The way I love you | Part 2

            

Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Im Yoona, Choi Siwon, Hwang Mi-Young, Choi Sooyoung, Kwon Yuri

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Previous part : You never know how much i love you [Yoona’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

♥Part 3♥

♥Part 4♥

♥Part 5♥

The way I love [Siwon’s Side]

♥Part 1♥

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves. Kyuhyun-Sooyoung couple version in Kyuyoungshipperindo blog🙂

Warning : Don’t be Plagiator and Siders.

♥ The way i love♥

Aku menjatuhkan tubuhku ke kasur. Hari yang begitu menyenangkan bisa bersamanya. Tapi, itu juga merupakan petaka. Semakin aku mencintainya, semakin aku menyadari aku tak pantas untuknya.“Oppa!” erang Sooyoung yang tiba-tiba masuk ke kamarku. Membuyarkan lamunanku tentangnya.

Aku sendiri tak mengerti kenapa setiap saat wajah Yoona selalu ada dibenakku. Apakah dia sudah mengontrol otakku agar selalu terhubung dengannya? “Ayo kita nonton film baru!” Sooyoung masih terus memaksa diriku. Tapi, entah kenapa kakiku malas sekali untuk digerakkan.

Aku menggelengkan kepalaku. Menolak permintaan sepupu jauhku yang sudah kuanggap sebagai adikku. “Sebagai gantinya aku akan mencari informasi Yoona loh!” tawarnya yang seperti memberi pilihan padaku.

Aku menatapnya dengan penuh harap. Tapi, bukankah itu percuma? “Hahaha, jangan pasang wajah seperti itu oppa! Aku mengetahuinya karena diwajahmu ada tulisan yang tergambar jelas nama ‘Im Yoon Ah’, hahaha” ledeknya yang membuat pipiku bersemu merah. Aish, kalau untuk urusan ini ku akui, aku tak bisa berkutik.

“Bagaimana caranya?” tanyaku dengan menatapnya kedua matanya seakan aku menatangnya.

Dia tersenyum penuh arti. Seakan di otaknya banyak terdapat ide. “Aku kan sekelas dengan Yuri. Jadi itu bisa diatur. Kajja,” jawabnya. Aku pun menganggukan kepalaku setuju. Setidaknya, aku bisa mencintai Yoona dengan caraku.

●●●●●

                Alasan kenapa aku tak menyukai jalan bersama Sooyoung adalah dia selalu mengajakku ke restoran yang tak luput dengan makanan. Seperti sekarang ini. Matanya begitu terpancar kebahagiaan saat melihat makanan di depannya yang telah tersaji.

“Sooyoung ah! Sampai kapan kau mau makan terus?” aku menatap Sooyoung dengan menopang daguku.

“Tenanglah oppa,” rajuknya. Aku pun tersenyum tipis dan hanya pasrah menanggapi Sooyoung.

●●●●●

                Sooyoung merasa bersalah padaku. Sebagai gantinya, dia yang mengantri. Syukurlah, setidaknya aku tak perlu berdiri berjam-jam hanya untuk mengantri. Setelah mendapatkan tiket, ia pun menghampiri diriku. “Oppa, itu bukannya Yoona ya?” tanya Sooyoung sambil menunjuk kearah seorang yeoja yang memang mirip dengan Yoona. Aku pun langsung memerhatikan tingkah dua yeoja yang heboh itu.

Yoona terus memarahi Yuri karena ia membelikan tiket film romantis yang mungkin tak ingin ditontonnya. Dasar yeoja ceroboh! Kalau tak mau film romantis kenapa ditonton? Aneh. Kau benar-benar aneh Im Yoona! Berhentilah seperti itu!

Yuri hanya terkekeh geli. Seperti menertawai kelakuan bodoh Yoona. Terlihat seperti menggodanya. Yoona pun hanya cemberut. Dia mungkin sadar ini juga bukan salah Yuri.

“Kenapa mereka heboh sekali oppa? Hahaha, ternyata sosok Yoona begitu menyenangkan ya?” ujar Sooyoung dengan tersenyum geli melihat pertikaian dua sahabat didepannya.

“Oh ya Sooyoung-ah! Kau beli tiket apa?” tanyaku sambil melirik tiket yang ia pegangi.

“Aku membeli tiket ini!” dia langsung menunjuki tiket tersebut kearahku. Film Romantis? Huah, kenapa bukan film action atau horror atau kartun sekalian?

“Kenapa ini?” tanyaku dengan tatapan membunuh. Ingin sekali aku memarahi sepupuku ini. Tapi, karena wajah manisnya membuatku tak bisa melakukannya.

Sooyoung hanya tersenyum bahagia. Seperti ada rencana yang ia persiapkan. “Kau akan duduk sebelahan dengan Yoona, oppa! Manfaatkan sebaik-baiknya!” ucapnya dengan tersenyum jahil kearahku. Dasar Sooyoung! Eh, jadi beneran? Aduh, aku harus bagaimana?

“Udah, jangan banyak mikir, kajja!”  Sooyoung langsung menarik tanganku untuk menuju studio.

Kenapa aku gugup seperti ini? Padahal cuma akan duduk ‘berdampingan’. Huah, aku harus bagaimana?

Oppa! Bersikap seperti biasanya. Jangan berlebihan oke?” saran Sooyoung saat Yoona dan Yuri menuju ke sini. Aku pun mengacungkan ibu jariku kearahnya.

Aku menyapanya saat Yoona menghampiriku. Dia pun langsung menolehkan kepalanya. Binggung. Seperti, tak menyakini bahwa aku dihadapannya.

“Siwon oppa, lihat filmnya sudah mulai,” erang Sooyoung manja. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku darinya.

Aku tersentak kaget. Kenapa Sooyoung jadi berubah manja dan mesra begini?“Apa yang kau lakukan?” bisikku pada Sooyoung.

“Ini merupakan bagian rencanaku dengan Yuri. Biar, kita tau Yoona cemburu atau tidak,” jawabnya. Aku pun langsung membentuk huruf o dimulutku. Ah, ternyata sepupuku ini pintar juga.

Dia menyapaku dengan  ramah. Aku menolehkan wajahku menatap wajah cantiknya. Aku bertanya padanya, apakah ia selalu bersama Yuri seraya melirik kearah Yuri yang sangat berkosentrasi dengan film yang sedang diputar. Dasar Yuri, dia pintar sekali berpura-pura. Tapi, aku berterima kasih pada mereka karena aku bisa menonton film romantis dengan Yoona disebelahku.

Dia menganggukan kepalanya. Tapi, ia mepertanyakan yeoja yang berada disampingku. Nada tanya yang ia berikan sungguh sulit diartikan. Apa dia cemburu? Apa itu artinya berhasil?

“Aku bersama-” ucapku tapi terpotong karena Sooyoung memanggilku.“Oppa, berhenti bicara dan nikmatilah filmmu,” ujar Sooyoung padaku.

“Sooyoung-ah! Kau mengganggu!” bisikku lagi padanya.“Abis kau berisik. Aku tak bisa berkosentrasi nih.” jawabnya cuek. Sabar Siwon sabar!

Aku pun langsung membungkam mulutku. Lebih baik aku menikmati film yang lebih indah yaitu ‘wajah’ Im Yoon Ah.  Berkali-kali aku berhasil menangkap ia memata-matai diriku dan Sooyoung. Hahaha, lucu sekali yeoja ini. Tapi, melihatnya salah paham membuatku bersalah.

Film selesai begitu pula selesai acaraku memandangi Yoona. Aku tak peduli dengan cerita film yang menurut Sooyoung sangat menyentuh. Lagipula, fenomena ini jarang kan? Kapan lagi aku bisa sepuas ini memandang wajah Yoona yang ceroboh itu.

Oppa, ayo kita balik!” ajak Sooyoung dengan menarik tanganku. Mengisyaratkan rencana selanjutnya.

“Yoong-ah, aku duluan ya.” pamitku seraya menggandeng tangan Sooyoung. Ini merupakan rencana. Jadi, jangan salahkan aku! Aku hanya diperintah oleh Sooyoung. Jadi, untukmu Yoong. Maaf.

“Kata Yuri, nanti pasti Yoona akan mengikuti kita oppa! Jadi, berakting lah sewajar mungkin!” perintahnya padaku. Aku pun mengganggukan kepala ku seolah aku mengerti apa yang diperintakannnya.

●●●●●

                      Sooyoung pun berlari dari kamarnya menuju ruang tamu. “Oppa, kita berhasil! Kata Yuri saat kemarin Yoona mengikuti kita. Yoona langsung pulang. Katanya sih cemburu berat. Cie, cinta terbalaskan nih.” ucapnya dengan histeris sekaligus meledek diriku. Benarkah?

“Jadi, ayo dekati dia oppa!” ucap Sooyoung dengan semangat. Aku sendiri binggung kenapa dia yang begitu semangat?

“Kalau jadian, kau harus meneraktirku ya!” sergahnya lagi. Gubrak! Jadi, ini tujuan utamanya?

“Sudah jangan meledekku terus! Ayo kita sekolah,” perintahku yang langsung menyambar buku-buku ku.

●●●●●

                Melihatnya dari kejauhan. Mengaguminya dari belakang. Menertawai tingkah bodohnya. Berbohong bahwa aku mempunyai rasa lebih padanya. Apa ini caraku mencintainya?

“Jangan cuma dipandangi! Dekatilah Yoona,” ucap Sungmin yang menggangguku. Ah, dia memang selalu seperti ini.

“Yoona-ah!” teriak Sungmin kencang dan dengan sigap aku membungkam mulutnya. Huft, untungnya Yoona tak menoleh. Aish, Sungmin membuatku malu saja!

“Biarkanlah aku mendekatinya dengan caraku!” jawabku yang langsung menyingkirkan tanganku dari mulutnya. Dia pun hanya memandangku dengan mengejek. Mungkin, dia berfikir aku takkan bisa. Tapi, sebenarnya memang aku tak bisa terlalu dekat dengan Yoona.

“Yoona-ah nanti pulang sekolah kamu dan Siwon jangan pulang dulu. Kalian harus berlatih untuk lomba,” perintah Park Shin Ri Songsaenim padanya. Berarti nanti aku akan menghabiskan waktu dengannya? Aku harus bagaimana ya?

“Siwon-ah! Bagaimana kalau belajarnya dirumah Yoona? Lumayan biar tau rumahnya,” saran Sungmin dengan wajah berbinar. Aku pun langsung mengganggukan wajahku semangat. Untuk kali ini aku akan menyetujui saran Sungmin.

●●●●●

                Bel sekolah pun berbunyi. Oke, ini saatnya pulang. Yoona terlihat sedang membereskan semua tumpukan buku-bukunya. Aku pun mencegahnya pergi. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Tentang perlombaan yang akan dilaksanakan.

Heechul dan Kyuhyun yang melihat kami, hanya tersenyum jahil dan meledek kami bersamaan. Berkali-kali mereka menyebutkan kata ‘kencan’ yang membuat pipiku bersemu merah. Benar-benar membuat jantungku seperti dihantam badai.  Kencan? Dasar mereka berfikiran terlalu jauh! Tapi, aku tak memungkiri mungkin ini memang kencan walau dengan embel-embel ‘belajar bersama’.

Dia menolehkan wajahnya. Mimik wajah tak percaya bahwa aku berbicara padanya. Benar-benar polos. Apa ia tak suka berbicara denganku? Apa sampai segitunya kah?

Aku hanya menganggukkan kepalaku seraya mengacak acak rambutnya. Tuhan, kenapa aku bisa sedekat ini dengannya? Melihat ia tersenyum tipis membuat hatiku sungguh tentram.

Aku menanyakan persetujuannya untuk belajar bersama. Tapi mataku tak bisa lepas dari matanya. Dengan memandang wajahnya terlihat sekali rasa grogi yang ada padanya. Apa kau juga mempunyai rasa yang sama padaku?

Dia hanya tersenyum pasrah. Membiarkan semua keputusan ada padaku. Aku pun tersenyum penuh kemenangan. Berarti dirumahnya bolehkan?

“Yaudah kalau begitu dirumahmu saja. Kajja!” ucapku sambil menarik tanganku. Aku merasakan bahagia. Seperti mendapatkan sebuah permata yang indah yaitu ‘Im Yoon Ah’. Semua mata melihat kami. Mungkin mereka heran kenapa seorang namja pendiam seperti ku sekarang bisa bersama Yoona yang notabenenya ‘yeoja populer’. Aku terus membawanya menuju tempat parkiran sekolah.

“Ayo pakai ini,” ujarku seraya menyerahkan helm padanya. “Ayo naik, Kalau kau hanya memandanginya kita takkan sampai ke rumahmu,” ucapku yang langsung menarik tangannya agar naik ke motorku. Aku menggandeng tangan Yoona? Kenapa aku seberani ini?

“Kalau kamu tidak ingin jatuh pegangan yang erat ya,” perintahku. Pegangan ? Yah, apa yang kau bicarakan tadi Choi Siwon? Kau benar-benar berubah saat bersama Yoona.

Aku terus menyetir motorku dengan kecepatan penuh. Tujuan aku melakukannya karena, lihatlah Yoona! Dia sudah aku peringatkan untuk merangkul pinggangku. Tapi, dia masih tetap tak mau? Apa dia membenciku?

Ide jahil pun langsung mencuat di otakku. Apa aku ngerem mendadak saja ya? Pasti seru! “Kyaaaaaaaaaaaa !” teriaknya saat aku menghentikan motorku mendadak dan ini membuatnya tiba-tiba merangkul pinggangku. Rencana ku berhasil kan? Kau memang pintar Choi Siwon!

“Kan aku sudah bilang pegangan. Kamu ini susah ya dibilangin,” omelku seraya tersenyum evil. Dia pun cemberut mendengar ucapanku. Haha, lucu sekali. Ingin sekali aku mencubit pipi chubby-nya,

●●●●●

                Dia berteriaknya saat kami sudah menginjakkan kaki dirumahnya. “Kok sepi sih?” tanyaku yang berjalan dibelakangnya sambil mengamati isi rumahnya.

Dia tersenyum simpul dan mengatakan mungkin semua keluarganya sibuk. Ia melirikku seraya mengantarku menuju ruang tamu.

Jadi, disini hanya ada aku dan Yoona? Wah, merupakan mukjizat bukan? “Ini aku juga bawa makanan supaya kita lebih semangat,” ucapnya yang dari kamar langsung menuju dapur untuk menyiapkan beberapa cemilan untuk kami.

“Wah ini banyak sekali Yoong-ah. Kita sebenarnya mau makan apa belajar sih?” tanyaku sambil melihati makanan-makanan yang ia bawa dengan heran, ia pun hanya tersenyum malu. Dasar shikshin.

“Yasudah lah, ayo kita belajar,” ajaknya. Dia pun mengambil beberapa bukunya dan memberikan padaku. Ia memerintahku untuk membaca tumpukan buku itu. Dan dia? Dia hanya menikmati makanannya.

“Kalau aku baca ini semua. Kamu ngapain Yoong?” tanyaku yang tak mengerti. “Aku akan membantu jika kamu ada kesulitan,” ucapnya sambil mengambil makanan. Kenapa di otaknya hanya ada makanan? Apa tidak ada aku disana?

Apa ia selalu begitu? Selalu berantakan saat bersama makanan kesayangannya? “Hahaha,” tawaku dengan bahagia saat melihat wajahnya. Dasar yeoja ceroboh! Lihatlah, kau sungguh berantakkan!

“Kamu ini makan yang bener, masa belepotan gini,” ucapku sambil menghapus noda makanan dimulutnya. Kulihat dirinya benar-benar grogi. Hahaha, baru sedekat itu kau sudah seperti ini Yoong? Apalagi jika aku akan menciummu? Apa kau akan pingsan ditempat?

●●●●●

Aku merebahkan diri dikasur. Hari ini benar-benar menyenangkan. Ternyata usaha dari beberapa teman-temanku memang dapat diandalkan. Aku memandang langit-langit kamarku. Kenapa sekarang wajah Yoona yang berputar? Argghh.. dia benar-benar membuatku gila.

Oppa!” Sooyoung berlari kecil sembari membawa sebuah surat. Surat itu berwarna pink. Pasti itu surat cinta Sooyoung. Mungkin. “Apa?” aku mendonggakkan wajahku dan bertanya balik dengannya dengan mimik tak peduli.

“Aku menemukan surat ini di tas oppa. Apa oppa selingkuh dari Yoona?” selidik Sooyoung dengan menatapku tajam.

“Aku tak mengerti maksudmu,”

“Ini surat dari Tifanny onni,” pekiknya dengan melambaikan surat tersebut di depan wajahku.

Aku memandang Sooyoung dengan mengangkat alis. Ia pun menyodorkan surat berwarna pink itu dan menatapku dengan tatapan membunuh. “Berhenti menatapku seperti itu. Aku sudah bilang hanya Yoona yang aku cintai,” jelasku pada Sooyoung. Sooyoung tersenyum mendengar penjelasanku.

Ia pun berlari meninggalkan kamarku setelah memberikan surat itu. Aku memandangi singkat dan mulai membacanya.

Bisa bayangkan surat cinta seorang wanita untuk seorang pria? Begitu diwarnai kata-kata puitis dan menyentuh. Tapi, itu takkan mengubah hatiku berpaling.

●●●●●

Aku memasuki ruang kelas dengan senyum mengembang. Melirik singkat Yoona yang asik dengan teman-temannya. Saat itulah Tifanny memandangku dengan penuh arti. Tatapan Tifanny sangat mengerikan. Bagaimana tidak? Aku takut ia akan melukai perasaan Yoona. Karena, bagaimanapun Tifanny termasuk sahabat Yoona. Jika, ia tahu sahabatnya menyukaiku. Ia pasti akan merelakannya. Sedangkan aku? Aku tak bisa merelakannya untuk orang lain selain aku.

Aku memalingkan wajahku dan terus melangkah kearah Yoona.

Ku melihat dirinya yang terus menerus digoda oleh beberapa temannya tentang diriku. Wajahku merah seketika saat aku disangkut pautkan dengannya.

Ia menundukkan wajahnya malu dan terus menjelaskan bahwa aku dan dia tak ada hubungan istimewa. Sedangkan sahabatnya melirikku dengan tersenyum jahil.

Yoona mulai menyadari sikap aneh teman-temannya. Ia pun menoleh ke arah mata temannya tertuju. Sunny berdeham dan berkata, “Ehm.. Yoong ada Siwon dibelakangmu,” ucap Sunny polos.

Aku terhenyak kaget. Lalu berusaha bersikap normal walau terlihat gugup. “Annyeong Yoona, Apa pagimu menyenangkan?” aku berusaha tersenyum dan berjalan satu langkah semakin dekat dengan kursinya.

Yoona tersenyum samar. “Annyeonghaseo Siwon-ah,” sapa teman-temannya saat aku melihat Yoona mulai membuka mulutnya untuk menjawab. Teman-temannya pun terkekeh kecil, kecuali Tifanny. Ia tersenyum tapi terlihat senyum yang dipaksakan.

Aku tersenyum penuh arti dengan mata berbinar kearah Sunny, “Sunny-ah ! Aku boleh duduk sebangku bersama Yoona untuk hari ini saja kan? Ada banyak hal yang ingin aku diskusikan dengannya?” pintaku dengan nada memohon padanya. Aku sendiri tak tau kenapa aku memakai nada seperti itu.

“Tentu saja boleh. Masa aku menghalangi cinta sahabatku sendiri,” ucap Sunny yang sepertinya mengerti maksudku. Ia pun mengerling nakal kearah Yoona dan terus mengoda gadis kecilku itu.

Aku langsung mendudukan diriku di samping kursi Yoona. Yoona menggeser sedikit kursinya. Suasana hening. Tapi, aku mulai bertanya tentang harinya. Ia hanya tersenyum dan sesekali menggigit bibir bawahnya.

Akhirnya ia berbicara padaku. Bertanya sesuatu yang penting. Aku berfikir tentang pelajaran. Tapi, ia menanyai tentang Sooyoung. Mungkin, ia cemburu?

Aku menjelaskan padanya. Tentang hubungan ku dengan Sooyoung. Aku dan Sooyoung memang saudara sepupu jauh. Dan dulu, aku sempat menyukai sepupuku itu.

Aku hanya memberitahu yang menurutku harus dijelaskan. Aku dan Sooyoung hanya saudara. Tapi, raut wajahnya mengisyaratkan ketidakpercayaan akan penjelasanku. Ia seakan meminta lebih dari ini.

Ia terlihat grogi saat aku bertanya apakah ia cemburu? Tapi, ia dengan mudah menyangkal semuanya. Padahal terlihat jelas diraut wajahnya jika ia cemburu pada Sooyoung.

●●●●●

Setelah bel berbunyi aku melirik singkat gadis disampingku. Tinggi semampai dan rambut pirang panjangnya. Ia sibakkan sedikit rambutnya lalu ia kuncir. Merasa diperhatikan, ia melirikku singkat.

Aku menundukkan wajahku lalu mengatakan bahwa hari ini aku tak bisa bersamanya. Karena, aku memang ada urusan sedikit.

Ia merespon dengan senyum samar. Rasa bersalah kini berdesir dihatiku. Melihat senyum simpul itu hilang. Tenanglah Yoong.. aku hanya ada beberapa urusan.

Aku langsung meninggalkannya. Derapan kakiku makin kupercepat menuju Sooyoung. “Oppa!” pekik Sooyoung dengan melambaikan tanganku.

“Ayo cepat. Kita harus persiapkan rencana,” aku menarik cepat Sooyoung.

●●●●●

Aku mengedarkan mata ku mencari sosok Yoona. “Yoona-ah!” pekikku yang mungkin bisa membuat gendang telinganya berdentum kencang.

Aku berlari dan berdiri didepannya. “Aku tak menyangka besok adalah hari perlombaan kita ! Semangat ya Yoong!” ujarku yang langsung duduk disampingnya dan menyambar makanannya.

Sunny terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Yoona. “Yoona-ah, kamu kok hanya diam? Wah tau deh yang lagi ada Si- AWWWW!” ucap Sunny yang langsung mendapatkan tendangan dari Yoona. Mungkin. Karena pekikan Sunny terdengar kesakitan.

Aku memutar bola mata dan memperhatikan sekilas Tifanny yang melihat dari kejauhan. Dia masih berusaha mengejarku? Huh? “Eh? Ada apa dengan kalian?” tanyaku yang langsung mengalihkan padangan menatap Yoona lalu Sunny dengan berbarengan.

“Aku tidak tau,” ucapnya yang menyeruput minumannya.

“Sepertinya minuman punyamu enak ya Yoong,” ucapku yang sambil melirik dirinya yang sedang asik menikmati minuman tersebut. Dengan seenaknya aku pun merebut minumannya. Dan lihatlah ekspresi Yoona. Dia hanya membuka mulutnya lebar dengan mata yang sedikit diperbesar.

Kulihat Yuri dari kejauhan. Aku pun melambaikan tangan padanya. Mengisyaratkan dirinya untuk datang ke sini. “Yoona-ah! Apa yang kau lamunkan?” tanya Yuri yang tiba-tiba merangkul tubuh Yoona.

“Wah ada Siwon! Annyeong Siwon sshi,” sapa Yuri padaku. Yoona menundukkan wajahnya. Kenapa dia menundukkan wajahnya?

Aku tersenyum, “Annyeong Yuri ah. Yasudah ya aku sama Yoona ada urusan nih. Kita duluan ya,” ucapku yang langsung menyeret Yoona. Yoona menampilkan ekspresi tak relanya berpisah dengan makanannya yang sedari tadi hanya dipandanginya.

●●●●●

                Aku terus menyeret Yoona ke perpustakaan. Tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang disekitarku. “Karena hari ini hari terakhir kita bersama. Aku mau kita menghabiskan waktu kita,”

Yoona mengernyitkan dahi, bingung. “Apa maksudmu hari terakhir?”

Aku terkekeh kecil dan mengacak-acak rambutnya. Ia mendengus kesal saat aku melakukan itu.“Apa kau menyukaiku Yoona-ah?” tanyaku. Wait, aku menanyakan apa? Apa yang telah kuucapkan? Arggghh…. Bodoh.

Aku semakin mendekat kearahnya. Membuat ia tak bisa mundur lagi karena tertahan rak buku dibelakangnya. Aku merentangkan tangan menahan dirinya. Semakin dekat namun ia memalingkan wajahnya. “Mwo? Mworago?” ia menatapku dengan panas dingin. Kurasakan suhu tubuhnya tak menentu. Aku tersenyum penuh arti.

“Hahaha.. lihatlah dirimu kau begitu lucu Yoona-ah! Aku kan cuma bercanda,” ucapku yang langsung balik ke posisi normal.

Ia memutar bola mata lalu meringis. “Lepaskan diriku! Ini tak lucu!”

Aku rasa ia benar-benar marah. Lihatlah dirinya. Ia meninggalkan diriku. Aku berteriak mencegah dirinya. Namun, itu tak berhasil. Aku menarik tangannya lalu memeluknya. Aku bisa merasakan ia menangis saat itu juga.“Aku memang sering membuatmu menangis. Janganlah menangis. Aku tak mau melihatmu bersedih,” ucapku dengan mempererat pelukan dan membelai halus puncak kepalanya.

●●●●●

                Pandangan mataku terus menatap kosong. Sesekali melihat apakah Tifanny sudah datang. Gadis itu benar-benar gila. Aku sudah menolaknya halus. Tapi, ia masih memaksaku untuk bertemu dengannya. Dan bodohnya, aku menurutinya? Ah, sepertinya otakku memang sedikit perlu dibenarkan.

Tifanny datang dengan senyum yang tersirat di wajahnya. Aku yang melipat tangan karena bosan mendesah pelan, lalu bangkit. “Apa yang ingin kau katakan?” tanyaku dengan cepat karena tak ingin berlama-lama.

Tifanny berjalan dan duduk disampingku. Aku yang berdiri akhirnya mendudukan tubuhku lagi. “Aku mencintaimu oppa. Dan kau tau? Yoona itu tak mencintaimu.” Ia membuka percakapan kami.

Aku mengerutkan wajah dan menatapnya heran. “ Apa maksudmu?”

“Aku akan buktikan padamu sendiri. Aku akan membuat Yoona berbicara bahwa ia tak mencintaimu di depan hadapanmu. Dan saat itu kau harus menjadi kekasihku,”

“Kau benar-benar gila?”

“Jangan terlalu banyak bicara oppa. Dan siapkan dirimu mendengar semuanya. Mendengar lontaran Yoona. Dan siapkan hatimu untuk terluka,” Tifanny bangkit lalu berjalan perlahan meninggalkanku yang masih tak mengerti. Ia benar-benar gila.

To be Continued

26 responses

  1. maafff. hehehhe
    ada bbrp kejadian dimana Siwon malah dipanggil kyu dan yoona malah dipanggil sooyoung. heheh ^^v

    ceritanya baguss. pengen lanjut yg yoong pov part 6 nya😀

  2. lanjut dong…. lagi seru – serunya nih. plis tiffanny jangan ganggu yoonwon dong. yoonwon harus bersatu ok. ceritanya DAEBAK BANGET

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s