MIANHAE, SARANGHAE

Author            : CIEt  a.k.a Ditha Runita

Cast    : Yesung, Hyo Chan

Rating            : PG 15

Genre : Romance, Fantacy

Disclaime      : Semua cerita asli punya aku and Yesung punya ELF

Hyo Chan POV

Matakau seakan terpaku menatap namja di hadapanku ini. Namja yang beberapa waktu ini menyita seluruh perhatianku. Aku sungguh bingung dengan diriku sendiri bagaimana bisa aku terpesona oleh namja biasa sepertinya. Namja yang selalu datang ke tempat ini dengan rambut berantakan seperti tidak pernah tersentuh oleh sisir. Tapi karena rambut kusutnya lah aku bisa mengenalinya dari jarak seperti ini. Dan lagi-lagi aku terhipnotis mendengar dentingan piano yang ia mainkan. Yah, dia memang pianis di café ini. Sejujurnya aku tidak pernah melihat wajah namja ini secara sempurna. Aku hanya dapat menatap wajahnya dari samping saja. Tapi aku selalu dan selalu saja terhipnotis oleh wajah itu, wajah yang terlihat begitu bahagia ketika jari-jari indahnya menyentuh tuts-tuts piano di hadapannya.

Aku tau perasaan ini tidak seharusnya ada. Tapi aku sungguh tidak bisa menahan perasaan ku sendiri. Tidak mendengar dentingan pianonya sehari saja sudah mampu membuat seluruh organ tubuhku kacau. Aku sudah sangat berusaha menolak kedatangan cinta di hatiku tapi ternyata ia datang dengan kekuatan yang lebih besar dari diriku sendiri. Cinta yang hadir kali ini seakan kebutuhan yang sudah tidak mampu ku tolak lagi. Padahal cinta itulah petaka bagiku.

Yah, cinta memang petaka bagiku. Bagiku yang seorang “Vidiss” bukan manusia. Kehidupanku bergantung pada cinta. Aku hidup abadi di dunia ini selama aku masih bisa menghisap cinta di hati setiap manusia yang berlalu lalang di hadapanku. Ini tidak sesepele yang kalian bayangkan, ketika aku menghisap cinta dari diri manusia maka manusia itu seakan hidup tanpa nyawa. Ia masih bisa bergerak melakukan kegiatan tapi mereka seperti robot. Hidup tanpa perasaan. Jiwa mereka telah kosong karna ku hisap cinta dari diri mereka. Dan ketika Vidiss merasakan cinta maka ia lah yang harus musnah. Cinta yang kami rasakan akan berbalik menyerang kami menghancurkan system dalam tubuh kami. Cinta yang seharusnya menjadi sumber energy akan berubah menjadi musuh terbesar bagi kehidupan seorang Vidiss.

Mungkin kalian bingung dengan penjelasanku, tapi di kehidupan manusia pun ada hal seperti ini. Apa kalian pernah mendengar istilah Leukimia? Aku yakin kalian tau penyakit ini. Penyakit kelebihan darah putih. Darah putih yang semula menjadi pelindung kalian dari serangan benda asing akan berbalik menyerang kalian karena penyakit ini. Kira–kira seperti itulah yang Vidiss alami jika ia merasakan cinta.

Dan tentang asal usul kami, aku sendiri tidak pernah tau. Kami secara tiba-tiba akan hadir di bumi ini tanpa awal. Seakan muncul tanpa sebab. Vidiss bertebaran di seluruh tempat di bumi ini. Dan kami bisa mengetahui sesama kaum kami hanya dengan menatap matanya. Seorang Vidiss memiliki mata berbede dengan manusia. Ketika seorang Vidiss menatap mata Vidiss lainnya maka akan muncul sinar keemasan dari mata mereka masing-masing. Sinar yang kami munculkan tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Keberadaan kami tidak pernah di ketahui oleh manusia karena kehidupan kami penuh dengan misteri yang tidak akan bisa di masuki oleh manusia. Ketika keberadaan kami terancam terbongkar maka kami akan melakukan berbagai cara untuk menyelamatkannya termasuk menghilangkan memori tentang kami dari ingatan manusia.

Dan sekarang entah apa yang harus ku lakukan. Cinta itu seakan datang menghampiriku melalui namja ini. Namja yang namanya saja tidak ku ketahui. Aku sudah bisa merasakan sedikit demi sedikit ragaku memudar dan akan musnah. Huh sungguh mengenaskan aku harus musnah karna cinta yang tidak pernah bisa tersampaikan. Harus musnah hanya karena cinta yang tidak pernah di ketahui dan mungkin ini akan menjadi hari-hari terakhirku di bumi yang sudah 1000 tahun ku tempati ini. Cinta memang mengerikan!

Yesung POV

Aku selalu melihat yeoja itu duduk di pojok café ini. Entah apa yang ia lakukan sehingga setiap hari berada di tempat ini. Apa tidak ada pekerjaan lain selain duduk-duduk tidak jelas di tempat membosankan seperti ini. Aku saja sudah benar-benar bosan bekerja di sini. Setiap hari memainkan lagu-lagu klasic tanpa ada yang memperhatikan. Tanpa applause dari para pengunjung. Pengunjung-pengunjung di tempat ini lebih sibuk dengan makanan mereka dari pada sedikit memberi  penghargaan pada music yang ku mainkan. Aku tidak mengharapkan pujian tapi aku hanya mengharapkan penghargaan mereka pada music bukan padaku. Jika tidak ada piano ini bisa dipastikan aku dari jauh-jauh hari sudah pindah dari café ini.

Tapi yeoja itu bebeda, seluruh perhatiannya seakan di pusatkan pada music yang ku mainkan. Membuatku sedikit bangga atas perhatiannya pada musikku. Mungkin yeoja itu tidak pernah menyadari bahwa aku selalu memperhatikannya. Yah karena aku selalu memperhatikannya dengan ekor mataku tidak pernah mampu melihatnya secara utuh. Wajahnya yang terlihat pucat seperti boneka porselin membuatku ragu untuk memandangnya secara intens. Bukan, bukan karena takut melihat  wajah pucatnya tapi karena aku selalu merasa wajah yang terlihat lemah itu akan hancur hanya dengan tatapanku saja.

Tapi kali ini wajahnya terlihat lebih pucat dari hari-hari sebelumnya. Saking pucatnya kulit yeoja itu seakan tembus pandang tapi semua itu tidak mampu untuk menyembunyikan kecantikan sempurna yang ia miliki. Bahkan tahi lalat kecil di atas matanya terlihat begitu indah di wajah yeoja ini.

Sebenarnya penyakit apa yang diderita yeoja dengan rambut sepunggung yang berhasil mencuri perhatianku selama ini? Apakah cukup parah sehingga membuatnya makin hari makin terlihat pucat? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali menghantuiku, membuat aku tidak berkonsentrasi penuh pada tuts-tuts piano di hadapanku. Sering kali aku malah memainkan nada-nada yang tercipta dengan sendirinya, tidak mengikuti note-note pada kertas yang ku letakkan di atas piano, seakan jari-jariku bergerak sendiri menekan tuts piano. Dan anehnya nada-nada yang ku hasilkan mampu menyampaikan perasaan yang selama ini tersembunyi di hatiku. Nada-nada itu seperti datang dengan sendirinya di otakku, tanpa ada yang menyusunnya. Semua hal aneh ini terjadi sejak yeoja itu datang ke café ini. Ia seolah membawa hal baru yang membuat diriku sendiri kebingungan dengan efek yang dihasilkan. Setiap menatap wajah pucatnya, aku seperti ingin terus melindungi tubuh itu. Melihat tatapan sendunya membuatku ingin mengembalikan cahayanya. Entah perasaan seperti apa yang ku alami ini, aku sendiri bingung dengan semua perasaan ini.

Hyo Chan POV

Aku mengangkat kepalaku ketika menyadari dentingan piano itu terhenti bukan pada saatnya. Aluanan music yang terhenti tidak pada akhir lagu tapi malah pada nada pertengahan yang membuat aku dan pengunjung lainnya mengalihkan pandangan kami pada stage kecil tempat namja itu selalu memainkan musiknya dengan penuh perasaan. Terbersit perasaan bingung ketika namja itu malah melangkah menuju meja pengunjung. Semua mata seolah mengikuti langkahnya tapi ia terlihat sangat tenang seperti tidak ada seorangpun yang memperhatikannya. Dan perasaan bingung itu makin menjadi-jadi saat ia berdiri tepat di sampingku. Tersenyum simpul yang membuat mata sipitnya hampir menghilang.

DEG!

Rasanya benar-benar seperti mimpi ketika aku akhirnya bisa melihat wajahnya sesempurna ini. Aku bisa melihat dengan jelas mata sipitnya, bibir tipis kemerahan, aku baru menyadari ternyata dagu namja ini agak berbelah, selama ini aku tidak pernah melihat belahan dagu itu dan satu lagi, sedikit lekukan kecil yang terbentuk di dagunya ketika ia tersenyum. Indah! Sempurna!

“Annyeong!” senyum itu tidak pernah terlepas dari bibir mungilnya membuat lidah ku kelu untuk membalas sapaannya. Suaranya benar-benar terdengar seperti alunan lagu malaikat mengalahkan keindahan dentingan pianonya yang selama ini menghipnotisku.

“Annyeong” aku membalas sapaannya ketika berhasil menguasai diriku.

“Kim Jong Woon imnida, tapi teman-temanku lebih suka memanggilku dengan Yesung. Neo?”

“Moon Hyo Chan imnida” aku berdiri dan membungkukkan badanku untuk sekedar memberi hormat padanya.

Ia menarik kursi yang berada tepat di hadapanku dan tanpa meminta persetujuanku ia duduk di sana. Sedikit geli menyadari betapa tidak memiliki sopan santunnya namja satu ini. Tiba-tiba menghentikan permainan pianonya, menghampiriku dan sekarang dengan seenaknya saja duduk di mejaku.

“Aku tidak perlu meminta izin bukan untuk menduduki kursi ini. Toh tidak ada yang memilikinya. Dan kau tidak perlu repot-repot untuk berbohong kalau kursi ini milik seseorang karena aku sudah memperhatikan mu dari awal kau ke tempat ini. Dan tidak pernah ada seorangpun datang untuk mengisi kursi ini.”

Entah mengapa aku merasa senang ketika ia mengatakan hal itu padahal kalimat itu lebih terdengar seperti sebuah pemaksaan. Ternyata selama ini ia sering memperhatikan ku dan bodohnya aku tidak menyadari hal itu.

“Aku menyukai musikmu” ucapku memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta di antara kami.

“Ne, arra. Aku sering memperhatikan mu memjamkan mata ketika mendengar dentingan pianoku. Apa sebegitu indahnya kah alunan musikku?”

Kau salah, aku tidak memejamkan mataku karena terbuai oleh dentingan pianomu. Lebih tepatnya aku melakukan hal itu agar aku tidak musnah ketika melihat wajahmu. Musnah karena cintaku yang makin menumpuk ketika melihat wajah bahagia mu.

“Ne, neomu arumdawo”

“Hyo~ya, bolehkah aku mengembalikan cahaya di matamu?”          r

DEG!

Jantungku seakan terlepas dari tempat seharusnya ia berada mendengar pertanyaan konyol yang terdengar begitu indah di telingaku.

“Aku ingin mata itu bercahaya, tidak lagi sendu seperti ini.”  Yesung menatap lekat tepat pada manik mataku.  Membuatku menunduk malu atas perlakuannya. Aku rasa mukaku sudah berubah seperti tomat ketika ia mengatakan hal itu.

Tuhan haruskah aku melepaskan hidupku untuk merasakan kebahagian ini? Apa yang harus aku lakukan. Membiarkan cinta ini makin berkembang atau menghentikannya sekarang juga sebelum semuanya terlambat. Aku bingung, haruskah aku menolak tawaran Yesung yang terdengar begitu menggiurkan ini? Separuh jiwaku menolak keras keinginanku untuk mengiyakan tawaran darinya, tapi separuhnya lagi malah mendukungku. Apa artinya hidup abadi di dunia sedangkan hatiku tetap kosong, seperti ada sesuatu yang hilang di sana. Aku membutuhkan cinta yang mampu mengisi ruang kosong yang menganga lebar di hatiku. Tapi pantaskah hidupku berakhir dengan akhir seperti ini. Merasakan cinta yang tiap detik akan makin berkembang dan menghilangkan ragaku dari bumi. Membuatku tidak akan pernah lagi menatap sosok itu. Sosok yang membutku merasakan sakit dan senang dalam waktu bersamaan.

Aku tersenyum mengiyakan tawarannya. Ternyata separuh hati kecilku lah yang memenangkan pertarungan hebat dalam batinku. Walaupun aku menolak tawaran ini toh akhirnya aku akan tetap musnah karna bukan berarti menolaknya akan membuat cinta yang ku rasakan akan menghilang. Menghindar darinya hanya akan memperpanjang waktu ku di bumi. Sama saja artinya bukan dengan mengiyakan tawaran yang aku tau akan memusnahkanku ini. Paling tidak aku memiliki setitik kenangan indah sebelum aku musnah dari kehidupan.

Yesung menggenggam tanganku, meremasnya kuat seperti menyalurkan tenaganya padaku. Ia tidak tahu bahwa perlakuannya itu sama saja dengan mempercepat waktu kemusnahanku karena setiap inci kulitnaya menyentuh kulitku akan membuatku merasa sesak akibat cinta yang makin meledak dalam diriku. Tapi aku berusaha kuat mempertahankan eksistensiku di bumi ini. Mencoba memperpanjang waktu ku bersamanya.

Yesung menarikku keluar dari café yang menjadi saksi bisu rasa cintaku padanya. Ia menuntunku melangkah menuju sebuah taman bermain yang di penuhi oleh pengunjung yang terlihat begitu bahagia.

“Kau harus mencoba yang ini!”  Yesung  menarikku ke salah satu wahana di taman bermain ini. Wahana yang cukup menantang bagiku yang tidak pernah bermain-main di tempat seperti ini, roll coster.

Aku menarik nafasku mencoba menenangkan diri menaiki wahana super menegangkan. Yesung terus menggenggam tanganku membuat dadaku terasa semakin sesak. Tapi aku tidak mampu menolak moment terpenting dalam hidupku ini.  Biarlah aku menghilang saat ini juga, selama tangannya masih tetap berada di genggamanku. Aku sudah cukup puas dengan semua ini. Aku tidak berani mengharap lebih dari pertahananku selama ini. Mungkin inilah akhir bagiku.

Aku terus memejamkan mata, takut ketika aku membukanya semua ini hanyalah mimpi.

“YHA! Buka matamu, semuanya sudah berakhir. Hah. Aku tidak menyangka kau sepenakut itu. hahahah!” aku mendengar suaranya. Masih mendengar suara malaikat itu tepat di sampingku. Perlahan aku membuka mata dan benar saja di sana aku masih menemukan wajah itu. Matanya yang benar-benar tertutup ketika menertawakanku. Aku tersenyum, tanganku reflex menyentuh wajahnya membuat Yesung terdiam dalam posisinya menghentikan tawa bahagianya.

“Ini nyata”

Yesung terlihat bingung mendengar ucapanku. Tapi aku hanya tersenyum dan melanjutkan kebahagiaanku menyadari wajah itu masih di hadapanku. Aku mengalihkan tanganku ke arah dadanya, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa jantung itu masih berdetak untukku.

“Aku tidak bermimpi”

Lagi-lagi Yesung mengangkat alisnya bingung dengan semua perkataan bodohku.

Aku menarik Yesung keluar dari roll coster yang kami naiki, kali ini biarlah aku yang menuntunya mencoba menggunakan keajaiban yang ku dapatkan dengan sebaik-baiknya. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa aku bertahan selama ini di sampingnya. Padahal aku tau ragaku sedikit-demi sedikit telah mulai mengabur, akan musnah dari bumi ini. Aku membawa Yesung ke salah satu bangku yang tersedia di taman bermain itu.

“Aku bukan manusia” aku memulai percakapan di antara kami. Yesung tersenyum meremehkan ke arahku . Aku tau akan sulit baginya mempercayai kebenaran ini.

“Aku berbeda denganmu, aku seorang Vidiss” lanjutku

“Maksudmu?”

Aku melangkah menuju salah satu tempat yang terkena langsung oleh sinar matahari. Aku merentangkan kedua tanganku. Membiarkan tubuhku terkena oleh pancaran sinar matahari.

“Apa kau bisa melihatnya?”

“Melihat apa?”

“Perhatikanlah, kau pasti akan  menemukan kejanggalan”

Yesung tanpak bingung tapi tetap menuruti perkataanku. Ia memperhatikanku dengan intens. Ia sedikit terlonjak dan aku yakin ia pasti telah menemukan kejanggalan itu.

“Yah, aku memudar. Aku akan musnah, Yesung~a. Apa sekarang kau menyadari bahwa tubuhku tembus pandang. Aku akan semakin memudar ketika cintaku makin berkembang.”

Yesung masih syok dengan kenyataan ini. Aku yakin saat ini ia pasti bingung bagaimana bisa tubuhku hanya terlihat seperti kabut yang berbentuk manusia. Cinta ini makin lama makin menggerogoti ragaku.

“Pergilah sebelum ini terlalu menyakitkan” aku berusaha menahan suaraku agar terdengar tetap tegar, padahal hatiku seakan remuk ketika mengatakan hal itu. Tapi aku harus melakukannya. Sebelum ia terlalu terluka untuk semua ini.

Yesung POV

Aku tidak percaya dengan semua perkataannya padaku. Dan aku tidak akan mampu mempercayai penglihatanku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa melihat seorang bocah yang berlarian di belakangnya tanpa terhalang oleh tubuhnya. Aku baru menyadari saat ini tubuh itu hanya seperti kabut yang berbentuk seorang yeoja. Ia menyuruhku meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. ia pikir aku namja macam apa yang membiarkan yeoja yang paling dicintainya musnah begitu saja. Aku melangkah mendekatinya. Berdiri tepat di hadapan Hyo Chan.

Ia mengangkat wajahnya yang semula menunduk pasrah. Aku melihat titik bening itu mengalir di pipinya. Ku hapus cairan itu dari wajahnya  dan menggenggam tangannya erat. Aku masih bisa merasakan bentuknya. Ia hanya memudar, tapi eksistensinya di bumi ini masih bisa ku rasakan.

Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya yang terlihat begitu pucat, tapi aku bisa melihat cahaya itu di mata sendunya. Cahaya yang ingin ku kembalikan walau hanya sedetik.

“Mianhae, Saranghae!” aku mempersempit jarak wajahku dengannya. Menundukkan wajahku mencapai bibir mungil yang terlihat begitu pucat. Mengecupnya, membiarkan bibirku merasakan keberadaannya. Tanpa melakukan apapun. Kami terdiam dalam posisi kami masing-masing. Membiarkan perasaan kami yang bermain, bukan nafsu. Aku makin mengeratkan genggaman tanganku padanya, mencoba menahan agar ia tidak pergi dariku. Selalu di sampingku.

Semakin lama aku  merasakan genggamanku makin melonggar  dan bibirnya terasa makin mengabur dari bibirku. Aku terus mencoba mengeratkan genggamanku lebih kuat lagi tapi aku sadar, makin lama ternyata tangan  itu telah menghilang begitu pula dengan bibir ku yang ku  tau saat ini hanya menempel di udara. Air mataku menetes begitu saja.

Apakah sesingkat ini?

~3nd~

Fiuuhhh!

Akhirnya selese juga ni ff geje. Aku bingung banget sebbenarnya waktu bikin ni ff, gak tau mesti bikin ceweknya kaya gimana. Jadi nya  terciptalah makhuluk aneh bin ajaib,kkkk

Btw sebenernya author pengen bikin ni ff jadi ber part gitu dah, tapi berhubung otaknya author Cuma otak one shoot yah mw gimana lagi. (>,<)

Jadi mohon dukungannya ya^^  *Bow*

27 responses

  1. Huwewewe,,,,FFnya singkat tapi mengena banget ceritanya. seharusnya ini dijadi’in FF berseri trus ada beberapa cast,,,, pastiii serUUu gtu. Genre fantasi,,,,sukaaa bangetttttt.
    Ditha Runita yah,,,,,,,,Anyeong Ditha. FFnya bagus banget. Lanjut b’karya yah.^_^

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s