Fact and Fiction [1/2]

 

Title : Fact and Fiction [1/2]

Author : Ratih

Main Cast : Choi Hyo Ra (OC), Choi Minho (SHINee), Choi Sulli ( f ( x ) ), Choi Sooyoung (SNSD)

Genre : Romance

Type: Twoshoot

Rating : PG-15

FACT AND FICTION

“Ada yang datang dan pergi; dicintai dan mencintai; menerima dan melepaskan.”

Saat melangkahkan kaki keluar rumah, Hyo Ra tahu musim dingin akhirnya datang. Sebutir salju putih itu mendarat di telapak tangannya. Dingin. Gadis itu kembali masuk ke dalam, meraih sebuah mantel yang sengaja ia letakkan di atas sofa. Bukan mantel miliknya, tapi milik Sulli, tetangga baru. Sulli baru pindah dari Inggris 3 hari yang lalu. Gadis itu terbilang ceroboh. Baru saja mampir satu hari di rumah Hyo Ra, tapi sudah meninggalkan mantelnya. Makanya, hari ini Hyo Ra berniat untuk mengembalikan mantel itu pada Sulli. Untungnya rumah mereka berdua berdekatan, jadi Hyo Ra hanya perlu jalan kaki untuk sampai ke rumah Sulli.

“Permisi,”  ucap Hyo Ra seraya menekan bel. “Eonni! Ini aku Hyo Ra,” ucapnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Ia kembali menekan bel, tapi tetap tidak ada jawaban dari Sulli. Akhirnya, setelah Hyo Ra menekan bel untuk yang ketiga kali, Sulli membukakan pintu. Penampilan Sulli masih seperti orang yang baru bangun tidur.

Sulli terkekeh. “Mianhae, aku jadi merepotkanmu. Kan sudah kubilang, biar aku saja yang mengambilnya ke rumahmu,” ujar Sulli seraya mempersilahkan Hyo Ra masuk.

“Gwaenchana. Lagipula aku memang ingin main ke rumahmu, eonni.” Pandangan Hyo Ra mengitari seluruh ruangan. Ia kagum melihat kondisi rumah Sulli yang begitu rapi dan bersih. Dinding yang dicat serba putih membuat suasana rumah ini menjadi lebih nyaman.

“Kau mau minum apa?” tanya Sulli. Ia melangkah ke dapur.

“Apa saja,” sahut Hyo Ra. “Oh iya, mulai besok eonni akan masuk sekolah yang sama denganku, kan?”

Tak lama kemudian Sulli muncul dengan membawa secangkir coklat hangat. Minuman yang paling cocok untuk dinikmati dicuaca sedingin ini. “Ne, mulai besok. Kita berangkat sama-sama ya?”

Hyo Ra menganggukkan kepala. “Tentu saja.”

***

      Minho memperhatikan sebuah kotak di tangannya kemudian ia tersenyum puas. Kotak berwarna biru itu untuk Hyo Ra. Sebuah hadiah ulang tahun. Sebenarnya ulang tahun Hyo Ra sudah seminggu yang lalu, tapi Minho baru bisa memberikan kadonya hari ini. Minggu lalu, ia terlalu sibuk untuk mengikuti pertandingan basket antar-sekolah.

Minho tersenyum begitu melihat kedatangan Hyo Ra. Namun, senyum itu pudar begitu menyadari siapa yang datang bersama Hyo Ra. Sulli. Pandangan mereka berdua bertemu dan seketika suasana menjadi canggung.

“Eonni waeyo?” tanya Hyo Ra. Ia heran dengan sikap Sulli yang langsung berubah. Bahkan sekarang Sulli hanya terdiam di tempatnya dan menatap satu objek di depannya. Hyo Ra tahu Sulli sedang menatap Minho. Dan itu semakin membuatnya heran.

“Aish, eonni cepat!” kali ini Hyo Ra menarik tangan Sulli lalu berjalan ke arah Minho. Karena penasaran, Hyo Ra kembali bertanya pada Sulli. “Eonni wae? Sepertinya kau kenal Minho oppa?

Sulli masih terdiam. Kemudian ia sadar bahwa keterdiaman ini akan menimbulkan tanda tanya. Lebih baik ia berbohong. Lebih baik ia mengelak. “Tidak, aku tidak kenal. Mungkin aku salah orang.”

Minho tersenyum pasrah. Kalau memang ini yang terbaik. “Dia siapa?” tanyanya datar.

Hyo Ra menjawab, “tetangga baruku sekaligus senior baruku sekarang. Benar kan, eon?”

Sulli tersenyum kecil lalu mengangguk.

“Jagi, Sulli eonni sekelas denganmu. Jadi mulai sekarang dia temanmu juga. Ayo kenalan!” ujar Hyo Ra.

Tidak ada respon dari kedua pihak. Hyo Ra memaklumi keadaan canggung seperti ini. Minho memang tipe orang yang cuek dan tidak pandai bersosialisasi. Dulu saja, sewaktu belum berpacaran, sikap Minho sangat dingin dan terkesan angkuh padanya. Tapi ada apa dengan Sulli? Menurut Hyo Ra, Sulli bukanlah orang yang kaku seperti ini.

Merasa keadaan saat ini begitu canggung, Minho mencoba untuk mengenyahkannya. Ia memberikan hadiah yang ada ditangannya, untuk Hyo Ra. “Ini hadiah untukmu. Mian aku baru memberikannya sekarang.” Ia tersenyum lembut. “Kuharap kau suka.”

Hyo Ra menerima kotak mungil itu lalu membukanya. Ternyata Minho menghadiahkannya sebuah kalung, dengan bandul berbentuk bintang berwarna perak. Hyo Ra tersenyum cerah lalu memeluk Minho. “Gomapta. Aku suka.”

Minho membalas pelukan Hyo Ra. Namun, pandangannya tertuju pada Sulli. Sulli pun sedang menatap Minho. Situasi seperti ini tak seharusnya terjadi. Minho tahu itu, makanya ia segera mengalihkan pandangannya.

***

      Bel pulang sekolah berbunyi. Sulli terpaksa pulang sendiri, karena hari ini Hyo Ra harus mengikuti kegiatan ekskul. Tapi sepertinya sekarang, Sulli sudah tidak sendirian lagi. Tiba-tiba mobil sedan berwarna merah gelap berhenti di sampingnya. Kaca mobil bergerak turun, sehingga memperlihatkan seseorang dibalik setir kemudi. Nafas Sulli tercekat begitu sadar siapa pemilik mobil ini. Minho.

“Naiklah. Ada yang mau kubicarakan denganmu,” ujar Minho, tanpa menatap Sulli sedetikpun. Namun Sulli tidak mengiyakan perintah Minho. Ia justru berjalan menjauh. Dan sikapnya itu membuat Minho terpaksa turun dari mobil. Laki-laki itu segera menghalangi langkah Sulli.

“Biarkan aku pergi!” seru Sulli.

“Dulu iya. Sekarang tidak.” Minho menarik tangan Sulli lalu memaksanya masuk ke dalam mobil.

Mobil pun melaju. Keheningan begitu lekat menyelimuti mereka berdua. Sulli terus menerus menundukkan kepala, sedangkan Minho serius memperhatikan jalan raya di depannya. Walaupun begitu, pikiran mereka berdua tertuju pada satu arah. Masa lalu.

“Sedang apa kau di Seoul?” kata-kata itu akhirnya terucap oleh Minho.

“Bukan urusanmu.” Nada bicara Sulli seolah memberi penjelasan pada Minho bahwa laki-laki itu tidak berhak mencampuri urusan pribadinya. Minho sudah tidak berhak lagi menanyakan apapun tentang dirinya seperti dulu.

“Aku tahu kau marah. Tapi aku punya alasan untuk minta maaf. Dan kau harus mendengarkan alasan itu.”

“Aku mau turun! Berhenti cepat!!!”

Mendengar permintaan Sulli yang begitu histeris membuat Minho terpaksa menghentikan mobilnya dan membiarkan gadis itu pergi. Mungkin hari ini terlalu mendadak. Semuanya terjadi begitu cepat. Tapi cepat atau lambat, Sulli perlu tahu. Hyo Ra juga perlu tahu. Mereka berdua perlu tahu faktanya, kebenarannya.

***

      Malam ini, Hyo Ra dan Minho berbaring di atas rumput hijau seraya memandangi bintang di langit. Mereka berdua sudah biasa melakukannya, namun malam ini terasa berbeda. Daritadi Minho hanya menanggapi omongan Hyo Ra dengan tersenyum. Tidak ada sepatah katapun yang ia katakan. Tapi, sekarang saatnya Minho mengucapkan sesuatu.

“Hyo Ra…” ujarnya.

Hyo Ra menatap Minho. “Ada apa? Akhirnya kau bicara juga. Aku bosan darita-”

“Kurasa sudah saatnya kau menepati janjimu.” Minho memotong kata-kata Hyo Ra.

Dan seketika gadis itu terdiam bagai patung. Ucapan Minho membuat hatinya begitu sakit, sesak. Ia tak menyangka Minho akan berkata seperti itu. Padahal segalanya sudah berjalan sempurna. Padahal ia kira Minho sudah merubah perasaannya. Tapi sekarang kenapa Minho menagih janji 2 tahun yang lalu? Apa penyebabnya? Apa mungkin… perempuan itu sudah kembali?

2 tahun yang lalu adalah awal pertemuan Hyo Ra dan Minho di sekolah. Sejak pertama kali bertemu, Hyo Ra tahu ia menyukai Minho. Namun sulit sekali untuk mendapatkan perhatian dari Minho, karena Minho selalu bersikap dingin dan terkesan menjauh. Hyo Ra tetap berusaha membuat Minho menyukainya. Sampai suatu hari Hyo Ra berani membela Minho saat laki-laki itu dihajar habis-habisan oleh sekelompok pemain basket jalanan. Hyo Ra berteriak meminta tolong sehingga banyak orang yang datang dan akhirnya berhasil menghentikan penyerangan itu. Namun beberapa hari setelahnya, para pemain basket yang menyerang Minho kembali beraksi dan kali ini berbalik menyerang Hyo Ra. Mereka kesal karena gadis itu menggagalkan usaha mereka untuk menghabisi Minho, sang musuh bebuyutan. Tidak segan mereka menyerang Hyo Ra secara fisik. Untung saja Minho segera datang dan menghajar mereka. Untung jumlah mereka hanya 3, jadi Minho masih bisa melawan dan mengalahkan mereka semua.

Hyo Ra segera dilarikan ke rumah sakit dan di rawat selama sebulan lebih. Ia mengalami patah tulang kaki karena benturan keras dikakinya. Lalu kepalanya juga mengalami luka yang cukup parah karena dihantam oleh tongkat baseball. Kondisinya benar-benar kacau, tapi gadis itu masih tetap tersenyum dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak mau membuat Minho merasa bersalah.

“Mianhae…” kata-kata itu terus terucap oleh Minho. “Aku bersedia melakukan apapun yang kau mau.”

Hyo Ra tersenyum. “Benarkah? Kalau aku meminta Sunbae untuk menjadi pacarku, apa Sunbae mau?” Sebenarnya ungkapan itu hanya sebuah candaan. Canda yang benar-benar ia harap untuk terwujud, namun ia yakin tak akan terjadi.

Minho menganggapnya serius. “Aku tidak bisa.”

Hyo Ra tersenyum kecut. Ia sudah tahu Minho akan berkata demikian. “Kenapa? Ada wanita lain yang Sunbae cintai?”

Minho enggan menjawab. Tapi keterdiaman Minho seolah membenarkan pertanyaan Hyo Ra. Dan Hyo Ra pun tersenyum pasrah. “Kenapa Sunbae tidak bersamanya?”

Minho diam lagi. Namun ia tak sanggup melihat sorot mata sedih itu. Minho sadar, mengajukan pertanyaan seperti itu menyakitkan bagi Hyo Ra. Minho akhirnya menjawab. “Dia pergi. Aku tidak bisa menemukannya. Sebelum pergi, dia mengutarakan perasaannya padaku. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku juga mencintainya. ”

Hyo Ra menatap Minho sungguh-sungguh. “Aku mau menggantikan posisi wanita itu.”

“Maksudmu?”

“Aku akan menjadi pacar Sunbae sekarang. Tapi setelah wanita itu kembali, aku akan pergi. Aku janji.”

“Tidak! Tidak boleh!” Minho langsung menolak. Lagipula, ia tidak mau menyakiti hati Hyo Ra. Hubungan seperti itu tidak akan berakhir bahagia. Dan Minho tidak mau membuat gadis ini menangis karenanya.

Tapi tekad Hyo Ra sudah bulat. Ia bahkan meyakinkan Minho bahwa ia akan baik-baik saja walau suatu saat nanti Minho pergi. Tapi tetap saja, ini menyakitkan. Ini tidak benar. Minho tidak boleh memperlakukan Hyo Ra seperti ini.

1 bulan berlalu. Dan pada akhirnya Minho mau menjadikan Hyo Ra sebagai pacarnya. Itu karena Hyo Ra tidak berhenti untuk mengajukan permintaan itu. Setiap kali Minho bertanya; “bagaimana aku membalas kebaikanmu?” Hyo Ra selalu menjawab; “jadikan aku sebagai pacarmu.” Walau Minho merasa bersalah karena menjadikan Hyo Ra sebagai pacarnya, tapi Minho sedikit menaruh harapan pada gadis itu. Ia sangat berharap kalau Hyo Ra bisa membantunya melupakan seseorang di masa lalu.

Hari demi hari berlalu dan hubungan mereka semakin baik. Minho sempat yakin bahwa ia bisa melupakan Sulli. Tapi keyakinan itu hancur setelah Sulli kembali datang. Hubungan Hyo Ra dan Minho harus berakhir. Segalanya…sia-sia?

“Jadi wanita itu telah kembali?” tanya Hyo Ra lirih. Namun entah kenapa ia memaksakan sebuah senyuman.

Minho mengalihkan pandangannya. Ia tak sanggup melihat sorot mata itu. Ia tak sanggup melihat senyuman yang sengaja menutupi kesedihan itu. Ia sadar betapa egoisnya dia. Betapa jahatnya dia karena telah menyakiti Hyo Ra. Ia selalu membuat Hyo Ra sakit. Dulu dan sekarang selalu sama.

“Gwaenchana, oppa. Baiklah, aku akan menepati janjiku.” Air mata Hyo Ra menetes. Ia sudah menahan air mata itu, tapi kenapa masih jatuh? Sebanyak itukah air mata yang terbendung sejak tadi, sehingga tak dapat tertahan lagi?

“Mulai sekarang kita putus,” ucapnya lirih. Ia memeluk Minho, menangis dalam pelukan itu. Ia sadar ini adalah pelukan perpisahan. Mungkin ia tidak akan bisa memeluk Minho lagi. Mungkin ia tidak akan bisa menatap Minho seperti dulu lagi. Semuanya tidak akan sama.

“Hyo Ra…” ucapan Minho terhenti. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia jahat.

“Semoga kau bahagia dengannya.” Hyo Ra melepas pelukannya lalu pergi. Ia mendekap mulutnya, menahan agar tidak menangis lebih keras. Ia ingin berteriak. Merutuk betapa bodohnya ia karena yakin bahwa Minho telah berubah. Ia pikir, Minho benar-benar menyukainya. Tapi ia salah. Sejak awal semuanya memang salah. Minho bukan miliknya.

Kenapa hatinya terasa begitu sakit? Kenapa nafasnya begitu sesak? Dan kenapa kakinya begitu sulit untuk berlari?

Hyo Ra berhenti lalu menatap kalung yang melingkar di lehernya. Kalung bintang pemberian Minho. Bintang yang kini telah mati, tak bersinar lagi. Bintang yang kini telah pergi dan sulit untuk kembali. Hyo Ra melepas kalung itu dan membuangnya. Seperti halnya ia melepas Minho dan mencoba untuk menghapusnya. Sulit. Namun harus.

***

      Minho menatap kalung bintang yang tadi ia pungut di jalan––kalung milik Hyo Ra. Sepertinya kalung ini dibuang. Andai ia bisa, ia akan berusaha untuk melupakan masa lalu. Tapi ternyata ia tidak sekuat itu. Ia ingin sekali meminta maaf, ratusan atau bahkan ribuan kali, kepada Hyo Ra. Ia akan melakukannya jika itu bisa membuat perasaan Hyo Ra lebih baik.

***

      Sulli tidak tega melihat kondisi Hyo Ra. Walaupun gadis itu tersenyum, namun tampak jelas bahwa ia tidak sedang baik-baik saja. Ada masalah yang ia sembunyikan. Tapi Sulli tidak tahu masalahnya, karena Hyo Ra tidak bercerita. Yang Hyo Ra lakukan hanya mengurung diri di rumah. Kalaupun bertemu, Hyo Ra hanya tersenyum lalu pergi.

Sulli akhirnya mengajak Minho bertemu. Entah kenapa ia berpikir bahwa Minho lah yang menyebabkan Hyo Ra seperti itu. Dan ia berfirasat bahwa, secara tidak langsung, ia juga terlibat dalam hal ini.

“Ada apa dengan Hyo Ra?” tanya Sulli langsung ketika melihat Minho.

Minho tidak terkejut dengan pertanyaan itu. “Kami putus.”

“Kenapa?”

“Karena…” Minho terdiam sejenak. Terbesit sebuah keraguan. “Aku mencintaimu.”

Sulli terdiam. Ia tidak habis pikir Minho akan berkata seperti itu. Sejak dulu, memang itu yang ingin ia dengar dari mulut Minho. Tapi ia tidak mau hal seperti itu terucap di saat keadaan serumit ini. Ini salah!

“Kau bohong! Kenapa kau berpacaran dengannya kalau kau mencintaiku?!”

“Aku yang memintanya…” Tiba-tiba Hyo Ra muncul. Seperti biasa, ia selalu tersenyum dan bersikap santai. “Kalian seharusnya bersatu, bukannya bertengkar seperti ini.”

Sulli dan Minho hanya bisa menatap Hyo Ra dengan perasaan bersalah. Tapi Hyo Ra menatap mereka begitu hangat dan bersahabat. Atau mungkin itu hanya topeng saja? “Sudahlah. Besok aku ingin lihat kalian akur. Karena besok adalah hari terakhirku di Seoul.”

“Kau mau kemana?” sergah Minho.

Tapi Hyo Ra hanya menjawabnya dengan senyuman. Kemudian ia menatap Sulli. “Eonni, mianhae. Bukan Minho oppa yang salah, tapi aku. Aku yang memaksanya untuk menjadi pacarku. Dari dulu, aku sadar kalau dia tidak bisa melupakanmu. Tapi aku terus membohongi diriku dengan meyakini bahwa Minho oppa telah melupakanmu.” Hyo Ra menyeka air matanya. “Tenang saja, aku tidak akan menangis lagi. Berjanjilah untuk bahagia bersamanya. Janji?”

Sulli mengangguk, ragu. Ia memeluk Hyo Ra. “Mianhae…”

Hyo Ra melepas pelukannya lalu menghampiri Minho. Ia menatap laki-laki itu. Tak menyangka bahwa mengatakan ‘selamat tinggal’ kepadanya adalah hal tersulit yang harus ia lakukan. Menatapnya merupakan hal menyakitkan yang pernah ia rasakan. Dan melepasnya adalah rasa sakit yang kian membekas dan sulit untuk hilang.

“Jaga Sulli eonni ya. Kau harus berjanji padaku, bahwa kau tidak akan pernah membuatnya kecewa. Kau tidak boleh membuatnya menangis. Janji?” Hyo Ra tahu suaranya begitu serak. Ia sulit mengucap kata-kata itu.

Minho menatap manik mata Hyo Ra. Tatapan yang seakan memiliki arti bahwa ia tidak mau Hyo Ra pergi. Ia tidak mau kehilangan Hyo Ra. Bibirnya seakan terkunci rapat, tak mau menjawab janji itu. Namun pada akhirnya Minho mengangguk. Anggukan yang berarti bahwa ia telah berjanji pada Hyo Ra untuk membahagiakan Sulli. Dan entah kenapa, sudut pandang Minho mulai merasakan adanya perubahan.

***

3 tahun kemudian…

Minho menatap kalung bintang yang seharusnya dipakai oleh Hyo Ra sampai saat ini. Ingin rasanya ia menemui Hyo Ra, memberikan kalung ini, lalu mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu. Lalu memulai hidup baru bersama.

Tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi. Mungkin kedatangannya hanya akan membuat Hyo Ra kembali pada masa lalu. Dan mengungkit masa lalu, selalu mengingatkan Minho akan janjinya dulu, pada Hyo Ra. Janji untuk membahagiakan Sulli. Janji untuk tidak membuat Sulli menangis.

3 tahun yang lalu, setelah mendengar kabar bahwa Hyo Ra pindah ke Inggris, membuat Minho menyadari sesuatu yang samar. Mengetahui sebuah perasaan terhadap Hyo Ra yang telah tumbuh, namun belum ia kenali dulu. Perasaan kehilangan membuat Minho sadar bahwa selama ini ia menyayangi Hyo Ra. Minho akhirnya sadar bahwa perasaannya pada Sulli hanyalah masa lalu yang telah memudar, bahkan terhapuskan oleh kehadiran Hyo Ra. Saat melihat Sulli waktu itu, perasaan yang Minho rasakan adalah perasaan bersalah. Ia merasa bersalah karena ia dengan mudahnya melupakan Sulli. Itulah sebabnya ia tetap meyakinkan dirinya bahwa ia masih mencintai Sulli. Perasaan bersalah itu telah menutup hatinya untuk menyadari bahwa ia mencintai Hyo Ra.

Namun kini, mencintai Hyo Ra adalah sebuah keterlambatan. Ia tidak mungkin kembali pada Hyo Ra setelah ia menyakiti hati gadis itu. Jadi, walaupun tidak berakhir bahagia, setidaknya Minho tahu akan satu hal. Ia dapat merasakan apa yang Hyo Ra rasakan waktu itu, saat Hyo Ra menepati janjinya untuk melepaskan Minho dan menyerahkannya pada wanita lain.

Seperti karma, sekarang giliran Minho yang melakukan hal itu. Ia harus menepati janjinya pada Hyo Ra. Walau menyakitkan, ia harus melakukannya, seperti apa yang Hyo Ra lakukan dulu. Minho akan mencoba untuk menerima Sulli. Walaupun ia tahu, akan sulit rasanya untuk berpura-pura tersenyum dan mengatakan cinta pada orang yang sama sekali tidak ia cintai.

Ia harus melepaskan Hyo Ra, wanita yang ia cintai. Kenapa mencintai seseorang terasa begitu sulit?  Kenapa begitu sakit?

“Maafkan aku Hyo Ra. Aku bodoh, karena aku baru menyadarinya sekarang. Dan aku bodoh, karena telah membiarkanmu menangis.”

***

      Hyo Ra menatap sebuah undangan pernikahan di atas meja kerjanya. Kalau melihat tanggal pernikahannya, berarti acara itu telah berlangsung 1 bulan yang lalu. Tapi Hyo Ra tidak menghadiri acara itu. Ia tidak bisa.

Ia tidak mau Minho menatap matanya lagi. Karena saat laki-laki itu menatap matanya, entah bagaimana lagi ia dapat menahan perasaan yang sesungguhnya. Ia tak dapat mengelak. Ia tak dapat berpura-pura untuk melepaskan laki-laki itu begitu saja.

Setelah ia pikir-pikir, kenapa ia tidak membuang undangan pernikahan itu?

Hyo Ra menghela nafas panjang. Setidaknya ia harus mempersiapkan diri dari sekarang, karena besok ia akan kembali. Ia akan pulang ke Seoul. Entah apa yang akan terjadi jika ia melihat Seoul. Yang pasti, keadaannya akan jauh berbeda. Kecuali perasaannya. Tetap sama.

***

      Untuk pertama kalinya, sejak 3 tahun yang lalu, Hyo Ra menginjakkan kakinya di Seoul. Kenangan manis dan pahit silih berganti terproyeksikan dalam sebuah ingatan. Kenangan pahit yang paling mendominasi pita rekaman memori itu. Bahkan suasana bandara yang begitu ramai tidak dapat menyandingi suasana sepi yang gadis itu rasakan saat ini. Sebuah rasa kehilangan yang kosong dan sunyi.

Bertemu dengan Minho mungkin cara yang terbaik untuk mengisi rasa hampa itu. Tapi jika dipikir ulang, bertemu dengan laki-laki itu sama saja dengan merubuhkan segala benteng pertahanan yang susah payah Hyo Ra bangun selama ini. Semuanya akan kembali seperti semula. Ia akan kembali mengingat dan berharap pada Minho––laki-laki yang saat ini sudah resmi menjadi suami wanita lain. Cara itu segera Hyo Ra singkirkan jauh-jauh dari benaknya. Biarkan saja seperti ini rasanya. Biarlah sakit ini yang terasa.

“Hyo Ra-sshi!” seru seorang wanita dari kejauhan. Ia melambaikan tangannya pada Hyo Ra antusias.

Hyo Ra menganggukkan kepalanya lalu tersenyum cerah begitu mendapati siapa yang memanggilnya. Wanita itu adalah sahabatnya, Choi Sooyoung. Sooyoung memang sengaja menjemput Hyo Ra di bandara. Ia rindu sekali pada sahabat karibnya itu. Sudah 3 tahun tidak bertemu tentunya terasa sangat lama. Walaupun mereka berdua masih sering berbincang lewat email atau video call, rasanya tidak seru kalau tidak bertemu langsung.

“Kyaa!! Akhirnya kau kembali juga!!” seru Sooyoung seraya memeluk Hyo Ra.

Hyo Ra hanya tertawa. Sahabatnya ini memang tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu saja heboh dan tidak tahu malu. Sampai-sampai teriakannya saja membuat beberapa orang memperhatikan mereka berdua. “Ya! Sooyoung! Kau ini selalu saja membuatku menjadi pusat perhatian orang!” canda Hyo Ra. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak lalu berjalan riang menuju salah satu café bandara.

“Kau mau pesan apa?” tanya Hyo Ra begitu mereka duduk di salah satu bangku café.

“Latte saja. Kau yang traktir kan?” Sooyoung tersenyum penuh harap.

Hyo Ra tertawa. “Iya, iya. Kutraktir cheesecake juga.”

“Waaah beruntung sekali aku punya teman yang dermawan sepertimu.”

Sekali lagi Hyo Ra tertawa. Ternyata bertemu dengan Sooyoung bisa membuatnya kembali tertawa seperti ini.

Selagi Hyo Ra pergi untuk memesan, Sooyoung menghubungi seseorang.

“Yoboseyo, Minho-sshi?”

Di seberang sana, Minho tersenyum. “Ne. Dia sudah sampai ya?”

“Sudah. Sekarang dia bersamaku. Kau benar-benar tidak mau ke bandara sekarang?”

“Akan lebih baik kalau aku tidak ke sana. Ini untuk kebaikan Hyo Ra.”

“Tapi kau kan sudah membatalkan pernikahanmu dengan Sulli. Bukankah sebaiknya Hyo Ra tahu semua itu?”

“Tidak usah. Aku tidak mau Hyo Ra tahu kalau aku mengingkari janji.”

“Eh? Janji?”

“Sudahlah, lupakan. Terima kasih, Sooyoung-sshi. Kau baik sekali mau membantuku.”

“Padahal aku berharap sekali kalian bisa bersama lagi.”

Di seberang sana, Minho hanya tersenyum. Ia pun mengharapkan hal yang sama. Tapi entah hal itu akan terjadi atau tidak. Waktu yang akan menjawabnya.

Sambungan telpon pun usai begitu Hyo Ra kembali. Raut wajah Sooyoung berubah serius. Ia ingin menanyakan satu hal. “Hyo Ra, kau masih menyayangi dia?”

Dan seketika raut wajah Hyo Ra berubah, tidak secerah tadi. “Dia? Siapa?”  Hyo Ra bertanya. Tapi sungguh, ia tahu siapa yang Sooyoung maksud. Ia hanya mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan itu.

Sooyoung menyadari reaksi Hyo Ra yang terkesan menghindar. “Maksudku Minho. Kau…masih menyayanginya, kan?” Ia memperjelas ucapannya.

Hening. Hyo Ra tidak langsung menjawab.

Di sisi lain café, Minho turut menunggu jawaban dari Hyo Ra. Sudah sejak tadi laki-laki itu berada di sana. Mengamati Hyo Ra dan sangat ingin menghampirinya. Ingin berlari ke arah gadis itu lalu memeluknya. Mengatakan sesuatu yang seharusnya ia katakan sejak dulu.

Minho berbohong pada Sooyoung. Ia sebenarnya datang ke bandara. Ia hanya tidak mau orang lain tahu. Ia tidak mau Hyo Ra mengetahui keberadaannya. Mungkin saja Hyo Ra sudah berubah. Mungkin saja gadis itu sudah membencinya. Mungkin untuk saat ini, memperhatikan Hyo Ra diam-diam adalah jalan yang terbaik. Ya, untuk saat ini.

“Perasaanku tidak pernah berubah padanya,” ujar Hyo Ra. Dan Minho tersenyum begitu mendengar pernyataan itu.

“Tapi sudahlah, lupakan saja. Dia sudah bahagia dengan wanita lain.” Hyo Ra tersenyum. Minho tahu senyuman itu untuk menutupi kesedihan. Senyuman yang sama seperti dulu.

Sooyoung akhirnya memutuskan untuk memberitahu Hyo Ra bahwa Minho dan Sulli tidak jadi menikah. “Sebenarnya Minho dan Sulli-” Ucapannya terpotong begitu ia mendengar ponselnya berdering. Telpon dari Minho.

“Jangan katakan padanya tentangku dan Sulli,” ucap Minho begitu Sooyoung mengangkat telpon.

“Kenapa?” tanya Sooyoung gemas. Walau sekarang ia sedikit berbisik, tapi ingin rasanya ia meneriaki Minho. Tiba-tiba Sooyoung menyadari sesuatu yang janggal. “Eh? Tunggu! Bagaimana kau tahu aku akan mengatakan itu padanya?”

Tidak ada jawaban dari Minho.

“Kau di sini kan?! Ayo mengaku! Cepat katakan padaku dimana kau sekarang!” bentak Sooyoung. Ia ingin sekali mempertemukan Minho dan Hyo Ra. Agar semua pertanyaan di antara mereka berdua memiliki jawaban.

Sooyoung memberikan ponselnya kepada Hyo Ra. Ia memaksa Hyo Ra untuk berbicara. Sementara itu, Hyo Ra menerima ponsel Sooyoung dengan heran. Karena Sooyoung memaksa, akhirnya Hyo Ra menurut.

“Yoboseyo?” ujarnya. Tapi tidak ada yang menjawab. Hyo Ra ragu dan ingin mengembalikan ponsel itu pada Sooyoung. Tapi Sooyoung melotot, memaksanya untuk tetap berbicara dengan seseorang di telpon itu.

“Yoboseyo?” ujar Hyo Ra lagi.

Di seberang sana, Minho bukannya tidak mendengar. Ia mendengar dengan jelas siapa yang sedang berbicara dengannya kali ini. Tapi ia tidak cukup berani untuk mengatakan sepatah katapun. Aku merindukanmu, Hyo Ra. Sungguh. Aku sangat merindukanmu.

“Kututup ya telponnya,” ucap Hyo Ra tidak sabar.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar. “Jangan ditutup. Aku masih ingin mendengar suaramu.”

Suara ini jelas masih dikenali oleh Hyo Ra. Dan saat ini jantung Hyo Ra berdebar cepat. Sudah lama sekali ia ingin mendengar suara ini.

“Apa kabar?” suara Minho kembali terdengar.

Hyo Ra ingin menjawab, tapi kenapa suaranya tidak bisa keluar?

“Mianhae…” ucap Minho. “Kau boleh marah padaku. Itu hakmu. Tapi aku ingin kau tahu bahwa…” Minho terdiam.

Hyo Ra menunggu kata-kata Minho selanjutnya. Kenapa tiba-tiba laki-laki itu diam? Apa yang mau ia katakan?

Dalam keterdiaman itu, Hyo Ra masih menaruh harap. Tidak muluk, ia hanya berharap bahwa apa yang Minho katakan nantinya tidak akan membuat hatinya sakit lagi. Sudah cukup.

“Aku mencintaimu, Hyo Ra.” Suara itu membuat Hyo Ra menoleh.

Kini Minho telah berdiri dihadapannya. Kedua mata itu saling bertemu, setelah sekian lama tak saling memandang. Saling bertukar perasaan, walaupun tak terucap oleh kata.

Seakan tak percaya oleh kata-kata yang baru ia dengar, Hyo Ra tidak memberi tanggapan. Ia hanya terpaku menatap Minho. Tak menyangka ia bisa sedekat ini lagi dengannya.

“Saranghae…” Minho menarik Hyo Ra dalam pelukannya. Erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Tak ingin membiarkan gadis itu pergi darinya lagi. “Kumohon, jangan pernah menyuruhku untuk meninggalkanmu. Karena aku tidak bisa melakukan itu.”

Hyo Ra terperangah. Ia hanya terdiam dalam pelukan itu. Ia merasa begitu nyaman dan hangat. Ia dapat mendengar detak jantung Minho. Ia dapat merasakan eratnya pelukan ini. Dan ia menyadari bahwa air matanya jatuh lagi. Kali ini berbeda. Ia menangis karena bahagia. Karena Minho mencintainya. Karena Minho membutuhkannya.

Minho melepas pelukannya begitu menyadari bahwa Hyo Ra menangis. Ia menghapus air mata itu lembut, dengan jemarinya. “Aku membuatmu menangis lagi?” suara Minho bergetar. Perasaan bersalah itu muncul. Membuat Hyo Ra menangis sepertinya telah menjadi keahlian tersendiri baginya.

“Mianhae…”

Tiba-tiba Hyo Ra mencubit pipi Minho. “Ya! Kau ini minta maaf terus! Aku ini menangis bahagia!” Hyo Ra tersenyum disela tangisnya. Kali ini Minho bisa melihat bahwa ia dapat membuat Hyo Ra tersenyum. Senyuman itu begitu tulus dan entah bagaimana bisa membuat hatinya begitu damai, nyaman.

“Aku tidak bisa menepati janjiku padamu,” ucap Minho tiba-tiba.

Hyo Ra menatap laki-laki itu heran. “Janji apa?”

“Aku tidak bisa membahagiakan wanita yang tidak kucintai. Dan aku tidak bisa memaksa diriku untuk mencintainya.”

Sekarang Hyo Ra tahu apa yang Minho maksud. Pasti Sulli.

“Lalu Sulli eonni bagaimana? Apa yang terjadi dengan…” Hyo Ra terdiam. Rasanya sulit mengucapkan satu kata itu. “Ehm…bagaimana dengan pernikahan kalian?”

Minho menatap Hyo Ra. Tatapannya serius. “Untuk sekarang, jangan bahas itu dulu. Kumohon…”

Hyo Ra mengangguk ragu. Walau sebenarnya ia masih bingung dengan apa yang telah terjadi.

Minho melangkah lebih dekat, kali ini hanya menyisakan sedikit sekali jarak di antara mereka berdua. Ia memberikan sebuah kecupan hangat di kening Hyo Ra.

Pipi gadis itu memerah. Jantungnya berdebar keras. “Jangan pernah pergi lagi dariku.”

Minho tersenyum penuh arti. “Tidak akan pernah.”

-TBC-

Comment ya teman-teman ^^ Ini titipan teman saya!  Bagus ya ? Gak kaya punya aku wkwk. Oke comment ditunggu^^

Maaf -_- aku kira ini oneshoot tapi ternyata twoshoot wkwkwk #tabok

Oke tunggu kelanjutannya ya ^^

Kalau teman aku udah ngirim entar aku post ^^

COMMENT ~~ RCL !! WAJIB

11 responses

  1. Omo bagus banget..
    Kagum sama pengorbanan hyo ra, sempet nangis juga bacanya..
    Aku kira ini oneshoot, tapi masih tbc..
    Di part 2 nyeritain ttg pembatalan nikah minho sama sulli kali ya..
    Semoga happy end buat semua pihak..
    Ditunggu lanjutannya🙂

  2. Minho gk konsisten gitu sih????
    Kan kasihan si Hyora ma sulli diskitin hati ny. /nahan air mata\

    Tp critany bagus banget.. bahasany, alurny, daebak lah !!!! hehe

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s