Clock [Part 9a]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

Author POV

Akhirnya Jiyeon dan Thunder memakan kue ulang tahun yang sudah tidak jelas bentuknya. Walaupun terasa aneh, tapi mereka memakan kue itu tanpa sisa sedikitpun.

Setelah selesai makan, Thunder melihat sekeliling meja makan. Berantakan. “Jiyeon, mau aku bantu bersih-bersih?”

“Oh? Tidak usah, sebaiknya kamu pulang saja. Ini sudah malam..”

“Yaa, aku kan cowok. Lagipula kamarku ada disebelah kamar apartemenku kan? Apa yang perlu di khawatirkan?”

Jiyeon berpikir sebentar kemudian memamerkan giginya. “Ah iya, aku lupa hehe.”

“Dasar yeoja pabo.”

Jiyeon hanya menggembungkan pipi mendengar sebutan itu. Namun kali ini ia tidak marah, karena sudah terbiasa. “Tapi Thunder-aa, aku saja yang membereskan semua ini. Hitung-hitung ini kan hari ulang tahunmu..” Jiyeon mendorong badan Thunder ke luar kamar apartemennya. “Serahkan semuanya padaku!”

Thunder menaikkan alisnya. “..Yasudah kalau begitu. Tapi sebelumnya.. uh..”

“Ne?”

Menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.  “G-gomawo. Aku pulang dulu.” Setelah berbicara seperti itu, Thunder berjalan ke arah kamarnya.

Seulas senyum merekah dari bibir Jiyeon. Setelah melihat Thunder ke kamar, Jiyeon menutup pintu apartemennya.

.

***

.

Hari Senin

Pagi ini Joon menjemput Jiyeon ke sekolah. Setelah turun dari mobil, Joon menggenggam tangan Jiyeon dengan erat. Senyuman terus tersungging di bibirnya, mengingat sekarang ia resmi menjadi namjachingunya Jiyeon.

“Jagi, nanti istirahat kita makan bersama ya?” ajak Joon saat mereka sudah sampai didepan kelas Jiyeon.

Jiyeon mengangguk.

“Wowowowow apa aku tidak salah dengar? Barusan kamu memanggil Jiyeon dengan sebutan jagi?” tanya Wooyoung yang tiba-tiba saja muncul.

“Omo.. Jadi kalian sudah berbaikan dan..?” Kali ini Jieun yang bertanya. Ia menatap wajah Joon dan Jiyeon secara bergantian.

“Ne, Jiyeon adalah yeojachinguku.”

Author POV End

.

.

Jiyeon POV

“Ne, Jiyeon adalah yeojachinguku.” jawab Joon dengan lantangnya, cukup membuat teman-teman sekelasku menengok ke arah kami.

“Mwo? Kalian berpacaran?!”

Blush. “Yaa Joon oppa, Wooyoung! Bicaranya jangan keras-keras..”

Joon memasang wajah memelas. “Kenapa? Kamu malu berpacaran denganku jagi?”

“Bu-Bukan begitu maksudku..”

Jieun menepuk-nepuk punggung Joon. “Yaa, Joon-ssi. Mana mungkin ada yeoja yang malu berpacaran denganmu.”

“Oh? Pulip seosangnim sudah datang. Ayo kita duduk!” ajak Wooyoung ketika melihat Pulip seosangnim memasuki kelas.

“Sampai ketemu nanti jagiyaa..”seraya mencium bibirku dengan cepat. Omomomo! Walaupun cepat, tapi dia melakukannya didepan kelas! Aigoo malunya..

Ingin sekali aku omeli Joon tapi dia sudah berlari menuju kelas. Huh.. Aku harap tidak ada satupun teman sekelasku yang menyadarinya..

Tiba-tiba saja aku merinding. Aku merasa sepasang mata sedang menatapku sekarang. Tapi siapa? Kulirik sekitar, tapi tidak ada satupun dari teman-teman sekelas yang menatapku. Begitu juga seosangnim.

Aku berjalan menuju tempat dudukku. Tidak sengaja, aku menyenggol pulpen Thunder sehingga pulpen tersebut jatuh dari atas meja.

“Mianhe..” ujarku seraya mengembalikan pulpen ke atas mejanya. Betapa kagetnya aku melihat mata Thunder yang sedang menatapku.  Death glare.. Ada apa dengannya..?

“Park Jiyeon, cepat duduk di bangkumu!”

“Ah, ne seosangnim..”

Pulip seosangnim membuka buku lalu mendata siswa yang hadir hari ini. Setelah itu, dia menjelaskan materi baru.. dan haaah.. seperti biasa, membosankan! Walaupun begitu, hari ini entah ada bisikan dari siapa dan apa, aku memperhatikan setiap kata yang diucapkan seosangnim.

“Nah sekarang, aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang..”

“Seosangnim,” Salah satu dari teman sekelasku mengangkat tangannya. “Apa kita dibebaskan untuk memilih kelompok sendiri?”

“Tentu saja.. tidak.” Teman-teman sekelas langsung mengeluh setelah mendengar perkataan seosangnim. “Baiklah, kelompok pertama..”

Jieun menyenggol tanganku, membuat aku menoleh ke arahnya. “Jiyeon-aa, semoga saja aku bisa satu kelompok denganmu.”

“Ne, aku juga.”

Wooyoung yang duduk bangku depan Jieun langsung berbalik menghadap Jieun. “Yaa, jadi kamu tidak mau dipasangkan dengan namjachingumu sendiri?”

“Shireo, aku bosan.” jawab Jieun sambil menjulurkan lidahnya sedangkan Wooyoung menggembungkan pipi. Aku sendiri yang melihat tingkah mereka tertawa. Aigoo pasangan ini memang benar-benar lucu~

“Kelompok tiga, Lee Jieun dan Park..” Aku dan Jieun menghentikan obrolan kami untuk mendengarkan apa yang dikatakan seosangnim selanjutnya. Semoga saja aku orangnya. “..Park Sanghyun.”

“Mwo? Shireo!” Jieun langsung memelukku. “Seosangnim! Kenapa aku tidak dipasangkan dengan Park Jiyeon-aa saja?”

“Tidak ada protes! Sekali lagi aku mendengarmu protes, maka tugasmu akan aku tambah!”

“Hyaaa.. Seosangnim kejaaam..”

Pulip seosangnim mengabaikan omongan Jieun, ia terus mengumumkan nama kelompok berikutnya. “Kelompok delapan, Park Jiyeon dan Jang Wooyoung.”

♪ KRIIIIIIING.. ♪

Pulip seosangnim menutup bukunya. “Tugas harus sudah dikumpulkan selambatnya sampai minggu depan. Baiklah, karena bel sudah berbunyi, silahkan pergunakan waktu istirahat kalian dengan baik. Annyeong!”

.

***

.

Perpustakaan sekolah

Huuh.. Menyebalkan! Jelas-jelas aku sekelompok dengan Wooyoung, seharusnya sekarang dia membantuku mencari buku, bukannya berpacaran terus dengan Jieun.

“Annyeong Jiyeon-ssi.”

Aku membalikkan badan untuk melihat siapa yang menepuk-nepuk pundak dan memanggil namaku. Oh, ternyata Victoria. “Annyeong.” sedikit membungkukkan badan saat membalas sapaannya.

“Sedang apa? Jarang-jarang aku melihatmu disini..”

“Sedang mencari buku untuk resensi tugas dari Pulip seosangnim. Sebenarnya ini pertama kalinya aku ke perpustakaan.. Jadi sedikit bingung..”

“Mau aku bantu?”

Aku menggelengkan kepala. Sebenarnya aku butuh seseorang untuk membantuku mencari buku yang aku maksud, tapi mengingat Victoria salah satu anggota OSIS dan banyaknya buku yang sedang dibawanya, aku yakin dia sedang sibuk sekarang.

“Kau yakin? Aku tidak keberatan untuk membantumu..”

“Ne, aku sangat ya—”

BRUGH!

Ups! Aku tidak sengaja menyenggol seseorang yang berdiri di belakangku dan hasilnya buku-buku yang dibawa orang itu jatuh ke lantai. Huaa! Ceroboh sekali aku hari ini!

“M-mianhe..” seraya memungut satu persatu buku yang berserakan.

“Dasar yeoja pabo!”

Eh? Yeoja pabo?? Satu-satunya orang yang memanggilku yeoja pabo kan.. Aku mendongakkan kepala. “Omo.. Yaong?” (Yaong = meong)

“Ya! Kenapa kamu memanggilku ‘Yaong’?” Ia menatapku bingung.

Aku tertawa sambil menyerahkan buku-buku itu ke Thunder. “Oh? Kamu tidak suka ya? Bagaimana kalau kamu aku panggil Hello Kitty saja?”

Blush. Muka Thunder langsung memerah. Haha skakmat! Dia tidak bisa membalas perkataanku! Fufu~ Ini balasanku karena telah memanggilku ‘yeoja pabo’. “Yaong, kamu sedang mencari buku untuk tugas Pulip seosangnim jugakah?”

“B-bukan urusanmu!” Thunder berjalan meninggalkanku.

“Aigoo anak ini.. Aku sedang bertanya baik-baik malah seperti itu reaksinya.”

“Ji-Jiyeon-ssi?”

Aku membalikkan badan. “Ne? Waeyo Victoria-ssi?”

“Apa minus mataku bertambah atau apa.. Apa kamu baru saja berbicara dengan Thunder-ssi?”

Mengangguk. “Memang kenapa?”

“Aigoo.. Terakhir kali aku melihat kalian berdua.. Kalian sedang bertengkar di Kedai Eskrim tempat aku bekerja kan? Tapi kenapa sekarang kalian terlihat begitu.. akrab?”

M-mwo? Aku dan Thunder.. akrab??

Aku berpikir, akhir-akhir ini aku memang sering bertemu dengan Thunder, jadi mau tidak mau aku juga berinteraksi dengannya.. Mungkin itu yang membuat kami akrab.

Dan.. sikap Thunder juga tidak seburuk yang aku pikirkan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Walaupun diluar dia tampak galak dan dingin, namun sebenarnya dia sangat perhatian khususnya dengan keluarganya. Ia patuh sekali dengan Sandara..

Sudah begitu.. DEG. meminjamkan bahunya untuk menyandarkan kepalaku saat kami terjebak di atap. Membantuku memasangkan bolam lampu.. Mengelus rambutku dengan lembut saat kami di bus..

DEG DEG DEG DEG.

Omomomo! Kenapa jantungku berdetak kencang saat aku memikirkannya? Paboya..

“Halo Jiyeon-ssi?” Victoria melambai-lambaikan tangan dihadapanku. “Halo halo? Bumi memanggil Jiyeon-ssi..”

“O-oh? Ne?”

“Apa kamu ada hubungan dengan Thunder? Apa kalian ber.pa.ca.ran?” Aigoo.. Jiwa wartawan Victoria muncul.. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Victoria terpilih untuk menangani urusan berita dalam OSIS.

Aku mengibaskan tanganku. “Ani, namjachinguku itu..”

“Lee Joon.” Itu bukan suaraku. Bukan juga suara Victoria. Itu.. suara Joon. “Apa yang kalian bicarakan?”

“A-aniyo.. Uhm, oppa kenapa kamu ada disini? Sedang mencari buku juga?”

“Yaa, aku sedang mencarimu bukan buku.. Kenapa kamu tidak membawa ponsel? Untung saja tadi aku bertemu dengan Wooyoung, jadi aku tau kamu ada dimana.” Joon mengerutkan dahinya. “Apa kamu lupa kalau kamu ada janji denganku untuk makan bersama saat istirahat?”

Omo! Aku lupa.. Jiyeon pabo! Kenapa hari ini aku ceroboh sekali? “Mianhe..”

Joon menggenggam tanganku. “Yasudah, ayo kita ke kantin.”

“Ah, ne.” Aku membukukkan badan. “Victoria-ssi, aku duluan ya. Annyeong.”

.

***

.

Ah, ternyata Joon membawaku ke taman sekolah yang dekat dengan lapangan basket, tempat Joon dan timnya sering berlatih. Hawa di taman ini sangat sejuk dan pemandangannya juga indah, namun hanya beberapa orang saja yang berada disini. Hmm, benar-benar sepi.

Joon dan aku duduk disalah satu bangku yang ada di taman. Setelah itu Joon membuka tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Apa itu?

“Jagi, ini.” Menyodorkan kotak kepadaku. “Makanlah.”

Mataku terbelalak kaget saat membuka kotak yang ternyata kotak makanan. Omo! Benar-benar makanan yang mewah dan dari bentuknya saja sudah kelihatan kalau makanan ini lezat.

“J-Joon oppa, kamu membuat ini semua?” Joon mengangguk. “Aigoo.. Sebagai yeojachingumu seharusnya akulah yang memasakkan bekal untukmu.. Aku benar-benar merasa bersalah padamu oppa.. Mian sudah merepotkanmu.”

“Yaa, kamu ini bicara apa. Sebelumnya kamu telah memberiku kue kan? Jadi anggaplah ini sebagai balasannya. Dan, aku tidak akan pernah merasa direpotkan karena kamu Jiyeonnie ku.” seraya mencubit pipiku. “Ayo makan!”

“Ne, oppa. Selamat ma—” Aku menaruh kotak makanan dipangkuan. Aish, ada debu yang masuk ke mataku.

Joon oppa yang bingung melihatku mengucek-mengucek mata bertanya apa aku baik-baik saja. Aku hanya membalas dengan anggukan.

“Yaa, kalau kamu mengucek matamu terus bisa-bisa nantinya jadi iritasi.. Sini aku tiup.. Buka matamu!” Tanpa menunggu persetujuanku, tangannya langsung ia tempelkan ke pipiku.

Tangannya.. Sama hangatnya dengan tangan Thunder, tapi tidak. Menurutku tangan Thunderlah yang lebih hangat. Ah, aku ingat. Baru-baru ini aku juga kelilipan, dan yang menolongku adalah Thunder. Aku tersenyum. Perlahan, Joon mendekatkan mukanya ke mukaku.

Perlahan Joon menjauhkan mukanya. “Otthe?”

Tadi, saat Joon mendekatkan mukanya, aku mencium wangi Joon, orange. Beda sekali dengan Thunder yang memiliki wangi mint. Dan Thunder…

“Jiyeon-aa? Otthe?” Joon menepuk-nepuk pundakku, membuatku tersadar dari lamunan.

“Eh? N-ne?”

“Tadi kamu sedang melamun ya jagi? Melamunkan siapa? Aku kah?” seraya memasang wajah aegyo nya.

Diam sebentar kemudian tersenyum. “Ne. Ayo kita lanjutkan makannya.”

Sambil makan aku terus berpikir, apa yang barusan aku lakukan? Kenapa aku membanding-bandingkan Joon dengan Thunder? Apa aku.. Ani.. Aku tidak boleh berpikir seperti itu..

“Oppa, apa kamu ada waktu tidak sepulang sekolah nanti?”

Joon mengangguk seraya meletakkan sumpitnya. “Aku ada latihan basket sepulang sekolah nanti.. Memangnya kenapa?”

“Ani.. Aku hanya bertanya saja.”

Aku lupa sebentar lagi Joon ada pertandingan basket dan sebagai ketua, mau tidak mau dia harus mengikuti kegiatan yang menyangkut basket sekolah secara rutin. Hhhh.. Padahal aku ingin ditemani ke toko buku untuk mencari resensi tugas dari Pulip seosangnim. Apa aku.. Aish paboya! Wooyoung kan salah satu anggota tim basket juga, jadi mana bisa aku meminta bantuannya. Jieun? Dia pasti akan menyemangati Wooyoung. Victoria? Dia ada part time.. Aigoo~ Kenapa temanku sedikit sekali sih? Huh, yasudah aku sendirian saja.

.

***

.

“Apa yang ini? Bukan.. Bagaimana kalau yang ini? Bukan, bukan.. Yang ini?? Aish aku tidak tau!” Ku letakkan buku-buku itu kembali ke dalam rak. Ne, sekarang aku, Park Jiyeon sedang berada di salah satu toko buku kawasan Seoul. Sendirian.

Aigoo.. Kenapa susah sekali sih mencari buku yang dimaksud Pulip seosangnim? Huh, sudahlah aku menyerah saja. Akan aku suruh Wooyoung yang mencari bukunya! Tapi akhir-akhir ini dia kan sedang sibuk dengan urusan basket.. Hhhh.. Eottokhe?

Jiyeon POV End

.

.

Author POV

Jiyeon terduduk di lantai. Ia memejamkan mata seraya menyandarkan badannya ke rak buku. Dia tidak peduli tatapan mata pengunjung toko buku yang lain. Toh mereka bukan siapa-siapanya, hanya orang asing, pikir Jiyeon. Dan toko buku itu kebetulan sedang sepi, mungkin karena sekarang bukan hari libur.

Tiba-tiba saja seorang namja yang kebetulan lewat melihat Jiyeon. Dengan santainya, dia duduk disamping Jiyeon. Menyadari ada seseorang yang kini duduk disampingnya, Jiyeon membuka matanya.

“Yaong??”

“Yaa berhentilah memanggilku Yaong!” seraya memasangkan headset ke telinganya.

“Kenapa kamu ada disini?”

“Huh, menurutmu apa?”

“Mencari buku?”

Thunder bergumam pelan, namun Jiyeon masih bisa mendengarnya. Yeoja pabo.

“Memangnya kamu tidak latihan basket? Padahal sebentar lagi kalian akan bertanding melawan sekolah lain kan?”

“Shireo, aku malas.”

Jiyeon memanyunkan bibirnya. “Yaong, kamu sudah dapat buku yang dimaksud Pulip seosangnim?”

Thunder menunjuk buku-buku yang ada dipangkuannya.

“Ooh, senangnya.. Daritadi aku mencari-cari buku tapi masih belum ketemu sampai sekarang.. Huff.” seraya merangkul kakinya.

“Mau aku bantu?”

Dengan cepat Jiyeon menoleh ke arah Thunder. “J-Jinjja?”

Thunder bangun dari tempat duduknya. “Ne, ayo cepat kita cari bukunya. Jangan sampai kamu membuang-buang waktuku!”

Setelah mendengar kata-kata Thunder, Jiyeon langsung berdiri dan mengikuti langkah Thunder. Tidak lama, mereka menemukan buku yang Jiyeon cari kemudian Jiyeon membawanya ke kasir sedangkan Thunder menunggu Jiyeon di luar toko buku. Saat di kasir, Jiyeon melihat sebuah gantungan ponsel Hello Kitty.

Karena ingat pada Thunder yang menyukai Hello Kitty, tanpa pikir panjang, Jiyeon membelinya dengan maksud untuk diberikan kepada Thunder. “Hitung-hitung sebagai kado ulang tahun, tidak lebih,” pikir Jiyeon.

“Ayo Yaong kita pulang!” ajak Jiyeon yang sudah berada di luar toko. Jiyeon menatap langit yang mendung. Gawat, sebentar lagi hujan. Dia harus cepat-cepat pulang kerumah kalau tidak mau basah kuyup. “Yaong ppali!”

“Ya! Aku bukan Yaong! Aku punya nama, Park Sanghyun! Setidaknya panggil aku Thunder, dasar yeoja pabo.”

“Yaa, aku juga bukan yeoja pabo. Sudahlah kamu ini aneh, memanggil nama orang seenaknya saja, sedangkan kamu sendiri tidak mau dipanggil seperti itu.” Jiyeon terkekeh. “Sebenarnya nama Yaong juga tidak terlalu buruk kan? Menurutku nama itu sangat manis.”

Thunder mengacak-acak rambutnya. “Aish! Aku tidak suka! Aku ini kan cool!”

Jiyeon tertawa meledek. “Mwo? Cool? Yaa, kamu tidak pernah becermin? Tidak tau kamu mempunyai wajah baby face eoh? Yaong, kamu itu cute~”

Blush. Pipi Thunder langsung memerah.  “Y-yaa!”

JDEEEER!! Tiba-tiba terdengar bunyi petir disertai turunnya hujan yang sangat deras.

“Kyaaa! Omma!” Reflek, Jiyeon yang takut pada petir langsung memeluk Thunder yang berdiri didepannya. Thunder sendiri yang tiba-tiba saja dipeluk Jiyeon langsung salah tingkah. Jantungnya berdebar sangat kencang.

“J-Jiyeon?” Dengan enggan, Thunder membalas pelukan Jiyeon. Ia membiarkan kepala Jiyeon bersandar di dadanya. “Gwenchana.. Gwenchana..” Dengan lembut, ia mengelus kepala untuk menenangkan Jiyeon yang masih terisak karena suara mendengar suara petir lagi.

“Aku takut.. Huk..” seraya menggenggam baju Thunder lebih erat.

“Gwenchana..”

Hening. Hanya terdengar bunyi tetesan air yang jatuh dan beberapa kendaraan melintas di jalan. Thunder memejamkan matanya. Ia menempelkan dagunya di atas kepala Jiyeon tanpa berhenti menyisipkan jari-jarinya di rambut Jiyeon yang panjang. Beberapa lama, isakan tangis Jiyeon sudah tidak terdengar lagi. Ya, Jiyeon sudah merasa lebih baik. Jiyeon masih membenamkan wajah di dada Thunder. “Wangi mint ini.. khas sekali..” berpikir sambil tersenyum.

DEG DEG DEG DEG. “Eh? Ini bukan suara detak jantungku, tapi miliknya. Tapi.. kenapa detaknya cepat sekali sama seperti milikku..? Apa dia juga..”, pikir Thunder.

“JIYEON!”

Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat familiar di telinganya, Jiyeon lansung menoleh. “Oppa?!” seraya melepaskan pelukan dari Thunder.

Dengan cepat, Joon melangkah mendekati Jiyeon dan Thunder. Dengan wajah yang  ditekuk sedemikian rupa, ia juga mengepalkan tangannya. Dan BUGH!

“Hyaaa oppa! Apa yang oppa lakukan?!” Sesegera mungkin, Jiyeon mengeluarkan sapu tangan dari tasnya kemudian mengelap darah yang mengalir di ujung bibir Thunder.

“Ya pabo! Kenapa kamu tiba-tiba memukulku?!” Thunder mengeluarkan death glarenya.

Joon menatap Thunder tidak percaya. “Oh? Kamu bertanya kenapa hah? Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Kenapa kamu berani memeluk Jiyeon?! Dia itu yeojachinguku!”

Thunder terkejut dengan kalimat terakhir yang diucapkan Joon. Yeojachingu..?

“Jangan pernah sekalipun kau mencoba untuk mendekatinya lagi!” bentak Joon seraya menarik tangan Jiyeon untuk membawanya pergi dari situ.

Thunder menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Ia tidak peduli banyaknya darah yang menetes dari bibirnya. Dengan menggenggam erat sapu tangan milik Jiyeon, ia menatap mobil Joon yang sudah melesat di jalan. “Jadi benar apa yang aku dengar tadi di kelas..”

Author POV End

.

.

Lee Joon POV

Di dalam mobil, Jiyeon menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ne.. Jiyeon tidak sengaja memeluk Thunder dan Thunder membalas pelukannya hanya untuk  menenangkan Jiyeon dari ketakutannya akan petir. Tapi tetap saja aku tidak terima! Jiyeon adalah yeojaku, jadi tidak seharusnya dia dekat dengan namja lain selain aku!

“Oppa, kenapa kamu diam saja?”

“…”

“Yaa tidak seharusnya oppa memukul Thunder!!” Aku menginjak rem tiba-tiba, membuat Jiyeon tersentak. “OPPA!”

“Mian jagi, aku hanya takut kehilanganmu..” Kulepaskan seat belt kemudian mencondongkan badan ke Jiyeon. CUP. Dengan lembut, aku mencium bibir Jiyeon. Walaupun Jiyeon tidak membalas ciumanku, tapi dapat kurasakan, amarah Jiyeon yang meledak-ledak hilang seketika. “Naneun jinjja neaoreul jo-a hae…” (baca: I really like you)

“Na do.” seraya menundukkan kepalanya.

Lee Joon POV

.

***

.

Keesokan Harinya

Jiyeon POV

Kemarin saat di mobil, saat Joon menciumku.. Kenapa aku tidak membalasnya? Aku.. sudah tidak merasakan gairah saat pertama kali dia menciumku. Apa karena saat itu aku sedang kesal padanya? Molla.. Lalu, saat dia mengucapkan kata saranghae, kenapa bibirku serasa kelu membalas ucapannya? Uuh, molla..

Pandanganku beralih ke gantungan ponsel Hello Kitty yang ku pegang. Yaong.. Apa kamu baik-baik saja? Mian, gara-gara aku Joon jadi salah paham lalu memukulmu..

“Apa yang aku lakukan? Hhhh.. Harusnya sekarang aku meminta maaf pada Yaong.”

“Mwo? Kamu bilang apa barusan?” tanya Wooyoung. Oh iya, sekarang aku sedang mengerjakan tugas bersama Wooyoung. Paboya.. Apa yang aku pikirkan? Seharusnya aku berkonsentrasi mengerjakan tugas..

“A-aniyo..”

“Park Jiyeon, kita lanjutkan saja ya mengerjakan tugasnya sepulang sekolah? Aku capek.. Lapar.. Aku mau makan di kantin, lagipula sekarang kan waktu istirahat. Jebaal?” Wooyoung memasang wajah aegyo. Apa-apaan sih? Wajah aegyomu tidak mempan terhadapku.

“Yaa Jang Wooyoung! Aku bukan Jieun-aa, wajah aegyomu tidak mempan terhadapku!” seraya memukulkan buku ke kepalanya.

“Appo..” Wooyoung meringis. Bagaimana tidak? Buku yang aku pukulkan ke kepalanya adalah buku matematika yang setebal yellow page..

Mataku beralih ke arah pintu kelas. Joon sedang melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Ah iya, istirahat kali ini aku akan makan bersamanya lagi. “Yasudah kita lanjutkan nanti sepulang sekolah saja. Tapi ingat, jangan kabur!”

“Neee!” Saat Wooyoung bangkit dari tempat duduknya, Joon masuk ke kelas.

“Jiyaon, apa yang tadi kamu lakukan dengan Wooyoung?”

Aku menatap Joon yang kini duduk di bangku Jieun. Ada apa dengannya? Kenapa nada suaranya terdengar serius? “Tadi aku sedang mengerjakan tugas dari Pulip seosangnim dan Wooyoung adalah partnerku.” Aku menjelaskan sambil membuka kotak makanan yang sudah Joon sediakan untukku.

“..Kalian tidak ada hubungan apa-apa kan selain menjadi teman?”

Kutatap wajah Joon, bingung. “Oppa bicara apa? Cemburu eoh?”

Joon mengangguk. Aigoo~ “Yaa oppa. Sudah jelas kan kalau Wooyoung berpacaran dengan Jieun-aa. Jadi mana mungkin aku ada hubungan dengannya.”

“Tapi bisa saja—”

“Sudahlah oppa. Ayo kita makan.” seraya memasukkan makanan ke mulut dengan sumpit yang sudah disediakan Joon.

Aneh.. Bisa-bisanya Joon meragukan Wooyoung, yang sudah punya yeojachingu. Sudah begitu Wooyoung itu temannya sendiri. Ani.. Yang kutau, Wooyoung merupakan teman terdekat Joon, umm.. bisa dibilang sahabatnya.. Apa Joon termasuk orang yang posesif? Ani.. Apa yang kamu pikirkan Jiyeon? Kamu tidak boleh berprasangka buruk terhadap namjachingumu sendiri!

“Jagi..”

Menelan makanan dengan cepat. “Uph.. Ne?”

“Punya siapa ini?” Joon menunjuk gantungan ponsel Hello Kitty yang tergeletak diatas mejaku.

“Oh? Umm ini.. milikku.”

“Bukannya kamu tidak suka Hello Kitty? Lagipula kamu sudah memiliki gantungan ponsel berbentuk monyet kan?”

Aku mengeluarkan fake smileku. “Ani.. Siapa bilang aku tidak suka Hello Kitty? Lagipula apa salahnya aku punya gantungan ponsel lain? Sudahlah oppa, ayo kita lanjutkan makannya.”

Joon mengedikkan bahu seraya memegang sumpit. “Yasudahlah. Ayo makan!”

Huff.. Hampir saja. Kalau aku bilang gantungan ponsel ini untuk Thunder, bisa-bisa sikap gegabah Joon muncul.. Aku tidak mau Thunder terluka lagi. Tadi pagi saat masuk sekolah dan melihat ujung bibirnya yang membiru saja sudah membuat hatiku sakit.. Yaong, mianheyo..

.

***

.

Kini aku berdiri di depan pintu apartemen Thunder. Ne, setelah selesai mengerjakan tugas dengan Wooyoung, aku menyempatkan diri kesini untuk meminta maaf padanya sekaligus memberikan gantungan ponsel Hello Kitty ini.

♪ TING TONG TING TONG.. ♪

“Annyeong!”

KLEK

“Annyeong. Rupanya kau Jiyeon..”

Aku membukukkan badan. “Sandara eonni senang melihatmu. Kapan eonni pulang?”

“Baru saja. Ah iya, ayo masuk!” Ku anggukkan kepala lalu masuk ke apartemennya. “Mau minum apa?”

“Ani.. Tidak usah repot-repot. Eonni pasti capek sekali kan hari ini? Aku tidak mau merepotkanmu..” seraya duduk di sofa ruang keluarga.

“Aish tidak usah sungkan begitu..”

“Eonni, apa aku bisa bertemu dengan Thunder?”

Raut wajah Sandara langsung berubah dari senang menjadi… sangat senang. “Mwo? Kamu mau bertemu dengan Sanghyun? Aigoo.. Sebentar ya aku panggilkan dia!”

Tidak lama, Sandara kembali bersama Thunder. “Kalian bicara saja dulu, aku ingin pergi berbelanja ke supermarket sebentar. Annyeong.”

Jiyeon POV End

.

.

Author POV

KLEK

Sandara menutup pintu apartemennya. Kini tinggal Jiyeon dan Thunder yang sedang duduk di satu sofa. Menonton televisi dengan pandangan kosong.

Jiyeon menatap wajah Thunder. Melihat warna biru yang ada di ujung bibir Thunder membuatnya semakin merasa bersalah. “Yaong.. Gwenchana..?”

Thunder hanya diam. Pandangannya masih terarah ke televisi.

“Mianheyo Yaong..” Kembali menundukkan kepala, menatap boneka Hello Kitty yang dipegangnya. “Gara-gara aku.. Kamu jadi seperti ini.” Jiyeon tersenyum kecut. “Joon oppa salah paham, dia mengira kita mempunyai hubungan. Padahal kamu kan membenciku, jadi mana mungkin…”

Jiyeon tidak melanjutkan kata-katanya. Ia teringat dengan peristiwa dimana Thunder meneriaki dan memaki dirinya. Ne, saat di kedai, lapangan.. ya. Mana mungkin Thunder suka pada yeoja pabo seperti dirinya.

Mendengar kata-kata Jiyeon, Thunder menatapnya. Ani.. Dia tidak membenci Jiyeon, tapi menyukainya. Ingin sekali Thunder mengaku kalau dia suka dengan Jiyeon. Tapi.. Mengingat sekarang Jiyeon adalah yeojachingunya Joon, jadi dia mengurungkan niat. Tapi.. Saat ini dia sangat ingin mengungkapkan perasaannya.. Walaupun sudah terlambat, namun apa salahnya jika hanya mengungkapkan saja?

Thunder menghirup nafas dalam-dalam. “Jiyeon,” Kini mata mereka bertemu. “Saranghae.”

Seketika mata Jiyeon melebar. “M-Mwo?”

——————–TBC——————-

Seperti biasa, tolong comment ff ku ini ya~ Aku butuh support dari kalian ^^ Yang penting jangan pakai kata-kata kasar oke oke?

Dan jangan pernah jadi plagiator. Oh iya huhuhu mian ff ku jelek kali ini.. Jujur, ideku agak ngadat pas nulis ini huhuhu udah gitu aku bosen sama pengen cepet-cepet bikin ff yang baru tapi karena inget sekarang aku kelas 3 SMA.. aku gak tau mau hiatus apa nggak nantinya.. Mianhe.. T.T

Contact person or follow: @CerilynBam

48 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s