Present [Twin’s Story] 1 of 2

Author: Nana Cho
Genre: Family
Rate: G
Cast:
*Jeon Jihwan (The Boss)
*Jeon Jirae (OC)
and other supported cast
A/N: ff ini, sebenernya buat birthday project Jay DGNA maret kemarin. tapi, saiia pikir ga salah juga kalo reader kofalo baca ini. hehehe…
okay. check this out! (^o^)//

GANGWON-DO, JEON’S FAMILY HOUSE, 31TH MARCH 1995

“Saengil Chukha hamnida… saengil chukha hamnida… saranghaenun Jihwan Jirae… saengil chukha hamnidaaa…” Beberapa orang yang berkumpul di ruangan ini menyanyikan lagu itu untuk kami berdua. Sementara, aku dan Jihwan oppa, kakak kembarku, berdiri di depan sebuah kue berbentuk bulat dengan lilin berbentuk angka 2 di atasnya. Hari ini, kami merayakan ulang tahun pertama kami [kedua di umur Korea]. Sebenarnya, ulang tahunku besok. Hari ini ulang tahun Jihwan oppa. Tapi, umma bilang lebih baik kami ulang tahun bersama. Bukankah kami kembar.
“Sekarang, kalian tiup lilinnya jagiya…” Ujar umma yang berdiri di belakang kami berdua sambil memegang kepala kami bersamaan.
“Fuuuhhh…” Kami tiup lilin itu bersamaan, disusul dengan tepuk tangan umma, appa, dan beberapa orang yang berkumpul di rumah ini untuk merayakan ulang tahun kami. Jihwan oppa melihatku dengan senyum lebar yang kubalas dengan senyuman yang tak kalah lebarnya. Kami bahagia sekali hari ini.

GANGWON-DO, JEON’S FAMILY HOUSE, 12TH MARCH 2001

Hari ini, hari pertamaku dan Jihwan oppa masuk SD. Aku sedang bersiap-siap di kamarku, sementara itu umma sedang menyiapkan sarapan kami.
PRAAANGGG…
Tiba-tiba terdengar suara piring pecah dari arah bawah. Kemudian di susul dengan keributan kecil yang ditimbulkan suara umma dan appa. Langsung aku keluar dari kamarku, dan kulihat umma dan appa yang sedang berbicara dengan wajah marah. Sementara, sudah ada serpihan guci pemberian harameonie yang pecah di lantai. Jihwan oppa juga keluar dari kamarnya dan berdiri di sampingku, melihat pertengkaran orang tua kami. Akhir-akhir ini, mereka memang sering bertengkar. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Nan eottohkhae? Aku hanya bisa menunduk dan membiarkan air mataku menetes begitu saja.
“Gwaenchana… umma dan appa pasti baik-baik saja…” Kurasakan Jihwan oppa merangkulku, kemudian membelai kepalaku lembut, menenangkanku.

GANGWON-DO, JEON’S FAMILY HOUSE, 30TH MAY 2004

“ANDWAEYO!!! AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI DENGANMU!!!” Untuk kesekian kalinya, aku terbangun gara-gara keributan yang ditimbulkan umma dan appa. Entah apa yang mereka ributkan, mereka selalu saja bertengkar tanpa kenal waktu. Bahkan, di pagi buta seperti ini.
Kulangkahkan kakiku keluar kamar, menuju kamar Jihwan oppa. Aku selalu takut jika mereka sudah mulai bertengkar seperti ini.
Kumasuki kamar oppaku itu dengan terburu-buru. Ternyata, dia juga terbangun dan sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk bantalnya.
“Oppaaa…” Langsung kuhampiri dia, kemudian memeluknya erat.
“Uljimayo, ada oppa disini…” Jihwan oppa menenangkanku. Kurasakan tangannya membelai kepalaku lembut. Dia selalu bisa membuatku lebih tenang.
Aku tahu, Jihwan oppa tidak lebih tenang dariku. Bahkan, jantungnya berdetak sangat cepat. Jantungnya berdebar-debar seperti ingin keluar dari tempatnya di dalam dada Jihwan oppa. Aku masih terus memeluknya, tanpa tahu bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam tubuh Jihwan oppa.

GANGWON-DO, JEON’S FAMILY HOUSE, 31TH MARCH 2007

Hari ini, hari ulang tahun kami yang ke-13. Umma bilang, hari ini beliau ingin membicarakan sesuatu pada kami. Kuharap, sesuatu itu hal yang bagus setelah tidak melihat appa pulang selama tiga bulan terakhir ini.
“Oppa, menurutmu apa yang ingin umma bicarakan?” Tanyaku pada Jihwan oppa di perjalanan kami sepulang sekolah.
“Molla,” Jihwan oppa mengangkat bahunya. “Semoga saja bukan pertengkaran umma dan appa yang menjadi hadiah ulang tahun kita tahun ini.” Jihwan oppa terlihat sedikit memaksakan senyumnya.
“Aku juga tidak ingin mendapat hadiah yang sama seperti tahun lalu atau dua tahun yang lalu…” Ya, kami selalu mendapat hadiah pertengkaran mereka dua tahun terakhir ini. Aku tidak berharap mendapatkan itu lagi tahun ini.
“Uljimayo…” Jihwan oppa mengacak rambutku pelan, kemudian membuka pintu rumah.
“Kami pulang…” Ujar kami bersamaan sambil memasuki rumah, kemudian melepas sepatu kami.
“Kalian sudah pulang, kkaja masuk…” Umma menyambut kami dengan senyuman. Tapi, beliau tidak bisa menyembunyikan mata sembabnya. Mworago?
“Ne umma…” Jihwan oppa mendahuluiku memasuki rumah. Kuikuti dia dari belakang, bersama umma yang berjalan di sampingku.
“Appa!!!” Suara Jihwan oppa terdengar agak berteriak. Mungkin dia terlalu senang melihat appa di rumah. Jihwan oppa memang sangat dekat dengan appa. Sementara aku, lebih dekat dengan umma.
Kumasuki ruang tengah, tempat suara Jihwan oppa terdengar. Kudapati appa sedang berdiri dan memeluk Jihwan oppa. Sepertinya, kami mendapat sesuatu yang baik tahun ini.
“Appa…” Kudekati namja yang sudah tiga bulan tidak kutemui itu, kemudian memeluknya. Appa memeluk kami berdua erat, seolah ini adalah pelukan terakhirnya untuk kami berdua.
“Bagaimana sekolah kalian hari ini?” Tanya appa sambil melepas pelukannya dan menatap kami berdua dengan tatapan nanar. Mworago?
“Lancar appa…” Jihwan oppa menganggukkan kepalanya mantap. Begitupun aku menyetujuinya.
“Sekarang, kalian duduk dulu. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.” Umma memegang tangan kami berdua, kemudian menyuruh kamu berdua duduk di sebuah sofa besar. Kami turuti perintah beliau. Sementara, beliau duduk di depan kami, di samping appa.
Kedua orang yang sudah membesarkanku dan oppa itu menatap kami berdua dengan pandangan yang tidak bisa kumengerti. Perasaanku mulai tidak enak.
“Hhh… Jihwan, Jirae…” Appa memulai pembicaraan yang sepertinya akan serius ini. Sementara umma sudah menunduk sambil menutup mulut beliau. Kulihat sesuatu yang bening mengalir di pipi beliau yang dihiasi keriput halus yang muncul sebelum waktunya.
“Nde appa?” Sahut kami bersamaan.
“Appa tahu, ini akan berat untuk kalian. Tapi, appa mohon kalian mengerti. Ini yang terbaik untuk kami, untuk kita semua…”
“Mworago?” Jihwan oppa terlihat sangat penasaran. Begitupun aku, kutatap namja di depanku itu tajam, namja yang selama ini kupanggil appa.
“Jihwan, Jirae… mianhae jeongmal mianhae… kami harus berpisah.” Jelas appa membuatku membulatkan mataku menatapnya. Jihwan oppa menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Apakah itu artinya mereka akan bercerai?! Mereka benar-benar melakukan kata yang paling mengerikan dalam hidupku itu?! Apakah mereka sungguh-sungguh?!
“Hhahaha… appa, ini tanggal 31. Tanggal 1 April besok, ini belum april mop appa… lagipula bercanda kalian tidak lucu!!!” Kuharap ini hanyalah lelucon april mop yang disampaikan sebelum waktunya.
“Aniya Jirae, umma juga berharap seperti itu. Tapi, ini bukan lelucon april mop sayang.” Umma memelukku erat dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya. Jadi, mereka benar-benar berpisah?! Andwaeyo!!!
“Andwaeyo! Aku tidak percaya umma dan appa berpisah!!!” Kulepas pelukan umma, kemudian berlari menuju kamarku. Aku tidak percaya ini.
Mereka memang tidak memberi kami hadiah pertengkaran mereka tahun ini. Tapi, bukan ini hadiah yang kuharapkan!
Sementara aku masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya, Jihwan oppa terlihat lebih tenang. Dia masih bertahan disana, mendengarkan penjelasan orang tua kami. Dia benar-benar terlihat tenang. Meskipun aku tahu, sakit yang dirasakannya tidak lebih ringan dari apa yang kurasakan. Tapi, dia tidak akan pernah menunjukkan air matanya di depan siapapun. Dia masih disana, menahan rasa sakit di hati, dan di jantungnya.
Jihwan oppa mempunyai masalah dengan jantungnya beberapa bulan terakhir ini. Tapi, dia tidak mengatakannya pada siapapun hanya aku yang mengetahuinya. Dia juga melarangku untuk mengatakannya pada umma. Aku menurutinya, karena menurutku sakitnya tidak akan berlangsung lama, tidak akan membahayakan hidupnya.

CHEONHAN-DO, MS. YONG’S APARTMENT, 1ST DEC 2007

Ternyata, hari ulang tahun kami waktu itu adalah hari terakhir sidang perceraian mereka. Sidang memutuskan mereka berpisah, dan memisahkan aku dan Jihwan oppa. Hak asuh Jihwan oppa jatuh ke tangan appa, sementara hak asuhku jatuh ke tangan umma. Kami harus berpisah. Membuatku terus berpikiran bahwa appa tidak menginginkanku, maka dia melepasku untuk tinggal bersama umma.
Sekarang, sudah beberapa bulan sejak hari yang sudah mengubah hidupku itu. Umma mengajakku pindah ke sebuah apartment di kawasan Cheonhan. Kami memulai hidup baru kami di apartment dengan dua kamar ini. Sebuah apartment kecil yang cukup hangat untuk kami berdua. Kami harus bisa bertahan hidup tanpa appa dan Jihwan oppa.
Umma sudah mulai menata kembali hidupnya yang sempat hancur karena perceraian itu. Beliau memulainya dengan menjadi koki sebuah rumah makan masakan China di sekitar sini. Masakan umma memang yang terbaik. Sudah tiga bulan ini beliau bekerja disana. Sepertinya, tempat itu tempat yang cukup nyaman untuk umma.
Tidak hanya pindah rumah, aku juga harus pindah sekolah. Sekarang, aku bersekolah di sebuah SMP yang tidak jauh dari apartment kami ini. Meskipun tidak setiap hari bertemu, hubunganku dan Jihwan oppa tidak pernah terputus. Kami sering saling menelfon. Bahkan, kami juga sering bertemu ketika akhir pekan. Appa agak susah dihubungi, mungkin beliau sibuk dengan pekerjaanya.
Aku juga menghabiskan akhir pekanku dengan membantu di toko bunga yang ada di samping rumah makan tempat umma bekerja. Semuanya berjalan baik, meskipun masih hatiku masih belum benar-benar membaik.
Seperti hari ini, aku sedang bersiap-siap pergi ke toko bunga ketika tiba-tiba Jihwan oppa menelfonku.
“Yeoboseyo…”
“Yeoboseyo… apa kabarmu saeng?” Suara Jihwan oppa di seberang terdengar sedikit galau.
“Aku baik-baik saja, mworago? Apakah ada sesuatu terjadi?” Kuambil tasku, kemudian duduk di tempat tidur, aku merasa harus memperhatikannya terlebih dulu.
“Hhh… bisakah kita bertemu?”
“Ne, kau bisa menemuiku di toko bunga oppa…”
“Ne, aku kesana sekarang. Annyeong…”
“Ne, annyeong…” Kumasukkan ponselku ke dalam tas selempang kecil berwarna putih setelah Jihwan oppa memutuskan hubungan telfon kami. Kemudian, aku bergegas ke toko bunga milik Sungri eonnie. Aku harus membantu disana, dan aku juga sudah membuat janji dengan Jihwan oppa untuk bertemu disana.

CHEONHAN-DO, SUNGRI’S FLOWER SHOP, 1ST DEC 2007

“Annyeong…” Sapaku pada Sungri eonnie yang sedang menyemprot satu pot bunga tsubaki di depan toko. Bunga musim dingin itu sepertinya sudah mulai memunculkan kuncupnya, pertanda gyeoul memang sudah datang.
“Annyeong, kau baru datang Jirae.” Sungri eonnie melihatku sebentar sambil menunjukkan senyum manisnya, kemudian melanjutkan menyemprot tsubaki itu lagi.
“Mianhae, aku terlambat eonnie. Tadi, oppaku menelfon. Oh! Iya,, dia bilang dia akan kemari untuk menemuiku. Bolehkah eonnie?” Kudekati yeoja yang sudah kuanggap seperti naui eonnie itu.
“Tentu boleh,, siapa tahu dia bisa membantu disini. Haha…” Ujarnya sambil tertawa kecil, menunjukkan sebuah lesung pipit di pipi kanannya.
“Hehehe… gomawo eonnie… aku simpan tas dulu, lalu aku akan membantumu.”
“Ne.. ppali, ada beberapa tsubaki bermasalah disini. Sepertinya mereka sakit…” Sungri eonnie berkacak pinggang sambil menatap beberapa pot tsubaki di depannya.
“Siaapp.” Aku masuk ke dalam toko, kemudian meletakkan tasku di loker, dan mulai ke depan toko untuk membantu Sungri eonnie mengatasi tsubaki-tsubakinya.
“Saeng, bisa tolong kau ambilkan obat hama di meja?” Ujar Sungri eonnie.
“Ne…” Kuambil sebotol obat hama yang disimpan di pojok meja kasir, kemudian membawanya ke depan toko. Tsubaki membutuhkannya. Baru saja aku keluar dari toko, berjalan mendekati Sungri eonnie ketika tiba-tiba…
“Annyeong Jirae…” Jihwan oppa datang!
“Oppa!” Teriakku reflek dan langsung memeluknya. Dibalasnya pelukanku hangat, mengalahkan rasa dingin yang ditimbulkan oleh gyeoul yang datang.
“Bogishipoyo…” Kupererat pelukanku. Aku benar-benar merindukannya setelah beberapa minggu ini kami tidak bertemu.
“Nado bogoshipoyo. Tapi, jangan memelukku terlalu erat. Aku bisa sesak nafas Jirae…”
“Hehehe… mian…” Kulepas pelukanku, kemudian menunjukkan senyum tanpa dosaku.
“Jirae, mana obat… Jihwan, kau sudah datang?” Sungri eonnie membalikkan badannya, dan cukup kaget mendapati Jihwan oppa sudah berdiri di sampingku.
“Ne noona. Annyeong….” Jihwan oppa membungkukkan badannya sambil tersenyum ke arah Sungri eonnie.
“Annyeong… kapan kau datang?”
“Eonnie terlalu sibuk dengan tsubaki-tsubaki itu, sampai oppaku datang saja eonnie tidak tahu.” Sahutku sambil memberikan botol obat hama pada Sungri eonnie.
“Hehe… sudahlah, kalian reuni saja dulu. Aku harus mengurus mereka.” Sungri eonnie menunjuk pot-pot bunga tsubaki yang harus di urusnya.
“Gomawo noona. Aku pinjam Jirae dulu…”
“Ne, kalian bicara di dalam saja.”
“Geurhae…” Kubuka pintu toko. “Kkaja oppa…”
“Ne…” Jihwan oppa mengikutiku masuk ke dalam toko, kemudian kami duduk di sebuah meja kecil dengan dua kursi di dekat sekumpulan bonsai-bonsai. Tempat duduk yang biasa aku dan Sungri eonnie gunakan untuk membagi beberapa hal satu sama lain.
“Mworago? Sepertinya ada sesuatu yang ingin oppa bicarakan.” Ujarku sambil duduk di sebuah kursi di depan Jihwan oppa.
“Kau selalu bisa menebak dengan baik” Jihwan oppa tersenyum kecil. Haaa… aku merindukan senyumnya…
“Hehe… Mworago?” Kutopang daguku dengan tangan di atas meja.
“Hhh… Aku bingung…”
“Bingung? Wae?”
“Aku bingung harus bagaimana mengatakannya padamu.” Jihwan oppa ikut menopang dagunya di depanku, kemudian menatapku.
“Katakan saja… tidak perlu bingung begitu…” Kutepuk pundaknya perlahan. Katanya, kalau aku sudah menepuk pundaknya seperti ini aku seperti menjadi namja dongsaeng baginya.
“Hhh… appa bilang, beliau akan mengenalkan seorang ajjuma. Aku disuruhnya mengabarkan ini padamu…”
“Mwo?! Secepat ini?!” Perceraian mereka belum genap satu tahun, dan appa sudah menemukan yeoja lain? Apa itu penyebab mereka berpisah?
“Ne… aku juga tidak tahu bagaimana harus mengatakannya pada umma.” Jihwan oppa meletakkan kepalanya di meja. Sepertinya, dia benar-benar bingung.
“Sudahlah, biar aku yang mengatakannya pada umma. Oppa tidak perlu terlalu memikirkannya.” Ujarku, meskipun sebenarnya aku juga bingung bagaimana harus mengatakannya pada umma.
“Ne… Akh…” Jihwan oppa tiba-tiba memegang dadanya dengan ekspresi muka kesakitan.
“Oppa! Gwaenchanayo?!” Langsung aku berdiri dari kursiku, kemudian mendekati Jihwan oppa dan memegang pundaknya khawatir.
“Gwaen cha na…” Jihwan oppa memaksakan senyumnya di tengah sakit yang dirasakannya. Pasti jantungnya berdebar tidak wajar lagi.
“Jihwan, kau ingin minum… aigoo… gwaenchanayo??!!!” Sungri eonnie yang baru saja memasuki toko, berniat mengambilkan minum untuk Jihwan oppa langsung panik melihat Jihwan oppa kesakitan.
“Ini minum dulu…” Sungri eonnie langsung mendekati kami dengan segelas air putih yang langsung diminum Jihwan oppa. Kuperhatikan kakak kembarku itu dengan perasaan yang bercampur-campur di dalam dadaku.
“Hhh… gomawo noona…” Jihwan oppa meletakkan gelasnya di meja di depan kami. Sekarang, dia sudah terlihat lebih tenang, meskipun sepertinya rasa sakit itu belum benar-benar pergi.
“Cheonmaneyo… sebenarnya ada apa denganmu?” Tanya Sungri eonnie sambil menatap Jihwan oppa khawatir.
“Gwaenchanayo noona…”
“Oppa, kau tidak bisa membohongiku. Apa sesuatu terjadi dengan jantungmu?” Kutatap matanya dalam-dalam.
“Gwaenchana… kau tidak perlu khawatir seperti itu…” Ujarnya sambil mengacak rambutku pelan dan menunjukkan sebuah senyuman kecil yang membuatnya semakin taerlihat kesakitan.
“Annyeong…” Terdengar suara seorang namja memasuki toko, menyusul suara pintu toko yang terbuka.
“Annyeong…” Sungri noona menyambut namja itu. Ternyata dokter Zhoumi yang datang. Dia seorang dokter berkewarganegaraan China yang kebetulan sedang bertugas disini, sekaligus melanjutkan studinya di Universitas Dankook. Kebetulan juga, dia juga tetanggaku dan umma di apartment. Dia sudah seperti naui oppa sendiri.
“Kebetulan Zhoumi oppa datang, bisa tolong periksa naui oppa?” Tanyaku, membuat Jihwan oppa membulatkan matanya menatapku.
“Nan gwaenchana Jirae…”
“Sssttt…” Kuletakkan telunjukku di depan bibirku, mengisyaratkan padanya untuk diam.
“Eottohkhae oppa?” Kuajukan lagi pertanyaanku pada Zhoumi oppa yang belum sempat dijawabnya.
“Tentu.” Zhoumi oppa menganggukkan kepalanya mantap. “Sepertinya kau tidak benar-benar baik-baik saja, ng…” Zhoumi oppa terlihat bingung menatap Jihwan oppa.
“Jihwan, Jeon Jihwan imnida… Bageupsimnida…” Jihwan oppa membungkukkan badannya memperkenalkan diri.
“Oh! Bageupsimnida… Zhoumi imnida…” Balas Zhoumi oppa dengan aksen Chinanya dan senyumnya yang mengembang. “Bisa aku memeriksamu sekarang?” Lanjut Zhoumi oppa sambil mendekati Jihwan oppa.
“Hhh… Geurhae…” Sepertinya, Jihwan oppa terlihat agak terpaksa. Tapi, biarlah. Ini juga demi kebaikannya kan…
Kemudian, Zhoumi oppa mulai memeriksa Jihwan oppa. Wajahnya terlihat cemas. Semoga tidak ada sesuatu yang buruk.
“Semoga dugaanku salah, kita tunggu hasil lab minggu depan saja untuk kepastiannya.” Ujar Zhoumi oppa setelah selesai memeriksa Jihwan oppa.
“Ne oppa…” Kuanggukkan kepalaku pelan. Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Jihwan oppa.
“Gwaenchana… jangan terlalu khawatir seperti itu.” Ujar Jihwan oppa sambil memegang kepalaku, menenangkanku.

CHEONHAN-DO, SUNGRI’S FLOWER SHOP, 8TH DEC 2007

Hari ini, sudah satu minggu sejak Jihwan oppa kesini. Rencananya, Zhoumi oppa akan kemari hari ini. Dia akan menunjukkan hasil labnya padaku. Aku juga sudah membuat janji dengan Jihwan oppa. Tapi, dia belum datang juga.
Oh! Iya, masalah ajjuma baru itu, ternyata umma sudah mengetahuinya. Benar dugaanku, appa sudah mengenalnya sebelum bercerai dengan umma. Aku jadi tidak perlu susah-susah mengabarkannya pada umma. Tapi, dasar mulutku ini tidak bisa dijaga. Aku mengatakan keadaan Jihwan oppa pada umma. Kurasa, umma berhak tahu. Beliau masih punya tanggung jawab terhadap Jihwan oppa. Bagaimanapun juga, beliau selalu menyayangi kami lebih dari apapun. aku percaya itu.
“Jirae… Zhoumi-ssi datang…” Teriak Sungri eonnie memanggilku dari luar toko. Sementara, aku masih berkutit dengan beberapa bucket bunga mawar putih dan merah di dalam toko.
“Nde…” Langsung aku berlari keluar toko. “Eottohkhae oppa?” Tanyaku tidak sabar.
“Tenanglah, kau tenangkan diri dulu… Jihwan belum datang?” Wajah Zhoumi oppa terlihat cukup cemas. Apa sesuatu yang buruk terjadi?
“Belum oppa… aku panggil umma dulu…”
“Ne…”
Semalam, umma bilang umma juga ingin tahu hasil labnya. Jadi, hari ini umma memaksa untuk datang juga ke toko bunga. Beliau bilang, aku harus menjemputnya jika dokter Zhoumi datang. Untung saja rumah makan tempat umma bekerja dengan toko bung bersebelahan. Wajar sih kalau mengingat pemilik toko bunga dan rumah makan ini masih satu keluarga.
Pemilik rumah makan itu orang tua Sungri eonnie, sekaligus orang tua Injoon oppa, naui sunbae yang juga baik hati dan akrab denganku. Baik di sekolah ataupun di rumah.

CHEONHAN-DO, LEE’S DUMPING AND SEAFOOD, 8TH DEC 2007

“Oseo oseyo…” Sambut seorang eonnie yang menjaga pintu masuk ketika baru saja kumasuki rumah makan ini. Kuanggukkan kepalaku sembari tersenyum kecil ke arahnya, kemudian kulanjutkan berjalan menuju kasir. Untung saja aku sudah mengenal para karyawan disini dengan cukup baik. aku jadi tidak susah menemui umma.
“Annyeong Jirae-ah… ada yang bisa eonnie bantu?” Tanya Hyuri Eonnie, kasir rumah makan ini.
“Ne,,, bisa tolong panggilkan umma eonnie?”
“Ne… tunggu sebentar ya..” Hyuri eonnie tersenyum, kemudian masuk ke dapur, memanggil umma.
Sebentar kemudian, Hyuri eonnie datang bersama umma yang berjalan di sampingnya.
“Mworago sayang? Apa Zhoumi dan Jihwan sudah datang?” Umma langsung mendekatiku dengan wajah cemas.
“Zhoumi oppa sudah datang umma. Tapi, Jihwan oppa belum.”
“Yasudah, sekarang kita ke toko bunga saja. Hyuri-ah, tolong pamitkan ke yang lain ya… aku pergi sebentar…” Umma melepas celemek yang ada di pinggang beliau, kemudian meletakkannya di kursi di belakang Hyuri eonnie.
“Ne ajjuma… semoga hasil test labnya tidak mengecewakan…” Jawab Hyuri eonnie sambil menganggukkan kepalanya.
“Ne, gomawo… kkaja Jirae,…” Umma menggandeng tanganku keluar dari rumah makan.
“Ne…” kuikuti langkah beliau yang agak terburu-buru. Beliau pasti sangat khawatir sekarang.

CHEONHAN-DO, SUNGRI’S FLOWER SHOP, 8TH DEC 2007

“Annyeong ajjuma…” Sapa Zhoumi oppa sambil berdiri dari duduknya setelah sebelumnya dia terlihat membicarakan sesuatu dengan Sungri eonnie di dalam toko.
“Annyeong… eottohkhae Zhoumi-ssi?” Tanya umma sembari berjalan menuju Zhoumi oppa.
“Ajjuma duduk saja dulu, jangan terlalu khawatir…” Sungri eonnnie berdiri, kemudian menarik sebuah kursi di sebelahnya ke depan umma.
“Gomawo…” Ujar umma sambil duduk di kursi di depannya. Kutarik sebuah kursi, kemudian duduk di samping umma. Di depanku, Sungri eonnie dan Zhoumi oppa duduk bersebelahan.
“Eottohkhae Zhoumi-ssi?” Tanya umma tidak sabar.
“Sebelumnya, ajjuma harus tenang dulu… saya tahu ini tidak terdengar cukup baik untuk ajjuma ataupun Jirae…” Ujar Zhoumi oppa membuatku membulatkan mataku menatapnya.
“Mworago?” Aku benar-benar penasaran. Umma menggenggam tanganku erat. Bisa kurasakan ketegangan dalam diri beliau.
“Jihwan,,, jantung Jihwan mengalami sedikit masalah. Tapi, ini belum parah. Meskipun kami belum tahu cara mengatasinya, paling tidak kami bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya menjadi lebih parah.” Jinjja?! Apa aku tidak salah dengar?! Apa test itu tidak salah?!
“Zhoumi-ssi, apakah test itu benar?! Jihwan… dia…” Umma tidak dapat melanjutkan kalimat beliau. Beliau menundukkan kepalanya dan mulai menangis sejadi-jadinya. Kurangkul pundak yeoja di sampingku itu. Kucoba menenangkannya dengan hati yang tidak tenang. Perasaanku buruk sekali.

………………………

“Kenapa Jihwan oppa belum datang juga…” Sudah satu jam aku dan umma menunggunya disini. Zhoumi oppa juga masih menunggu disini. Dia harus menyampaikan hasil tes itu pada Jihwan oppa.
“Coba kau telfon dia saja Jirae…” Suruh umma.
“Ne…” Kuambil ponselku, kemudian kutekan beberapa digit angka yang sudah kuhapal di luar kepala.
Kumohon… angkatlah oppa… tidak biasanya dia membiarkanku mendengarkan suara kereta tua ini cukup lama.
“Yeoboseyo…” Akhirnya suara seorang namja mengangkat telfon. Aku kenal suara ini. Tapi, ini bukan suara Jihwan oppa.

6 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s