Clock [Part 8]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b

, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

Pagi hari, apartemen Jiyeon

Jiyeon POV

“Pergilah. Aku.. tidak ingin melihatmu.”

Kata-kata itu terus terngiang di pikiranku.. Joon.. kenapa kamu tidak mau memaafkanku? Sudah beberapa hari sejak Joon bicara seperti itu kepadaku dan dia masih tidak mau berbicara bahkan menatapku. Sudah berkali-kali aku mendekatinya namun tidak ada respon.. Tahukah Joon kalau aku merasa kesepian tanpanya?

Aku melirik ke arah jam dinding. 07.00 KST. Biasanya Joon menjemputku pukul setengah tujuh pagi. Hhhh.. Sudah kuduga, Joon tidak akan menjemputku lagi.. Kukenakan tas punggung dan dengan tidak semangat berjalan ke arah pintu.

Jiyeon POV End

Thunder POV

Sejak aku menyadari kalau aku s-s-su.. ugh!! Ya begitulah! Pada Jiyeon, aku jadi semangat sekali berangkat ke sekolah agar bisa melihat wajahnya.

KLEK

Membuka pintu lalu menoleh ke kamar Jiyeon.

“Ya Jiyeon!” menegur saat Jiyeon lewat didepanku. Langkahnya terhenti seraya menatapku.

“Ne?”

Apa kamu naik bis juga pagi ini? Kalau iya, bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama? Aku ingin berkata seperti itu tapi yang keluar di mulutku, “A-aniya.”

Jiyeon menatapku bingung. Ia berpikir sebentar lalu berkata, “Kamu ingin naik bis hari ini? Kalau iya, errr.. bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama? Aku takut tidak ada yang membangunkanku saat di bis.” Jiyeon tersenyum kecut. “Kemarin aku turun di pemberhentian yang jauh dari sekolah..”

Aku berpura-pura mendengus kesal. “Aish, kamu ini merepotkan sekali.. Baiklah, kajja!”

Kami berjalan bersama dan naik ke bis. Seperti biasa, bis sangat penuh. Hanya tersisa 2 bangku kosong. Otomatis kami langsung duduk di bangku itu yang ternyata saling bersebelahan.

“Lagu apa itu?” Jiyeon menunjuk headset yang sedang aku pasangkan di telingaku.

“Hmm.. You Are My +.”

Terlihat dengan jelas dari raut wajahnya, dia terlihat bingung. “Kamu belum pernah mendengarnya?” tanyaku yang langsung dibalas anggukan Jiyeon. “Huh, padahal terkenal sekali di Korea. Coba kau dengarkan!”

Aku melepaskan salah satu bagian headset yang menempel di telinga kananku kemudian memasangkan di telinga kirinya yang mungil itu. Jiyeon terkejut karena sentuhan tanganku tidak sengaja mengenai pipinya. Semburat merah langsung keluar dari pipi itu. Astaga! Kyeopta!

(Author p.s: dengerin lagu MBLAQ – You Are My + ya sambil baca bagian ini).

“Bagaimana lagunya?”

“Umm.. Ne, bagus. Aku suka..” jawabnya seraya menutup mata.

Apa dia tidur? Aish yeoja ini gampang sekali tertidur! Dengan lembut, aku menyandarkan kepalanya di bahuku.

Thunder POV End

Jiyeon POV

“Bagaimana lagunya?”

“Umm.. Ne, bagus. Aku suka..” jawabku lalu menutup mata..

You know I (I love you) you and I (I need you)~ ♫

Lagu ini benar-benar bagus.. Kira-kira siapa ya yang membawakan lagu ini?

Baru saat aku ingin bertanya ke Thunder, dengan lembut ia menyentuh kepalaku lalu menyandarkan di bahunya.

DEG DEG DEG DEG DEG.. Omona! Demi apa jantungku berdetak kencang saat dia mengelus-elus rambutku? Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya jadi lembut seperti ini? Dan ada apa denganku?? Bukannya risih, tapi aku senang dan nyaman saat tangannya yang besar itu menyentuh rambutku lembut dan menyisipkan rambutku di sela-sela jarinya. Astaga..

Jiyeon POV End

Author POV

“Err.. Jiyeon..”

“Ada apa?” Jiyeon menatap Thunder bingung saat mereka berjalan menuju kelas. Thunder mengacak-acak rambutnya lalu mengumpat pelan.

Akhirnya Thunder menarik nafas panjang dan bicara, “Nanti malam bisakah kamu ke apartemenku untuk—”

“Tunggu dulu.” potong Jiyeon saat merasa ada yang memperhatikan. Ia melihat Lee Joon menatapnya dengan pandangan sedih.

“Joon oppa!” seraya berjalan mendekatinya. “Joon oppa.. Kumohon bicaralah denganku.. Jebal..”

Sementara itu, Thunder mendengus kesal melihat tingkah Jiyeon tadi. “Ternyata dia lebih mementingkan Joon..” ujarnya pelan lalu berjalan masuk kelas.

Kembali ke Jiyeon, ia terus mencoba berbicara dengan Lee Joon. Tapi tetap saja Lee Joon tidak mau membalas perkataan Jiyeon. Ia lebih memilih diam dan akhirnya meninggalkan Jiyeon yang masih berdiri di tempat dengan sedih.

Author POV End

Jiyeon POV

Begitu masuk kelas, ku sandarkan kepalaku ke atas meja. Kenapa Joon masih tidak ingin bicara denganku? Sakit. Hati ini terasa sakit saat tidak bisa mendengar suaranya padahal aku bisa melihatnya. Aku.. Benar-benar kangen pada Joon saat dia membuatku senang dengan es krim, mencicipi masakannya yang enak, menghibur dan membantuku disaat aku susah, dan terutama.. senyumannya yang membuat bebanku hilang.

“Jiyeon-aa, sudahlah jangan dipikirkan..” Jieun menepuk-nepuk pundakku lembut. “Ohya, apa hal ini juga menyangkut tentang Thunder-shi?”

Aku kaget dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Jieun. Kenapa tiba-tiba dia menyebut nama Thunder? “Hmm.. Ne. Waeyo?”

“Ah, ternyata benar. Instingku berkata kalau Lee Joon-shi cemburu karena akhir-akhir ini kamu terlihat dekat dengan Thunder.”

“Cemburu? Bagaimana bisa? Memang kenapa kalau aku dekat-dekat dengan Thunder?”

“Ya Park Jiyeon-aa! Sudah berapa kali aku bilang kalau Joon-shi itu suka padamu!”

“M-mwo??”

Jieun mengangguk. “Kelihatan sekali kalau dia suka padamu!”

Tiba-tiba saja aku merasa senang. Andaikan semua yang dikatan Jieun benar, pasti aku merasa lebih senang!

“Ya! Kenapa kamu senyum-senyum begitu?? Omo.. kamu juga suka padanya? Kalau begitu dekati saja dia..”

“Tapi bagaimana? Sekarang dia sedang marah denganku..”

Jieun menyunggingkan senyumnya. “Sebaiknya kamu memberi ‘sesuatu’ padanya. Apa yang kamu bisa?”

Jiyeon POV End

Thunder POV

Akhir-akhir ini Jiyeon terlihat murung lagi. Lihat saja tampangnya saat tadi ia masuk ke kelas.

Sungguh! Aku sangat khawatir padanya! Ingin kutanyakan ada apa tapi aku terlalu gengsi!! Lagipula jika aku mengeluarkan semua perhatianku padanya bisa-bisa dia tau aku s-s-su.. Aish! Kenapa susah sekali diucapkan walau hanya di dalam hati?

Tapi kekhawatiranku mulai mereda ketika melihatnya tersenyum saat melewati gerbang sekolah, pulang ke apartemennya. Kulihat sebelum dia melewati gerbang, ia sempat melambaikan tangan ke Jieun. Aku tanyakan saja pada Jieun..

Berdeham pelan. “Jieun apa kamu tau kalau.. uhm..”

Jieun menatapku sebentar lalu menengok ke kanan, kiri, dan belakangnya kemudian menatapku kembali, tidak percaya. “Thunder-shi? Kamu sedang berbicara padaku?”

Aku mendengus kesal. Ternyata yeoja ini tidak kalah pabonya dari Jiyeon. Jelas-jelas tadi aku memanggil namanya. “Kamu kira siapa lagi..”

“Omo.. Ini benar-benar langka.. Baru kali ini Thunder-shi mengajakku berbicara..” katanya pelan, tapi hei! Aku mendengarnya! “Ada apa ya?”

Sempat ragu-ragu, namun ku bulatkan tekad untuk bertanya daripada penasaran terus-menerus! “Apa kamu tau kenapa Jiyeon jadi murung hari ini dan tiba-tiba dia jadi berubah senang seperti barusan?”

Jieun terkaget setelah mendengar aku menanyakan hal tentang Jiyeon. Samar-samar, kulihat dia tersenyum dan kembali berkata pelan, “Ternyata instingku benar-benar kuat..”

“Ya!”

“Oh mian! Hmmm, Jiyeon-aa seperti itu karena Lee Joon-shi. Dia..”

“Chagiya, ayo kita pulang!” potong Wooyoung yang langsung menggeret Jieun pergi sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.

Dasar pasangan pabo! Pergi begitu saja huh! Oh God, maafkan aku karena berkata ‘pabo’ berkali-kali. Tapi memang kenyataannya seperti itu, ada saja orang pabo yang kutemui setiap hari..

“..Jiyeon-aa seperti itu karena Lee Joon-shi.” Uugh karena Lee Joon? Apa dia telah menyakiti Jiyeon sampai-sampai membuat Jiyeon sedih dan senang kembali? Aku merasa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi..

Thunder POV End

***

Jiyeon POV

TOK TOK TOK

Mengetuk pintu saat berdiri didepan pintu bercatkan putih. Aku menunggu seseorang yang nantinya— Hhh.. aku berharap dia akan membukakan pintu ini untuk sekedar melihatku.

KLEK

Seorang namja berbadam tegap memandangku heran ketika ia membuka pintu.

“Joon oppa! Ini!” menyodorkan kotak besar. “Tolong oppa terima.. Aku sendiri yang membuatnya.. s-sebagai permintaan maafku. Mianhe..”

Dia menatap kotak itu agak lama kemudian menyuruhku masuk kedalam rumahnya. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Joon meletakkan kotak besar itu di atas meja makan kemudian mengambil beberapa piring dan sendok.

“Kamu sudah tau isinya ya oppa?”

Joon menyunggingkan senyumnya. Walaupun dia hanya tersenyum, tapi itu cukup membuatku lega. Setidaknya dia tidak menyuruhku untuk menjauhinya lagi. “Tentu saja. Cheese cake kan?” Omo.. Sekarang dia mengajakku berbicara. Aku sangat senang mendengar suaranya kembali!

Aku tersenyum lebar saat dia membuka kotak besar itu. “Bingo!” kataku. Cheese cake. Karena aku hanya bisa membuat kue, dan aku tau apa yang Joon suka, jadi kubuatkan saja dia cheese cake.

“Gomawo..” seraya memotong kue dan meletakkan di 2 piring. Ia menyodorkan satu untukku dengan sendok kecil yang tertancap diatasnya dan kami memakan kue buatanku bersama-sama. Sesekali kulihat dia tersenyum senang ketika melahap kue.

“Oppa.. Aku sangat lega melihat oppa tersenyum saat menerima kue buatanku. Apa ini artinya oppa sudah memaafkanku?” tanyaku takut.

Setelah mendengar perkataanku, dia meletakkan sendoknya diatas meja kemudian menatapku serius. “Apa kamu sedang menyogokku? Apa kamu kira dengan kue maka aku akan memaafkanmu?”

Aku menelan ludah. “O-oppa..”

“Hari sabtu nanti, temani aku ke taman ria. Baru aku akan memaafkanmu.” Joon tersenyum lebar. Dia kembali menyendoki kue masuk ke dalam mulutnya.

“Hmm,” Aku mengangguk dan tersenyum. “Terserah apa kata oppa, asalkan oppa memaafkanku.. Maka tidak akan menjadi masalah untukku.”

***

Hari Sabtu

Aku mematut-matutkan diri di depan cermin. Kurapihkan bajuku dan kembali menyisir rambut.

Bo Peep Bo Peep Bo Peep~

Pesan? Dari Lee Joon kah?

From: Dara eonni

Annyeong Jiyeon! Hari ini aku akan pulang ke Seoul karena ini adalah hari-H nya > <

Tolong jaga Thunder sampai aku kembali ya! Sampai ketemu nanti malam! ^_^ /

Huh? Hari-H apa?

Baru ketika aku mau membalas pesan dari Sandara, aku mendengar bunyi bel. Aku membuka pintu dan ternyata benar, dia Lee Joon. Dengan baju casualnya, ia sangat tampan sekali hari ini.. Aigoo~ sekarang dia sedang menatapku dengan bibirnya yang ditarik sedemikian rupa sehingga ia menghasilkan senyuman yang sangat manis. Blush. Pipiku langsung merah. Ah! Maksudku senyumannya itu..

“Jiyeonnie..” Dia tertawa kecil. “Bolehkah aku memanggilmu Jiyeonnie? Aku ingin memanggilmu seperti itu karena kamu terlihat kyeopta sekali hari ini.”

Blush. “U-uh, ne.”

“Oke kalau begitu, ayo Jiyeonnie!” Joon menggenggam tanganku erat.

Jiyeon POV End

 

Author POV

Thunder memandang sebuah amplop kecil ditangannya seraya berjalan menuju pintu apartemennya. Mungkin ada baiknya aku mengundang yeoja itu, pikirnya. Namun ketika dia membuka pintu, tidak terlalu lebar, dia melihat Lee Joon menggenggam tangan Jiyeon sambil lalu.

Tiba-tiba saja Thunder kehilangan semangat. Dia mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu.

***

“Kita sampai!” seru Joon saat dia membukakan pintu untuk Jiyeon.

Mata Jiyeon terbelalak kagum melihat apa yang ada dihadapannya. Seperti di dunia dongeng, pikirnya. Dia baru pertama kali ke tempat itu, mengingat dia tinggal meninggalkan Korea saat ia masih berumur 10 tahun.

“Oppa.. Dimana kita sekarang? Taman ria kah?”

Lee Joon tertawa kecil. “Welcome to Lotte World Miss Park Jiyeon!!”

“Oh.. Sepertinya menarik..”

“Yaa! Ini jauh lebih menarik daripada yang kamu pikirkan! Ayo Jiyeon, kita masuk!” Joon kembali menggandeng tangan Jiyeon.

Author POV End

Lee Joon POV

Ku gandeng tangan Jiyeon masuk ke Lotte World. Aigoo~ Sudah lama aku tidak memegang tangannya sejak saat itu. Aku harap dengan mengajaknya kesini pandangan matanya akan selalu tertuju padaku nantinya..

“Oppa liat itu!” Jiyeon menunjuk sebuah stand yang menjual bando. Aku dan Jiyeon berjalan ke stand itu.

“Waah, liat itu semua oppa! Lucunya!”

Aku ikut tersenyum lalu memasangkan bando kelinci di kepalanya. “Kau juga sangat lucu! Ani, sangat manis Jiyeonnie!”

“Oppa, jangan terus memujiku. Aku jadi malu..” akunya. Kulihat ia menggembungkan pipi lucu. “Oppa juga harus mencobanya!”

“Ne.” Aku memasang bando kelinci yang sama seperti yang dipakai Jiyeon. “Bagaimana?”

“Omo.. Kamu manis sekali memakai bando itu..” Jiyeon terkagum-kagum melihatku.

“Kalian serasi sekali sebagai pasangan kekasih!” ujar ahjumma, pemilik stand itu yang daritadi melihat kami.

Jiyeon mengibas-ngibaskan tangan kanannya. “A-ani..! Kami bukan..”

Aku merangkul Jiyeon tiba-tiba. “Ne, kami memang pasangan. Tidakkah kami berdua terlihat mesra?” Mendengarku bicara seperti itu, Jiyeon menatapku terkejut. Aku terkekeh seraya mempererat rangkulanku.

“Ah iya, ini uangnya. Kami membeli 2 bando ini.”

Ahjumma menerima uang dari tanganku lalu tersenyum. “Kamsahamnida! Aku doakan hubungan kalian berdua tidak akan pernah putus!”

Kulepaskan rangkulanku dan kembali menggandeng tangan Jiyeon.

“Yaa, apa maksud dari omongan oppa tadi?”

“Sudahlah, anggap saja sekarang kita benar-benar couple.” Tersenyum seraya menunjuk bando yang dipakai olehku dan Jiyeon bergantian.

“Terserah oppa sajalah..” ujar Jiyeon pasrah. “Sekarang kita mau ke wahana yang mana?”

“Itu!” menunjuk ke arah tower setinggi 200 meter.

Mata Jiyeon membulat. “MWO?? Andwae!”

“Ayolah Jiyeonnie.. Kamu tidak usah takut, kan ada oppa. Permainan ini sangat sayang kalau dilewati. Aku jamin kamu akan suka.”

Jiyeon menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. “Baiklah..”

Kami mengantri sebentar dan pada akhirnya kami mendapat giliran. Aku duduk disamping Jiyeon. Kurasakan pegangan tangannya semakin mengencang di tanganku. “Oppa.. Berjanjilah padaku jangan pernah melepaskan aku..” bisiknya takut.

“Tentu saja.” Baik di wahana ini ataupun setelahnya aku tidak akan pernah melepasmu..

***

“Benar kata oppa, tadi itu asik sekali! Yah, walaupun awalnya menakutkan tapi sekarang aku tidak takut lagi!” Jiyeon kembali menjilati es krimnya.

“Kamu mau mencoba wahana yang serupa?”

“Ne!”

“Bagaimana dengan itu? Dan yang satunya lagi?” Aku menunjuk wahana yang aku maksudkan kepadanya.

Kami mencoba wahana itu lalu setelahnya kami menonton 3D dan ice skating. Aigoo~ Jiyeon sangat cantik saat ia meluncur di atas es itu. Setiap langkahnya sangat indah. Aku rasa aku semakin menyukainya…

“Oppa.. Aku kedinginan disini.. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain saja?”

Aku mengamati wajahnya yang tampak letih. “Sepertinya kamu sudah lelah.. Bagaimana kalau kita pulang saja? Lagipula sekarang sudah malam..”

Jiyeon menggembungkan pipinya. “Aku masih belum ingin pulang..”

“Hmm.. Mau naik bianglala?”

Jiyeon mengangguk senang.

Lee Joon POV End

Jiyeon POV

“Huaah sudah lama aku tidak naik bianglala!” ujarku senang ketika kami menaiki bianglala.

“Benarkah?”

“Ne. Terakhir kali aku naik bianglala saat bersama oppa di Amerika. Setelah oppa kembali ke Korea, tidak ada yang mengajakku pergi ke taman ria lagi..”

Lee Joon menatapku bingung. “Oppa? Maksudmu itu aku?”

Aku mengangguk. “Oppa kira Minho oppa? Huh. Dia kan sudah sibuk semenjak dia jadi ahli waris perusahaan..”

Kami diam beberapa lama sampai aku teringat pada perkataan Jieun kemudian aku memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Lee Joon. “Joon oppa.. Apa sebenarnya alasanmu tidak mengajakku bicara saat itu? Apa kamu marah karena berpikir aku wanita yang bukan-bukan atau..”

“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Aku mempercayaimu.” potongnya.

“Lalu..?”

“Aku cemburu.” jawabnya tegas.

“M-mwo?”

“..Itu semua karena aku menyukaimu.” Lee Joon menatapku dalam dengan menyunggingkan senyuman di bibirnya.

DEG DEG DEG DEG DEG

Omomomomo?? Ternyata benar apa yang dikatakan Jieun! Aigoo~

Tiba-tiba saja Lee Joon berlutut dihadapanku kemudian memegang kedua tanganku. Tatapan matanya semakin tajam. “Sebenarnya aku menyukaimu sejak dulu.. Sejak kita masih kecil. Tapi aku tidak tau perasaan apa itu.. Namun ketika aku bertemu denganmu lagi, debaran itu kembali muncul dan selalu muncul disaat aku sedang bersamamu..”

Lee Joon mengambil tangan kananku dan menempelkan di dadanya. “Dapatkah kamu merasakannya? Saat ini jantungku berdebar kencang karenamu..”

DEG DEG DEG DEG DEG

Aigoo~ Aku merasakan debaran jantungnya.

“Jiyeonnie, aku menyukaimu.. Apa kamu mau jadi yeojaku?”

DEG DEG DEG DEG DEG

Aku menelan ludahku. Dia bilang dia menyukaiku dan ingin aku menjadi yeojachingunya.. Aku..

“Ne. Aku mau..” jawabku pelan yang membuat senyum Lee Joon merekah. Sebenarnya aku tidak tau mau menjawab apa. Aku masih ragu.. Tapi yang kutau, aku sangat takut ia menjauhiku seperti kemarin, maka dari itu aku berkata seperti ini.. Aku menyayangi Lee Joon.. Entah menjadi chingu atau yeojanya..

“Gomawo Jiyeonnie..” Lee Joon tidak lagi berlutut. Ia mencondongkan badannya ke arahku. Ne, dia ingin menciumku.. Ciuman pertamaku..

Aku memejamkan mataku. Kurasakan bibir kami sudah bersentuhan. Tapi entah mengapa, rasanya aku pernah merasakan hal seperti ini.. Maksudku.. rasanya aku pernah berciuman sebelumnya.. Ah aniya! Aku yakin ini adalah ciuman pertamaku..

Tepat saat aku membalas ciumannya, aku mendengar suara kembang api. Lee Joon yang mendapat respon balik, semakin melumat bibirku. Waktu terasa berhenti. Kurasakan pipiku panas dan jantungku seperti dipompa. Jujur, aku senang berciuman dengannya.

Kulepaskan bibirku dari bibirnya karena hampir kehabisan nafas. Aku baru sadar kami berciuman sangat lama. Lee Joon terkekeh karena dia merasakan hal yang sama.

Bo Peep Bo Peep Bo Peep~

Aku merogoh ponsel yang ada di dalam tas.

From: Dara eonni

Jiyeon! Bisakah kamu mengambil pesanan kue di Toko Creamy dekat apartemen dan mengantarkannya ke apartemenku segera? Jebal?? > <

“Oppa, aku ada urusan. Bisakah kita pulang sekarang?”

Lee Joon menyipitkan matanya. “Oh? Dari siapa itu? Kenapa mendadak sekali?”

“..Mian, aku akan menceritakannya besok. Sekarang aku sedang terburu-buru.”

“Baiklah. Tapi bagaimana kalau sebelum pulang kita pergi ke stand photobox dulu? Sebentaaaar saja? Jebal? Aku ingin membuat kenangan saat hari jadi kita, jagiyaa.” Lee Joon terkekeh setelah mengucapkan kata ‘jagiya’, sedangkan aku tersenyum mendengarnya.

Aku mengangguk setuju kemudian memencet tombol di ponsel.

To: Dara eonni

Hmm oke. Aku akan ke toko itu setelah urusanku selesai. Aku usahakan secepat mungkin.

Sent.

***

“Kira-kira kue apa ini?” Aku memandangi kotak yang sedang aku jinjing. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di apartemen, aku mendapat pesan masuk.

From: Dara eonni

Jiyeon, tolong sampaikan pada Thunder permintaan maaf kalau aku tidak bisa pulang malam ini karena ada urusan mendadak. Besok aku akan pulang jadi bersabarlah! > <

To: Dara eonni

Oke. Tapi bagaimana dengan kuenya? Dan kue apa ini?

Sent.

Bo Peep Bo Peep Bo Peep~

From: Dara eonni

Berikan saja padanya. Itu kue ulang tahunnya~

Mwoh? Hari ini hari ulang tahun Thunder?? Jadi yang dimaksud Sandara di pesan sebelumnya.. Hari-H itu maksudnya hari ulang tahun Thunder?

Aku merasa bersalah karena hari ini aku belum mengucapkan selamat ulang tahun bahkan melihatnya. Jadi kuputuskan untuk membersihkan diri kemudian menghias kamar apartemenku dengan hiasan ulang tahun secepat mungkin. Setelah semua selesai, aku menulis sesuatu di kertas bewarna kuning lalu menyelipkannya di bawah pintu kamar apartemen Thunder. Aku harap Thunder membacanya..

Jiyeon POV End

Thunder POV

Aku melirik ke jam tanganku. Sudah jam 8 malam dan Sandara belum juga pulang! Kemana saja dia? Jangan bilang kalau dia ada urusan mendadak dan tidak pulang malam ini! AARGHT! Ini akan menjadi hari ulang tahun terburukku! Tanpa kue, keluarga, tanpa teman.. yah, aku memang tidak punya teman dan untuk yang ini tidak masalah. Tapi.. Jiyeon.. Hanya Jiyeon yang aku harapkan sekarang namun aku tau dia pasti tidak tau sama sekali kapan hari ulang tahunku.

♪TING TONG TING TONG.. ♪

Ah! Bunyi bel! Apa dia Sandara?

KLEK

Aku membuka pintu dan.. tidak ada siapa-siapa. Ai.. Orang iseng!

Ku tutup pintu sekencang-kencangnya karena kesal, tapi kemudian kakiku menginjak sebuah kertas. Karena warna itu bewarna kuning, yang secara tidak langsung mengundang perhatian, aku mengambil dan membacanya.

Thunder-aa,

Cepat datang ke apartemenku!!

-Park Jiyeon-

Huh? Apa-apaan ini?? Kenapa dia mengirimiku surat yang isinya hanya seperti ini? Tapi.. apa maksudnya ‘cepat datang ke apartemenku’? Apa dia dalam masalah?? A-andwae!

Karena panik, aku langsung keluar dari kamarku dan berlari menuju kamarnya.

Aku membuka pintu kamar Jiyeon. Tidak terkunci.. Jangan-jangan.. “Jiyeon!!”

Tiba-tiba muncul beberapa kertas yang berjatuhan dari kroket tepat di depan mukaku. “Saengil chukka hamnida!” sorak Jiyeon senang.

Merasa seakan-akan rahang bawahku terjatuh. Jadi.. Jiyeon tau hari ulang tahunku?

“Thunder-aa, chukkae! Ayo kita ke ruang makan.” Jiyeon mendorong punggungku. “Ah iya, tadi Dara eonni mengirimiku pesan, dia mintaaf tidak bisa menghadiri acara ulang tahunmu.”

Huh? Kenapa Sandara tidak langsung mengirimiku pesan minta maaf dan kenapa harus lewat Jiyeon? Aku mencium kejanggalan disini.. Sepertinya Sandara memang berniat mencomblangiku dengan Jiyeon..

“Apa itu?” tanyaku seraya menunjuk kotak besar yang terletak diatas meja makan.

Jiyeon mengangkat alisnya. “Masa kamu tidak tau? Itu kue ulang tahun dari Dara eonni. Ayo kita buka.”

Jiyeon membuka kotak itu. Alangkah terkejutnya kami ketika melihat hiasan di kue itu. “H-he-hello kitty?” ujar Jiyeon terbata-bata. Mukaku langsung merah padam. Awas kau Sandara! “Kamu suka hello kitty??”

Aku tidak bisa mengelak. Memang kenyataannya seperti itu.

“J-jadi orang sepertimu..” Tawa Jiyeon langsung meledak. “Hahaha! Aku tidak menyangka bisa-bisanya seorang Thunder menyukai hello kitty!” Aku memasang wajah cemberut. “Ah, ne.. ne.. Aku tidak akan meledekmu! Ayo kita rayakan sekarang. Tapi uhm, tunggu sebentar, aku mau mengambil lilin dan pemantik dulu.” ujarnya seraya berjalan ke arah dapur.

Aku melihat sekeliling ruang makan. Hmmm.. Ruang ini sudah dihiasi hiasan ulang tahun.. Hatiku tergerak melihatnya. Jiyeon, ternyata kamu..

Aku terus melihat sekeliling sampai pandanganku tertuju pada sesuatu, sebuah foto yang menempel di kulkas. Ku amati foto itu. Huh, Lee Joon. Sebenarnya ada hubungan apa dia dengan Jiyeon?

“Taraaa!” seru Jiyeon, memegang lilin dan pemantik di kedua tangannya. “Ayo kita rayakan hari ulang tahunmu, Thunder-aa!”

Jiyeon dan aku bernyanyi selamat ulang tahun bersamaan. Ternyata yeoja pabo ini mempunyai suara yang bagus.. Kenapa dia tidak jadi penyanyi saja? Kalau iya, aku akan jadi fans pertamanya! Aku terkekeh.

“Uh? Waeyo?” tanya Jiyeon, aku langsung menggeleng. “Berdoalah lalu tiup lilinnya!”

Aku berdoa dalam hati lalu meniup lilin diiringi tepukan tangan Jiyeon. “Apa yang kamu minta?”

“Tidak akan kuberitau.” jawabku. Bagaimana bisa aku berterus terang tentang doaku kalau hal itu menyangkut dirinya? Bisa-bisa dia tau perasaanku yang sesungguhnya!

“Yasudah, ayo kita makan kuenya!” Jiyeon hendak memotong kue dengan pisau, namun aku mencegahnya.

“Tunggu! Sebelum itu..” Ku colek krim kue kemudian mengoleskannya ke pipi Jiyeon.

“Ya! Apa yang kamu lakukan?!”

Aku tertawa melihat ekspresinya. Kyeopta! Ku colek lagi kue dan megoleskan di hidungnya.

Tidak terima atas perlakuanku, ia mencolek kue kemudian mengoleskannya di mukaku.

“YA! Ini terlalu berlebihan!” Membalas dengan mengoleskan kue ke mukanya.

Jiyeon berusaha membuka matanya. “Thunder mataku perih..! Eottokhe? Sepertinya aku kelilipan.. Uh, appo..” Dia meringis seraya mengucek mata dengan tangannya.

Omo! Apa yang telah aku lakukan?! Aku yang merasa bersalah dan khawatir langsung membantunya. “Sini, biar aku saja! Coba buka matamu..”

Jiyeon membuka matanya sedangkan aku, mendekatkan wajahku ke wajahnya agar aku bisa meniup kotoran yang ada di matanya.

Thunder POV End

 

 

Jiyeon POV

Walaupun sebenarnya perih, kuberanikan diri untuk membuka mata lebar-lebar. Kulihat Thunder mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dengan mata yang terbelalak seperti ini, aku jadi bisa melihat setiap lekukan wajahnya. Nappeun namja..

“Yaa, bisakah kepalamu diam? Bagaimana caranya aku meniup matamu jika kepalamu goyang begini?”

“Tidak bisa. Susah..”

Thunder menghela nafas, ia mengangkat kedua tangannya lalu menempelkannya di pipiku. “Dasar yeoja pabo..” gumamnya.

DEG

Seperti tersengat listrik, jantungku langsung berdegup kencang ketika aku merasakan sentuhan hangat dari tangannya yang besar itu.

Aku tau maksud ia menempelkan tangannya di pipiku agar kepalaku tidak bergerak, tapi..

“Uuh..” Kembali meringis saat ia meniup mataku.

“Sudah. Eotthe? Masih perihkah?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Sudah tidak perih.. Aku kembali menatap Thunder dengan niat untuk berterimakasih padanya, namun aku malah terpaku menatapnya. Kini kami berdua saling bertatap muka.

DEG DEG DEG DEG DEG

Aigoo~ Sekarang apa? Aku sedikit kaget melihat wajah Thunder yang semakin lama semakin mendekat ke wajahku. Apa yang dia akan lakukan?

TUK!

“Aww.. Appo..” Ternyata Thunder menyentil dahiku seraya mengeluarkan evil smilenya.

“Yaaa, aku sedang bertanya. Kenapa kamu tidak menjawabnya, yeoja pabo?”

“O-oh, sudah tidak perih. Gomawo..”

Thunder mundur beberapa langkah dariku.

“Ayo kita makan kuenya!” Melirik kue yang terletak diatas meja. “Yah, walaupun sudah hancur lebur..”

Jiyeon POV End

———-TBC———-

Author CB gak henti-hentinya bilang jangan pernah kopas ini tanpa ijin.. alias jangan jadi plagiat atau yang lebih parah.. copycat! Dan dan daaan jangan lupa tinggalin komen! Ingat, komen kalian adalah nafas untukku ♥ u ♥

Mian kalau ff part 8 ini panjang banget dan membosankan mungkin~? Maklum 1 atau 2 chapter lagi mau tamat..

Follow or contact person: @CerilynBam

43 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s