Love You, My Fierce’s Girl (2 of 2)

Title : Love You, My Fierce’s Girl (2 of 2)

Main Cast :
° Park Jiyeon (T-ARA)
° Shik Gongchan (B1A4)

Other Cast : Find at the story.

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Twoshoot

Disclaimer : Just own the story.


A/N : READERS!! Jeongmal Mianhe……… author telat lagi ngepostnya 
Kesibukan di sekolah author yang baru, selalu ngebuat author lupa ama FF2 author u.u
Kalo mau slalhkan, salahkan sekolah author yang nyuruh siswanya pulang jam 5 sore/digaplak KepSek

Author banyak bacot ya? Cekodot aja deh😀

Author POV

“Hya! Apa yang kau lakukan ?”

Suara itu membuat Minho terpaksa menghentikan ‘aktivitas’-nya. Ia menoleh, dan mengerutkan dahinya bingung ketika melihat siapa yang datang.

“Siapa kau? Berani-beraninya menggangguku !” hentak Minho.

“Kau tak perlu tahu, siapa aku. Yang perlu kutanyakan sekarang.. Kau buat apa yeoja itu, huh ?”

“Memangnya apa urusanmu ?”

“Tentu saja, ini urusanku. Dia adalah pasangan berdansa-ku. Dan seenaknya, kau membawa ia kesini !”

“Jinjja? Kalau begitu ambil dia… Kalau bisa,” Minho mulai mendekatkan diri ke arah namja itu. Sedangkan namja itu hanya mematung di tempat, seperti tak tahu apa yang akan dilakukan-nya.

Aigo… Bagaimana ini? Aku sudah lama, tak berkelahi. Apa aku bisa menghadapinya? Dia kan ketua anggota berandalan di sekolah ini.. Bisa-bisa aku babak belur, batin namja tersebut.

Sedikit lagi Minho sampai ke tempat namja itu, tapi tiba-tiba…

“Tuan muda !” sebuah suara membuat Minho dan namja tersebut, mengalihkan pandangan mereka refleks.

“Jang ahjussi !?” pekik Minho tak percaya.

“Ne, ini aku tuan muda. Tuan muda, sedang apa disini? Tuan muda lupa, penerbangan malam ini? Presdir sudah menunggu tuan muda, dari tadi di bandara.” ujar pria paruh baya, yang dipanggil Jang ahjussi tersebut.

“Ya! Tidak bisakah menunggu sebentar lagi? Aku masih ada urusan !” bentak Minho.

“Tidak bisa, tuan muda. Anda harus pergi sekarang juga. Tapi, kalau tuan muda tetap bersikeras, terpaksa saya harus melakukan hal ini. Hey.. Ayo bawa dia,” Jang ahjussi menyuruh dua orang pengawal dibelakangnya, untuk segera menyeret Minho dari tempat itu.

“Ya! Ingat! Urusan kita belum selesai !” teriak Minho sebelum ia menghilang dari jarak pandangan mata si namja yang menantangnya.

Sedangkan namja itu, hanya cengo melihat Minho yang sudah masuk ke dalam mobil.

Namun semua itu terbuyarkan, ketika namja itu mendengar suara rintihan Jiyeon.

“Ya, kau tidak apa-apa ?” tanya namja itu khawatir seraya mendekati Jiyeon yang sudah kelihatan lemas.

“Tidak apa-apa, apanya? Kau tidak lihat keadaanku. Ssh..” ringis Jiyeon sambil memegangi bagian belakang kepalanya.

“AIGO! Kau berdarah! Aku ambil kotak P3K dulu yaa! Kau jangan kemana-mana !” Gongchan pun langsung berlari ke arah UKS yang berada di dalam sekolah, dan kembali beberapa menit kemudian.

“Sini kepalamu,” Gongchan mulai mengusapkan kapas ke bagian kepala Jiyeon, yang berdarah.

“Ssh… Aw.. Pelan, pelan..” rintih Jiyeon pelan.

“A-a.. Mianhae. Tahan sedikit ya,”

Akhirnya dengan perjuangan yang cukup berat (?), namja itu berhasil mengobati dan membalut luka Jiyeon.

“Haah… Selesai juga. Apakah masih sakit ?” tanya namja tersebut. Tapi orang yang ditanya, hanya diam membisu.

“Hei, kok diam ??”

Lagi-lagi Jiyeon hanya diam. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Seperti menahan sesuatu.

Namja itu menyadari tingkah Jiyeon. Dengan ragu-ragu, ia meletakkan telapak tangannya di atas bahu Jiyeon.

“Kalau kau ingin menangis, menangis saja..” ujar namja itu, lembut.

“Mwo?? Menangis?! Aku tidak menangis, kok !” elak Jiyeon seraya menoleh kepalanya ke arah lain.

“Sudah. Jangan bersikap sok kuat. Aku tahu, kau itu sebenarnya hanyalah yeoja yang lemah. Jadi, tak usah kau tahan tangisanmu itu !”

“Ya! Seenaknya saja kau bicara! Aku ini wanita yang kuat! Buat apa aku menangis? Buang-buang tenaga saja !” bentak Jiyeon.

Namja itu menyeringai.“Benarkah? Tapi.. Aku pernah melihatmu menangis loh,”

“Aku? Me-memangnya, dimana ?” ucap Jiyeon gelagapan. Rasa cemas mulai hinggap di hatinya.

“Baiklah. Hmm… Saat itu.. Aku sedang berjalan sendirian ke atap sekolah. Tapi saat disana, secara tak sengaja aku melihat…” namja itu menggantungkan kalimatnya.

“Melihat apa !?” desak Jiyeon.

“Aku melihat seorang yeoja, sedang menangis disana. Dan saat aku mendekatinya, yeoja itu malah tambah menangis. Yeoja itu terlihat sangat lemah dan cengeng,”

Jiyeon berusaha menyerap dengan sebaik-sebaiknya perkataan namja itu, dan memutar kembali memorinya.“Ka.. Kau, namja yang di atap itu ??”

“Sebenarnya, aku malu untuk mengakuinya. Tapi, itu memang aku,” aku namja itu, akhirnya.

Jiyeon hanya mengerutkan dahinya.

“Kau tidak percaya ini aku? Haah.. Baiklah,” namja itu mengeluarkan sebuah kacamata tebal dari balik jasnya, dan mengenakannya.

“Sekarang baru percaya ?”

“Ja.. Jadi.. Kau Shik Gongchan!? Namja culun itu ??” pekik Jiyeon tak percaya.

“Ne,” sahut namja yang ternyata, adalah Gongchan.

“Ke-kenapa.. Kau jadi keren seperti ini ??” ujar Jiyeon sambil melilirik Gongchan dari atas ke bawah.

“Ini memang penampilan asliku. Hanya saja, aku ingin mencoba gaya yang lain.” ujar Gongchan dengan gaya sok cool.

Jiyeon jadi muak melihat Gongchan, melihat tingkahnya yang seperti itu.“Oh. Hanya itu? Kalau sudah, aku pergi sekarang. Terima kasih atas pertolonganmu. Dan satu lagi… Jangan sebarkan pada orang lain, tentang kejadian aku dan Minho tadi.” Jiyeon beranjak pergi dari tempat itu. Namun tiba-tiba, Gongchan menahan tangannya.

“Kau jangan pergi dulu,” pinta Gongchan, lembut.

“Wae? Urusan kita sudah selesai. Sekarang tolong lepaskan aku,” Jiyeon berusaha melepaskan tangan Gongchan. Tapi namja itu tetap bersikeras menahan tangan Jiyeon.

“Kalau kau tetap pergi, aku akan membocorkan rahasiamu pada umum,” ancam Gongchan yang langsung membuat Jiyeon terhenyak.

“Hya! Apa yang kau maksud, huh? Kau kan sudah berjanji-,”

Greeeb. Pegangan tangan Gongchan di bahunya, membuat Jiyeon diam seketika.

“Aku mohon.. Jangan pergi dulu. Ada yang ingin kukatakan,” pinta Gongchan lembut.

Hati Jiyeon melemah melihat tatapan namja tersebut.“Huff… Baiklah. Kau ingin bicara apa ?”

Gongchan tersenyum melihat sikap Jiyeon yang sudah sedikit me-lembut.“Aku… Aku… Eum…”

“Cepatlah! Aku tidak ada waktu hanya untuk mendengarmu saja…” bentak Jiyeon.

“Aku.. Eumh…” Gongchan mengambil nafas panjang, kemudian menghelanya.“Mau.. Maukah kau jadi yeojachinguku ?”

Gleeek. Jiyeon membelakakkan matanya kaget. Ia seperti tak percaya dengan apa yang baru didengarnya barusan.

“Mwoya? Kau bercanda !”

“Aku serius, Park Jiyeon! Aku tahu ini terlalu cepat untukku, karena aku barusan saja mengenalmu. Tapi, aku benar-benar menyukaimu, Park Jiyeon. Dan.. Aku ingin kau jadi milikku,” ujar Gongchan panjang lebar, sambil menatap tajam Jiyeon.

Sedangkan Jiyeon, ia hanya diam terpaku melihat tatapan Gongchan.

“Kau mau kan ?” tanya Gongchan.

“Aa.. Bi-biar aku pikirkan dulu. Sekarang, aku mohon lepaskan aku.” pinta Jiyeon pelan.

Gongchan menurunkan tangannya, dan hanya bisa memandang Jiyeon yang semakin lama semakin menjauh.
_________

I’ve watched over you
Over all your loves and your long breakups

If you’re always going to get hurt, it?s better to be with me

Look clearly- I just don’t like it when you cry
It hurts me to see you in pain

Be mine, I will love you
I will worry about you
I will take responsibility for you till the end

Be mine, you know me
You’ve seen me for all this time
I will protect you till the end – Be Mine (Infinite)

Hari itu, di kelas XII-A, tak seperti biasanya. Setiap orang di sana, berbicara dengan argumennya sendiri. Ada yang bilang bukan, ada yang bilang iya. Ada juga yang bingung dengan penglihatannya sendiri.

Dan semua mata mereka, terfokus pada 1 orang. Namja yang duduk di sudut kelas, Shik Gongchan.

Namja itu, namja yang sudah merubah penampilannya semalam. Menjadi ‘Hot Topic’ di kelas itu, karena penampilannya yang berbeda dari biasanya.

“Benar kau, Shik Gongchan ?” tanya seorang namja yang duduk di depannya.

“Ne,”

“Woah… Ternyata kau aslinya, tampan juga ya. Aku takut, nantinya yeoja di kelas ini bakalan suka denganmu.”

Gongchan menyeringai kecil.“Tenang saja. Walaupun nantinya, mereka suka denganku, aku tak akan menanggapi mereka. Karena, aku sudah punya yeoja yang ku sukai.”
______

Jiyeon POV

“Jiyeon sunbae,”

“Ne ?” ku menoleh ke arah orang yang barusan saja memanggilku. Dari name tag-nya, bisa kulihat kalau namanya adalah, Jo Kwangmin.

“Seseorang memanggilmu. Dia ada di taman belakang sekarang,” ujar namja cute itu.

“Nugu ?”

“Molla-yo. Aku hanya disuruh memanggilmu. Annyeong sunbae,” namja itu membungkukkan badannya, kemudian pergi ke luar kelas.

“Siapa ya ?” gumamku sendiri.

Daripada ku bingung sendiri, akhirnya ku pergi untuk memutuskan tempat dimana ‘orang itu’ berada.

Tapi setelah disana, ternyata tak ada bekas sedikitpun, bahwa ada yang sedang menungguku disini.

“Haah! Ternyata aku dikerjai !”

“Siapa yang mengerjaimu ?”

Suara siapa itu? Ku mendongakkan kepalaku ke asal suara, dan.. Mwo? Sedang apa Shik Gongchan di atas pohon? Sedang makan buah lagi.

“Sedang apa kau di atas sana ?!”

“Aku bosan menunggumu. Jadi aku memanjat pohon saja. Kebetulan pohonnnya juga sedang berbuah. Hehe,” ujarnya sambil turun dari atas pohon.

“Jadi kau yang memanggilku? Untuk apa, huh !?” bentakku berusaha galak.

“Kau ini galak sekali. Aku kan hanya ingin bicara denganmu saja,” ujar Gongchan sambil menunjukkan wajah polosnya. Geez! Kenapa dia harus menunjukkan mimik seperti itu?

Ku mengalihkan wajahku ke arah lain, untuk menghindari tatapannya.“Bicara apa ?”

“Aku ingin meminta jawaban untuk yang semalam,” ucapnya. Dan hal itu, seketika membuat ku refleks kembali mengalihkan wajahku.

“Mwo.. Mwo ??”

“Ne. Kau sudah memikirkannya kan ?”

“Memikirkannya? Eungg…..”

Aigo… Aku harus bilang apa? Aku sama sekali tidak punya perasaan sedikitpun padanya. Tapi… Aku juga tidak tega melihat wajahnya yang seperti itu.

“Ma-maaf.. Tapi, aku sama sekali tidak-,”

Greeeb. Gongchan memegang lenganku, dan tanpa aba-aba, namja itu sudah menarikku ke dalam pelukannya.

“Tolong… Aku benar-benar menyukaimu, Park Jiyeon. Aku tidak ingin mendengar kata penolakan apapun darimu…”

Aigo.. Apa yang dikatakan namja ini? Sampai sebegitukah ia, ingin menjadi namjachinguku?

“Aku tahu, kau itu sebenarnya lemah. Kau tidak perlu takut padaku. Kau tidak perlu bersembunyi, bila kau ingin menangis. Kau bisa meminjam bahuku kapan saja, dimana saja, bila kau tak mampu menahan lagi perasaanmu. Aku akan menjadi tempat peraduanmu, Jiyeon-ah…” ujarnya lirih. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Membuatku sedikit sesak, namun hangat.

Setelah mencerna perkataan namja ini, tanpa sadar, di dalam pelukannya, ku menganggukkan kepalaku.

“Jinjja? Benarkah? Kau mau ?” tanya Gongchan sambil melepas pelukannya. Dari matanya, bisa kulihat kalau begitu senang.

“Ne,”

“Wooah… Gomawo, Jagiya! Aku akan membuat kau menjadi yeoja yang paling bahagia di dunia ini !” serunya sambil memelukku kembali.

Heem… Aku harap begitu.
________

Ternyata, benar apa yang dikatakan Gongchan sebulan yang lalu. Dia benar-benar membuatku jadi yeoja yang paling bahagia di dunia. Mungkin hal ini terlalu berlebihan. Tapi, inilah yang ku rasakan sekarang. Ia benar-benar menyayangi dan melindungiku, layaknya sosok seorang appa. Hal yang tak pernah kurasakan dari appa-ku sendiri. Dan kurasa… Aku juga mulai mencintainya.

“Jagiya !”

Haha. Lihat itu. Baru kupikirkan saja, orangnya sudah datang.

“Ne ?”

“Kau.. Belum makan ?” tanyanya sambil duduk di depanku.

“Belum. Aku mesti menyelesaikan tugas ini, sebelum bel istirahat selesai.” ujarku seraya kembali fokus pada buku di depanku.

“Kau harus makan, Jagi. Kau tidak lihat apa kau sudah kurusan? Aku tidak ingin melihatmu sakit,” ujarnya perhatian.

“Arraseo. Biar kuselesaikan tuga-,”

Treeng…. Treeeng…

Kalimatku terhenti ketika ponsel Gongchan berbunyi.

“SMS dari siapa ?” tanyaku.

“Dari Hyoyoung. Sahabatmu itu,”

“Hyoyoung?”

“Ne. Aku dan dia sekelompok di pelajaran Biologi. Dan ia, menyuruhku sekarang, untuk menyelesaikan tugas kami.”

“Jinjja? Kalau begitu, selesaikan tugasmu dulu.” perintahku.

“Tapi, aku kan masih ingin… Haah, sudahlah. Kujemput kau pulang nanti ya,” katanya.

“Ne,” ku mengangguk setuju.

Chu~. Ia mengecup pipiku sekilas, kemudian berlari keluar kelas.

“Ya! Gongchan !”

Aissh… Namja itu selalu saja bisa membuatku bersemu merah.
_______

“Ck! Kemana Gongchan? Sudah setengah jam aku menunggu di gerbang. Tapi kemana saja dia ?” dumelku kesal.

Eo. Apa jangan-jangan dia sedang bersama wanita lain? Haah… Jangan sampai!

Semenjak ia merubah penampilannya, ia menjadi salah satu cowok populer di sekolah! Aku takut kalau ia tertarik dengan yeoja-yeoja penggemarnya itu !?

“Haah.. Andwae !”

“Ya! Kenapa kau teriak-teriak begitu ?”

“Go-Gongchan? Sejak kapan kau sudah di sampingku ?”

“Aku sudah disini, dari tadi. Kau saja yang tidak menyadarinya,” ujar Gongchan datar.

“Jinjja? Aah… Mianhae,” sesalku. Haish! Aku benar-benar babo!

“Gwaenchana. Aku tidak bawa motor. Jadi kita pulang jalan kaki saja ya? Biar lebih romantis gitu~”

Mendengar itu, rasanya pipiku langsung saja memanas.

“Ya! Pipimu merah! Kau malu ya~” goda Gongchan sambil menyolek pipiku.

“A-ahniyo,”

“Ngaku aja deh! Wahahaha! Akhirnya aku bisa melihat seorang Park Jiyeon, ketika sedang blushing! Hahahahaha !”

Blush~.

“Ya! Shik Gongchan !”
_______

Gongchan POV

“Kau tidak usah terlalu serius mengerjakan tugas, Jagiya. Makanlah dulu… Aku tidak ingin melihatmu sakit. Arraseo ?”

“Gitu dong. Ne.. Saranghae.. Chu~”

Klik. Ku memutus sambungan telepon dengan satu-satunya yeojachinguku, Park Jiyeon.

Akhir-akhir ini, ia semakin kurusan. Ia jarang makan dan sering tak bernafsu makan. Aku tak tahu, kalau dia sedang dalam program diet, atau apa. Tapi.. Aku sangat khawatir padanya. Aku takut kalau nantinya, ia jatuh sakit. Wajar kan kalau aku mengkhawatirkannya seperti ini? Ini karena aku begitu mencintainya. Dan kurasa, aku juga telah berhasil membuat ia jatuh cinta padaku. Itu terbukti, dengan sikapnya akhir-akhir ini padaku.

“Kekeke…”

Aku jadi teringat kejadian beberapa hari lalu. Hari itu aku berkelahi dengan preman-preman di kompleks sekolah kami. Dan begitu melihat kondisiku, ia jadi sangat khawatir. Sampai-sampai ia rela, semalaman hanya untuk menungguiku.

Ekspresinya, benar-benar lucu saat itu.

Ting…. Tong…

“Nuguseyo ?” teriakku dari dalam rumah.

Namun, tak ada jawaban dari orang yang memencet bel.

“Aish… Siapa juga yang bertamu malam-malam begini ?” ku beranjak ke arah pintu, dan membukanya.

“Hyoyoung-sshi,”

“Hai, Gongchan.” sapanya sambil tersenyum lebar. Namun, aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.

“Untuk apa kesini ?”

“Heem? Apakah salah, bila seorang teman ingin mengunjungi rumah kawannya ?” ucapnya dengan nada sedikit, err… Manja?
“Hehe… Iya juga ya. Ayo masuk,” ku hanya nyengir kuda seraya mempersilahkan-nya masuk.

“Sepi sekali. Keluargamu kemana ?” tanya Hyoyoung sambil duduk di sofa.

“Noona-ku sedang keluar bersama namjachingunya,”

“Orangtuamu ?”

“Mereka sedang di luar negeri,”

“Jinjja? Berarti hanya kita berdua disini ?” pekiknya yang hampir membuatku jantungan.

“Ne..” sahutku polos.

Hyoyoung tersenyum menyeringai, dan sedikit mendekat ke arahku.

“Gongchan-ah.. Aku menyukaimu…”

Ku membelakakkan mata, kaget.“Mwo?? Suka katamu ??”

“Ne.. Aku benar-benar menyukaimu, Gongchan-ah. Aku menyukaimu sejak dulu, Gongchan..”

“Sejak dulu? Bukan sejak aku merubah penampilanku ?” ku berkata ketus padanya. Ckck… Munafik.

“Hhh… Baiklah. Memang aku baru menyukaimu, saat itu. Tapi sejak saat itu, rasaku semakin bertambah kepadamu. Aku menyu-, ah.. Ahni. Aku mencintaimu, Shik Gongchan..” ujarnya memelas.

“Terima kasih. Tapi.. Maaf, aku tak bisa membalas perasaanmu. Kau tahu kan, aku sudah punya yeojachingu..”

“Jiyeon? Biarkan saja dia! Toh, dia juga tak punya perasaan padamu !” teriak Hyoyoung tiba-tiba.

“Tch. Dia ada perasaan padaku atau tidak, itu tidak menjadi masalah selama aku terus mencintainya,”

Kulihat mata yeoja di depanku ini sudah mulai berkaca-kaca. Tch.. Tapi aku tak perduli. Yeoja ini sudah jelas-jelas bersalah. Dengan arti kata lain.. Dia sudah mengajakku untuk selingkuh. Dan secara tak sengaja, dia juga ingin mengkhianati sahabatnya sendiri.

“Kurasa pembicaraan ini sudah selesai. Kau boleh pergi se-,”

CHU~
________

Author POV

“AIGO !!”

“Kenapa jam-nya Gongchan bisa ada di tas-ku ?!” pekik Jiyeon.

Jiyeon mem-flashback- kembali memori otaknya.

Saat itu Jiyeon dan Gongchan sedang jalan berdua di danau. Dan tiba-tiba, Gongchan melihat ada anak kucing yang hampir tenggelam di danau itu. Setelah melepas jam tangannya, tanpa basa-basi, Gongchan langsung terjun ke air, dan menyelamatkan kucing manis tersebut.

saat itulah, hati Jiyeon langsung terhenyak. Ia terharu melihat sikap Gongchan. Pikirannya langsung menangkap bahwa Gongchan adalah namja yang baik. Dan saat itu juga, rasa suka itu mulai tumbuh di hatinya.

Jiyeon terkekeh sendiri mengingat kejadian itu. Sehari setelah hal itu, Gongchtak tak tahu lagi dimana jam itu. Dan Jiyeon lupa, kalau jam itu sudah disimpan ke dalam tas-nya.

Saat ditanya, Gongchan bilang jam itu adalah milik sahabatnya yang telah meninggal. Ia memberikan jam itu sebagai kenang-kenangan. Tentu saja, Gongchan jadi gelisah saat jam itu hilang.

“Sebaiknya ku-kembalikan jam ini,” inisiatif Jiyeon.

Ia beranjak dari ranjangnya, mengambil tas, dan bergegas keluar rumah menemui namjachingunya tercinta*ngakak nulisnya XDD*
________

Jiyeon sampai di rumah Gongchan. Ia akan membunyikan belnya. Tapi, ia mengurungkan niatnya itu.

‘Sekalian saja ku buat kejutan,’ pikirnya.

Jiyeon membuka pintu rumah Gongchan. Namun ia melihat hal yang tak diinginkannya. Hal yang beberapa hari ini, sudah membuat ia gelisah.

Tubuhnya mulai terasa lemas. Namun perlahan, ia mulai mendekati kedua orang tersebut.

Setelah sampai di depan mereka, barulah kedua orang yang adalah namja dan yeoja itu baru sadar. Si namja melepaskan dirinya, dan berdiri mensejajarkan tingginya dengan Jiyeon.

“Ji-Jiyeon…”

“Ma-Maaf… Aku hanya ingin mengembalikan ini,” Jiyeon meraih tangan Gongchan dan menengadahkannya.“Ini ternyata ada di tas-ku. Maaf… Aku lupa,”

“Hyoyoung.. Kalian pasti sedang mengerjakan tugas kelompok kalian kan? Maaf kalau aku sudah mengganggu. Silahkan lanjutkan lagi pekerjaan kalian,” Jiyeon berusaha tersenyum. Namun senyum itu terasa sangat pahit di mata Gongchan.

“Aku pulang dulu ya,” Jiyeon berjalan menuju pintu. Gongchan berusaha menahannya. Tapi sebelum namja itu berhasil menggapainya, Jiyeon sudah berbalik lebih dulu.

“Kau jangan berani mengejarku. Atau aku akan sangat marah padamu,” ancam Jiyeon.

Dan akhirnya, Gongchan hanya bisa diam melihat Jiyeon pergi begitu saja.

“Kau lihat kan… Ia tak marah saat aku menyiummu. Itu artinya, dia tidak cinta padamu..” tanpa Gongchan sadari, tangan Hyoyoung sudah bergelayutan di tangannya.

“Lepaskan! Dasar! Sahabat macam apa kau ini, huh ?!” bentak Gongchan.

Hyoyoung hanya tersenyum sinis menanggapinya.

“Kau boleh pergi sekarang,”

“Shirreo !” tolak Hyoyoung masak-masak (?)

“Kau pergi atau aku yang pergi !”

Hyoyoung terdiam sejenak. Sejurus kemudian, ia mengambil tas-nya lalu berdiri.

“Kau tidak perlu pergi,” ujar Hyoyoung kemudian keluar melalui pintu yang dimasukinya tadi.

“Arrghh !!” erang Gongchan. Ia menghempaskan kasar tubuhnya di atas sofa. Ia memijit-mijit kepalanya, yang mungkin terasa sakit.

Ia mengambil ponselnya, dan menekan speed dial nomor 1 disana.

“Noona.. Bisakah kau pulang lebih cepat ?”
________

Ck! Apalagi yang terjadi pada dongsaeng-ku itu? Kenapa suaranya parau saat di telepon ya? Apa ia sedang masalah? Apa ia putus dengan yeojachingunya?

Haah.. Mollaseo. Apapun masalahnya, ia sudah mengganggu kencanku dengan Hyunseung -_-

“Gongchan! Kau dimana ?!”

“I’m here, Noona..”

“Apa yang terjadi dengan-mu, huh ?” ku menghampirinya yang sedang duduk frustasi (?) di atas sofa.

“Aku sedang di dalam masalah, Noona..” ucapnya parau.

“Masalah apa ?” tanyaku yang mulai melembut. Sungguh. Aku tak bisa melihat dongsaeng-ku kalau sedang seperti ini.

“Tadi, sahabatnya Jiyeon datang ke rumah. Kukira, ia ingin mengerjakan tugas denganku. Jadi, aku persilahkan ia masuk. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi, tiba-tiba saja, ia menciumku! Dan…”

“Dan apa ?”

“Saat itu juga, Jiyeon datang ke rumah. Dan ia melihat kami…” ia seketika menunduk saat mengatakan itu. Dongsaeng-ku yang malang.

“Lalu apa yang terjadi ?”

“Ia pergi. Dan hanya bilang padaku, agar aku tidak mengejarnya.”

“Lalu, kau mengejarnya ?”

“Ahni. Aku takut ia marah padaku,” sahutnya polos.

PLETAK!

“Aish… Noona! Sakit !” ringisnya.

“Kau itu babo atau bodoh sih!? Kau tidak tahu? Kalau seorang yeoja mengatakan tidak. Itu berarti ia ingin kau melakukannya !”

“Jinjja? Berarti saat itu, ia ingin aku mengejarnya ?”

“Tentu saja, babo !” geramku kesal. Haah.. Masa hal sepele dalam hal percintaan seperti ini saja, dia tidak tahu !

“Lalu apa yang harus kau lakukan sekarang ?”

“Pergi ke rumahnya, dan minta maaf! Sekarang juga !” ku menarik tangannya kasar, kemudian mendorongnya keluar pintu.

“Jangan kembali sebelum kau berhasil minta maaf padanya !” ancamku.

“Ne, Noona. Doakan aku,”

“Tentu saja. Cepat sana pergi !”

Gongchan tersenyum. Ia naik di atas motornya. Dan sejurus kemudian, ia sudah melesat ke luar rumah.

Jangan sampai, Gongchan putus dengan yeojachingu sebaik, semanis, dan secantik Jiyeon. Siapa tahu kan ia bisa jadi adik iparku. Haha..
_________

Gongchan POV

Huff… Ku menghembuskan nafasku berat. Kuatkan hatimu, Gongchan. Kau pasti bisa. Fighting!

Tok.. Tok.. Tok.. Ku mengetuk pintu rumah milik Jiyeon dan keluarganya.

Karena belum ada jawaban, ku mengetuk pintunya lagi.

Tok.. Tok.. Tok..

Tak lama, pintu pun terbuka. Seorang ahjumma yang masih tetap cantik di usianya, yang sudah menginjak 40-an muncul di depanku.

“Annyeong haseyo,” ku membungkuk kecil sebagai tanda penghormatan.

“Annyeong. Nak Gongchan, ada apa ?” tanyanya ramah.

“Aku mau bertemu dengan Jiyeon,”

“Jiyeon-nya sedang tidak ada disini. Ia sedang di rumah Yoseob. Tuh, di sebelah,” ia mengarahkan dagunya, di rumah yang tepat bersebelahan dengan rumah mereka.

“Kalau kau mau, kau bisa temui dia disana.”

“Aa.. Ne. Gamsahamnida,” sekali lagi ku membungkuk kemudian langsung melesat ke rumah Yoseob hyung, itu.

Saat aku membuka pintu pagar, terlihat Jiyeon yang baru ke luar dari rumah dan juga sedang menuju ke arahku.

Melihatku, Jiyeon membalikkan badannya dan bermaksud masuk lagi ke dalam rumah.

Tapi dengan sigap, ku langsung mengejarnya dan mendekapnya dari belakang.

“Gongchan.. Ini di rumah orang. Lepaskan aku,” ia berusaha keluar. Tapi aku, tetap mendekapnya erat.

“Aku tak akan melepaskanmu, sebelum kau mendengar penjelasanku..”

“Jiyeon-ah.. Kau harus percaya padaku. Yang tadi itu, bukanlah seperti yang kau lihat.” ujarku.

Hening. Jiyeon tak membalas perkataanku ataupun berontak seperti tadi. Ia hanya diam. Tubuhnya bergetar. Aku tahu, ia pasti akan menangis. Dengan segera, ku membalikkan badannya.

“Kalau mau menangis, menangis saja.”

“Ahni-yo. Aku tidak menangis,” ucap Jiyeon sambil tetap menunduk.

Dengan perlahan, ku mengangkat dagunya dengan jariku. Sehingga kini, aku bisa melihat kedua bola matanya yang sudah merah dan berkaca-kacanya.

“Menangislah. Kau percaya padaku kan ?” ucapku. Namun, ia tetap tak bergeming. Ku melirik bibirnya yang mungil nan berwarna merah. Sedikit demi sedikit ku mulai mendekatkan wajahku. Dan, cup.. Aku berhasil mengecup bibirnya.

Hanya kecupan. Kecupan yang hangat dan manis. Linangan air mata Jiyeon yang jatuh, tak membuatku melepaskan kecupan ini. Sampai akhirnya, Jiyeon yang melepaskannya sendiri.

“Aku percaya padamu, Shik Gongchan.”

“Jinjja?” Ia mengangguk pelan.

Ku menariknya ke dalam pelukanku.

“Gomawo, Jiyeon-ah,”

Ia mengangguk di dalam pelukanku.

Aku ingin sekali menceritakan, bahwa tadi Hyoyoung yang memulai. Tapi biarlah, untuk saat ini Jiyeon tak perlu tahu. Aku tak mau merusak persahabatan mereka. Yang penting, Jiyeon sudah kembali percaya padaku.

“Kalau sedang hujan, pasti ini akan lebih romantis. Iya kan ?” godaku.

BYUR!

Mwo? Apa ini? Kok kami jadi basah? Apa hujan benar-benar turun? Atau mungkin…

“Ya! Jangan berbuat mesum di halaman rumahku !”

“Yoseob oppa !!”

-END-

Gimanakah reader?? Maafkan kalu garing.. karena authornya juga garing -_-
Buat Cold or Shy.. boy? Author boleh curhat gak? Sebenarnya author sempet males bikinnya pas ngeliat berita IU ama Thunder. Aku sebenarnya emang udah tahu kalo mereka deket.. tapi karena berita itu jiwa CheonYeon shipper author langsung ciut -.-
Tapi…. ada tapinya nih… nah pas kemarin tuh ada Mucore kan? Trus pas ngeliat Thunder nhe-MC di samping Jiyeon.. SUMPAH! Author langsung jingkrak seneng! Semangat CheonYeon shipper bangun kembali deh😀
Jadi dipastikan Cold or Shy boy? Bakal tetep diselesaikan😀

Oh ya.. Ini kan udah bulan ramadhan.. author mau minta maaf ya kalo ada salah ama reader. Author tahu pasti reader pada kesel, karena author selalu telat ngepost 

Maafkan author ya reader.. ANNYEONG~

19 responses

  1. huaaaaaaaaa….. aku lgi suka ChanJi nihhh ehh kamu, post FF ini jdi tambah seneng dehhh hahahahahaaaaaaaaaa😀
    ehh… ehh…. IU mahh emang banyak fans nya, (jiwa CheonYeon dateng)
    Yoseob ja ng’fans sma IU, Key SHINee suka sma IU, Jjong juga suka sma IU, dan masih banyak lagi. Tapi aku tetep setuju klo Cheondung cuma sama Jiyeon hehhee…😀
    Jiyeon sama IU kan sahabatan, jadi kan mereka bisa berbagi wkwkwkkwk😀

    lha ngapa jdi ngomongin ini yahh wkwkwk😀 mian yahh🙂
    ehh… ehh.. ending lucu bgt wkwkwkk😀 Sobie… Sobie wkwkwk😀 msa org lagi mesra2 nya d’hujanin wkwkwkk😀
    aku tunggu yahh FF Cold or Shy Boy? nya dateng🙂

  2. aigoo… ending’a lucu bgt, yosoeb emang gokil hbs masa orang lg pacaran diguyur sm air sh, aku suka ending’a….. o ya cold or shy boy tetap dilanjutin ya author…. penasaran sm klanjutan’a gmna….. aku yakin antara thunder, jiyeon & iu hnya sebatas pertemanan aza koq…. jd tetap semangat lanjutin cerita cold or shy boy nya yach…… gomawo
    aza aza hwaiting……

  3. hyoyoung jahat amat sih…. pacar sahabat sendiri mau di ambil..
    seobie seobie… masa yang lagi pacaran diguyur sih…. gokil deh dia.. hahaha😀
    ini ff chanji pertama yang aku baca… ceritanya bagus.. aku suka..🙂

  4. endingnya lucu hehehehe………..
    ternyata keinginan gongchan terkabul andai ada hujan pasti romantis ternyata mrk bnr2 basah tapi bukan karna hujan hehehehehe…………..

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s