Fact and Fiction [2/2]

Title : Fact and Fiction [2/2]

Author : Ratih

Main Cast : Choi Hyo Ra (OC), Choi Minho (SHINee), Choi Sulli ( f ( x ) ), Cho Kyuhyun (Super Junior)

Genre : Romance

Type: Twoshoot

Rating : PG-15

FACT AND FICTION

“Ada yang datang dan pergi; dicintai dan mencintai; menerima dan melepaskan.”

Hyo Ra kembali ke Seoul bukan untuk menetap, tetapi hanya untuk melepas rindu dan mengenang masa lalu. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Ada seseorang yang menjadi alasan baginya untuk tetap tinggal, seperti dulu. Menempati rumahnya yang minimalis, melakukan segala sesuatunya sendirian, dan bertetangga dengan Sulli. Ya, dengan wanita itu. Lama ia tak mendengar kabar tentangnya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan itu? Kenapa bisa batal?

      “Jadi bagaimana?” Minho bergumam.

      Hyo Ra menerawang ke langit. Malam ini, seperti biasa, mereka berdua berbaring di atas rerumputan hijau. Memandang bintang bersama. Memulai segalanya lebih baik.

      “Yah aku tetap akan kembali ke Jersey. Tidak mungkin tiba-tiba saja aku memutuskan untuk meninggalkan karirku di sana.”

      Minho mencoba mengerti. Tapi, kalau boleh jujur, Minho ingin Hyo Ra tetap di Seoul.

      “Bagaimana kalau kau ikut aku ke Jersey?”usul Hyo Ra asal.

      Minho tertawa. “Kau bercanda ya?”

      Gadis itu tersenyum, namun raut wajahnya meminta sebuah jawaban.

      “Aku tidak keberatan. Tapi, jangan sekarang. Aku sedang…yah…mengurus proyek di Jeju.”

      “Bisnis perhotelan itu, ya?” Hyo Ra menerka. Dan Minho mengiyakan dengan sebuah anggukan. Minho memang sedang menjalankan sebuah proyek besar yang sangat menentukan kemajuan perusahaan perhotelan peninggalan kakeknya.

      “Ya sudah, bagaimana kalau kita ke Jeju saja? Kau mau kan?” Hyo Ra memasang tampang memelas andalannya. Dan Minho tertawa karenanya.

      “Baiklah. Mau berapa lama? Setahun? Dua tahun? Atau selamanya?” canda Minho. Segera saja ditanggapi dengan tatapan tajam dari Hyo Ra. “Aku serius!”

      Minho mengacak-acak rambut gadis itu. “Aku juga serius.”

      Hyo Ra tertegun. Ia tahu pipinya mulai berwarna kemerahan.

***

      Laut biru, langit teduh, dan suara desiran ombak. Suasananya begitu bersahabat saat Hyo Ra pertama kali menginjakkan kakinya di pasir, menyusuri pantai Jeju bersama Minho. Tidak ada yang lebih baik daripada ini. Jeju lebih baik dari New Jersey. Setidaknya tidak penuh dan sesak dengan orang yang sibuk berlalu-lalang. 

      “Kau mau naik itu?” Minho menunjuk sebuah kano yang terbaris rapi di antara beberapa jenis perahu kayu.

      “Memang kau bisa mengendarainya? Asal kau tahu saja, kalau kano itu terbalik di tengah laut, aku tidak bisa berenang.”

      Minho tersenyum kecil. “Walaupun kano itu terbalik, aku tidak akan membiarkanmu tenggelam. Kau tahu itu. Lagipula aku ini cukup ahli dalam mengendarainya. Berani taruhan?”

      Hyo Ra terkekeh. “Iya, iya, aku percaya. Ya sudah, ayo naik!”

      Mereka berdua berlari ke arah kano, berlomba siapa yang paling cepat sampai ke sana. Tentu saja Minho yang sampai duluan. Dan itu membuat Hyo Ra cemberut. Karena ia kalah, ia harus memasak untuk Minho, sesuai perjanjian singkat yang sudah mereka buat tadi.

      Disaat Hyo Ra sibuk dengan rencana memasaknya, Minho sibuk untuk mempersiapkan pelayaran kano. Ia memakaikan jaket keselamatan pada Hyo Ra lalu menuntunnya untuk naik ke atas kano. Setelah itu, Minho mendorong kanonya ke arah laut.

      “Kenapa mukamu? Pucat sekali?” ejek Minho.

      Tentu saja pucat. Ini kali pertama bagi Hyo Ra untuk naik kano. Dan nampaknya Hyo Ra tidak percaya bahwa jenis perahu seperti ini bisa membawanya pergi dengan selamat. Tapi setelah melihat Minho, ia percaya. “Kau janji tidak akan membiarkanku tenggelam?”

      Minho tersenyum. “Janji.”

      Ia mulai mendayung kanonya menjauhi daratan. Menjelaskan setiap sudut Pulau Jeju dan menyebutkan rencana pembangunan hotel. Wajahnya melukiskan sebuah garis percaya diri dan keyakinan yang tinggi. Dan Hyo Ra kagum akan semangat itu.

      “Hyo Ra…” Minho bergumam. “Kalau kita menikah di Jeju, kau keberatan tidak?”

      Wajah Hyo Ra merah padam. Ia ingin menjawab, tapi entah kenapa ia gugup. Sangat gugup. Sampai-sampai ia harus mengalihkan wajahnya dari Minho. “Asalkan kau suka, aku juga suka.”

      Minho menatap Hyo Ra cukup lama. Dan itu berhasil membuat Hyo Ra keringat dingin. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

      Minho mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku hanya suka menatapmu.”

***

      Pagi ini Hyo Ra memutuskan untuk tidak mengganggu Minho yang sedang serius meneliti setiap rencana bisnisnya itu. Lagipula, hari ini ia hanya ingin menghabiskan waktu di pantai. Sendirian. Membiarkan kulitnya yang putih itu terbakar oleh cahaya matahari. Toh ia ingin memiliki warna kulit yang lebih kecoklatan. Warna putih itu terlalu membosankan. Semua orang Korea berkulit putih.

      “Kelihatannya kau bahagia di atas penderitaan orang lain, ya?” kata-kata itu meluncur dari seseorang yang berdiri angkuh di hadapan Hyo Ra.

      “Kenapa? Oh, tentu saja kau heran. Kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu.” Laki-laki itu melangkah mendekat. Raut wajahnya menyimpan amarah. Tatapan matanya begitu tajam menusuk. Dan senyuman dibibirnya terkesan sinis. “Kau Choi Hyo Ra. Apa aku benar?”

      Hyo Ra terdiam. Ia hanya mengangguk sekali. Ia benar-benar tidak tahu siapa laki-laki itu sebenarnya. Kalau melihat ekspresi laki-laki itu, Hyo Ra bergidik ngeri. Terbesit dalam pikirannya bahwa laki-laki itu berniat buruk. “Kau siapa? Ada perlu apa denganku?” tuding Hyo Ra.

      “Cih. Kau siapa? Ada perlu apa denganku?”  Laki-laki itu menirukan perkataan Hyo Ra dengan mimik yang datar dan dingin.

      Hyo Ra membalikkan badan, memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Tapi laki-laki itu tidak membiarkannya pergi. Ia mencengkeram tangan Hyo Ra kasar dan memaksanya untuk tetap mendengarkan. “Kau pasti kenal Sulli,” ujar laki-laki itu.

      Mendengar nama ‘Sulli’ membuat Hyo Ra seakan mengerti tentang situasi saat ini. “Ya. Lalu apa urusannya denganmu?” Hyo Ra mencoba melepaskan cengkeraman tangan itu dan sekarang melangkar mundur, berusaha menjaga jarak yang aman.

      Laki-laki itu menerawang ke lautan lepas. Memandangnya, namun tak menikmati keindahannya sama sekali. Pikirannya seakan terhanyut dalam masa terburuk yang pernah ia alami. Saat ia menyaksikan adiknya hampir mati karena mencoba bunuh diri.

      Adiknya bernama Sulli. Dan laki-laki itu bernama Kyuhyun.

      “Pasti senang ya bisa merebut calon suami seseorang semudah membalikkan telapak tangan? Orang sepertimu tahu apa?” Nada bicara Kyuhyun sinis, meremehkan.

      “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!”

      Kyuhyun menyeringai. “Yah, kau memang tak pernah mengerti apapun. Kau hanya melakukan apa yang kau mau, tanpa kau mengerti situasi yang terjadi. Membunuh sekalipun kau mungkin bisa.”

      Kyuhyun berjalan menjauh, menyusuri garis pantai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung jeans hitamnya. Meninggalkan sejuta pertanyaan dalam diri Hyo Ra yang entah apa jawabannya.

***

      “Kau kenapa? Sakit?” Minho segera menghampiri Hyo Ra begitu melihat gadis itu berjalan memasuki lobby hotel. Wajah Hyo Ra tampak lesu dan pucat. Ekspresinya begitu datar dan tatapan matanya kosong.

      “Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya butuh sedikit penjelasan darimu.” Hyo Ra menghela nafas panjang. Seharusnya memang hal ini yang ia lakukan pertama kali. Sekarang mungkin hampir terlambat, atau bahkan sudah terlambat sama sekali. Entahlah, yang pasti ia perlu tahu kejadian yang sebenarnya.

      Minho mengajak Hyo Ra duduk di pinggir tebing. Pemandangan laut tampak sempurna dari atas sini. Pulau-pulau kecil di sekitar Jeju juga terlihat. Tapi tujuan mereka datang ke sini bukan untuk menikmati pemandangan. Untuk sekarang, tempat ini dijadikan sebagai tempat pengakuan.

      “Kau mau mendengar apa dariku?” Minho memulai.

      “Semuanya. Tentang kau dan Sulli eonni setelah aku ke Jersey.”

      Minho menghela nafas. Cepat atau lambat, Hyo Ra memang akan menanyakan ini padanya. Tapi entah kenapa, ia masih belum siap untuk menceritakan yang sebenarnya.

      “Aku menyadari sesuatu yang berubah saat kau pergi. Perasaanku, pikiranku, semuanya kacau. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk mengakui bahwa aku telah melupakan Sulli. Aku merasa sangat bersalah padanya.” Minho terdiam. Matanya yang berwarna kecoklatan memandangi langit yang terlihat jauh lebih kelam. Mungkin sesuai dengan suasana hatinya saat ini.

      “Aku terlanjur berjanji padamu untuk membahagiakannya. Dan aku berusaha menepati janji itu, seperti kau menepati janjimu dulu. Beberapa tahun berlalu dan sikap Sulli berubah. Ia tahu aku masih sering mencari tahu tentangmu. Makanya ia selalu mengikuti kemana aku pergi, selalu menelpon kalau tidak bertemu. Ia jadi posesif.”

      “Saat dia menemukan kalung milikmu di kamarku, dia sangat marah sampai-sampai membuang kalung itu ke tempat sampah. Dan dia memutuskan untuk melangsungkan pernikahan.” Minho memejamkan matanya. Wajahnya tampak begitu lelah. Seakan menceritakan kejadian itu adalah hal tersulit di muka bumi.

      Hyo Ra meraih lengan Minho. “Kalau kau belum siap mengatakannya padaku sekarang, mungkin nanti.”

      Minho menggelengkan kepalanya. “Sekarang atau nanti sama saja bagiku.” Ia tersenyum tipis. Mengumpulkan segenap jiwanya untuk kembali membuka kenangan masa lalu. “Aku menolak menikah dengannya. Aku beralasan karena aku belum siap. Tapi dia, keluarganya, semua orang, setuju atas pernikahan itu. Mereka pikir kami adalah pasangan bahagia yang saling mencintai. Padahal apa yang kurasakan berbeda sekali dengan sudut pandang mereka.”

      “Aku meminta pengertian Sulli, membujuknya untuk membatalkan acara pernikahan yang entah bagaimana telah ditentukan tanggalnya. Sulli menolak. Yang membuatku gila adalah dia mengancam akan bunuh diri. Kau bisa bayangkan betapa takutnya aku saat itu?? Aku belum pernah membuat seseorang seputus asa itu! Aku belum pernah!” Nada bicaranya mulai meninggi. Tubuhnya mulai berguncang, seakan ia akan menangis. Minho menangis?

      Hyo Ra menggigit bibir. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dan ia mulai paham kenapa laki-laki misterius yang muncul di pantai itu menyebutnya sebagai pembunuh. Tapi Sulli baik-baik saja, kan? Sulli tidak bunuh diri, kan?

      Hyo Ra menggenggam tangan Minho erat. “Kau bisa berhenti. Tidak usah dilanjutkan lagi.”

      Seakan tidak mendengar suara Hyo Ra, Minho kembali meneruskan ceritanya. “Hari pernikahan pun tiba dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Tapi aku tidak mungkin meneruskan kebohongan.”

      “Di hari pernikahan, aku mengatakan padanya, juga dihadapan para tamu undangan, bahwa aku tidak siap menerimanya menjadi pendamping hidupku. Aku tahu aku jahat. Dan aku membuatnya menangis. Itulah terakhir kali aku melihat Sulli. Aku mencoba mencari tahu kabarnya, tapi tidak ada yang membiarkanku tahu. Mereka menutupi segalanya dariku. Sampai sekarang, aku tidak tahu apa-apa mengenai Sulli. Kuharap dia lebih baik saat hidup tanpaku. Ya, kuharap begitu.”

      Hyo Ra menyandarkan kepalanya ke bahu Minho. Entahlah, ia tak yakin Sulli sedang baik-baik saja saat ini. Kalau baik, mana mungkin laki-laki tak dikenal itu muncul.

***

      Senja. Langit berwarna kemerahan, dengan sedikit hiasan samar oleh sinar matahari yang temaram. Hyo Ra menatap langit, seakan mencari satu jawaban yang Tuhan sembuyikan di atas sana. Ia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Apa ia harus menyerahkan Minho pada Sulli, seperti dulu? Atau ia harus mempertahankan segalanya, tanpa melihat dampak dari semua itu?

      Tapi ia juga lelah jika harus terus berlari. Mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Hyo Ra juga ingin bahagia. Sudah cukup ia menderita sekian lama untuk Sulli. Kini giliran ia yang bahagia. Apa itu salah?

      “Jadi kau sudah tahu semuanya sekarang?” Kyuhyun muncul. Ia bertanya, namun pandangannya tertuju pada objek lain. Menghindari kontak mata.

      Hyo Ra mengangguk pasrah. “Mianhae…”

      “Cih. Kau kira permohonan maafmu berguna?” Kyuhyun menggelengkan kepala. Ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman yang sulit untuk diartikan. Hyo Ra menundukkan kepalanya. Entah karena merasa bersalah, atau karena ia sedang malas memberi tanggapan.

      “Lalu apa keputusanmu?” Kyuhyun bertanya, nada bicaranya tegas.

      Hyo Ra mendongakkan kepalanya, kali ini menatap Kyuhyun penuh tanya. “Keputusan?”

      “Apa kau mau merelakan dia untuk adikku?”

      Hening. Kali ini tak ada yang bersuara lagi. Kyuhyun diam, karena ia menunggu jawaban. Hyo Ra diam, karena ia tak ingin memberi jawaban. Di saat seperti ini, Hyo Ra mengharapkan kehadiran Minho. Untuk memberikan pembelaan. Mengatakan pada laki-laki dihadapannya itu bahwa tidak akan ada yang harus merelakan atau melepaskan. Tidak akan ada kejadian lalu yang kembali terulang.

      “Hyo Ra.”

      Gadis itu menoleh begitu mendengar namanya disebut. Itu bukan suara Kyuhyun. Tapi suara Minho. Ya, Minho akhirnya datang.

      “Kyuhyun hyung…” suara Minho terdengar lirih saat menyebutkan nama ‘Kyuhyun’. Tak menduga mereka akan bertemu di sini. Tak pernah ia bayangkan Kyuhyun berdiri di tempat ini bersama Hyo Ra. Apa yang sedang terjadi?

      “Oh kau mengingatku rupanya.” Kyuhyun menyeringai.

      Minho tidak menggubris perkataan Kyuhyun. Satu-satunya yang ia perhatikan saat ini adalah Hyo Ra. “Kau kenal dia?” pertanyaan itu ditujukan untuk Hyo Ra.

      “Tidak penting dia mengenalku atau tidak.” Kyuhyun mengambil alih pembicaraan. “Yang pasti, dia mengenal Sulli. Dan dia penyebabnya. Iya, kan?!”

      “Dan kau!” Kyuhyun menunjuk Minho. “Hanya gara-gara orang sepertimu, adikku hancur.  Sekarang kau malah bersama wanita lain. Hebat!” Kyuhyun tersenyum sinis. “Kau mau tahu apa yang adikku lakukan setiap hari? Dia hanya bisa menangisimu! Menyesali pernikahan yang batal karenamu! Kau bahkan tidak tahu kalau adikku mencoba mengakhiri hidupnya, benar kan?!!” Amarah Kyuhyun memuncak. Tangannya mengepal, ingin segera memukul wajah Minho, sekeras mungkin. Tapi, akal sehatnya menolak. Tak ada gunanya melakukan itu, bahkan membunuh Minho sekalipun tidak akan berarti. Itu tidak akan memperbaiki semuanya.

      “Aku ingin kau yang memutuskan.” Kyuhyun menatap Hyo Ra. Untuk pertama kalinya pandangan mereka bertemu. “Choi Hyo Ra, kau yang harus memutuskan.”

      Saat ini, Minho dan Kyuhyun memusatkan pandangan mereka. Terfokus pada seorang gadis yang sedang dihadapkan pada segenap pilihan rumit yang tidak layak untuk dipilih. Mempertahankan Minho, berarti ia akan menyakiti Sulli. Melepaskan Minho, berarti ia akan menyakiti dirinya sendiri. Tidak menjawab, berarti tidak akan ada yang terselesaikan. Semuanya adalah jurang dan Hyo Ra akan segera jatuh ke dalamnya. Tapi Minho tidak membiarkan gadis itu terjatuh. Minho melangkah mendekat, menarik tangan Hyo Ra dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat ini. Tapi sebelum benar-benar pergi, Minho berbalik menatap Kyuhyun. “Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan Hyo Ra. Ini urusanku, jadi jangan ganggu dia.”

***

      Kyuhyun mengamati bayangan dirinya dalam cermin. Menatap sinis dirinya sendiri, mengutuk dirinya sendiri. Ia tak menyangka, akan sulit sekali membuat adiknya bahagia. Laki-laki bernama Minho itu benar-benar pembuat masalah!

      Kini, ponselnya berdering. Nama Sulli terpampang dalam layar ponselnya.

      “Yoboseyo? Sulli-ah?”

      “Ne. Aku ada di Jeju, oppa.”

      Kyuhyun terperanjat. Bagaimana Sulli bisa tahu mengenai hal ini?

      “Kau tahu apa yang sedang kulihat? Minho dan Hyo Ra.”

      Kyuhyun panik. Ia segera keluar dari kamar hotel, berlari menuju satu-satunya tempat yang terlintas dalam benaknya. Pantai.

      Tapi saat tiba di pantai, ia tak menemukan siapapun. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, menyusuri setiap tempat hingga akhirnya terfokus pada satu tempat. Ia melihat adiknya di tempat itu. Di atas tebing. Sedang berdiam diri menatap Minho dan Hyo Ra dari kejauhan. Kyuhyun segera berlari menuju tebing. Takut adiknya akan kehilangan akal lagi, seperti dulu.

      Sementara itu, Sulli melangkah mendekati Minho. Semakin dekat, hatinya semakin sakit. Seakan menatap Minho adalah racun yang membunuhnya perlahan. Sakit sekali melihat laki-laki yang sangat ia cintai sedang duduk berdua dengan wanita lain. Sedang menenangkan wanita itu agar tidak menangis. Sedang merengkuh wanita itu erat.

      Bahkan kehadirannya saat ini tidak disadari oleh Minho. Dirinya yang sudah berdiri selama 1 jam lebih, hanya memandang di dalam kesunyian, menangis walau tak bersuara.

      Kyuhyun menepuk pundak Sulli, menahan adiknya untuk melangkah lebih dekat lagi. Disaat itu, Minho sadar bukan hanya ia dan Hyo Ra yang ada di tempat ini. Ia menoleh dan mendapati sosok masa lalu yang saat ini berdiri tegak namun terlihat rapuh. Masa lalu yang berwujud nyata, bukan bayangan. Sulli ada di sini.

      “Ayo kita pergi!” Kyuhyun menarik Sulli. Tapi Sulli hanya diam, ia tidak mau pergi.

      “Kau bahagia, Minho?” kata-kata itu terucap oleh Sulli.

      Minho mengangguk. “Kau bagaimana?”

      “Kalau kau bahagia, aku juga.”

      Semuanya terpaku mendengar jawaban Sulli. Gadis itu menangis, tapi ia mencoba tersenyum. Ia menatap Hyo Ra. “Jujur, separuh dari diriku ingin merebut Minho darimu,” ucap Sulli. Kata-kata itu membuat tubuh Hyo Ra lemas. Bagaikan sebuah pukulan keras yang menghantam dirinya. Menghempaskan tubuhnya terlalu jauh hingga sulit untuk kembali.

      “Tapi kau tidak perlu khawatir. Minho tidak akan mau menyakitimu lagi. Aku tahu itu. Dari dulu, harusnya aku tahu!” Raut wajah Sulli menegang. “Aku bukan orang baik sepertimu. Aku egois, masih berharap andai saja kau tidak pernah bertemu dengan Minho dan mengacaukan semuanya. Tapi…memaksa Minho untuk kembali padaku juga bukan penyelesaian. Itu malah akan menyakitiku.”  Sulli tertawa sinis begitu mengingat kejadian saat ia mencoba menelan semua pil tidur. Waktu itu ia berharap akan tertidur selamanya.

      “Jadi apa maumu?” untuk pertama kalinya Hyo Ra bersuara. Lagipula, bukan hanya Sulli yang bisa bicara. Di sini bukan tempat untuk diam dan menunggu.

      “Aku mau kau melepaskan Minho lagi, seperti dulu.”

      Hyo Ra menggeleng. “Maaf, aku tidak bisa melakukan itu.”

      Sulli tersenyum, tampak puas. “Ya, aku tahu. Itulah alasanku untuk membiarkanmu bersama Minho.”

      Sulli berbalik menghadap Kyuhyun. “Kurasa sekarang saatnya kita pergi.”

      Tanpa menatap Hyo Ra dan Minho, Sulli kembali berucap, “kumohon jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Dan…” Sulli mengusap air matanya. “Dan aku harap kalian bahagia.”

      Sulli merasakan sesak di dadanya. Inikah rasanya melepaskan orang yang kita cintai? Kenapa rasanya sakit sekali?

***

EPILOG

      Rumah itu berdiri kokoh di atas tebing. Jendelanya menghadap ke arah laut, agar sang pemilik rumah dapat menikmati matahari senja yang tenggelam melintasi horizon langit. Semilir angin menerpa rambut Hyo Ra yang sedang berdiri di dekat jendela. Menikmati lukisan langit senja yang tampak redup namun begitu indah.

      Minho memeluknya dari belakang. “Memang kau tidak bosan melihat hal yang sama setiap hari?”

      Hyo Ra tertawa. “Aku juga melihatmu setiap hari, tapi aku tidak pernah bosan.”

      Minho tersenyum. Ia turut menikmati pemandangan di luar sana. “Aku bahagia bisa menikah denganmu, hidup bersamamu.”

      “Aku juga begitu.”

      Minho menarik tangan Hyo Ra menuju ruang tengah. Ia memutar musik waltz lalu berbalik menghadap Hyo Ra. Ia mengulurkan tangannya. “Can I have this dance?”

      Hyo Ra tersenyum seraya meraih tangan itu. Mereka berdua berdansa, mengikuti alunan lagu. Kedua mata mereka saling menatap. Minho tersenyum, tak ingin melepaskan pandangannya dari wanita yang sangat ia cintai.

      Bintang yang bersinar di atas sana turut menemani mereka berdua. Seakan ikut tersenyum dan berharap agar mereka berdua selalu seperti ini. Saling mencintai. Bahagia. Selamanya.

***
-THE END-

Yeayy akhirnya selesai~ Bagaiman bagus gak? RCL ya~ Biar temen aku semangat bikin ff lagi hehe

7 responses

  1. Kyaaaaaa… Kyuhyuuuuuun!!!
    dia ada scene juga disini. walaupun dikit, tapi gpp..
    kasian Sulli. tapi sudahlah, yang penting Minho sama Hyora Happy..
    akhirnya mereka nikah, so sweet bikin rumah di atas tebing itu..
    kayaknya itu ide bagus tuh buat aku sama kyu yang bentar lagi mau nikah #plak *ditabok sparkyu*
    ending yang keren ^^

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s