Clock [Part 6]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b

, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

Berjalan melewati koridor sekolah baruku, Seoul High School. Ini hari pertamaku sekolah disini dan di hari penting ini aku sudah mengalami banyak kesialan. Cukup sudah. Aku akan mengakhiri hari kesialanku sekarang juga.

Aku mengepalkan kedua tanganku.

“Jiyeon-aa! Tunggu aku!” teriak Jieun. Aku tidak melirik ke arahnya sama sekali. Tapi yang ku tahu, dia sudah pasti berada jauh dibelakangku.

Kuintip keadaan kelas 11-3 dari jendela. Kelas benar-benar kosong. Tidak ada seorangpun teman sekelasku berada disana, kecuali namja yang sedang duduk. Ia kelihatan tenang dengan headset yang menempel di sepasang telinganya. Itu dia!

Aku tersenyum licik dan segera ku buka pintu kelas.

Jiyeons POV End

.

.

Thunder POV

Ku putar lagu berjudul Oh Yeah dari ponselku, sedetik kemudian aku mengganti lagunya menjadi Y, kemudian Stay dan seterusnya. Entah kenapa aku menjadi gelisah seperti ini. Apa gara-gara perbuatanku terhadap Jiyeon di lapangan? Apa aku sudah keterlaluan? Ani.. Aku tidak salah.. Itu balasan dari perbuatan dan sikapnya di kedai es krim. Toh aku juga tidak memukul kepalanya dengan bola basket dengan kencang.

Aku memejamkan mata saat lagu G.O.O.D Luv diputar. Kurasakan diriku jauh lebih tenang dari biasanya..

BRAK!!

BLAM!!

Kembali membuka mataku saat mendengar seseorang membuka dan menutup pintu kelas dengan kasar. Seorang yeoja datang menghampiriku kemudian menggebrak mejaku dengan kencang. Kulepas headset yang menempel di telingaku.

“Wae?” tanyaku tenang.

Yeoja itu membulatkan matanya, menatapku tidak percaya. “Wae?! Kau ini bodoh atau apa hah? Sudah memukul kepalaku dengan bola basket dan kau malah memasang wajah tidak berdosa sambil mengucapkan kata WAE??”

Ya, yeoja pabo itu Jiyeon. Kulihat tangan kanannya sudah mengepal.

“Park Sanghyun! Kau ini benar-benar…!” Jiyeon melayangkan tangan kanannya kearah mukaku.

Ah, sudah kuduga dia mau memukulku. Namun sayang, gerakannya sangat lamban sehingga aku berhasil mencengkeram tangannya sebelum mengenaiku.

“Ya! Lepaskan!”

“Andwae!”

Tangan kiri Jiyeon mencoba melepaskan cengkeraman tanganku dari tangannya yang lain. Terbesit dipikiranku untuk sedikit menggodanya, ani.. maksudku mempermainkannya! Aku terkekeh lalu menyunggingkan evil smirk ku.

Ku langkahkan kedua kakiku mendekati Jiyeon. Dia yang daritadi sibuk melepaskan tangan kanannya dari tanganku kini menatap mataku.

“Ya! Kenapa kau maju-maju?!” ucapnya seraya berjalan mundur kebelakang.

“Sudah kau diam saja!”

Aku memajukan kakiku selangkah, sedangkan dia memundurkan kakinya selangkah. Selangkah demi selangkah aku berusaha untuk mendekatinya. Dan.. berhasil! Kini punggung Jiyeon sudah menyentuh tembok.

Secepat mungkin kutempelkan tangan kiriku lurus. Kutatap matanya dengan tajam. Ia bergidik ngeri. Ku eratkan cengkeraman tangan kananku.

“Y-ya! Kau.. mau apa?”

Thunder POV End

.

.

Jiyeon POV

Aku berjalan mundur sampai titik dimana aku hanya bisa diam ditempat. Ck! Badanku sudah menempel ke arah tembok! Si petir itu maunya apasih?!

Aku menggeser badanku agar kami bisa bertukar tempat namun telat! Telapak tangan kiri Thunder sudah menyentuh tembok sehingga aku tidak bisa bergerak kemana-mana. Berusaha mencari celah agar bisa keluar dari situ, namun dia semakin mencengkeram tangan kananku. Aku merasa sakit di bagian pergelangan tanganku sekarang. Aigoo.. Otteokhe?? Sekarang aku menatap matanya pasrah.

“Y-ya! Kau mau apa?”

Thunder mengeluarkan evil smilenya. “Kisseu.” jawabnya singkat, padat, dan jelas, membuat mulutku ternganga lebar.

“MWO??” Pundakku menegang. “Ani.. K-kau hanya bercanda kan Thunder? Haha. Lucu sekali..”

Apa aku tidak salah dengar?? Apa dia sudah gila??

I really want to kiss you..” bisiknya di telingaku. Aku bergidik.

“Ya! Berhentilah bercanda!”

Sekali lagi Thunder mengeluarkan evil smilenya. “Hah. Apa kamu pikir aku hanya ingin bercanda denganmu? Baiklah..” Thunder mencondongkan wajahnya ke arahku.

DEG DEG DEG DEG DEG

Kurasakan jantungku berdetak cepat. Apa dia benar-benar ingin menciumku?? Aku tidak mau first kiss ku diambil oleh namja evil ini!

Perlahan tapi pasti, wajahnya semakin mendekati wajahku. Ingin sekali kupalingkan kepalaku, tapi tidak bisa.. Aku benar-benar membeku di tempat! Dengan cepat, kupejamkan kedua mataku.

DEG DEG DEG DEG DEG

 

Mint.

Mwo? Mint?? Aroma mint dari tubuhnya sudah tercium olehku! Apa sekarang tubuh kami sudah begitu dekat satu sama lain?? Dengan perlahan, kubuka mataku..

Astaga! Sepertinya dia benar-benar akan menciumku..! Andwae! Andwae! Hidungku saja hampir menyentuh hidungnya..!

Ingin sekali lagi kupejamkan mataku, tetapi matanya yang tajam seperti menghipnotisku.. Kini aku seperti lumpuh total. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.. kecuali detak jantung ini…

DEG DEG DEG DEG DEG

Wajah kami benar-benar dekat sekarang. Thunder memiringkan wajahnya sedikit agar dia bisa menciumku.

TING TONG TING TONG..

Bel masuk. Ya, jam istirahat sudah berakhir.. Tapi Thunder belum mengakhiri aksinya.

First kiss ku.. Apa aku akan memberikannya semudah itu pada namja yang menyebalkan ini? Aku benar-benar pasrah sekarang.. Beberapa senti lagi bibir kami pasti akan bersentuhan..

DEG DEG DEG DEG DEG

 

3 SENTI..

Aroma mintnya benar-benar menyesakkan pikiranku…

2 SENTI..

Thunder menutup matanya, begitupun aku…

1 SEN…

BRAK!!

Pintu kelas tiba-tiba terbuka. Aku dan Thunder sontak kaget. Kami berdua menoleh ke ambang pintu— mendapati Pulip seosangnim, wali kelasku dan teman-teman sekelas menatap kearah kami dengan ekspresi terkejut.

“Kyaaa Jiyeon-aa!” pekik Jieun. “Apa yang kau lakukan dengan Thunder??”

Thunder langsung berjalan kikuk mengambil jarak denganku. Tanganku yang dicengkeram olehnya juga sudah dilepaskan. Thunder menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sedangkan aku memegangi kedua pipiku yang terasa panas sekali.

“Ya! Park Sanghyun! Park Jiyeon! Sepulang sekolah kalian harus menghada keruangan saya! Saya akan memberi kalian hukuman!” kata seosangnim tegas.

“MWO?!” kata kami berbarengan.

“Tapi seosangnim..”

“Jika ada yang mau kalian katakan, nanti saja diruangan saya. Sekarang duduk ke tempat kalian masing-masing dan buka buku paket halaman 201!”

Teman-teman sekelas yang tadinya ingin bertanya macam-macam kepadaku dan Thunder langsung mengurungkan niatnya. Kecuali Jieun. Dia terus-terusan menanyaiku satu pertanyaan yang simple, “Apa yang kau lakukan dengan Thunder?” Aku sendiri tidak tau harus menjawab apa..

Jiyeon POV End

.

***

.

Ruangan Pulip

 

Thunder POV

 

Menopang dagu dengan botol minuman yang diletakkan di atas meja.

Hhhhh.. Aku tidak menduga aksiku— mencium Jiyeon terlihat oleh teman-teman sekelasku, bahkan seosangnim pun juga melihatnya! Padahal aku hanya ingin mempermainkan Jiyeon. Kau tau maksudku? Ne! Aku hanya pura-pura ingin menciumnya! Mana mungkin aku punya pikiran untuk benar-benar mencium bibir yeoja pabo itu? Yang ku inginkan hanyalah: membuat yeoja pabo itu malu! Lihat saja ekspresi salah tingkahnya yang benar-benar menggelitik perutku..

“Ya Park Sanghyun! Apa yang barusan saya katakan? Coba kamu ulang!” kata seosangnim membuyarkan lamunanku. Aku menegakkan badanku dan menoleh ke arah Jiyeon dengan tatapan apa-kata-seosaengnim-tadi namun Jiyeon hanya menatapku sinis.

“Kau melamun rupanya!” Seosangnim menghela nafasnya. “Dengarkan baik-baik! Kamu Park Sanghyun seharusnya sudah tau peraturan di Seoul High School ini, bahwa para murid dilarang keras untuk berpacaran! Dan Park Jiyeon sebagai murid baru, saya yakin anda telah diberi buku pedoman dari sekolah dan mengapa anda tidak membacanya?”

“Aku sudah membacanya Pulip seosangnim!” Jiyeon mengerutkan keningnya.

“Ne. Lagipula kami tidak berpacaran!” Aku bergidik ngeri. “Buat apa aku berpacaran dengan yeoja pabo ini?”

Jiyeon menoleh ke arahku. “Ya! Sudah kubilang berhenti memanggilku pabo, dasar bocah petir!”

“Mwo? Bocah petir? Hah. Sebutan apa itu?!”

“Molla.” Jiyeon kembali menatap seosangnim. “Jangan salahkan aku seosangnim. Thunder lah yang memulai ini duluan. Ini salahnya!” Dia menunjuk ke arahku.

“Salahku?! Ani.. Seosangnim jangan percaya kata-katanya! Ini salahnya!” Aku balas menunjuk.

“Mwo? Aku?? Enak saja! Ini semua salahmu!”

“Ya!”

Seosangnim memijit-mijit kepalanya, melihat kelakuan kami berdua. “Apapun itu, kalian tidak bisa mengelak karena saya sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Jadi sebagai hukumannya, kalian wajib membersihkan toilet pria di lantai 3.”

Mwo?! Apa aku tidak salah dengar?? Toilet pria yang di lantai 3 itu kan… tidak pernah digunakan sejak aku masuk ke sekolah ini! Sudah begitu, aku pernah mau masuk ke toilet itu untuk buang air kecil, namun segera ku urungkan niatku begitu mencium bau busuk.. Aish! Aku tidak mau membersihkan toilet itu! Ku acak-acak rambutku frustasi.

“Andwae!! Aku tidak mau!”

“Ne! Aku juga! Aku kan wanita, kenapa harus membersihkan toilet pria?!”

“Berteriak-teriak di hadapanku..” Pulip seosangnim mengeluarkan 2 buku. “Kerjakan ini dan kumpulkan minggu depan!”

Aku menatap judul buku itu. Perbintangan. “Apa ini?”

“Tugas tambahan.”

“Mwo??” tanyaku dan Jiyeon kompak.

“Kalian mendapat dua hukuman. Satu, membersihkan toilet pria di lantai 3 karena berpacaran di sekolah. Dua, menjadi satu tim dalam mengerjakan tugas geografi karena membuat saya pusing hari ini. Jika mau protes, katakan sekarang maka kalian akan mendapat hukuman baru.” Seosangnim tersenyum melihat kami yang masih tercengang. “Selamat mengerjakan tugas!”

Thunder POV End

***

Lee Joon POV

Ku jinjing tas sekolahku menuju kelas Jiyeon. Ah, sepi sekali kelasnya. Apa Jiyeon sudah pulang ke apartemennya?

“Wooyoung-aa!” panggilku ketika melihat Wooyoung sedang membereskan peralatan sekolahnya.

“Hmmm? Waeyo Joon?”

“Apa kau lihat Jiyeon-aa? Apa dia sudah pulang?”

Wooyoung berpikir-pikir sebentar. “Aniyo.”

“Aniyo? Dimana dia sekarang?”

“Dia sedang membersihkan toilet pria yang bau itu.. Ya, di toilet pria lantai 3.”

Wooyoung melihat ekspresi bingungku. Tanpa ditanya, dia menjelaskan semuanya padaku. Dari saat melihat Thunder dan Jiyeon berciuman sampai saat seosangnim menyuruh mereka untuk membersihkan toileh sebagai hukuman.

DEG.

Ada apa sebenarnya? Kenapa Jiyeon berciuman dengan Thunder? Hatiku begitu sakit mendengarnya. Mungkin ini yang namanya cemburu..

“Ya! Joon! Kau ini kenapa memasang wajah seperti itu? Ekspresimu sangat menakutkan!” Wooyoung pura-pura bergidik ketakutan diikuti suara tawanya.

Aku tersenyum kecut. Kuucapkan terimakasih kepada Wooyoung kemudian berjalan menuju toilet pria di lantai 3.

Lee Joon POV End

.

.

Jiyeon POV

“Ya! Ini semua karena perbuatanmu!” Thunder memakai masker agar dia tidak mencium bau busuk toilet pria ini.

“Hah. Kau pikir ini karena perbuatanku, begitu?”

Thunder mengangguk mantap.

Aku tersenyum sinis. “Baik. Anggap saja ini salahku…. tapi hanya dalam mimpimu!”

“Ya! Kau ini..”

“Sudah! Berhenti bicara dan mulai pekerjaanmu! Semakin banyak kamu bicara, semakin banyak juga waktu ku yang kau buang sia-sia!” Aku menyodorkannya kain pel.

“Terimakasih.” ujarnya dingin.

Thunder dan aku mulai membersihkan toilet. Benar-benar kotor dan bau! Aku heran, bukankah Seoul High School mempekerjakan pembersih? Lalu kenapa para pembersih itu tidak menyentuh toilet ini? Apa mereka terlalu malas? Huh. Makan gaji buta.

Ruangan ini selain kotor, bau, banyak serangga, suram, ternyata juga pengap. Lengkaplah sudah penderitaanku hari ini. Aku menyeka keringat yang ada di dahiku sampai tiba-tiba seseorang menyodorkan saputangan yang di sudut saputangan itu, ada jahitan berinisialkan L.J. L.J? Aku menatap pemilik saputangan itu. Senyumnya mengembang saat mata kami bertemu.

“Lee Joon oppa!” Aku senang sekali melihatnya. Joon mengelap keringat di dahiku dengan saputangannya. Setidaknya, ada satu malaikat yang bersamaku di saat aku berada dalam neraka.

“Jiyeon-aa, sedang apa kamu disini? Ayo kita pulang!” ajaknya.

Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

“Ya! Jangan bilang kau mau pulang sekarang! Ingat Park Jiyeon, kau sedang menjalani masa hukumanmu bersamaku, Park Sanghyun sekarang.” Thunder mengeluarkan evil smirk nya.

Mendecakkan lidah kemudian kembali menatap Joon. “Mianhe oppa.. Aku sedang dihukum bersih-bersih toilet ini.. Joon oppa pulang saja dulu..”

“Hmm, aku mengerti.” seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana kalau aku membantumu? Dengan begitu, kita bisa pulang bersama.”

“Jjinja?”

Senyumku langsung mengembang ketika melihat Lee Joon mengangguk lagi. Joon benar-benar malaikatku!

Lee Joon segera melepaskan jas kemudian menggulung lengan kemeja sekolah. Dia juga sedikit melonggarkan dasinya. “Apa yang bisa kubantu?”

“Mengepel saja. Kebetulan ada satu kain pel yang tidak terpakai. Joon oppa bisa menggunakannya.” Aku memberikan kain pel itu ke Joon.

“Baiklah, ayo kita bekerja sekarang! Fighting!”

Ku angkat kedua tanganku. “Ne oppa! Fighting!”

Thunder memandangku sinis. “Ya! Berhentilah berbicara dan cepat kerjakan hukumanmu!”

“Ne! Aku mengerti! Lagipula aku bekerja dengan serius!”

Thunder tertawa meremehkan. “Bah, serius? Lihat! Bagian yang tadi kau pel saja masih terlihat kotor!” Menunjuk-nunjuk ke arah ubin yang diinjaknya.

Aku mendengus kesal. “Ne. Aku akan membersihkannya!” kataku seraya berjalan ke arah Thunder. Namun tidak tau apa, rasanya aku telah menginjak sesuatu yang sangat licin. Aku mulai tidak bisa menjaga keseimbanganku. Astaga! Aku akan jatuh!

“Kyaa!” jeritku.

BRUK!

Benar saja, aku terjatuh sekarang. Syukurlah, aku tidak merasakan sakit padahal aku terjatuh di ubin yang empuk… Eh? Dimana-mana ubin kan sangat keras. Tapi kenapa ubin satu kali ini empuk? Aku membuka mataku.

Thunder! Aku jatuh di badan Thunder! Aigoo~!!

DEG DEG DEG DEG DEG

Kurasakan jantung ini berdetak kencang ketika mataku menatap mata tajamnya.

Jiyeon POV End

 

 

Thunder POV

Jiyeon berjalan ke arahku. Namun beberapa langkah sebelum menghampiriku, kakinya menginjak spons yang tergeletak di lantai. Sikapnya biasa saja, aku rasa dia tidak menyadarinya. Dasar yeoja pabo! Sebentar lagi dia pasti akan terpeleset. Hahaha aku jadi ingin melihatnya terjatuh!

Benar saja. Tidak sampai sedetik keseimbangannya sudah mulai runtuh. Mari kita lihat momen-momen dia terjatuh.. Tapi tunggu! Kenapa badannya condong ke arahku? Apa aku akan tertubruk olehnya?? Gawat aku harus menghindar!

Aku bergeser sedikit dari tempatku semula berdiri. Namun..

BRUK!

Tetap saja yeoja pabo ini menubrukku! Aku jadi ikut terjatuh ‘kan!

Kuangkat sedikit kepalaku, agar aku bisa melihat dadaku— tempat kepala Jiyeon bersandar sekarang. Ingin sekali aku menyingkirkan Jiyeon dari tubuhku namun ku urungkan niatku begitu melihat dia membuka matanya. Dibalik matanya yang sipit, dia balas menatapku. Kemudian tatapanku beralih ke hidungnya yang mancung, bibir pink yang mungil, rambut cokelat emas yang panjang… Kalau diperhatikan baik-baik, dia memang cantik. Malas sekali mengakuinya, tapi benar apa kara Sandara noona, Jiyeon itu ‘neomu kyeopta’, kalau dia sedang terdiam seperti ini!

DEG DEG DEG DEG DEG

M-mwo? Suara apa itu? Aku rasa itu suara detak jantungku. Tapi kenapa begitu cepat??

Thunder POV End

.

.

Lee Joon POV

Aku melangkahkan kakiku mendekati Jiyeon dan Thunder yang sedang terbaring di lantai. Cukup sudah! Rasanya hatiku tersayat melihat mereka yang sedari tadi hanya menatap satu sama lain, tidak bergerak sekalipun. Ku pisahkan pelukan mereka kemudian menarik tangan Jiyeon dengan kasar. Aku dapat mendengarnya meringis.

“Ada apa oppa?” tanya Jiyeon bingung.

“Kita pergi dari sini sekarang.”

“Mwo?”

Kupasangkan tas bewarna pink ke punggung Jiyeon seraya menjinjing tasku. Aku memegang tangannya erat.

“Oppa.. Aku tidak bisa pergi denganmu sekarang..” Jiyeon menatap ke arah Thunder yang sudah berdiri. “Aku masih ada urusan..”

“Lupakan urusanmu itu.” seraya menarik tangan Jiyeon sehingga mau tidak mau dia mengikuti langkahku, meninggalkan Thunder yang masih terdiam di tempat.

***

“Aku kira oppa akan mengantarkanku pulang, tapi ternyata hanya menyuruhku berganti pakaian. Memangnya kita mau kemana?” tanya Jiyeon yang sedang memainkan gantungan ponselnya.

Aku hanya tersenyum dan tetap fokus mengemudikan mobilku.

Jiyeon memasangkan kembali gantungan monyet itu ke ponselnya. “Kau benar-benar membuatku penasaran oppa.” ucapnya seraya menggembungkan pipinya.

Beberapa lama kemudian aku memarkirkan mobil. Aku beranjak keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Jiyeon.

Ia menatap sekeliling. Di tempat itu, terdapat pohon-pohon yang dilengkapi buah dan bunga yang indah dan beberapa tempat duduk yang menghadap ke danau.

“Taman?”

Aku mengangguk.

“Aigoo~ Cantik sekali pemandangan disini.. Tapi kenapa hanya ada kita disini?”

“Karena ini tempat rahasiaku.” Aku tersenyum melihat ekspresi bingungnya yang lucu itu. Neomu kyeopta!

Jiyeon menaikkan alis kanannya. “Tempat rahasiamu?”

“Ani.. Sekarang tempat rahasia kita.”

Kami berjalan melewati jalan setapak kemudian duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah danau. Aku dan Jiyeon terdiam beberapa lama menikmati pemandangan di hadapan kami sampai aku memutuskan untuk membeli sesuatu.

Lee Joon POV End

 

 

Jiyeon POV

 

Aku menunggu Lee Joon kembali dengan membaca fan fiction lewat ponselku. Memang hobiku selain membuat kue adalah membaca, tapi bukan membaca buku pelajaran ya! Aku sangat suka membaca komik, novel, sampai fan fiction yang bisa di akses lewat internet. Ku matikan ponselku ketika Joon sudah kembali. Ia duduk disampingku.

“Ini.” Menyodorkan es krim ke arahku.

“Es krim!” pekikku senang.

Joon menggembungkan pipinya. “Kamu masih suka es krim ya? Benar-benar tidak berubah! Lalu selain suka makan es krim, kau juga suka makan cheese cake? Mmm, pizza?”

Aku terkejut mendengarnya. Ternyata Lee Joon masih mengenaliku dengan baik, padahal terakhir kami bertemu saat di Amerika. Hmmm.. Kalau tidak salah saat aku berumur 10 tahun? Aku jadi teringat saat aku disambut Lee Joon di bandara. Dia langsung mengenaliku padahal kami tidak pernah bertemu lagi selama bertahun-tahun. Aigoo~ Itu ‘kan sudah lama sekali.. Aku tersanjung.

“Ne. Ingatanmu sangat baik sekali oppa.”

“Tentu saja!” Kemudian Joon menatap sudut bibirku.

“Waeyo? Apa ada es krim di sini?” Menunjuk sudut bibir.

Joon mengangguk. Dia mengelap es krim yang berceceran di sudut bibirku dengan jari telunjuknya. Tiba-tiba mataku membulat melihat Lee Joon menjilati jari telunjuknya yan tadi dia pakai untuk membersihkan es krim di bibirku.

DEG DEG DEG DEG DEG

Huah! Apa yang barusan dia lakukan?! Itu kan sama saja dengan—

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Aku masih tercengang.

“Apa aku jorok? Mian.. Habis sayang sekali kalau aku mengelap noda es krim itu di saputangan. Es krim ini sangat enak sih…” Joon menatapku yang masih tercengang. “Kamu tidak ilfill padaku ‘kan?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Oh baguslah.” Joon kembali menjilati es krim miliknya.

Sepertinya Lee Joon tidak mengerti apa yang habis dia perbuat.. Aku tidak menganggap Lee Joon jorok atau apa.. Tapi.. yang barusan itu kan sama saja dengan ciuman tidak langsung!! >/////<

Jiyeon POV End

———————-TBC———————

Tidak henti-hentinya author CB mengingatkan pada readers, tobatlah anda sekalian dengan meninggalkan comment dan jangan jadi copycat🙂

Follow @CerilynBam

25 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s