[OneShoot] Fragile Eternity

Title: Fragile Eternity

Author : Qey.YeonSone

Cast :

Seo Joohyun (Seohyun SNSD), Cho Kyuhyun (SuJu)

Other cast :

Leeteuk (SuJu) -> seohyun’s appa, Choi Siwon (SuJu) -> dokter, eomma Seohyun

Genre: Romance, angst

Length : Oneshoot

Rate : PG

Disclaimer : Semuanya punya saia, kecuali castnya

 

 

 

_jika aku masih diberi waktu untuk hidup. Pasti aku akan membagi waktuku padanya. Bukan pada orang lain_

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Normal Pov:

Seohyun menatap butiran-butiran salju di balik jendela dengan tatapan kosong. Ia menarik napas berat, berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit beban yang bersarang di benaknya. Namun nihil, beban itu tidak hilang sedikitpun. Yang ada hanya membuat dadanya semakin sesak. Ia berjalan lambat menuju meja rias. Dengan gemetar, tangannya meraih sisir yang ada di depannya. Srk… srk… srk… dengan sangat perlahan, ia menyisir rambutnya yang panjang. Tapi keperlahanan itu rupanya sia-sia, rambutnya tetap rontok. Ia mengembalikan sisirnya ke tempat semula. Lantas mencoba meminimalisir kerontokan rambutnya dengan menggunakan jemari lentiknya untuk menyisir rambutnya. Seohyun berhenti, ia menatap sendu jemarinya yang dipenuhi dengan helai-helai rambut rontok. Ia mengibaskan tangannya, membuat rambut-rambut itu terbang.

 

“Uhuk… uhuk…” Seohyun mengatupkan telapak tangannya di mulut.

Ia lalu menghela napas saat menyadari tangannya penuh dengan bercak darah segar. Ia berlari ke kamar mandi. Membasuh tangan dan wajahnya dengan air.

 

“Anio… anio…” ucapnya. “Aku tidak sakit, aku baik-baik saja. Aku akan menikah dengan Kyuhyun Oppa lalu punya anak. Aku akan hidup hingga aku menimang cucu.” Lanjutnya histeris.

 

Air matanya bercucuran. Ia kembali terpuruk saat ia mengingat penyakitnya. Penyakit ganas yang kini tengah menjajah tubuh rapuhnya. Ya,tak lain penyakit itu adalah leukimia. Penyakit yang belum ada obatnya, penyakit yang tidak bisa disembuhkan, penyakit yang bisa dibilang hanya menunggu kematian. Seohyun kembali menangis tatkala ia mengingat perkataan dokter kemarin. Saat ia tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan appa-nya dengan dokter.

 

FLASHBACK

“Bagaimana dokter?” Tanya tuan Leeteuk yang tak lain adalah appa Seohyun.

 

Dokter menarik napas sejenak lalu berkata,

“Kemoterapi tidak begitu berpengaruh. Karena penyakitnya baru terdeteksi saat sudah mencapai stadium 3. Sekarang, leukimia seohyun justru bertambah menjadi stadium 4 atau stadium akhir. Dimana sebenarnya kita tidak bisa berbuat banyak lagi.”

 

Kaki Seohyun lemas saat ia diam-diam mendengar percakapan antara appa-nya dan dokter. Tubuhnya tidak mampu menopang lagi, ia merosot ke lantai. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

FLASHBACK END

 

Seohyun tidak pernah membicarakan penyakitnya pada Kyuhyun, namja-chingunya. Namun kini, apa ia harus berterus terang pada Kyuhyun?

Anio, seohyun menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin Kyuhyun sedih karena dia. Kyuhyun bisa mencari yeoja lain saat Seohyun nantinya pergi. Seohyun mencoba menyerah pada takdir. Bahwa takdir memang tidak bisa membawanya bahagia bersama Kyuhyun. Ia mencintai Kyuhyun. Ia ingin Kyuhyun bahagia. Disisa waktu yang masih ada, ia akan membahagiakan kyuhyun. Ia menyeka air matanya. Berusaha menghilangkan raut pilu yang tergambar jelas di wajahnya.

Ia bangkit. Keluar dari kemar mandi, ia melintasi kamarnya. Matanya terhenti saat ia melihat gunting dan cutter yang ada di meja. Terbesit di pikiranya untuk mengakhiri hidupnya. Apa itu bisa membuat keadaan lebih baik dari sekarang??

 

Tiin… tiin… suara klakson mobil mengurungkan niatnya. Itu pasti Kyuhyun. Yang setiap tahunnya selalu mengajak seohyun menyaksikan salju. Seperti hari ini. Mereka berdua penggemar salju. Putih, melambangkan kesucian yang bisa mengihilangkan emosi dalam sekejap. Seohyun mengenakan hoodie dan syalnya. Lantas melangkahkan kaki keluar.

 

Ia menyambut Kyuhyun dengan hangat. Berlawanan dengan keadaan sekitarnya.

 

“Annyeong Oppa.” Sapanya lembut.

 

“Omona seo, kau pucat sekali. Apa kau sakit?”

 

“Aish. Anio Oppa. Aku hanya kedinginan.”

 

“Apa kita batalkan saja?”

 

“Oppa. Sekarang kan musim salju. Wajar kalau aku kedinginan.”

 

“Baiklah. Kkaja kita berangkat.”

 

Kyuhyun mengangsurkan tangannya. Seohyun menyambutnya. Tangan mereka saling menggenggam erat.

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

Mereka duduk di bangku taman. Tidak ada yang bicara. Hanya bersandar pada punggung masing-masing. Mereka saling mengagumi keindahan salju yang disuguhkan di depan mereka.

 

“Oppa, salju tahun ini cantik ya?”

“Ne. secantik dirimu. Hehe.” Kyuhyun terkekeh.

 

Seohyun tersenyum simpul.

 

“Tahun depan kuajari main ski ya?” Tanya Kyuhyun.

‘entah tahun depan aku masih disini atau tidak’ batin Seohyun

“Ne.” jawab Seohyun serak.

 

Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun. Ia merasa lelah. Merasa lelah dengan kebohongan yang ia buat. Ia ingin semua itu hilang dalam sekejap. Ia ingin bisa hidup lebih lama, agar bisa menikmati salju bersama Kyuhyun, meniti masa depan dengan Kyuhyun, dan memiliki anak lucu bersama Kyuhyun. Tapi ia yakin ia tidak bisa, ia tidak sanggup. Kyuhyun mengelus rambut hitam seohyun. Rasa saying mengalir di setiap sentuhannya.

 

“Oppa. Boleh aku tidur sebentar?”

“ne. lamapun tidaka apa-apa.”

“Gomawo” lalu mata Seohyun meredup.

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

2 hours latter

 

Kyuhyun merasa otot-ototnya mulai pegal. Ia agak menyesal dengan kata-katanya tadi ‘lamapun tidak apa-apa’. Dan hingga kini, Seohyun belum bangun juga. Ia putuskan untuk membangunkan seohyun

 

“Seo? Seo? Ireona.” Kyuhyun menepuk pipi seohyun dengan lembut.

Belum ada respon.

“Seo? Seo?” ia mengguncang badan Seohyun.

Masih belum bangun. Kyuhyun mencubit pipi seohyun, mengguncang badannya, menepuk-nepuk pipinya *?*. Tapi hasilnya sama saja.

 

“Jangan jangan dia… aish, apa yang kau pikirkan Kyu?” gumam kyu pada dirinya sendiri.

Perlahan, ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan seohyun.

“Eung… masih berdenyut. Hufh…” gumam kyu lagi.

Kyuhyun sedikit menggeser posisi duduknya. Tapi, Syuut~ Blugh! Seohyun merosot jatuh ke pangkuannya.

 

Kyuhyun panic, “Seo? Jangan bercanda. Ini tidak lucu.” Seru kyuhyun sambil berusaha membangunkan Seohyun. Tapi tidak ada perubahan.

 

“Anio. Ini tidak beres.” Gumam Kyu.

Kyuhyun bergegas mengendong Seohyun ke mobilnya. Dengan panic, ia memacu mobilnya ke rumah sakit terdekat.

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Kyuhyun hilir mudik di depan ruang UGD. Apa yang terjadi pada yeoja-chingu tersayangnya itu? Kenapa ia tiba-tiba pingsan? Omona~ Ottokhae?

“Ohya, aku harus telepon ahjussi.” Katanya pada diri sendiri.

Tuut… tutt… nada sambung mulai terdengar.

 

“Yeoboseyo?” terdengar suara Leeteuk ahjussi  di seberang sana.

“A.. a.. ahjussi.. seohyun pingsan. Sekarang ia ada di Seoul Hospital.”

“MWORAGO? Baiklah, ahjussi akan segera kesana.”

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

“Kyuhyuuun…” panggil Leeteuk ahjussi. Dibelakangnya berlari pula eomma seohyun.

“Ahjussi. Ahjumma.”

“Bagaimana?”

“Belum ada yang keluar dari sana.” Kyuhyun menunjuk ruang UGD.

“Mianhaeyo. Seohyun sudah merepotkanmu.

“Anio ahjussi. Ini sudah menjadi kewajiban saya melindungi Seohyun. Memangnya ada apa dengan seohyun?”

Leeteuk terhenyak, “Jadi, seohyun tidak cerita?”

“Ani. Waeyo ahjussi?” kyuhyun semakin penasaran.

“Benar-benar tidak cerita?”

Kyuhyun menggeleng mantap.

“Dia… terkena leukemia stadium akhir.”

“MWO LEUKIMIAA??” teriak Kyuhyun tidak percaya dengan pendengarannya.

“Ne.”

Jantung Kyuhyun bergemuruh. Telinganya berdenging. Ia jatuh terduduk di bangku.

“Aigo~” desah Kyuhyun.

“Gwenchana Kyu?” Tanya Leeteuk.

Kyuhyun mengangguk lemas. Tangannya kini meopang dahi. Kini, ia tidak bisa berfikir jernih. Yang ada di pikirannya hanya satu ‘Semoga Seo-nya baik-baik saja.”

 

Kriiet… pintu UGD terbuka. Terlihat seorang dokter keluar. Dengan cepat, Kyuhyun, leeteuk dan istrinya menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan anak saya dok?”

“Dia sudah sadar. Ia menyuruhku memanggil Cho Kyuhyun.” Senyum dokter mengembang.

Kyuhyun menatap Leeteuk.

“Masuklah.” Ujar Leeteuk.

 

Kyuhyun mengangguk. Lalu masuk ke kamar UGD. Terlihat seorang pasien yeoja yang sedang tiduran. *ya iyalah, masak jalan-jalan? #plak! Ga lucu*

 

“Seo?” panggil Kyu.

“Oppa.”

“Gwenchana?”

“Ne. mian sudah merepotkanmu Oppa.”

Seohyun tercengang. “Op… oppa apa maksudmu?”

“Kau mengidap leukimia kan? Kenapa tidak pernah cerita padaku? Pada namja-chingu-mu sendiri?”

“M…mwo? S… siapa yang bilang aku leukemia?”

“Tidak penting seo. Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak. Aku heran padamu. Kenapa kau tidak berterus terang padaku? Apa kau tidak menganggapku sebagai namja chingumu lagi?”

“O..oppa… mianhae. Hiks.”

Kyuhyun terdiam.

“Oppa mianhae. Aku hanya takut. Takut nantinya Oppa akan meninggalkanku jika aku bicarakan ini pada Oppa. Hiks…”

Kyuhyun mendekati Seohyun. Ia mendekap seohyun dengan erat.

“Anio chagi. Kaua adalah satu-satunya yeoja yanga aku punya selain ahra nuna dan eomma. Aku tidak perduli kau sakit atau apa. Aku tidak akun meninggalkanmu. Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Saranghae…”

Tangis seohyun semakin keras.

“Oppa, aku takut.”

“Gwenchana Seo. Oppa disini. Oppa akan slalu ada di sampingmu. Apapun yang terjadi padamu. Oppa tetap di sampingmu. Kau tidak perlu takut.”

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

@Ruangan Dokter

Leeteuk duduk dengan gelisah. Sementara di depannya duduk dokter Choi yang sedanga meneliti kertas hasil test darah Seohyun.

“Ehm.” Dokter berdeham. Membuat Leeteuk semakin gelisah.

“Mianhamnida sebelumnya tuan Leeteuk.” Ucap dokter. “Saya rasa memang sudah tidaka ada harapan lagi untuk Seohyun putrid anda.”

Leeteuk menghela napas lalu menunduk. Ia tidak sanggup menyembunyikan rasa sedihnya.

“bagaimana dengan kemoterapi?” Tanya leeteuk dengan nada penuh harap.

Dokter menggeleng. Membuat harapan Leeteuk akn kesembuhan putrinya pupus.

“Disisa hidup seohyun, buatlah dia bahagia.” Ucap dokter dengan tersenyum. “buatlah seakan dia tidak sakit. Buatlah dia seakan tidak mereptkan anda tuan. Saya rasa hanya itu jalan terbaik untuk seohyun.”

Leeteuk menarik napas sejenak lalu berkata, “Apa saya boleh membawanya pulang? Saya rasa suasana rumah akan membuatnya jauh lebih baik.”

Dokter mengangguk, “Ne. buatlah dia bahagia tuan Leeteuk.”

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Krriiieet… pintu ruang rawat Seohyun terbuka. Membuat seohyun yang sedang melamun menoleh. Appa-nya masuk sambil tersenyum.

“Seohyun, kata dokter keadaanmu membaik. Kau bisa pulang.” Ujar Leeteuk berbohong.

“Jinjja?”

“Ne. oia, mana Kyuhyun?”

“Dia kusuruh pulang. Aku tidak mau merepotkannya.”

“Anak baik.” Leeteuk mengelus kepala Seohyun dengan sayang. “Benahi barang-barangmu Seo. Setelah ini kita pulang.”

“Ne Appa.”

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Seohyun duduk termangu memandang lurus ke arah depan dengan pandangan kosong. Kata dokter kondisinya membaik? Dengan status mencapai stadium 4, seohyun sendiri sangsi keadaannya bisa membaik. Apa karena saking buruk keadaannya, dokter lantas membohonginya? Kembali terlintas di pikirannya tentang Kyuhyun. Air matanya kembali mengalir lancar. Kini Kyuhyun sudah tahu bahwa dirinya leukemia. Kyuhyun memang bilang jika ia tidak akan meninggalkan seohyun. Tapi rasa takut akan kehilangan Kyuhyun tidak juga hilang. Semangat hidup tidak juga muncul. Melainkan sirna sama sekali.

 

Ia bangkit, mengambil cutter, beberapa kertas, dan pena. Ia menorehkan pena di selembar kertas. Sepucuk surat untuk orang tuanya dan juga untuk Kyuhyun. Seohyun meletakkan pena, lau mengambil cutter. Ia menghela napas. Ya, cepat ataupun lambat dirinya pasti akan mati. Jadi tidak ada gunanya menunggu kematian.

 

Dengan lambat, ia menggoreskan sisi cutter itu ke pergelangan tangannya. Darah mulai keluar. Tes… tes… tes… butiran-butiran darah perlahan muali menetes ke lantai, membentuk sebuah genangan. Mata seohyun muali berkunang-kunang. Rasa pening mulai menyerang kepalanya seketika. Kaki seohyun bergetar. Tidak mampu berdiri. Ia ambruk.

Saat ia merasa sedikit gelap. Brak! Pintu kamar terbuka. Seohyun masih melihat seorang namja masuk. Memeluknya, menangis untuknya, ia berteriak minta tolong.

 

“Kumohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku.” Samar-samar Seohyun mendengar bisikkannya. Tapi setelah itu, semuanya terlihat gelap.

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Seohyun Pov:

Aku membenamkan wajahku di antara lutut yang kutekuk. Kini, aku tidak tahu dimana aku berada. Semuanya gelap. Aku takut, apa aku sudah mati? mestinya aku senang aku sudah mati. Tapi entah kenapa perasaanku berbalik.

Aku menengadahkan wajahku. Aku melihat setitik cahaya. Dengan cepat aku bangkit. Dengan ragu, aku mendekati cahaya itu. Lama kelamaan, aku berlari, berlari dan berlari.cahaya itu semakin besar dan memanjang. Membentuk sebuah pintu. Aku memasuki pintu itu.

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Aku mengerjapkan mataku. Sangat berat. Sekali lagi kulakuakn itu. Aku membuka lebar mataku. Dengan sendirinya, mataku berkeliling ke seluruh penjuru ruangan yang sedikit familier itu. Hanya ada seorang namja yang di kursi samping ranjangku. Dia memegang erat tanganku. Wajahnya menelungkup di antara dua lengannya di atas kasur. Aku tersadar, aku kembali mengingat kejadian sebelumnyaaku gagal dengan percobaan bunuh diriku. Dan kini tergolek lemas di rumah sakit.

“Oppa.” Panggilku pada namja itu.

Dia mengangkat wajahnya. Aku terkaget, wajahnya terlihat sembap dan pucat.

“Oppa?” panggilku untuk kedua kalinya.

Dari sudut matanya, terlihat tetesan-tetesan air bening yang merembes turun ke pipinya. Aku mengangkat tangan, mengusap pipinya dengan lembut.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Aku tercenung. Menyadari kebodohanku. Apa yang aku lakukan hingga membuatnya seperti ini? Aku tidak membahagiakannya *ya jelas lah*. Tapi malah membuatnya sakit. Rasanya hatiku sakit. Seakan ia mentransfer sakit yang ada di hatinya sedikit-demi sedikit.

 

“Umm… hanya mencoba untuk mempersingkat waktu.” Jawabku ragu.

“Mempersingkat waktu? Lalu kau tidak memperdulikan perasaanku, huh?” nada suaranya meninggi.

 

Aku bungkam. Memalingkan wajahku, menghindari tatapan matanya yang teduh.

“Mianhae.” Bisikku.

 

“Tatap aku seohyun!!” Perintahnya.

Aku tidak menoleh. Aku tidak menatapnya. Aku tidak bsa menatapnya. Sangat sulit untuk menatapnya tanpa meneteskan air mata.

 

“Tatap aku seo Joohyun!”

“Mianhae Oppa. Aku capek. Aku mau tidur.”

“Kau tidur terlalu lama tadi.”

“Oppa~” rengekku.

“Anio. Pali tatap aku!”

 

Aku menyerah. Perlahan kuperhatikan garis wajahnya yang tanpa cela sedikitpun. Semua, setiap inci wajahnya kuteliti. Sampai mataku bertemu matanya. Kutatap matanya dalam-dalam. Dengan sendirinya, air mataku mengalir. Ia merenggutku, membuatku duduk. Ia memelukku, membuatku hangat. Ia meletakkan dagunya di bahuku. Dia mengelus punggungku, membuatku tenang. Hingga dengan sendirinya, aku kembali memasuki alam mimpi. Aku tidak mau saat-saat seperti ini lenyap karena kepergianku. Aku tidak mau…

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Aku kembali terbangun, setelah tanpa sadar tertidur di pelukan Kyuhyun tadi. Kyuhyun Oppa masih tidur disampingku. Eomma dan appa masih saja belum terlihat.

 

“Uhuk.. uhuk..” aku terbatuk. Segera kututup mulutku dengan telapak tanganku. Darah! Lagi-lagi yang keluar adalah darah. Aku mencabut selang infuse. Dengan hati-hati, aku melangkahkan kai menuju kamar mandi. Membasuh tanganku. Membasuh mukaku. Aku menatap seorang yeoja yang pucat didepan cermin. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Hanya diam? Menunggu ajalku datang menjemputku? Tanpa melakukan apapun? Kenapa dia tidak membiarkanku yang menjemput ajal itu sendiri? Bukankah hasilnya sama saja?

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

“Oppa?” aku membangunkan Kyuhyun.

Dia mendongkak. Namun matanya masih tertutup rapat. Ia mengerjapkannya berkali-kali.

 

“Waeyo? Ada masalah?”

Aku menggeleng.

“Kkaja kita jalan-jalan Oppa?”

“Mwoya? Kau kan sedang sakit seo.”

“Aku sudah bicara pada dokter. Katanya tidak apa-apa.” Ujarku berbohong.

“Jinjja?”

“Ne.”

 

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Angin maam membuatku menggigil. Apalagi dengan salju yang berjatuhan. Seakan tidak mengenal belas kasihan, dengan entengnya turun tanpa memperhatikan orang-orang yang kedinginan. Kami berjalan di sebuah jembatan yang membelah sungai han. Ia menggandengku erat, seakan tidak ingin melepasku.

 

“Oppa”

“Hmm?”

“Aku rasa, sudah saatnya Oppa merelakanku untuk menyerah pada takdir.” Lirihku. Dari sudut mataku, kulihat dia menoleh.

“Disaat kita tidak rela dengan kepergian seseorang, pada saat itulah kita merasa dicurangi. Tapi, aku yakin jika Oppa merelakanku demi aku, suatu saat nanti Oppa tidak akan merasa dicurangi dan aku pun akan tenang.” Lanjutku tenang. Padahal, dada ini rasanya sesak. Ingin mengeluarkan semua beban yang kutahan.

“Tapi yang kau lakukan bukanlah menyerah pada takdir, melainkan tidak menerima takdir yang ada. Tentu saja aku tidak rela.” Sergahnya.

“Aku yakin itu pasti sakit. Tapi aku tahu, Oppa adalah orang yang kuat. Meski diluar terlihat rapuh.” Hening sesaat. “Oppa pasti berharap, aku bisa kuat. Aku bisa bertahan dengan Oppa. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Aku terlalu rapuh.” Kalimat terakhirku nyaris seperti bisakkan. Aku berusaha sekuat tenaga agar air mataku tidak tumpah.

 

“Aku tidak peduli.” Dia menyahut. “Aku tidak peduli alam akan mencurangiku. Aku tidak peduli walau kau rapuh. Aku akan menjadi tiang penyanggamu agar kau kuat. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah pada takdir yang buruk begitu saja. Sebisa mungkin takdirlah yang menyerah padamu. Hingga kau bisa hidup bersamamu.”

 

“Tidak ada gunanya mengharapkan hal yang nihil hasilnya.”

“Seo!” kyuhyun membentak

 

Aku tertawa getir. Entah apa yang kutertawakan.

“Aku lelah Oppa.” Ucapku di sela gelak tawaku yang juga disertai tangisan. Setelah itu kami diam, terlarut dalam pikiran masing-masing.

 

##Seohyun POV end##

©©©©©SEOKYU©©©©©

 

Tatapan Kyuhyuun mulai buram karena air mata yang mendesak keluar. Tes… tes… tes…  Air mata Kyuhyun meluncur turun meninggalkan pelupuk matanya. Kini jelas terlihat di depannya sebuah batu nisan bertuliskan ‘RIP. Disini terbaring dengan damai. Seo JooHyun.’

 

“S… s… seo?” kyuhyun hanya mampu memanggil namanya. Bibirnya kelu untuk mengucapkan kata-kata lain. Matanya menerawang langit. Mengedarkan pandangannya pada satu-persatu awan yang berarak di langit.

 

“Seo? Kau sudah tenang disana? Kau baik-baik saja kan?” dia menarik napas sejenak. Mengatur napasnya yang naik-turun tidak karuan.

“Rasanya kejam sekali jika Oppa memilih bahagia dengan yeoja lain. Rasanya terlalu sakit jika membayangkan kau menangis di atas sana melihatku. Dan Oppa rasanya tidak sanggup menunggu agar Oppa bisa bersamamu. Oppa tidak sanggup seo…” kyuhyun menangis sesegukan.

“Maka dari itu, Oppa akan segera menyusulmu. Oppa ingin bersamamu seo.” Kyuhyuntersenyum menatap langit.

 

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan benda kecil pipih. Ya, benda itu adalah pisau lipat yang tidak biasanya kyuhyun bawa.

Dengan tatapan kosong, ia mulai menggoreskan pisau itu ke pergelangan tangannya beberapa kali. Ia tersenum menatap darahnya yang berhamburan keluar dari kulitnya. Sekejap, ia terkulai ditanah.

Disela napasnya yang tersengal, ia berkata “Tunggu Oppa seo…”

 

__END__Keabadian yang Rapuh__

 

Annyeong all… jangan lupa tinggalkan comment😉

16 responses

  1. Dari awal emg udh gk mungkin ya klo seohyun bs idup.. Kukira bakal ada miracle.. Tp akhirnya dia meninggal jg.. Trs kyu nyusul?? Aigo.. Cinta mereka begitu tulus!
    Keren bgt FF nya! Bkin nangis!! TT_TT

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s