VERLION Part 1

Author: zeckyu
Main Cast: Super Junior, Cho Kyuhyun
Support Cast: Park Jungsoo
Rate: PG-15
Genre: fantasy, romance
Lenght: Chaptered

 

Aku memejamkan mata menyesap sisa kepuasan yang kudapatkan dari gelambir-gelambir
nyawa tak berguna manusia. Genangan darah bercampur erangan-erangan menjijikkan mereka
membuatku merasakan kesenangan berkali lipat dibanding sebelumnya. 20 nyawa sepertinya.
Lumayan juga untuk mengusir kebosanan yang melandaku sejak hal itu terjadi. 3 kali lipat dibanding
biasanya. Over dosis? Haha.. kurasa cukup aneh makhluk sepertiku menjadi objek dari dua kata
tak berguna itu. Aku membuka mata dan menyeringai kecil. Gelang Mert yang melingkar di
lengan kananku menyala berpendar seperti biasa setiap ia melakukan kunjungan mulianya yang
membosankan. Ck… aku berani bertaruh kedatangannya hanya akan merecokiku dengan segala hal
mengenai Ken setiap aku selesai melakukan ritual kesenanganku.
Aku memutar bola mataku dan mulai mewarnai irisnya yang semula merah pekat menjadi
warna biru muda. Merepotkan. Ada begitu banyak hal yang kukuasai dibanding makhluk manapun
di dimensi ini dibanding sekedar merubah warna iris mata hanya untuk menyesuaikan dengan
sinar putihnya yang menyilaukan. Yeah.. makhluk bersayap yang baru datang itu yang kumaksud.
Seperti biasa, ia mengelilingi remahan-remahan manusia di hadapanku. remahan? tentu saja. Aku tak
pernah menyisakan mangsaku dalam keadaan yang … hmm mungkin kau menyebutnya manusiawi.
Menggelikan. Aku bukan golongan mereka, makhluk bodoh itu. Jadi aku tak akan melakukan
hal manusiawi. Sangat menyenangkan kau tahu? Suara tulang manusia yang menggeretak ketika
kucengkram seperti sebuah simfoni nada. Nada indah yang khusus tercipta untuk kunikmati sendiri.
Tanpa ada sabotase dari pihak lain.
Mataku mengawasi kerja makhluk bersayap itu. Ia mengangkat tangannya mengumpulkan
Ken yang melayang dari jantung-jantung buruanku dan mulai memejamkan matanya. Bibirnya
menggumam dan tak lama kemudian Ken Ken itu menghilang dengan suara yang jauh lebih indah
dibanding geretakan tulang manusia. Seperti jika kau mendengar nada doremi di sela petikan-petikan
Merpiosa yang dimainkan Levina dalam upacara pengangkatan Raph . Tidak sama tentu saja. Hanya
mencari perbandingan yang hampir serupa meski kenyataannya jauh berbeda. Kaum terhormat seperti
Gratz tak akan pernah bisa dibandingkan dengan kaum manusia yang hina. Perbandingan yang terlalu
jauh sepertinya. Aku memang kurang ahli dalam membandingkan sesuatu. Jadi, mungkin jika kau
mengetahui faktanya sendiri akan memprotes perbandinganku yang ngawur. Tapi… yah siapa peduli?
Aku menajamkan telingaku dan memanjakannya dengan suara-suara itu. Salah satu alasan yang
kusukai dari sekedar menghirup nyawa makhluk bodoh itu.
“Kau sudah selesai rupanya!” kataku mengeluarkan senyum mengejekku padanya. Dennis.
Makhluk bersayap itu,, atau kusebut malaikat saja? Ia hanya menatapku dingin. Genangan darah
tak ada lagi di sekitarnya. Aku melirik api di sisi jalan yang membakar tumpukan remah yang
dikumpulkan Dennis tadi. Asapnya meninggalkan bau harum menyerbak di hidungku. Hari ini aku
benar-benar terpuaskan sepertinya.
“Apakah kau lelah?” aku menyeringai dan mulai mendekat dengan keanggunan yang memancar
dari langkahku. Gaun merah yang kupakai lagi-lagi berubah warna menjadi biru begitu aku menuju
ke arahnya. Semua. Semua yang melekat di tubuhku akan menjadi biru selama ia ada di sini. Di
dekatku. Sedikit menyebalkan bagiku. Aku benci warna-warna cerah. Menyakitkan mata. Warna itu
juga terlalu banyak berbohong dengan fantasinya yang seakan-akan membawa kebahagiaan. Persetan
dengan kebahagiaan. Satu kata itu hanya bualan yang terlalu di agung-agungkan. Bahkan kaum Gratz
sekalipun. Aku tidak menyangka kaum terhormat seperti mereka juga terpengaruh dengan banyolan
konyol semacam itu. Menggelikan. Cihh… Lagi pula bukankah memang itu salah satu alasanku
membangkang dari Raph?
“Jangan mendekat!” suara dingin Dennis tak lantas membuatku menghentikan langkahku. “Kau
tau yang akan terjadi jika sejengkal lagi kau melangkah!” suaranya tetap dingin dan lembut dalam
waktu bersamaan. Aku menyeringai dan menghentikan langkahku. Ya.. siapa juga yang mau
terbakar kesakitan gara-gara berada dalam lingkar malaikatnya? Aku ini kan Feintd,, nggak mungkin
berdekatan dengan makhluk suci sepertinya. Haha..

“Sepertinya kau terlalu peduli padaku!” aku menyilangkan tanganku di dada dengan sikap yang
angkuh. Mata Dennis meyorotku tajam. Sepertinya ia benar-benar marah kali ini. Buruanku hampir
3 kali lipat dibanding jatah biasanya. Mungkin ia kelelahan karena mengembalikan Ken itu?? Hh..
konyol. Dennis tak sepicik itu. Aku tahu, ada alasan lain mengapa matanya yang biasa menawarkan
ketentraman itu kini menjadi berkilat mematikan.
“Seharusnya kau berpikir sebelum bertindak Verlion!!” desisnya sambil memalingkan muka ke
arah api yang telah mengecil. Matanya meredup mendengarnya. Ya.. kau benar Dennis.. aku memang
tak pernah berpikir ketika melakukan semua kegilaan ini. Tapi aku sudah bersiap menghadapi
resikonya. Bukankah itu yang memang kulakukan dari dulu? Melanggar dan menentang.
“Kau terlalu mengenal diriku my angel.. seharusnya kata-kata itu kukembalikan padamu bukan?
Berpikirlah sebelum bertindak! Kau terlalu ikut campur dalam segala urusanku. Kau tau kau bisa
dikutuk Raph menjadi Faintd sepertiku!” aku menghembuskan suaraku ke arah telinganya. Meski
kami berdiri dalam jarak 3 meter.
Dennis kembali memandangku. Kali ini dengan sorot mata kasihan. Shit,, aku benci dipandang
seperti itu! aku kuat dan aku berkuasa di dimensi ini.. aku tak perlu rasa kasihan dari siapapun!
“Tak perlu memandangku seperti itu Dennis, kau tahu aku tak akan berhenti!” sergahku malas.
“Kau bisa mendapatkan semua hal yang kau impikan di Olpoiz, MessRaph!” Suaranya melunak.
Membujukku.
“Jangan menyebutku dengan panggilan menjijikkan itu!” jeritku marah. Aku benci ada yang
memanggilku dengan sebutan itu.
“Itu takdirmu!” sengitnya.
“Takdir? Nonsense..” aku mulai melangkah pergi. Aku salah rupanya. Kupikir kedatangannya
akan membicarakan Ken. Ternyata malah jauh lebih menjijikkan. Ini akan menjadi pembicaraan yang
sia-sia.
“Sudahlah Dennis,, pergilah! Jangan sampai aku melenyapkan eksistensimu gara-gara masalah
gak penting ini!”
“Aku tahu kau takkan bisa melakukannya!” nadanya datar.
Aku mendengus kesal. Aku jahat..tentu saja! Tapi aku memang tak akan pernah bisa membunuh
Dennis. Jangan pikir aku tak sanggup! Aku bisa melakukannya dalam hitungan sepersekian detik
jika aku mau. Aku sudah bilang kan aku ini penguasa? Selama ada di wilayah dimensiku, aku
bisa memusnahkan apa saja yang kuinginkan. Hanya aku memiliki alasan tersendiri untuk tidak
memusnahkannya. Dia pelindungku sejak aku hadir pertama kalinya di Olpoiz. Sudah terlalu banyak
yang ia korbankan untuk menjagaku dengan semua pembangkanganku pada Raph. Dan ia masih
bertahan untukku. Hingga saat ini. Meski ia menentang apa yang kulakukan.
“Baiklah,,, kalau begitu aku yang pergi!” sahutku malas.
“Kalau kau bersikeras, kau seharusnya melibatkan Marcus. Hanya dia yang bisa membantumu
melakukannya.” Kata Dennis pelan seolah bergumam. Langkahku terhenti mendengar suara Dennis
barusan. Aku berbalik menatapnya dengan berbinar. Ia terlihat menyesal mengucapkan kalimat
terakhirnya.
“Benarkah? Apakah Raph yang mengatakannya padamu?” pikiranku menggelegak
membayangkan ada setitik terang dari kebuntuanku selama ini.
“Tidak. Aku tak sengaja mendengarnya,,” sengau Dennis makin terlihat menyesal. Tentu saja.
Upayanya untuk membujukku kembali ke kehidupan lamaku akan semakin tak membuahkan hasil
begitu aku mengetahui hal ini.
“Siapa Marcus? Di mana aku dapat menemukannya? Apa yang bisa dia lakukan untuk
membantuku?” tanyaku tak sabar.
Dennis memandangku dengan sendu. Ia menghela nafas. Dan mulai melayang di udara.
Mengepak-ngepakkan sayapnya.
“Kembalilah ke Olpoiz Verlion… jangan melanggar takdirmu seperti ini! Kembalilah!” katanya
dengan lembut dan segera terbang meninggalkanku.
“Tunggu… Dennis!! Jangan pergi !! Kau belum memberi tahuku siapa Marcus!” jeritku

sebal. Ah.. sial sekali!! Siapa Marcus itu? manusia? Atau malaikat seperti Dennis? Sepertinya tidak
mungkin.. Dennis pemimpin malaikat! Kalau Marcus malaikat, maka Dennis juga bisa membantuku
tanpa harus melalui Marcus yang hanya bawahannya. Lalu Marcus itu siapa? Tak ada gambaran sama
sekali! Aissh… siaaal!!
Dennis… seenaknya saja dia pergi! Huh…
Aku menatap langit yang berwarna jingga. Semburat oranye juga mulai bermunculan. Sudah
hampir pagi rupanya, aku harus kembali ke rumah. Ya.. rumah manusia tentu saja! Aku menyamar
menjadi putri suami istri konglomerat di Seoul, Korea Selatan. Aku memanipulasi ingatan mereka
yang sebenarnya tidak memiliki anak. Hahaha.. menyenangkan sekali. Tinggal bersama spesies
makananmu sendiri.
Tapi aku tak akan memakan kedua orang tua angkatku itu. walau bagaimanapun, mereka
sudah terlalu baik padaku mengizinkanku tinggal bersama mereka meski secara tidak sadar. Mereka
memperlakukanku dengan baik. Menghormati privasiku dan melimpahiku dengan kasih sayang yang
bahkan tak pernah aku dapatkan ketika di Olpoiz kecuali dari Dennis. Hanya Dennis. Bahkan kurasa
Raph tak pernah menganggapku ada. Ia hanya merongrongku dengan segala peraturan ketat yang telah
ditetapkannya untukku. Membuatku muak.

~^^~

Ps : ff ini pernah dipublish di blog pribadiku juztmine.wordpress.com

9 responses

  1. complicated bgtz ceritanya
    campuran antara twilight + harpot + Lord of the rings + and many more
    but overall aq suka ceritanya
    yg bwt geregetan bin ga sabaran tuk nunggu part selanjutnya
    lanjut author…..

  2. Woaaaaahhhh Fantsi. Kereeeennn.^^
    Entah ak membacanay Seperti Prolog.*SaLahh Yahhh*
    Suka sama gaya bahasanya,,,,,,,cerita Fantasi memang ga ad matinya.
    Tapi mash blom jelas sm setting dan pLot. Olpoz,,Raph,,Ken,,,??? Mash asing Sekali.
    Dennis itu Leateuk kan,,,dan Marcus itu Cho Kyuhyun. Huweeee dtunggu next partnya. ^_^

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s