Cold or shy… boy? (Part 2)

Title : Cold or Shy… Boy? (Part 2)

Main Cast :

° Park Jiyeon (T-ARA)

° Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Other Cast :

° Lee Taemin (SHINee)

° Lee Ji Eun (IU)

and others.

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : All cast is belong to themselves and God. But, the plot is mine ^^.

A/N : FF ini CUMA FIKTIF BELAKA. Gak usah diambil serius ^^.

NO SIDERS! NO BASHING! AND HAPPY READING ^^

___

Author POV

Jiyeon dan Sanghyun baru saja sampai di sekolah. Namun baru saja mereka turun, beberapa orang sudah memperhatikan mereka.

“Ya.. Ya.. Itu kan Park Sanghyun,”

“Sanghyun? Yang ganteng, tapi sok dingin itu ?”

“Ne. Ada hubungan apa dia dengan si Jiyeon,”

“Mollaseo. Mungkin mereka pacaran,”

Jiyeon yang menyadari tatapan orang-orang itu, hanya mengangin-lalukan mereka. Karena tipe orangnya yang cuek.

“Ini helm-mu. Gomawo,” ucap Jiyeon dan langsung pergi meninggalkan Sanghyun.

Setelah Jiyeon pergi, yang Sanghyun lakukan adalah mengelus-ngelus dadanya sambil sesekali mengatur nafas.

“Hh.. Untuk kesekian kalinya, aku hampir saja mati muda tadi !”

___

“Heh.. Tadi katanya kau pergi sekolah bareng Sanghyun? Ada hubungan apa kalian berdua? Kalian pacaran?” pertanyaan Ji Eun atau lebih bisa disebut interogasi itu, membuat Jiyeon tersedak dari minumnya.

“Apaan sih? Dapat gosip gak jelas darimana kamu ?”

“Kamu kira gak banyak yang ngeliat kalian tadi? Jadi itu bener ya?”

“Ahni,” sahut Jiyeon singkat.

“Jangan bohong..”

“Aku gak bohong. Ceritanya itu panjang..”

“Apa? Ayo ceritakan saja padaku..”

Jiyeon pun mulai menceritakan semua pada sahabatnya, si Ji Eun itu. Sedetil-detilnya. Mulai dari ia sampai di rumah Sanghyun, sampai kejadian tadi pagi.

“Oh, gitu ya? Trus, kamu gak hamil abis tidur sama Sanghyun?” celetuk Ji Eun polos sambil memegang perut Jiyeon.

“Iih.. Apaan sih, Ji Eun! Aku gak ngapa-ngapain.. !!” teriak Jiyeon seraya menepis tangan Ji Eun, yang membuat orang-orang di kantin itu menatap mereka.

“Ya udah.. Kalau memang tidak, gak usah teriak juga kali.. Berisik tahu..” ucap Ji Eun santai sambil menyeruput milkshake-nya.

“Mwo? Aku teriak juga karena kamu tahu! Hh.. Nyebelin !” geram Jiyeon. Terkadang ia bingung dengan sikap Ji Eun. Di sisi lain Ji Eun bisa menjadi sahabat yang tegas dan dewasa. Tapi di sisi lain, yeoja itu juga bisa menjadi orang paling menyebalkan sedunia.

“Jagiya..”

“Ya, Taemin ! Sejak kapan kamu ada disitu ??” Jiyeon kaget dengan kedatangan Taemin yang tiba-tiba.

“Dari tadi. Cuma aku ngumpet-ngumpet aja di belakang kamu. Untungnya kalian berdua gag tahu,” sahut Taemin polos.

Jiyeon melengos kesal.

“Eh jagiya.. Sebentar kita nonton bareng yuk,” pinta Taemin sambil menunjukkan aegyo-nya.

“Males aah.. Bete,” Jiyeon menidurkan kepalanya di atas meja kantin.

“Memang film-nya apa ?”

Ji Eun yang dari tadi diam, ikut menimpali pembicaraan Jiyeon dan Taemin.

“Itu.. film baru. ‘Spongebob Adventure’!” seru Taemin dengan riangnya.

Mendengar kata Spongebob, Jiyeon langsung saja mengangkat kepalanya kembali.

“Jinjja-yo? Spongebob? Aaa.. Taemin! Aku mau! Aku mau!” pekik Jiyeon.

“Ne. Jinjja? Kau mau pergi denganku? Asik.. !” Taemin dan Jiyeon pun berseru riang di meja itu, seperti melupakan Ji Eun yang masih di tempat mereka.

“Aish! Childish..” gumam Ji Eun.

___

Ring ding dong… Bunyi bel tanda waktu pulang berdentang. Seluruh siswa di sekolah itu buru-buru membereskan peralatan mereka untuk segera pulang.

“Ji Eun !” seru seseorang dari arah pintu.

“Aigo! Youngie oppa ? Cepat sekali..” Ji Eun kaget dengan kehadiran namjachingunya-Wooyoung-yang terbilang begitu cepat. Padahal bunyi bel pulang baru 1 menit yang lalu dan jarak kelas mereka yang bisa dibilang cukup jauh.

“Jiyeon-ah, kau bisa pulang sendiri ? Aku mau menemani Youngie oppa ke toko buku hari ini,” ujar Ji Eun.

“Iya, iya. Kalian pergi saja. Tahu deh, orang yang udah pacaran..” rengut Jiyeon.

“Menyebalkan !” gumamnya lagi.

“Ya! Apa kau bilang ?” hardik Ji Eun.

“Ahni-yo, ahni-yo Ji Eun yang cantik.. Lebih baik kau pergi saja. Youngie oppa udah nunggu tuh..” Jiyeon mendorong-dorong Ji Eun ke arah pintu.

Jiyeon menghembuskan nafasnya lega. Hampir saja ia mendapat serangan dari seorang Lee Ji Eun.

Saat Ji Eun keluar, tanpa disadari kelas itu sudah mulai sepi. Hanya ada Jiyeon dan Sanghyun saja. Menyadari hal itu, Jiyeon langsung saja buru-buru ke mejanya untuk mengambil tas miliknya. Namun saat ia akan keluar kelas, tiba-tiba saja ia dihadang oleh Sanghyun yang kebetulan mejanya berada di depan kelas.

“Jiyeon-sshi..” panggil Sanghyun.

Jiyeon menoleh ke arah namja tersebut. “Wae?”

“Mau pulang bersamaku ?” tanya Sanghyun lagi-lagi dengan tatapan ice-nya. Bibirnya sedikit bergetar karena gugup.

“Mwo? Pulang? Bersamamu?” pekik Jiyeon.

Ia bingung. Rasa kekesalannya pada namja itu kini sudah menghilang. Entah apa sebabnya. Mungkin karena namja itu kali ini mengajaknya secara langsung. Bukan seperti tadi pagi. Di kepalanya juga terlintas ketika pertama kalinya, ia merasa Sanghyun melindunginya. Dan ketika, Sanghyun meminjamkan payung miliknya. Hal itu membuat Jiyeon secara langsung melupakan kekesalannya.

Ia ingin sekali berkata ‘iya’. Tapi ia khawatir, nantinya akan berharap terlalu tinggi. Dan malah jatuh seperti kemarin-kemarin.

“Aa.. Eum.. Aku-,”

“Sanghyunnie !” belum selesai Jiyeon bicara, tiba-tiba sudah ada yang memotong perkataannya.

“Krystal ?” gumam Sanghyun.

“Hyunnie, pulang denganku yuk !” Krystal menarik-narik tangan Sanghyun manja.

Jiyeon mengkerutkan alisnya kesal dan langsung keluar dari kelas itu.

___

Jiyeon POV

Aigo.. Aku harus menjawab apa? Sepertinya ia tulus mengatakannya. Yah.. Walaupun wajahnya masih seperti itu. Tapi, itu kan yang kusuka darinya?

Kenapa aku malah menjadi mengingat kejadian itu? Aigo.. Apa aku jawab saja iya?

“Aa.. Eum.. Aku-,”

“Sanghyunnie !” siapa itu? Krystal?

“Krystal ?” sepertinya Sanghyun juga kaget dengan kedatangan Krystal.

“Hyunnie, pulang denganku yuk !” melihat Krystal yang bergelayutan manja di tangan Sanghyun, membuatku kesal. Aah.. Aku tak tahan !

Aku langsung berlari ke luar kelas. Tak memperdulikan Sanghyun yang memanggil-manggil namaku.

Sesampainya di luar gedung sekolah, ternyata langit lagi-lagi mendung. Sepertinya akan hujan lagi.

Tak terasa, setetes air mata mengalir dari sudut mataku. Aigo.. Kenapa kau menangis, Park Jiyeon. Seharusnya kau senang, karena tak sempat menerima ajakannya tadi. Kalau iya, bisa-bisa kau berharap pada namja itu lagi. Dan, kau juga tak perlu merasa kesal ! Krystal adalah yeojachingu-nya, Sanghyun. Dan ia berhak bertingkah seperti itu pada Sanghyun. Sementara kau bukan siapa-siapa. Kau harus menerima semua ini ! Yahh.. Sepertinya aku harus menerima semua ini. ‘Cold Goddes’ milik orang lain. Dan, aku harus menerima semua itu.

Ku menyeka airmataku, dan memaksa bibirku untuk menyunggingkan sebuah senyum.

Ku berjalan ke arah gerbang sekolah. Dan.. Jepreet !

Aigo ! Sinar apa itu ? Seperti blitz kamera.

Ku mendekat ke arah semak-semak, tempat sinar itu berasal. Tapi.. Tidak ada siapa-siapa.

Haah.. Akhir-akhir ini selalu saja ada kejadian seperti ini. Apa ada yang membuntutiku ? Apa ada yang menjadi stalker-ku ?

Aah.. Ahni-ahni ! Itu tidak mungkin. Kau ini terlalu kepedean Jiyeon.

Ku mengibas-ngibaskan tanganku bermaksud menghiraukannya dan memutuskan untuk pulang ke rumah orangtua Sanghyun.

Jiyeon POV end

___

Someone POV

Aaah.. Dia sudah keluar. Tunggu, tapi dia kelihatan murung begitu ?? Dan.. Aigo ! Kenapa dia menangis ? Haah.. Apa yang terjadi denganmu Park Jiyeon ?

Terlihat ia sedang menunduk. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Tapi tak lama ia mengangkat kepalanya, dan tersenyum. Aigo.. Cepat sekali dia berubah-nya. Haha.. Dasar !

Sementara ia berjalan ke arah gerbang, ku menyiapkan kameraku. Dan.. Jepreet ! Ku berhasil mengambil fotonya lagi untuk yang kesekian kalinya.

Tapi sepertinya ia menyadari kehadiranku, dan menuju ke tempatku berada sekarang.

Aigo.. Bagaimana ini ?

Buru-buru ku mengendap ke pohom yang ada di sekitar tempat ini. Dan.. Huff.. Untunglah ia tak mengecek lebih jauh dan segera pergi.

___

Sanghyun POV

Jiyeon langsung saja berlari ke luar kelas saat Krystal datang.

“Jiyeon !” ku mencoba untuk memanggil Jiyeon. Tapi ia tak menghiraukannya.

“Hyunnie-ya, ayo kita pulang bareng..” Krystal semakin bergelayutan manja di tanganku.

Ku mencoba untuk melepaskan tangan yeoja ini secara halus. “Aish.. Mianhae Krystal. Tapi aku tidak bisa. Aku harus pulang dengannya,” ucapku.

“Nugu? Yeoja itu? Memang dia siapa? Pacarmu? Sampai kau harus pulang dengannya?”

Ku menatap yeoja ini kesal. Semakin lama, dia semakin melunjak saja. “Memangnya kau siapa? Kau pacarku, sampai aku harus pulang denganmu?” ucapku dingin.

Kulihat ia tak menatapku tak percaya atas perkataanku

barusan. Tapi aku tak menghiraukannya dan keluar kelas untuk mengejar Jiyeon.

Sesampainya di luar, ternyata Jiyeon sudah tak ada.

Hh.. Aigo. Bagaimana ini ? Umma menyuruhku untuk pulang bersamanya. Dan sekarang, tak tahu ia sudah dimana.

Lebih baik ku pulang saja. Siapa tahu dia sudah naik bus ke rumah.

Ku mengambil motorku yang ada di parkiran, dan segera pergi dari lingkungan sekolah ini.

Sanghyun POV End

___

Krystal POV

Aish.. Apa-apaan tadi itu ?? Seumur-umur ku berteman dengan Sanghyun, baru kali tadi ia berbicara seperti itu padaku. Dan itu semua gara-gara.. Ahh.. Yeoja yang namanya juga tak ku tahu.

Hh.. Lihat saja yeoja itu. Ia sudah berani-beraninya mengambil perhatian Sanghyun. Aish.. Lihat saja! Tak akan kubiarkan kau mengambil calon namjachinguku!

Krystal POV End

___

Author POV

Sanghyun baru saja sampai di rumahnya. Dengan takut-takut ia membuka pintu rumahnya tersebut. Namun tak disangka orang yang akan dihindarinya sekarang, sudah menunggu di balik pintu.

“Jiyeon mana ?” tanya Nyonya Park cepat.

“A-aigo umma. Kau mengagetkanku saja.. Hahaha,”

“Umma tanya, dimana Jiyeon? Bukan mau melihatmu tertawa,” ketus Nyonya Park.

“Omona.. Ummaku jadi sombong,” canda Sanghyun sambil berjalan ke ruang tengah.

“Ya! Park Sanghyun! Kau tak menuruti perintah umma ya? Umma kan bilang, kalau kau pulang, sekalian juga dengan Jiyeon. Lalu dimana dia ?” tanya Nyonya Park yang mulai kelihatan marah.

Sanghyun menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ah.. Err.. Itu..”

Belum sampai Sanghyun menyelesaikan perkataannya, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata yang masuk, adalah yeoja yang sekarang ini tengah diperdebatkan.

“Aku pulang..” seru Jiyeon pelan sambil menutup pintu.

“Jiyeon-ah. Ayo kesini !” panggil Nyonya Park.

“Waeyo, ahjumma ?”

“Kau kesini naik apa ?”

“Aku naik bus,” jawab Jiyeon singkat.

“Aigo.. Dasar kau Park Sanghyun! Umma kan sudah menyuruhmu untuk mengajaknya pulang, tapi kenapa kau malah membiarkannya naik bus!” teriak Nyonya Park sambil mengetok kepala Sanghyun, membuat namja itu hanya bisa meringis.

“Mian ya Jiyeon.. Semestinya anak ahjumma ini mengantarmu,”

“Gwaenchana-yo ahjumma. Tidak perlu repot-repot,” ujar Jiyeon sambil tersenyum kecut.

“Err.. Bisakah aku naik ke atas duluan, ahjumma ?” izin Jiyeon.

“Ah.. Iya. Istirahat duluan saja. Kau pasti sangat lelah,” sahut Nyonya Park.

“Gomawo, ahjumma. Aku permisi dulu,” Jiyeon sedikit membungkukkan badan dan naik atas.

“Umma.. Aku mau istirahat juga ya..” Sanghyun juga akan beranjak naik atas. Tapi dengan sigap, Nyonya Park menahannya.

“Tidak bisa. Sebagai hukumannya, kau cabuti rumput liar di taman belakang !”

“MWO !??”

Author POV End

___

Jiyeon POV

Jadi tadi Sanghyun mengajakku pulang itu hanya karena disuruh ummanya ? Bukan karena kemauannya ?

Haah.. Menghayal saja aku ini. Tentu saja itu karena disuruh umma-nya. Sekali lagi aku beruntung, tidak menerima ajakannya tadi.

Ku melucuti pakaianku satu persatu dan masuk ke kamar mandi yang berada di

kamar ini.

Berendam di air panas, mungkin akan membuatku lebih baik.

Jiyeon POV End

___

Sanghyun POV

Aigo.. Umma apa-apaan sih ?? Masa aku disuruh mencabut rumput liar ?! Mana panas lagi !

“Kalau kerja, jangan bersungut-sungut seperti itu. Lakukan dengan ikhlas !”

Ku sedikit terlonjak. Hh.. Ternyata umma masih mengawasiku.

“Ne.. Ne..” gerutuku kesal.

Ketika mencabut rumput liar, tiba-tiba bayangan Jiyeon terlintas di benakku.

Yeoja itu.. Aku baru sadar kalau ia lari pada saat Krystal datang tadi di kelas. Kenapa dia lari ya? Apa ia cemburu? Kekeke.. Kalau dia cemburu, berarti dia suka padaku dong. Hahaha.. Kuharap itu semua betul.

“Ya! Kenapa kau senyum-senyum sendiri ?” omel umma.

“Ah.. Ahni-yo, umma..”

“Aish.. Jinjja! Kenapa anak-ku seperti menjadi orang gila seperti ini..” ujar umma-ku. Sedangkan aku hanya bisa senyum-senyum sendiri.

Sanghyun POV End

___

18.30 KST

Author POV

“Sanghyun.. Panggil Jiyeon untuk makan malam !” teriak nyonya Park pada Sanghyun yang tengah menonton di ruang tengah.

“Ne,” sahut Sanghyun kemudian segera naik ke lantai dua.

Ia mengetok-ngetok pintu kamar Jiyeon.

“Jiyeon-sshi..” panggil Sanghyun. Namun tak ada jawaban.

“Jiyeon-sshi..” panggilnya lagi. Namun lagi-lagi tak ada jawaban.

Lancang memang, tapi dengan terpaksa, Sanghyun membuka pintu kamar tersebut.

“Jiyeon-sshi..” Sanghyun menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Tapi, tidak ada  orang sama sekali. Ia memutuskan untuk masuk dan mengetuk pintu. Pikirnya, mungkin yeoja itu sedang berada di kamar mandi.

“Jiyeon-sshi..”

___

“Jiyeon-sshi..”

Jiyeon membuka matanya kaget. Suara itu sukses membuat yeoja itu tersadar dari alam mimpinya. Ia bangkit dari bathup, mengambil handuk, dan melilitkannya di tubuhnya.

“Aigo, sudah berapa lama aku tertidur di sini ?” gumam Jiyeon kemudian segera membuka pintu kamar mandi.

Dan betapa kagetnya ia, saat melihat Sanghyun yang sekarang berada tepat di depannya. Sedangkan Sanghyun membelakkakan matanya saat melihat keadaan Jiyeon yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut.

Menyadari tatapan Sanghyun, Jiyeon buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.“Sanghyun-sshi, a-ada apa?” tanya Jiyeon canggung.

Sanghyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Ahni-ya. Umma-ku hanya menyuruhku untuk mengajakmu turun,” ujar Sanghyun datar dan langsung keluar dari kamar Jiyeon.

___

Di balik pintu kamar Jiyeon, nampak Sanghyun yang seperti orang kepanasan, mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajahnya.

“Huff.. Jinjja! Kalau yeoja itu terus disini, bisa-bisa aku langsung mati beku di tempat !”

Sanghyun POV End

___

Jiyeon POV

“Ahjumma.. Boleh aku ikut membantu ?” ku menghampiri Taeyeon ahjumma yang tengah mencuci piring di dapur.

“Andwae. Tidak perlu, Jiyeon-ah. Kau menonton saja dengan Sanghyun. Atau tidak, bila kau ada PR, kerjakan saja PR-mu Jiyeon-ah.” tolak ahjumma sambil tersenyum.

“Eum.. Tapi aku tidak ada PR, ahjumma. Jadi aku boleh membantu kan ?” Jiyeon mengeluarkan puppy eyes-nya.

“Aigo, kau ini. Ya sudah, kalau begitu kau bantu keringkan piring-piring ini saja,”

“Ne, ahjumma.”

Setelah 15 menit berkutat dengan piring-piring bersih dan mengkilap, Jiyeon meminta izin untuk ke kamarnya.

Ketika di kamar, Jiyeon segera mengecek handphone-nya yang tergeletak di meja belajar. Ternyata ada 15 missed call dan 20 message dari orang yang sama.

“Aigo! Taemin ?”

Buru-buru Jiyeon langsung menelpon balik.

“Yobosseo, Taemin ?”

‘Jiyeon-ah… Apa kau lupa dengan janjimu.. ??’

“Janji? Janji apa?”

‘Ya.. Kita kan mau nonton bareng,’ terdengar suara Taemin disana yang sudah agak kesal.

“Aigo.. Mianhae, Taemin-ah. Aku lupa !” cengir Jiyeon.

‘Ne, ne. Sekarang kau dimana? Aku sudah menunggu dari tadi di depan rumah-mu. Tapi, kelihatannya tidakada orang..’

“Ahh.. Aku sedang tidak tinggal di situ, sekarang. Kau jemput saja aku di halte bis di jalan XXX. Hehe.. Jangan marah ya, Taem..” bujuk Jiyeon. Sesungguhnya, dia melakukan itu bukan agar Taemin tidak marah lagi padanya. Tapi, karena dia tidak mau melewatkan salah satu film favorit-nya itu.

‘Ne, ne.. Arraseo. Kalau begitu ku-tunggu kau disana. Jangan terlambat ! Film-nya akan diputar sebentar lagi,’

“Ne, arra-yo.”

Sesaat setelah itu, Jiyeon langsung buru-buru mengganti pakaian, memoleskan beberapa make-up tipis ke wajahnya, dan segera turun ke bawah.

Ketika di bawah, ia melihat tuan dan nyonya Park tengah bersantai di ruang tengah tanpa ada Sanghyun.

Dengan ragu-ragu, yeoja itu mendekati mereka.

“Eum.. Ahjussi, ahjumma..”

“Ne, Jiyeon-ah? Waeyo ?” sahut nyonya Park.

“Wah.. Sudah rapi. Mau kemana, Jiyeon-ah?” tanya tuan Park.

“Eungh.. Ahjussi, ahjumma. Aku mau minta izin keluar,” ucap Jiyeon ragu-ragu seraya menundukkan kepalanya.

“Mau kemana ?”

“Ke bioskop, ahjumma..”

“Dengan siapa? Namja ?”

“Ne.. Ne, ahjumma.”

“Bagaimana ya ?” nyonya Park tampak menimbang-nimbang

permintaan Jiyeon.

“Sudah. Kau pergi saja, Jiyeon-ah,” ujar tuan Park tiba-tiba.

“Jinjja-yo ?” mata Jiyeon langsung berbinar tiba-tiba.

“Ne. Asalkan pulangnya jangan terlalu larut,” ujar tuan Park bijaksana.

“Aah.. Gomawo ahjussi, ahjumma. Kalau begitu aku pergi dulu,” ujar Jiyeon kemudian langsung berlari ke luar.

“Ya, Jungsu! Kenapa kau mengizinkan-nya, huh ?” protes nyonya Park.

“Waeyo? Dia tinggal di sini, bukan berarti kita bisa seenaknya menahan ia untuk keluar yeobo~”

“Aish.. Bukan begitu maksudku ! Kau dengar tadi, dia pergi bersama dengan siapa ? Dengan namja !” ujar  nyonya Park sedikit kesal.

“Lalu kenapa kalau namja ?” tanya tuan Park sok bingung.

“Itu akan semakin menyusahkan ! Bisa-bisa kesempatanku untuk menjodohkan Sanghyun dan Jiyeon akal gagal, kalau ternyata Jiyeon sedang dekat dengan seorang namja !”

“…….”

Author POV End

___

Sanghyun POV

Ku beranjak dari tempat tidur ke arah balkon kamar-ku. Sejak makan malam tadi, ku hanya menonton TV sebentar, kemudian langsung masuk ke kamar. Entah kenapa, aku jadi malu. Malu melihat Jiyeon. Apalagi sejak kejadian tadi. Lebih baik

aku di kamar dulu. Daripada keluar, berpapasan dengannya, dan harus ber-sport jantung ria lagi.

Aah.. Aku jadi ingin menelpon seseorang. Ah iya ! Lebih baik aku menelponnya. Mungkin dia bisa membantuku, menyembuhkan ‘penyakitku’ ini.

Ku menekan angka-angka yang sudah sangat kuhapal di tombol-tombol ponselku.

Ku menunggu beberapa saat sampai sebuah suara muncul dari seberang sana *seberang mana maksud kamu cheondung? seberang laut ya? XDD

‘Yobosseo ?’

“Yobosseo, Mir-ah. Ini aku, Sanghyun.”

‘Sanghyun? Wah.. Tumben kau menelpon-ku. Kukira kau sudah lupa padaku,’

“Mana mungkin aku melupakan sahabatku sendiri. Oh ya, bagaimana keadaanmu setelah 3 tahun di Daegu ?”

‘Biasa saja. Tak ada yang menarik,’

“Jinjja? Apakah wanita di sana, tidak ada yang menarik perhatianmu? Kau.. Tidak punya pacar ?”

‘Hh.. Aku malas mencarinya. Kau sendiri ? Haah.. Pasti tidak punya !’

“Haha ! Sebenarnya, bukan tidak. Tapi belum..”

‘Jinjja-yo ? Sudah ada yeoja yang memikat hatimu ? Jadi.. Kau benar-benar saja melupakan‘nya’, huh ?’

“Kalau lupa, tentu saja tidak. Tapi.. Untuk cinta, aku rasa sudah tidak ada lagi,”

‘Baguslah !’

“Tapi Miru-ah.. Penyakit-ku itu muncul lagi,”

‘Penyakit apa ?’

“Haah.. Penyakitku kalau bertemu dengan yeoja yang kusuka,”

‘Aigo! Kau ini sudah kelas 3 SMA, penyakit gugupmu itu masih ada juga ? Hh.. Ya sudah, kalau begitu lakukan seperti dulu saja !’

“Seperti apa ?”

‘Kiss..’

“Ya! Kau gila apa ?? Menatap matanya saja, aku sudah gugup setengah mati ! Kau malah suruh aku menciumnya ??”

‘Lakukan saja ! Dulu kau juga begitu kan ?? Tapi setelah kau mencium‘nya’, kau sudah tidak gugup lagi saat berhadapan dengannya kan ??’

“Heef.. Keurae, keurae, aku akan mencobanya. Tapi.. Ada satu lagi, Miru-ah. Aku juga jadi malu sekarang saat di dekat yeoja itu. Apa kau tahu cara menghilangkannya ??”

‘Ya ! Itu urusanmu. Aku sudah tidak tahu lagi. Sudah ! Aku mau belajar dulu !’

Klik !

“Miru-ya ! Aish..”

Sesaat setelah Mir menghentikan perbincangan mereka yang amat sangat panjang itu, Sanghyun pun langsung keluar dari kamarnya, dan menghampiri umma dan appa-nya yang tengah berada di ruang tengah.

“Umma, Appa, apa kalian melihat Jiyeon ??”

“Dia sedang keluar. Kenapa ? Untuk apa kau mencarinya, hem ?” goda tuan Park.

“A-ahniyo. Aku hanya ingin memintanya untuk membantuku mengerjakan PR saja,” jawab Sanghyun gelagapan. Kemudian namja itu kembali ke kamarnya.

“Ya, Jungsu ! Kau ini suka sekali menggoda Sanghyun,” omel nyonya Park.

“Biarkan saja. Apa kau tadi tidak melihat wajah Sanghyun yang memerah tadi, saat ku goda ? Kelihatannya ia menyukai Jiyeon,”

“Jinjja? Hahaha.. Berarti sekarang masalahnya terletak pada Jiyeon. Kita harus tahu apakah Jiyeon juga menyukai Sanghyun atau tidak. Kalaupun tidak, kita akan membuatnya sampai menyukai Sanghyun !” ujar nyonya Park bersemangat.

Kedua orang itu saling bertatapan lama, kemudian mengeluarkan tawa evil mereka masing-masing.

“HAHAHAHAHA……….”

Author POV End

___

Jiyeon POV

“Ya.. Taemin-ah ! Berhentilah merajuk.. Filmnya akan dimulai sebentar lagi,” ujarku. Entah kenapa namja di samping-ku ini masih saja cemberut, bahkan sampai di dalam gedung bioskop ini pun.

“Siapa juga yang tidak akan kesal kalau sudah menunggu orang sampai 1 1/2 jam lamanya !” gerutunya.

“Yah.. Aku kan sudah minta maaf tadi. Ya sudah, kalau begini aku pergi saja,” ku bangkit dari duduk-ku. Sebenarnya, aku hanya pura-pura saja. Dan, haha.. Tepat perkiraanku, dia akan menahan-ku.

“Ne.. Keurae. Aku tidak akan merajuk. Asalkan kau jangan pergi ya ?” pintanya dengan senyuman yang, yah.. Cukup membuat ia mempunyai fans di sekolah.

“Ne,” ku kembali duduk di kursi-ku.

Film pun dimulai. Setengah jam berlalu, semua baik-baik saja. Tapi beberapa saat kemudian, kepalaku tiba-tiba saja menjadi pusing.

“Taemin..” ku memanggil Taemin sambil sedikit memijat kepalaku.

“Mm ?” kulihat Taemin masih fokus dengan tontonan di depannya.

“Ayo kita pulang..”

“Tunggu, Jiyeon-ah. Film-nya lagi seru-serunya,”

“Ayo, Taemin..” ku menarik-narik kecil hoodie yang Taemin kenakan.

Ku menghentikan aktivitasku saat Taemin mengalihkan pandangannya, dan melirikku kesal.

“Waeyo ?” tanyanya kesal. Sepertinya ia sangat ingin menikmati film ini.

“Kepalaku sakit. Ayo kita pulang !” ujarku pelan karena tak mau mengganggu penonton disini, yang kebanyakan anak-anak.

“Kepalamu sakit ? Aah.. Kenapa tidak bilang dari tadi ? Ayo, kita cari obat di luar.” Taemin membantuku untuk bangkit dan keluar. Sungguh perhatian namja ini. Tapi sayang, aku tidak punya setitik rasa pun padanya. Mudah-mudahan dia akan segera mendapat yeoja yang sama baiknya dengannya. Agar ia tak seperti ini terus padaku. Aku takut.. Nantinya ia malah akan semakin sakit hati kalau terus berharap padaku.

Taemin mendudukkanku di kursi taman, di sekitar gedung bioskop tersebut.

“Jangan kemana-mana. Aku mau beli obat dulu,” perintah Taemin. Dan setelah itu, ia pun pergi entah kemana.

Ya ampun.. Kepalaku juga kenapa tiba-tiba pusing ?? Padahal kan aku masih ingin menonton tadi.

Tak berapa lama, Taemin kembali dengan membawa bungkusan dan sebotol air mineral.

“Igeo, minumlah..” ku mengambil sebutir obat dan air mineral dari tangannya.

“Heeh.. Ini bukan racun kan ??” tanyaku curiga.

“Tentu saja bukan. Masa aku memberikan racun, pada orang yang kucintai sih..” ujarnya sambil tersenyum tulus.

Ku mendelik hingga ia menunduk takut. Langsung saja ku minum obat itu. Karena, sungguh aku sudah tak tahan dengan sakit kepalaku ini.

“Bagaimana ? Sudah baikan ?” tanyanya polos.

“Tentu saja belum, babo. Aku kan baru meminumnya beberapa detik yang lalu,”

“Ah.. Ne,”

Krik.. Krik.. Krik.. Selama beberapa saat suasana menjadi hening. Sampai Taemin membuka pembicaraan.

“Jiyeon-ah,” panggilnya.

“Ne,” sahutku tanpa menatapnya.

“Ya, tatap aku..” Taemin menarik daguku pelan. Hingga kini kami saling bertukar pandang. Bisa kulihat raut wajahnya yang, err.. Kelihatan serius. Ada apa dengan namja ini.

“Waeyo ??” tanyaku sambil melepaskan tangannya dari wajahku.

“Aku tahu ini sudah kesekian kalinya aku mengatakan ini. Dan, aku juga tahu kau sudah mendengar ini untuk kesekian kali. Tapi.. Aku sangat berharap kau mengatakan ‘iya’ kali ini,” ujarnya serius.

“Saranghae, Jiyeon-ah..”

Glek. Aah.. Kenapa ia berkata seperti ini lagi ??

Ku menatap iba padanya seraya menggeleng. “Mianhae, Taemin-ah. Tapi.. Sampai sekian kali ini pun tidak bisa,” ucapku halus.

Ia menatapku lama kemudian langsung menunduk. Aigo.. Aku jadi tak tega melihatnya.

Ia mengangkat kepalanya lagi. “Waeyo, Jiyeon-ah? Waeyo? Kenapa kau selalu menolakku ?”

“Itu karena.. Karena..”

“Waeyo, Jiyeon-ah ?” Taemin mulai mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Itu.. Itu karena aku sudah menganggapmu sebagai sahabat-ku, Taemin !” ucapku lantang. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatapku nanar.

“Sahabat ?”

“Iya, Taemin. Kau tahu, semenjak 2 tahun lalu kau terus mengikutiku, hh.. Awalnya aku gak risih. Tapi.. Saat kau mulai menunjukkan perhatianmu, aku tahu bahwa lama-lama kelamaan, aku mulai menyayangimu, Taemin. Tapi bukan rasa sayang dari yeoja kepada namja. Tapi, rasa sayang sebagai sahabat Taemin..”

“Geudae..”

“Kau lebih memilih apa, Taemin ? Menjadi namjachingu yang kapan saja bisa putus, dan kadang malah menjadi musuh. Atau sebagai sahabat, yang selamanya tak akan pernah terpisahkan ?”

Ia berpikir sambil memamerkan senyum manisnya itu.

“Kalau begitu, aku akan memilih jadi sahabatmu.” ujarmya sambil memelukku.

“Nah, begitu. Jadi.. Kau jangan pernah bertanya seperti itu lagi. Karena aku akan selalu menjawab ‘tidak’,” kataku sambil membalas pelukannya.

Kurasakan bahuku tempat ia bersandar, basah. Ya ! Apa dia menangis ?

“Ya ! Apa kau menangis ?” ku memukul punggung namja ini.

“Aw.. Sakit, Jiyeon-ah..”

“Dasar ! Namja kok cengeng !” bentakku. Tapi Taemin hanya cekikikan saja.

Jepreet !!

Ya, apa itu ? Ku mengalihkan pandanganku, ke suara dan cahaya blitz yang sukses menarik perhatianku.

Ku melihat seseorang dengan pakaian serba hitam, dan kamera tergantung di lehernya sedang bersembunyi di balik pohon.

“Ya! Siapa kau ??” ku melepaskan pelukan Taemin, dan berlari menuju tempat orang itu.

Orang tersebut langsung kabur. Dan ketika aku akan mengejarnya lagi, Taemin tiba-tiba menahan tanganku.

“Jiyeon-ah.. Waeyo ??”

“Aku mau mengejar orang tadi. Apa kau tidak lihat tadi ia sedang memotret kita ?”

“Sudahlah, mungkin itu hanya orang iseng saja. Kkaja, kita pulang !” Taemin menarikku ke arah pikiran.

Sedangkan aku masih memandangi tempat orang itu menghilang.

Sebenarnya siapa orang itu ??

Jiyeon POV End

To Be Continued..

Gimana? Kurang panjangkah? Atau gimana? Atau anehkah ? Hehehe XDD

sebenarnya aku pengen bikin lebih panjang lagi.. Tapi yah, otak tiba-tiba ngadet. Jadi cuma sampai segitu ajaa ^^.

Oh ya.. Buat para readers yang nebak kalo someone-nya itu Taemin, sekarang udah kejawab kan kalau itu bukan dia.. Tapi.. Hehehe.. Tunggu aja di part-part selanjutnya *author sok misterius*

SEE YOU IN THE NEXT PART !! CHU~

25 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s