Clock [Part 7a]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

 

5 Hari kemudian

Apartemen Jiyeon

Membuka pintu apartemen lalu menoleh ke apartemen sebelah setelah mendengar suara pintu dibuka. Thunder juga membuka apartemennya.

“Ya!” bentak Thunder. “Apa yang sedang kau lihat?!”

“Kamu sendiri kenapa melihatku?”

“Bisakah kamu diam? Kau akan merusak pagi yang cerah ini.”

“Hmm? Seharusnya aku yang bilang itu, kamu duluan yang memulainya.”

Kami menatap sinis satu sama lain. Memang sejak pertama kali aku bertemu dengannya, kami selalu bertengkar sampai sekarang. Sebenarnya aku lelah begini terus, tapi aku tidak mau kalah darinya.

“Ah, annyeong Jiyeon!” sapa Sandara ketika keluar dari apartemen.

Membungkukkan badan. “Annyeong onnie..”

“Sanghyun.” Sandara menatap Thunder yang berdiri disampingnya. “Sepertinya aku tidak akan pulang malam ini. Aku sedang ada banyak pekerjaan di Busan. Sepertinya aku akan menginap di apartemenku di Busan untuk sementara ini dan aku tidak tau kapan tepatnya aku bisa kembali ke Seoul. Tapi tenang saja, pada hari H aku usahakan untuk pulang.”

“Ne noona.” Thunder tersenyum ramah sementara aku mendecakkan lidah dengan pelan. Bagaimana bisa dia mempunyai dua kepribadian? Sepertinya di lingkungan keluarga Thunder sangat baik. Sementara terhadap orang lain??

“Oke Sanghyun, Jiyeon, aku pergi dulu.” pamit Sandara kemudian berjalan. Tiba-tiba saja Sandara menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku dan Thunder. “Oh iya. Kenapa kalian tidak pergi sekolah bersama? Bukannya kalian satu sekolah?”

“Mwo? Noona, sepertinya Jiyeon..” Thunder tidak melanjutkan kata-katanya. Dia sedang mencari alasan agar aku tidak berangkat sekolah bersamanya. Ayo Thunder lanjutkan kata-katamu! Aku juga tidak mau berangkat denganmu!

“Sudahlah.. Sana pergi!” Sandara mendorong tubuhku dan Thunder.

***

Kini aku berdiri di halte bis. Menggembungkan pipi sambil melirik Thunder yang sedang duduk. Sandara telah mendorong kami sampai halte bis, jadi mau tidak mau aku akan berangkat bersama namja ini.

Menunjuk bis yang sebentar lagi akan berhenti di halte. “Itu bisnya sudah datang! Ayo Thunder!”

“Ne, aku punya mata.” Thunder bangkit dari kursi lalu mendahuluiku masuk ke bis.

Apa-apaan respon ‘aku punya mata’ itu? Sudah bagus aku beritahu. Bukannya terimakasih.. Tapi yasudahlah. Ini memang sifat Thunder, aku harus terbiasa dengan kelakuannya kalau tidak aku bisa stress.

Mengedarkan mata ke orang-orang yang berada dalam bis.

Bis ini penuh sekali. Maksudku banyak tempat duduk yang sudah di tempati. Huft- mungkin aku tidak kebagian tempat duduk… Eh, ada satu bangku kosong! Lucky!

Aku berjalan ke bangku itu sampai seseorang menarik tanganku.

“Itu bangku milikku.” ujar Thunder.

“Mwo? Sejak kapan bangku itu milikmu? Aku yang melihatnya duluan, berarti itu milikku!”

Thunder menghela nafas. “Bagaimana kalau kita suit saja? Yang menang, dialah yang akan mendapat bangku itu.

Ide bagus. Aku tidak mau terus berdebat dengannya. Bisa-bisa kami akan selesai berdebat tentang tempat duduk begitu tiba di depan sekolah. “Baik.”

“Batu, gunting, kertas!”

Aku: batu, Thunder: gunting. Yes! Aku menang!

“Ya! Jangan senang dulu! Kita lakukan sampai 3 kali ‘kan?”

Menaikkan alis kananku. “Sepertinya tadi kamu tidak bilang seperti itu.”

“Sudah, ayo lakukan saja! Batu, gunting, kertas!”

Kami suit dua kali dan hasilnya menjadi 1:2. Aku 1 dan Thunder 2. Sungguh mengesalkan! Aku yang kalah akhirnya terpaksa berdiri, menggantungkan sebelah tangan ke gantungan bis. Thunder yang melihat wajah kesalku malah tertawa senang.

Jiyeon POV End

 

Thunder POV

“Ckckck.. Kau tega sekali dengan yeojachingumu!” tegur seorang nenek yang duduk disebelahku.

“Yeojachingu? Mian, sepertinya halmoni salah paham..”

Menatapku sinis. “Malah berbohong. Lagipula walaupun dia bukan yeojachingumu, sebagai seorang namja, tidak sepantasnya kau membiarkan yeoja berdiri.”

“Tapi tadi..”

“Sungguh egois.” potong halmeoni.

Aaarghhtt! Kata-kata yang dikeluarkan halmoni ini benar-benar memojokkanku!

Dengan berat hati, kuputuskan untuk berdiri dan mempersilahkan Jiyeon untuk duduk di bangku itu. Jiyeon tersenyum kemenangan.

“Hei.” Halmoni mencolek pundak Jiyeon, membuat Jiyeon menoleh ke arahnya. “Kenapa dia bisa menjadi namjachingumu? Padahal sifatnya tidak terpuji..”

Jiyeon hanya tertawa menanggapi omongan halmoni. Aish! Aku mengacak-acak rambutku. Jiyeon bukan yeojachinguku dan apa maksud halmoni sifatku itu tidak terpuji? Sudah bagus kuberikan tempat itu ke Jiyeon!

Beberapa lama kemudian, kulihat Jiyeon tertidur di tempat duduknya. Wajahnya sangat tenang dan manis saat tidur seperti ini. Tidak tau kenapa, aku jadi tersenyum melihatnya. Eh?? Aku tersenyum? Kualihkan pandangan ke luar jendela bis.

Thunder POV End

***

 

Jiyeon POV

Menutup mulutku saat menguap.“Hoaaahmm!”

“Ya! Seharusnya kamu berterimakasih padaku sudah dibangunkan. Coba kalau tidak, pasti kamu masih ada di bis sekarang!” Thunder menggerutu.

Kini aku berjalan bersama Thunder melewati koridor Seoul High School, sepertinya.

Tersenyum lebar. “Ne. Gomawo Thunder!” kataku, masih setengah sadar.

Thunder memasang wajah kaget. Tiba-tiba saja semburat merah keluar di pipinya. Dengan cepat dia menutup pipi dengan tangan kanannya. Aku mengucek-ngucek mataku dan menatapnya kembali. Thunder sudah melepaskan tangan dari pipinya dan menatapku tajam. Sepertinya aku hanya berimajinasi tadi.

“Jiyeon-aa!” sapa Lee Joon saat aku melewati kelasnya. “Kamu tadi berangkat duluan ya? Padahal tadi aku menjemputmu tapi kamu sudah tidak ada di apartemen..” Terdengar dari suaranya, sepertinya Joon kecewa.

“Mianhe oppa.. Tadi aku naik bis. Umm, hari ini hari jumat ya? Bagaimana kalau hari senin oppa menjemputku ke sekolah?”

Joon mengangguk kemudian tersenyum.

“Baiklah oppa, aku ke kelas dulu.” Melambaikan tangan kemudian masuk ke kelas.

***

Pelajaran hari ini sangat membosankan! Lihat saja, daritadi kerjaanku di kelas hanya mengobrol dengan Jieun, membaca fan fiction, menggambar di buku pelajaran.. Huft!

TING TONG TING TONG..

Yes! Akhirnya bel pulang sudah berbunyi! Ku masukkan semua buku-buku dan alat tulis ke tas pink ku dengan cepat. Aku sangat senang karena besok hari sabtu dan minggu, hari libur! Begitu banyak hal yang ingin aku lakukan~

“Baiklah anak-anak, karena sudah bel, kita akhiri dulu pelajaran hari ini. Sampai jumpa hari senin!” kata Pulip seosangnim. “Park Jiyeon, Park Sanghyun, jangan lupa kumpulkan tugas geografi kalian hari senin!”

Tugas geografi? Yang mana? Aku mengingat-ingat apa saja yang telah terjadi di hari-hari sebelumnya. Ah iya! Tugas geografi yang berjudul perbintangan! Tugas itu adalah hukuman untukku dan Thunder.

Kutatap Thunder yang ternyata sedang menatapku. “Thunder, bagaimana ini? Kita ‘kan belum mengerjakan tugas itu..”

“Yasudah, kerjakan saja malam ini.” jawabnya enteng.

“Tapi dimana? Masalahnya kita meneliti tentang bintang-bintang lho!”

“Nanti aku akan menjemputmu. Sudah ah, aku ingin pulang!” Thunder meraih tasnya kemudian pergi meninggalkanku begitu saja.

Jiyeon POV End

***

 

Thunder POV

Aku menekan tombol bel apartemen Jiyeon.

“Siapa?” tanya Jiyeon lewat intercom.

“Ayo pergi! Kajja!”

“Thunder?”

Memasukkan tangan ke saku jaket. “Menurutmu?”

KLEK

Pintu terbuka. Kutatap Jiyeon yang sedang menggenggam buku tugas beserta sebuah pensil.

“Bisakah kamu menjawab pertanyaanku dengan benar?” katanya jengkel. “Mau kemana kita?”

“Ikuti saja aku.”

Jiyeon mengikutiku dari belakang. Ku buka pintu tangga darurat kemudian menaiki anak tangganya satu persatu hingga sampailah kami di..

“Atap apartemen?” Jiyeon memandang langit yang dipenuhi bintang-bintang. “Aigoo~ jelas sekali bintang-bintangnya! Kamu memang hebat Thunder!” Mengacungkan ke dua ibu jari tangannya kemudian tersenyum.

DEG

Aish! Kenapa akhir-akhir ini rasanya jantungku berdetak tidak teratur?

“Ya Thunder, kenapa bengong? Ayo kerjakan tugasnya!”

“N-ne.”

Kami memerhatikan bintang-bintang di langit kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku tugas. Soal-soal di situ cukup sulit, sehingga hampir 3 jam kami berada disini. Tapi syukurlah sekarang sudah selesai. Aku ingin cepat-cepat merebahkan badanku di kasur karena sekarang sudah jam 11 malam!

“Thunder! Bagaimana ini? Pintunya tidak bisa dibuka!” ujar Jiyeon panik. Tangannya masih mencoba untuk membuka pintu.

“Mwo? Sini, biar aku coba!” Jiyeon mundur kebelakang sehingga aku bisa mencoba membuka pintu itu. Namun beberapa kali aku mencoba tetap saja hasilnya nihil! Aish! Aku juga sudah berusaha untuk mendobrak pintu tapi sama saja tidak bisa!

“Thunder, bagaimana ini?” tanya Jiyeon masih dengan nada panik.

“Kamu bawa ponsel?”

Dia menggeleng pelan. Aish! Aku juga tidak membawa ponsel!

Seketika Jiyeon terduduk. “Bagaimana ini? Aku terjebak disini. Dan hebatnya, aku terjebak bersama Thunder.”

Duduk disamping Jiyeon. “Memang apa salahnya kalau bersamaku hah? Kamu pikir aku senang terjebak bersama yeoja pabo sepertimu?”

“Ya! sekarang ini aku tidak ingin berdebat denganmu.”

Aku mengerutkan kening. Bukannya dia duluan yang memulai? Cih. Dasar yeoja pabo.

“Thunder..” katanya tanpa menoleh kearahku.

“Hmm?”

“Kalau kita terjebak disini selamanya bagaimana?”

“Jangan bodoh. Itu mustahil.”

“Kalau.. H-H-Hatchi!” Jiyeon mengusap hidungnya setelah bersin. “Kalau kita mati kedinginan bagaimana?”

Aku mengedikkan bahu dan mengeluarkan evil smileku. “Mungkin.”

Jiyeon memelototiku.

Membalas tatapan matanya. “Apa?”

Kami terdiam. Kulihat Jiyeon kini sedang memandang langit yang dipenuhi bintang dengan raut wajah yang sedih.

“Wae?” tanyaku.

“Hmm.. Aku hanya teringat keluargaku. Sedang apa ya mereka di Amerika? Apa mereka masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing? Aku ingin tau..”

Hanya membentuk huruf ‘O’ dengan mulut kemudian kembali memandangi langit. Oooh.. ternyata yeoja pabo ini kangen dengan keluarganya. Sedikit penasaran dengan hubungan keluarga Jiyeon karena Jiyeon jarang sekali mengungkit masalah keluarganya tapi ya sudahlah. Apa urusanku?

KLUK

Kepala Jiyeon bersandar dibahuku. Aish anak ini..! Padahal aku belum mempersilahkan. Tapi dengan seenaknya dia meminjam bahuku! Huh!

Ketika ingin menyingkirkan kepala Jiyeon dari bahu, aku melihat wajahnya ‘angelic’nya. Aku terpaku melihatnya. Entah kenapa jantung ini lagi-lagi berdegup kencang.

“U-uuh.. Hatchi!” Lagi-lagi Jiyeon bersin, tapi kali ini disertakan badannya yang menggigil.

Hah. Anak ini. Padahal dia sudah memakai hoodie tebal tapi dia masih saja kedinginan?

“Hatchi!”

Secara reflek, kubuka jaketku dan memasangkannya di badan Jiyeon. Mungkin dengan begini dia tidak kedinginan.

Benar saja. Setelah kupasangkan jaketku, Jiyeon sudah tidak bersin-bersin ataupun menggigil. Syukurlah.. Eh? Tunggu! Apa yang barusan aku lakukan?? Kenapa rasanya sekarang aku terlihat peduli pada Jiyeon?? Apa aku s-s-su.. A-A-ANDWAE!! Kubuang jauh-jauh pemikiran bodohku itu dan mencoba memejamkan mataku untuk tidur.

***

Keesokan paginya

Kubuka mataku perlahan dan betapa kagetnya aku melihat Jiyeon disampingku! Tertidur dibahuku!! K-kok bisa?!

Kupandang sekelilingku. Atap apartemen. Tiba-tiba saja aku merasa pusing. Ah! Aku ingat sekarang! Aku dan Jiyeon terkunci disini dan terpaksa kami harus bersama semalaman. Ya, ya..

Aku menatap Jiyeon yang masih terlelap mengenakan jaketku. Sesegera mungkin, kulepaskan jaketku. Aku tidak mau saat dia bangun nanti dia tau kalau aku telah memasangkan jaket (baca: menghawatirkannya!). Bisa habis aku diledek olehnya!

KLEK

Seseorang telah membuka pintu. Aku menoleh ke belakang dan mendapati petugas keamanan sedang menatapku.

“Apa yang kalian lakukan disini?”

“Apa yang kalian lakukan disini?!” ulangku. “Kamu kira apa hah?! Tidakkah kau melihat kami sangat lelah, terjebak disini semalaman!!” Aish! Berteriak-teriak membuat kepalaku pusing!

“Thunder! Bisakah kamu tidak berteriak-teriak disampingku?!” Kini Jiyeon yang berbicara. Sudah bangun rupanya.

Petugas keamanan membungkuk 90°. “Mian.. Saya kira sudah tidak ada siapa-siapa di atap ini malam-malam.. Jadi saya mengunci pintu.. Itu demi keamanan..”

Jiyeon berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati petugas itu. Dengan susah payah, aku berusaha berdiri dan mengikuti Jiyeon dari belakang. Tubuhku terasa sangat berat, mungkin akibat dari terlalu lama duduk.. Petugas satpam ini harus membayar perbuatannya!! Ku kerutkan keningku. Ketika aku ingin membuka mulut —agar bisa memarahi petugas—, Jiyeon sudah mendahuluiku.

“Ah. Gwenchana Pak petugas! Ini juga kesalahan kami sendiri. Sudah jangan dipikirkan!”

Petugas keamanan membungkukkan badannya. “Ne. Kamsahamnida!”

Thunder POV End

***

Hari Senin

Jiyeon POV

Seperti janjinya, Lee Joon menjemputku agar kami bisa berangkat bersama. Karena dia menjemputku terlalu pagi, sebelum berangkat sekolah kami mampir dulu ke kedai tempat Victoria bekerja untuk membeli es krim. Kata Minho oppa, makan es krim dipagi hari itu tidak baik. Tapi siapa peduli?

“Annyeong haseyo Jieun!” sapaku begitu tiba di sekolah.

“Aigoo~ Jiyeon-aa! Kamu mengagetkanku saja! Eh, kenapa kamu begitu riang hari ini?”

“Joon oppa mentraktirku es krim yang buesaaarrr sekali pagi ini!”

“Hemm.. Sebenarnya kamu senang karena makan es krim atau… karena Joon-ssi? Pasti karena Joon-ssi ya?” selidik Jieun sambil mencolek-colek badanku. Dengan cepat aku menutup pipiku dengan kedua tangan.

“Nah kan!” Jieun tersenyum kemenangan.

Omona! Jieun sangat pintar jika menebak-nebak perasaan orang! Sudahlah kuabaikan saja pertanyaannya yang satu ini!

“Ya! Jawab pertanyaanku Jiyeon-aa!”

“Andwae.”

“Kalau begitu jawab pertanyaanku yang kemarin-kemarin!”

Hah? Yang kemarin-kemarin? Yang mana?

“Waktu itu.. Kenapa kamu dan Thunder terlihat berciuman? Apa kalian ada hubungan?”

————–TBC————-

Tidak henti-hentinya author CB mengingatkan pada readers, tobatlah anda sekalian dengan meninggalkan comment dan jangan jadi copycat🙂

Oh ya mian part 7nya aku bagi dua ke part 7a sama 7b soalnya kalo digabung, panjang bangeeeeet hehe

Trus aku lagi UAS, minta doanya ya chigu :’)

Follow @CerilynBam

27 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s