Clock [Part 10/END]

Baca: Clock 1, Clock 2, Clock 3, Clock 4, Clock 5, Clock 6, Clock 7a, Clock 7b, Clock 8, Clock 9a, Clock 9b, Clock 10/END

Author: CerilynBam aka CB

Genre: Romance, Friendship, Family

Rated: PG-15

Main Cast:

– Park Jiyeon T-ARA

– Lee Joon MBLAQ

– Park Sanghyun aka Thunder MBLAQ

Disclaimer: The story is CB’s (mine), do not own this my beloved friends :3

Twitter: @CerilynBam

————————————————

Author POV

Beberapa hari kemudian

Apartemen Jiyeon

 

♪ TING TONG TING TONG.. ♪

Jiyeon menggeliat diatas kasurnya. Ia melirik jam weker yang berada tepat diatas meja kecil dekat dengan kasur.

“06.00 KST.. Masih pagi.. Uuuh.. Lagipula sekarang hari libur…”

♪ TING TONG TING TONG.. ♪

“Iyaaa! Uuuh.. Pagi-pagi sudah membuat keributan saja.. Kira-kira siapa orang yang memencet bel itu? Akan kumarahi dia..” gerutu Jiyeon seraya bangkit dari kasur. Ia mengucek-ngucek matanya sebentar sebelum ia membuka pintu apartemen.

KLEK

“Siapa? Pagi-pagi sudah menggangguku sa—”

Speechless..

Jiyeon tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi setelah melihat siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya.

Dia?? Bagaimana bisa dia kesini?? Bagaimana bisa dia tau dimana Jiyeon berada?? Apa Jiyeon sedang bermimpi??

“Annyeong. Apa kamu tidak rindu padaku?” tanya seorang namja yang sangat Jiyeon kenal. Meskipun mereka sudah tidak bertemu selama beberapa akhir ini, namun Jiyeon masih bisa mengingat wajahnya dengan jelas.

Tidak salah lagi, namja ini..

“…..K-kau? Minho oppa? Kenapa oppa ada disini??”

“Kenapa reaksimu begitu? Bukannya memelukku atau mengucapkan aku juga rindu padamu.. Adik macam apa kau ini?”

“Aku.. Aku…”

“Sudahlah tidak usah dilanjutkan. Aku tau kamu tidak suka aku datang kemari.” ujar Minho tanpa ekspresi.

Tanpa dipersilahkan, Minho masuk ke dalam apartemen Jiyeon. Dia menaruh jaket ke gantungan kemudian duduk di sofa.

“Hmm.. Ruangan ini cukup besar dan bagus.. Pantas saja kamu nyaman tinggal disini. Tapi sayangnya sebentar lagi kamu sudah harus pindah.”

Jiyeon sekarang sudah duduk disamping Minho, menatap namja itu bingung. “Apa maksud oppa?”

“Kamu akan pulang bersamaku ke Amerika.”

“Mwo??”

“Aku sudah membelikan tiket pesawat juga untukmu jadi kau harus pulang ke Amerika.” Minho memberi penekanan pada kata harus. Setelah mendengar itu Jiyeon menjadi sebal.

“Shireo! Aku ingin tinggal disini! Aku tidak akan pulang ke Amerika!”

Minho menatap mata Jiyeon tajam. “Walaupun kamu adikku, berhentilah bersikap kekanak-kanakan! Apa kau tidak tau betapa khawatirnya aku, appa, dan umma selama kamu tinggal jauh dari kami huh?! Hilang begitu saja tanpa memberi kami kabar terlebih dahulu dan memutuskan kontak! Apa kamu tidak tau setiap malam appa dan umma bertengkar bahkan hampir bercerai menyalahkan satu sama lain karena hilangnya kau?!”

Jiyeon terdiam. Ia menundukkan kepala seraya menggenggam erat roknya, merenungi kata-kata kakaknya barusan.

Minho, appa, dan umma mengkhawatirkannya.. Bahkan appa dan umma bertengkar karena dirinya…

Jiyeon merasa bodoh. Ia mengira keluarganya tidak akan peduli dengan dirinya karena masing-masing dari mereka sangat sibuk dengan pekerjaan. Namun apa yang Minho katakan membuat Jiyeon sadar, walaupun mereka sibuk tapi mereka tetap memikirkan Jiyeon. Minho, appa, dan umma menyayangi dirinya.

“Mianhe..”

Minho menghela nafas. Dengan lembut, ia mengelus rambut Jiyeon seperti yang sering ia lakukan dulu. “Ne.. Setelah umma dan appa mendengar kamu berada di Seoul, aku langsung kesini. Mereka bahkan aku sangat senang kami bisa menemukanmu. Dan kami harap kamu akan kembali berkumpul bersama kami di Amerika. Jadi pulanglah Jiyeon..”

Jiyeon hanya diam. Ia merindukan saat-saat dia bersama keluarganya. Ia ingin pulang..

Tapi ada sesuatu yang mengganjal, membuat sisi dari dirinya yang lain tidak ingin pulang..

“Bagaimana? Kamu ingin pulang kan?”

Jiyeon menimbang-nimbang sebentar dan akhirnya dia mengangguk setuju.

“Baiklah, persiapkan dirimu dari sekarang. Hari minggu nanti kita akan pulang ke Amerika.”

Minho kembali melihat sekeliling. Matanya tertuju pada sebuah kamar. “Oh? Apartemen ini menyediakan dua kamar rupanya. Baiklah aku istirahat disini dulu ya Jiyeon. Aku lelah.” Ia mengambil tas besarnya kemudian melayangkan senyum ke Jiyeon yang masih terkejut.

Hari minggu? Berarti 3 hari lagi dia akan meninggalkan Korea. Secepat itukah??

***

H-2

Minho menyeruput kopi seraya membaca koran pagi. “Aigoo.. Kenapa aku jadi buta hangul? Tinggal di Amerika selama beberapa tahun memang memberikan dampak besar ya..”

“Oppa…”

Minho mengalihkan pandangannya dari koran. Ia menatap Jiyeon dari atas sampai bawah. “Kamu mau kemana? Kenapa berpakaian seperti itu?”

Bo Peep Bo Peep Bo Peep~

Tiba-tiba ponsel Jiyeon berbunyi. Jiyeon merogoh ponsel dari tas kemudian membaca pesan masuk tersebut.

From: Jieun

Jiyeon-aa! Kamu dimana? Aku dan Wooyoung sudah berkumpul di tempat karaoke.. Cepat kemari > <

 

“Huaa oppa~ Aku sudah ditunggu teman-temanku! Aku pergi dulu ya!” Jiyeon mengecup pipi Minho. “Bye bye!”

“Aish dongsaengku ini.. Sudahlah. Tadi aku baca sampai mana ya?”

Author POV End

 

 

Jiyeon POV

2 hari lagi aku akan pulang ke Amerika. Sebelum kembali, aku ingin mengadakan pesta perpisahan dengan teman-temanku. Setidaknya harus membuat kenangan indah agar mereka tidak melupakanku begitu saja kan?

“Yaa, Jiyeon! Kenapa kamu lama sekali? Asal kamu tau, kami sudah menunggu selama 1 jam!” omel Jieun ketika aku tiba di tempat karaoke.

“Ani. Bukan 1 jam. Lebih tepatnya 1 jam lebih 20 menit.” Wooyoung mengoreksi kata-kata Jieun.

“Mianheyo..” seraya memasang wajah aegyo.

Jieun dan Wooyoung menatapku dengan pandangan kami-tidak-akan-terpengaruh.

“Yaa~ Aku kan sudah minta maaf.. Ayo kita menyanyi sekarang! Ppali!”

“Hmm.. Jagi, kamu mau menyanyikan lagu apa?” tanya Jieun seraya melihat-lihat daftar lagu.

“Bagaimana kalau ini?”

“Aku rasa itu bagus juga. Ayo kita nyanyikan!” Bersama Wooyoung, Jieun berdiri memunggungi layar dan bersiap menyanyi. Sedangkan aku terduduk, memandangi milky couple itu.

Hmm.. Milky couple ya? Aku jadi teringat dengan Joon. Akhir-akhir ini aku tidak bertemu dan berhubungan dengan dia. Saat aku bertanya ada apa, dia selalu menjawab kalau dia sedang sibuk mempersiapkan pertandingan basket. Tapi aku rasa ada hal yang ia sembunyikan dariku. Ne, aneh. Biasanya dia selalu bersamaku.

Huff.. Andai saja dia menerima ajakanku untuk karaoke. Pasti dia sedang duduk disampingku sekarang..

“Ya Jiyeon-aa! Dengarkan kami bernyanyi!” tegur Jieun membuyarkan lamunanku.

“Oh? N-ne.”

Aku melihat mereka bernyanyi.. Sungguh.. Aku.. Aku tidak tahan lagi..

“MWAHAHAHAHA!!”

Aku tertawa sangat keras setelah mereka selesai menyanyi. Bagaimana tidak? Mereka sangat lucu sekali! Pantas saja mereka di juluki Milky Couple di sekolah..

“Ya! Kamu menertawakan kami huh?” Wooyoung menatapku tajam.

Aku yang melihat wajah horrornya itu langsung menutup mulutku. “Hehe.. Mian.. Kalian lucu sekali sih~”

“Sekarang giliranmu! Aku ingin tau keahlian menyanyimu. Kalau jelek, aku akan menertawakanmu sampai-sampai aku berguling-guling di lantai!”

Seketika Jieun memelototi Wooyoung. “Jagi!”

“Baiklah, akan kutunjukkan kemampuanku!”

Aku memilih sebuah lagu kemudian berdiri. Yah, walaupun aku tidak banyak tau-menahu lagu Korea, tapi aku tau lagu yang satu ini karena berasal dari drama korea yang sedang booming saat ini, Jungle Fish 2.

Kim Yeo Hee – Feeling Sad (Jungle Fish 2 OST)

(coba dengerin ini deh, bagus banget lagunya~)

 

“mueosi urireul itorok himdeulge haenna
mueosi urireul itorok eoryeopge halkka
mueosi urireul itorok himdeulge haenna
mueosi urireul itorok eoryeopge halkka

saranghae ije haji motal mal
saranghae ije hal su eomneun mal
saranghae ije neoreul bomyeo hal su eomneun mal
saranghae saranghae saranghae saranghae

mueosi urireul itorok himdeulge haenna
mueosi urireul itorok eoryeopge halkka
mueosi urireul itorok himdeulge haenna
mueosi urireul itorok eoryeopge halkka

wae nan neol ihaehaji motaesseulkka
neon oerowosseul tende manhi apasseul tende
haejul mari manheunde jeonhaji motan nae mareul deureojwo

saranghae ije haji motal mal
saranghae ije hal su eomneun mal
saranghae ije neoreul bomyeo hal su eomneun mal
saranghae saranghae saranghae saranghae
saranghae ije haji motal mal”
saranghae ije hal su eomneun mal
saranghae ije neoreul bomyeo hal su eomneun mal
saranghae saranghae saranghae saranghae.”

TES.. TES..

Tidak terasa beberapa bulir air mataku jatuh seketika. Saat menyanyikan lagu ini aku teringat Thunder.. Dia satu-satunya orang yang belum aku beritahu tentang kepindahanku. Mengingat aku akan berpisah dengannya semakin membuatku sedih. Mungkin, suatu saat nanti aku akan rindu dimana dia membentakku, memarahiku, dan mengusiliku..

“Jiyeon-aa.. gwenchana?”

Jieun menatapku khawatir. Dengan cepat kuseka air mata yang sudah mengalir ini. “Ne.. Aku hanya terlalu menghayati lagu ini.. Suaraku jelek ya?” Kupaksakan diriku tersenyum.

“Ani. Suaramu bagus kok! Ya kan jagi?” Jieun menyenggol lengan Wooyoung kemudian ia mengangguk. “Sekarang giliran kami! Ayo kita nyanyikan lagu untuk Jiyeon sebagai kenang-kenangan! Umm.. Tapi apa ya?”

Aku kembali duduk di kursi. Aku tersenyum melihat mereka sedang sibuk mencari lagu untukku. Ne, lagu perpisahan untukku..

***

H-1

Aku merapihkan bajuku sebentar kemudian memencet bel. Tidak lama kemudian Thunder membuka pintu apartemennya.

 

“Jiyeon? Mau apa kamu? Kenapa kamu tersenyum begitu?” tanya Thunder bingung melihat wajah yang kupaksakan untuk tersenyum. Susah sekali tersenyum didepannya hari ini..

“Ayo kita makan es krim!”

“Mwo?”

“Ayo kita makan es krim!” ulangku.

Thunder melihatku aneh Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil jaketnya kemudian berjalan disampingku.

Jiyeon POV End

 

 

Thunder POV

“Hari ini dingin sekali ya?” kata Jiyeon sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya.

Setelah mendengar itu, aku langsung memegang dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jaketku. Dia menatapku, mungkin karena kaget tapi kemudian dia mengucapkan terimakasih dengan senyumannya yang sangat sangat manis itu. Kyeopta!

“Yaong, hari ini kamu mau makan es krim rasa apa?” tanya Jiyeon saat kami sudah sampai di kedai es krim. Entah mengapa rasanya aneh sekali tiba-tiba dia mengajakku kesini..

“Rasa coklat. Wae? Kamu.. mau ditraktir?”

“Eh? Aniya.. Malah aku yang ingin mentraktirmu.”

“Oh? Benarkah? Bagaimana jika aku ingin es krim ukuran besar?”

“Tidak apa-apa. Pesan saja jika kamu ingin.”

Setelah memesan, kami berdua duduk di bangku, saling berhadap-hadapan.

“Yaongie, ingat tidak? Ini tempat kita pertama kali bertemu lho.”

Aku mengerucutkan bibirku. “Tentu saja aku ingat! Kamu kan pelayan yang sudah berani-beraninya menumpahkan es krim ke jasku! Sudah begitu kamu memberiku cek dan mengusirku pergi! Benar-benar seenaknya saja..”

Jiyeon terkekeh. “Mian.. Lagipula kamu juga salah! Seharusnya kamu bersikap sopan terhadapku maka aku akan melakukan hal yang sama. Ingat ada aksi pasti ada..”

“Ne.. Neee.. Bisakah kamu tidak membicarakan masalah pelajaran? Sekarang sedang liburan musim dingin. Aku tidak ingin mendengar hal-hal seperti itu.”

Jiyeon kembali terkekeh. “Yaa Yaong! Aku juga tidak ingin membahas masalah pelajaran sekolah sekarang! Mereka sangaaat membosankan! Saat pelajaran Pulip seosangnim saja aku selalu tertidur~”

Aku tertawa. “Kamu kira aku tidak?”

Kami terus berbicara mengenang saat-saat kami bersama di hari-hari yang lalu sampai Victoria datang untuk menyerahkan pesanan es krim kami.

“Omo! Jiyeon! Aku sangat senang aku bisa melihatmu disini karena besok aku tidak bisa mengantarkanmu ke bandara.. Mianhe aku masih sibuk dengan pekerjaan part time ku ini…”

Eh? Bandara?

“Ne.. Gwenchana..”

“Aku pasti akan merindukanmu. Yah, walaupun kita jarang sekali bertemu.. Ohya, sering-sering mengirimiku pesan teks ya! Kamu sudah mempunyai nomor ponselku bukan?”

Aku melihat Jiyeon mengangguk.

“Oh yasudah. Aku bekerja dulu ya! Semoga kamu baik-baik saja di Amerika! Annyeong!” ujar Victoria seraya melambai ke Jiyeon.

Amerika? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan??

“Yaong..” Jiyeon kembali memulai pembicaraan kami yang sempat tertunda, “Ingatkah kamu kalau aku pernah berkata semoga saja aku tidak dapat melihatmu lagi di lain hari?”

Aku hanya diam. Perasaanku mulai tidak enak.. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut??

Jiyeon menyendoki es krim ke mulutnya. Setelah ia menelan es krim itu, dia kembali berbicara, “Aku berharap aku bisa menarik kata-kataku saat itu.” Ia menatapku dengan tatapan sendu. Aku melihat air mata menggenang, membuat perasaanku semakin tidak enak..

“J-jiyeon? Sebenarnya..”

“Besok aku akan meninggalkan Korea. Aku akan kembali ke Amerika dan kembali berkumpul dengan keluargaku. Bagus bukan?”

DEG.

Sakit. Hati ini sakit mendengarnya akan pergi jauh meninggalkanku. Tapi yang membuatku lebih sedih lagi ketika melihatnya memaksakan diri untuk tertawa di depanku.

“Oh, baguslah. Aku ikut senang.” Aku berusaha untuk bicara setenang mungkin, agar tidak membuatnya lebih sedih lagi.

Jiyeon menundukkan kepalanya. Sekilas aku melihat setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Apa dia menangis? Ku lihat Jiyeon mendongakkan kepalanya tiba-tiba. Dia menatapku dengan wajah riangnya.

“Yaa Yaong! Kenapa kamu diam saja? Ayo makan es krimmu sebelum meleleh! Atau kamu mau aku yang menghabiskannya? Hehe.”

Aku tersenyum kecut, melahap es krim yang ada di hadapanku.

Yeoja pabo.. Apa kamu benar-benar bahagia jika kamu bisa bersama keluargamu kembali? Tapi kenapa tadi aku melihat wajahmu sesedih itu? Walaupun kamu bahagia atau tidak disana, tahukah kamu aku benar-benar tidak ingin kamu pergi…

Thunder POV End

 

***

 

Joon POV

“Oppa!” Jiyeon memanggilku yang tengah berjalan ke arahku. Ia menepuk-nepuk kursi agar aku duduk disampingnya.

“Lihat kunang-kunang itu oppa!” Jiyeon menunjuk ke kunang-kunang yang sedang terbang di atas danau. “Walaupun sudah malam, tempat ini tetap indah ya.. Huff, sayang sekali aku baru kesini bersamamu dua kali.”

Aku dan Jiyeon terus memandangi betapa cantiknya kunang-kunang dan pemandangan sekitar. Ne, kita sekarang berada di danau rahasia kami.

“Jiyeonnie, mianhe.” kataku memecah keheningan diantara kami.

“Mianhe?”

“Jiyeon,” Aku menatap Jiyeon sedih. Aku harus mengatakannya.. “Akulah yang menelpon dan memberitahu Minho hyung dimana kamu tinggal…”

“Mwo?! Oppa kan sudah berjanji padaku, kenapa oppa—” Jiyeon tidak melanjutkan kata-kataku. Kulihat ia menarik nafas dalam-dalam. “Ah, gwenchana. Cepat atau lambat pasti juga akan ketahuan. Lagipula ini semua sudah terjadi..”

Mungkin Jiyeon sudah memaafkanku, tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku telah mengecewakannya.. Berbohong padanya.. Dan melukai hatinya.. Semua ini aku lakukan hanya untuk diriku sendiri. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan Jiyeon. Aku sangat egois..

“Jiyeonnie..”

“Ne?”

“Aku ingin kita putus.” Jiyeon kaget mendengar ucapanku barusan. Hhhh… Berat sekali mengatakan ini tapi disisi yang lain aku merasa lega. “Aku tau kamu hanya menganggapku sebagai oppa, bukan namjachingumu. Jadi aku ingin kita putus.”

“Tapi.. Tapi…”

“Bagaimana kalau kita kembali lagi ke awal? Anggap aku sebagai oppamu, maukah?”

“T-tentu saja!”

Aku mengecup kening Jiyeon. “Gomawo..”

Kulihat Jiyeon tersenyum. Mungkin inilah yang terbaik bagiku, dan tentu untuknya juga.

Joon POV End

 

***

 

H

Author POV

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jiyeon merasa lega dia sudah menghabiskan waktu dengan teman terdekatnya. Bersama Minho, dia duduk di bandara, menunggu teman-temannya sebelum dia pergi.

Dilain tempat, Sandara sedang tergesa-gesa mencari sepatu untuk dipakainya saat mengucapkan salam perpisahan nanti di bandara.

“Aigoo! Akhirnya ketemu juga!” ujarnya saat menemukan sepatu yang dimaksud. Dengan cepat dia memakai sepatu itu dan menyambar kunci mobil. “Sanghyun! Ayo kita berangkat sekarang! Kajja!!”

Sandara terus memanggil-manggil Thunder yang berada didalam kamarnya. “Aisshh sanghyun-aa! Bisa-bisa kita terlambat sekarang!” Berkali-kali ia mencoba membuka kamar Thunder namun tidak bisa karena Thunder mengunci pintu dari dalam. “Terserah kamu saja! Aku berangkat dulu!”

BLAM!

Thunder mendengar Sandara menutup pintu apartemen mereka dengan kencang. Dengan mata tertutup, dia merebahkan badannya di atas kasur.

Dia tahu kalau hari ini Jiyeon akan pergi ke Amerika, tapi dia tidak mau ikut ke bandara bersama kakaknya. Thunder hanya terlalu takut menerima kenyataan bila Jiyeon benar-benar pergi jauh darinya.

DRRRT.. DRRRT…

Thunder mendengar bunyi getar ponselnya. Dengan malas dia membuka mata dan meraih ponsel yang ia letakkan di sampingnya.

 

~Yeoja pabo calling~

Park Jiyeon. Thunder tidak terkejut melihat siapa yang sedang menelponnya saat ini. Dia kembali menutup mata saat mendengar getar ponselnya berhenti. Tapi kemudian ia membuka matanya lagi, menatap Hello Kitty pemberian Jiyeon yang tergantung di ponselnya.

DEG

Hati ini terasa sakit saat Thunder mengingat Jiyeon, yeoja yang ia benci sekaligus ia sukai.. Dia tidak ingin yeoja pabonya itu meninggalkannya… Ne, yeoja itu tidak seharusnya meninggalkannya!

Thunder langsung bangkit dari kasur kemudian berlari keluar apartemen sekencang-kencangnya.

***

“Jiyeon-aa, apa kamu benar-benar akan pergi meninggalkanku? Huks..” Jieun menangis mengingat sahabatnya itu akan pergi. “Nanti siapa yang akan duduk disampingku?”

Jiyeon memeluk Jieun erat. “Yaa, kan masih ada Wooyoung! Apa gunanya kamu mempunyai namjachingu jika dia tidak bisa menemanimu?”

“Tapi..”

“Wooyoung! Jaga dia baik-baik!” potong Jiyeon.

Wooyoung mengangguk. “Tentu saja!”

Kini Jiyeon menatap Joon. “Joon oppa, aku tau kau sedang sibuk karena sebentar lagi akan ada pertandingan basket yang penting bagimu. Tapi jangan lupa jaga kesehatan oppa! Dan semoga menang! Hwaiting!”

“Ne.. Kamu juga Jiyeonnie! Hwaiting!” seraya memeluk Jiyeon.

Minho berdeham. “Jiyeon, aku rasa kita harus berangkat sekarang..”

“Ah.. Ne..” Jiyaon melepas pelukannya dari Joon.

“Namja menyebalkan itu belum datang juga ya?” Joon bertanya saat ia melihat Jiyeon sedang mencari-cari Thunder.

Jiyeon mengangguk sedih. Dia sudah mencoba menghubuni nomor ponsel Thunder berkali-kali namun sedaritadi Thunder tidak mengangkat ponselnya.

Tiba-tiba seseorang memanggil nama Jiyeon. Jiyeon dan yang lain dibuat menoleh.

“Siapa itu?” bisik Jieun, dijawab dengan gelengan kepala Wooyoung.

“Aigoo~ Ternyata aku sempat mengejarmu.. Jiyeon.. Semoga selamat sampai di tujuan ya.. Jaga dirimu!” seraya memeluk Jiyeon.

“Tentu saja Sandara eonni.. Oh, dimana Thunder?”

Sandara menggigit bibir bawahnya. “Umm, sepertinya dia tidak kemari..”

Excuse me?” Minho kembali berdeham. “Ayo kita pergi sekarang Jiyeon.”

(Coba dengerin lagu 2PM – TIK TOK dari sini sampai lagunya selesai :D)

Jiyeon beranjak dari tempat sampai Sandara memanggil namanya, membuat ia menghentikan langkah.

“Jiyeon! Apa kamu benar-benar ingin pergi ke Amerika?”

Jiyeon terkejut atas pertanyaan Sandara barusan. Ia berpikir sebentar tapi kemudian ia tersenyum dan melanjutkan langkahnya.

***

“Ini! Cepat ambil!” bentak Thunder kepada supir taksi.

“N-ne. Dan ini..”

“Ambil saja kembaliannya!” seraya berlari ke dalam bandara Incheon.

Nafasnya sudah tersenggal-senggal karena lelah, namun dia terus memaksakan kakinya untuk tetap berlari. Ia juga sempat terjatuh saat ingin berbelok tapi dengan cepat ia kembali berdiri dan berlari.

Matanya terus mencari-cari ke berbagai arah. Setiap sudut sudah ia datangi namun ia masih belum menemukan Jiyeon. Putus asa, dia bertanya ke salah satu petugas yang ada di bandara. Seorang petugas mengatakan pesawat dengan penerbangan ke Amerika baru saja lepas landas.

“MWO?? Tidak mungkin..” Thunder kembali menatap petugas itu, namun kali ini dengan tatapan devil glarenya. Ia juga mencengkeram kerah baju si petugas. “YA!! Kamu bercanda kan?!”

“A-ani.. Aku tidak bercanda…”

“Ya! Apa yang kamu lakukan?!” seru petugas yang lain.

Thunder melepaskan kerah baju petugas kemudian dia berjalan menghampiri petugas yang lain.

“Katakan padaku, apa pesawat yang menuju Amerika..”

Petugas itu mengangguk pelan.

 

Jadi.. Jiyeon sudah…

TES.. TES.. TES..

Air mata Thunder kini mulai mengalir. Seperti kehilangan tenaga begitu saja, dia langsung terduduk di tempat. “Dasar.. Yeoja… pabo…”

“Ya!” seru seseorang, menepuk-nepuk pundak Thunder agar ia berhenti menangis, tapi Thunder peduli. “Kamu ini namja, apa tidak malu bertindak seperti ini di hadapan umum?”

“Kau.. diam saja..!” Thunder menghempaskan tangan yang menempel di pundaknya, membuat orang itu tidak lagi menepuk pundak Thunder lagi. “Jiyeon-aa.. kamu benar-benar pabo… Aku tidak ingin kamu pergi.. Jeongmal saranghae yeoja pabo..”

“Na do Yaong..”

Thunder terkejut. Satu-satunya orang yang memanggilnya Yaong hanya Jiyeon, yeoja pabonya. Dengan cepat, ia menoleh.

“J-jiyeon???”

Jiyeon tersenyum seraya membantu Thunder untuk berdiri. “Yaa Yaong, berhentilah menangis..”

“Bagaimana bisa kamu..??”

“Ah, aku tidak jadi ke Amerika. Tadi aku meyakinkan oppa kalau aku ingin tinggal di Korea dan aku juga sudah berjanji untuk sering-sering mengunjungi dan menghubungi keluargaku..”

Jiyeon menatap Thunder yang masih menangis. Ia tidak menyangka tipe namja seperti Thunder juga bisa menangis seperti ini.. “Yaa berhentilah menangis Yaongie..”

“Dasar pabo.. Aku menangis gara-gara ulahmu!!” bentak Thunder.

Jiyeon mengusap air mata yang ada di pipi Thunder, kemudian ia berjinjit.

CUP

Jiyeon mencium Thunder kemudian dia melepaskannya setelah melepaskannya setelah melihat Thunder sudah berhenti menangis.

“Jangan menangis lagi Yaong! Kamu benar-benar tidak cool!”

“Ya!”

Mereka berdua tersenyum dan memandangi satu sama lain. Tidak tahan melihat wajah angelicnya Jiyeon, Thunder mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja itu. Perlahan Jiyeon menutup matanya. Mint. Wangi mint ini tercium lagi saat mereka berciuman.. Betapa sukanya Jiyeon dengan wangi ini, wangi milik namjanya.

“Yaongie.. Saranghae..” bisik Jiyeon.

“Hmm, na do.”

——————

Waaaaaaakakakakak

Walau endingnya gak jelas akhirnya aku berhasil nyelesain ini ff!! Aseeeeek!!

Tapi aku tetep minta komennya ya! Jangan mentang-mentang udah selesai jadi pada males komen!! Dan jangan jadi plagiat oooi =3=

Ohya, kamsahamnida buat 2 orang teman sekelasku~ Mereka udah bantu aku nyari ide pas aku lagi gak ada ide~ A dan A!! gomawoooooo!!

Juga buat para readers yang udah setia baca dan ninggalin komen dari part 1 sampai sekarang! 3 kata buat kalian!!

I LOVE YOU!!!!

BUAT LAGU YANG FEELING SAD ITU, ADA YANG VERSI LEE JOON LHO!

 

JADI DIA BAWAIN ITU LAGU BARENG TOKOH UTAMA COWOK DI JUNGLE FISH (LUPA NAMANYA).. KALAU KALIAN DENGERIN ITU DENGAN PENGHAYATAN, KALIAN BENER2 BISA NANGIS LHO!! CONTOHNYA YA AKU INI KEKE~

Dan sampai jumpa~~ Aku hiatus dulu ya! Miss you~~

50 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s