatinya benar-benar tidak tenang.

***

Jonghyun dan Amber menghabiskan waktu sore di taman. Taman tempat pertama kali mereka memulai pendekatan, taman tempat Jonghyun menyatakan perasaannya pada Amber dan tempat kencan pertama mereka. Mungkinkah harus menjadi tempat terakhir kali mereka bertemu?

” Jjong, aku masih ingat saat kau menyatakan perasaanmu. Disini.” kata Amber sambil mengenang. Jonghyun tersenyum.

” Aku juga masih ingat. Waktu itu wajahmu merah saking shocknya. Dan malu.” Jonghyun terbawa suasana dan ikut mengenang.

” Saat pertama kali kita kencan, ada 2 anak kecil menyusahkan disini. Aku sampai bingung menghadapinya.” kata Amber.

” Iya, dan akhirnya, 2 anak kecil itu ada yang membawanya pergi kan? Haha. Mereka lucu tapi merepotkan.” balas Jonghyun sambil tertawa. Amber tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahu Jonghyun. ” Eh?”

” Wae? Aku hanya ingin bersandar disini. Tak boleh?” tanya Amber tanpa bergerak.

” Tak apa. Hanya saja, sudah lama kita tidak dalam suasana seperti ini. Kau merindukannya, eh?” Amber mengangguk. ” Aku juga.”

Amber melihat jam tangannya. 17.30. Entah kenapa ia jadi gelisah dan tak tenang. Kata-kata dipantai waktu itu terngiang-ngiang. Apa yang akan terjadi pukul 18.00 nanti? Apa akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Mendadak, Amber ingin pulang. Hatinya semakin gelisah tak menentu.

” Jjong, pulang yuk. Sepertinya sudah tak ada orang lagi. Kau tidak mau kan, menjadi penghuni tetap taman ini?” goda Amber. Jonghyun tertawa. ” Ayolaah…”

” Ok. Come on!!”

***

Sooyoung mondar-mandir didepan TV. Membuat Yesung bingung dan heran. Ada apa dengan Sooyoung? Kenapa dia gelisah? Entahlah. Perasaan Sooyoung tidak enak. Dan itu menyangkut Amber. Entah kenapa, akan terjadi sesuatu pada Amber.

” Kau kenapa, chagi? Kenapa mondar-mandir terus? Ada yang kau pikirkan?” tanya Yesung.

Sooyoung menggeleng. ” Rasanya ada yang aneh. Aku terus-terusan berpikir akan terjadi sesuatu pada Amber.” jawab Sooyoung tanpa menghentikan aktivitasnya.

” Sudahlah, chagi. Mungkin hanya perasaanmu saja. Duduklah. Nanti kalau terjadi apa-apa, pasti kita akan dikabari.” kata Yesung bijak sambil menuntun Sooyoung duduk. Sooyoung menurut. Ia duduk disamping Yesung.

Semoga tidak terjadi apa-apa.

***

” Gomawo, Jjong. Kau ingin mampir?” tawar Amber. Jonghyun menggeleng.

” Tidak. Aku lihat seharian ini kau lelah sekali. Lihat, kerutan matamu dan lingkaran hitamnya. Kau perlu istirahat. Saranghae.” tolak Jonghyun halus. Amber mengagguk. Lalu masuk setelah menerima ciuman dikeningnya.

Amber meletakkan tasnya disofa. Lalu menatap layar televisi yang tadi sudah ia nyalakan. Selang beberapa menit, ia sudah bosan. Tak ada acara bagus. Amber masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan diri. Setelah itu, ia tiduran dikasurnya sambil mendengarkan lagu.

PRANG!!

~~~

Oke, just up here!

What are you curious about the sequel?

Wait…

I’ll Be Back…

HAHAHAHA!!!

25 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s