[OneShoot] You’re My Minnie

Author: Annisa Sooyoung Yesung (Choi Ri Rin)

Cast: Lee Sunkyu (SNSD), Sungmin (Super Junior), Changmin (DBSK), Sulli (f x)

Other Cast: Sooyoung (SNSD), Key (SHINee), Jaejin (FT ISLAND), Hwayoung (T-ARA)

Genre : Romance, comedy

Length: OneShoot

Rate: PG

NB: Mian kalo ga sesuai sama judul. Trus kalo yang udah baca, mohon doanya buat author ya, mau ujian.. hehe… gomawo eonni, chingu, saeng..

HEI YOU!!

DON’T BASHING PLEASE!!!
COMENT OKE?!

~~~

You’re My Minnie

” Aih, Sunny!!! Aku senang sekali!!” seru Sulli senang. Sunny yang sedang menulis sesuatu langsung mengerutkan keningnya bingung.

” Waeyo?” tanya Sunny.

” Aku akan bertemu dengan Sungmin oppa, hari sabtu nanti!! Ah, aku tak sabar melihat wajahnya yang tampan itu.” jawab Sulli sambil pura-pura lemas.

” Oh, hanya itu saja? Aku pikir nilai ujianmu meningkat.” kata Sunny datar. Sulli langsung mengerucutkan bibirnya.

” Kau meledek ya? Aku tahu nilai ujianku tak pernah bagus. Tapi tak usah begitu dong!” kata Sulli sebal. Sunny tertawa kecil. ” Jangan menertawakanku!”

Sunny langsung diam. Lalu kembali menulis. Sulli sepertinya tak penasaran dengan apa yang ditulis Sunny. Sudah biasa. Sunny selalu menulis perasaannya disetiap ada kesempatan. Dan perasaan Sunny selalu galau.

” Masih mengingat Minnie oppamu?” tanya Sulli sambil menyandarkan kepalanya dibahu Sunny. Sunny diam saja. Ia berhenti menulis.

” Masih. Aku takkan pernah melupakannya, Sulli. Dia cinta pertamaku.” jawab Sunny. Sulli menatap Sunny. Ia sudah tak menyandar lagi. ” Wae? Jangan menatapku seperti itu!”

Sulli tersenyum miring. ” Sampai kapan? Memangnya pasti, dia masih menunggumu?”

” Aku tidak tahu. Tapi memang hanya dia satu-satunya namja yang bisa merebut hatiku.” jawab Sunny sambil tersenyum manis.

” Sunny babo yeoja!!” kesal Sulli. ” Masih banyak namja lain yang menyukaimu! Apa kau mau terus bertahan dengan pikiran bodohmu itu? Kau beruntung jika Minnie oppa masih mengingatmu. How Lucky You are! Tapi jika dia tak mengingatmu? Itu akan jadi mimpi burukmu, Sunny. Percayalah.” nasihat Sulli. Sunny tersenyum tipis.

” Mungkin saja kau benar, Sulli. Tapi aku benar-benar tak bisa melupakannya. Masih teringat jelas wajahnya dipikiranku.” Sunny mencoba membuat sahabatnya ini paham akan keadaannya. Tapi sepertinya Sulli bekerja keras.

” Aku tak menyuruhmu melupakannya. Aku hanya bilang, kalau banyak yang menyukaimu. Kau tidak perlu melupakannya. Kau hanya perlu mencari orang lain yang lebih mengertimu. Kau boleh sesekali mengingatnya. Agar tidak terlalu sakit.” Sulli mencoba untuk meyakinkan Sunny tentang Minnie. Tentang orang yang tak pernah tahu apa dia merindukan Sunny.

” Ya, kau benar. Tapi aku tidak janji. Aku sendiri bahkan bingung siapa yang menyukaiku. Aku rasa kau hanya mengada-ada.” Sunny mulai meledek. Terlihat sekali kalau ledekan dan senyumnya itu palsu sama sekali. Sulli merasakannya. Namun ia hanya mencoba ikut dalam drama yang dibuat Sunny.

***

Sunny melenggang malas menuju cafe favoritnya dan Sulli. Seharusnya sih, ia merasa bersemangat karena dia sendiri sudah lama tidak nongkrong di cafe ini. Tapi karena tugasnya disini adalah menemani Sulli bertemu Sungmin, Sunny tetap saja tak bisa menikmati suasana indah cafe ini kalau ia hanya menjadi angin lalu nantinya.

” Sudah. Tak usah khawatir. Sepertinya Sungmin oppa membawa teman.” kata Sulli seolah tahu apa yang ia khawatirkan. Sulli tertawa. ” Melihatmu memegang leher terus sudah membuat aku merasakan apa yang kau khawatirkan nona Lee!” Sunny segera melepaskan tangannya dari lehernya. Memang kebiasaannya kalau sudah gelisah.

Sunny kembali sibuk dengan pikirannya. Membiarkan Sulli mengoceh tentang Sungmin. Entahlah. Tiba-tiba ia berandai kalau Sungmin itu Minnie oppanya sewaktu kecil.

” Annyeonghaseo.” sebuah suara mengagetkan Sunny dan membuyarkan lamunannya. Ia menatap seorang namja yang menyapanya dan Sulli. Sulli dengan semangat berdiri.

” Annyeong. Kau pasti Sungmin oppa! Dan kau…” Sulli menggantung kat-katanya saat ia melihat seorang namja yang lebih tinggi dari Sungmin. Ia tak pernah tahu siapa namja ini.

” Aku Changmin. Shim Changmin.” namja itu sendiri yang melanjutkan kata-kata Sulli sambil mengulurkan tangannya pada Sulli. Sulli menyambutnya hangat.

” Dia..?” tanya Sungmin sambil menunjuk Sunny yang masih diam memandangnya.

” Oh, dia itu sahabatku. Namanya Lee Sunkyu Sunny. Panggil saja dia Sunny.” jawab Sulli sambil memperkenalkan Sunny. Sunny tersenyum hangat pada Sungmin dan Changmin.

” Cocok sekali dengan namanya. Senyummu hangat. Sangat menenangkan.” puji Sungmin. Sunny tersenyum lagi.

” Terimakasih. Tapi kau bukan orang pertama yang bilang begitu.” ucap Sunny. Sungmin tersenyum juga.

” Oya? Sayang sekali ya..” kata Sungmin pura-pura kecewa. Sunny tertawa kecil.

Melihat itu, Sulli jadi merasa aneh. Cepat sekali mereka akrab. Padahal ia tahu kalau Sunny sulit sekali bergaul dengan namja. Kalaupun dekat dengan cepat, itu pasti ada sesuatu yang tidak di sengaja. Ah, pasti ini sebuah chemistry. Memang terlihat sekali kalau keduanya cocok. Apalagi Sunny tidak merasa canggung berada dekat Sungmin.

Melihat itu pula, Sulli tidak merasakan perasaan apapun. Padahal sebelumnya ia selalu mencak-mencak apabila melihat Sungmin berbincang dengan gadis lain ditwitter. Tapi entah kenapa, Sulli terlihat senang melihat Sungmin bisa sedikit membuat Sunny tertawa pada seorang namja. Sulli rela melepas Sungmin apabila Sunny akan selalu terlihat seperti ini dekat Sungmin.

Changmin yang merasa dicuekin karena Sungmin mulai ngobrol seru dengan Sunny dan -hampir- melupakan Sulli langsung mendekati Sulli yang tengah menatap Sungmin dan Sunny. Changmin berpikir lain. Ia langsung mengira kalau Sulli cemburu melihat kedekatan Sunny dan Sungmin. Padahal sebenarnya Sulli sangat senang.

” Aku tahu perasaanmu. Tapi sepertinya mereka cocok, kok.” kata Changmin. Sulli tersenyum. Changmin menyalah-artikan senyum itu. Ia pikir, senyum itu adalah senyum palsu Sulli. Tapi sesungguhnya senyum itu adalah senyum kebahagiaan karena tanpa disangka Changmin juga merasakan kecocokan itu.

” Sangat. Mereka sangat cocok. Aku suka melihatnya.” kata Sulli membalas ucapan Changmin. Changmin mendengus. Membuat Sulli memandangnya. ” Wae? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau mereka cocok?” tanya Sulli polos.

” Tak usah kau tutup-tutupi gadis manis. Aku tahu kau cemburu kan?”

Dan Sulli tertawa.

***

” Sulli, mianhae, Sulli. Jeongmal Mianhae. Aku tidak sadar saat bicara dengannya. Mian kalo aku merasa sangat nyaman bersamanya.” ucap Sunny begitu mereka -Sungmin & Changmin- sudah menjauh. Sulli tersenyum senang.

” Kau bilang apa? Kau merasa nyaman? Sangat nyaman?” tanya Sulli dengan expresi kaget luar biasa. Yang Sunny artikan sebagai kekagetan dan kemarahan. Sunny tertunduk. Bibirnya mengucapkan kata ‘Mianhae’, tapi tak terdengar oleh Sulli. ” Waah, kau benar-benar ya?…” Belum selesai Sulli bicara, Sunny sudah menahannya.

” Mian, Sulli. Jeongmal Mianhae. Aku tidak bermaksud untuk merebut Sungmin oppa darimu.” ujar Sunny lirih.

” Waaah!! Kau memanggilnya oppa!!” seru Sulli. Sunny makin merasa bersalah. Ia pikir Sulli sangat marah padanya. ” Kau ini kenapa menunduk saja? Ceritakan apa yang kau dan Sungmin oppa bicarakan?” tanya Sulli bersemangat. Sunny memincingkan matanya menatap Sulli. Aneh. Ada yang aneh dengan Sulli.

” Kau tidak marah padaku?” tanya Sunny heran. Sulli melongo tak percaya. Haruskah ia marah?

” Memangnya aku harus marah ya? Kau ingin aku marah?” tanya Sulli balik. Sunny menggelengkan kepalanya. ” Lalu? Kenapa malah menanyakan hal itu sih?”

” Bukankah kau menyukai Sungmin oppa, Sulli?” tanya Sunny.

Kali ini Sulli tertawa lebar.

***

Gadis itu sudah mengambil hatinya. Bukan Sulli. Gadis itu. Sunny. Manis dan cantik tentu saja. Seandainya yang ditemuinya di twitter adalah Sunny dan bukan Sulli. Seandainya yang menyambutnya tadi adalah Sunny. Tapi, syukurlah Sulli tak mempermasalahkan soal itu. Sulli memang gadis yang baik.

” Melamun? Seperti yeoja saja.” cibir Changmin sambil memberikan segelas kopi hangat pada Sungmin. Sungmin menerimanya sambil tertawa kecil.

” Kalau aku yeoja kau pasti sudah naksir aku.” ujarnya pede. Changmin tertawa lebar.

” Sayangnya kau bukan yeoja.”

Sungmin ikut tertawa.

” Kau menyukai Sunny ya?” tanya Changmin serius. Sungmin tertegun. Suka? ” Iya kan? Dugaanku tepat. Kau berdua memang cocok.” puji Changmin.

” Tidak. Aku tak menyukainya. Mana mungkin baru bertemu sudah langsung suka? Aku hanya mengaguminya. Dia itu manis dan cantik.” elak Sungmin. Changmin tertawa. ” Wae? Kenapa kau tertawa?”

” Ucapanmu meyakinkan. Sangat meyakinkan. Tapi sayangnya wajahmu tak bisa berbohong. Haha!!” Changmin tertawa puas sekarang. Apalagi Sungmin langsung meninju lengannya.

” Kau selalu saja meledekku! Lagipula kau juga cocok dengan Sulli. Daritadi aku perhatikan kau bicara asyik dengannya. Sampai-sampai tadi Sulli tertawa.” kata Sungmin membelokkan pembicaraan. Changmin mencibir. ” Kalau kau mencibir, berarti kau memang ada rasa dengan Sulli.” goda Sungmin. Changmin melotot. Sungmin tertawa lebar.

” Kau! Memangnya kau tahu apa, hah? Tidak mungkin aku menyukai gadis tidak jelas seperti itu! Aku tanya malah tertawa!” kali ini gantian Changmin yang mengelak.

” Oya? Kau yakin? Cara memandangmu itu sangat meyakinkan kalau kau memang suka padanya.” kata Sungmin tak mau kalah.

” Ah, takkan ada habisnya bicara denganmu!” seru Changmin.

” Menyerah. Dasar pengecut kau! Haha!!” ledek Sungmin. Changmin tak ambil resiko. Dia langsung masuk ke dalam kamar. Ia tak mau Sungmin tahu kalau wajahnya sudah memerah.

***

Sulli berpikir kalau ternyata Changmin itu lebih tampan dari Sungmin. Sayangnya dia itu suka sekali ikut campur urusan orang lain. Terlihat dari bagaimana ia menanyakan perasaannya pada Sungmin. Pakai bilang ia cemburu pula.

” Kau sedang melamunkan apa, Sulli? Cepatlah habiskan makan malammu!” tegur Sooyoung. Kakaknya.

” Ne eonni.” kata Sulli patuh. Sooyoung langsung kembali melanjutkan makannya. Begitu pula dengan Sulli.

Setelah makan, Sulli masuk kedalam kamarnya dan membuka laptopnya. Lalu menyalakan musik dan menyetel lagu Ring Ding Dong. Musik favoritnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu diketuk. Sulli menoleh. Lalu membukakan pintu.

” Eh? Ada apa, oppa?” tanya Sulli pada Key. Kakak iparnya.

” Tidak. Hanya ingin melihatmu saja. Kau sedang apa?” tanya Key.

” Oppa kan bisa mendengarnya.” jawab Sulli cuek. Key tertawa. ” Kok malah tertawa?”

” Tidak. Aku hanya bosan. Setiap kekamarmu, kau selalu menyetel lagu ini.” kata Key. Sulli tersenyum bangga. ” Ini, ada sesuatu untukmu.” Key melemparkan sebuah majalah ke kasur Sulli. Sulli meliriknya. SHINee!!

Sulli langsung membuka plastik pembungkus majalah dengan kasar dan memeluk majalah itu dengan senang. Taemin, Taemin, oh Taemin!! Begitulah isi pikirannya. Key tersenyum. Senang kalau adik iparnya ikut senang.

” Baiklah. Aku keluar dulu.” pamit Key.

” Uhm, oppa!” panggil Sulli. Key menoleh, tidak jadi menutup pintu. ” Gomawo. Aku sangat senang.” ucap Sulli. Key mengangguk.

” Mimpi indahlah bersama SHINee-mu itu.” ledek Key. Sulli mencibir. Key malah tertawa. Setelah menutup pintu, ia menuju ruang tamu dan langsung duduk disamping istrinya.

” Kau membelikan majalah lagi untuknya?” tanya Sooyoung. Key mengangguk. Lalu mencium pipi Sooyoung sekilas. ” Kau membuat aku lelah membereskan majalah-majalah itu! Kau kan tahu Sulli hanya membolehkan aku masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan dia sendiri takkan mau jika disuruh membereskan kamar!” protes Sooyoung. Key tertawa. ” Jangan tertawa!”

” Iya, aku tahu. Tapi kalau melihat majalah itu aku akan teringat padanya. Mianhae.” ucap Key menyesal. Sooyoung tersenyum.

” Gwenchana. Sudahlah, biar saja. Kau tak ingin mandi? Kau bau tahu!” Sooyoung menutup hidungnya. Pura-pura kebauan.

” Aish, mana mungkin aku bau! Cium sendiri.” Key memprotes dengan cara memeluk Sooyoung manja. Sooyoung tertawa.

” Ahaha! Iya, iya. Kau tidak bau! Tapi kau lengket. Memangnya kau betah apa lengket-lengket begini? Sudah sanaa, mandii!” suruh Sooyoung. Key melepas pelukannya dari Sooyoung dan menatap Sooyoung dalam.

” Siapkan air panas. Apa kau sudah melakukannya?” tanya Key. Sooyoung nyengir.

” Mian. Aku siapkan sekarang.”

***

Aku telah merasa dia itu adalah kau

Senyummu dan senyumnya

Matamu dan matanya

Semua hampir sama

Tapi aku tahu itu takkan mungkin

***

Huaaa, memangnya itu yang ia rasakan sekarang? Merasa bahwa Sungmin itu mirip Minnie-nya? Tapi itu memang benar. Terasa sekali kalau Sungmin itu mirip Minnie. Walaupun ia tahu itu tak mungkin. Ia sadar kalau Minnie tidak ada dalam jangkauannya. Minnie jauh. Entah dia mungkin sudah melupakan semuanya. Mungkin juga Minnie tak mau repot-repot mengingatnya. Mungkin saja bagi Miinie, dia hanyalah seonggok masa lalu yang sangat tidak berharga.

” DOR!!” Sulli mengagetkannya. Membuat ia sedikit melonjak kaget.

” Aish! Dasar kau! Untung saja aku tidak jantungan mendengar suaramu yang cempreng itu!” protes Sunny. Sulli hanya tertawa.

” Tumben sekali kau bisa ngomel seperti manusia normal!” seru Sulli masih tertawa. Sunny melotot. ” Aku senang kau bisa kembali seperti manusia normal. Selama ini kan kau seperti mati rasa. Senyum saja sangat memaksakan. Lalu tertawa pun jarang. Apalagi mengomel! Sangat tak mungkin, malah. Dan setelah Sungmin oppa datang, kau berubah total!!” jelas Sulli. Benarkah? Separah itukah?

” Aku rasa tidak separah itu, deh! Kau terlalu berlebihan!” ujar Sunny sambil mendorong bahu Sulli. Sulli tertawa.

” Kau bahkan mulai berani bertindak kasar. Lihat saja. Kau berubah!!” Sulli kembali tertawa. Sunny hanya geleng-geleng kepala. ” Wah! Aku harus berterimakasih nih pada Sungmin oppa! Dia telah membuatmu berubah!!”

Sungmin? Diakah yang membuatnya jadi seperti ini? Melupakan sedikit masa lalunya bersama Minnie. Bicara dengannya seolah Minnie itu tak pernah ada. Dan, Sungmin telah membuatnya nyaman. Seperti Minnie membuatnya nyaman. Apa dia itu Minnie?

” Hei, jangan samakan Sungmin oppa sama Minnie mu itu! Mereka pasti orang yang beda.” tegur Sulli. Bagaimana Sulli bisa tahu?

” A, aku tidak menyamakan mereka, kok! Kau jangan ngarang ya!” elak Sunny.

” Terlihat dari caramu berpikir, babo!”

Sukses! Pipi Sunny memerah.

***

Sungmin membuka matanya perlahan. Sudah pagi rupanya. Ia melihat jam dinding yang tertempel di dinding. Pukul 11. Bukan pagi. Tapi siang. Sungmin keluar kamar dan melihat Changmin sudah duduk manis di depan TV sambil memegang remote.

” Sudah bangun? Kupikir kau mati didalam.” canda Changmin. Sungmin tertawa.

” Kalau aku mati kau pasti merindukan aku!” balas Sungmin. Lalu pergi ke kamar mandi. Changmin tertawa.

” Eh, hari ini akan bertemu 2 gadis itu lagi?” tanya Changmin. Sungmin yang sedang cuci muka tidak menjawab. Changmin menghampiri. Menunggu jawaban.

” Kenapa? Kau ingin bertemu Sulli, eh?” goda Sungmin sambil mengeringkan wajahnya pakai handuk.

” Siapa yang ingin? Jangan mengada-ada! Aku hanya tanya!” omel Changmin.

” Oh. Kupikir kau rindu pada Sulli.”

Wajah Changmin memerah.

” Haha! Lihat wajahmu! Seperti goguma!!”

Changmin melengos. Menyebalkan!

***

Sunny menghela napas panjang. Tempat ini memang pantas untuk menyendiri. Mengingat beberapa kali wajah Sungmin terlintas dikepalanya dan beberapa kali juga Sungmin selalu tehubung dengan Minnie.

” Kau suka ya, tempat ini? Aku juga suka.” tegur seseorang. Sunny menoleh. Mendapati Sungmin ada disampingnya. Duduk.

” Hei, bagaimana kau bisa sampai sini?” tanya Sunny kaget.

” Haha. Wajahmu lucu sekali saat sedang kaget.” ledek Sungmin. Sunny mencibir. ” Yaya, rumahku tak jauh dari sini. Kau mau mampir?” tawar Sungmin. Sunny menggeleng. ” Oya, jawab pertanyaanku. Kau belum menjawabnya.” tuntut Sungmin.

” Pertanyaan apa?” tanya Sunny.

” Aku tanya, kau suka tempat ini? Kalau kau suka…”

” Aku suka. Dan kalau aku suka. Kau juga suka. Begitu, kan?” goda Sunny. Sungmin tertawa.

Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Bergulat dengan perasaan masing-masing. Juga menikmati indahnya alam. Nyaman sekali ada disini. Apalagi bersama dengan orang yang bisa menenangkan hati.

Andai kau adalah Minnie. Ungkap Sunny dalam hati. Yah, tak ada salahnya bukan berharap begitu? Semua yang ada diwajah Sungmin benar-benar mengingatkannya pada Minnie. Mata, Hidung, mulut dan cara dia tertawa.

Oke, Sunny. Kau memang mirip Sunsun-ku. Bukan hanya dari wajah. Tapi juga namamu yang memang bermakna sama. Ah, melihatmu aku jadi ingat pada Sunsun. Pikir Sungmin sambil memandangi wajah Sunny yang sedang memejamkan matanya.

” Sunsun..” panggil Sungmin pada Sunny. Refleks.

Sunny membuka matanya terkejut. ” Eh? Kau panggil aku apa?” tanya Sunny dengan expresi yang luar biasa sulit diartikan.

” Sunsun. Tak apa kan jika aku memanggilmu begitu?” tanya Sungmin meminta persetujuan. Sunny mengangguk.

” Tapi, sepertinya kau selalu jadi orang kedua ya, oppa.” kata Sunny. Sungmin mengerutkan keningnya bingung. ” Sayangnya bukan hanya kau yang memanggilku begitu.”

” Mwo?! Jinjja?” Kupikir namamu hanya aku yang buat, Sunsun. Ternyata ada yang menyandang nama itu juga. Maaf, Sunsun. Namamu ada duplikatnya. Tambah Sungmin dalam hati dengan perasaan kecewa. ” Oppa? Oppa? Sungmin oppa? OPPAA!!” Sunny berteriak memanggil Sungmin.

” Ne. Wae?” tanya Sungmin lesu.

” Kau kenapa? Melamun. Seperti yeoja saja. Haha!” ledek Sunny. Sungmin menatap Sunny. ” Wa, wae? Aku salah bicara ya? Mian, mian.” ucap Sunny sambil berulang kali membungkukan tubuhnya.

Sungmin tertawa. ” Nde. Gwenchana. Kau tak perlu minta maaf.” kata Sungmin.

” Benarkah?” tanya Sunny. Sungmin mengangguk. ” Kalau begitu tadi aku tidak perlu repot-repot bungkuk-bungkuk.” canda Sunny. Lalu nyengir. Sungmin segera mengacak-acak rambut Sunny.

DEG!! Kebiasaan itu…

:: FLASHBACK ::

          ON

SUNNY POV

” Huaa!! Minnie, ulanganku dapat nilai jelekk!!” tangisku saat bertemu Minnie.

Minnie tertawa mendengar ucapanku yang langsung kuprotes.

” Ah, Minnie kok ketawa sih! Ulanganku gimana? Nanti dimarahin eomma!!” rengekku. Minnie mengusap lembut rambutku. Ahh, aku merasa tenang.

” Sudah, jangan menangis lagi. Lagipula pelajaran kelas satu itu gampang! Kau saja yang tidak mau belajar.”

Eh? Benar juga. Sebelum ujian 1 minggu yang lalu, aku malah main game dengan Jaejin oppa. Ahh, salahku juga.

” Nah, benar kan? Wajahmu langsung menunjukkannya. Sana! Belajar lagi dengan giat! Jangan main game terus!” peringat Minnie padaku.

” Ah, iya ya. Terimakasih Minnie oppa!! Aku pulang dulu!!” pamitku. Minnie langsung mengusap kepalaku lagi. Aku tersenyum.

POV END

:: FLASHBACK ::

        OFF

” Kau kenapa? Tiba-tiba melamun. Dan, matamu berair. Aku salah, ya? Mianhae, mianhae…!” ucap Sungmin panik. Sunny mengusap matanya. Benar. Ia menangis. Tapi, sejak kapan?

” Ah, Gwenchana, oppa. Kau tidak salah.” kata Sunny. Sungmin memandang Sunny.

” Benarkah?” Sunny mengangguk. ” Kalau begitu aku tak perlu repot-repot panik, dong.” protes Sungmin. Sunny langsung mengerucutkan bibirnya. Sebel.

” Balas dendam? Huh!” sindir Sunny. Sungmin tertawa.

Sementara itu, Changmin yang sedang berjalan-jalan mencari udara segar tanpa sengaja melihat seorang gadis yang sedang mengintip. Changmin segera mendekatinya. Apa sih yang dia lihat?

Eh? Itu bukannya Sungmin dan Sunny? Dan gadis ini?

” Sulli?” tegur Changmin. Sulli langsung menoleh.

” Eh? Changmin-ssi? Mengapa bisa disini?” tanya Sulli heran.

” Ah, ara, ara. Kau kaget ya? Sedang mengintip Sunny dan Sungmin kan? Aku tahu kau cemburu. Tapi jangan begitu…” Changmin tak menyelesaikan ucapannya karena mulutnya sudah di bekap oleh Sulli.

” Jangan bicara seperti itu, Changmin-ssi! Atau kau takkan selamat!” ancam Sulli. Changmin mengangguk paham. Sulli melepaskan bekapannya. ” Sana pergi!” usir Sulli kesal.

” Tidak bisa. Kau harus menemaniku jalan-jalan disekitar sini! Tanggung jawablah!” kata Changmin seraya menarik tangan Sulli.

” YAAA!!! JANGAN TARIK AKU!! Kalau mau pergi, pergilah sendiri, babo namja!!” bentak Sulli. Namun tak melepaskan genggaman Changmin.

” Tidak bisa! Temani aku makan. Aku lapar!” pinta Changmin.

” Baiklah! Baik! Tapi lepaskan tanganku dulu, Changmin-ssi!!” protes Sulli.

” Hei, sopanlah sedikit!! Aku lebih tua darimu!! Sebut aku oppa!!” suruh Changmin.

” Ah, aku tidak mau!!”

Changmin langsung menarik tangan Sulli lagi dengan kasar.

” ARRGGHHH!! Arasseo, Arasseo!!! Changmin oppa!! Puas?!”

Changmin terkekeh.

***

CKLEK!!

Sunny baru saja membuka pintu. Ia sudah disuguhi oleh pemandangan tidak enak. Jaejin -kakaknya- dan istrinya sedang ciuman didepan TV. Membuatnya kesal.

” Aku PULANG!!” teriak Sunny. Jaejin dan Hwayoung langsung menghentikan aktivitas mereka. ” Huh! Aku tidak mengerti dengan kalian. Tapi bisakah tidak melakukannya didepan TV? Lakukan saja dikamar! Aku takkan mengganggu!” tegur Sunny. Lalu masuk kedalam kamar diiringi tatapan heran dari Jaejin dan Hwayoung.

Dikamarnya, Sunny langsung berbaring untuk melepaskan penat sejenak. Lalu, ia bangkit lagi menuju kamar mandi. Selang beberapa menit, Sunny sudah keluar dan duduk dimeja riasnya. Ia mulai menyisir rambutnya. Tak lama, ia mendengar suara-suara yang sangat tidak layak untuk didengar umum.

Sunny berdecak kesal. ” Sudah kubilang lakukan dikamar!” gumam Sunny kesal. Ia langsung menyalakan tape recorder sekencang-kencangnya. Lalu naik ketempat tidur. Ia mulai menulis.

Belum banyak ia menggoreskan tinta pada bukunya itu, Sunny langsung teringat lagi pada Sungmin. Ia benar-benar merasa kalau Sungmin itu memang terhubung dengan Minnie. Cara mereka memperlakukan Sunny sama. Dalam hatinya, Sunny berharap kalau Sungmin itu memang Minnie.

” Aish!! Kau tidak boleh berpikiran begitu, Sunny! Kalau Sulli tahu, mati kau!” peringat Sunny pada dirinya sendiri.

Yaya, Sunny memang tidak menyadari kalau Sulli tidak peduli lagi pada Sungmin. Malah mendukung mereka. Sunny malah merasa tidak enak pada Sulli yang lebih dulu mengenal Sungmin. Kalo Sunny jatuh cinta pada Sungmin, pasti Sulli akan mengira kalau Sunny adalah pengkhianat. Sunny tidak mau itu terjadi. Sulli sahabat terbaiknya.

Ahh, maaf Sulli. Aku memang nggak bisa mengalihkan perhatianku dari Sungmin oppa. Dia terlalu baik dan aku, sepertinya aku, menyukainya. Maafkan sahabatmu ini, Sulli. Pikir Sunny. Ia mulai galau lagi.

Esok harinya, Sulli sudah mencak-mencak nggak karuan. Dia sebel banget sama Changmin yang sudah seenaknya bawa dia kesana-kemari kemarin. Padahal ia masih asyik menunggui date tak terduga Sunny-Sungmin. Ah, gara-gara Changmin semuanya hancur! Ia jadi tidak tahu kelanjutan date kedua sejoli itu.

” Kau kenapa, Sulli?” tanya Sunny tanpa berhenti menulis.

” Aku kesal pada CHANGMIN!!” jawab Sulli kesal. Ia menggebrak meja dan membuat Sunny berhenti menulis.

” Kapan kau bertemu Changmin-ssi?” tanya Sunny penasaran.

” Kemarin, dia dekat pantai yang biasa kau datangi.” jawab Sulli polos.

” Kau kemarin kesana? Aish, coba kita bertemu. Aku bertemu dengan Sungmin oppa kemarin.” cerita Sunny. Sulli pura-pura kaget.

” Oya? Lalu, kau dan dia ngapain?” tanya Sulli gantian.

” Uhm, hanya ngobrol biasa. Tidak ada yang penting.” jawab Sunny. Sulli tahu Sunny bohong. Tapi ia diam saja.

” Ah, iya, ya. Coba kita bertemu. Pasti aku takkan bertemu dengan si Changmin sialan itu!!” umpat Sulli. Sunny tertawa. ” Wae? Jangan tertawa! Nanti Sungmin oppa mengajak kita pergi makan siang. Kau ikut ya.” pinta Sulli yang lebih dominan kepada suruhan. Sunny mengangguk.

***

Sungmin dan Changmin telah sampai di sebuah universitas. Mereka menunggu Sunny dan Sulli. Ya, mereka janji akan mentraktir Sunny dan Sulli apabila Sunny dan Sulli bersedia mengantar mereka jalan-jalan.

” Annyeonghaseo!!” sapa Sulli ceria pada Sungmin. Tapi langsung menatap Changmin dingin. Changmin hanya terkekeh geli.

” Annyeong, Sulli. Annyeong, Sunny.” sapa Sungmin ramah. Sunny hanya tersenyum dan menganggukan kepala.

” Annyeong Sunny!” sapa Changmin ramah. Lagi-lagi Sunny hanya tersenyum dan mengangguk.

” Ah, sudah cukup sapa-sapaannya. Sekarang ayo kita pergi! Kau mau kemana dulu, oppa?” tanya Sulli.

” Terserah kau saja.” kata Sungmin.

” Baiklah! Sunny, kau duduk sama Sungmin oppa ya, didepan. Aku biar duduk dibelakang.” suruh Sulli. Sunny awalnya sempat menolak. Tapi Sulli segera berlalu. ” Jalan, oppa!!” seru Sulli. Sungmin segera jalan.

Tujuan pertama adalah Sungai Han. Sebenarnya Sungmin sudah tahu tempat itu. Namun sepertinya ia ingin pergi ke sungai Han itu bersama Sunny.

” Kenapa tujuan pertamamu kesini oppa? Aku yakin kau sudah tahu Sungai Han ini!” bisik Sulli. Sungmin hanya diam tak menanggapi. Sepeninggal Sungmin, Sulli tersenyum-senyum sendiri. ” YES!!! Pasti Sungmin oppa sudah mulai jatuh cinta pada Sunny, deh!!” bisik Sulli. Namun tetap meloncat senang.

” Kau sudah gila rupanya! Hanya karena sahabat-ku mendekati Sunny, kau jadi seperti itu. Kau benar-benar menyukai Minnie, ya?” tanya Changmin meledek.

” Siapa bilang aku gila! Jangan suka men-judge sembarangan, ya! Dan, siapa itu Minnie?” tanya Sulli balik. Changmin mengangkat satu alisnya.

” Minnie. Nama panggilan Sungmin. Ah, aku tak biasa memanggilnya Sungmin lagi setelah aku tahu bahwa ada gadis bernama Sunsun memanggilnya Minnie. Haha” jelas Changmin. Sulli seperti mengingat-ngingat sesuatu.

” AH!! Bagus! Kau akan mendapatkan masa lalumu lagi, Sunny!!” seru Sulli semangat. Lalu berjalan santai sambil memikirkan rencananya. ” Apa yang harus aku lakukan untuk menyatukan mereka lagi, ya?” Sulli mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu.

” Hei, apa sih yang sebenarnya kau bicarakan?” tanya Changmin. Sulli tetap diam.

” Haduh, apa ya? Aku yakin kok mereka pasti akan bersatu! Tapi, gimana caranya, ya? Ayolah!! Berpikir Sulli!!” Sulli terus bergumam.

” Heh, kau lagi cari cara bagaimana mencelakakan Minnie, ya? Atau, Sunny? Tega sekali kau pada sahabatmu sendiri!”

” Hei, Changmin-ssi! Diamlah. Aku tak bisa berpikir kalau begini!”

” Panggil oppa.”

” Tidak!”

” Panggil!”

” Tidak!”

” Panggil!”

” ANDWE!!!”

” Aish, kau memang menyusahkan! Panggil aku oppa saja tidak mau!”

” Kau memang tak pantas dipanggil seperti itu!!!”

” Ahh, terserah kau sajalah!”

***

Sungmin dan Sunny berjalan disepanjang sungai Han. Sesekali mereka bercanda atau menertawakan sesuatu yang lucu. Mereka terlihat nyaman saat bersama. Dan sepertinya Sunny sudah melupakan Minnie. Euhm, sejenak.

” Hei, Sun, kau mau ice cream tidak?” tawar Sungmin. Sunny menoleh dan tersenyum. ” Oke. Kau tunggu sini, ya. Aku akan membelikannya untukmu.” kata Sungmin sambil berlari menuju tukang ice cream.

Tak lama, Sungmin kembali dan memberikan sebuah ice cream rasa strawberry pada Sunny. Sunny tersenyum senang menerimanya. Lalu ia mulai menjilat ice cream itu perlahan. Sungmin menatapnya.

” Wae? Ada yang aneh denganku?” tanya Sunny bingung. Sungmin menggeleng.

” Kau mirip dengan seseorang dimasa laluku.” jawab Sungmin lirih. ” Dia pernah memberiku ini.” Sungmin menunjukkan sebuah kalung berbandul huruf SM yang Sunny tak tahu apa artinya. Namun terasa sangat familiar.

” Itukah sebabnya kau memanggil aku dengan sebutan Sunsun? Dan memendekkannya jadi Sun? Apa dia begitu berharga?” tanya Sunny. Sungmin mengangguk. Cukup. Hanya dengan satu tindakan saja Sunny sudah tahu jawaban dari semua pertanyaannya.

” Saat melihatmu, didekatmu, aku merasakan dia. Senyumnya, dan semua yang ada padamu, ada juga padanya.” jelas Sungmin.

” Jadi kau dekat denganku hanya untuk merasakan Sunsun-mu itu?” tanya Sunny emosi. Entah kenapa ia menjadi marah.

” Bukan itu maksudku. Aku juga tidak tahu kenapa. Yang jelas, sejak pertama kali melihatmu, aku sudah merasakan hal itu. Aku juga kecewa ketika sudah ada yang memanggilmu dengan sebutan itu. Bukan hanya karena nama buatanku ada duplikatnya. Tapi juga ternyata nama itu bukan dariku.” kata Sungmin. Sunny menatapnya. Benarkah?

Sunny terdiam sejenak. Ternyata mereka juga punya masa lalu sendiri. Bahkan masa lalu mereka hampir sama. Dalam hati, Sunny berjanji akan mengenalkan Minnie pada Sungmin jika nanti ia bertemu lagi dengan Minnie-nya.

” Euhm, Aku juga pernah mengalaminya. Dulu, aku punya teman baik. Dia mirip sekali denganmu. Dia juga suka memanggilku Sunsun. Dan saat kau memanggil aku dengan sebutan itu, aku merasa dia adalah kau. Entahlah.” cerita Sunny. Sungmin terdiam mendengarkan.

” SUNNY!! OPPA!!” panggil seseorang. Mereka berdua kompak menoleh. Itu Sulli.

” Ada apa?” tanya Sunny.

” Ayo kita ketempat lain. Aku sudah mulai bosan disini.” ajak Sulli.

” Kau ingin kemana?” tanya Sunny pada Sungmin. Sungmin berpikir sebentar.

” Oya, bagaimana kalau kita ke Namsan Park?” usul Sulli. Sungmin mengangguk menyetujui.

” Hei, dimana Changmin?” tanya Sungmin.

” Aish! Tinggalkan saja dia! Dia itu menyusahkan!” seru Sulli. Sungmin tertawa.

” Mungkin dia suka padamu.” terka Sunny bercanda. Sulli melotot kesal. Sunny ikut tertawa.

***

Namsan Park sore itu dipenuhi oleh orang-orang yang sekedar berjalan-jalan atau ada keperluan. Sunny, Sungmin, Sulli dan Changmin langsung naik ke Seoul Tower. Melihat pemandangan indah kota Seoul dari atas.

” Ahh, seharusnya kita kesini malam hari! Kalau sore hari tidak seru!!” keluh Changmin pada diri sendiri. Sulli mendelik sebal.

” Sudahlah, jangan kau rusak suasana! Lebih baik kita pergi!” suruh Sulli sambil menarik Changmin meninggalkan Sunny dan Sungmin.

Sunny dan Sungmin hanya diam terpaku melihat Sulli dan Changmin. Lalu mereka mulai menikmati pemandangan kota Seoul yang indah. Selama beberapa menit, mereka hanya terdiam menatap keindahan kota Seoul.

” Neomu yeppeo.” gumam Sungmin pada akhirnya. Sunny tersenyum menyetujui. ” Tidak salah Sulli memilih tempat ini. Tapi kenapa dia malah meninggalkan kita? Ah, babo!”

” Entahlah. Mungkin mereka hanya ingin berdua saja. Sulli memang tak bisa ditebak. Kemarin dia sangat semangat ingin bertemu denganmu. Sekarang setelah melihat Changmin, dia mencampakkanmu.” ledek Sunny. Sungmin tertawa, begitu juga dengan Sunny.

” Oya, aku boleh tau siapa yang pernah memanggilmu Sunsun sebelum aku?” tanya Sungmin tiba-tiba.

” Ne. Tentu saja. Namanya adalah Minnie. Aku selalu memanggilnya begitu. Tapi aku lupa siapa nama aslinya. Aku sudah terlanjur suka dengan julukan yang aku buat sendiri.” kata Sunny. Sungmin tertegun. Minnie? Diakah yang ia cari dan rindukan selama ini?

” Haha. Namanya seperti namaku. Sunsun senang sekali memanggilku begitu. Bahkan setelah aku meninggalkannya, Changmin selalu menyebutku dengan sebutan itu.” balas Sungmin.

” Kau? Meninggalkannya?”

Sungmin mengangguk. Raut wajahnya terlihat sedih. ” Ne. Eomma dan appaku bertengkar. Terpaksa aku meninggalkannya tanpa pamit. Karena aku tidak mungkin membangunkannya malam hari. Eomma tidak mau menunggu sampai besoknya. Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya dan mengatakan kalau aku menyukainya.”

” Begitukah? Huh, pasti Sunsun kesepian. Kalau aku, ah… aku tak pernah tahu dia dimana. Minnie menghilang begitu saja sehari setelah dia mengajarkanku gitar. Aku tak pernah bertemu lagi dengannya.”

Sulli menemukan banyak clue yang sepertinya tidak disadari oleh Sunny. Begitu juga Changmin yang dipaksa Sulli untuk membantu. Dengan segera, Sulli menarik Changmin menjauh.

” Oke. Clue pertama yang cocok adalah hilang. Sunny dan Sungmin oppa sama-sama kehilangan masa lalunya. Kedua, gitar. Sungmin pergi sehari setelah mengajarkan Sunsun gitar, dan Sunny kehilangan Minnie sehari setelah Minnie mengajarkannya gitar. Terakhir, nama.” kata Sulli. Changmin mengangguk. Lalu menepuk jidatnya.

” Mereka berdua itu bodoh sekali. Kenapa sama sekali tidak menyadari nama mereka sendiri? Kenapa tetap bercerita?! Aish! Mereka memang benar-benar bodoh!” gerutu Changmin.

” Benar. Sepertinya kita yang harus menyadarkan mereka.” kata Sulli. Changmin mengangguk.

” Tapi bagaimana caranya?” tanya Changmin.

” Ya, asal ceplas-ceplos saja. Lagipula kan kau dekat dengan Sungmin oppa. Masa menyadarkannya saja tidak bisa! Kau ini bagaimana!” omel Sulli.

” Ah, yaya. Dasar nenek sihir! Kau akan melakukan apa pada Sunny? Apa rencanamu?” tanya Changmin. Sulli nyengir. Lalu menggeleng.

” Bah! Bahkan kau tidak tahu juga! Huh, sudah kuduga otakmu tak secemerlang kelihatannya.” ledek Changmin. Sulli mencibir.

” Sudahlah, aku masih ingin melihat apa yang mereka lakukan!” kata Sulli sambil beranjak dari duduknya dan mencari Sunny dan Sungmin. Ternyata mereka masih disana. Dan Sulli pasti ketinggalan banyak sekali obrolan.

Tidak. Sunny dan Sungmin hanya diam setelah Sulli menarik pergi Changmin. Mereka seperti memikirkan sesuatu. Seperti ada yang mengganjal pikiran mereka. Namun apa?

Sungmin meletakkan tangannya diatas tangan Sunny. Entah apa, namun hatinya yang bicara begitu. Ia hanya mengikuti kata hati. Sunny pun agak kaget dengan perlakuan Sungmin. Tapi sesuai kata hati, Sunny diam saja Sungmin menyentuh tangannya. Ada perasaan senang dan bahagia saat Sungmin menyentuh tangannya.

” Dari awal pertama kita bertemu, aku selalu berharap kalau kau itu Sunsun-ku. Karena kau mirip sekali dengannya. Tapi aku sadar sih, itu tak mungkin.” kata Sungmin. Sunny menoleh. Apakah itu benar? Kenapa perasaan itu seperti yang ia rasakan?

” Oppa, sepertinya kita banyak memiliki kesamaan. Aku juga berharap kalau oppa adalah Minnie-ku yang dulu. Tapi berulang kali aku tepis perasaan itu. Karena aku tahu Sulli menyukaimu. Sampai sekarang, masih ada perasaan ingin itu.” Sunny pun ikut mengatakannya. Sungmin tersenyum.

” Bagaimana jika kau dan aku saling menganggap satu sama lain? Bukankah itu takkan menyiksa diri kita? Kau anggap aku Minnie-mu, aku anggap kau Sunsun-ku?” usul Sungmin. Sunny mengangguk senang.

” Baik. Mulai sekarang kau adalah Minnie oppa-ku, ya. Lagipula namamu benar-benar mirip dia.” kata Sunny senang. Sungmin tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Sunny, lalu mengelus pergelangan tangan Sunny lembut. Sunny tertegun. Ya Tuhan, apa sih maksudMu mengembalikan semua memori itu saat bersamanya?

:: FLASHBACK ::

          ON

Sunny POV

Aku melangkahkan kakiku menuju taman. Nafasku tersengal dan air mataku mengalir deras. Membanjiri pipi kanan dan kiriku. Ah, semoga saja ada Minnie oppa disana. Aku ingin bercerita.

Sesampainya ditaman, aku melihat Minnie oppa sedang memainkan bola basketnya dengan tenang. Saat aku mendekatinya, dia menoleh dan tersenyum padaku. Tapi langsung berubah bingung saat melihat air mataku yang banjir ini.

” Waeyo, Sunsun-ah?” tanyanya bingung. Aku menangis semakin keras. ” Sunsun-ah, sudahlah. Kau ini kenapa?”

” Kucingku. Kucing kesayanganku.” jawabku setengah-setengah. Ia tak sabar.

” Pearl? Apa yang terjadi, Sunsun-ah?” tanyanya lagi dengan nada tidak sabar.

” Huaaa. Tega sekali pengendara mobil itu! Dia menabrak Pearl yang sedang menyebrang. Pengendara mobil itu tidak mau berhenti dan melaju kencang. Lalu meninggalkan Pearl begitu saja.” seruku. Air mataku mengalir tambah deras.

” Uh-uh, aku tak bisa melakukan apa-apa, Sun. Hanya bisa menenangkanmu. Sudah. Jangan menangis lagi. Ini akan menenangkanmu. Begitulah nenek mengajariku.” kata Minnie oppa sambil mengusap lenganku dengan lembut. Aku tersenyum.

POV END

:: FLASHBACK ::

         OFF

Sunny tersenyum menerima perlakuan itu. Senang bercampur sedih. Ia rindu pada Minnie. Yeah, meskipun ia sudah menganggap Sungmin seperti itu, tetap saja Sungmin adalah Sungmin dan Minnie adalah Minnie. Jelas-jelas mereka orang yang berbeda.

TES

Sedikit air mata jatuh membasahi pipinya. Ia benar-benar ingin Minnie. Bukan. Bukan Minnie impiannya. Namun Minnie sesungguhnya. Minnie yang dulu selalu menghiburnya. Minnie yang dulu selalu menenangkannya. Sunny mau Minnie yang itu. Bukan Minnie yang ada dihadapannya saat ini! Ia mau Minnie yang dulu!!

” Kau menangis, eh? Waeyo? Aku menyakitimu?” tanya Sungmin yang melihat Sunny menangis. Sunny menggeleng. ” Lantas, apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Ceritakan saja.” tawar Sungmin.

” Hanya mengingat sedikit memori masa lalu. Selalu seperti ini jika aku ada didekatmu.” jelas Sunny sambil menghapus air matanya.

” Jadi, karena aku, ya?” Sungmin terlihat kecewa.

” E, eh. Bu, bukan gitu oppa. Tapi, caramu memperlakukan aku itu selalu mengingatkan aku pada Minnie.” kata Sunny pelan. Sungmin tersenyum. Mungkinkah aku Minnie-mu, Sunny?

***

Sampai rumah, sudah pukul 21.00. Membuat Sunny sangat lelah. Saat ia membuka pintu, ia mendapati Jaejin sedang nonton acara favoritnya. Sepak Bola. Jadilah ia diinterogasi oleh kakak tersayangnya itu.

” Darimana kau?” tanya Jaejin.

” Hehe. Aku habis mengantar temanku jalan-jalan, oppa. Dia baru di Seoul.” jawab Sunny. Jaejin menatapnya dengan tatapan menyelidik. ” Su, suer oppa!! Tanya saja pada Sulli! Dia ikut juga, kok!” Sunny membela diri.

” Awas kalau kau bohong! Sudah sana, tidur.” suruh Jaejin.

” Iya, iya. Lagi pula aku kan bukan anak kecil lagi yang akan dimarahi jika pulang jam segini. Huuh.” gerutu Sunny.

” Eh, kau mau melawan, ha?” ancam Jaejin. Sunny bergidik ngeri. Dengan cepat ia naik kekamarnya.

” Jaejin oppa!! Kau sangat menyebalkan!! Dasar orang tua!!” teriak Sunny diujung tangga. Jaejin yang mendengarnya langsung bersiap mengejar Sunny. Tapi Sunny sudah lebih dulu masuk kamar sambil tertawa-tawa.

Sementara itu, Sulli juga dalam posisi yang sama pada Sunny. Ia diinterogasi oleh Sooyoung dan Key.

” Kenapa baru pulang, eh? Aku menunggumu dari jam 7 tahu. Tak biasanya kau pergi tanpa pamit.” kata Sooyoung.

” Aish, aku bukan anak kecil lagi, eonni! Lagipula aku pergi mengantar temanku, kok. Dan aku pergi bersama Sunny. Tenang saja.” Sulli membela diri. Sooyoung memutar bola matanya.

” Tapi setidaknya kau kan bisa ijin dulu padaku!” kata Sooyoung.

” Huh, iya. Maaf deh. Lagipula juga aku tidak akan kabur. Jangan lebay ah, eonni. Kalau rindu padaku bilang saja.” Sulli bercanda. Sooyoung malah melotot.

” Sudahlah, chagiya. Lagipula menurutku alasannya masuk akal, kok.” kata Key membela Sulli.

” Nah, aku setuju sama Key oppa! Dia saja tahu, kok kalau aku takkan bohong. Masa kau kakak kandungku sendiri tidak percaya?!” seru Sulli senang. Sooyoung menghela napas kesal.

” Ah, pergi tidur sana!” suruh Sooyoung. Sulli menurut saja.

***

” Sunny, sepertinya otakmu tak berjalan dengan baik, ya.” ujar Sulli ketika mereka sedang jalan ditepi sungai Han. Ya, hari ini mereka tidak pergi ke kampus.

” Maksudmu? Aku bodoh, begitu?” tanya Sunny kesal. Apa-apaan sih, Sulli menanyakan hal ini?

” Bukan. Yang aku dengar dari Changmin, Sungmin oppa juga memiliki masa lalu yang sama sepertimu. Aku yakin kalau kalian berdua juga sudah sama-sama saling menceritakannya. Tapi kenapa kalian malah tidak menyadarinya.” gerutu Sulli.

” Ah, aku tak mengerti apa maksudmu, Sulli-ya!!” kata Sunny sebal.

” Kau, Sungmin oppa dan Minnie-mu itu. Apa kau tidak menyadari sesuatu, eh?” pancing Sulli.

” Menyadari apa? Kau ini. Bicara jangan setengah-setengah, dong!” kata Sunny.

” Aish, bagaimana kalau kau tunjukan gelang SM itu pada Sungmin oppa?” usul Sulli.

” Hah? Buat apa? Dia takkan ada hubungannya dengan gelang yang diberikan Minnie oppa padaku!” Sunny tertawa. Sulli merogoh tas Sunny dan menemukan gelang itu.

” Ini. Berikan padanya. Coba jalankan pikiranmu!!” suruh Sulli. Sunny menerima gelang itu dengan tatapan aneh. ” Cepat pergi! Kau mau bertemu dengan masa lalumu itu tidak, sih?!”

Sulli menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya itu tak kunjung bergerak. Sulli mengambil HP Sunny dan memencet nomer Sungmin dan mengiriminya pesan.

” Pergi sana! Oppa menunggumu di pantai tempatmu biasa menyendiri.” dorong Sulli. Sunny dengan bingung pergi ke pantai.

Sesampainya di pantai, Sunny duduk dan memandangi gelang pemberian Minnie. Ia jadi teringat masa lalunya. Bersama Minnie.

:: FLASHBACK ::

          ON

Sunny POV

Aku berlari kecil menuju taman tempat aku dan Minnie oppa bermain. Aku sudah berjanji akan memberikannya sesuatu hari ini. Ya, kemarin aku baru saja pulang berlibur. Saat membeli oleh-oleh, aku teringat dengannya. Jadilah aku membelikannya satu buah kalung berbandul SM. Inisial namaku dan namanya.

Tak kusangka, dia juga sudah menungguku dengan sebuah kotak ditangannya. Haha, aku ingin tahu apa isi kotak itu. Hadiah untukku kah? Semoga saja begitu.

” Hai, oppa! Sudah lama?” sapaku.

” Hai. Belum. Aku baru sampai. Euhm, kau berlari ya?” tanya Minnie oppa. Aku nyengir. ” Buat apa kau berlari? Jarak rumahmu dan taman ini kan dekat?”

” Iya. Tapi aku ingin cepat-cepat memberikanmu ini.” kataku sambil memberikan kalung yang aku beli. Dia menerimanya dengan senang hati. ” Mau aku pakaikan, oppa?” tawarku. Minnie oppa mengangguk. Akupun memakaikannya. ” Selesai! Dan, apa yang kau bawa?”

” Ah, ini. Ini untukmu. Sebuah gelang. Aku tak menyangka kalau bandul yang kita beli sama.” kata Minnie oppa sambil tertawa kecil.

” Iya. Aku juga tidak menyangka. Tapi, kapan kau akan memberikannya padaku?” tanyaku menyindir. Pasalnya daritadi ia hanya bicara tanpa mengulurkan tangannya.

” Eh iya, aku lupa.”

” Hmm, ini cantik. Aku suka. Neomu yeppeo.” pujiku. ” Gomawo, oppa.”

” Ne. Cheonmaneyo. Na do Gomawo.” katanya. Aku mengangguk.

POV END

:: FLASHBACK ::

         OFF

” Bisakah tidak senyum-senyum sendiri? Kau dilihat orang-orang tahu!” tegur Sungmin sambil duduk disamping Sunny.

” Lho? Sejak kapan oppa disini?” tanya Sunny kaget.

” Aish, kau. Aku disini sejak kau melamun dan senyum-senyum sendiri melihat gelang itu.” jawab Sungmin setengah mengomel.

” Jinjja? Hua. Kenapa kau tak segera menyadarkan aku sih? Pasti orang-orang mengira aku gila!” seru Sunny panik. Sungmin tertawa. ” Wae? Kau senang ya, melihat orang menderita?”

” Hei, siapa yang suruh kau melamun begitu? Ah, sudahlah. Kita bahas tentang kebodohan kita saja.”

” MWO?!! Kebodohan, KITA? Apa maksudmu?” tanya Sunny kesal. Tiba-tiba Sungmin memeluknya. Membuat Sunny terdiam. Hangat.

” Aku dan kau bodoh karena tidak sadar. Sepertinya aku dan kau terlalu sibuk dengan pikiran sendiri sehingga kita tak terlalu memperhatikan ucapan kita sendiri.” kata Sungmin.

” Apa sih, maksudmu?”

Sungmin mendekat dan menatap Sunny dalam. Ia menggenggam tangan Sunny erat. Sunny tak mengerti apa maksud Sungmin. Ia diam saja.

” Sun, kau bukan hanya sekedar Sunsun anggapanku saja. Tapi kau adalah Sunsunku yang sesungguhnya.” kata Sungmin.

” Nggak mungkin. Minnie-ku takkan pernah mengingat aku.” Sunny mengelak. Sungmin menggeleng.

” Nggak. Minnie-mu tidak akan pernah melupakanmu. Minnie-mu selalu ingat saat dia pertama kali bertemu denganmu. Saat kau menangis karena permen lolli mu jatuh,” Sungmin mengingatkan Sunny saat pertama kali ia bertemu dengan Minnie. ” Minnie-mu selalu ingat saat dia mengelus rambutmu untuk menenangkanmu. Saat kau menangis karena nilai ulanganmu jelek, saat kau ditipu Jaejin hyung, saat kau kalah bermain game, saat kau dimarahi eomma-mu,” Sunny mem-flashback semuanya. Benarkah? Benarkah dihadapannya itu Minnie? ” Minnie-mu juga selalu ingat saat kau tertawa dan menangis. Dia tak pernah melupakannya. Dan, ini. Kalung yang kau berikan. Gomawo. Gomawo untuk semuanya.” Sungmin mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kausnya.

” K, kau sungguh-sungguh Minnie-ku? K, kalung ini benar-benar dariku?” tanya Sunny bergetar. Sungmin mengangguk. ” BABO! Kenapa tak menyadarinya? Kenapa aku begitu bodoh?” umpat Sunny sambil menangis. Sungmin segera menariknya kedalam pelukan.

” Sudahlah. Tak usah kau tangisi. Kita sekarang sudah bertemu.” kata Sungmin. ” Changmin dengar dari Sulli, selama ini kau selalu menunggu aku? Menunggu keajaiban?”

” Huh, ya. Dan Sulli selalu menyuruh aku melupakannya.”

” Dan kau tidak melakukannya?”

” Untuk apa? Menambah beban! Memikirkan untuk melupakanmu saja sudah membuat aku bermasalah. Bagaimana jika aku berusaha melupakan kau? Mungkin aku sudah mati.”

” Oya? Toh, kau tak melakukannya, kan?” goda Sungmin.

” Kalau aku melakukannya, apa yang mau kau lakukan huh?” pancing Sunny.

” Entahlah. Mungkin kita takkan pernah bertemu. Ya, kan?” Sungmin menghela napas. Sunny tersenyum tipis.

” Ya sudahlah. Aku senang bertemu denganmu.”

” Ya, aku juga senang. Saranghae.” balas Sungmin sambil kembali memeluk Sunny.

” MWO!!! Apa kau bilang?”

” SARANGHAE, SUNSUN-AH!! JEONGMAL SARANGHAE!!” teriak Sungmin keras. Membuat semua yang ada dipantai itu menatapnya heran. Tapi ada juga yang tersenyum kagum.

Sunny tersenyum. ” NA DO SARANGHAEYO, MINNIE OPPA!! JEONGMAL SARANGHAE!!” Sunny balas berteriak dan terdengarlah suara riuh dari arah penonton. Ada yang bertepuk tangan, ada yang teriak-teriak heboh, dan lainnya.

” Uaaa!! Aku tertinggal!! Hei, aku ingin merekamnya!! Ulang!!” seru Sulli dari kejauhan.

” Haha! Salah siapa kau tak ikut aku!! Aku berhasil merekamnya! Dan kau tak boleh minta!!” seru Changmin yang baru saja keluar dari balik pohon.

” Aish! Aku juga tak sudi memintanya darimu!!”

” Yakin?”

” Eumh, AKU TIDAK BISA!! Kumohon Changmin-ssi!!” pinta Sulli sambil mengejar Changmin dan memeberikan Handycam-nya pada Sunny. Sunny langsung merekam kejadian itu.

” Kalau kau mau, jadilah pacarku!!” Changmin berlari dari kejaran Sulli. Sulli berhenti.

” ANDWE!!! Kau itu bodoh dan menyebalkan! Aku tidak mau pacaran denganmu!” tolak Sulli membuat semua penonton kecewa.

” Kalau begitu, aku takkan memberikannya padamu, babo!!”

” Aish!! Kau memang pintar mendapatkan apa yang kau mau!!” gerutu Sulli. ” SARANGHAE SHIM  CHANGMIN!!!” teriak Sulli kemudian.

” MWO?!! Apa kau serius? Aku tidak mau kalau kau hanya ingin mendapatkan video itu!!”

” ANDWE!! Aku serius, oppa!!”

” MWO?!! Oppa?!! Baiklah, baiklah. NA DO SARANGHAEYO, CHOI SULLI!!”

” HEI, APA PANTAS SEORANG YEOJA MENYATAKAN PERASAANNYA PADA NAMJA?!!” ledek Sunny masih merekam. Lalu memeluk Sungmin. Sulli tetap melanjutkan kejar-kejarannya dengan Changmin. Tak peduli dengan ucapan Sunny.

END OF STORIES

HBU? komen PLEASE!!

29 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s