YOU MUST MARRY ME (BEFORE STORY) [1/2]

You Must Marry Me (BEFORE STORY) Chapter 1

Author      : Trik is ChoiPutri (15 to 16 yo)

Length      : Twoshot

Genre       : AU, R-O-M-A-N-C-E, Friendship, Angst dikit2

Rating      : PG-15

Cast          : Kwon Yoora (OC), Lee Sungmin (SUJU), Park Richan (OC), Cho Kyuhyun (SUJU), Park Jiho (Ulzzang) and other cast you can find it by yourself ;)

Disclaimer: Castnya punya Tuhan, FF ini juga punya Tuhan tapi disalurkan melalui saya :D

Previous Story : MBA Chapter 1 » MBA Chapter 2 » MBA Chapter 3 » MBA Kyuhyun’s Side

Next Story       : Teaser UM3 » UM3 Chapter 1 » UM3 Chapter 2 » UM3 Chapter 3

 

Yoora membuka matanya. Udara sejuk yang berasal dari ventilasi udara di kamarnya membuat ia sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Kembali ia memejamkan matanya sejenak.

‘Hari ini adalah hari kedua dimana statusku bukan Nyonya Cho. Dan namaku bukan Cho Yoora lagi. Aku adalah Kwon Yoora. Aku gadis yang kuat. Aku yakin aku bisa menjadi aku yang dulu lagi. Aku… aku yakin… aku masih bisa hidup dengan baik tanpamu, Cho Kyuhyun…’ batinnya.

Ia membuka matanya kembali dan menyingkap selimutnya lalu bangkit dari ranjang. Ia merapikan ranjangnya.

 

Kreeekkk…

“Sudah lebih baik??” kepala Riri menyembul dari balik pintu.

Yoora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Yeah… Life must go on. Aku tidak mungkin terpaku terus dan menangisi titik kehancuranku kemarin!”

“Yippie!!! Yoora-ku kembali!!!” Riri berjingkrak-jingkrak senang melihat Yoora yang kembali ceria. Sama seperti Yoora beberapa bulan yang lalu.

“Haiiissshhh… respon yang kau berikan terlalu berlebihan Riri-ya!” komentar Yoora lalu berjalan menghampiri Riri.

“Ayo makan! Perutku lapar sekali setelah menangis semalaman!” ajak Yoora.

 

~-~

Sungmin menghentikan langkahnya di depan sebuah toko bunga. ‘Ah, dia pasti suka kalau aku membawakan bunga untuknya!’ pikir Sungmin.

Ia masuk ke dalam toko bunga tersebut. Seorang ahjussi yang ia yakini adalah floristnya menghampiri dirinya. “Ada yang bisa saya bantu tuan??” tanya ahjussi tersebut.

“Eum… itu.. aku ingin membeli bunga!”

“Ya, saya tahu tuan ingin membeli bunga. Maksud saya, bunga apa yang anda inginkan??” Sungmin merutuki jawaban bodohnya barusan. Tentu saja ia ke toko bunga untuk membeli bunga, bukan membeli semen ataupun paku.

Sungmin mengedarkan pandangannya, memperhatikan semua bunga yang ada di toko itu. ‘Aigo… bodohnya aku!! Aku bahkan tidak tahu bunga apa yang ia sukai?!’ kembali Sungmin merutuki kebodohannya dalam hati.

“Jadi? Bunga apa yang ingin kau berikan kepada kekasih hatimu tuan??” goda ahjussi itu.

Sungmin menggaruk lehernya yang tak gatal sama sekali, bingung.

 

Tiba-tiba mata Sungmin terpaku pada jejeran keranjang bunga di belakang ahjussi itu. Bukan hanya satu. Tapi tiga jenis bunga sekaligus yang berhasil menarik perhatiannya. Entahlah, tapi hatinya menginginkan ketiga bunga itu.

“Eum… bisa tolong buatkan aku rangkaian bunga dengan ketiga bunga itu??” Sungmin menunjuk tiga keranjang bunga dibelakang sang ahjussi.

“Oh, tentu saja! Sepertinya kau memilih bunga-bunga yang tepat untuk kekasihmu!” puji sang ahjussi.

Tak perlu waktu lama, ahjussi itu telah menyelesaikan pekerjaannya untuk merangkai tiga jenis bunga berwarna putih yang masing-masing memiliki keindahan tersendiri.

“Bunga akasia melambangkan cinta yang terpendam dan suci. Aster merupakan simbol cinta dan ketulusan. Dan Tulip, seolah melukiskan cintamu yang abadi kepada kekasih hatimu.” Ucap ahjussi itu sebelum menyerahkan rangkaian bunga di tangannya kepada Sungmin.

Sungmin tersenyum mendengar ucapan sang ahjussi. ‘Makna yang indah.’ Batinnya.

Ia membayar bunga tersebut lalu berlalu menuju rumah Riri.

“Aku harap Yoora menyukainya.” gumam Sungmin.

 

~-~

 

“Sungmin oppa??” kepala Yoora menyembul dari balik pintu. Ia membuka pintu rumah Riri lebar-lebar dan mempersilakan Sungmin untuk masuk.

“Apa aku mengganggu??” tanya Sungmin dan Yoora menggeleng.

 

“O? Kau membawa bunga??” Yoora menunjuk bunga yang ada di dalam genggaman tangan Sungmin.

Sungmin menyerahkan rangkaian bunga tersebut kepada Yoora. Yoora tersenyum dan melihat bunga apa saja yang Sungmin bawa.

“Akasia, Aster, dan Tulip??” Yoora menunjuk satu persatu bunga di tangannya. “Bunga ini untuk Riri ya?”

Sungmin menggelengkan kepalanya. “Itu untukmu Yoora-ya!”

Yoora menatap Sungmin dengan tatapan aku-minta-maaf. “Mian oppa… Aku tidak terlalu suka bunga.” Sungmin mendesah kecewa mendengar ucapan Yoora. “Gwaenchana.” Ucap Sungmin.

“Bunganya aku berikan pada Riri saja ya?? Kebetulan sekali bunga yang kau bawa ini adalah bunga-bunga kesukaannya!” Sungmin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Riri-ya!! Kemari!!” seru Yoora. Tak lama kemudian, Riri muncul masih dengan celemek di tubuhnya.

“Ada apa?? Eh, ada Sungmin oppa.”

“Ini. Sungmin oppa membeli bunga! Lihatlah! Semuanya bunga kesukaanmu!” sahut Yoora.

“Jinja??” Riri menerima rangkaian bunga tersebut dari tangan Yoora. Dan benar saja, bunga-bunga itu adalah bunga kesukaannya. Riri mengangkat wajahnya dan menatap Sungmin. “Ini untukku oppa??” tanyanya.

Sungmin mengangguk tanpa ragu dan tanpa ada rasa terpaksa. Entahlah, ia hanya merasa senang saja setelah memberikan bunga tersebut, meskipun bukan kepada Yoora.

“Gomawo.” Riri tersenyum. Melihat Riri tersenyum membuat Sungmin ikut tersenyum dan juga gemas melihat pipi chubby Riri. Ia mencubit pelan pipi Riri. “Kyaa… kau imut sekali saat tersenyum!” puji Sungmin membuat pipi Riri memanas. Yoora yang melihat mereka hanya dapat tersenyum. Dalam hati ia berharap senyum dari dua orang yang begitu berharga dalam hidupnya ini tak akan pernah lenyap dari wajah mereka.

 

~-~

 

“Kenapa kau membawaku kemari oppa??” tanya Yoora sembari menatap Gereja Katolik Gongseri.

Sungmin hanya tersenyum tipis, tak menjawab pertanyaan Yoora. Ia menggandeng tangan Yoora dan membawa Yoora masuk ke dalam katedral.

 

“Disini… aku akan menikahi wanita yang aku cintai. Wanita yang akan menjadi istriku. Wanita yang akan mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku. Serta wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku.” tutur Sungmin.

“Tentu saja wanita itu haruslah juga mencintaimu??”

Sungmin menganggukkan kepalanya lalu menatap Yoora. “Hm… aku mengerti oppa. Jadi kau membawaku kemari ingin memperlihatkan padaku tempat kau akan mengikat janji suci bersama wanita yang kau cintai??” Yoora mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, siapa wanita beruntung itu oppa?? Aigo… ternyata selama ini kau sudah punya calon istri! Kenapa tidak pernah mengatakan padaku! Kau juga belum mengenalkan wanita itu padaku!” cerocos Yoora.

Sungmin menatap Yoora lembut. “Wanita itu kau.”

“APA?!” pekik Yoora refleks begitu mendengar ucapan Sungmin.

“Hahaha… oppa leluconmu garing! Tidak lucu! Hahaha…” Yoora tertawa memaksa.

“Ani Yoora-ya. Aku serius!” ucap Sungmin tegas membuat Yoora menghentikan tawanya. Ia menatap Sungmin dengan tatapan sendu.

“Oppa… Hhh.. kenapa kau mengatakan ini padaku?? Seharusnya kau ucapkan ini pada gadis yang benar-benar kau cintai dan yang mencintaimu tulus dari dalam lubuk hatinya serta hanya ada kau laki-laki kedua setelah ayahnya dihatimu. Bukan padaku.”

“Kalau kau berharap aku mencintaimu seperti itu. Maaf. Aku tidak bisa. Cintaku padamu hanya sebatas cinta dari seorang adik kepada kakaknya. Sama seperti aku mencintai Riri. Aku… jujur saja aku masih belum bisa membuka hatiku untuk pria lain pasca perceraianku kemarin.”

“Dan ada yang perlu kau tahu oppa. Aku masih belum bisa menendangnya dari hatiku. Meskipun begitu banyak goresan yang ia torehkan di hatiku, aku akui dengan sangat jujur dihadapanmu bahwa hatiku masih cukup kuat dan tetap berada di genggamannya hingga kini.” Ucap Yoora panjang lebar. Sebisa mungkin ia tidak menyakiti hati Sungmin meskipun sudah terlanjur sakit hati Sungmin karena pengakuannya yang masih mencintai Kyuhyun hingga saat ini.

“Lantas, mengapa kau memilih pergi darinya??” tanya Sungmin.

“Lalu apa?! Apa yang harus aku lakukan?! Aku tidak punya pilihan lain oppa. Aku hanya ingin melupakannya dan mengusir semua sakit yang aku rasakan. Tapi itu tidak akan bisa aku lakukan jika aku terus berada di sampingnya. Jadi… pergi adalah pilihan yang tepat.” ‘Kurasa.’ Sambung Yoora dalam hatinya.

“Dan asal kau tahu! Pikiranku selalu kacau jika melihatnya! Semua sakit yang awalnya mereda kembali terasa, bahkan berkali-kali lebih menyakitkan! Otakku selalu memutar kembali semua perilaku kasarnya terhadapku ketika mataku menangkap sosoknya! Dan itu semua membuat hatiku kembali sakit! Terlebih lagi mengingat fakta bahwa semua perbuatannya adalah penyebab utama aku melakukan aksi bunuh diriku hingga aku kehilangan anak yang begitu aku inginkan setelah berkali-kali aku berpikir untuk melenyapkannya!” Dada Yoora naik turun. Nafasnya tak beraturan. Matanya mulai berair dan dadanya mulai sesak. Semua emosinya yang tertahan, kini terluapkan karena menjawab pertanyaan Sungmin.

Sungmin menarik Yoora ke dalam rengkuhannya. “Kau pernah berjanji padaku untuk tidak menangis  lagi Yoora-ya!” Sungmin membelai lembut rambut Yoora.

“Janji hanyalah janji oppa! Aku juga manusia biasa. Aku butuh menangis untuk meluapkan semua emosi yang mengganjal di hatiku. Terkadang aku harus mengingkarinya untuk membuatku sedikit tenang. Karena hanya lewat menangislah aku bisa meluapkan semua rasa sakit yang memenuhi hatiku. Dan setelah itu aku akan merasa sedikit tenang.” Tutur Yoora.

“Aku mencintaimu Yoora-ya.”

Tidak. Sungmin belum berhasil membuat hati Yoora bergetar. Ia tidak merasakan apapun ketika Sungmin mengatakannya. Berbeda jika Kyuhyun yang mengatakannya. Jantungnya mungkin tidak akan berdebar kencang. Tapi hatinya, ia pasti merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya.

“Mianhae oppa. Tapi…”

“Ya. Aku tahu. Kau masih mencintai Kyuhyun kan??” potong Sungmin.

“Ne oppa. Benar. Benar aku masih mencintainya. Aku… aaa..ku..hks.. Dia… kenapa oppa?! Kenapa dia begitu kejam padaku?! Ia bahkan tidak mengembalikan sedikitpun cinta yang telah ia curi hingga tak bersisa dariku!! Andai cinta itu masih ada?? Hks… mu..mu..mungkin aku bisa menggunakannya..uun..tuk… belajar mencintaimu. Ta..tapi… mian… aku tidak punya cinta lagi untuk mencintai pria lain sebelum ia mengembalikan cinta yang telah ia curi dariku.” Ucap Yoora tersendat-sendat karena isaknya juga emosi yang ia luapkan.

Sungmin menundukkan kepalanya lalu kembali mengangkat kepalanya. “Ya, aku mengerti. Tapi…. Hhhh… tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuatmu mencintaiku dan melupakan cintamu padanya?? Aku yakin, kalau kau mau, kita bisa saling mencintai saat ini juga.” tanya Sungmin penuh harap.

“Oppa… cinta tidak bisa diatur semudah kau membalik telapak tanganmu. Kau tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu dan melupakan cintaku padanya begitu saja sedangkan faktanya aku sudah terlanjur terpaku hanya padanya. Meskipun banyak pria yang berhasil membuatku tersengat. Tapi hingga saat ini, hanya ia yang mampu membuat hatiku bergetar. Hanya ia yang mampu membuatku merasakan apa arti cinta sesungguhnya. Aku tidak bisa oppa. Aku tidak bisa merasakan apa itu cinta dari pria lain termasuk kau. Bahkan saat kau memelukku tadi, aku tidak merasakan apapun di hatiku seperti saat ia memelukku.”

Sungmin menghela nafas beratnya. Ia rasa sudah cukup. Ia tak mau memaksa Yoora untuk menerimanya. Mungkin yang harus ia lakukan hanyalah menunggu hingga Yoora siap untuk menerimanya. Biarlah waktu mengubah perasaan Yoora terhadapnya.

‘Walaupun berjuta pria tampan memelukku dan mengatakan cinta padaku, sulit untukku membalas cinta mereka. Jantungku memang berdebar. Tapi hatiku? Tidak. Aku tidak merasakan apapun di dalam hatiku. Semuanya sama. Hampa. Kecuali dia. Kecuali dia pria yang memeluk dan mengatakan cinta padaku. Hatiku tak akan terasa hampa jika pria itu dia.’ Batin Yoora.

 

“Kalau kau sudah merasa tenang, ayo kita kembali ke Seoul.” Ajak Sungmin. Ia berusaha tersenyum meskipun sulit setelah Yoora menolak perasaannya barusan.

Yoora menganggukkan kepalanya dan mereka pun kembali ke Seoul.

‘Aku memang tipe wanita yang mudah suka dengan pria. Apalagi jika pria itu tampan. Tapi itu bukan berarti aku juga mudah jatuh cinta. Suka dan cinta itu berbeda. Jadi… belum tentu jika aku menyukai seorang pria aku juga mencintai pria itu. So, sorry Sungmin oppa. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi kau akan lebih sakit lagi kalau aku menerimamu begitu saja…’ batin Yoora.

 

~-~

 

Kyuhyun baru saja selesai mengepack semua barang yang ingin ia pindahkan ke apartmentnya. Ia sudah memutuskan kalau mulai sekarang ia akan tinggal di apartmentnya sendiri. Karena, hanya disanalah ia masih bisa merasakan kehadiran Yoora.

 

“Sungmin-ah, kau baru pulang?? Darimana saja??” suara Yesung yang menyambut kedatangan Sungmin terdengar hingga kamarnya.

“Aku baru saja tiba dari Katedral Gongseri.” Sahut Sungmin. Meskipun berada di dalam kamar, Kyuhyun masih dapat mendengar apa yang member lain bicarakan di ruang tengah karena pintu kamarnya terbuka.

“Apa yang kau lakukan disana??” tanya Yesung lagi.

“Aku mengajak Yoora di sana. Dan aku….” Sungmin menggantungkan ucapannya.

“Dan aku mengatakan padanya kalau aku akan menikahinya di sana setelah ia siap!”

JLEB!!! Perih, sakit, semua bercampur jadi satu di dalam hati Kyuhyun ketika mendengar ucapan Sungmin. Ini bahkan lebih sakit daripada hati yang di masukkan ke dalam blender lalu hancur karena ketajaman pisaunya. Bagaimana tidak sakit?? Ia mendengar sendiri dengan telinganya kalau orang yang sangat dekat dengannya akan menikahi mantan istrinya, wanita yang amat amat sangat Kyuhyun cintai dengan sepenuh hati yang ia miliki hingga tak tersisa sedikitpun untuk dirinya sendiri.

Tapi di lain sisi ia merasa sedikit lega begitu mengetahui ada orang yang akan menggantikan dirinya menjaga wanita yang begitu berarti untuknya.

‘Aku harap, keputusan kita untuk berpisah membawamu ke jalan dimana kau akan menemukan kebahagian barumu. Semoga Sungmin hyung adalah laki-laki yang tepat untukmu. Bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu. Tidak akan menyakitimu seperti aku. Dan bisa menjagamu. Aku tidak peduli seberapa besar sakit yang harus aku rasakan. Asalkan melihatmu bahagia dan dapat tersenyum kembali, itu sudah lebih dari cukup untukku.’ Batin Kyuhyun.

 

~-~

 

“Kau darimana Yoora-ya??” tanya Riri begitu Yoora masuk ke dalam rumah.

“Pergi jalan-jalan bersama Sungmin oppa.” Raut wajah Riri berubah ketika mendengar jawaban Yoora. Buru-buru ia mengubah kembali ekspresi wajahnya.

“Jinja?! Jalan-jalan kemana??” tanya Riri berpura-pura gembira.

“Katedral Gongseri.” Jawab Yoora sembari duduk di sebelah Riri. Ia menyandarkan punggungnya di sofa. Pikirannya menerawang entah kemana.

“Ooh.. a..aa..pa yang kalian lakukan di sana??” tanya Riri lagi.

“Ia melamarku.” Sahut Yoora pelan. Seketika itu juga Riri merasakan sesak di dadanya. Pikirannya penuh dengan Sungmin, pernikahan, Sungmin, pernikahan, dan begitu seterusnya.

Air mata menggenang di pelupuk mata Riri. Ia bingung harus senang atau sedih menanggapi ucapan Yoora.

‘Tch! Pada akhirnya aku hanya akan menangisi cinta yang sudah hampir setahun ini aku pendam.’ Lirihnya dalam hati.

“Aku ke kamar dulu. Ku rasa aku mengantuk!” Yoora tertegun mendengar nada bicara Riri. Ia menatap punggung Riri yang perlahan menghilang di balik pintu kamarnya.

Ia melihat jam di dinding ruang tengah. Pukul 08.35. Terlalu cepat untuk Riri tidur karena Yoora tahu jam tidur Riri adalah di atas 09.30 malam. Ia tahu ada yang tidak beres dengan Riri. Tapi otaknya benar-benar sedang tidak bisa berpikir tentang apa yang membuat Riri bersikap aneh seperti tadi.

 

~-~

 

From     : Sungmin oppa ^^

Ya! Kau sudah bangun atau belum???

Ayo bangun!! Matahari sudah tinggi!

Kalau kau tidak bangun juga, matahari akan memarahimu!!

Kekeke :P

 

-Love u- Sungminnie ^^

 

Yoora mendesah. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya memberitahu Sungmin agar tidak menulis ‘Love You’ lagi di semua pesan yang ia kirim. Sebulan yang lalu, sehari setelah pergi ke Katedral Gongseri, Sungmin selalu mengiriminya sms dengan kalimat ‘I Love You’ sebagai penutup pesannya. Hal tersebut tentu saja membuat Yoora risih.

‘Aku tidak mau membuatnya berharap terus padaku. Huft… sebaiknya mulai sekarang aku agak menjaga jarak dengannya.’ Batin Yoora.

‘Dan lebih baik tidak membalas pesan-pesan bernada romantisnya itu. Hiiii….’ Sambung Yoora dalam hatinya.

 

Yoora bangkit dari ranjang dan merapikan ranjangnya. Ia bergegas membersihkan dirinya. Rencananya hari ini ia akan pergi berjalan-jalan keluar sembari mencari pekerjaan. Ia tidak mau merepotkan Riri terus. Jadi ia memutuskan untuk bekerja dan gajinya nanti akan ia gunakan untuk menyewa apartmen.

 

~-~

 

Seorang pria dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, berjalan dengan brosur di tangannya. Sesekali ia berhenti dan menempelkan salah satu brosur di tangannya di dinding gedung-gedung di pinggir jalan.

Sudah sejak dua jam yang lalu ia berjalan hingga brosur di tangannya tersisa dua buah. Ketika ingin menempelkan brosur lagi, matanya menangkap sosok yang baginya sangatlah tidak asing. Ia mengurungkan niatnya untuk menempel brosur dan berjalan mendekati sosok yang ia kenal itu.

 

“Yoora??”

Yoora-sosok yang pria tersebut dekati- menoleh dan menatap pria dihadapannya dengan tatapan bingung. Pria tersebut melepas kacamata hitamnya dan tersenyum kepada Yoora. Mata Yoora membelalak, “JIHO?!?!”

 

~-~

Jiho memberikan sekaleng soda kepada Yoora. “Bagaimana kabarmu?? Sudah lama tidak bertemu, ternyata tidak banyak ya yang berubah darimu!”

Yoora tersenyum, “Kabarku baik. Kau sendiri bagaimana?? Dan ya… aku memang tidak banyak berubah. Kau yang banyak berubah! Aku bahkan tidak menyangka pria tampan di hadapanku tadi adalah Park Jiho!” ucap Yoora, terkekeh.

“Haha… aku juga baik. Oh ya?? Aku tampan?? Hm… sebenarnya aku tahu aku itu tampan. Kekeke… By the way, kau masih bersama Riri??” tanya Jiho.

“Tch! Narsismu itu tak berkurang sedikitpun! Riri?? Ne! Aku bahkan tinggal serumah dengannya.”

“Jinja?? Bagaimana kabarnya?? Dan… errr… apa ia banyak berubah??”

“Dia baik-baik saja. Ne! Dia makin cantik sekarang! Kau pasti terkejut melihat sosoknya yang sekarang.” Sahut Yoora.

“Apa dia masih kekanak-kanakan dan suka berteriak??” tanya Jiho penasaran.

“Sedikit. Sekarang dia sudah mulai dewasa. Dia juga jarang meneriakiku lagi jika aku melakukan kesalahan.” Jawab Yoora.

“Ooohhh… ngomong-ngomong tadi kau mau kemana??” tanya Jiho lagi.

“Tidak kemana-mana. Hanya sekedar jalan-jalan saja. Sekalian mencari pekerjaan. Kau sendiri, mau kemana??”

“Wah! Kebetulan sekali! Butikku sedang mencari pegawai baru! Kau berminat atau tidak??” tawar Jiho.

“Mwo?? Ah.. tentu saja aku berminat!!” sahut Yoora.

“Kalau begitu, datanglah ke butikku besok!” ucap Jiho sembari menyerahkan selembar brosur di tangannya.

“Gomawo.” Yoora tersenyum sembari sedikit menundukkan kepalanya.

 

~-~

 

Riri keluar dari rumahnya ketika mobil Sungmin sampai. Hari ini Sungmin menghubunginya dan mengatakan bahwa ia memerlukan bantuan Riri.

Sungmin menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum sembari melambaikan tangan pada Riri. Riri menghampiri mobil Sungmin lalu masuk ke dalamnya dan duduk di samping kemudi.

“Kita mau kemana oppa??” tanya Riri.

“Lihat saja nanti.” Jawab Sungmin sembari tersenyum misterius.

 

Mobil Sungmin terpakir di depan sebuah butik. Riri menatap Sungmin bingung.

Sungmin tersenyum, “Kau punya ukuran tubuh yang sama dengan Yoora, jadi aku mohon bantuanmu. Coba gaun pengantin yang ku pesan untuknya ya??”

Riri menyanyikan lagu Heartbreaker milik GDragon Bigbang dalam hatinya. Ia menyunggingkan senyum palsu di wajahnya dan menganggukkan kepalanya pelan.

‘Hahaha… 2012 yang menyedihkan! Cih! Kisah cinta pertama yang miris! Aku bahkan tidak bisa bersanding dengan pria yang kucintai di pelaminan! Apa bagusnya hanya mencoba gaun pengantin dari calon istri pria yang kucintai??? Kau-menyedihkan-Park-Richan! Tch!’ ucap Riri dalam hatinya.

 

Mereka memasuki butik tersebut.

“Nyonya Chang! Tolong bawakan aku gaun pengantin yang waktu itu aku pesan!” pinta Sungmin. Nyonya Chang-pemilik butik tersebut- menyuruh pegawainya mengambilkan gaun yang Sungmin pesan.

 

“Ayo lekas di coba! Kau juga Tuan Lee! Ayo coba Tuxedomu!” suruh Nyonya Chang begitu pegawainya datang dengan gaun pengantin dan Tuxedo.

Riri dan Sungmin sama-sama tersenyum dan mencoba gaun pernikahan.

Riri menatap gaun putih dihadapannya dengan tatapan sedih. ‘Seandainya gaun itu untukku…’ lirihnya dalam hati.

 

“Aigooo… cantiknya!!” pekik Nyonya Chang ketika Riri keluar dari ruang ganti dengan gaun pengantin yang membalut tubuhnya. Sungmin yang telah mengenakan Tuxedo membalik badannya dan tersenyum pada Riri. Nyonya Chang benar, Riri cantik dengan gaun pengantin yang membalut tubuhnya.

“Kalian berdua cocok!! Kau memang pintar memilih calon istri Tuan Lee!” puji Nyonya Chang.

Sungmin tertawa, “Hahaha… Nyonya Chang bisa saja! Tapi Riri bukan calon istriku! Ia adalah sahabat calon istriku!”

Untuk kedua kalinya Riri menyanyikan lagu Heartbreaker dalam hatinya ketika mendengar ucapan Sungmin.

“MWO?!?!” Nyonya Chang tampak kaget dan bingung.

“Ne! Dia itu sahabat calon istriku! Aku meminta bantuannya untuk mencoba gaun pengantin itu karena ia punya ukuran tubuh yang sama dengan calon istriku! Karena gaun ini akan aku jadikan kejutan untuk calon istriku di hari pernikahan kami!” jelas Sungmin. Riri hanya mampu tersenyum lirih.

‘Setelah ini apa lagi??’ batinnya.

 

~-~

 

Kali ini mobil Sungmin berhenti di depan sebuah toko perhiasan. “Riri-ya, aku minta tolong sekali lagi ya?” ucap Sungmin membuat Riri mengalihkan pandangannya dari toko ke wajah Sungmin.

“Tolong pilihkan aku dan Yoora cincin pernikahan…” pinta Sungmin.

‘Sudah ku duga.’ Batin Riri.

Riri hanya mampu menghela nafas dan menganggukkan kepalanya. Kali ini bukan lagu Heartbreaker yang ia nyanyikan dalam hatinya, namun lagu A Bitter Day milik Hyuna ft G.Na dan Junhyung.

A bitter day da ireokae jiweogagaetji,

Eonjaeganeun ichyeojigaetji,

Na geujaeseoya utgaetjeman,

Jigeumeun nado eojjeolsuga eobtnae.

Lagu A Bitter Day ia alunkan sejak kakinya berpijak di tanah di hadapan toko hingga ia memasuki toko. Matanya menatap toko, blank. Setelah gaun pengantin, sekarang cincin pernikahan. Ia berharap hari ini segera berakhir. 26 Januari 2012. Ia akan melupakan hari menyedihkan ini.

 

Riri mulai berjalan mengitari toko dan melihat-lihat semua cincin di toko tersebut. Sungmin memperhatikan Riri yang terlihat sedang memilih-milih. Ia melihat Riri berhenti dan menatap sepasang cincin di dalam etalase. Ia menghampiri Riri, “Apa kau sudah menemukan cincinnya??” tanyanya pada Riri.

Riri tersenyum kecil sembari menunjuk sepasang cincin polos berbahan emas putih.

“Cincin yang simple. Kenapa kau memilih cincin itu??” tanya Sungmin.

“Ya, benar. Cincin itu memang terlihat simple. Tapi itulah keistimewaan cincin itu. Sama seperti cinta. Cinta juga sesuatu yang simple. Kau tidak perlu alasan untuk mencintai sesorang. Karena kau sendiri pasti bingung dan tidak tahu kenapa kau mencintai orang itu. Sakit hati karena cinta juga hal yang simple. Karena itulah aku menyimpulkan kalau cinta itu sesuatu yang simple. Hanya rasa untuk meyakinkan kita akan adanya cinta itu yang rumit. Kau akan bingung. Cinta itu benar adanya atau tidak.” Jelas Riri.

Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum, “Kalau begitu aku ambil cincin yang ini!”

 

~-~

 

Sungmin menghentikan mobilnya di depan rumah Riri. Riri masih terdiam, bergulat dengan pikirannya sendiri. “Kapan kau akan menikah dengannya??” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Riri.

“Aku akan melamarnya lagi 3 minggu lagi. Kalau ia bilang ia mencintaiku dan mau menikah denganku, maka saat itu juga aku akan menikahinya.” Riri mengernyitkan dahinya bingung. Ia menatap Sungmin bingung. “Kenapa kau melamarnya lagi?? Bukankah kau sudah melamarnya??”

“Ia menolak lamaran di Katedral Gongseri!” jawab Sungmin.

Riri tertegun mendengar jawaban Sungmin.

 

‘Bolehkah aku senang?? Bolehkah aku tetap berharap??’ batin Riri.

‘Mengapa aku begitu jahat, mengharapkan Yoora akan menolak lamaran Sungmin oppa 3 minggu lagi?? Mengapa aku begitu jahat, berharap semua yang Sungmin oppa siapkan untuk pernikahannya sia-sia?? Mengapa aku begitu jahat, menginginkan Sungmin oppa menjadi milikku sedangkan ia menginginkan Yoora??’

‘Tuhan…. Maafkan aku. Maafkan kejahatanku yang berharap buruk atas pernikahan sahabatku dan pria yang ku cintai. Maafkan aku…’

‘Tapi Tuhan, aku sangat berharap padamu bahwa ia adalah takdirku. Bolehkan aku meminta padamu untuk menjadikannya sebagai milikku?? Bolehkan aku memohon padamu agar Yoora menolaknya??’

 

Riri membuka pintu mobil Sungmin dan memijakkan kakinya ke tanah. Namun sebelum Riri benar-benar keluar, Sungmin menahan tangan Riri. Riri memutar kepalanya dan menatap Sungmin.

‘Apa? Apa yang ingin aku katakan?? Kenapa aku menahannya??’ batin Sungmin bingung. Riri masih tetap menatap Sungmin, menunggu Sungmin mengucapkan sesuatu.

“Terima kasih untuk bantuanmu hari ini.” Akhirnya kalimat itulah yang meluncur dari mulut Sungmin. Sungmin melepaskan tangan Riri perlahan. Riri tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

 

‘Hari yang menyedihkan. 26 Januari 2012. Aku membenci hari ini. Aku berjanji akan melupakan hari ini!’ Batin Riri sembari berjalan menuju rumahnya. Sedangkan Sungmin, masih tetap menatap punggung Riri yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya dan akhirnya menghilang di balik pintu rumahnya.

 

~-~

 

5 Februari 2012

 

Riri dan Sungmin terduduk di sebuah meja di kafe dekat kantor SME. Sungmin mengajak Riri bertemu. Ia punya banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Riri.

Dengan enggan Riri mendengar semua cerita dan keluh kesah Sungmin yang rata-rata tentang Yoora.

Sesekali Riri menanggapi ocehan Sungmin dengan senyum palsunya.

 

“Kau tahu?! Semua persiapan pernikahannya sudah selesai! Aaahh… aku tidak sabar menunggu tanggal 11!” ucap Sungmin.

“Jinja??” tanya Riri berpura-pura senang.

“Ne! Gereja sudah! Gaun sudah! Cincin sudah!” jelas Sungmin.

“Kau sudah bilang pada orang tua dan keluargamu??” tanya Riri dan Sungmin menggelengkan kepalanya, santai.

“Orang tuaku sudah pasti setuju dengan semua pilihanku! Lagipula mereka juga ingin segera memiliki menantu dan cucu! Jadi aku tinggal membawa Yoora kepada mereka dan meminta ayah menjadi walinya!” ucap Sungmin.

Riri mengangguk-anggukkan kepalanya.

’11 Februari akan menjadi hari yang menyedihkan seumur hidupku…’ batin Riri.

 

“Hhhh…” Riri mendengar Sungmin yang tiba-tiba menghela nafas berat.

“Tapi masih ada satu masalah.”

“Apa??” tanya Riri.

“Yoora. Hhh… aku merasa akhir-akhir ini ia menjauh dariku.” Ucap Sungmin dengan nada sedih.

“Tidak oppa. Aku yakin dia tidak menjauhimu. Mungkin ia sedang sibuk dengan urusannya, jadi ia tidak bisa sering-sering menghubungimu.” Ucap Riri mencoba menghibur Sungmin. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Harusnya ia merasa senang mendengar Yoora menjauhi Sungmin. Tapi tidak, ia malah merasa sebaliknya begitu melihat Sungmin sedih.

 

“Menurutmu, apa Yoora masih mencinta Kyuhyun??” Riri tertegun mendengar pertanyaan Sungmin setelah beberapa saat mereka dilanda keheningan.

‘What the hell?! Kenapa ia bertanya seperti itu?? Jelas-jelas ia tahu apa jawabannya!’ batin Riri.

“Kenapa kau tanya lagi oppa?? Bukankah sudah sering ku katakan kalau Yoora masih mencintai Kyuhyun?! Mereka masih saling mencintai oppa!” Riri tahu jawabannya barusan pasti menyakiti hati Sungmin. Apalagi ia menekankan sekali kalimat terakhirnya. Tapi ia melakukan ini semata-mata ingin menyadarkan Sungmin. Ia tidak mau berbohong dan membuat Sungmin berharap lebih pada Yoora.

Tapi pada akhirnya ia sadar. Sekeras apapun ia berusaha menyadarkan Sungmin, Sungmin akan tetap mencintai Yoora.

 

~-~

 

11 Februari 2012

 

Riri mengambil iPod-nya. Ia memasang earphone di kedua telinganya. Mendengar lagu mungkin dapat mengusir sedikit kegundahannya, pikirnya.

There’s a song that’s inside of my soul,

It’s the one that I’ve tried to write over and over again,

I’m awake in the infinite cold,

But you sing to me over and over and over again.

 

Riri tersenyum. ‘Bagaimana bisa lagu ini yang berputar?? Hhh… harusnya aku mendengar lagu-lagu up beat!’ pikirnya. Jarinya bergerak di layar touchscreen iPodnya, mencari lagu-lagu yang bisa membuatnya semangat dan kembali ceria.

“Sial! Kenapa lagunya ballad dan lagu-lagu galau semua??” rutuknya.

 

So I lay my head back down,

And I lift my hands and pray to be only yours,

I pray to be only yours,

I know now you’re my only hope.

 

Jarinya berhenti bergerak ketika lagu sampai di lirik tersebut. Air mata menggenang di pelupuk matanya dan siap jatuh.

‘Apa kisah cintaku akan berakhir sampai disini saja??’

Matanya menatap kosong ke arah layar iPodnya. Ia meresapi setiap lirik dan nada yang mengalun. Sebait lirik yang benar-benar menggambarkan tentang dirinya sekarang. ‘I pray to be only yours…’ ia menyanyikan lirik tersebut di dalam hatinya.

‘Aku berharap aku menjadi milikmu. Tapi akankah harapanku itu terkabul??’

‘Bolehkah aku berharap seperti itu??’

 

Lagu terus mengalun seiring air matanya yang terus jatuh dan mengalir membentuk sungai kecil di pipinya.

‘Apakah Yoora akan menerima lamaran Sungmin oppa??’ pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Ia berjanji, bukan hanya menghapus tanggal 26 Januari 2012 dalam hidupnya. Tapi ia juga akan menghapus hari ini. Hari paling buruk dalam hidupnya ketika Yoora menerima lamaran Sungmin oppa.

Tapi sekali lagi ia berharap akan keajaiban Tuhan untuknya.

‘Tuhan, maafkan dosaku ini. Maafkan kejahatanku yang berharap buruk tentang pria yang ku cintai dan sahabat yang ku sayangi.’

‘Aku mohon… untuk sekali ini saja dalam hidupku… aku bisa memilikinya. Aku mohon… bawa ia padaku Tuhan.’

 

~-~

 

Yoora memasuki sebuah kafe di dekat sungai Han. Sungmin mengajaknya untuk bertemu. Awalnya ia ingin menolak, namun ia merasa tak enak jika terus menolak ajakan Sungmin.

 

Yoora mengedarkan pandangannya, menelisik seisi kafe mencari sosok Sungmin. Matanya melihat figur seorang pria dengan topi hitam dan kacamata hitam di sudut kafe sedang menyesap cappuccino di tangannya. Yoora menghampiri pria itu, yang tidak lain adalah Sungmin.

“Mian oppa, aku telat! Kau sudah lama menunggu??” Yoora menarik kursi di hadapan Sungmin dan duduk di sana.

“Gwaenchana! Aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu!” ucap Sungmin.

“By the way, kau mengajakku bertemu, ingin bicara apa??” tanya Yoora.

Sungmin menatap Yoora. Otaknya tengah memikirkan kata-kata apa yang ingin ia ucapkan. ‘Langsung ku lamar atau tidak ya?? Ah! Lebih baik aku menyatakan perasaanku sekali lagi! Kalau ia memiliki perasaan yang sama denganku baru ku lamar!’ batin Sungmin.

“Yoora-ya, Saranghae.”

Sungmin menatap Yoora penuh harap. Tapi akhirnya Sungmin tahu apa jawaban Yoora.

‘Hhhh… haruskah aku menyerah sekarang?? Akankah ini jadi yang terakhir kalinya aku melamar dan mengatakan cinta padanya??’ batin Sungmin.

 

“Oppa… mian.. aku… aku benar-benar tak bisa. Mian.” Ucap Yoora pelan.

Entahalah, ini sudah yang kesekian kalinya Yoora menolak Sungmin.

“Tak adakah sedikit celah dihatimu untukku??” tanya Sungmin lirih.

“Mian. Bukan begitu oppa. Hanya saja, aku tak bisa mencintaimu melebihi cinta dari adik untuk kakaknya. Kau itu sahabat sekaligus kakak untukku! Aku… tak bisa mencintaimu lebih dari itu. Mian.” Jelas Yoora-lagi- merasa tak enak pada Sungmin.

“Gwenchana. Aku mengerti. Mungkin kau belum bisa melupakan Kyuhyun sepenuhnya.” Ucap Sungmin.

‘Baiklah. Aku tidak akan memaksanya lagi! Mungkin sudah saatnya aku menyerah.’ Pikir Sungmin.

 

“Yoora-ya.” Panggil Sungmin. “Hm??”

“Bantu aku melupakan perasaan cinta ini!” pinta Sungmin.

Yoora tersenyum. “Kau harus mencari pacar oppa. Banyak wanita yang sangat mencintaimu!” saran Yoora.

“Bagaimana kalau aku masih tetap mencintaimu meskipun aku sudah bersama wanita lain?!” tanya Sungmin.

“Ani. Aku yakin kau pasti bisa!” ucap Yoora yakin.

“Cinta itu bisa tumbuh pelan-pelan jika kau menghabiskan banyak waktu dengan pacarmu!” sambung Yoora.

Sungmin tersenyum menanggapi ucapan Yoora. ‘Pacar ya?? Aku tidak terlalu tertarik dengan sesuatu yang namanya pacaran sekarang! Yang aku inginkan adalah seorang istri. Aku sudah terlalu tua untuk pacaran. Di usiaku yang sekarang ini seharusnya aku sudah menikah. Aku tidak mau menunggu lagi. Aku tidak ingin ketika anakku remaja sudah ada rambut-rambut putih yang tumbuh di kepalaku.’ batin Sungmin.

‘Tapi… hhh… Yoora sudah menolakku! Sia-sia sudah semua yang telah kusiapkan!’ sambungnya lagi.

 

‘Tch! Aku bersumpah dan berjanji, kalau dalam waktu dekat ini ada wanita yang mau menikah denganku, saat itu juga aku akan menikahinya!!’ seru Sungmin dalam hati.

‘Tapi tentu saja wanita itu haruslah wanita baik-baik….’ Lanjutnya lagi.

 

~-~

 

From     : Sungmin oppa

Riri-ya, bisa kita bertemu?? Aku ingin curhat padamu.

 

Riri menghela nafas. ‘Curhat?? Tch! Pasti ia ingin menceritakan tentang keberhasilannya melamar Yoora!’ pikir Riri.

“Aku belum siap bertemu dengannya dengan kondisi yang menyedihkan seperti ini!” gumam Riri.

Jari-jari Riri bergerak lincah di layar touchscreen handphonenya, membalas pesan Sungmin.

 

To           : Sungmin oppa

Mian oppa ^^V aku tidak bisa. Besok saja ya.

Aku sedang tak enak badan.

 

~UM3 Before Story’s Status: TBC~

 

Sebelumnya Trik mau minta maaf untuk keterlambatan Trik ngepost lanjutannya *udh lama, jelek pula*

Oh ya, before story-nya trik bagi jadi 2 part okay ;)

maunya di jadiin oneshot, tpi trnyata kmrn trik check pas lagi ngetik udh smpe 28 lembar dan itu belom ampe ending -_-

jadi…… trik bagi jadi 2 :D udh panjang kan ini???

Untuk chapter 2, bakal trik fokusin ke prosesi pernikahannya :) dan Chapter 4 UM3 trik post stlh UM3 Before Story kelar :D

Sekian dari Trik, thx udh baca :)

Mau Koment atau Like, terserah kalian aja… Trik gak maksa kok :) yang penting komentnya ikhlas :)

Jangan ninggalin bashing okay ;)

 

Kalo mau ngobrol ama trik atau mau koment, bisa contact #Heello @Putri0410 #Twitter @Putri_Official atau #FB Choi Putri Elf

5 responses

  1. Waaaaah keren keren..
    Aku udah nunggu lama banget nih ff..
    Gila ya, kalo aku jadi riri gak tau bakal gimana. Pasti sakit banget..
    Sedih pas bagian riri dengerin lagu Only Hope-nya Mandy Moore. aku sukaaa banget tuh lagu *gakadayangnanya*
    Itu Jiho suka sama riri yaa?! Udah deh kalo sungmin masih nyakitin riri, mendingan riri sama jiho..
    Tapi aku mau riri sama sungmiiiin *pinplan*
    Bikin sungmin jadi cinta secinta cintanya sama riri yaaa kekeke..

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s