It’s time. . .

It’s  time. . .

 

Rating: T

Length: Songfic

Genre: Romance

Main Cast:

  • Lee Eunsoo   : Member of After School and Orange Caramel. Born 1991.
  • Park Jungsoo  : Leader of Super Junior. Born 1983.

Side Cast:

  • Park Kahi

——————————————————————-

Hari ini adalah hari ulang tahun ketiga kami. Lee Eunsoo After School dan Super Junior Leader Park Jungsoo, pasangan idol yang telah tiga tahun backstreet dari dunia gosip. Oppa mengajakku untuk bertemu di sebuah taman hiburan. Ah, betapa sulitnya untuk seorang idol sepertiku pergi ke tempat seramai itu. Aku harus menyamar setengah mati agar tidak ketahuan orang-orang. Padahal, pasangan biasa pasti sudah sangat sering ke tempat ini, tapi untuk kami, ini adalah pertama kalinya untuk date di taman hiburan.

Aku melirik jam tangan putih di tangan kiriku. Sudah pukul delapan. Sesuai dengan jam janjian kami. Karena bukan weekend, taman hiburan tidak begitu ramai dan aku segera menuju ke biang lala tempat kami berdua janjian.

“Oppa, mianhae… Apa aku terlambat?” tanyaku.

“Ah, gwaenchanna,” ujarnya.

“Eh, Oppa. kenapa wahana ini begitu sepi? Wae?” tanyaku.

“Uhm… aku sudah menyewanya untuk mengurangi resiko,” jelasnya.

Gawat! Aku tak mampu mengendalikan perubahan warna pada wajahku. Tanpa sadar, aku tersenyum lebar karena bahagia. Ups!

“Gumawo, Oppa…”

Oppa hanya tersenyum kecil, “Gaja…” katanya sambil menggandengku menuju salah satu bianglala berwarna biru safir.

“Oppa, hari ini Oppa kelihatan serius sekali…”

“Eh—jeongmal?” tanyanya sedikit kikuk.

Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang mencairkan suasana. Memang, salama tiga tahun ini jarang sekali date kami berlangsung mesra seperti kebanyakan couple. Lebih sering kami menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menarik dan refreshing.

“Oia Oppa, ini.”

Aku mengulurkan kotak berisi sepasang cup cake bertuliskan “Happy” dan “3rd anniversary”.

Oppa tersenyum, “Ini untuk Eunsoo,” katanya sambil memberikan cup cake bertuliskan “Happy” untukku.

“Doanya adalah, selamanya aku ingin melihat Eunsoo tersenyum bahagia,” ucap oppa.

“Doaku untuk Oppa adalah, agar Oppa selalu mengingat memori hari jadi kita yang ketiga ini,” lanjutku.

Kami saling berpandangan dan melempar senyum. Oppa melantunkan lagu saengil chukka hamnida dengan merdu. Tidak seperti biasanya yang dinyanyikan dengan lagu trot. Entah mengapa, hari ini kami benar-benar seperti bukan Jungeun Couple (Jungsoo-Eunsoo).

“Ehm. Eunsoo… ada sesuatu yang harus kukatakan,” kata Oppa kemudian setelah kami menghabiskan cup cake itu.

“Ne?”

“Tahun 2012 ini, aku, Heechul dan Yesung hampir pasti akan berangkat wajib militer.”

“Jinca? Eonja?” tanyaku setengah kaget.

“Entahlah, semuanya tergantung kesepakatan dan kontrak,” jawabnya sedikit lesu.

Aku terdiam. Wajahku berubah pucat pasi.

“Karena itu…”

“Putuslah denganku.”

***

Aku menatap mata namja itu sekali lagi. Park Jungsoo, namja yang sudah  tiga tahun mengisi hari-hariku dengan kenangan manis setiap detik. Namun kini tak kumengerti kemana jalan hatinya akan berpihak. Park Jungsoo, kekasihku yang telah  tiga tahun ini memberikan setengah hatinya untuk dibagi bersamaku. Meskipun ditengah kesulitan yang harus kami emban sebagai idol. Bahkan untuk kali ini, aku tak mengerti jalan pikirannya. Untuk pertama kali.

“Aku akan menunggumu, Oppa,” pintaku.

Ia tak mampu menatap mataku yang hampir menumpahkan air mata, “Aku tak sanggup melihat Eunsoo menunggu selama itu. Kesibukan Eunsoo dan semuanya justru akan merenggangkan hubungan kita menjadi orang asing secara perlahan.”

“Tapi… aku belum punya keberanian untuk melepasmu, Oppa…”

Ia menghela napas. Kini tangannya merengkuh kedua tanganku yang mulai gemetar karena takut.

“Jaebal uljima… aku takkan mampu meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.”

“Aku… akan berhenti menjadi idol jika hanya itu yang bisa kulakukan. Oppa jaebal! Aku akan mengunjungimu setiap hari atau—bagaimanapun caranya agar ini bukan sebuah akhir.”

“It’s obviously not an end  Chagy, It’s just and and… Wajib militer kan dilakukan oleh semua namja di negeri ini. Tapi aku bahkan sudah lama menundanya. Tenanglah, kesibukan itu akan hilang bersama berlalunya waktu,” katanya sambil membelai kepalaku dengan lembut.

“Mungkin dengan break sementara ini, kita bisa lebih merasakan saling membutuhkan. Percayalah, ini bukan salah satu caraku untuk menghindar dari hubungan ini,” lanjutnya.

“Sungguh Oppa, kenapa kita harus berpisah? I don’t wanna loose you even for a glance. Bukankah selama ini kita juga tak memiliki banyak waktu untuk bersama?”

Aku tak sanggup lagi menahan air mata. Aku menangis, bukan karena tak mengerti jalan pikirannya, tapi karena aku tak ingin sedetikpun kehilangan jati diri sebagai yeojachingu seorang Super Junior Leader Park Jungsoo, meskipun hubungan kami hanyalah backstreet.

“Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika kita masih menjalin hubungan ini, aku khawatir akan banyak hal yang kita lalaikan sebagai pasangan,” jelas Oppa, dan aku masih tak mengerti.

“Apa Oppa ragu dengan kesetiaanku?”

Ia menatapku hangat dan tersenyum, “Kesetiaan Eunsoo adalah hadiah terindah selain detak jantungku yang kubagi setiap detiknya denganmu,” katanya sambil menghapus air mata di pipiku.

“Aku hanya ingin…”

“Bisakah untuk kali ini saja, dengarkan permohonanku? Tidak ada sedikitpun niatan untuk melepaskanmu begitu saja. Ini hanya masalah waktu.”

Aku terdiam agak lama. Oppa terlihat menahan air matanya yang hampir jatuh. Kuakui, ia memang namja yang perasa, tapi baru pertama kali ini kulihat ia menahan tangis dengan begitu kuat, seakan tak ingin aku melihat kesedihannya saat kami benar-benar harus berpisah.

Aku merengkuh kedua tangannya, “Bisakah kita membuat janji?”

“Janji?”

“Bahwa hari itu pasti ada. Dimana kita tak lagi berperan sebagai orang asing yang hanya saling menyapa. Dimana kita akan mengenang tiga tahun yang menyiksa ini sebagai kenangan masa lalu.”

Ia tersenyum, tanpa sengaja sebutir air matanya jatuh, “Janji.”

Aku mengulurkan kelingkingku, “Janji.”

Oppa megulurkan kelingkingnya dan kami membuat janji. Entah perasaan apa yang merayapiku kini, tapi sedikit ada perasaan lega karena akhirnya kami bisa menghindari perbedaan pendapat yang mungkin dapat memperburuk keadaan.

“Ini.”

Aku mengulurkan cincin hubungan kami yang telah kulilitkan pada sebuah kalung dan menjadi liontinnya, “Simpanlah ini, Oppa.”

Oppa menatapku, “Aku… harus menyimpannya?”

“Ne. Pada hari itu, ingatlah bahwa cincin itu telah menunggu untuk dikembalikan pada pemiliknya.”

“Dan saat itu, aku ingin memberikan cincin lain pada jari manismu,” gumam oppa pelan.

“Mwo?” tanyaku setengah kurang dengar.

“Ah.. aniya… baiklah, kusimpan cincin ini sebagai jaminan. Nanti, kalau Eunsoo menolak untuk pacaran lagi sama Eeteuk, cincin ini akan menangis karena gagal kembali pada pemiliknya.”

“Hmm… geurae… Tapi—bagaimana kalau Oppa yang nanti menolak kita balikan?” celetukku.

“Ini.”

Aku memandang sebuah kotak putih yang terbungkus pita, “Oppa sudah menyiapkan ini?”

“Umm… bisa dibilang begitu,” jawabnya ringan.

“Apa ini? Boleh kubuka?” tanyaku penasaran.

“Jangan! Bukalah setelah aku menghilang. Eunsoo boleh memainkannya hanya saat benar-benar sedih atau bahagia. Karena saat Eunsoo memainkannya, aku ingin menjadi orang yang bersamamu meskipun hanya lewat nada.

Aku masih tak mengerti, “Baiklah Oppa. Apapun permintaanmu, I’m your Genie.”

***

Kami mengakhiri hari itu dengan kata singkat, “Anyeong!” Entah mengapa, perasaan berkecamukku kali ini benar-benar semakin ringan saat melihat kotak putih berpita emas yang kupegang kini. Meskipun melihat sosok oppa yang kian menjauh membuatku merasa perih, namun ini adalah one step, one memory, dan hanya salah satu catatan kecil yang takkan mengubah hubunganku dengan oppa kelak.

Kuharap, dan kuyakin begitu.

Oppa, Eunsoo sekarang jomblo lagi. Jangan menyesal ya…

Tapi Eunsoo janji, setiap Eunsoo kangen Oppa, Eunsoo akan menulis jurnal. Biar Oppa bisa baca setelah selesai wamil nanti.

Aku melangkah. Kini sosok namja yang membagi hatinya denganku benar-benar menghilang dari pandangan. Hatiku berdegup kencang karena tak rela kehilangan detaknya pada jantung hati seorang Park Jungsoo.  Namun inilah waktunya, aku harus menguatkan diri dalam menunggu. Dan menjalani hidup yang harus tetap berjalan.

Sesampainya di dorm, aku mengurung diri di kamar. Kahi unni yang melihat keanehan gelagatku bertanya, “Ada apa dengan Mr. Park?”

“Kenapa unni bisa tahu kalau ini masalahku dengan oppa?” tanyaku bingung.

“Hmm… setidaknya aku punya beberapa pengalaman yang mirip denganmu saat ini,” jawabnya ringan.

“Jeongmal? Saat dengan…”

“Ah, sudahlah. Kita sedang membicarakanmu, bukan aku. Jadi… ingin bercerita?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan. Selama ini, karena Lizzy cukup sibuk dengan jadwalnya, aku diperlakukan seperti magnae di dorm After School. Karena itu, tidak sulit untukku yang seorang extrovert untuk membagi ceritaku ini dengan unni. Dan benar, tanpa kusadari aku bercerita sambil menangis sejadi-jadinya meskipun awalnya kupikir aku takkan menangis.

“Jadi… apakah kau akan membuka kotak itu?” tanya unni.

Aku memandang kotak itu, “Aku tak yakin, tapi sekarang perasaanku sedang sedih.”

“Kalau begitu, bukalah. Aku takkan mengganggu.”

Kahi unni segera meninggalkanku di kamar sendirian. Ditemani lampu meja yang temaram, aku membuka kotak putih itu perlahan.

Sebuah MP3 putih menyembul dari balik kotak itu. Di dalamnya ada surat dengan tulisan tangan oppa sendiri, ditulis dengan menggunakan tulisan tangan.

Kau tahu Eunsoo?

Satu hal yang paling kusesali seumur hidup adalah,

jika suatu saat aku menyesal atas keputusanku melepaskanmu.

Jika nanti hatimu tak lagi seperti hari ini.

Aku ingin selalu, dan selalu ada untukmu.

Bukan sebagai seorang humoris yang biasa Eunsoo kenal (dan membuat Eunsoo jatuh   cinta ^^)

Tapi sebagai seorang namja yang serius atas perkataan dan semua janjinya untuk Eunsoo.

 

–Hari jadi kita yang ketiga—

 

Teruntuk yang paling kurindu.

“Saranghae, Naui Eunsoo”

***

Dan tanpa terasa sepasang air mata jatuh membasahi pipiku.

Oppa, aku akan menunggu, bukan untuk menjemput hatimu.

Namun untuk memastikan, bahwa detak hatiku akan kubagi selamanya denganmu.

IT’S TIME

FIN

6 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s