My Ghost Lost In My Birthday

Title : My ghost lost in my birthday

Author : Lee Yong In (Sry 14 y.o)

Main Cast :

° Park Jiyeon (T-ARA)

° Park Sanghyun (MBLAQ)

Other Cast :

° Choi Minho (SHINee)

° Shik Gongchan (B1A4)

Genre : Mix

Rating : G

Length : Oneshoot

Dislaimer : I just own the plot.

A/N : THIS IS A VERY SPECIAL FANFIC FOR MY SPECIAL EONNI, PARK JIYEON ! SAENGIL CHUKKAEHAEYO EONNI *meluk Jiyeon eonni*

oh ya karena disini ada 3 cowok yang saya favortikan sebagai couplenya Jiyeon.. Sok atuh.. CheonYeon shipper, MinJi shipper, ChanJi shipper dibaca yaak !

DONT FORGET TO LEAVE A COMMENT😀

GAMSAHAMNIDA~~

___

Author POV

“Before the dawn.. i’ll be always there in your beside,”

“Before the dawn ?? Berarti saat siang kau tidak akan ada disampingku ??” tanya seorang yeoja dengan polosnya.

“Of course no, baby.”

“Wae ??”

“Aku tidak suka matahari,”

“Hahaha ! Kau lucu sekali, seperti vampir saja !”

Yang dimaksudkan hanya tersenyum tipis saja.

“Oh, ya ! Karena kau akan selalu datang sebelum matahari terbit, tolong bangun pagi-kan aku ya ?? Aku sering telat soalnya kalau bangun pagi,” ujar yeoja itu malu-malu.

“Sure,”

“Gomawo…”

“Sanghyun. Park Sanghyun.”

“Aaah.. Gomawo, Park Sanghyun. Good night,”

“Ne.. Park Jiyeon,”

Author POV End

___

Jiyeon POV

“Jiyeon noona.. Jiyeon noona.. Irreona..” suara itu menggema di telingaku. Suara yang sering kudengar.

Ku bangun sambil sedikit mengusap mataku. “Waeyo, Gongchan-ah ? Hoahmm…”

“Noona, kau masih tanya kenapa ? Ini sudah jam 06.20 pagi, apa kau mau terlambat lagi ?”

“MWO?? 06.20 ?!” pekikku kaget.

“Aish.. Kata Sanghyun, dia mau membangunkanku !” gumamku pelan.

“Waeyo, noona ?”

“Ah.. Ahniya, ahniya. Aku mau mandi dulu Gongchan-ah,” ku mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum masuk, ku sempat berbalik ke arahnya terlebih dahulu.

“Oh, iya. Jangan panggil aku noona, lagi. Kita hanya berbeda 2 bulan, Gongchan-ah. Aku merasa seperti sudah sangat tua,” ujarku kemudian benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.

Dan setelah ku masuk, terdengar ia sedang tertawa terbahak-bahak di luar sana.

“Aish.. Dasar namja ! Awas kau nanti !”

___

Ku mempercepat langkahku saat turun dari tangga. Tentu saja. Ini sudah jam 06.35 ! Dan hari ini adalah jam pelajarannya, Heechul songsaenim. Bisa mati aku kalau tak cepat-cepat.

Ku memakai sepatu pink kesayanganku dan bergegas membuka pintu.

Tapi saat diluar, kulihat Gongchan masih ‘stay’ di samping motornya.

“Gongchan-ah, kenapa kau masih disitu ?” tanyaku heran.

“Tentu saja, aku disini. Aku kan akan pergi denganmu,” jawabnya.

“Kau tidak terlambat, kalau menungguku ?” ujarku sambil mendekatinya dan mengambil helm yang ada di atas motornya.

“Tentu saja, tidak. Lebih baik aku terlambat, daripada harus meninggalkan noona-ku yang cantik ini..” godanya sambil menyubit pipiku pelan.

Aku sedikit tersipu malu. Tapi, dengan bergegas ku langsung menepis tangannya. “Aah.. Kkaja, kkaja ! Kita pergi ! Ini sudah sangat terlambat. Kau ini, memang suka sekali menggodaku Gongchan !”

“Waah.. Wajahmu memerah, noona ! Kau malu ya ? Kau suka padaku ya ?” pekiknya histeris.

“What ?? Jangan gila ! Mana mungkin aku suka pada saudaraku. Saudara tiri-ku sendiri !” geramku kesal.

“Yah.. Jangan marah, dong. Aku kan hanya bercanda,”

“Ne. Sudah, sudah. Ayo kita pergi. Jam pertama hari ini, adalah Heechul songsaenim. Bisa mati aku kalau terlambat,” keluhku kemudian naik ke atas motornya.

“Tenang saja. Kau tidak akan pernah mati di tangan Heechul songsaenim, kalau pergi denganku.”

Gongchan mulai memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dan, swiiiiing… Benar juga katanya. Tak sampai 5 menit, kami sudah sampai di sekolah tepat waktu saat bel baru berbunyi.

“Ya! Lain kali jangan seperti itu. Aku bisa mati tahu !” ujarku sambil turun dan menyerahkan helm ke arahnya.

“Yang penting kau tidak terlambat, kan.. Hehehe,” kekehnya pelan.

“Itu benar juga sih. Heem.. Gomawo, Gongchan-ah.” ucapku sambil tersenyum semanis mungkin. Ia sedikit terhenyak, namun setelah itu langsung membalas senyumanku.

“Ne.”

Setelah itu ku langsung berbalik, dan hendak meninggalkannya ke kelas. Tapi terhenti, karena lagi-lagi ia memanggilku dengan sebutan itu lagi.

“Noona…”

“Ya! Gongchan! Sudah kubilang jangan panggil aku noona !” protesku.

“Wae? Aku kan hanya ingin memanggilmu, noona. Kau tahu, dari dulu aku ingin sekali punya seorang, noona. Dan saat sudah punya, apa aku tak bisa memanggilnya seperti itu ?” ujarnya. Haah.. Aigo. Aku jadi kasihan melihatnya.

Ku menghela nafas panjang. “Geurae. Kau boleh memanggilku, noona. Tapi, jangan di sekolah. Cukup di rumah saja.”

“Jinjja ?? Okay… Jiyeon-ah..” sahutnya riang.

“Geurae. Kalau begitu aku pergi dulu ke kelas. Bye,” ujarku kemudian langsung berlari ke arah kelas.

___

Ku tepat waktu saat masuk ke kelas. Heechul songsaenim masuk semenit kemudian setelah aku sampai. Huff.. Untunglah.

“Jiyeon-ah,” panggil orang yang disebelahku. Minho.

“Wae ?”

“Kau sudah mengerjakan PR biologimu, tidak ?” tanyanya.

“PR ?” ku sedikit berfikir. “Aaah.. Aku lupa, Minho ! Ottokhe ?” seruku bingung. Aku benar-benar lupa mengerjakan PR semalam.

“Igeo. Salin saja punyaku. Cepat.. Mumpung Heechul songsaenim sedang ke toilet,”

“Jinjja ? Aah.. Gomawo Minho-ya,” ucapku tulus.

“Ne. Gwaenchana,” sahutnya sambil tersenyum. Senyum karismatik yang mungkin dapat meluluhkan hati wanita manapun.

“Kau memang Choi Minho, namjachinguku yang paling baik !”

Lagi-lagi ia tersenyum. Dan pada saat itu pula, terbesit bayangan wajah seseorang di wajah Minho. Bayangan.. Park Sanghyun ??

“Waeyo, Jagiya ? Kok melongo seperti itu ? Cepat kerjakan sana. Nanti keburu Heechul songsaenim datang,” peringat Minho.

“Aah.. Ne.” ku menunduk dan langsung menyalin catatan milik Minho.

Kenapa tiba-tiba saja wajah Sanghyun itu muncul di pikiranku ??

Jiyeon POV

___

20.30 KST

“Gongchan-ah, aku masuk duluan ! Kalau nanti umma dan appa, menelpon, kau saja yang angkat ya !” teriakku.

“Ne, noona !” sahut Gongchan dari arah ruang tengah.

Ku membuka pintu kamar-ku dan masuk ke dalamnya.

“Aaah ! Aku baru ingat, kalau ada PR dari Heechul songsaenim tadi,” dengan lekas ku lekas duduk di meja belajar, dan mengeluarkan buku-buku dari dalam tas-ku.

Saat sedang asyik-asyiknya menulis, tiba-tiba saja, swiiiing.. Semilir angin dingin lewat begitu saja dibelakangku. Aku kok jadi merinding begini ? Haah.. Biarkan saja lah. Mungkin cuma setan numpang lewat saja.

“Sedang apa ?”

“Huaaa…. !!”

“Ya.. Tenang, tenang. Ini aku, Sanghyun.”

“Haah.. Ternyata cuma kamu. Ngapain kamu kesini lagi ?” hentakku.

“Aku kan sudah bilang. Aku akan selalu menemanimu setiap malam sampai sebelum matahari terbit nanti,” jawab Sanghyun lembut.

“Benarkah ? Tapi kenapa kau tak membangunkanku tadi pagi ? Kau tahu, aku hampir terlambat !” hardikku menyudutkannya.

“Aku sudah membangunkamu, Jiyeon-ah. Tapi, kau yang tak mau bangun.”

“Jinjja? Aah.. Mianhae,” sesalku. Ku menatap Sanghyun yang juga tengah menatapku. Omo.. Pandangannya teduh sekali.

“Gwaenchana,” ucap Sanghyun sambil membelai pipiku.

Omo.. Tangannya dingin sekali !!

Ku langsung saja menggapai tangannya. “Omo.. Kenapa tanganmu dingin sekali ??”

Ia hanya tersenyum sambil melepaskan tangannya.

“Ya ! Wae ?? Kenapa tanganmu dinginmu sekali ?? Dan.. Wajahmu juga pucat. K.. Kau ini sebenarnya apa, huh ?” paksaku ragu. Aku ragu karena aku takut akan menyinggung perasaannya. Tapi wajah pucat, kulit yang sedingin es.. Aku ingin tahu dia ini sebenarnya apa. Aku sudah penasaran semenjak dia datang secara tiba-tiba kemarin di kamarku

Sanghyun tersenyum dan sejurus kemudian

ia mencondondongkan tubuhnya ke arahku, hingga sekarang jarak kami tinggal beberapa cm saja.

“Kau benar-benar mau tahu aku ini apa ?”

“Ne,”

___

“Jagiya, kau tak mau istirahat ?” tanya Minho.

“Ahni,” sahutku singkat.

“Wae ?? Ayolah, jagi. Kau bisa sakit kalau tak makan,” ujar Minho. Kelihatannya dia benar benar cemas terhadapku.

“Aku tak akan mati hanya karena tak makan sekali saja Minho-ah..”

“Haah.. Ne. Kalau begitu aku pergi dulu ya,” ujarnya sambil membelai rambutku pelan.

“Ne. Mr. Choi yang tersayang. Kekeke~” ledekku.

“Dasar kau. Sudah, aku pergi dulu. Aku akan bawakan susu untukmu,” ujarnya kemudian benar-benar keluar dari kelas.

Haah..beruntungnya aku mempunyai namjachingu seperti dia.

Berada sendiri di kelas seperti ini, membuatku jadi bosan.

Ku menghembuskan nafasku di kaca, kemudian menuliskan nama-nama disana. Biasanya aku akan menuliskan namaku atau nama Minho. Tapi apakah kalian tahu, apa yang sedang kutulis sekarang ?? Sanghyun. Iya, Park Sanghyun. Entah kenapa wajahnya tiba-tiba saja terbesit di pikiranku.

Haah.. Aku jadi ingat kejadian semalam.

-Flashback-

“Kau tahu nyawa orang yang sudah meninggal akan jadi apa ?” tanya Sanghyun sambil sedikit menyeringai.

“Nyawa orang yang sudah meninggal ?? Setahuku dia akan jadi arwah,” jawabku asal. Tunggu ! Apa yang kukatakan tadi ?? Arwah ??

“Jadi k.. kau arwah ?!”

“Ya! Jangan dekat-dekat denganku !” ku mendorong tubuh Sanghyun menjauh. Aku tak habis pikir. Jadi sejak kemarin itu, aku berbicara dengan seorang.. Arwah !?

“Hey, jangan panik seperti itu. Aku tidak akan menggigitmu, kok.” tatapannya saat itu, sangat lembut. Dan, entah kenapa aku jadi tersihir oleh tatapannya itu.

“Jinjja ?”

Sanghyun secara perlahan mendekatkan dirinya padaku.“Lihat. Aku tak punya taring yang tajam dan panjang untuk menggigitmu, kan ?” ujarnya sambil memamerkan sederetan gigi putihnya.

Ku menggembungkan pipiku, menahan tawa.“Kau ini ! Aku bukannya takut padamu, malah jadi ingin tertawa. Hahahaha !”

“Heheh. Aku ini kan arwah yang tampan,” cetusnya kepedean.

“Dasar! Sudah jadi arwah saja pede !” sindirku seraya kembali duduk di kursi.

“Jadi, kau ini betul-betul arwah ?” tanyaku.

“Tentu saja. Lalu apa ?? Malaikat ?”

“Kau ini sudah jadi arwah, masih saja bisa melucu ! Hh.. Pantasan saja, aku sempat merinding kemarin dan saat tadi kau datang. Lalu, kalau kau arwah, kenapa kau tak tembus pandang ? Lihat. Aku saja masih bisa menyentuhmu,” ujarku sambil menyentuh pergelangan tangannya.

“Itu karena aku punya kekuatan super,” cetusnya asal.

“Hiii.. Lupakanlah. Jadi, kau ini arwah gentayangan ya ?”

“Betul !”

“Lalu kenapa kau malah pergi padaku ? Memangnya aku ada urusan apa denganmu ? Aku mengenalmu ya ?”

“Aku mendatangimu, karena kau yeoja yang cantik.”

“Aish.. Sudahlah ! Tidak ada gunanya bicara denganmu. Dasar arwah aneh !” ku menutup bukuku kesal, kemudian berjalan ke arah tempat tidur.

“Yang jelas, aku masih ada urusan yang belum terselesaikan Jiyeon-ah..”

-Flashback End-

Author POV

“Jiyeon-ah.. Jiyeon-ah.. Jiyeon-ah..” Minho melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jiyeon yang sedang melamun.

“Jiyeon-ah..” saat Minho mengguncangkan tubuhnya, barulah itu Jiyeon baru tersadar.

“Aah.. Minho, wae ?”

“Kau itu yang kenapa. Ini susumu,” Minho menyerahkan sebotol susu pada Jiyeon.

“Gomawo,” sahut Jiyeon sambil menyunggingkan sebuah senyum di sudut bibirnya. Jantung Minho berdegup kencang saat melihatnya. Asal kalian tahu, itulah hal yang menyebabkan Minho jatuh cinta pada Jiyeon.

“Mm.. Jiyeon-ah,” panggil Minho.

“Ne ?” sahut Jiyeon yang masih asyik meminum susunya.

“Kau ingat hari ini tanggal berapa ?”

“Hari ini ? Tentu saja, tanggal 3.”

“Lalu ?”

“Lalu apa ?”

“Pabo! Masa kau lupa ! Kalau ini tanggal 3, berarti ulangtahunmu tinggal 4 hari lagi !” seru Minho sambil menjitak kepala Jiyeon, kecil.

“Aaw.. !! Jinjja ?? Lalu kenapa kalau aku yang lupa, malah kau yang jadi marah-marah ? Aish..” rengut Jiyeon kesal.

“Mianhae, Jiyeon-ah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja,”

“Ya, sudah. Kalau begitu apa lagi ?” ucap Jiyeon ketus tanpa menatap Minho.

Minho hanya tersenyum melihat tingkah Jiyeon, yang kekanak-kanakkan itu. Ia membisikkan sesuatu di telinga Jiyeon.“Di hari ulangtahun-mu itu, aku ingin mengajakmu kencan.”

Mata Jiyeon berbinar mendengarnya. Ia menoleh ke arah Minho yang posisinya masih tetap sama. “Kencan ?”

Minho mengangguk pasti. Sedangkan Jiyeon sudah mengembangkan senyum merekah itu.

Melihat posisi mereka yang sangat dekat dan sangat meyakinkan (?), Minho tak melewatkan kesempatan. Ia langsung saja..

Chu~. Mengecup pipi Jiyeon sekilas, kemudian lari sebelum yeoja itu sempat menghajarnya.

“DASAR MR. CHOI MESUM !!”

___

Malam harinya, Sanghyun lagi-lagi datang ke kamar Jiyeon. Membantunya belajar, atau hanya untuk sekedar bercanda. Hal itu terus terjadi setiap hari. Setiap malam sehabis makan, ia langsung mengunci diri di kamar. Saking sibuknya dengan Sanghyun, ia bahkan menyueki Gongchan yang akan mengajaknya nonton. Dan tanpa Jiyeon sadari, timbul debaran yang beda di hatinya. Debaran untuk Sanghyun. Ya, tanpa ia sadari ia menyukai Sanghyun. Sanghyun seorang arwah.

___

Jiyeon baru saja masuk ke dalam kamarnya, setelah makan malam. Dan lagi-lagi, saat itu Sanghyun sudah ada dalam kamarnya. Tapi bukannya, Jiyeon malah berseru riang.

“Sanghyunnie, kau datang juga..” Jiyeon memeluk kilat tubuh Sanghyun yang dingin itu.

“Kau rindu padaku ya ?” goda Sanghyun.

“Kalau iya, memang kenapa ?”

“Kekeke~ aku memang arwah yang menggoda. Hahaha,” tawa Sanghyun dan langsung mendapat jitakan keras di kepalanya.

Dalkom dalkomhae jjari jjaritae

Bbanjak bbanjak nuni bushin neo

Dugeun dugeun naeneun naemam andeurini

Laena lak taeuni

“Aah.. Sebentar ya, aku angkat telpon dulu.”

“Ne. Aah.. Minho-ah, wae? Aah.. Bukan seperti itu maksudku. Aku heran saja, tumben kau menelponku, malam-malam. Ne, ne, arraseo.. Aku tidak akan melupakannya, kok. Geurae, bye my lovely Mr. Choi~”

Klik. Jiyeon memutuskan sambungan teleponnya.

“Itu namjachingumu ya ?” tanya Sanghyun.

“Ne,”

“Haah.. Sayang sekali. Padahal aku baru saja ingin menembakmu,” ujar Sanghyun menunduk.

“Haha, kau ini suka sekali bergurau Sanghyun-ah. Eum.. Kalau seandainya kau itu masih hidup, aku pasti akan menerimamu bila kau menembakku.” gurau Jiyeon.

“Jinjja ??” Sanghyun menaikkan sebelah alisnya.

“Aku hanya bercanda. Hahaha..” tawa Jiyeon seraya duduk di atas tempat tidurnya.

“Oh ya, apa kau tahu..”

“Ahni. Aku tak tahu,” potong Sanghyun.

“Ya! Aku belum selesai. Heem.. Kau tahu, besok adalah hari ulang tahunku !” seru Jiyeon riang.

“Jinjja ? Wah.. Chukkahaeyo,”

“Ne. Dan Minho, namjachinguku akan mengajakku ke kencan yang spesial besok.”

“So ?”

“Aku ingin kau ikut,”

“Mwo? Ikut? Di kencanmu? Siang atau malam ?”

“Eum. Tentu saja siang,”

“Ah. Ahniya, ahniya. Aku tidak bisa kalau siang,” tolak Sanghyun mentah-mentah.

“Wae ? Apa karena kau arwah ? Memangnya arwah tak bisa muncul setiap hari ?”

“Ahni-ya. Kan sudah kubilang, aku tidak suka matahari.”

“Ayolaaah, Sanghyun. Jebal….” pinta Jiyeon memelas. Sedangkan Sanghyun, hanya bisa menghela nafas.

___

“Yaaa…. Noona….. Irreona !” Gongchan berteriak tepat di samping telinga noona-nya yang masih tidur itu.

Jiyeon menghempaskan

selimutnya kasar, seraya ikut berteriak pula. “Yaaa… Shik Gongchan… !! Tidak perlu berteriak !”

“Kalau aku tidak teriak, kau tidak akan bangun noona! Katamu kau ada kencan dengan si Choi Minho itu !”

“Tapi aku masih lelah, Gongchan-ah. Aku masih pingin tidur,”

“Kau masih akan tidur bila namjachingumu itu sudah menunggu di bawah ?”

Jiyeon membelakkan matanya kaget. Ia mengambil jam weker di meja yang ada di sampingnya.“MWO ?? Jam 02.55 ?? Yaak.. Kenapa tak bangunkan aku dari tadi, Gongchan ?!” Jiyeon segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.

“Dasar aneh..” gumam Gongchan.

___

Setelah berganti pakaian, Jiyeon memberikan polesan-polesan tipis make-up di wajahnya. Tak perlu tebal-tebal, karena ia sudah memiliki cantik yang natural. Jiyeon memandangi dirinya di cermin. Ia memakai gaun putih berpolkadot rose pink, dibaluti dengan blue cardigan. Setelah merasa cukup, Jiyeon segera turun ke bawah. Tapi sebelum itu, ia teringat akan sesuatu.

“Sanghyun-ah… Kau dimana ? Sanghyun-ah, kau jadi kan ikut denganku ?” Jiyeon berbicara sendiri di dalam kamarnya.

“Sanghyun-ah… Sanghyun-ah… Sanghyun-ah…”

Setelah berkali-kali memanggil nama itu, Jiyeon merasa putus asa. Ia baru saja ingin membuka pintu kamarnya, namun sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.

“Jiyeon-ah…”

“Sanghyun ! Ya… Kukira kau tak akan datang !” seru Jiyeon senang.

“Aku pasti datang. lihat, aku sudah ada disini kan? Kkaja, namjachingumu pasti sudah menunggu !” ujar Sanghyun lembut.

“Kkaja, kkaja !” Jiyeon menarik tangan Sanghyun, dan mereka pun segera keluar dari kamar.

“Aah… Sanghyun-ah ! Aku senang sekali, kau mau pergi bersamaku !” seru Jiyeon saat mereka menuruni tangga.

“Jangan bicara denganku, kalau kau tak mau dianggap orang gila.” ucap Sanghyun.

“Karena hanya kau yang bisa melihatku. Jadi kalau kau bicara denganku, kau akan terlihat seperti bicara sendiri.” jelas Sanghyun.

“Haa.. Arraseo, arraseo. Aah.. Minho-ah !” Jiyeon berlari ke arah Minho, saat melihat namja itu sudah menunggunya di ruang tengah.

“Aiih…. Yeppeoda! Tak salah aku memilih yeoja,” Minho mencubit pipi Jiyeon gemas. Saking terpesonanya dengan penampilan Jiyeon yang cute sekaligus fenimim.

“Gomawo. Kkaja… Kkaja !” Jiyeon menarik tangan Minho, bersemangat.

“Aah… Ayo, Sanghyun! Kita pergi !” ucap Jiyeon tiba-tiba.

“Sanghyun ?” tanya Minho heran.

‘Uups.. Keceplosan,’ batin Jiyeon.

“Ah.. Apa? Aku tak bilang apa-apa kok ! Hehe…” cengir Jiyeon gugup.

Minho menaikkan sebelah alisnya curiga. Jelas-jelas ia tadi mendengar Jiyeon menyebutkan nama, ‘Sanghyun’.

Dan akhirnya, Jiyeon bicara dengan Sanghyun hanya menggunakan isyarat mata.

___

Ternyata Minho mengajak Jiyeon ke Lotte World. Mereka bersenang-senang disana. Hampir seluruh arena permainan mereka telusuri. Tapi meskipun asyik dengan Minho, Jiyeon tetap memperhatikan Sanghyun. Ia sesekali menoleh ke belakang, dimana Sanghyun tetap setia menemani mereka. Jiyeon selalu meminta Sanghyun untuk berjalan di sampingnya, tapi Sanghyun Selalu menolaknya.

Tanpa terasa malam akan menjelang. Beberapa menit lagi, sang matahari akan hilang di ufuk barat. Mereka bertiga, Minho-Jiyeon-Sanghyun, sedang duduk di kursi sebuah taman, melepaskan rasa lelah mereka. Mungkin hanya Minho dan Jiyeon saja, karena Sanghyun tak merasa lelah sama sekali.

“Jiyeon-ah, kau mau kubelikan ice cream ?” tawar Minho.

“Jinjja ?? Kalau begitu aku pesan dua !” sahut Jiyeon asal.

“2 ? Satunya untuk siapa ?” tanya Minho, bingung.

Jiyeon berpikir. Tak mungkin kan kalau ia mengatakan itu akan diserahkan pada Sanghyun.“Eum…. Tentu saja untukku. Itupun kalau kau tak keberatan,”

“Haha… Apapun untukmu,” ucap Minho kemudian berlari ke arah stand ice cream.

“Sanghyun-ah, kau mau makan ice cream kan ?” tanya Jiyeon.

“Kau yakin aku bisa memakannya ?”

“Kau harus makan, karena aku yang menyuruhmu !” tegas Jiyeon.

Sanghyun hanya tersenyum tipis.

“Sanghyun-ah, kita foto bersama yuk !” cetus Jiyeon tiba-tiba.

“Kau yakin aku bisa muncul di fotomu? Aku ini kan arwah a.k.a hantu a.k.a ghost,”

“Harus bisa! Kau bilang kau ini hantu yang punya kekuatan super. Nah, kau tunggu disini ya. Aku mau mengambil handphone-ku dulu pada Minho,” Jiyeon baru saja berdiri, tapi Sanghyun tiba-tiba menggenggam tangannya erat.

“Jangan pergi dulu,”

“Eum.. Wae ?” Jiyeon menatapnya bingung.

“Bolehkah aku meminta padamu ?”

“Minta apa ?”

“Bolehkah aku menciummu ?” pinta Sanghyun hati-hati.

Jiyeon berpikir sebentar. Tapi sedetik kemudian ia sudah menutup matanya, menandakan ia memperbolehkan permintaan Sanghyun.

Sanghyun semakin mendekatkan wajahnya, dan.. Cup. Ia mengecup kening Jiyeon sekilas, namun lembut dan sangat dalam.

Hangat. Jiyeon merasa bibir Sanghyun sangat hangat. Beda dengan tubuhnya yang dingin. Namun bukan hanya itu saja, ia merasakan pipinya juga hangat. Mungkin sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

Jiyeon membuka matanya, menatap Sanghyun yang tengah tersenyum penuh arti padanya.

“Sekarang kau bisa pergi pada Minho,”

“A-a-ku pergi dulu pada Minho. K-kau tunggu disini. Jangan kemana-kemana,” ujar Minho gelagapan. Dan setelah itu, ia langsung pergi menyusul Minho.

“Goodbye, Park Jiyeon. Semoga kita bisa bertemu di kehidupan lain,”

___

Jiyeon dengan riang berlari-lari kecil, kembali ke kursi taman yang ia duduki tadi. Di kedua tangannya, sudah ada 2 buah ice cream dan sebuah ponsel miliknya. Sedangkan Minho hanya geleng-geleng melihat tingkah yeojachingu-nya itu.

Namun betapa kagetnya yeoja itu, saat melihat sesuatu yang ia tahu sudah tak ada di situ. Ia celingak celinguk. Matanya berkeliling mencari sesuatu itu. Namun, tak ada dimana-mana.

“Sanghyun-ah, kau dimana ?” ucap Jiyeon pelan. Namun lama kelamaan, hal itu menjadi teriakan.

“Sanghyun-ah ! Kau dimana ?? Park Sanghyun !”

“Jiyeon-ah, gwaenchana ?” Minho mendekati Jiyeon yang sudah semakin histeris itu.

“Minho.. Kau melihat Sanghyun pergi kemana ?? Tadi dia ada disini ! Tapi sekarang sudah tak ada !”

“Sanghyun? Sanghyun siapa ?”

“Sanghyun.. Masa kau tak melihatnya ! Daritadi dia bersama kita !” Jiyeon semakin tak terkendali. Entah kenapa ia merasa sangat panik dan sedih sekarang. Ia mencengkram lengan Minho kuat. Membuat namja itu hanya bingung melihat yeojanya.

“Park Sanghyun !”

___

-Flashback-

“Berikan aku kesempatan hidup lagi,”

“Tidak bisa. Eomma-mu sudah meminta padaku untuk memberimu kesempatan hidup, saat kau masih bayi dulu. Dan sekarang, sudah waktunya aku mengambil ‘milik’ ku lagi…”

“Tolonglah… Aku masih ada urusan yang belum terselesaikan,”

“Haah.. Baiklah aku kabulkan permintaanmu. Tapi, kau tidak akan dalam bentuk manusia. Hanya akan dalam wujud arwah seperti ini… Dan waktumu hanya sebulan,”

“Jinjja? Gamsahamnida…”

“Tapi kau punya pantangan,”

“Mwo ?”

“Kau tidak bisa muncul pada siang hari,”

“Wae ??”

“Tidak ada alasan. Aku hanya suka hal seperti itu. Hahahaha !”

“Bila aku mengingkarinya ?”

“Kau akan langsung lenyap pada saat matahari terbenam,”

-Flashback End-

___

Selama seminggu setelah kejadian itu, Jiyeon sempat hanya berdiam diri saja. Merasa lemas, dan lebih sering malam. Bukannya apa, tapi ia merasa seperti sangat kehilangan seorang Park Sanghyun. Si arwah yang selalu bersamanya pada malam hari.

Tapi sekarang sudah beda. Sebulan setelah kejadian itu Jiyeon sedikit demi sedikit mulai melupakan Sanghyun. Ia sudah menjalani hidupnya seperti biasa-biasa saja. Seperti sebelum ada Sanghyun.

“Noona… Noona !” Gongchan memanggil-manggil noona-nya dari dalam kamarnya.

“Wae.. Gongchan-ah ?” sahut Jiyeon lemah lembut. Namun masih bisa terdengar oleh Gongchan yang berada di sebelah kamarnya.

“Bantu aku membereskan kamarku…”

“Aish…” Jiyeon mendesis kesal. Tapi karena ia merupakan kakak yang baik, meskipun itu hanya kakak tiri, mau tak mau ia juga harus membantu Gongchan.

“Aigo… Gongchan! Kenapa kamarmu jadi kapal pecah seperti ini ??” pekik Jiyeon kaget, melihat keadaan kamar Gongchan yang sudah sangat amburadul itu.

“Tadi aku dan teman-temanku sedang main disini,”

“Kenapa kau tak menyuruh temanmu, untuk membereskannya ?”

“Mereka kabur,” ucap Gongchan enteng.

Bugg ! Buku bertebal 5 cm, sukses mendarat di kepala Gongchan.

“Makanya cari teman itu yang setia !” marah Jiyeon kemudian langsung membereskan satu persatu barang Gongchan.

“Teman setiaku sudah tak ada,” gumam Gongchan sangat pelan.

Saat sedang membereskan tempat tidur Gongchan, tiba-tiba ia melihat sebuah foto terselip di bawah bantal.

‘We ard best friends. Forever !’ begitulah tulisan yang Jiyeon baca.

Ia membalik foto itu. Ternyata itu foto Gongchan bersama temannya. Tapi Jiyeon kaget akan yang dilihatnya itu. Ia kaget saat melihat orang yang berfoto bersama Gongchan. Ia kaget saat tahu ternyata itu adalah… Sanghyun.

“G-Gongchan-ah.. Kau tahu dia ini siapa ?” Jiyeon memberanikan bertanya dengan suaranya yang sudah bergetar.

“Itu.. Dia sahabatku. Namanya, Park Sanghyun,”

“Benarkah,”

“Ne. Tapi… Sayangnya sudah meninggal,” ucap Gongchan sedih.

“Benarkah? Apa kau tahu Gongchan-ah… Beberapa hari yang lalu itu ia sering mendatangiku,” ucap Jiyeon sambil mengelus foto tersebut.

“Jinjja !?”

“Ne. Dan apakah kau tahu alasannya ?”

“Molla-yo, noona. Tapi yang kutahu, saat ia masih hidup, ia sempat bilang kalau ia sangat mengagumi dan menyukaimu,”

Jiyeon terhenyak mendengar. Bulir matanya tak bisa tertahan lagi.

‘Ternyata selama ini Sanghyun bohong. Ia mendatangiku bukan karena aku yeoja yang cantik, tapi ia benar-benar punya urusan denganku. Hh.. Sanghyun. My ghost that lost in my birthday,’

End

OTTOKHE?? Anehkah kalian setelah membacanya?? Mian… Saya gag terlalu tahu dunia ‘per-arwah-an’… Jadinya kayak gini deh -__-

Mian jugaa buat MinJi shipper, bagian MinJi-nya gag memuaaskaaan (?) soalnya aku bukan MinJi shipper sih !

ekekekeke XDD

Okeeh deh… Karena ini FF special Jiyeon. Tanggal 9, aku bakal ngepost FF special INFINITE 1st Anniversary ! *prok prok*

Trus abis itu baru deh, ‘Cold or shy… boy?’

Okeeh… See you readers ^^

Saranghae~~

Question : Menurut kalian couple mana yang lebih cocok?

1. CheonYeon (Cheondung-Jiyeon)

3. MinJi (Minho-Jiyeon)

15 responses

  1. woaaaaaaaaaa seru sihhh tapi sdikit gntung… waahhh kyanya aku maruk nihhhh aku tuhh MinJi shiper, CheonYeon shiper, and yg paling trbaru ChanJi shiper kekeke…..

    lha tpi anehnya ktanya ChanJi Couple, tapi kok gk da bumbu2 cinta d’Gongchan sma My Lovely eonni yg skarag lgi ultah yupzz Ji Yeon kekeke……

    bagus… bagu…🙂
    SAENGIL CHUGAE~YO JI YEON

  2. pertama-tama, untuk jiyeon eonnie.. SAENGIL CHUKHAE…

    Keren..
    Menurut ku minji couple ama cheonyeon couple deh yg cocok, because i love them..

  3. Ak pilih cheondung and jiyeon. Ceritax bgus and nggak ketebak akhirx. Tp sedih sanghyunx ngilang. Blh request versi happy endingx nggak author? (smbil melas pkai puppy eyes) hwaiting author bikin ffx ^^

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s