Clock [Part 9b]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

Thunder menghirup nafas dalam-dalam. “Jiyeon,” Kini mata mereka bertemu. “Saranghae.”

Seketika mata Jiyeon melebar. “M-Mwo?”

“Nanneol saranghae.” (aku mencintaimu) ulangnya, terdengar seperti bisikan namun Jiyeon masih bisa mendengar apa yang Thunder ucapkan.

Seketika itu juga jam terasa seperti berhenti berputar. Jiyeon menyentuh dadanya. Ia merasakan ada debaran yang begitu kencang dari dalam. Perlahan, muncul perasaan bahagia. Seulas senyuman tersungging di bibir mungilnya namun dengan cepat ia tahan dengan menggigit bagian bawah bibir.

Author POV End

 

 

Jiyeon POV

DEG DEG DEG DEG DEG

Lagi-lagi jantungku.. Berhentilah berdetak seperti ini pabo! Aku meremas baju yang aku kenakan.

Thunder, namja yang pernah memarahiku saat aku tidak sengaja menumpahkan es krim ke jasnya. Adegan flashback terlintas dipikiranku begitu saja.

Pertemuan berikutnya di apartemen, aku kaget saat mengetahui ternyata Thunder  tetanggaku. Aku juga tidak menyangka dia seorang teman sekelasku di Seoul High School..

Ia namja yang meminjamkan bahunya saat aku tidur di atap karena kami berdua terjebak disana.. Menatap mataku lembut saat aku marah karena masalah masakanku yang tidak enak.. Mengelus rambutku dengan tangannya yang besar saat aku sedang mendengarkan musik bersamanya di dalam bis.. Dan.. menenangkanku dengan pelukan saat aku ketakutan akan petir..

Begitu banyak peristiwa yang aku lalui bersamanya..

Nanneol saranghae.. Kata-kata itu membuatku senang. Ne, aku tau perasaan apa ini..

Na do.. Kini aku sadar kalau selama ini aku juga menyukai Thunder. Kutatap mata Thunder bermaksud untuk mengutarakan perasaanku namun tiba-tiba aku teringat seseorang. Aku kembali menundukkan kepala dan menggigit bibirku.

Tidak..! Ini salah! Tidak boleh dilanjutkan lagi!

Lee Joon..

Bagaimana bisa aku berpikir untuk mengutarakan perasaanku pada Thunder mengingat Joon adalah namjachinguku? Aku tidak bisa mennggalkan Joon begitu saja.. Dia pasti akan sedih, dan aku tidak tega melihat dirinya terluka olehku.. Tapi.. aku menyukai Thunder..

Dengan ragu, kuberanikan diri untuk menatap mata Thunder. Terlihat dari sorot matanya, ia sangat berharap aku membalas perasaannya. Yaong, aku juga menyukaimu.. Tapi..

“Apa yang kamu katakan barusan? Apa kamu gila? Aku sudah mempunyai namjachingu dan kau! Berani-beraninya mengungkapkan perasaanmu kepadaku! Mian, aku pulang sekarang,” seraya bangkit dari sofa kemudian berjalan ke arah pintu. Dengan gontai, aku memaksakan kakiku untuk berjalan ke kamar.

Kuhempaskan badanku diatas kasur, menenggelamkan wajah diantara bantal-bantal.

Sedih, kesal, senang, semua perasaan itu menjadi satu. Aku merasa seperti ada beban yang menggantung di badan. Mungkin dengan menangis beban itu bisa menjadi ringan, tapi menyebalkan.. Air mata ini tidak bisa keluar..

Ne, pada akhirnya aku memilih Lee Joon, namjachingu sekaligus orang yang sudah kuanggap sebagai oppa daripada Thunder.

Hhhh.. Apa aku telah membuat keputusan yang benar?

Jiyeon POV End

 

 

Thunder POV

Yeoja itu menatapku ragu. Bisa dilihat dari matanya kalau dia juga menyukaiku. Perlahan, bibir mungilnya mulai terbuka.

Astaga! Apa yang akan dia katakan??

Aku menelan ludah, membalas tatapan matanya penuh harapan. Ini pertama kalinya aku mengutarakan perasaan sesungguhnya pada seseorang..

Apa dia ingin berkata..

“Apa yang kamu katakan barusan? Apa kamu gila?”

Eh? Kenapa dia berkata seperti itu?

“Aku sudah mempunyai namjachingu dan kau! Berani-beraninya mengungkapkan perasaanmu kepadaku! Mian, aku pulang sekarang,” seraya bangkit dari sofa.

Aku terdiam sebentar mencermati setiap kata yang baru saja dia katakan…

Aneh. Dia berkata seperti itu tapi tatapan matanya…

Dengan cepat aku berdiri. Namun saat aku ingin mengejarnya, dia sudah meninggalkan apartemenku. Ku acak-acak rambutku kesal.

“Annyeong!” sapa seseorang diikuti suara pintu yang terbuka. “Jiyeon, aku sudah membelikanmu makanan dan minuman! Ayo kita cicipi bersama!”

Aku menoleh ke orang itu, Sandara. “Jiyeon sudah pulang.”

“Heee? Aku kira dia masih disini.. Yasudahlah, makanan minuman ini akan aku antarkan saja ke kamarnya.”

Dengan menjinjing dua kantung besar di tangan kanan dan kirinya, Sandara berjalan menuju dapur. Tapi langkahnya terhenti setelah ia menyandung ‘sesuatu’.

“Apa ini?” seraya mengambil ‘sesuatu’. “Yaa Sanghyun, ini pasti milikmu. Sudah kubilang taruh barang sesuai tempatnya. Kalau hilang pasti kamu akan rebut setengah mati mencari ini.” Sambil tertawa, Sandara menyerahkan ‘sesuatu’ kepadaku.

Aku menatap ‘sesuatu’ yang berada di tanganku sekarang. Gantungan ponsel Hello Kitty?

“Noona, ini bukan punyaku.”

“Lalu punya siapa? Itu bukan punyaku. Sudahlah Sanghyun, mungkin karena koleksi Hello Kittymu terlalu banyak jadi mungkin kamu lupa dengan yang satu ini.”

Memang, diam-diam aku mengoleksi barang-barang mengenai Hello Kitty. Tapi aku selalu ingat setiap Hello Kitty yang ku miliki, dan yang satu ini jelas bukan punyaku!

Aku berpikir sebentar, apa ini punya Jiyeon? Tapi sejak kapan dia menyukai Hello Kitty? Apa… ini untukku? Seketika, kuambil ponselku lalu menggantungkan Hello Kitty pemberian Jiyeon disana.

Aku mengeluarkan evil smile.

Kamu memang masih yeojachingunya Lee Joon. Tapi aku tau kamu hanya menganggap dia sebatas teman saja kan? Huh, lihat saja Park Jiyeon, secepatnya aku akan membuatmu mengakui kalau kamu menyukaiku!

Thunder POV End

 

***

Keesokan harinya

 

Jiyeon POV

Setelah kemarin aku menolak perasaan Thunder, aku menjadi canggung sendiri bila berada di dekatnya.

Uuuh, benar-benar tidak nyaman! Aku tidak berani menatap matanya bahkan berinteraksi dengannya. Astaga, kenapa sih dia harus duduk disampingku? Membuatku semakin canggung saja..

“Jiyeon.”

Aku hanya diam saja saat Thunder memanggilku.

“Yaa Jiyeon!”

“….”

“Aish kamu ini tuli ya yeoja pabo?”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Thunder menyobek beberapa kertas dari buku kemudian meremasnya dengan kesal.

TUK!

Kertas yang sudah diremas itu mengenai pundakku. Huh, abaikan.

TUK!

Kali ini mengenai kepalaku.

“…..”

TUK! TUK! TUK! TUK! TUK!

“YA! Apa yang kamu lakukan?!!”

Aku menggebrak meja karena kesal.

Bagaimana aku tidak kesal? Berkali-kali dia melemparkan kertas kearahku! Lihat saja sekarang bangkuku dikelilingi kertas yang berserakan!

“Memanggilmu pabo!”

“Park Jiyeon! Park Sanghyun! Kalau kalian tidak bisa diam keluar dari kelas sekarang juga!” bentak Pulip seosangnim.

“A.. Mian seosangnim..” Kutundukkan kepala kemudian menatap Thunder sinis. “Ada apa?”

“Nanti saat jam istirahat temui aku di kantin sekolah.”

“Tidak bisa. Aku ada urusan. Bicaralah sekarang.”

“Jam istirahat temui aku.” seraya berpura-pura tidur.

“Aigoo.. Yaong ini memang suka bertindak seenaknya..” Aku menatap wajah Thunder yang sudah pulas. Mungkin dia benar-benar tertidur sekarang..

DEG. Hmmm, Thunder memang pantas disebut Yaong. Yah walaupun berbeda sekali dengan sifatnya yang menyebalkan itu. Tapi kalau melihat wajah babyfacenya yang sedang tertidur itu.. Benar-benar kyeopta! Nappeun..

…….

…….

Aish paboya! Kenapa aku terus menerus menatapnya seperti ini, bahkan memuji-mujinya? Ani.. Ini tidak boleh! Aku harus menjaga jarak dengannya! Bisa-bisa perasaanku kepadanya akan semakin berkembang..

Ne, istirahat nanti aku tidak akan menemuimu Thunder!

***

“Yaa Jiyeon-aa, kamu kenapa? Kamu terlihat murung sekali siang ini..” Dengan mengetuk-ngetukkan pulpen pink di pundakku, dia melanjutkan perkataannya, “Sedang bertengkar dengan Joonkah?”

“Ani.. Aku hanya sedang tidak bersemangat saja.. Hmmm, karena jadwal pelajaran hari ini yang membosankan..” jawabku seraya menyandarkan kepala diatas meja. Melihatku seperti ini, Jieun ikut menyandarkan kepalanya.

“Benarkah?”

Aku tersenyum.

“Jieun-aa, kamu tidak menyemangati Wooyoung latihan basket?”

“Aniya, aku ingin istirahat. Aku sedang lelah karena kemarin aku sibuk mencari bahan-bahan tugas. Bagaimana denganmu? Kamu tidak menyemangati Joon?”

“Nanti aku akan ke lapangan basket.”

“Jieun-aa..”

“Ne?”

“Apa Joon oppa itu tipe namja yang pencemburu ya?”

Mata Jieun langsung terbelalak saat aku bertanya seperti itu. “Jiyeon-aa, kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Jawab saja pertanyaanku..”

“Mmmm… Sepertinya iya. Aku pernah mendengar dari Wooyoung kalau Joon pernah mencoba untuk menelpon pacarnya saat dia masih kelas 1 dulu sebanyak 47 kali. Aku rasa dia bukan tipe pencemburu, melainkan protektif.”

Aku berpikir.. Sebenarnya apa bedanya pencemburu dengan protektif??

“Tapi.. dia tidak memperlakukanmu seperti itu kan Jiyeon-aa??” tanya Jieun khawatir.

Ku gelengkan kepala. “Ani..”

“Oh, begitu~”

Ditengah kesunyian kelas, terdengar suara kursi berderit. Jieun mendongakkan kepalanya dan memanggil orang yang sedang menggeret kursi tersebut.

Aigoo.. Buat apa dia memanggil Thunder?

Aku melihat Thunder berjalan kearah kami. Sesegera mungkin, kusembunyikan mukaku ini. Aku tidak mau melihatnya!

“Thunder-ssi, kamu tidak latihan basket hari ini? Oh iya, kapan kita akan kerja kelompok?” tanya Jieun saat Thunder sudah berdiri disampingnya.

“Kita bicarakan masalah ini nanti saja.”

“Eh?”

Tiba-tiba saja tangan kananku ditariknya. Mau tidak mau kudongakkan kepalaku.

“Thunder? Mau apa kau?”

“Sudah kubilang kan istirahat ini temui aku di kantin sekolah? Kenapa kamu tidak kesana? Daritadi aku menunggumu pabo!”

“….”

“Ayo kita pergi sekarang! Ada yang ingin aku bicarakan. Ppali!”

Aku berdiri dari tempat duduk, berusaha melepaskan tanganku darinya namun sulit sekali! Aish!

“Shireo! Katakan saja disini.”

“Yaa pabo! Aku ingin bicara 4 mata denganmu!”

Mendengar Thunder berbicara seperti itu, Jieun berjalan keluar kelas tanpa disuruh.

“Jieun-aa! Kamu mau kemana?”

“Umm.. Aku rasa aku akan menonton Wooyoung berlatih basket. Kamu bicara saja dulu dengan Thunder.” seraya meninggalkan aku dan Thunder dari kelas.

“Yaa, sudah cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan! Aku masih ada urusan..”

“Urusan? Urusan apa?”

“Bukan urusanmu.. Sudah cepat katakan!”

Thunder merogoh ponsel dari saku baju kemudian memperlihatkan ponselnya ke hadapan mukaku. Mau apa dia? Aku melirik ponselnya.

“Yaa! Jadi kamu ingin berbicara 4 mata denganku hanya untuk menunjukkan ini? Kamu mau pamer ponsel barumu eoh??”

Kudengar Thunder mendecakkan lidahnya. “Benar-benar kau ini.. Maksudku bukan yang itu! Tapi ini!” seraya menunjuk benda yang tergantung di ponselnya.

Gantungan itu.. Gantungan ponsel Hello Kitty yang aku beli di toko buku untuknya..

Mwo? Kenapa bisa ada padanya? Padahal aku belum menyerahkan benda itu..

“Kenapa terkejut? Apa ini punyamu?”

“N-ne! Kenapa bisa ada di kau?”

“Kamu menjatuhkannya saat kamu..” Thunder berdeham. “..pulang dari rumahku kemarin.”

Oooh.. Pasti karena kemarin aku terburu-buru jadi dengan tidak sengaja aku menjatuhkan gantungan ponsel Hello Kitty itu.

“Oh, kalau begitu kembalikan gantungan itu padaku.”

Tanganku bergerak ke arah gantungan ponsel Hello Kitty namun dengan cepat Thunder kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.

“Shireo.”

Aku menaikkan alisku. “Yaa! Itu milikku, jadi kembalikan padaku!”

“Begitukah? Bukannya seharusnya ini milikku?”

“Eh?”

“Sejak kapan kamu menyukai Hello Kitty? Akulah yang menyukai Hello Kitty dan kamu tau itu. Jadi saat kamu melihat benda ini kamu berinisiatif untuk membelinya untukku bukan?” Thunder mengeluarkan evil smilenya.

Evil smile.. Evil smile.. Evil smile

Entah mengapa jika diperhatikan dari kejadian yang lalu, evil smilenya itu pertanda tidak baik bagiku.. Aaaaa! Aku benci evil smilenya! Sebenarnya pembicaraan ini akan mengarah kemana??

Dan, kata-katanya membuatku semakin terpojok! Aku punya firasat aneh.. Aku harus pergi dari hadapannya sekarang!

“Iya! Itu memang untukmu sebagai tanda terimakasih telah membantuku mencari buku di toko buku!” Aku mengerutkan kening. “Itu saja yang ingin kamu tanyakan? Biarkan aku pergi!”

“Shireo.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Mwo? Shireo? Apalagi yang ingin kau katakan? Aku sudah tidak punya waktu lagi. Bisa-bisa aku tidak sempat menyemangati oppa latihan basket hari ini. Jadi biarkan aku pergi!”

Thunder mengeluarkan evil smilenya. Lagi. “Oh, jadi itu urusanmu..”

“Ne! Jadi biarkan aku pergi!” sahutku dengan volume yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Namja pabo ini benar-benar membuatku frustasi! Entah mengapa aku seperti berhadapan dengan Thunder yang dulu.

“Shireo.”

Mendengus kesal. “Kalau begitu cepat katakan apa yang ingin kau katakan.”

“…Apa kamu benar-benar menyukai Lee Joon?”

Eh? Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti ini?

“Apa kamu benar-benar menyukai Lee Joon?” ulangnya dengan memberi penekanan. Dapat kulihat, kini dia melangkahkan kakinya mendekatiku.

Ck! Aku jadi berjalan mundur demi menjaga jarak dengannya. “T-tentu saja!”

“Oh? Jadi.. kamu tidak menyukaiku?”

“Aku…” Kata-kataku menggantung. Omo.. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku!

“Apa? Kamu apa? Kamu menyukaiku?”

“Aku.. Ani! Aku tidak menyukaimu!”

DEG.

Tiba-tiba saja tangan Thunder sudah menempel di pipi. Kemudian dengan paksa, dia mendongakkan mukaku. Apa yang mau kau lakukan??

“Apa kamu benar-benar tidak menyukaiku?”

“……”

“Tatap mataku!!”

Aku terkaget saat dia membentakku. Dengan ragu, kutatap matanya. DEG. Mataku sendiri melebar saat melihat dia mendekatkan mukanya ke mukaku. Mint. Aku dapat mencium wangi mint dari badannya lagi.

Astaga Thunder!! Kamu mau apa?!!

“Aku bertanya, apa kamu benar-benar tidak menyukaiku?”

“..N-ne! Tentu saja aku tidak..”

“Kalau begitu.. Bagaimana kalau aku bertanya kepada dirimu yang sesungguhnya?”

M-mwo? Sesungguhnya? Apa maksudnya? Kenapa..

CUP!

Dengan cepat, ia menempelkan bibirnya diatas bibirku.

DEG DEG DEG DEG DEG

Debaran jantungku mulai tidak karuan lagi.

Aigoo.. Aku tidak ingin merasakan debaran ini lagi.. Tapi.. Aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku menyukai saat-saat dimana Thunder menciumku dengan lembut.

“……..”

Aku pasti sudah gila sekarang! Ne, pasti aku sudah gila!!

Bukannya mengelak, aku hanya diam saja. Dan aku.. aku juga membalas ciumannya! Entah mengapa badanku sudah tidak bisa bekerja sesuai dengan perintah otakku. Aku benar-benar yeoja pabo yang sudah jatuh di tangan Yaong ini!

“Hmm, ternyata dirimu yang sesungguhnya itu menyukaiku eoh?” tanya Thunder setelah kami berciuman.

Sudah jelas jika kita membalas ciuman seseorang itu sama artinya dengan kita menyukai orang tersebut bukan? Dan tentunya Thunder juga sudah mengetahui hal ini. Kenapa dia masih bertanya?

Aku menggigit bibir bawahku, teringat pada Joon. Rasa bersalah langsung menghantuiku seketika.

Apa yang sudah aku lakukan? Sama saja aku bermain dibelakangnya.. Padahal aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkannya dan mendekati namja lain..

“Yaa! Aku bertanya padamu!”

Jiyeon POV End

 

 

Author POV

“JOON! FIGHTING!!” sorak para yeoja yang berdiri dipinggir lapangan.

Menjelang pertandingan antar sekolah, tim basket Seoul High School menjadi semakin giat berlatih. Begitu pula Lee Joon. Sudah sepantasnya dia lebih giat berlatih daripada anggota tim basket mengingat dia seorang kapten di timnya.

“Ne. Gomawo!” Beberapa teriakan mulai terdengar setelah mereka melihat Joon tersenyum ke arah para yeoja yang menjdai cheerleaders dadakan.

“Jagiyaaa!” Joon yang pada saat itu sedang berdiri didekat Wooyoung ikut menoleh saat Jieun menghampiri mereka. Jieun memberikan botol minuman ke Wooyoung. “Ini. Kamu pasti haus sekali kan jagi?”

“Tentu saja! Gomawo!” Wooyoung melemparkan senyuman ke Jieun seraya meneguk air.

“Ada apa Joon-ssi?” tanya Jieun yang sedari tadi merasa diperhatikan oleh Joon.

“Dimana Jiyeon? Dia tidak bersamamu?”

“Oh itu..” Jieun terdiam sejenak memikirkan apa yang akan ia katakan ke Joon. Kalau ia bilang Jiyeon sedang bersama Thunder, pasti amarah Joon langsung meledak saat itu juga.

“Jieun-ssi?”

“Ah, Jiyeon.. Ada di kelas…”

Joon memiringkan kepalanya. “Mwo? Bukankah dia telah berjanji untuk menyemangatiku hari ini? Sedang apa dia di kelas?”

“Emmm.. M-molla…”

Joon menatap Jieun bingung. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Jieun darinya. Ada apa sebenarnya? “Sebaiknya aku ke kelasnya.” seraya berjalan ke kelas Jiyeon.

“Jiyeo—!!!” Joon mengedipkan matanya berkali-kali, tidak mempercayai apa yang sedang ia lihat. Jiyeon.. Yeoja yang amat disukainya itu kini tengah berciuman dengan namja brengsek itu..

“Apa yang mereka lakukan??” Joon berbisik pada dirinya sendiri.

Joon ingin langsung menghajar Thunder tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Ia merasa tenaganya sudah hilang begitu saja. Sekejap, amarah di dalam hatinya itu tergantikan dengan rasa sakit yang luar biasa.

Joon memilih untuk tetap berdiri di balik pintu, mengintip dan menguping apa yang terjadi sebelum ia memutuskan siapa yang patut ia salahkan.

“Hmm, ternyata dirimu yang sesungguhnya itu menyukaiku eoh?” tanya Thunder setelah mereka berciuman.

Bukannya menjawab, Jiyeon tampak menggigit bibir bawahnya.

“Yaa! Aku bertanya padamu!”

“…Ne, aku menyukaimu.” ujarnya pelan, mungkin terdengar seperti bisikan tapi Thunder bahkan Joon masih bisa mendengar ucapannya itu.

DEG.

Sekejap, hati Joon benar-benar terasa lebih sakit dari sebelumnya. Ia merasa dikhianati dan dibohongi. Walaupun begitu, Joon tidak bisa menyalahkan Jiyeon, karena dia begitu menyukai yeoja cantik itu.

Dia ingin Jiyeon bahagia.. Tapi berbahagia saat bersama Joon, bukan dengan Thunder. Joon tidak sanggup melepaskan Jiyeon begitu saja. Rasa egois mulai muncul dari dirinya.

Joon melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, menyusuri koridor sekolah yang tampak sepi. Di pencetnya tombol-tombol yang ada di ponsel kemudian ia menempelkan ponsel tersebut ke kupingnya.

TUUT.. TUUT.. KLIK

“Yoboseo?” tanya seseorang diseberang telpon.

Author POV End

.

.

Jiyeon POV

“…Ne, aku menyukaimu.” ucapku pelan, namun aku yakin Thunder masih bisa mendengar suaraku.

Thunder tersenyum penuh kemenangan. “Kalau begitu—”

“Tidak.” Dengan cepat, kupotong kata-katanya. “Walaupun aku menyukaimu, aku tidak bisa menjadi yeojachingumu…”

“…Wae?”

“Huh? Kamu bertanya kenapa? Apa kau gila? Aku ini masih yeojachingunya Joon!”

Kata-kataku barusan.. Sama seperti saat aku menolak perasaannya kemarin.

“Kalau begitu putuskan saja dia…”

“Sudahlah, aku pergi saja,” seraya berjalan keluar kelas namun dengan sigap Thunder memegang tanganku, membuat langkahku terhenti.

“Tapi kau..”

“Lepaskan aku.. Aku butuh waktu untuk sendirian,” Pada akhirnya Thunder melepas genggaman tangannya dari tanganku. Tanpa menoleh ke belakang, aku berjalan meninggalkannya sendirian di kelas.

Apa yang baru saja aku lakukan? Aku tidak ingin Joon terluka, tapi aku malah membuat Thunder terluka… Aku juga telah memberikan harapan bagi Thunder , tapi kenyataannya aku tidak mau bermasamanya… Tapi jika aku memilih Thunder, Joon pasti akan sangat sedih dan merasa dipermainkan.. Aku sungguh jahat….

Jiyeon POV End

***

Author POV

Beberapa hari kemudian

Apartemen Jiyeon

 

♪ TING TONG TING TONG.. ♪

Jiyeon menggeliat diatas kasurnya. Ia melirik jam weker yang berada tepat diatas meja kecil dekat dengan kasur.

“06.00 KST.. Masih pagi.. Uuuh.. Lagipula sekarang hari libur…”

♪ TING TONG TING TONG.. ♪

“Iyaaa! Uuuh.. Pagi-pagi sudah membuat keributan saja.. Kira-kira siapa orang yang memencet bel itu? Akan kumarahi dia..” gerutu Jiyeon seraya bangkit dari kasur. Ia mengucek-ngucek matanya sebentar sebelum ia membuka pintu apartemen.

KLEK

“Siapa? Pagi-pagi sudah mengganggku sa—”

Speechless..

Jiyeon tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi setelah melihat siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya.

Dia?? Bagaimana bisa dia kesini?? Bagaimana bisa dia tau dimana Jiyeon berada?? Apa Jiyeon sedang bermimpi??

“Annyeong. Apa kamu tidak rindu padaku?”

——-TBC——-

Hola!

Seperti biasa, jangan lupa tinggalin komennya ya~ Jangan mentang-mentang 1 chapter lagi ff ku tamat jadi pada males nulis komen T.T

Dan mian chapter kali ini terasa membosankan.. Jujur, aku kehabisan ide~~

Dan.. Dan.. Kapan-kapan berkunjung ke wordpressku ya~

Oh ya, beberapa hari yang lalu, aku nemuin plagiat yang nyuri cerita dari salah satu author yang aku kagumi di situs http://www.asianfanfics.com (karena aku author disitu, jadi aku sering buka itu situs)! Setelah aku ajak ngomong dan ancem dikit (meskipun dia gak bales bahkan ngedelete komenku) akhirnya dia ngedelete ff jiplakannya sama nutup akunnya. Huuh, nyebelin banget kan!

Readers, walaupun ini cuma dunia maya, tapi.. Jangan pernah jadi plagiat atau copycat!! Kenapa? Karena selain dosa terhadap diri sendiri dan orang lain, juga percaya deh itu sama aja mencemarkan nama baik kita! Inget, TUHAN masih bisa melihat setiap perbuatan kita!

Lagian, masa iyasih kita bisa bangga pakai hasil karya orang lain bukan karya sendiri? Mau sampai kapan jadi plagiat? Selamanya? Aduh please ya, negara kita ini udah di cap buruk sebagai plagiat sama negara lain.. Jadi jangan pernah plagiat karya orang luar bahkan sesama orang Indo!!

Oke readers, setuju kan? =)

56 responses

  1. pasti joon telpon minho deh.. terus yg dtg minho buat jemput jiyeon supaya jiyeon balik ke amerika dan gak deket sm thunder lagii..
    iya bukan thor? hahaah *reader sotoy
    cpt di post next partnya yah thor🙂

  2. maunya Jiyon sama JooN ( Joon my bias)… tp sama thunder Jiyon nya lebih enjoy…
    jadi gimana dooongg……
    ya sudahlah sama ThundER aja… urusan JOOn patah hati…
    serahin ke aku aja…(ngareeeppp)))…!!!!

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s