A Baker’s Love

Author: Elno, 14 yo/ Kim Soo Kwang (Panggil gue Elno, No, Noel, oppa (yang udah terlanjur manggil oppa ga apa”, tapi please panggil gue No aja. Soalnya klo dipanggil oppa, aku rasanya ketuaan deh -_-! Asal JANGAN manggil eonnie!)

Genre: Romance, Comedy (mungkin!)

Length: Oneshoot shoot shoot shoot, Na neun hoot hoot hoot (Lho kok malah nyanyi?)

Rating: 12 keatas ya. Buat yang belum tahu pacar-pacaran GA BOLEH baca ini ff, key?

Main casts:

  • Lee Jieun as IU (Penyanyi favorit gue nih. Bacanya Ayu bukan Iyu!)
  • Lee Donghae as Donghae (Yeay Donghae hyung!)
  • Other imaginary casts

WARNING!

FF ini AU banget jadi jangan dikaitkan dengan kehidupan nyata, ok! Dan buat SIDERS, Husshh pergi sana! Kan web-nya udah ga diprotect lagi jadi dibebas-bebasin buat baca trus harus komen. DAN JANGAN SEKALI-KALI PLAGIAT INI FF. AKU PLG BENCI YG NAMANYA PLAGIATOR. TOLON HARGAI JERIH PAYAH AUTHOR. Dan juga buat yang ga suka Donghae dipairing sama IU, KE LAUT AJA ya! ;p

 

Sedikit curhatan gue nih: FF ini idenya muncul udah lama cuman jalan ceritanya yang masih bingung mau dibikin kyak apa. Waktu bobo jam setengah 1 malam baru dapat deh jalan ceritanya. Hehehe. Mianhae, readers, klo FF ini ga mutu, ga bagus, norak, basi, & sbagainya. Dan iya, FF ini buat noonaku tercinta Lee Jieun (IU). Hari ini ultahnya yang ke-18 loh, makanya tokoh utamanya IU! Saengil chukhae, IU! I LOVE YOU :*

 

A Baker’s Love

Bau kue, yang baru matang dari oven, menyelimuti dapur Bakery JongSoo. Adalah Iu, seorang baker muda, yang memanggang kue itu. Iu adalah seorang yatim piatu. Dia sudah cukup lama bekerja sebagai baker di Bakery JongSoo karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya yang sudah tak berayah dan ibu. Setelah lulus SMA, Iu mencari pekerjaamn dan inilah pekerjaannya.

Pak Joong sangat menyanyangi Iu karena keahliannya membuat kue. Dan juga dia sangat dekat dengan anak Pak Joong, Ha Chan, gadis kecil yang berumur 5 tahun.

“Hmmm… aku jamin, kue ini pasti rasanya sangat enak,” yakin Iu.

“Iu, bisakah kau kesini sebentar?” sahut Pak Joong lembut dari toko.

“Ne, Abonim! Aku segera kesana,”

Iu meletakkan kuenya yang matang di atas meja dan berjalan keluar dapur ke toko. Dia melihat bebek-bebek karet yang tergeletak di lantai toko. Ini pasti kerjaannya Ha Chan, pikirnya.

“Ada apa, Abonim?”

“Ah, Iu! Aku perlu bantuanmu untuk mengurus pelanggan kita itu,” kata Abonim menunjuk ke sosok tinggi tegap berjas yang pandangannya keluar jendela sedang sibuk dengan handphone-nya

Iu menoleh.

“Ne, Abonim. Tapi kenapa tidak Abonim saja yang melayani pelanggan itu? Toh, Abonim lebih pintar soal urusan ‘melayani’ daripada aku. Aku kan kerjanya cuma membuat kue!” bisik Iu kesannya agak membantah.

“Nah, untuk itu aku menugasimu. Ini penting. Pelanggan itu pengusaha terkenal di daerah sini. Kau tahu kan?”

“Oh, Lee Donghae-ssi ya?”

“Benar! Kau sudah kenal dia?”

“Sedikit. Aku belum pernah melihat wajahnya. Tapi katanya dia baru saja membeli perusahaan handphone terkenal di Seoul,” ucap Iu kagum

“Nah itu dia! Lee Donghae-ssi akan memesan kue untuk pernikahannya Sabtu depan. Kau kan lebih ahli dalam soal membuat kue kan? Bantu dia memilih bahan-bahan yang tepat untuk kue pernikahannya. Kita harus membuatnya puas.”

“Ne, Aboji!”

“Baiklah aku kebelakang dulu.”

“Ehhmm.. permisi, Donghae-ssi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Iu sopan

“Oh..ne!” sahut Donghae seraya menutup handphone-nya dan menoleh ke Iu.

“OMO! Cakep banget! Tipe gue banget nih,” batin Iu.

“Eh.. noona ada yang salah?” pertanyaan Donghae mengangetkan Iu.

“Ya? Eh… uh.. tidak Donghae-ssi.” gagap Iu tersipu malu

“Ah, sudahlah panggil saja oppa. Apakah saya ini ketuaan?”

“Ya.. eh tidak Donghae-ssi. Upss maksudku oppa,”

“Saya ingin memesan kue pernikahan saya dan kue ini harus spesial. Dan saya tahu toko ini terkenal karena kuenya yang lezat. Saya ingin menyeleksi bahan-bahannya dulu sebelum dibuat. Bisakah?”

“Bisa oppa! Bagaimana kalau kita mulai dari tepungnya dulu. Mungkin oppa mau lihat-lihat,”

“Oh iya silakan!”

“Ne, tunggu sebentar ya! Saya ambil tepungnya dulu. Mungkin kerepotan karena disini tidak ada pengungkit tingkat 3.”

“Pengungkit tingkat 3?” Donghae bingung

“Eh, maksud saya gerobak. Terkadang kemampuan fisika saya suka muncul begitu saja. Hehehe,”

“Kalau begitu bisa saya bantu?”

“Tidak usah oppa! saya bisa sendiri,”

Iu bergegas kembali ke dapur dengan harapan kosong. Sayang sekali ia harus kehilangan pria tampan seperti Donghae oppa. Tapi mana mungkin juga Donghae mau melamar gadis yatim piatu seperti dirinya. Mustahil! Dia mengambil beberapa bungkus tepung dan kembali ke toko.

“Oppa, ada beberapa lagi dibelakang. Nanti aku… AHHH!” teriak Iu yang jatuh terpeleset bebek karet. Tepungnya bertebaran kemana-mana dan, yang mengagetkan, ke seluruh tubuh Donghae.”

“Mianhamnida, oppa! Aku tak sengaja. Sekali lagi Mianhamnida!” bangkit berdiri dari jatuhnya, Iu bergegas mencoba membersihkan tepung yang ada di wajah dan tubuh Donghae.

“Ah, ne… kwenchanayo! Sebaiknya saya pulang dulu membersihkan diri. Saya janji besok akan balik lagi, ok? Jangan dipikirkan ya! Itu hanya kecelakaan,” Senyum Donghae menghiasi wajahnya yang dipenuhi tepung.

“Saya sungguh menyesal, oppa!”

“Sudah kwenchanayo! Saya pulang dulu ya. Sampai jumpa besok,”

“Iu, Kau ken… ya ampun!” Pak Joong berlari ke toko dan terkejut melihat tokonya hancur penuh tepung.”

“Mianhamnida, Aboji! Aku kepeleset bebek karetnya Ha Chan. Jangan potong gajiku! Aku mohon!”

“Husshh.. bicaranya itu loh! Kwenchanayo. Aku mengerti itu kecelakaan. Tapi ingat bersihkan toko ini! 1 jam lagi tutup. Waktu kamu cukup untuk bersih-bersih. Eh… iya dimana pengusaha itu?”

“Dia pergi, Aboji. Mukanya penuh tepung! Tapi dia janji bakal balik lagi hehehehe,” Iu meyakinkan kalau-kalau Pak Joong sangka Donghae pergi dan membatalkan pesanannya gara-gara toko yang hancur dan wajahnya yang berselimut tepung.

“Ya sudah!”

Iu menatap toko yang berantakan penuh tepng. Haduhh pekerjaan lembur yang tak diharapkan nih namanya.

Hari baru. Seperti biasa, bau kue yang fresh from the oven menyelimuti dapur itu. Tiba-tiba bel yang digantung depan pintu berbunyi. Bertanda ada pelanggan.

“Iu, Donghae-ssi datang,” sapa Pak Joong dari depan toko.

“Mianhamida, Donghae-ssi, atas kecelakaan kemarin,”

“Oh, tidak apa-apa, Pak!” Donghae tersenyum.

“Eh, oppa, sudah datang. Tunggu ya saya ambilkan tepungnya dulu.”

“Eh biar saya ke dapur saja, noona. Supaya tidak perlu repot membawanya,”

“Ne! Kenapa tidak terpikirkan kemarin ya,”

“Iu, kalau ada perlu, aku ada di atas.” kata Pak Joong.

“Siip, Abonim!”

Mereka berdua berjalan ke dapur. Iu meneluarkan satu-persatu tepung dari lemari dan menaruhnya di meja.

“Nah, mari saya jelaskan komposisi dan peran tepungnya. Yang bungkusnya merah membuat kuenya jadi kenyal. Yang bungkus biru karbohidratnya tidak berlebihan, sehingga cocok untuk penderita gula darah. Nah yang hijau…”

“Yang membuat kuenya lezat dan spesial?”

“Maaf?”

“Saya perlu tepung yang membuat kuenya lezat dan terkesan special,”

“Uhmm mungkin bungkus yang kuning. Ini yang terbaik selama ini. Tapi apakah oppa yakin?”

“Saya percaya noona, kok!”

“Uhmm.. ok baiklah,” wajah Iu memerah.

Sowoneul marhaebwa

I’m Genie for you boy

Sowoneul marhaebwa

 

Handphone Donghae berbunyi. Donghae pun menangkatnya.

“Halo… Hah apa? Appa akut lagi? Baik aku segera kesana.”

“Mianhae, noona. Tapi aku harus segera pulang. Jantung Appa akut lagi. Dia memang menderita penyakit jantung. Aku akan balik lagi,”

“Oh. Ne. Pelanggan adalah raja,” Iu tersenyum dengan terpaksa.

Donghae melangkah keluar menuju pintu toko dan lenyap dari pandangan Iu yang dari tadi melihatnya keluar.

“Huhh! Dasar. Orang kaya memang selalu sibuk,” gerutu Iu.

Besoknya, tidak ada tanda-tanda kedatangan Donghae, atau pun esoknya lagi. Sehari sebelum pernikahan berlangsung, bel pintu toko berbunyi.

“Mianhamnida, Pak Joong. Maaf saya tidak bisa datang 2 hari kemarin. Je appa harus mendapat perawatan intensif. Tapi puji Tuhan, kondisinya membaik hari ini dan sudah bisa pulang ke rumah,”

“Ah! Kwenchanayo, Donghae-ssi. Mari silakan! Lebih baik secepatnya memilih bahan-bahannya karena lebih cepat lebih baik,”

“Ne,”

“Mari, silakan, Donghae oppa! Kita kebelakang. Bahan berikutnya hanya tinggal rasanya dan tipe kuenya,” Iu muncul dan mempersilakan Donghae ke dapur.

“Oppa, ini disini ada buah-buahnya. Mau pilih yang mana?”

“Ah, saya suka melon dan tolong kuenya warna hijau ya,”

“Ne. Bagaimana kalau melon campur coklat, oppa? Pasti enak,”

“Saya kan sudah bilang saya percaya sama kamu. Terserah kamu, tapi kuenya harus…”

“Spesial! Mollayo!” sambung Iu tersenyum

“Baik, oppa, aku ambil coklatnya dulu. Oppa bisa mencicipinya dan memilih mana yang pas,”

Iu berjalan menuju lemari besi. Dia membukanya. Lemari itu tampak kotor gara-gara coklat yang tumpah. Dia mengambil beberapa loyang coklat dan menaruhnya di meja seperti biasa.

“Noona, hidungmu…” Donghae membuat gerakan menggaruk di hidungnya

“Oh… Hahahhaa. Coklat?”

“Sini biar saya bersihkan,”

“Ya Tuhan! Mampus deh gue,” wajah Iu memerah.

Donghae mengelap hidung Iu dengan sapu tangannya. Iu hanya terdiam, membatu, tubuhnya langsung dingin. Donghae menatap Iu dengan aneh.

“Nah, sudah,”

“Gamsahamnida, oppa! Sekarang silakan oppa cicip cokelat mana yang menurut oppa coc… maksudku special di lidah oppa!”

Donghae menuruti kata Iu. Dia mencicipi semua coklat yang ada. Dan…

“Saya suka coklat ini!” katanya seraya menunjuk ke arah satu Loyang coklat.

“Baik, saya ingat coklat anda. Mari sekarang oppa bisa memilih bahan yang lainnya,”

Iu menunjukkan beberapa bahan membuat kue yang lain. Mereka berdua berkutat dan bahkan malah bercanda dengan bahan-bahan bakery itu. Donghae terus menatap Iu seakan Iu adalah magnet besar yang ada di ruangan itu.

Setelah memilih bahan keduanya keluar bersama dengan cengar-cengir di wajah mereka.

“Oh iya, noona datang kan?” kata Donghae sambil menyodorkan undangan ke Iu.

“Pasti, oppa. Aku pasti datang,” yakin Iu.

“Gomawo, Noona, sudah membantuku sampai sekarang ini,”

“Cheonmaneyo!”

Donghae menuju pintu depan toko. Dia menyodorkan undangan buat Pak Joong juga. Dan dia pun menghilang dari pandangan Iu.

Di dalam mobil menuju kerumah, Donghae tak henti-hentinya memikirkan Iu. Ada rasa aneh yang menjanggal di hatinya. Apakah ini… cinta???

***

Bunyi biola menghiasi ruangan prosesi pengungkapan janji setia. Iu tampak cantik sekali dengan dress polkadot hitam-putihnya. Ia memegang tangan Ha Chan yang juga terlihat manis sekali. Dibelakangnya, Pak Joong menentengi kue buatan Iu.

“Wah, Pak Joong, Iu, Ha Chan, selamat datang. Saya senang kalian bisa hadir,” Donghae tiba-tiba datang dan menyapa mereka.

“Selamat, Donghae-ssi. Mana pengantin yeoja-nya?”

“Oh, dia di belakang, Pak,”

“Oppa, dimana kue ini bisa ditaruh?”

“Oh biar saya saja, Iu, tidak usah repot-repot,”

“Andwae, Oppa! Biar aku saja dan Ha Chan. Iya kan, Saeng?” Iu melemparkan pandangan penuh tanya ke Ha Chan.

“Ne, Eonnie!” Ha Chan menjawab polos.

Mereka berdua berjalan ke ruangan belakang tempat yang, didapati mereka, banyak makanan tersedia. Iu menaruh kuenya di meja. Kemudian, ia mendengar suara dari belakangnya. Iu menoleh. Ternyata suara itu datang dari sebuah ruangan. Iu pun mendekat agar suaranya terdengar lebih jelas.

“Hahahah… tenang, Omma. Sebentar lagi harta Donghae akan menjadi milik kita,” sahut seorang yeoja muda.

“Kamu memang cerdas, anakku!” sahut yeoja yang, dari suaranya, terdengar lebih tua.

Iu ingin melihat lebih jelas siapa yang mengeluarkan suara itu. Dia mendekatkan diri ke pintu. Namun saking gemetarnya, maka DUKK…

“Siapa disana?” Nada yeoja muda tersebut tinggi sekali, kedengarannya marah.

“Aigoo! Ha Chan cepat pergi!”

“Ne, Eonnie,”

“Siapa di… Ah, hanya dua tikus kecil ternyata,” sahut yeoja muda.

Iu bisa melihat dengan jelas ia memakai pakian pengantin. Mungkinkah dia calon istri Donghae oppa?

“Lari, Ha Chan!” Iu berbisik ke gadis kecil itu. Ha Chan pun lari keluar dari ruangan.

“Omma, kita harus hentikan yeoja kecil itu,” pengantin muda itu berseru kepada omma-nya

“Biarkan saja, Sayang. Dilihat dari wajahnya dia masih berumur 5 tahun ke atas,” kata omma-nya menenangkan.

“Bagaimana kalau tikus besar ini yang kita bungkam mulutnya. Dia sudah mendengar terlalu banyak,” lanjut omma pengantin itu santai sambil mengeluarkan sapu tangannya.

Kedua yeoja mengerikan itu mendekat. Iu gemetar. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.

“A..apa yang akan kalian lakukan padaku?” Iu bertanya.

“Tenang, eonnie manis. Ini tidak akan sakit,” pengantin itu tertawa girang.

“Tolong. Jangan. saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian,” Iu memberontak.

“SOO HYE! Apa-apaan kau?” Donghae berteriak. Ha Chan terlihat menggandeng tangannya.

“Eh. Tidak, Donghae! Tidak apa-apa kok,” pengantin yang bernama Soo Hye itu mengelak.

“Kalau tidak apa-apa, kenapa Iu berteriak? Kenapa juga kalian mendekatinya begitu?”

“Eh.. tidak apa-apa, Donghae. Percayalah pada calon istrimu ini!”

“Eonnie bohong. Aku dan Iu eonnie jelas dengar kalo eonnie mau mendapat harta Donghae oppa kan? Hayooo, jangan bohong. Hehehe,” Ha Chan menjawab dengan polos.

“Apa benar begitu, Soo Hye? Kau mau menikahiku hanya karena materi? Bukan… cinta?” Donghae bertanya. Mukanya berubah merah padam.

“Tidak, Donghae. Masa kau percaya anak kecil itu?!” Soo Hye tetap mengelak.

“TIDAK MUNGKIN! ANAK SEKECIL DIA TIDAK AKAN BERBOHONG!” suara Donghae memenuhi ruangan itu.

“Kasihanilah aku, Donghae! Jangan percaya anak itu,” Soo Hye memelas.

“Iya, Donghae. Jangan memperlakukan calon istrimu seperti ini!” omma Soo Hye melanjutkan.

“TIDAK, OMONIM! OMONIM DAN SOO HYE SUDAH MENGKHIANATI SAYA. MULAI SEKARANG PERNIKAHAN DIBATALKAN! DAN JANGAN HARAP SAYA MAU MENGENAL KALIAN LAGI. KELUAR!”

“Ta..tapi…” Soo Hye dan omma-nya berkata dengan mulut menganga. Tidak percaya akan ucapan Donghae.

“KELUAR! Saya tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak mencintai saya!” Donghae menegaskan.

Mereka berdua keluar dengan perasaaN sedih dan sakit. Air mata bercecer di kedua wajah yeoja itu. Donghae masih dapat mendengar kata-kata Soo Hye meskipun mereka sudah di pintu luar. “Kalau saja… hiks.. appa masih ada,”

Donghae merenggut handphone-nya, menekan nomor dan berbicara. “Jung Ra, katakana pada para tamu sekarang juga bahwa pernikahan dibatalkan! Cepat! Ssshh.. saya tidak mau tahu!”

Dia menatap Iu, “Kamu tidak apa-apa, Iu?”.

“Ne, kwenchanayo!”

“Iu, eh..” dia melanjutkan dengan memegang tangan Iu, “selama ini aku sadar aku salah memilih pasangan hidup. Namun ketika aku bertemu denganmu, aku sadar bahwa kamulah pasangan hidupku. Ada rasa yang lain ketika aku bersamamu. Seperti waktu kita mencoba bahan kue itu. Iu, maukah kamu menjadi istriku?”

“Hah? Oppa, aku… mungkin ini terlalu cepat. Tapi biarkan waktu yang jawab, ya,” Iu berkata penuh senyuman.

“Baik. Kalau itu maumu.” Donghae membalas senyum Iu.

“Oppa, kenapa tidak bertemu para tamu saja. Dan jelaskan apa yang terjadi?”

“Sudahlah. Bagiku itu tidak penting. Jung Ra bisa menyelesaikannya,”

“Ok. Kalau begitu kita makan kue kita saja. Hahahaha. Ha Chan ayo sini! Gomawo ya Ha Chan. Tanpa kamu eonnie tidak akan selamat,”

“Ne, eonnie! Ayo kita makan!”

THE END

Jadi, begitulah kisah cinta seorang pembuat kue. Hehehe, sekali lagi author minta maaf yg sebsar-besarnya kalo ff ini ga mutu banget. Komen ya, ada hal yang kurang tolong bilang agar author bisa memperbaiki ff author nanti. KOMENYA JANGAN PAKE EONNIE!!! AKU BUKAN CEWEK ><! Ga bisa komen di sini? di twitter author aja ya. skalian kita bisa kenalan. kata Putri noona: trik malah seneng kok di SKSD-in. Sam kaya aku ^^. Kta kan bisa akrab. Ok! Ini twitter aku: @eLF_Banana . Gomawoyo udah mau baca ^^

25 responses

  1. HaeYu jjang! Hehe😀
    FFnya bagus chingu~ banyakin ff yg castnya IU ya thor, janji komen terus deh ‘-‘)9 *nyogok*
    fighting🙂

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s