My Lovely Brother Part 1

Author            : Zeckyu

Main Cast        : Lee Jinki Shinee

Suport Cast     : Other member shinee

Genre              : friendship, romance

Length             : two shot

Rating             : General

Aku terus berlari. Air mataku sudah merebak dan tak mampu kubendung lagi. Hatiku sakit sekali. Seperti ditimpa beban berat berkali-kali,,, sesak… aku tak peduli orang-orang di sepanjang jalan menatapku dengan aneh. Aku tak peduli hujan yang memaksa ikut berlari denganku. Aku tak peduli…

Sampai di pinggir sungai Han aku terduduk. Sekarang tak hanya hatiku yang sakit, tapi seluruh badanku rasanya remuk. Aku menumpahkan semuanya di sini. Air mataku, kesedihanku, kemarahanku dan kekecewaanku padanya.

Memori masa kecilku berputar dengan cepat setiap aku mengunjungi tempat ini. Di tempat aku selalu menghabiskan waktuku bersamanya. Sebelum dia pergi, meninggalkanku tanpa membawa serta memori yang telah ia toreh di benakku.

^_^

Cklek..

Aku membuka pintu dengan malas.

“kau sudah pulang sayang? Segera ganti bajumu, umma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu!” umma menyapaku dengan riang.

Aku hanya melengos. Aku terus menaiki tangga tanpa memperdulikannya dan berlalu menuju kamarku. Sejak insiden kecil minggu lalu, rasanya aku malas sekali berbicara dengan umma. Aku bahkan tak berbicara dengannya beberapa hari ini. Yeah,, aku tahu ini semua salah. Tapi entahlah, egoku memaksa melupakan posisinya sebagai ibu di mataku. Orang yang seharusnya paling aku hormati di dunia ini setelah appa pergi.

Huuh,, lagi pula dia yang membuatku seperti ini. Apa peduliku??

Aku merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Memejamkan mata dan mencoba merilekskan pikiran yang semrawut. Tak berhasil,, aku membuka mataku dan menatap langit-langit kamarku yang berwarna biru langit,,ahh… itu,,, warna kesukaannya. Mataku mulai memerah…

Oh shitt…. aku menangis lagi!! Aku tak dapat membohongi hatiku. Aku merindukannya, senyumannya, tatapannya yang meneduhkan, pelukannya, belaian tangannya,,, aku masih bisa merasakan itu semua. Meski sudah terlalu lama ia meninggalkanku.

Tok…tok…tok…

”rin-ah.. apa kau sudah selesai berganti baju? Turunlah,, umma menunggumu di meja makan!”

Huuhhft…..

Aku menghembuskan nafas keras.

Sejujurnya, aku lelah bersikap sedingin ini pada umma. Dia satu-satunya yang aku miliki di dunia ini. Tapi sudahlah, hatiku masih terlalu sakit mengingat ucapannya minggu lalu. Ucapan yang membuat kepercayaanku pada eomma memudar begitu saja.

Umma telah berkhianat…

Desisku lirih.

^_^

Di meja makan,,,,

Suasana hening. Hanya denting sendok dan garpu yang mengiringi kebisuan kami. Baik aku maupun umma tak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Aku sendiri justru ingin cepat-cepat menyelesaikan makanku dan segera pergi dari sini. Tak betah rasanya menahan rasa sakit hatiku tiap melihat wajah umma.

”Rin-ah,, umma,,,”

Oh.. akhirnya ia berbicara juga. Kudengar ia menghela nafas berat.

“Mianheyo Rin-ah.. umma tidak bermaksud”

“Umma… jika umma hanya ingin membahas masalah tempo hari lagi, lebih baik aku pergi dari sini!” aku memotong ucapan umma dengan kasar dan membanting sendokku.

Kulihat umma menunduk. Sepertinya umma akan menangis. Oh ayolah Park Min Rin,, apa yang kau lakukan? Yeoja di depanmu itu ummamu,, tega sekali kau menyakitinya seperti itu!

Uuugh… aku tak tega melihat umma menangis. Bahunya bahkan sampai terguncang. Sangat kentara, ia begitu terpukul dengan sikapku. Ingin sekali aku memeluknya, menghapus air matanya.

Tapi tidak,, aku meneguhkan hatiku. Aku akan tetap seperti ini sampai umma mau merubah keputusannya. Lebih baik aku segera pergi dari sini sebelum aku berlari memeluk umma dan menggagalkan rencanaku sendiri.

^_^

Aku melangkah masuk kelas dengan gontai. Pikiranku benar-benar tertekan. Setelah meletakkan tas, aku menelungkupkan kepalaku ke meja. Huuuhft,, pusing sekali. Mungkin sebaiknya aku ke klinik sekolah dari pada memaksa diri mengikuti pelajaran hari ini. Kepalaku bisa pecah dalam sekejap. Matematika, Bahasa Prancis dan Kimia,,, ciihh!! Mengerikan,,,,

”Yoo Jin,,,” aku memanggil yeoja yang duduk di depanku. Ia sedang mengobrol dengan teman-temannya.

Sepertinya ia tak mendengarku.

“Yoo jiiiiiiiiin” aku mengeraskan panggilanku. Kulihat ia sedikit terkejut dan menoleh ke belakang dengan sangat pelan. Huuuh,,, seperti melihat hantu saja –”

”kk…kkau memanggilku?” Yoo Jin menunjuk dirinya sendiri seperti tidak percaya. Haaah,, tentu saja, sejak kami sekelas, aku belum pernah sekalipun memanggilnya ataupun teman-teman yang lain.

”Ne,, bolehkah aku minta bantuanmu? Tolong nanti ijinkan songsaenim,, kepalaku pusing. Aku akan ke klinik sekolah.” kataku dan segera berlalu pergi. Yoo Jin hanya mengangguk sedang teman-temannya masih menatapku aneh dengan pandangan mencemooh.

Hhh…… sudah biasaaa

Oke,, jujur saja,, aku tidak punya teman! aku tipe orang yang tertutup dan tidak mudah bersosialisasi. Aku nerd, berkaca mata, kutu buku… yahh mungkin orang biasa menyebut.. err…cupu mungkin?

Tapi aku tak peduli,, aku sudah merasa nyaman dengan diriku sendiri. Terserah orang mau berkata apa,, bahkan bila tak ada yang mau berteman dengankupun aku tak peduli. Aku sudah memiliki umma sebagai pengganti temanku. Mendengarkan curhatku, memotivasiku, dan menguatkanku kala rapuh. Ahh… kenapa aku jadi membicarakan umma lagi? Aku bahkan sedang perang dingin dengannya.

Aku menutup mataku di pembaringan klinik. Semua hanya perlu waktu, sampai umma menarik kata-katanya kembali.

^_^

Sudah hampir 2 minggu aku mendiamkan umma. Tapi umma tetap bersikap seperti biasa di hadapanku. Menyapaku dengan penuh kelembutan dan menanyaiku apa yang terjadi di sekolah begitu aku pulang. Yaah,, meskipun aku tak pernah menjawabnya lagi dan hanya melengos, umma tetap tersenyum padaku.

Bukannya aku tak tahu, umma tersiksa dengan sikapku. Ia menangis di kamarnya tiap malam. Apa aku merasa bersalah?? Tentu saja, anak macam apa yang tak merasa bersalah jika memperlakukan eommanya dengan buruk? Hhh…. eottohke? Aku jadi ragu dengan keputusanku sendiri.

^_^

”Anyeong haseyo,, jonun Lee Jinki imnida,, kalian bisa memanggilku Onew. Pindahan dari International High School. Mohon kerja samanya. Bangapseumnida…”

Ada anak baru rupanya. Hmm… lumayan juga. Pantesan yeoja-yeoja centil di sini pada teriak-teriak. Aku menguap tak peduli dan melanjutkan membaca novelku. Yeoja-yeoja itu lagi-lagi berteriak histeris ketika songsaenim menawari namja itu tempat duduk. Yaah,,, ada 3 bangku kosong di kelasku. Salah satunya tentu saja di sampingku. Tapi tak mungkin dia memilih di sini. Ada 2 tempat yang jauh lebih baik dari pada harus duduk di tempat paling pojok dan ada seorang yeoja nerd di sampingnya. Lagi pula, selama ini tak ada yang mau duduk di sampingku. Ciih… siapa peduli? Mungkin aku justru akan merasa terganggu jika ada orang yang benar-benar menempati daerah teritorialku.

”Bolehkah aku duduk di sana?”aku mendengar suara namja itu dan para yeoja lagi-lagi berteriak keras. Aku berani bertaruh, dia pasti sedang memilih duduk di samping Chae Ra,, yeoja tercantik di kelasku. Teman sebangkunya pindah 2 hari yang lalu. Teman-temanku masih saja berteriak-teriak.

Huuuuh,,, berisik sekali. Konsentrasiku membaca novel sudah pecah dari tadi. Aku menutup novelku malas dan menatap ke depan. Hei,, sepertinya namja itu berjalan ke arahku?

Uuugh,, tak mungkin,, pasti dia hanya memutar saja. Tebar pesona mungkin?? Aku memalingkan pandanganku ke arah jendela dan menatap burung-burung yang berkicau di dahan pohon. Indahnyaaaa……..

Bugh..

Aku melonjak kaget. Suara apa itu tadi? Aku menoleh ke sampingku dan kulihat namja itu,, oh siapa namanya tadi? Errr… Jinki ehh bukan Onew?? Tapi sepertinya tadi dia menyebut Jinki? Aigoo.. aku tak peduli!!

Siapapunlah namanya,,, dia meletakkan tasnya di sebelahku dan tersenyum padaku. Aku hanya melongo… dia… serius mau duduk di sampingku??

”bolehkah aku duduk di sini?” dia masih tersenyum. Hahh eottohke? Baru kali ini ada orang mau duduk denganku,,, namja pula…

”ngg…. itu bukan punyaku!” hei… kenapa aku jadi membolehkannya duduk di sini?? Ahhhh….. mollayoo

Aku memandang ke depan dan aku baru sadar semua siswa memperhatikanku. Terutama para yeoja… mereka memandangku dengan pandangan iri dan seakan-akan ingin menelanku hidup-hidup. Hei.. sepertinya ini awal yang buruk!!

”Anyeong Jinki imnida,,, kau bisa memanggilku Onew… hehe sedikit tidak nyambung memang. Yah… tapi aku suka nama Onew jadi aku menggunakannya.” Astaga cerewet sekali dia… lagipula aku tak tanya asal usul namanya!!

Dia menyodorkan tangannya ke arahku dan lagi-lagi memamerkan senyum kelincinya.

”Kau sudah mengucapkannya tadi di depan” kataku dingin. Aku memang tak suka bermanis-manis di hadapan namja. Yeoja saja tidak pernah apalagi namja. Aku membiarkan tangannya menggantung begitu saja. Dia hanya tersenyum dan menarik tangannya kembali. Sepertinya ia tidak marah.

“Jinjja?? Jadi kau mendengarku? Kupikir tadi kau tidak mempedulikanku dan tidak mendengarku…”

Heii…. bagaimana dia bisa sadar kalau aku tidak mendengarnya?? (“= =)

“Aku punya telinga yang normal! Tentu saja aku bisa mendengarmu!!” kataku lagi-lagi ketus. Aku berbohong.. yaa imageku bisa hancur bila berkata jujur aku tak mendengarnya.

“Yaa,,, aku percaya. Jadi.. siapa namamu?” Jinki kembali menanyaiku. Pentingkah??

”Jinki,, Min Rin… berkenalannya nanti saja. Perhatikan apa yang saya ajarkan!” songsaenim berkicau merdu.

Aku hanya menatap kesal ke arah Jinki.

”Oh jadi namamu Min Rin.. senang bertemu denganmu..” Jinki berkata dengan pelan sambil tersenyum (again?). aku hanya mengerut.

^_^

Istirahat…

Ini baru hari pertamanya,,, tapi Jinki sudah mendapat banyak teman. Dia terlihat bergerombol dengan namja lain di bangku depan. Tertawa-tawa. Hahh~ baguslah. Jadi aku tidak perlu bersamanya.

Aku berdiri dari bangkuku dan berjalan keluar kelas sambil menenteng novel yang belum selesai kubaca dari tadi. Kelas terlalu berisik. Aku ingin ke taman belakang. Di sana sepi. Aku suka menghabiskan waktuku sendiri di sana.

”Minnie,,,”

Aku mengejang mendengarnya. Jinki mendekat ke arahku.

”Eh tidak apa-apakan kau kupanggil Minnie? Aku ingin lebih akrab denganmu.”

Sekelebat bayangan hadir kembali di memoriku. Itu panggilan kesayangannya padaku. hanya dia yang pernah memanggilku seperti itu.

”Minnie… Minnie.. kau tidak apa-apa?” jinki melambai-lambaikan tangan di depan wajahku. Aku tersentak kaget.

”eh….Ya?” aku kebingungan.

”Kau tidak suka kupanggil Minnie?” tanyanya kecewa.

Haiisssh…. kenapa dia memasang tampang begitu? Aku jadi tidak tega.

”Terserah kau sajalah..” kataku pasrah. Aku harus membiasakan diri dengan nama panggilan baruku itu. Sedikit ada nyeri di hatiku.

”Ahh~ jinjja? Gomawo…” dia terlihat senang sekali. Tidakkah itu berlebihan?? TT’

”Ada apa kau ke sini?” tanyaku datar.

”Ah iya,, hampir lupa. Bolehkah aku nanti pulang bersamamu? Kudengar rumahmu yang paling jauh. Aku ingin tahu daerah sekitar sini, aku baru saja pindah…” dia memasang puppy eyes.

Ckckck… namja ini berbahaya sekali.

”terserah kau lah!!”

Heran deh,, tumben sekali ada yang betah denganku.

^_^

Aku dan Jinki pulang bersama. Kami melewati wilayah pertokoan,, dan pabrik tahu terbesar di daerah sini.

“Setelah ini aku pulang lewat pinggir sungai,, jadi tak ada yang spesial.” Kataku sambil terus berjalan.

Jinki mengejar di belakangku dan menyejajariku. Kami sudah sampai di pinggir sungai Han.

“woah,, ada sungai di sekitar sini? Gwaenchana….. di sini indah sekali. Bisakah kita berhenti sebentar?” Jinki duduk di atas rumput sambil menatap sungai Han. Wajahnya terlihat antusias sekali. Hhh.. dia seperti anak kecil. Ekspresinya mudah ditebak oleh orang lain.

Aku ikut duduk di sampingnya. Entahlah… aku merasa aneh. Baru kali ini aku pulang dengan namja. Kami terdiam beberapa lama. Jinki memejamkan matanya. Ahh~ dia terlihat keren…pujiku tak sadar.

Aigoo.. babo babo.. apa tadi yang aku pikirkan? Ingat Min Rin.. kau tidak boleh menyukai namja! Mereka hanya akan menyakitimu! Aku menegaskan dalam hatiku.

Duduk di pinggir sungai han seperti ini,, lagi-lagi aku teringat padanya. Appa. Dia selalu mengajakku ke sini ketika aku masih kecil. Kami bermain bersama dengan umma dan tertawa-tawa. Lantas kenapa sekarang harus berpisah?

”Eemm… Minnie..” Lagi-lagi aku mengejang mendengar Jinki memanggilku seperti itu.

”Eh?? Apa ada yang salah? Reaksimu selalu sama ketika aku memanggilmu Minnie,, apakah ada sesuatu?” Jinki terlihat bingung. Aku menggeleng keras.

”Aniyo,, gwaenchana,, ada apa kau memanggilku?”

”Err… hanya ingin bertanya, di mana kantor pos daerah sini?”

Aku mengernyit heran. Untuk apa dia mencari kantor pos?? Jinki mengeluarkan setumpuk kartu pos…

”eung…. banyak sekali!” ucapku otomatis.

”Aku harus memberitahukan alamat baruku pada teman-temanku,, kalau tidak mereka akan marah!” Jinki menjawab sambil menyodorkan salah satu kartu pos ke arahku.

”Untukmu…”

”Ne???”

”Ne,, untukmu. Ucapan terima kasihku karena mau mejadi teman pertamaku.”  jinki tersenyum.

”Eh,, kurasa tidak perlu. Tak ada yang akan kukirimi surat.” kataku sambil mengembalikan kartu pos itu pada Jinki.

”Tidak apa-apa,, itu untukmu.. terserah mau kau gunakan apa.”

”Eh?? Ya sudahlah…”Baru kali ini pula aku mendapat sesuatu dari namja. Aku menyimpan kartu pos itu ke dalam tas.

”Kenapa kau menggunakan kartu pos? Bukankah ada HP? Tentu lebih cepat dan tidak merepotkan bila kau mengirimkan alamatmu ke teman-temanmu.” aku benar-benar heran kenapa ia harus repot-repot lewat pos? Ada email dan hp yang bisa digunakan.

”eeengg…… bagaimana ya?? Yah.. mungkin kau menganggap aneh… tapi ada rasa tersendiri bila kau mengirim sesuatu lewat pos. Harapan, kebahagiaan, kegembiraan,,, yah semacam itulah. Aku sedikit sulit menyampaikan apa yang aku pikirkan.”

Jinki menatapku dan tersenyum lagi. Yaa…. hobi sekali dia tersenyum. Mukaku memerah melihat senyumnya.

”Jadi,,,  kantor pos ada di mana?”

“Ini sudah jam 5,, jadi kau ke kantor pos pusat saja… dari sekolah, kau ke selatan saja.”

^_^

Aku dan Jinki baru saja pulang dari kantor pos. Kami lagi-lagi duduk sambil menatap sungai Han.

“Wae?” aku berbicara pelan.

Jinki menatapku tidak mengerti.

“Ne?? Kau berkata apa?” dia terlihat bingung.

Aku berdiri dan mendekat ke sungai.

”Wae kau memintaku menemanimu?? Kenapa kau tidak mengajak Minho, Key, Jonghyun atau Taemin? Bukankah kau sudah akrab dengan mereka?” yaa… aku penasaran sekali. Jinki pasti tahu dari teman-temannya kalau aku ini sebenarnya pendiam dan tidak punya teman. Kenapa ia masih mau berteman denganku?

”Kenapa bertanya seperti itu? Aku senang bisa bersamamu.”

Blusshh……. pipiku langsung memerah mendengarnya. Untung saja aku tidak berhadapan dengan Jinki. Kalau iya,, dia bisa melihat pipiku yang memerah. Uugh…

“Minnie tidak senang pergi bersamaku?” jinki memasang wajah kecewanya.

“a….aniyo.. bukannya begitu!” jawabku gugup. Hei… apa yang terjadi denganku?? Kenapa aku bisa segugup ini?

“Eeh.. jangan-jangan Minnie membenci namja ya??” Jinki bertanya sambil menatapku menyelidik.

Mwoo?? Pertanyaan apa itu?

”aku salah ya?? Hehe… habis Minnie tidak pernah melihatku kalau berbicara denganku siih. Aku jadi heran saja..” Jinki berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

”ngg… kalau tidak apa-apa,, mulai sekarang kita berteman ya? boleh?” Jinki tersenyum menatapku.

”Ya…” hanya itu yang bisa aku jawab. Jujur saja, apa yang dikatakan Jinki benar.. aku membenci namja. Itulah sebabnya aku tak mau berurusan dengan namja dan akhirnya yeoja pun kena imbasnya juga. Aku tak mau berurusan dengan orang lain baik itu namja maupun yeoja.

^_^

”Anyeong,,,” aku masuk ke rumah dan menaruh sepatuku di tempatnya. Aku melewati ruang makan.. ada umma sedang menyiapkan makan siang.

”Sudah pulang sayang?” lagi-lagi umma menyapaku.

”Ne..” kataku pelan dan segera berlalu ke kamar. Yaa… hubunganku dengan umma sudah membaik. Aku sudah memutuskan untuk berhenti perang dingin dengan beliau. Aku lelah bersikap seperti itu. Aku tak tega melihat umma begitu menderita karena sikapku.

Masih teringat jelas, pertama kali aku mengajak bicara umma kemarin, dia terlihat senang sekali dan langsung menangis memelukku. Berkali-kali umma mengucapkan gomawo dan terus memelukku erat. Aku hanya terdiam,, Well.. aku akan mencoba ikut berbahagia dengan kebahagiaan umma.

Aku tahu,, mungkin ini akan menyakiti hatiku. Bayang-bayang appa akan selalu hadir di benakku. Perceraian umma dan appa membuatku trauma dan benci dengan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Kenapa?? kenapa harus ada kata menikah jika akhirnyapun berpisah??

Dan sekarang… umma akan menikah lagi. Tidakkah masa lalunya cukup untuk menjadi pelajaran baginya? Semua namja di dunia ini sama saja.  Aku benci namja. Umma pasti tidak tahu kalau aku membenci namja karena perceraian mereka. Jika umma tahu, dia pasti akan sedih.

Hhh……… aku memeluk bantal di kasurku dan menutupkannya ke mataku. Entah kenapa.. aku jadi teringat Jinki. Aku tidak tahu kenapa aku tidak membenci Jinki. Seharusnya, aku membencinya dan menjauhinya,, bukan malah berteman seperti ini.

^_^

”Umma dengar ada siswa baru di kelasmu.” Kata umma setelah kami makan malam.

Eh?? Dari mana umma tahu? o.O

”Ya,,, begitulah!” kataku tak peduli.

”Apakah dia baik? Menyenangkan?”

”Emm,,,,,,, lumayan. Dia duduk di sampingku dan dia… sedikit cerewet!” aku membantu umma meletakkan bekas makan kami di wastafel.

Kulihat umma tersenyum simpul. Apa maksudnya?

”Aku ada ulangan Bahasa Inggris besok,, err aku ke kamar dulu.” kataku sambil berlari ke lantai atas.

Di kamar, bukannya belajar aku malah menatap kartu pos pemberian Jinki. Indah sekali.. desainnya keren,, ada bunga sakura yang menghiasi pinggir-pinggir kartu pos.

Aku mengambil penaku. Ahh… aku harus menulis surat untuk siapa? Aku tak memiliki kenalan jauh. Tapi sayang sekali jika tidak digunakan. Aahh~ kuputuskan menulis tentang Jinki. Dia teman baruku,, kurasa aku perlu menulis sedikit tentangnya. Yaa… meskipun tentu saja tak akan pernah kukirimkan ke siapapun.

^_^

Di kelas..

”eerrr,,,,,, Jinki. Apakah kartu pos kemarin di jual di kantor pos pusat?” tanyaku dengan cepat dan sedikit gugup.

”ng?” Jinki menoleh ke arahku bingung.

”Kartu posnya indah. Aku ingin membelinya…” jelasku

”itu… edisi lebaran. Jadi sudah tidak ada lagi.” Jinki tersenyum

”Edisi lebaran? Pembicaraan apa ini? Membosankan sekali..” tiba-tiba Minho duduk di depan Jinki dan menyambung pembicaraan kami. Jinki mendelik sedangkan aku hanya tertawa. Yah.. sejak Jinki menjadi teman sebangkuku aku mulai sedikit bisa berbaur dengan siswa lain. Meski hanya sekedar mendengarkan pembicaraan mereka dan tersenyum.

^_^

Aku menendang-nendang kerikil yang ada di jalan setapak yang ada di pinggir sungai Han. Hari ini, aku pulang sendiri. Tentu saja,, rumahku berbeda arah dengan rumah Jinki.

Aku sendiri tak mengerti, mengapa dia kemarin-kemarin pulang denganku. Padahal aku tau persis begitu kami berpisah di gang rumahku, dia dijemput mobil mewah.

”Haaah…….. terserah dia sajalah……..” kataku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Sepertinya penyakitku kumat,, berbicara sendiri! Haha

”Dia siapa?” tiba-tiba ada seseorang yang yang berbicara tepat di samping telingaku. Eeeh???

Aku menoleh. ”Jinki?? Kau mengikutiku?”tanyaku aneh. Dia hanya nyengir.

”Hehe… kau tidak keberatan kan? Aku senang suasana di sungai ini. Jadi aku mengajakmu duduk-duduk lagi di sini. Kalau sendirian saja pasti tidak menyenangkan. Kau mau kan duduk di sini denganku??”

Bluush……… mukaku memerah. Jinki… kenapa kau berkata seperti itu? aku takut… aku takut menyukaimu. Padahal aku membenci namja. Tapi kenapa dengan Jinki aku justru merasa nyaman?

TBC

5 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s