Clock [Part 7b]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

Omona! Jieun sangat pintar jika menebak-nebak perasaan orang! Sudahlah kuabaikan saja pertanyaannya yang satu ini!
“Ya! Jawab pertanyaanku Jiyeon-aa!”

“Andwae.”

“Kalau begitu jawab pertanyaanku yang kemarin-kemarin!”

Hah? Yang kemarin-kemarin? Yang mana?

“Waktu itu.. Kenapa kamu dan Thunder terlihat berciuman? Apa kalian ada hubungan?”

Aku mendengus kesal. “Halo nona Lee Jieun yang selalu ingin tau. Asal kamu tau saja ya, aku dan Thunder tidak berciuman dan tidak ada hubungan sama sekali.”

Jieun mengangguk-angguk tanda mengerti. Namun matanya menatapku curiga. Apa-apaan tatapannya ini? Sudah jelas aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Thunder! Memiliki status sebagai temannya saja masih meragukan!
Oh ya, ngomong-ngomong dengan Thunder, apa dia sudah mengumpulkan tugas kami? Aku menoleh ke arah Thunder yang duduk persis disebelahku. Rupanya dia tertidur. Kuputuskan untuk membangunkannya dengan hati-hati, takut amarahnya akan meledak-ledak.

“Ya, Thunder! Kamu sudah mengumpulkan tugas kita?” tanyaku ketika Thunder sudah terbangun dan menatapku.

Thunder mengangguk.

“Apa yang Pulip seosaengnim katakan? Dia tidak kecewa kan dengan jawaban kita?”

“Ani..” jawabnya kemudian kembali tidur.

“Y-ya! Aku belum selasai bicara!” Aku berteriak di telinganya, “Thunder bangun!”
Anehnya, Thunder sama sekali tidak bergeming. Dia masih tertidur.

Pelajaran dimulai. Seperti biasa, aku hanya mengobrol dengan Jieun dan sesekali memperhatikan seosaengnim mengajar. Dan tidak terasa pelajaran usai.
Sungguh, hari ini adalah hari terdamai yang kurasakan selama aku bersekolah di Seoul High School! Coba tebak? Hari ini aku sama sekali tidak berantem dengannya! Benar-benar menyenangkan!
Kubereskan barang-barangku kemudian menatap bangku Thunder yang sudah kosong. Cepat sekali anak ini meninggalkan sekolah.

***

Apartemen Jiyeon
“Dasar lampu bodoh! Kenapa tidak menyala-nyala sih?!” ucapku sambil menekan tombol saklar, berharap lampu ruang tengah apartemenku menyala. Sudah kucoba beberapa kali namun lampu bodoh itu tidak mau menyala juga. Benar-benar mengesalkan! Apa karena bolam lampunya pecah atau rusak ya? Aigoo! Aku benar-benar tidak tahu-menahu soal seperti itu.

Kuputuskan untuk membeli 4 buah bolam lampu di supermarket terdekat. Ya, sebenarnya aku hanya membutuhkan satu buah saja, tapi karena untuk cadangan dirumah dan kebetulan ada promosi ‘buy 4 discount 50%’ jadi aku membeli ke empat-empatnya.

Sekarang aku sudah berada di apartemenku, memandangi tangga yang ada di hadapanku dan sebuah bolam yang ada ditanganku secara bergantian. DANG! Apa yang aku harus lakukan sekarang?? Aku tidak bisa memasang bolam lampu ini sendirian!

Apa aku minta bantuan Lee Joon? Tapi yang benar saja! Apa dia perlu repot-repot menempuh jarak yang jauh dari rumahnya ke apartemenku hanya untuk memasangkan bolam lampu? Ani!
Kuputar lagi otakku. Apa aku minta bantuan ke aboeji dan halmeoni yang tinggal di apartemen sebelah? Dengan cepat aku menggeleng. Tega sekali aku membiarkan mereka mengerjakan pekerjaan ini! Nanti kalau ada apa-apa bagaimana??
Aku berpikir sejenak. Seseorang yang tempat tinggalnya dekat denganku dan juga masih muda.. Ya, sepertinya mau tidak mau aku membutuhkan bantuannya.

Dengan percaya diri, kulangkahkan kakiku ke kamar sebelah, kamar Park Sanghyun. Aku menyeringai kemudian menekan bel.

“Siapa?” tanya seseorang dibalik pintu.

“Ini aku, Park Jiyeon.”

“Mau apa?”

Aku menggerutu. “Bisakah kamu buka dulu pintunya sehingga kita dapat berbicara dengan cara yang lebih enak?”

KLEK
Thunder membuka pintu apartemennya. Kulihat dia dengan muka kusut, rambut acak-acakkan, mengenakan sweater sedang menatapku dingin. “Apa?”
Jiyeon POV End

.

Thunder POV
♪TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG.. ♪
YA TUHAN!! Berisik sekali bunyi bel itu! Siapa sih yang memencet tombol bel kamarku di sore-sore ini?!! Padahal tadi hampir saja aku terlelap!!

♪TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG.. ♪
Demi apa bunyi bel itu tidak berhenti-henti??!!! AAAARGHT!!

Dengan terseok-seok, aku berjalan ke arah pintu.
“Siapa?” orang bodoh yang berani-berannyai menekan tombol bel sebanyak lebih dari 10 kali?? tanyaku lewat intercom.

“Ini aku, Park Jiyeon.” Sudah kuduga.

“Mau apa?”

“Bisakah kamu buka dulu pintunya sehingga kita dapat berbicara dengan cara yang lebih enak?”

KLEK
Kubuka pintu apartemen, malas. Yeoja pabo ini meatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan aneh.
“Apa?”

“Bantu aku memasangkan bolam lampu ruang keluarga apartemenku Thunder-aa.” Thunder-aa?? “Jebal..”

Bah. Kukira ada keadaan mendesak. Ternyata hanya ini yang dia inginkan. Benar-benar mengganggu waktu istirahatku saja.. Kututup saja pintu ini!
Namun saat aku hendak menutup pintu, ‘sesuatu’ menahanku melakukannya. ‘Sesuatu’ itu tak lain adalah Jiyeon. Dengan tangannya, dia mendorong pintu agar tidak tertutup.

“Thunder-aa.. jebal…” Jiyeon menatapku dengan pandangan puppy eyesnya. Benar-benar sempurna dipadukan dengan wajah angelicnya! Aaarght! Aku mengacak-acak rambutku.

“Ara.. Ara..!”

Jiyeon menepuk-nepuk tangannya senang kemudian mengajakku ke apartemennya.
Kunaiki tangga itu dengan keadaan tangan kanan memegang bolam yang baru. Jujur, aku belum pernah mengganti bolam lampu sebelumnya. Biasanya Sandara atau orang lainlah yang melakukannya. Tapi kali ini aku mencoba melakukannya dengan tanganku sendiri. Mana mungkin aku bilang yang sejujurya pada Jiyeon! Bisa-bisa harga diri laki-laki ku jatuh didepan yeoja pabo ini!

Aku bersiap memasangkan bolam lampu namun mendadak kepalaku pusing.
PRANG!
Ups! Bolamnya terjatuh! Aku melirik Jiyeon yang ternyata sedang tersenyum. “Gwenchana. Aku masih punya satu.” Katanya sambil menyerahkan bolam yang lain padaku. Kucoba memasangkannya lagi namun..

PRANG!
“Ya Thunder-aa!” Jiyeon menyipitkan matanya kemudian kembali memberiku bolam yang lain. Kenapa susah sekali sih mengganti bolam lampu??

PRANG!
Aku meneguk ludah. Pecah lagi.. “Thunder! Sebenarnya kamu bisa tidak sih memasangkan bolam yang baru itu?!” Hah. Kali ini tidak ada embel-embel –aa lagi. “Awas! Ini yang terakhir! Jangan sampai kamu menjatuhkannya lagi!”

“Ne!” Dengan hati-hati, aku memasangkan bolam. Tidak tahu ada setan apa, tanganku ini terasa licin hingga bolam lampu tergelincir dari tangan kananku. Aku melihat kemana arah bolam itu akan jatuh. OMO! Bolam itu akan mengenai Jiyeon!
Dengan cepat, kutangkap bolam itu. Huft.. Untunglah bolam lampu payah ini berhasil kutangkap. Setelah berhasil menangkapnya, kupasangkan bolam lampu ketempatnya. Akhirnya berhasil juga! Aku turun tangga dan menghampiri Jiyeon. “Bagaimana?”

Jiyeon memencet tombol saklarnya berkali-kali. “Masih tidak menyala? Thunder, kamu yakin kamu telah memasangannya dengan benar?”

“Tentu saja!” jawabku mantab.

“Lalu kenapa masih tidak mau menyala juga??”

“Apa jangan-jangan.. Coba kamu nyalakan saklar lampu kamar tidurmu!” Kulihat Jiyeon mengangkat sebelah alisnya. “Lakukan saja!”

Jiyeon menurut. Dia pergi ke kamarnya setelah itu menghampiriku dengan ekspersi bingung. “Tidak menyala juga.. ‘Kok bisa ya?”

Aku mendengus. “Dasar yeoja pabo! Sepertinya listrik apartemenmu sedang konslet jadi lampu bahkan televisimu tidak bisa menyala. Coba telpon petugas apartemen!”

Jiyeon memencet tombol yang ada di ponselnya. Sekarang dia sedang berbicara dengan petugas. Yang ku dengar, petugas akan membetulkan listik di apartemen Jiyeon esok pagi.

“Omo! Eottokhe? Aku benci kegelapan..” desah Jiyeon. Kami terdiam beberapa lama sampai dia tiba-tiba berteriak.

“A-ada apa?? Kenapa kamu berteriak?”

“Aku dapat ide!” Jiyeon tersenyum kemudian pergi ke kamarnya. Sekembalinya, dia menjinjing sebuah tas. Katanya tas itu berisi beberapa pakaian.

“Mau apa kamu membawa itu semua?”

Jiyeon tersenyum-senyum malu. “Mau menginap di rumah Joon oppa!”

DEG
Sakit.Entah mengapa hatiku sakit mendengarnya. Kenapa Jiyeon tidak menginap di apartemen abeoji dan halmeoni? Atau.. setidaknya di apartemenku? Jelas-jelas apartemenku lebih dekat dengannya, jadi dia tidak perlu repot-repot ke rumah Joon.

“Uhm, gomawo sudah membantuku memasangkan bolam walau.. yah..” Jiyeon tidak melanjutkan kata-katanya. Kulihat Jiyeon melambaikan tangannya padaku saat kami sudah berada di luar apartemennya. “Thunder aku pergi dulu!” Membalikkan badan kemudian berjalan meninggalkanku.

Entah mengapa, aku mengejarnya. Kupanggil namanya, membuat Jiyeon menoleh ke arahku. “Waeyo?” tanya Jiyeon.

“Jiyeon jangan—” Belum menyelesaikan kata-kata, tiba-tiba aku merasakan pusing yang luar biasa. “Aaaarght!” Menjambak rambutku dengan kencang. Sakit sekali! Ada apa denganku?? Memang akhir-akhir ini aku merasa badanku panas dan pusing. Aku teringat malam dimana Jiyeon tertidur dipundakku. Dia bersin-bersin serta menggigil karena angin malam yang benar-benar menusuk. Karena aku kasian padanya, reflek, kupakaikan jaketku ke badan Jiyeon, sedangkan aku hanya mengenakan kaos tipis. Bisa di tebak, hari berikutnya aku tidak enak badan.

Mata Jiyeon terbelalak. Ia berlari menghampiriku. “OMO! Thunder! Gwenchanayo??”

Aku tidak bisa menatapnya dengan jelas, padahal aku merasa dia sudah berada didekatku. Seketika pandanganku kabur dan semuanya menjadi gelap..
Thunder POV End

.

Jiyeon POV
BRUK!!
Thunder terjatuh dilantai. OMO! Ada apa ini?? Apa dia pingsan??

“Thunder?? Thunder?!” Memanggil namanya berulang kali namun dia tetap memejamkan matanya. Kusibakkan rambut yang menutupi mukanya. Tapi saat menyibakkan rambutnya itu, tangan kananku menyentuh keningnya. Omona! Panas sekali keningnya! Kupegang tangan Thunder. Ternyata benar, tangan Thunder juga terasa panas. Apa dia demam??
Aku berusaha untuk memapahnya ke apartemen. Tapi tidak bisa! Aku tidak kuat! Kulihat seorang petugas kebersihan sedang berjalan ke arahku. “Ahjussi! Jebal!”

***

Memeras handuk kecil yang semula ada di baskom kemudian menempelkannya ke kening Thunder yang sedang terlelap di kamar tidurnya. Ya, sekarang aku berada di apartemen Thunder. Seorang petugas kebersihan yang kebetulan lewat telah menolongku mengangkat badan Thunder masuk ke kamarnya.
Oh.. Ternyata alasan mengapa Thunder diam saja saat di sekolah karena dia sedang demam. Kuamati muka Thunder yang sedang tertidur itu. Sungguh, mukanya seperti anak kecil. Yeppo!

“Hnnnnghh..” Thunder membuka matanya perlahan. Matanya yang bulat itu langsung menatapku. “Aku…”

“Kamu demam.” potongku. “Makanlah bubur ini terlebih dahulu lalu minum obat. Jangan membantah.” Menyodorkan sebuah mangkuk yang berisi bubur ke Thunder.

Thunder malah bengong melihat mangkuk itu yang sekarang sudah ada di tangannya. “Kamu yang membuatnya?”

Aku mengangguk. “Tadi aku menyempatkan diri membuat bubur selagi kamu tidur.”

Dia mulai menyendoki bubur kemudian memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya. Dengan penasaran, kuamati ekspresi Thunder.
Omomomomo! Bagaimana reaksinya setelah menelan bubur itu?? Apa bubur itu enak?? Sejujurnya, aku tidak mencicipi bubur itu terlebih dahulu, jadi aku sangat penasaran sekali sekarang.

“Aish!” Thunder menjulurkan lidahnya. “Apa yang kamu campurkan saat membuat bubur?! Rasanya asin sekali! Kamu menuangkan sebotol garam penuh hah? Dan lihat! Rasanya lidahku melepuh sekarang! Bubur ini terlalu panas! Dasar yeoja pabo!”
Thunder terus mencaci-maki ku. Memang, aku tidak bisa memasak secara normal. Yang aku bisa hanya membuat kue. Tapi hari ini untuk pertama kalinya aku bersungguh-sungguh.. ani! Bahkan berhati-hati dalam membuat bubur demi Thunder yang sedang sakit.

“Bisakah kamu menurunkan nada suaramu itu? Bisakah kamu berbicara halus didepanku?” Kurasakan air mata menggenang di pelupuk mata. “Walaupun aku tidak ahli dalam bidang masak.. tapi asal kamu tau, butuh kerja keras untuk membuat bubur itu. Jadi bisakah kamu menyenangkan hatiku sekali saja?”

Thunder tercengang mendengar kata-kataku. Matanya melebar ketika melihat setetes air mataku jatuh. Dengan cepat, kuseka air mata itu.

Menyambar tas jinjingku yang tergeletak di sudut kamar Thunder. “Buang saja bubur buatanku itu dan pesanlah makanan. Setelah makan segeralah minum obat. Aku akan pergi kerumah Joon oppa. Jagbyeol Thunder, semoga kamu cepat sembuh.” seraya beranjak meninggalkan apartemen Thunder.
Tiba-tiba sesuatu menggenggam tanganku erat. Mau tidak mau, kuhentikan langkahku dan berbalik menatap siapa yang menggenggamku itu.. Thunder. Aku sangat terkejut melihat sorot matanya yang memelas itu menatapku. Melas? Seorang seperti Thunder memelas?? Kukedip-kedipkan mataku tidak percaya. Ya, ternyata benar. Matanya yang bulat itu terus menatapku.
“Mian..” ucapnya pelan, terdengar seperti bisikan.

“M-Mwo?”

“Mianhe Jiyeon.. Jangan pergi.. Jebal…”

DEG DEG DEG DEG DEG
Suara Thunder terdengar halus di telingaku. ‘Mian’, ‘Jebal..’ Baru kali ini aku mendengarnya.. Seakan-akan dia membutuhkanku berada disampingnya dan hal ini membuatku sulit untuk meninggalkannya. Entah mengapa..

Thunder sudah melepaskan genggamannya dan berjalan ke arah kamar. Kutatap lekat punggungnya sampai dia benar-benar tidak terlihat. Aku masih terpaku dengan kejadian tadi. Dan jantungku masih belum bisa berhenti berdetak kencang. Apa ini?? Sudahlah, lupakan!

Merogoh kantung celana jeans dan mendapati ponselku. Aku memencet-mencet tombol itu, ingin memesan makanan dari sebuah rumah makan.
Tapi apa yang akan kupesan? Aku kan tidak tau makanan apa yang disukai Thunder. Ah, lebih baik aku tanyakan terlebih dahulu daripada nanti dia marah-marah lagi.

“Thunder, kamu mau memesan ap—”
Kulihat Thunder sudah tertidur di kasurnya. Aish si bocah petir ini malah tidur, padahal ‘kan dia belum makan dan meminum obat!
Aku menghela nafas melihat wajah Thunder yang kelelahan itu sedang terlelap. Yah apa boleh buat..

Menoleh ke arah mangkuk dan obat yang ada di atas meja kecil. “Eh??”
Omo! Mangkuk ini sudah kosong! Apa Thunder sudah memakan habis semuanya? Bukankah tadi dia bilang tidak enak?? Aku melirik sudut bibir Thunder. A-ada bekas sisa bubur.. Kemudian melihat bungkus obat tablet yang sudah kosong.

Buru-buru aku mencuci mangkuk itu di dapur kemudian kembali ke kamar Thunder untuk mengganti handuk kecil dengan yang baru. Menempelkan handuk basah itu ke kening Thunder sambil tersenyum. “Semoga kamu cepat sembuh dan kebiasaan burukmu itu hilang!”

Menopang daguku di atas kasur Thunder. Aku harus terjaga malam ini. Mungkin saja tiba-tiba Thunder membutuhkanku. Tapi aku terlalu mengantuk untuk melakukan hal itu..

♫Bo Peep Bo Peep Bo Peep~♫
Ah ponselku. Aku melihat ke layar ponsel. 1 New Message from Dara eonni. Eh? Dara? Apa dia Park Sandara? Sejak kapan aku mencatat nomor ponselnya di ponselku? Dan kenapa dia bisa tau nomorku? Padahal aku tidak pernah meminta atau bertanya padanya. Ini aneh.. Sudah, kubuka saja pesannya.

From: Dara eonni
Halo Jiyeon! Pasti kamu kaget kan tiba-tiba saja aku mengirimmu pesan??
Jangan tanya ya, itu rahasia~ ^^
Ohya, bagaimana ke adaan dongsaengku tercinta?? Baik-baik sajakah??

Tersenyum kecut lalu memencet-mencet tombol ponsel.

To: Dara eonni
Halo juga eonn! Sanghyunnie mu sedang sakit sekarang.. Umm, sekarang aku sedang merawatnya. Jadi eonni tenang saja! Serahkan semuanya padaku!

Sent. Dalam sekejap, aku mendapat balasan pesan darinya.

From: Dara eonni
Mwo?? Saengku sedang sakit?? Sayang sekali aku tidak berada disampingnya sekarang.. T.T
Oke aku titip dongsaengku ya Jiyeon!
Ah, aku masih di kantor dan banyak tugas yang harus aku kerjakan hari ini juga, jadi sudah dulu ya! Selamat malam~ ^^

Aku masih menatap layar ponsel, membaca tiap kata yang tertera di pesan itu.
Thunder, kamu beruntung sekali punya keluarga yang perhatian dan khawatir walau disaat mereka sedang sibuk bekerja. Sedangkan aku?

Waktu bergerak dengan lambat. Sepertinya Thunder sudah benar-benar terlelap, demamnya juga sudah turun, syukurlah~ Tapi aku harus tetap terjaga. Daripada hanya bengong, kuputuskan untuk membaca fan fiction di ponsel. Tanpa kusadari, mataku semakin berat..
Jiyeon POV End

.

Author POV
Thunder mendengar Jiyeon berharap agar dia cepat sembuh. Masih dengan mata terpejam dan suara dengkuran pelan, Thunder menahan senyum dengan susah payah. Tepat. Sekarang dia sedang berpura-pura tidur!
Beberapa lama kemudian, Thunder memberanikan diri untuk membuka mata dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Jiyeon yang sedang tertidur di lantai. ‘Aish yeoja pabo ini bisa-bisa juga ikut demam!’ pikirnya.  Hati-hati, ia menggendong Jiyeon kemudian membaringkannya di atas kasur.

Perlahan, ia amati wajah angelic yeoja cantik yang sedang tertidur. Dalkomhan girl..

Tanpa diperintah, tangannya mengusap rambut Jiyeon dengan lembutnya. Sejurus kemudian bibirnya menyentuh bibir Jiyeon. ‘Basah dan lembut.. Rasanya seperti cherry, sangat manis..’ pikir Thunder.

Ia terus menempelkan bibir sampai dia tersadar..

Author POV End

.

Thunder POV

“Hah!” memekik seraya berjalan mundur.

WHAT THE???? APA YANG BARU SAJA AKU LAKUKAN??!!!

Lagi-lagi jantungku berdetak dengan cepat. Aku mengingat-ingat beberapa kejadian yang membuat jantungu berdetak kencang seperti ini.. Saat aku berusaha menciumnya, walaupun hanya pura-pura, lalu saat aku tertimpa badan Jiyeon saat terpeleset di kamar mandi, saat aku melihat wajah cantiknya saat tertidur di dalam bis, saat kepalanya tersandar di bahuku..
Semuanya disebabkan oleh yeoja pabo.. Yeoja yang sedang terbaring dikasurku.. Park Jiyeon!

Eh tunggu tunggu tunggu! A-Apa j-ja-jangan-jangan a-aku.. ANDWAE!! Ku acak-acak rambutku frustasi. T-Tapi..! Akhir-akhir ini aku selalu memerhatikannya dan barusan aku me-men-menciumnya!!. Jangan-jangan aku suka padanya?? AAAARRRGHHT!! Malas sekali mengakuinya.. Tapi memang kenyataannya seperti itu..!
Menghela nafas berat dan kembali melihat wajah Jiyeon yang sedang tertidur. Aku rasa aku.. menyukainya.
Thuder POV End

***

Jiyeon POV
“Uuugh..” Aku menggeliat di atas kasur.

Kasur? Bukannya seharusnya aku terjaga.. merawat Thunder? Mengucek mataku tak percaya. Ternyata aku tertidur dan sekarang aku ada diatas kasur Thunder! Tapi.. tunggu. Sekarang dia ada dimana?

KLEK
Pintu kamar terbuka. Aku melihat seorang namja mengenakan seragam sekolah sambil meneguk botol susu. Thunder.

“Ya! Kamu sudah bangun ‘kan? Ayo cepat mandi dan sarapan sekarang!” Dia berdeham. “Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Kuletakkan di atas meja.”

“O-oh? Benarkah?”

Thunder mengangguk.

“Apa kamu sudah sehat Thunder?”

“Lihat saja!” Thunder berlari-lari di tempat. Aku hanya tertawa melihatnya.

“Ne, aku sudah melihatnya. Baguslah..”

Thunder kembali berdeham dan menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. “Errr.. Gomawo Jiyeon, kamu sudah merawatku.”
M-Mwo? Tadi dia bilang apa? ‘Gomawo’? Aku terus memperhatikannya, dia yang sadar akan tatapanku jadi salah tingkah sendiri. Lagi-lagi aku tertawa.
“Sudah! Cepat mandi dan sarapan lalu berangkat ke sekolah!” ujarnya sambil menutup pintu.

Mengerutkan kening seraya masuk ke kamar mandi.

***

“Ya! Cepat selesaikan sarapanmu! Aku ingin mengunci pintu apartemen!”

Memasukkan semua makanan yang masih bersisa di mangkuk. “Mmm.. Mmya, hamphu hangan bwisik. Hapu mwudah tau!” (baca: Mmm.. Iya, kamu jangan berisik. Aku sudah tau!)

Tawa Thunder meledak setelah dia mendengar kata-kata yang muncul dari mulut dengan pipiku yang menggelembung besar. Aku memelototinya, membuat dia berhenti tertawa. Bagus!
Sambil menjinjing tas, aku keluar dari apartemennya dan mendapati seseorang sedang berdiri di depan pintu kamar apartemenku. Tidak asing.. Sepertinya aku mengenalnya.

“Joon oppa?” tanyaku, memastikan orang itu adalah Lee Joon.
Jiyeon POV End

.

Lee Joon POV
Aku menoleh ke Jiyeon. “Jiyeon-aa!” ucapku senang. Tapi.. kenapa Jiyeon tidak keluar dari apartemennya? Milik siapa apartemen yang baru dia masuki??

“Sedang apa Joon oppa.. Ah, oppa mau menjemputku?”

Ku anggukkan kepalaku. “Kajja!”

“Tunggu sebentar, aku mau mengganti tasku.” Secepat mungkin, Jiyeon masuk ke apartemen lalu menggendong tas punggung warna pinknya. “Ayo oppa!”

Jiyeon merangkul tangannya seperti biasa, tapi jantungku masih berdetak kencang setiap kali dia menyentuhku. Namun saat kami melewati apartemen yang terletak di sebelah apartemen Jiyeon, langkah kami terhenti karena mendengar seseorang memanggil nama Jiyeon.

MWO?? Aku melihat Thunder keluar dari apartemen yang baru kami lewati
Kenapa ada Thunder disini? Itu.. Tadi Jiyeon keluar dari aparten itu ‘kan..?

Thunder berjalan mendekati kami. “Ya Park Jiyeon! Ponselmu tertinggal diatas kasurku. Ini!”

“Oh iya.. Hampir saja aku lupa.” Memukul kening dengan tangan Jiyeon sendiri.

“Hah. Dasar yeoja pabo.” gerutu Thunder. “Lain kali kalau setelah menginap dari rumah orang, periksa dulu barang-barangmu, ada yang tertinggal atau tidak!”

Jadi.. Tadi Jiyeon keluar dari apartemen Thunder karena semalam dia menginap di apartemen Thunder..
DEG
Hatiku terasa sakit.. Aku cemburu dan merasa sangat marah sekarang. Ingin sekali kumarahi Jiyeon tapi.. aku bukan siapa-siapanya. Hanya sebagai chingu, tidak lebih. Kenyataan itu membuat hatiku semakin sakit..

“Oppa? Oppa?” Melambai-lambaikan tangan di depan mukaku. “Ayo kita berangkat sekolah sekarang.”

Melepaskan rangkulan tangan Jiyeon. Aku melihat dia sedikit tersentak.

“O-oppa? Oppa! Oppa tunggu aku!” teriaknya sambil berlari mengejarku. Ya, kini aku berjalan dengan cepat, meninggalkannya yang sekarang sudah jauh dibelakangku.
Lee Joon POV END

.

Jiyeon POV
Aku berhasil mengejarnya. Ternyata dia menungguku diruang parkir. Dia membuka pintu mobil untukku dan kembali membuka pintu mobil saat kami tiba di Seoul High School, seperti biasa. Tapi anehnya, saat di mobil suasana benar-benar terasa aneh! Biasanya dia duluan yang mengajakku berbicara. Tapi kali ini? Dia hanya diam saja saat aku bicara ini dan itu. Bahkan lebih anehnya, dia sama sekali tidak menatap wajahku!
Ada apa dengan Joon? Padahal tadi sikapnya biasa-biasa saja..

“..yeon-aa! Jiyeon-aa! Hei Jiyeon-aa!” Jieun menepuk pundakku, membuatku sadar dari lamunan. “Ada apa denganmu? Aneh sekali hari ini..”

“Jieun-aa..” Aku menoleh ke arahnya, membuat dia terkaget.

“Wuah! Apa-apaan wajahmu itu?? Kusut sekali!” Jieun mengeluarkan cerminnya lalu menunjukkannya di depan mukaku. “Gwenchana??”

Aku menghela nafas lalu ku ceritakan semuanya pada Jieun, saat Lee Joon menyapaku dengan riang sampai dia menatap ke arah lain saat dia membukakan pintu mobil.

“Memang apa masalahnya?” tanya Jieun setelah aku menceritakan semuanya.

“Molla..”

“Molla? Ya Jiyeon-aa, kalau ada aksi pasti ada reaksi. Coba kamu ingat-ingat kejadian sebelum atau pada saat itu dengan teliti. Pasti ada sesuatu yang membuat Joon-shi seperti itu!”

Hmmm.. Saat aku bertemu Joon, aku baru saja keluar dari kamar Thunder… Dan saat Thunder bicara, ‘lain kali kalau setelah menginap dari rumah orang, periksa dulu barang-barangmu, ada yang tertinggal atau tidak!’ raut wajah Joon jadi berubah. Ah! Jangan-jangan dia menganggap aku wanita yang bukan-bukan gara-gara aku menginap di rumah namja??

“Jieun, sepertinya aku tau masalahnya..”

“Oh benarkah? Kalau begitu cepat minta maaf padanya!”

“Ne. Arasso..” sambil mengangguk. Aku beranjak dari tempat duduk menuju kelas Lee Joon. Aku harus bicara padanya sekarang juga.
Jiyeon POV End

.

Author POV
Jiyeon berlari menuju kelas Lee Joon. Terlihat Joon sedang memandang keluar jendela dari bangkunya. Jiyeonpun langsung menghampirinya.

“Joon oppa! Kamu salah paham! Aku memang menginap di rumah Thunder semalam, tapi aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Mianhe.. Kumohon maafkan aku.. Jebal..”

Lee Joon tetap memandang keluar jendela, tidak menatap Jiyeon sama sekali. Jiyeon meneguk ludah kecewa. Berkali-kali dia mengatakan kata ‘jebal’ namun Joon sama sekali tidak menanggapi omongannya.

Jiyeon yang putus asa berpikir kalau Lee Joon tidak percaya pada Jiyeon, ia pasti membencinya sekarang.
Namun tanpa Jiyeon ketahui, sebenarnya Joon tidak membencinya. Terbesit keinginan untuk memaafkan yeoja cantik yang sedang menatapnya sedih, namun sekarang hatinya seperti tidak bergerak. Joon terlalu marah karena cemburu. Ingin sekali dia memarahi yeoja itu dan berkata jangan pernah mendekati namja selain dirinya, tapi dia sadar kalau dia bukan namjachingunya Jiyeon, jadi dia tidak punya hak untuk itu dan dia sendiri bingung harus berkata apa.

“Mianhe oppa.. Jebal..” pinta Jiyeon, lagi.

Joon memejamkan matanya sebentar seraya menarik nafas panjang. Kali ini ia menatap mata Jiyeon lekat. Jiyeon sudah berharap lebih namun yang Joon katakan, “Pergilah. Aku.. tidak ingin melihatmu.”
Author POV End

———————TBC——————-

Author CB gak henti-hentinya bilang jangan pernah kopas ini tanpa ijin.. alias jangan jadi PLAGIAT🙂 dan BERTOBATLAH ANDA SEKALIAN (baca: silent reader) oke oke??

Ohya, gimana poster CLOCK yang baru?? Aku lho yang buat. Yah walaupun telat karna baru ada waktu buat bikin itu hehe jadi pas-pasan deh~

FYI, aku udah selesai UAS lhooo.. Akhirnya~ Tapi tetep doain aku biar nilaiku bagus-bagus ya di rapot..

Follow or contact person: @CerilynBam

35 responses

  1. wohoho…… ada yang udah ngaku (ke dirinya sendiri)!!!!!!!!!!
    huh??? banter banget Thunder makan buburnya???
    Jiyeon-a, pasti keluargamu sayang kok…. cuma nunjukinnya aja yang berbeda😀
    aigoo……. Lee Joon, jangan salah paham dulu…..
    oh, udah rampung UASnya? baiklah……. #tarik napas……

    SEMOGA DAPAT NILAI” YANG BAGUS!!!!!!!!!!! FIGHTING!!!!!!!!!😀

  2. @han sang iyatuh, sebenernya Thunder kelaperan tapi gengsi jadinya ya.. /plak kekekeke

    AMIN! MAKASIH BANYAK HAN SANG ATAS DOAMU DAN DUKUNGAN LEWAT COMMENTNYA T.T *terharu*

  3. Binguuungggggggg ??? o __ o

    pilih sapa dooonggg….. aku suka bgt sama JOON, tp disini THunDER lebih cocok…

    jadi aku harus pilih sapa doooonggg…???

  4. anyeong! aku reader baru..hehe, mian y aku ga coment d tiap part..dr hape sih, hemat pulsa~ hehe..jeongmal mianhe! #deepbow (_ _)
    aaaaaa..suka banget sama critanya! daebakk..jd abstrak ni jiyeon bakal jadi ama siapa..uwooo~ joon ! jahat bgt kata2x T_T lanjuuttt

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s