Cold or shy.. boy? (Part 1)

Title : Cold or Shy… Boy? (Part 1)

 

Main Cast :

° Park Jiyeon (T-ARA)

° Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

 

Other Cast :

° Lee Taemin (SHINee)

° IU (Lee Ji Eun)

and others.

 

Genre : Romance

 

Rating : PG 15+

 

Length : Chaptered

 

Disclaimer : All cast is belong to themselves and God. But, the plot is mine ^^.

 

A/N : Ini FF pertamaku di blog ini. sekaligus FF kedua-ku. Jadi jangan heran ya kalau msh abal-abal XDD

Oh ya, satu lagi. FF ini CUMA FIKTIF BELAKA. Gak usah diambil serius ^^. Yaudah, Segitu aja bacotnya.

 

NO SIDERS! NO BASHING! AND HAPPY READING ^^

 

___

 Jiyeon POV

Hiks.. Ternyata kau sudah mempunyai yeoja lain ?? Jadi.. Selama ini, kau hanya memberikanku harapan atau apa ?? Aaah.. Aku benci !! Aku benci pada diriku sendiri !! Aku benci karena telah menyukai orang yang memberiku harapan kosong saja !!

 -Flashback-

Lagi-lagi aku melihat mereka berdua bergandengan seperti itu. Bahkan sekarang mereka telah mengumumkan kalau mereka telah berpacaran. Hatiku rasanya sangat sakit. Sangat sakit. Sampai-sampai aku harus menumpahkan airmataku untuk mereka.

“Jinjja? Kalian pacaran? Wah.. Chukkae !” bisa kudengar Minzy memberi selamat untuk mereka.

“Ahaha.. Ne,” kali ini Minho dan Suzy menyahut. Dari suara mereka, kedengaran sekali kalau mereka sangat senang. Aah.. Ini salahku juga. Aku yang tak memberitahu perasaanku terlebih dulu pada Minho. Jadi, dia direbut duluan oleh Suzy.

“Aah.. Kita harus merayakan ini semua, Suzy-ah. Bagaimana kalau kalian semua ku-traktir di kantin, sekarang juga ! Apa kalian mau ??” seru Minho.

“Ne !!” bisa kudengar itu suara Minzy, Kibum, Sohyun, dan Dongwoon.

Mereka tampaknya juga bahagia dengan jadinya Minho dan Suzy. Mungkin, hanya aku saja yang bersedih sekarang.

“Jiyeon-ah !”

Omo! Suzy memanggilku! Bagaimana ini? Aah.. Lebih baik ku pura-pura tidak mendengarnya saja.

Akhirnya kuputuskan untuk tetap menenggelamkan wajahku di dalam himpitan tanganku ini.

“Jiyeon-ah.. Kau tidak mau ikut bersama kami ?” kudengar suara langkah Suzy semakin mendekat ke arahku. Aigo! Jangan sampai ia menyadari kalau aku sedang menangis.

“Jangan ganggu dia. Dia sedang tidur,” suara ini.. Milik siapa?

Ku mendongakkan kepalaku. Park Sanghyun? Murid terdingin yang selama ini pernah ku kenal. Sekarang dia ada di sampingku. Tubuhnya yang tinggi itu membuat ku tak bisa melihat Suzy dan lainnya, mungkin juga sebaliknya. Apa dia melindungiku ??

“Sedang tidur ya? Padahal, kami baru saja mau mengajaknya makan bareng. Ya sudah.. Kalau begitu, apa kau mau ikut dengan kami ??” tanya Suzy pada Sanghyun, mungkin.

“Tidak, terima kasih.” Sanghyun menjawab dengan datar.

“Oh.. Kalau begitu, kami pergi dulu. Ayo, Minho.. Semuanya !”

“Kajja !”

Setelah itu, suara mereka tak terdengar lagi. Ku beranikan diri untuk menyapa orang yang ada di sampingku ini. Tapi belum sempat ku mengucapkan sepatah kata, ia sudah keburu pergi ke luar kelas.

Haah.. Padahal aku ingin berterima kasih padanya.

___

Ku menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi. Semuanya sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Dan mungkin tinggal aku saja yang ada di sini.

Sesampainya di luar, ternyata langit sudah gelap. Sepertinya akan hujan.

Tees.. Tees..

Itu kan.. Baru kubilang juga apa. Sudah mulai gerimis. Bagaimana ini? Mana aku tidak bawa payung lagi.

Aah.. Lebih baik aku berteduh di halte itu dulu sambil menunggu bis.

Ku berlari ke arah halte terdekat. Disana tak ada seorangpun, hanya aku.

Tees.. Tees..

15 menit aku terus berdiri di sini. Hanya mobil-mobil pribadi saja yang berlalu-lalang di depanku. Dan, tak ada satupun bis yang bisa kutumpangi !

Ck! Ottokhe-yo? Ini sudah terlalu larut. Kalau lebih lama lagi disini, bisa-bisa aku dimarahi eomma.

Lebih baik aku terobos saja hujan ini sampai kerumah. Iya, lebih baik aku lari saja.

Ku baru saja ingin berlari, tapi.. tiba-tiba badanku tertarik kembali ke belakang. Sepertinya ada yang menahan lenganku.

Ku menolehkan kepalaku, dan mendongakkan kepala-ku ke atas. Ternyata itu..

“Sanghyun-sshi ?” sejak kapan orang ini ada di belakangku. Dan, kenapa juga ia menahanku ?

“Kau mau kemana ?” tanyanya datar sambil melepaskan genggaman tangannya di lenganku.

“A-aku mau pulang. Kau.. Kenapa bisa ada disini ?” tanyaku.

“……”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menatapku lama, kemudian menyerahkan payung yang ada di tangannya padaku.

“Kalau kau mau pergi, pakai ini..”

“Ta-tapi bagaimana denganmu?”

“Aku akan menunggu bis datang. Kira-kira 2 jam lagi,”

“Mwo? Tapi itu sudah malam. Kau mau menunggu sampai malam disini ?” tanyaku tak percaya.

“Gwaenchana,” sahutnya kemudian mengalihkan wajahnya ke arah lain.

Ia rela pulang larut hanya karena meminjamkan payung-nya kepadaku. Tidak bisa.. Ini tidak bisa.

“Sanghyun-sshi, daripada begitu.. Bagaimana kalau kita pulang bareng saja ?” ajakku.

“Mwo ?”

“Ne. Kkaja,” ku langsung saja menarik tangannya. Kami menyusuri jalan yang sudah becek ini di bawah naungan payung milik Sanghyun. Dan pada saat di tengah perjalanan, aku baru menyadari kalau jarak kami sangat dekat. Dan, aku masih mengamit lengannya. Dengan perlahan ku melepaskan tanganku, dan sedikit menjauh darinya.

Tees.. Tees..

Aigo, bajuku basah. Ternyata setengah badanku sudah keluar dari naungan payung.

“Mendekatlah. Kau bisa basah,” ucap Sanghyun tanpa menatapku. Payung itu kini sudah kembali di genggamannya.

“Gwaenchana. Aku memang sudah basah. Hehe,” ucapku sambil tersenyum se-normal mungkin. Walau ku tahu, ia tak melihatku.

Greeb.

Sanghyun menarik dan mendekap tubuhku mendekat padanya. Ku mencoba melepaskannya, tapi ia semakin mempererat tangannya di pundakku.

“Percuma aku meminjamkan payung-ku kepada orang lain, kalau nyatanya orang itu tetap saja terguyur hujan,” ujarnya dingin.

Gleek. Ku langsung terdiam. Perkataanya benar-benar menyindirku.

“Ah.. Ne,” sahutku.

Setelah berdiam cukup lama, akhirnya aku berani menanyakan sesuatu padanya.

“Rumahmu dimana, Sanghyun-sshi ?” tanyaku.

“Seharusnya aku yang tanya. Rumahmu dimana ?” sergahnya cepat.

“Mwo? Untuk apa ?”

“Kau akan kuantar duluan,” ucapnya datar dan lagi-lagi tak menatapku.

“Rumahku sudah dekat kok. Habis ini, tinggal belok kiri aja,”

“Eum,” gumamnya.

Tak berapa lama akhirnya kami sampai di rumahku. Ia mengantarku sampai ke teras rumah.

“Gomawo, Sanghyun-sshi..” ucapku seraya mengembangkan senyum terbaikku.

“Ne,”

Dan setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi begitu saja.

“Gomawo!” teriakku lagi, sebelum ia benar-benar jauh. Tapi sepertinya ia tak mendengarnya. Walaupun dengar, mungkin ia akan hanya menghiraukannya saja.

Karena udara semakin dingin, ku langsung masuk ke dalam rumah. Ternyata appa dan umma belum pulang. Hanya ada Jung ahjumma, yang bekerja sebagai pembantu disini. Tapi, meskipun hanya pembantu ia sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.

Sesampainya di kamar, aku langsung mandi berendam air hangat. Dan setelah berganti baju, ku langsung duduk siap di meja belajarku.

Ku asal mengambil sebuah pensil dan secarik kertas.

Park Sanghyun. Dia sepertinya namja yang baik. Ia sudah melindungiku tadi di sekolah. Dan barusan, ia mengantarku pulang. Keke, ia seperti malaikat untukku. Yaah.. Walaupun agak dingin.

Mungkin kupanggil saja ia ‘Cold Goddes’.

Hahaha, lucu sekali.

Omo, apa ini? Aku tak sadar kalau aku daritadi menggambar sketsa. Sketsa wajah.. Sanghyun? Apa aku terlalu memikirkannya, sampai-sampai aku bisa menggambar wajahnya seperti ini ?

Haah.. Tapi kalau dilihat-lihat, ini lucu juga. Sebaiknya aku tempel di dinding saja.

Ku perhatikan sketsa wajahnya baik-baik.

Dag.. Dig.. Dug..

Omo, melihat gambar wajahmu saja aku sudah berdebar-debar seperti ini. Apa aku jatuh cinta padamu, Sanghyun? Sepertinya iya.

 -Flashback End-

Hiks.. Aku tidak bisa tahan kalau berdiri terus. Aku tidak bisa melihatmu bergandengan tangan seperti itu terus dengan, Krystal. Hiks.. Jahat.

Aku membalikkan tubuhku, pergi dari dalam kantin ini.

Tapi.. Tiba-tiba saja, bruuk! Aku menabrak seseorang, sampai aku terjatuh.

“Mianhae-yo,” ucapku sambil berdiri.

“Jiyeon ?”

Ku mendongakkan kepala. Aah.. Ternyata hanya sahabatku, Ji Eun.

“Jiyeon, waeyo? Neo gwaenchana-yo ?” tanya Ji Eun.

“Ne, Ji Eun. Aku baik-baik saja,” ucapku sambil tersenyum sebisa mungkin.

“Tapi kenapa kau menangis ?”

“Eh? Aku menangis? Aah.. Ahni-yo. Aku hanya kelilipan saja. Hehehe. Sudah dulu ya, aku mau ke kelas saja,” ucapku bohong kemudian langsung berlari ke arah kelas.

 Jiyeon POV End

 Author POV

Ji Eun hanya menatap bingung Jiyeon yang sedang berlari itu. Ia menangkap gelagat aneh pada sahabatnya itu. Dia sudah mengenal Jiyeon selama 5 tahun. Dan dia tahu sekali, bahwa tadi itu Jiyeon hanya berbohong.

“3 hari saja aku tidak sekolah, sudah terjadi hal aneh pada anak itu,” gumam Ji Eun.

Ia melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Pergi ke Kantin. Sebenarnya tadi, ia ingin menyusul Jiyeon yang sedang ada di

Kantin, untuk makan bersama. Tapi karena Jiyeon sudah pergi, dan juga perutnya sudah sangat lapar. Jadi, ia memutuskan untuk makan sendiri saja.

Tapi, baru saja ia memasuki ambang pintu.. Bruuk! Ia melakukan hal yang sama dengan Jiyeon tadi. Menabrak orang. Bahkan kali ini jidat mereka pun bertubrukan.

“Ya.. Lee Taemin! Hati-hati, dong. Ssh..” ringis Ji Eun sambil mengusap jidatnya yang memerah.

“Ne.. Mianhae, Ji Eun-sshi,” ucap Taemin sambil melakukan hal yang sama seperti Ji Eun.

“Eh, kau tahu Jiyeon kemana? Tadi, kulihat ia berdiri di pintu ini saja. Setelah itu, sudah tak ada lagi. Apa kau tahu ?” tanya Taemin.

“Mungkin ia sudah ada di kelas, sekarang. Waeyo, huh? Kau mau mengganggunya lagi ?”

“Hehehe.. Kau seperti tidak tahu saja kebiasaanku, Ji Eun-sshi. Sudah dulu ya, aku mau menyusul jagiya-ku dulu.. Kekeke..” cengir Taemin dan langsung melesat meninggalkan Ji Eun.

“Ya, Lee Taemin! Awas, kalau kau membuatnya kesal lagi. Akan kubuat sate, kau !” teriak Ji Eun. Tapi hanya dibalas gelak tawa oleh Taemin.

“Aish.. Dasar anak-anak,” desis Ji Eun kesal, kemudian masuk ke dalam kelas.

___

Sesampainya di kelas, Taemin langsung sumringah saat melihat Jiyeon yang sedang duduk sambil menutupi wajahnya dengan buku.

“Jagiya !!” teriak Taemin sambil duduk disamping Jiyeon.

“Jagiya.. Jiyeon-ah.. Gwaenchanayo ?” Taemin mengambil buku yang sedari tadi menutupi wajah Jiyeon.

Dan.. Terlihatlah wajah Jiyeon yang sudah berlinangan air mata. Matanya sembab dan sayu, bibirnya pun bergetar.

“Ya, Jiyeon-ah! Wae geurae? Ada apa denganmu ?” tanya Taemin panik.

Bukannya menjawab, Jiyeon malah memeluk tubuh Taemin.

“Hiks.. Taemin-ah.. Hiks.. Hiks..”

“Waeyo, Jiyeon-ah ?” tanya Taemin sambil membalas pelukan Jiyeon. Ia merasa iba sekaligus senang saat dipeluk Jiyeon. Iba, karena ia bisa merasakan kesedihan Jiyeon. Senang, karena baru kali itu ia dipeluk seorang Park Jiyeon.

“Hiks.. Taemin.. Apa kau tahu.. Aku menyukai seorang namja.. Tapi, namja itu.. Ternyata.. Ternyata.. Sudah memiliki yeojachingu.. Huwaaa !! Patah hati, aku Taemin.. Patah hati… !!” racau Jiyeon seraya memukul-mukul dada Taemin.

‘Aaw.. Sakit..’ batin Taemin.

“Ee.. Siapa suruh juga kau menyukai namja lain. Kau kan sudah punya aku,”

“Ya, Lee Taemin! Aku sedang tidak bercanda !” teriak Jiyeon seraya melepas pelukannya.

“Hehe.. Mianhae,”

‘Aku juga sedang tidak bercanda, Jiyeon-ah..’ batin Taemin.

Itulah Lee Taemin. Namja cantik ini adalah namja yang selalu mengejar seorang Park Jiyeon, sejak 2 tahun lalu. Tepatnya, saat mereka masih kelas 1 sma. Entah kenapa ia sangat menyukai Jiyeon, sampai ia selalu mengikutinya setiap hari. Sebenarnya 2 tahun lalu itu, Taemin pernah menyatakan cintanya pada Jiyeon. Tapi malang nasib Taemin, Jiyeon menolaknya. Namun, bukan Lee Taemin namanya kalau ia menyerah begitu saja. Malahan sejak hari itu, Taemin semakin mendekati Jiyeon. Ia bahkan selalu memanggil Jiyeon dengan sebutan, ‘Jagiya’. Awalnya, Jiyeon merasa terganggu. Tapi lama kelamaan, ia hanya bisa pasrah saja. Pikirnya, namja itu nanti akan lelah dengan sendirinya.

“Tapi, betul kan.. Jelas-jelas sudah ada namja ganteng yang selalu disampingmu, kau malah melirik namja lain..” ujar Taemin ke-pede-an.

“Haahh !! Tidak ada gunanya bicara denganmu, Lee Taemin !” teriak Jiyeon kemudian bangkit meninggalkan Taemin.

“Ya.. Ya! Jangan marah jagiya.. !!”

___

Yeoja itu baru saja memasuki halaman rumahnya. Entah kenapa kepalanya sangat sakit selama di sekolah tadi, dan sampai sekarang pun. Yang ada di pikirannya sekarang, ia harus segera pergi menemui ranjangnya. Apalagi, kalau bukan untuk tidur.

“Aku pulang..”

“Jiyeon-ah.. Sudah pulang ?”

Jiyeon kaget saat mendengar suara itu. Yang menyambutnya ternyata bukan Jung ahjumma, melainkan appa-nya sendiri.

“Appa? Tumben, appa pulang cepat..” ujar Jiyeon seraya mendekat ke arah appa-nya.

“Ne. Appa dan umma ada keperluan. Jadi kami buru-buru pulang. Tapi, sehabis itu, kami akan pergi lagi..”

“Pergi? Kemana?” tanya Jiyeon penasaran.

Baru saja appa Jiyeon ingin menjawab, tiba-tiba saja sudah ada suara yang mendahuluinya.

“Jiyeon-ah.. Tepat sekali kau datang nak..” suara itu ternyata berasal dari umma Jiyeon. Wanita paruh baya itu turun dari tangga, dengan membawa sebuah koper besar di tangannya.

“Umma.. Kalian mau kemana ?”

“Appa dan umma akan pergi selama seminggu di London untuk urusan pekerjaan, sayang..” sahut umma Jiyeon.

“Oh, pekerjaan ya..” ucap Jiyeon agak kecewa.

“Iya, sayang. Dan.. Kau juga harus ikut dengan kami,” ujar appa Jiyeon.

“Mwo? Aah.. Ahni-ya. Aku tidak mau, appa. Bagaimana dengan sekolahku nanti? Sehari saja tidak hadir, sudah banyak tugas yang menumpuk. Apalagi seminggu? Shirroe..” tolak Jiyeon mentah-mentah.

“Lalu kalau kau tidak mau ikut dengan appa dan umma, kau akan tinggal dengan siapa disimi ?” tanya appa Jiyeon.

“Dengan Jung ahjumma,”

“Jung ahjumma kan sedang pulang kampung ke rumahnya. Anaknya kan sedang sakit, sayang..” sahut eomma-nya lembut.

“Tapi, aku tak mau meninggalkan sekolahku, eomma. Ottokhe ?”

Eomma Jiyeon nampak tengah sedikit berfikir.

“Aah.. Bagaimana kalau kamu menginap saja dirumahnya teman eomma selama seminggu ini ?” tawar eomma Jiyeon.

“Teman eomma? Nugu ?” tanya Jiyeon.

“Kau tidak perlu tahu. Dia itu sahabat eomma, sejak SMP. Dan, dia juga sudah mengenalmu sayang. Bagaimana appa? Boleh kan ?”

“Yaah.. Terserah kamu saja. Yang penting, Jiyeon tak tinggal sendiri,” sahut appa-nya.

“Okeh. Lalu Jiyeon, kamu mau kan ?”

“Terserah eomma saja,” sahut Jiyeon malas.

“Baiklah. Kau siapkan dulu pakaianmu, Jiyeon. Eomma dan appa akan menunggumu di mobil,” ujar eomma Jiyeon.

Bergegas Jiyeon pun langsung membereskan pakaiannya, dan setelah itu mereka langsung melesat ke rumah yang dituju.

Di tengah perjalanan, eomma Jiyeon nampak sedang menelpon seseorang. Mungkin, sahabatnya itu.

15 menit, akhirnya mereka sampai ke rumah temannya eomma Jiyeon.

“Jiyeon, kau bisa turun sendiri saja kan? Eomma sudah sangat terlambat ke bandara. mian ya, sayang ? tapi, eomma sudah beritahu teman eomma kok kalau kamu akan datang,” ujar eomma-nya panjang lebar.

“Ne, eomma. Gwaenchana,” sahut Jiyeon seraya turun dari mobil.

“Bersenang-senanglah di situ ya, sayang. Eomma dan appa pergi dulu..” eomma dan appa Jiyeon melambaikan tangan dari dalam mobil.

“Ne. Appa dan eomma juga jaga kesehatan,”

sesaat setelah itu, mobil yang orangtuanya tumpangi langsung melesat meninggalkan Jiyeon yang masih berdiri kebingungan di depan itu.

Ia menghela nafas panjang.

“Huff.. Mudah-mudahan saja, orang yang di dalamnya, baik-baik semua..” gumam Jiyeon.

Ia mengetuk pintu rumah tersebut.

Tok.. Tok.. Tok..

Tak berapa lama, pintu rumah terbuka. Nampak seorang wanita di dalamnya.

“Kau pasti, Jiyeon ?” tanya ahjumma itu, ramah.

“N-ne,” sahut Jiyeon gelagapan.

“Sudah kuduga. Kau tidak berubah, Jiyeon-ah. Semenjak, terakhir kali ahjumma melihatmu. Hh.. Kau tetap cantik. Sama seperti ibumu. Ayo masuk,” ujar ahjumma tersebut, jujur.

“Ne. Gomawo, ahjumma.” balas Jiyeon sambil tersenyum canggung.

“Nah.. Jiyeon-ah, di lantai atas ada dua kamar. Dua-duanya, kamar anak ahjumma. Kebetulan, anak yeoja ahjumma sedang di luar negeri. Jadi, tempati saja kamarnya. Kamu mau kan ?”

“Ne, ahjumma. Diizinkan tinggal disini saja, aku sudah sangat berterima kasih..”

“Keurae. Sekarang kau naik saja ke atas, sayang. Beristirahatlah dulu. Ahjumma akan menyiapkan makan malam,” ujar ahjumma tersebut lembut, membuat Jiyeon sangat nyaman. Pikirnya, mungkin ia akan senang tinggal disini.

Baru saja Jiyeon ingin menaiki tangga, ahjumma tersebut sudah memanggilnya kembali.

“Jiyeon-ah,”

“Ne, ahjumma ?”

“Anggap saja rumah sendiri. Tidak perlu canggung. Kalau ada perlu, tinggal panggil saja ahjumma..”

Jiyeon hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian naik ke lantai atas.

‘Sepertinya dia cocok dengan putraku,’

Authhor POV End

___

 Jiyeon POV

“Aah.. Jiyeon babo !”

“Aku lupa menanyakan  kamar mana yang milik anak yeojanya ! Babo babo babo !” rutukku pada diriku sendiri. Memang, aku memang sangat bodoh! Di sisi kiri dan kananku, kini ada dua buah ruangan kamar. Yang salah satunya, untuk aku tiduri. Haah.. Tapi, aku lupa bertanya itu ruangan yang mana. Bertanya pada ahjumma.. Ah, tapi aku tak mau merepotkannya hanya gara-gara hal seperti ini. Lebih baik, kucari sendiri saja.

Heem.. Pintu yang pink atau coklat ya?

Aah.. Mungkin yang pink. Biasanya kan, yeoja suka yang berbau pink. Tapi, lebih kulihat dulu ruangan yang lainnya.

Cleek.. Cleek.. Pintunya terkunci. Aah.. Sudahlah, aku masuk saja ke kamar yang berpintu pink ini.

Cleek.

Huwaa.. Ruangannya bagus sekali. Dekorasinya tertata dengan baik. Haah.. Nampaknya aku akan benar-benar nyaman tidur disini.

Setelah meletakkan koperku di sudut ruangan, ku langsung saja menghempaskan tubuhku di atas ranjang.

“Capek sekali.. Lebih baik aku tidur dulu,”

Ku menyetel alarm di handphoneku, dan tak berapa lama ku langsung terbawa ke alam mimpi.

Sanghyun POV

“Aa, Krystal.. Aku pulang dulu, ya..” ujarku pada Krystal yang masih bergelayutan di lenganku.

“Yaah.. Sanghyun-ah.. Tapi, aku kan masih ingin bersamamu,” ujarnya manja.

“Tapi, eomma-ku sudah menyuruhku untuk pulang. Mianhae..” dustaku. Terpaksa, aku harus berbohong pada yeoja ini. Sungguh, aku sudah tidak tahan seperti ini. Masa karena ia diputuskan oleh pacarnya, sekarang aku yang menjadi tempat bermanja-manja oleh yeoja ini. Huaah, aku memang berniat untuk menghiburnya. Tapi, kalau sudah seperti ini aku tak mau lagi. Mana orang dikiranya, kami pacaran lagi. Aku kan sudah punya yeoja yang kusukai. Kalau yeoja yang ku suka itu melihatku dengan Krystal, bagaimana ?

“Keurae. Sana pergi saja !” rajuk Krystal.

“Mianhae, Krystal..” ucapku berusaha se-menyesal mungkin.

Ku langsung saja pergi ke arah parkiran. Menaiki motor-ku, dan langsung melesatkannya meninggalkan halaman sekolah ini. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah. Rasanya capek, seharian bersama yeoja itu.

5 menit kemudian, akhirnya sampai juga di rumah. Ku meletakkan motorku di dalam garasi, dan setelah itu langsung masuk ke dalam rumah.

“Eomma, aku pulang !” teriakku.

“Ne !” sahut eomma dari arah dapur. Mungkin, eomma-ku sedang memasak.

Sesampainya di depan kamar, ku merogoh saku dan membongkar tasku.

Loh? Dimana kunci kamarku? Aah.. Pasti tertinggal di loker sekolah! Aish..

Aku tidur di kamar noona saja, ah. Kebetulan kan noona sedang ada di luar negeri.

___

 Author POV

Sanghyun masuk ke dalam kamar noonanya. Tanpa melepas seragam, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dan tanpa melihat siapa yang ada di balik selimut, ia langsung terlelap dalam tidurnya.

___

Kedua manusia itu. Kedua manusia yang berbeda jenis. Namja dan yeoja. Berada dalam satu tempat. Mereka tengah menikmati tidur mereka yang lelap. Kehangatan dan pelukan yang mereka berikan masing-masing, menambah kenyamanan tidur mereka. Sampai semuanya terhenti, saat salah satu handphone milik mereka berbunyi.

Tiit.. Tiit.. Tiit.. Tiit..

Mereka berdua menggeliat malas dalam pembaringan mereka tersebut. Sampai salah satu dari mereka, menyadari kalau-ia-tak-sendiri di tempat itu.

“AAAAAAAAA……….. !!”

“Aaaa… !! Kamu kenapa ada disini !!?” teriak si yeoja panik.

“Semestinya aku yang tanya, kenapa kau ada disini !!?” sahut si namja tidak kalah panik.

Disaat mereka beradu dengan kepanikan mereka, tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ke kamar tersebut.

“Ada apa i-,” ucapan ahjumma tersebut terputus saat melihat dua orang remaja di depannya, yang juga menatap ahjumma itu antara bingung dan panik.

“Park Sanghyun !! Apa yang kau lakukan pada Jiyeon !?” ahjumma itu bergegas menghampiri mereka, dan langsung menjewer telinga Sanghyun-yang-notabene-adalah-putranya sendiri.

“A-a-aku tidak melakukan apa-apa, umma…. Sakit… !!” ringis Sanghyun.

“Tidak melakukan apa-apa, apanya? Jelas-jelas kau tidur di kamar noona-mu. Padahal disini kan sedang ada Jiyeon !” teriak umma Sanghyun yang emosi sekaligus kaget dengan hal ini.

Sedangkan Jiyeon hanya menatap miris melihat pemandangan yang ada di depannya.

“A-aku tidak ta-tahu kalau sedang ada orang disini.. Aku langsung tidur saat itu. Lagipula.. Aku tidak melakukan apa-apa padanya, kok eomma.. Pakaiannya saja masih lengkap. Aaaw !!” Sanghyun makin merintih kesakitan.

Eomma Sanghyun melirik Jiyeon yang ketakutan melihat tingkah eomma dan anak itu. Wanita tersebut melepas Sanghyun, dan mendekati Jiyeon.

“Jiyeon-ah, gwaenchana-yo? Apa Sanghyun melakukan sesuatu padamu ?” tanya eomma Sanghyun seraya memegang bahu Jiyeon.

“Ne, ahjumma. Gwaenchanayo. Heem.. Sepertinya tidak ada. Pakaianku juga masih lengkap kok,” ujar Jiyeon seraya tersenyum semanis mungkin.

“Mianhaeyo. Maafkan Sanghyun ya? Semestinya, ia tidak tidur di sini. Maafkan anak ahjumma, ya ?” pinta wanita itu.

“Ne, ahjumma. Gwaenchana..”

“Gomawo ya, sayang. Heh, Park Sanghyun! Sekarang kau yang minta maaf langsung padanya !” teriak eomma Sanghyun sambil melirik tajam ke arah namja itu.

“Mwo? Naega?” kaget Sanghyun.

“Ne. Siapa lagi ?”

Sanghyun menghela nafas kecil. Dengan wajah datarnya, ia meminta maaf.

“Mianhamnida, Jiyeon-sshi,” ucapnya sambil sedikit membungkukkan badan.

“Ne. Gwaenchana Sanghyun-sshi,”

“Haah.. Sekarang masalahnya sudah selesai. Makan malam sudah hampir siap. 15 menit lagi, kalian turun ya..” ujar eomma Sanghyun seraya keluar dari kamar, diikuti pula oleh Sanghyun. Sementara Jiyeon, ia masih saja terduduk di ranjang itu.

‘Aigo! Ternyata Sanghyun juga tinggal disini ?? My Cold Goddes ? Aah.. Apa yang baru saja kau katakan tadi, Park Jiyeon? Dia bukan punyamu. Dia itu milik Krystal ! Jadi, kau sudah tak ada harapan lagi. Berharap pada namja yang hanya memberimu harapn kosong saja? Aakh.. Menyebalkan sekali! Menyebalkan sekali, melihat raut wajahnya yang selalu datar dan dingin padaku itu. Apa dia tak ada ekspresi lain, yang bisa ia tunjukkan padaku? Dasar namja menyebalkan! Mulai sekarang akan kuganti julukannya. Bukan Cold Goddes lagi, melainkan Cold Devil! Aish..’ cerca Jiyeon. Entah kenapa, ia menjadi benci bila melihat wajah Sanghyun, sejak melihat namja itu bersama Krystal. Apakah dia cemburu, atau apa? Entahlah, hanya yeoja itu yang tahu.

___

Appa Sanghyun sudah pulang dari kantornya. Dan sekarang, mereka berempat, Appa dan eomma Sanghyun-Sanghyun-dan Jiyeon, tengah menikmati makan malam mereka.

“Jadi kau Jiyeon, anak Yoochun dan Ga In itu? Wah.. Neomu yeppeo. Seperti umma-mu,” puji appa Sanghyun yang bernama Jungsu itu, kepada Jiyeon.

Jiyeon yang pipinya sudah merah itu, hanya bisa berterima kasih.

“Ne, ahjussi. Gomawo..”

“Aish, Jungsu !” tiba-tiba saja eomma Sanghyun mencubit perut suaminya. Mungkin ia cemburu. Karena hanya sahabat, dan anak sahabatnya saja yang dibilang cantik.

“Aw !! Ne, ne.. Kau juga cantik. Bahkan lebih cantik, dari mereka Taeyeon-ah..” bujuk Jungsu, pada istrinya, Kim Taeyeon, yang masih terlihat cemberut.

Jiyeon menatap aneh pada dua orangtua itu. Sedangkan Sanghyun, dia rasanya ingin muntah.

“Aish, appa dan umma, hentikan !! Kalian tak malu apa dilihat orang lain ??” bentak Sanghyun.

Jungsu dan Taeyeon menghentikan kegiatan mereka. Mereka menatap Jiyeon yang langsung mengalihkan pandangannya.

“Mianhae. Haha,” tawa Jungsu appa, garing.

“Err, iya. Ah.. yeobo, bolehkan Jiyeon tinggal disini? Eomma-nya menitipkannya padaku,” pinta Taeyeon eomma.

“Tinggal disini? Tentu saja, boleh. Supaya tambah ramai. Semenjak Dara pergi ke Amerika, rasanya rumah ini sunyi sekali. Karena, sudah tak ada lagi yang memarahi dan memukuli Sanghyun,”

“Hmmphh..” Jiyeon hampir saja memuncratkan makanannya, saat Jungsu mengatakan itu. Tapi, untunglah bisa ditahannya.

“Aish, appa. Jangan sembarangan ngomong dong,” keluh Sanghyun kesal.

“Ah.. Ne Ne. Appa mengerti. Kau tidak ingin kartumu dibuka, di depan yeoja cantik seperti Jiyeon kan? Haha.. Arraseo, arraseo..” ujar Jungsu yang semakin membuat wajah Sanghyun semakin kesal.

“Appa, jangan buat Sanghyun tambah kesal. Sudahlah, sekarang lanjutkan saja makannya,” ujar Taeyeon eomma. Dan mereka pun melanjutkan makan, malam itu.

___

Sanghyun POV

Aish.. Gara-gara kunci tertinggal saja, sekarang aku harus tidur di luar. Di ruang tengah. Ck! Mulai besok, aku tidak akan mengunci kamarku lagi.

Sambil merapatkan selimut yang menyelimuti tubuhku, ku mengganti-ganti channel tv yang ada di depanku dengan malas. Ck! Apa tidak ada acara yang bagus tengah malam begini?

Hoaam.. Ngantuk sekali. Lebih baik aku tidur saja.

Ku baru saja ingin merebahkan tubuhku. Sampai sesuatu yang turun dari tangga, mengalihkan pandanganku.

___

Author POV

Jiyeon terbangun dari tidurnya. Ia melirik ke arah jam weker di sebelah ranjangnya.

“Baru jam 12 ?”

Ia meletakkan kembali jam weker tersebut.

“Haus…” gumamnya. Yeoja cantik itu turun dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar.

Tapi saat menuruni tangga, betapa kagetnya ia saat melihat Sanghyun sedang ada di bawah. Memandanginya pula. Tapi, Jiyeon berusaha untuk setenang mungkin. Dan malah memasang wajah datarnya. Tanpa mimik sedikitpun.

Ia balas menatap Sanghyun dengan pandangan dinginnya. Begitu pula dengan Sanghyun. Mereka seperti ingin berperang saja.

“Waeyo, huh?” gertak Jiyeon.

“A-ahniyo,” sahut Sanghyun gelagapan

“Sshh..” desis Jiyeon pelan.

Ia kembali melanjutkan perjalanannya ke dapur, mengambil air minum, dan kembali ke dapur tanpa melirik ke arah Sanghyun sedikitpun.

___

 Sanghyun POV

Aigo.. Itu kan Jiyeon? Ia memakai piyama pink yang lucu. Aigo.. Neomu aegyo ><.

Ku memandanginya. Dan saat ia balas menatapku,

Deeg…!!

Omo.. Seperti ini lagi. Selalu saja seperti ini kalau ada yeoja itu disekitarku.

Keringat dingin mulai turun dari pelipisku. Tapi untunglah, ruangan ini tidak terlalu terang. Hanya ada cahaya dari layar tv. Jadi, Jiyeon tak mungkin melihat wajahku yang sudah basah akan keringat ini.

Tapi, sepertinya pandangan yeoja ini lain. Tatatapannya dingin. Tak seperti yang kulihat tempo hari. Saat kami

pulang bersama. Ada apa dengan dia?

“Waeyo, huh?” bentaknya tiba-tiba.

“A-ahniyo,” sahutku yang kaget.

Setelah itu, langsung pergi ke dapur. Dan kembali tanpa melirikku sedikitpun.

Ada apa dengan yeoja itu? Apa dia marah, gara-gara kejadian tadi siang? Tapi aku kan sudah minta maaf. Lagipula ia juga sudah bilang, tidak apa-apa. Aah.. Mollaseo. Haah.. Yeoja itu memang selalu bisa membuatku bahagia juga penasaran, sejak kami sekelas 10 bulan yang lalu.

 -Flashback-

Hari ini adalah hari pertama sekolah lagi. Saat ini aku sudah duduk di kelas 3 SMA.

Sekarang aku tengah berada dalam kelas.

Karena belum ada guru, kelas ini ribut sekali. Ada para yeoja yang tengah bersolek dan bergosip ria, ada yang sedang memalak, ada juga yang tengah berciuman di sudut kelas. Hh.. Apa tidak ada yang lebih buruk lagi di kelas ini?

“Hai,”

ku mendongakkan kepalaku ke atas. Seorang namja dengan rambut pirangnya tengah tersenyum padaku.

“Hai,” balasku.

“Boleh ku duduk disampingmu ?” tanyanya seraya melirik kursi kosong di sebelahku.

“Boleh,”

“Gomawo,” ujarnya sambil duduk.

Ku hanya tersenyum menanggapinya.

“Oh, iya. Kenalkan, aku Kim Kibum. Tapi panggil saja, Key.” ujarnya sambil menjulurkan tangannya padaku.

“Sanghyun. Park Sanghyun,” sahutku seraya mengamit tangannya.

Ia tersenyum sambil melepaskan tangannya. Ia mengeluarkan sebuah komik dari tas-nya dan memakan sebuah permen karet.

Kemudian dia hanya diam saja sambil membaca komiknya.

Ternyata ada juga yang normal di kelas ini, pikirku.

“Hai, Key~” belum beberapa detik ku mengalihkan pandanganku dari namja itu, beberapa orang yeoja ternyata tengah menghampirinya.

“Hai, Key… Tidak kusangka ternyata kita sekelas lagi,” kata seorang yeoja sambil duduk di meja Key.

“Ne, jagi…” balas Key sambil membelai rambut yeoja itu.

“Aku juga kangen padamu, Key..” ujar yeoja yang lain. Kali ini, yeoja itu duduk di pangkuan Key.

“Ahaha.. Aku juga. Bagaimana kalau kita lanjutkan di tempat biasa saja ?” ujar Key.

“Kkaja !” Key dan dua yeoja itu pun keluar dari kelas. Haah.. Ternyata namja itu sama saja dengan semua yang di kelas ini.

___

Ring ding dong..

Semua murid dan telah berkumpul di dalam kelas, untuk menerima pelajaran di  tahun ajaran yang baru ini. Termasuk si Key itu. Nampak beberapa bekas lipstic yang telah pudar di lehernya. Dan bila kulihat, ia hanya nyengir saja.

“Selamat pagi anak-anak. Selamat datang di kelas 3-B. Dan saya, adalah wali kelas kalian untuk tahun ini,” ujar Han songsaenim. Wali kelasku ini terlihat masih muda dan cantik. Tapi, masih lebih cantikan umma-ku.

“Sekarang giliran kalian memperkenalkan diri kami masing-masing,”

Satu persatu mulai memperkenalkan diri mereka. Dan sesudah itu, pelajaran pun dimulai.

30 menit berlalu, pintu kelas tiba-tiba ada yang mengetuk. Han songsaenim membukanya.

“Kau, di kelas ini ?” tanya songsaenim.

“Ne, songsaenim..” terdengar sahutan seorang yeoja.

“Kenapa kau terlambat? Sudah tahu ini hari pertama sekolah. Kau tidak boleh masuk sampai pelajaran songsaenim selesai,”

“Mwo? Aah.. Tadi aku terlambat bangun, songsaenim. Tolonglah, sam. Izinkan aku masuk. Aku tidak mau ketinggalan satu jam pelajaran-pun. Ayolah songsaenim.. Izinkan aku masuk.. Jebal..” yeoja itu kedengaran memohon pada songsaenim. Dan, entah raut wajah seperti apa yang ia tunjukkan pada songsaenim, sehingga songsaenim mengizinkannya masuk. Karena aku pun belum bisa melihat wajah yeoja itu.

“Jinjja? Aah.. Gamsahamnida songsaenim,”

Songsaenim dan murid itu pun, masuk ke dalam kelas.

Aigo.. Yeoja itu cantik sekali. Neomu yeppeoda. Dan.. Entah ini hanya perasaanku atau yeoja ini benar-benar cantik. Murid namja di kelas ini juga memandanginya, kagum.

“Sekarang perkenalkan dulu dirimu,”

“A-a, ne.. Songsaenim.”

“Annyeong haseyo, chingudeul. Cheonun Park Jiyeon imnida. Aku dari kelas 2-A. Beberapa dari kalian mungkin sudah mengenalku. Dan untuk yang belum mengenalku, semoga kita bisa berteman dengan baik. Gamsahamnida,” ujarnya diakhiri dengan sebuah senyuman yang manis.  Aigo.. She’s really a cute girl !

“Nah, Jiyeon. Sekarang kamu boleh duduk di tempat yang kosong,”

“Ne, sam.”

Jiyeon menuju ke salah satu meja di belakang kelas, dan duduk bersama salah satu siswi yang kuingat-ingat bernama Ji Eun.

Aah.. Manis sekali yeoja itu. Matanya, bibirnya, dan rambut panjang coklatnya benar-benar indah. Kurasa aku mulai menyukai yeoja itu. Love at the first sight? Mungkin.

Mungkin ia menyadari kalau sedang diperhatikan orang, Ia mengalihkan tatapannya ke arahku. Ia tersenyum padaku.

Dan..

Deeg !

Aah.. Lagi-lagi seperti ini. Kenapa harus seperti ini lagi ??

Tak terasa setetes keringat dingin mulai membasahi pelipisku.

Ayolah Park Sanghyun.. Balas senyumannya..

Ku mencoba menarik sudut bibirku. Tapi, haah.. Tak bisa. Ayo, Sanghyun.. Jangan biarkan rasa gugupmu mengalahkanmu..

Entah sudah seperti apa raut wajahku sekarang, sehingga membuat Jiyeon mengerutkan dahinya seraya tersenyum masam. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

Aigo.. Kau gagal Park Sanghyun !!

“Ya. Tadi si Jiyeon yang cantik itu tengah tersenyum padamu, kan ?? Tapi kenapa kau malah menatap dingin padanya ?? Haha.. Kau ini,” ujar Key.

Ku terhenyak. Benarkah ?? Aah.. Aku benar-benar sudah melewatkan kesempatan.

 Sanghyun POV End

 -Flashback End-

___

Author POV

Pagi itu keluarga tuan Park Jungsu ditambah Jiyeon, tengah sarapan pagi bersama. Mereka menyantap roti bakar buatan Ny. Taeyeon dengan tenang.

“Umma, appa. Aku sudah selesai. Aku pergi dulu ya,” Sanghyun bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari rumah.

“Yaya.. Tunggu dulu, Sanghyun. Sekalian antarkan Jiyeon juga. Kalian kan satu sekolahan..” suruh Taeyeon umma.

Sanghyun menganga, sedangkan Jiyeon memuncratkan susunya saking kagetnya.

“Mian-mianhaeyo,” sesal Jiyeon sambil membersihkan bekas susunya.

“A-ahjumma.. Sepertinya hal itu tidak perlu. Aku, bisa kok naik bus sendiri..” ucap Jiyeon seperti menghindari sesuatu.

“Itu tidak perlu Jiyeon-ah. Lebih baik kau simpan saja uangmu. Kalau disini ada ojek gratis, buat apa kau harus naik bis ??” celetuk Jungsu appa.

“Keke.. Iya, Jiyeon-ah. Sudah sana, kalian berdua pergi saja,” ujar Taeyeon umma.

Dengan terpaksa Jiyeon pun berdiri dan mengikuti Sanghyun yang sudah berjalan duluan. Tetapi sebelum itu, ia sempat meminta izin terlebih dahulu pada kedua orangtua itu.

Jiyeon memperhatikan Sanghyun yang tengah mengeluarkan motornya dari dalam garasi.

“Kau ingin naik atau hanya berdiri di situ saja ?” tanya Sanghyun datar. Namun sebenarnya di dalam hatinya, tengah ada perasaan senang yang bergejolak dan rasa gugup yang berlebihan. Tapi sayangnya, hal itu tidak bisa dinampakkan dari wajah dan perkataannya.

Jiyeon mendekat ke arah Sanghyun dengan bersungut-sungut. Sampai saat ini, Jiyeon belum bisa melupakan kekesalannya pada namja tampan di depannya itu. Kekesalan yang tak pernah Sanghyun buat dan tahu.

“Helm-nya cuma satu,” ucap Sanghyun tanpa menatap Jiyeon.

“Lalu ?”

“Lalu kau pakai apa ??” Sanghyun mengalahkan rasa gugupnya, dan berhasil menatap Jiyeon. Namun lagi-lagi yang muncul hanya wajah datarnya lagi. Jiyeon yang melihatnya pun, jadi bete dengan sendirinya.

“Kalau begitu, kau saja yang pakai..” sahut Jiyeon sekenanya.

“Tidak bisa. Lebih baik kau saja yang pakai,” kata Sanghyun dan langsung saja memakaikan helm berkaca hitam transparan itu di kepala Jiyeon.

‘Haah.. Dengan begini, aku tak bisa menatap matanya langsung..’ batin Sanghyun.

“Tidak perlu..” Jiyeon baru saja ingin melepas kembali helm tersebut, tapi langsung ditahan oleh Sanghyun.

“Jangan. Aku tahu sifat seorang yeoja. Mereka paling tak suka kalau rambutnya berantakan, saat naik motor. Nah, lebih baik kau saja yang pakai..” ujar Sanghyun yang kali ini hatinya sudah mulai tenang.

Jiyeon hanya diam dan menuruti perkataan Sanghyun.

“Kkaja,” ajak Sanghyun, dan Jiyeon pun duduk di belakangnya.

“Jangan ngebut. Aku tidak mau memelukmu,” kata Jiyeon.

“Ne..” balas Sanghyun kemudian langsung melesatkan motornya ke sekolah.

Author POV End

___

Someone POV

 

Jepreet..

Aah.. Ternyata tempat tinggal barumu disini ??

Untung saja kemarin aku berhasil mengikutimu. Kalau tidak bisa-bisa aku tak melihat dan memotretmu pagi ini.

Tapi, siapa namja itu ?? Apa dia pacarmu, lagi ?? Aah.. Kenapa Park Jiyeon ?? Kenapa kau itu selalu dekat dengan para namja ?? Asal kau tahu.. Hanya aku yang bisa bersamamu nantinya.

Tunggu saja. Sampai nanti aku muncul, aku akan benar-benar membuatmu menjadi milikku. Dan.. Tak ada satu namja pun yang bisa untuk mendekatimu lagi. Kecuali, aku.

To Be Continued..

Akhirnya.. Jadi juga part 1.

Gimana gaje kan ??

Maklum.. Namanya juga author gaje.. Jadi FF-nya juga gajee XDD

Sekedar pemberitahuan, nantinya FF ini bakal dipost seminggu sekali ^^

 

Coment yaa.. Kalau bisa like sih.. Hehehe xDD

 

SEE YOU~

36 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s