Romeo and Juliette [3/3]

Title :  Romeo and Juliette [3/3]

Author : Ratih

Main Cast : Choi Sooyoung (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Seo Joohyun (SNSD), Donghae (Super Junior), Im Yoon Ah (SNSD)

Genre : Romance

Type: Series

Rating : PG-15

Happy reading ♥

Yoona tersenyum sopan begitu melihat kedatangan Sooyoung. Ia ingin membicarakan sesuatu pada Sooyoung, makanya ia sengaja datang ke rumah Sooyoung. Tapi Yoona agak terkejut saat melihat Sooyoung pulang bersama seorang laki-laki.

“Yoona-sshi?” Sooyoung menyapa Yoona, heran. Ia segera mempersilahkan Yoona untuk masuk.

“Baiklah, aku pulang dulu. Selamat malam,” ujar Kyuhyun. Ia mengangguk sopan pada Yoona, lalu pergi.

Setelah Kyuhyun pergi, Yoona dan Sooyoung masuk ke dalam rumah.

“Silahkan duduk, Yoona-sshi. Tumben sekali kau mampir,” ujar Sooyoung, basa-basi. Baru dua kali Yoona datang ke rumahnya. Kedatangan pertama adalah saat Yoona memberitahu bahwa ia akan menikah dengan Donghae dan ia meminta maaf karena telah membuat Sooyoung dan Donghae berpisah.

Hari ini adalah kedatangan yang kedua. Kira-kira apa yang akan dikatakan wanita itu?

“Mau minum apa?” Sooyoung menawarkan.

“Tidak usah repot. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Detik ini juga Sooyoung mempersiapkan dirinya. Entah apa yang akan dikatakan Yoona, tapi, saat wanita itu membuka pembicaraan, seakan atmosfir ruangan ini berubah. Menurut Sooyoung, Yoona adalah wanita yang sulit untuk ditebak. Raut wajahnya menyembunyikan sesuatu begitu rapi, tak terbaca.

“Donghae tidak menyukaiku,” kata-kata itu meluncur dari bibir Yoona. Singkat, namun berhasil membuat tubuh Sooyoung kaku. Ia menatap Yoona, merasa bersalah. Tidak seharusnya Yoona mengatakan hal itu.

“Aku tahu dia hanya kasihan padaku,” Yoona melanjutkan kata-katanya. Seakan kata-kata yang terucapkan sebelumnya masih belum cukup menyakitkan.

“Yoona-sshi! Jangan bicara seperti itu!” bantah Sooyoung.

Namun Yoona hanya tersenyum pasrah. “Sooyoung-sshi, kau masih menyayangi Donghae?”

Sooyoung terdiam. Ia telah memikirkan jawaban yang tepat dan ia tahu apa yang harus ia katakan. “Tidak. Aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya.”  Percaya atau tidak, Sooyoung berkata jujur saat ini. Ia tidak membohongi perasaannya sendiri dan ia tidak sedang berpura-pura.

Yoona menatap Sooyoung, melihat kesungguhan wanita itu saat menjawab pertanyaannya. Ia rasa Sooyoung tidak sedang berbohong saat ini. Mungkin Sooyoung memang sudah tidak menyukai Donghae. Mungkin kehadiran laki-laki tadi yang telah membantu Sooyoung melupakan masa lalunya. Segalanya hanya kemungkinan, tapi Yoona meyakini hal itu.

Yoona tersenyum tulus. “Aku turut bahagia mendengarnya. Dan maaf kalau aku pernah menyakiti perasaanmu.”

Sooyoung balas tersenyum. “Bukan salahmu.”

Yoona berdiri, berpamitan pulang. Setelah beberapa langkah pergi, ia membalikkan badannya. “Kau tidak mau tahu kenapa Donghae mau menikah denganku?” tanyanya.

Sooyoung menatap wanita itu ragu, kemudian ia tersenyum. “Apapun itu, kuharap Donghae adalah pria yang tepat untukmu.”

Yoona tersenyum penuh arti. Ia mengangguk sopan lalu kembali melanjutkan langkahnya, berjalan pergi dengan perasaan lega.

***

      Kyuhyun menatap bayangan dirinya yang terpantul samar oleh permukaan danau. Kemudian ia melihat bayangan wanita yang sedang duduk di sampingnya. Wanita yang sedang menatap kosong bayangannya sendiri. Sooyoung.

“Ya! Gwaenchanayo? Daritadi kau melamun terus.”

Sooyoung mengerjapkan matanya lalu menatap Kyuhyun canggung. “Gwaenchana.”

“Sedang ada masalah?”

Sooyoung menggelengkan kepalanya.

“Yakin?”

“Sungguh, aku tidak apa-apa.”

Kyuhyun menatap Sooyoung. “Kalau ada masalah, kau beritahu aku. Aku akan membantumu. Aku janji.”

Sooyoung tersenyum penuh arti. “Kau sudah membantuku melupakan masa lalu dan itu sudah sangat berarti untukku.”

Kyuhyun menerawang, menatap lurus. Kemudian ia tersenyum samar. “Aku tidak tahu kau sedang memikirkan apa saat ini. Tapi, kuharap, suatu saat nanti, kau akan memikirkanku.”

Sooyoung tersenyum kecil. “Teruslah berharap, Kyu.”

“Yaah kurasa harapan itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Benar, kan?” Kyuhyun memperlihatkan ekspresi percaya dirinya.

Sooyoung tertawa. “Kurasa memang sudah menjadi kenyataan.” Sooyoung bangkit berdiri lalu berjalan santai menjauhi Kyuhyun. Sementara Kyuhyun menatap Sooyoung tidak percaya. “Ya! Aku tidak salah dengar, kan? Choi Sooyoung ayo ulangi kata-katamu!” Kyuhyun berlari menyusul Sooyoung.

“Tadi kau tidak bercanda, kan?” tanyanya lagi. Sementara Sooyoung hanya tersenyum jahil. “Menurutmu?”

Kyuhyun tersenyum. Ia menarik Sooyoung ke dalam pelukannya. “Menurutku, kau tulus mengatakannya.”

Dari kejauhan, Donghae memperhatikan Kyuhyun dan Sooyoung. Ia ikut tersenyum, bahagia bisa melihat Sooyoung tidak bersedih lagi. Akhirnya ada seseorang yang bisa membuat Sooyoung seperti dulu. Sooyoung berhak untuk dicintai, bukan disakiti. Hanya orang bodoh seperti dirinya yang tega menyakiti Sooyoung.

“Kau masih menyukainya ya?” Yoona berdiri di samping Donghae, menatap laki-laki itu penuh harap. Berharap Donghae akan menjawab ‘tidak’.

Donghae tersenyum samar. “Aku tetap akan mengatakan satu jawaban yang sama: dia hanya masa lalu.”

Yoona mengalihkan pandangannya, menatap apapun selain mata Donghae. Ia takut saat menatap mata itu, ia akan menemukan satu kenyataan bahwa Donghae hanya sedang berbohong saat ini. Ia sudah sering menangkap perasaan itu, memergoki setiap kali Donghae berkata bohong, bahwa ia telah melupakan masa lalunya. Tapi, entah kenapa hari ini Yoona membiarkan dirinya percaya pada apa yang Donghae katakan. Setidaknya ia ingin merasa lebih tenang saat ini. Lagipula Donghae tidak mungkin berbohong terus padanya. Kali ini adalah akhir dari kebohongan itu. Semoga saja.

Donghae menoleh, menatap wanita yang saat ini menjadi pendamping hidupnya. Semakin hari, Yoona terlihat semakin pucat. Wanita itu benar-benar berusaha melawan penyakit yang dideritanya. “Di antara sekian banyak orang, kenapa harus Yoona yang mengidap penyakit sialan itu?!” Donghae merutuk dalam hatinya.

Donghae menyadari bahwa perasaan tulus itu akhirnya muncul. Setelah sekian lama ia berusaha, akhirnya ia menemukan perasaan itu untuk Yoona. Ia tidak akan berbohong lagi saat ini. Mulai sekarang, ia jujur saat mengatakan bahwa ia menyayangi Yoona. Ia tidak mau kehilangan wanita itu.

Ia menggenggam tangan Yoona erat. “Sekarang dan sampai kapanpun, kau adalah wanita dalam hidupku. Berusahalah untuk tetap berada disampingku, mengerti?”

Yoona tersenyum haru. Jika boleh, ia ingin sekali bertahan selama mungkin. Berusaha membuat Donghae mencintainya sebelum ia pergi. Tapi, adakah kesempatan baginya untuk tetap disisi Donghae lebih lama lagi? Yoona menggeleng. Tidak ada. Sudah tidak banyak lagi waktu untuknya.

Donghae mempererat genggamannya. “Bertahanlah untukku. Aku yakin kau bisa.”

***

1 tahun kemudian…

Kyuhyun menatap kagum begitu Sooyoung memasuki gereja dengan gaun berwarna putih, pilihan mereka berdua. Padahal sebenarnya Kyuhyun lebih suka warna biru, tapi Sooyoung langsung menolaknya mentah-mentah. “Gaun pernikahan itu warna putih!” ujar Sooyoung waktu itu.

Sooyoung berjalan anggun, diiringi dua gadis kecil yang membawa bunga mawar putih. Sooyoung tersenyum penuh arti, menatap kedua mata Kyuhyun yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya.

Kyuhyun meraih tangan Sooyoung. “Kau cantik sekali.”

Sooyoung tersenyum.

“Ehm kau tidak mau bilang aku tampan?” Kyuhyun masih mencoba bercanda. Membuat para hadirin bahkan sang pendeta tertawa.

Sooyoung tertawa kecil seraya mencubit tangan Kyuhyun. “Bawel!”

Kyuhyun terkekeh.

Setelah itu, raut wajah semua orang kembali serius saat pendeta memulai ikrarnya. Pengucapan janji suci yang akan mengikat kedua mempelai ini menjadi pasangan hidup abadi.

“Cho Kyuhyun, apakah kau bersedia, selamanya, seumur hidupmu, mencintai Choi Sooyoung, membahagiakannya, dan menjaganya?”

Kyuhyun menatap Sooyoung. “Aku, Cho Kyuhyun, bersedia dan berjanji, akan mencintai Choi Sooyoung selamanya, seumur hidupku. Menjaganya dan membahagiakannya dengan segenap jiwaku.”

“Dan kau Choi Sooyoung, bersediakah kau, menerima Cho Kyuhyun menjadi pendamping hidupmu?”

Sooyoung tersenyum mantap. “Ya, aku bersedia.”

***

      Para tamu berdatangan, mengucapkan selamat kepada Kyuhyun dan Sooyoung atas pernikahan mereka. Donghae dan Seohyun pun turut hadir.

“Selamat ya. Semoga kalian berbahagia,” Donghae menjabat tangan Kyuhyun.

“Ya. Terima kasih, hyung.”

Kemudian ia beralih pada Sooyoung. “Selamat Sooyoung-ah. Kuharap kau selalu bahagia.” Ia tersenyum tulus.

Sooyoung balas tersenyum. Namun, ia menatap Donghae prihatin. “Donghae…”  ia terdiam sejenak, menyadari perubahan yang terjadi pada Donghae. Laki-laki itu sekarang begitu rapuh, tidak bersemangat seperti biasanya. Dan Sooyoung tahu penyebabnya: Donghae telah kehilangan seseorang yang begitu berarti. “Donghae-ya, aku turut berduka atas kematian Yoona. Tapi percayalah, Yoona tidak pernah benar-benar pergi darimu. Dia selalu ada dihatimu.”

Donghae tersenyum samar. “Ya. Aku tahu.” Donghae melangkah pergi. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat Sooyoung dan Kyuhyun saling tersenyum bahagia. “Yoona-ya, andai saja waktu kita menikah dulu, aku bisa tersenyum seperti itu. Mianhae, karena aku bukan suami yang baik untukmu. Tapi perlu kau tahu, aku mencintaimu. Dan aku tulus akan hal itu. Aku merindukanmu…”

Setelah Donghae yang mengucapkan selamat, kini giliran Seohyun. Wanita itu tidak datang sendirian. Kali ini ia ditemani seseorang.

“Selamat atas pernikahanmu.” Seohyun menatap Kyuhyun. Kali ini ia tidak lagi canggung menatap laki-laki itu. Sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi padanya.

Kyuhyun mengangguk. “Gomawo.”

Seohyun beralih pada Sooyoung. “Sooyoung-ah selamat yaaa!!!” seru Seohyun, seperti anak kecil. Ia memeluk Sooyoung erat.

Sooyoung tertawa. “Gomawo, Seohyun-ah. Ehm…jadi kau dengan Yonghwa sekarang,”  ujar Sooyoung seraya melirik Yonghwa yang berdiri canggung di samping Seohyun. Yonghwa tersenyum sopan begitu melihat Sooyoung.

“Yonghwa laki-laki yang baik. Aku beruntung bisa bersama dengannya,” ucap Seohyun.

“Kuharap kau bisa menyusulku ya. Menikahlah dengan Yonghwa,” cetus Sooyoung.

Disaat itu, Yonghwa mengambil alih pembicaraan. “Tenang saja, tidak lama lagi aku akan melamarnya.”

Seohyun menyikut lengan Yonghwa. “Ya! Jangan bicara aneh-aneh!” Seohyun menarik tangan Yonghwa lalu menghampiri Donghae yang berdiam diri di depan pintu. “Oppa, gwaenchana?” tanya Seohyun. Ia khawatir melihat kakaknya terus-terusan bersedih seperti ini.

Donghae tersentak. “O. Gwaenchana. Oppa pulang duluan ya.”

“Tidak, oppa. Kita pulang sama-sama.”

Donghae tersenyum. “Tapi kita menemui eonni-mu dulu.”

Seohyun balas tersenyum. Rupanya Donghae ingin mengunjungi makam Yoona dulu.

***

      Sooyoung tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya saat ini. Ia tidak habis pikir kenapa Kyuhyun begitu cuek padanya. Padahal hari ini dia ulang tahun, seharusnya Kyuhyun memberikan sesuatu yang spesial. Tapi nyatanya, laki-laki itu hanya memberikan ucapan selamat. Dan hari ini, Kyuhyun malah mengajak Sooyoung untuk menghadiri sebuah event penghargaan bagi para fotografer. Sooyoung tahu acara ini sangat penting bagi suaminya, tapi tetap saja ia menginginkan sesuatu yang romantis di hari ulang tahunnya.

“Kau kenapa? Daritadi cemberut terus,” tanya Kyuhyun heran.

“Aniyo. Abaikan saja aku,” jawab Sooyoung ketus.

Kyuhyun menatap istrinya penuh tanya. Kemudian tatapannya kembali tertuju ke atas panggung saat namanya disebut sebagai peraih penghargaan foto terbaik tahun ini. Kyuhyun bangkit berdiri kemudian berjalan menuju panggung, menerima penghargaan itu. Sementara Sooyoung hanya bertepuk tangan seraya tersenyum samar, masih sedikit marah pada Kyuhyun.

Setelah Kyuhyun kembali duduk di sampingnya, Sooyoung tidak berkata apapun, bahkan mengucapkan selamat saja tidak. Tentu saja membuat Kyuhyun semakin bingung. “Ada apa denganmu? Kau marah padaku?”

Sooyoung tidak menjawab. Dia malah memalingkan wajahnya.

Di saat itu Kyuhyun menyadari bahwa wanita itu memang sedang marah dan sepertinya ia bisa menebak apa penyebabnya.

Kyuhyun memperhatikan permainan seorang gitaris di atas panggung, kemudian ia mendapatkan satu ide untuk membuat istrinya tidak marah lagi.

Saat ini adalah saat penutupan, acara sudah hampir selesai. Namun berkat Kyuhyun, acara tidak jadi selesai.

“Tunggu sebentar!” Kyuhyun mengangkat tangannya. Garis wajahnya menyiratkan sebuah rasa percaya diri.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanya Sooyoung gugup. Ia begitu tegang karena saat ini seluruh pasang mata tertuju pada mereka berdua. Dan ia bahkan tidak tahu apa yang akan Kyuhyun lakukan.

Kyuhyun menatapnya kemudian tersenyum. Ia bangkit berdiri dari kursinya lalu berjalan santai menuju panggung. Setelah berada di atas panggung, ia menghampiri sang pembawa acara lalu mengatakan tujuannya. Pembawa acara itu mengangguk paham lalu mempersilahkan Kyuhyun mengambil alih. Kyuhyun menghadap para hadirin kemudian membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. “Kyuhyun imnida,” ujarnya.

“Hari ini adalah hari ulang tahun istriku.” Kyuhyun berbicara seraya menatap ke arah Sooyoung. Ia tersenyum penuh arti kemudian melanjutkan kata-katanya. “Aku bukan orang yang romantis, jadi aku tidak mempersiapkan apapun selain ucapan selamat. Kurasa ucapan selamat tidaklah cukup untuk seseorang yang sangat spesial. Jadi, aku akan bernyanyi untuknya malam ini dan kuharap dia akan suka.”

Para pengunjung bersorak heboh. Mereka bertepuk tangan, kagum akan keberanian laki-laki itu. Bahkan para wanita merasa iri dengan Sooyoung karena memiliki suami seromantis Kyuhyun.

Sementara itu, Sooyoung hanya berdiam diri di kursi. Wanita itu membekap mulutnya, merasa terharu sekaligus tidak percaya seorang Cho Kyuhyun akan melakukan hal seromantis ini. Padahal tadi dia bilang dia tidak romantis.

Kyuhyun berjalan menuju gitar berwarna putih yang berada di sudut kanan panggung. Layaknya seorang gitaris handal, ia mulai memainkan sebuah lagu berjudul It Has to Be You. Petikan gitar mengalun merdu mengiringi suara vokal Kyuhyun yang lembut. Raut wajahnya terlihat begitu menghayati setiap bait lagu yang ia nyanyikan. Ia dapat membius para penonton dengan nyanyiannya. Membuat sorak sorai itu seketika hening.

Saat Kyuhyun mengakhiri lagu itu, semua orang bangkit berdiri, memberikan tepuk tangan yang meriah. Sooyoung juga. Ia terperangah, tidak percaya ternyata suaminya memiliki suara yang begitu indah. Hari ini adalah ulang tahun teristimewa dalam hidupnya.

Kyuhyun turun dari panggung, berjalan ke arah Sooyoung. Tepukan tangan dan berbagai ucapan selamat berbaur dalam ruangan itu, mengiringi langkah Kyuhyun, membuat wajahnya sedikit memerah karena malu.

Kini ia berdiri dihadapan Sooyoung, tersenyum jahil. “Aku romantis tidak?”

Sooyoung tertawa. “Kau terlalu romantis!”

Kyuhyun mengacak rambut Sooyoung seraya menatap wanita itu dengan tampang mengejek. “Jadi sudah tidak marah lagi, kan?”

Pipi Sooyoung memerah. “Siapa yang marah? Aku tidak marah!” elaknya.

Kyuhyun menirukan mimik wajah istrinya, kemudian ia mencubit pipi Sooyoung gemas. “Yeoja bawel!”

Sooyoung mendelik Kyuhyun sebal. Namun Kyuhyun menatap mata Sooyoung hangat. “Bawel…tapi aku suka.”

-The End-

17 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s