Present [Twin’s Story] 2 of 2

Author: Nana Cho
Genre: Family, Sad
Rate: G
Main Cast:
– Jeon Jihwan [The Boss’s Jay]
– Jeon Jirae [OC]
Other Cast:
– Mr. Jeon
– Ms. Yong
– Lee Sungri
– Lee Injoon [The Boss’s Injoon]
– Park Joongsoo [SJ’s Leeteuk]
– Zhoumi [SJM’s Zhoumi]
Disclaimer: The Cast belongs to themselves and the plot belong to me.

STORY 2

JEON JIHWAN

GANGWON-DO BUSS STOP, 8TH DEC 2007

Hari ini, aku harus menemui Jirae di toko bunga tempatnya bekerja paruh waktu. Sekarang, aku sedang menunggu buss yang akan membawaku menuju Cheonhan. Tiba-tiba, seorang namja yang sepertinya pernah kutemui duduk di sampingku.
“Sepertinya, kita pernah bertemu. Kau… kakak kembar Jirae ya?” Tanya namja itu sambil memandangku heran. Dia kenal Jirae?
“Ne… kau kenal Jirae?” Kuperhatikan wajahnya. Dia siapa ya…
“Ne… aku tetangganya di Cheonhan…” Ujar namja itu sambil menunjukkan senyumnya. Oh! Aku ingat sekarang… namja itu kan namja dongsaeng Sungri noona, pemilik toko bunga dan rumah makan China tempat umma bekerja.
“Oh… bageupsimnida… Jihwan imnida…” Kuulurkan tanganku ke arahnya, memperkenalkan diri. Tak kenal maka tak sayang ‘kan? Hehehe…
“Injoon imnida…” Disambutnya tanganku sambil menunjukkan senyumnya lagi.
“Kau ingin pergi kemana?” Tanya Injoon sembari melepas jabatan tangannya.
“Ke Cheonhan, aku ada janji dengan Jirae.”
“Kebetulan sekali. Aku juga akan pulang. Kita sama-sama saja.” Tawarnya. Ternyata, namja ini ramah sekali.
“Ne… Saran yang…” Tidak bisa kuteruskan kata-kataku. Tiba-tiba saja rasa sakit itu datang lagi.
Debaran jantungku menjadi semakin cepat. Jantungku berdebar-debar cepat sekali, seolah ingin mendobrak keluar dari tempatnya yang aman di dalam dadaku. Ku tekan dadaku kuat-kuat, berharap bisa mengendalikan debarannya. Tapi, aku tidak bisa. Jantungku berdebar semakin cepat dan semakin cepat. Bahkan, sekarang tubuhku menjadi lemas. Mataku mulai berkunang-kunang ketika samar-samar kulihat orang-orang berkerumun di sekitarku. Injoon, dia sudah merangkulku. Aku bisa melihat wajahnya yang khawatir dengan samar-samar.
BRUUUKKK…
Kurasakan tubuhku semakin ringan, kemudian semuanya gelap. Suara-suara orang yang mengitariku juga perlahan hilang,,, dan aku tidak bisa mendengar apapun lagi, kecuali detak jantungku sendiri yang semakin cepat.

JEON JIRAE

SEOUL STREET HOSPITAL, 8TH DEC 2007

Aku, umma, Zhoumi oppa dan Sungri eonnie sampai di rumah sakit tiga puluh menit setelah kuterima kabar dar Injoon oppa. Sampai disana, kami langsung berjalan terburu-buru menuju UGD.
Sampai disana, ternyata sudah ada Injoon oppa, appa, dan seorang ajjuma sedang menunggu di depan ruang UGD. Apakah dia ajjuma yang pernah oppa bicarakan?
“Jirae…” Appa menghampiriku dan memelukku hangat.
“Ne appa…” Kubalas pelukannya sambil terus menatap ajjuma itu. Yeoja yang sudah membuat keluargaku berantakan.
Ajjuma itu menunjukkan senyumnya ke arahku. Kualihkan pandanganku, berlaku seolah tidak melihatnya. Aku tidak menyukainya, bahkan meskipun ini pertemuan pertama kali.
Sebentar kemudian, seorang namja dengan jas putih dan berkacamata keluar dari UGD. ‘Joongsoo’ Itu yang kubaca dari papan nama yang tersemat di bagian kanan jasnya. Sepertinya dia dokter yang mengatasi Jihwan oppa.
“Keluarga dari Jeon Jihwan?” Tanya dokter itu sembari membenarkan letak kacamatanya.
“Ne dok, kami orang tuanya…” Jawab umma dan appa bersamaan, kemudian berjalan mendekat ke arah dokter Joongsoo. Kuikuti beliau berdua mendekati dokter Joongsoo.
“Beberapa sel di dalam jantungnya tidak bisa berfungsi dengan baik. Keadaan Jihwan memang belum cukup parah. Tapi, kami khawatir keadaanya akan memburuk dalam beberapa tahun kedepan.” Jelas dokter Joongsoo. Umma sudah menunduk dan menangis lagi. Appa juga terlihat sangat cemas. Beliau merangkul umma, menenangkan yeoja yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
Sementara, aku hanya bisa mematung mendengar kabar mengerikan itu. Andwaeyo… perlahan, kurasakan air mata mulai mengalir di pipiku, di susul dengan sebuah tangan yang kurasakan merangkul pundakku, menenangkanku.

6 YEARS LATER

CHEONHAN-DO, DANKOOK UNIVERSITY, 14TH MARCH 2013

Sudah enam tahun sejak tragedi di rumah sakit hari itu. Beberapa bulan setelah appa mengetahui penyakit Jihwan oppa, beliau memutuskan untuk membawa Jihwan oppa pindah ke Amerika. Kebetulan beliau ada tugas disana. Sekalian mengobati penyakit Jihwan oppa. Hari ini, tepat lima tahun setelah kepindahan Jihwan oppa ke Amerika.
Meskipun terpisah dua benua yang berbeda, hubungan kami tidak pernah terputus. Kami terus berkirim e-mail dan saling menelfon paling tidak sekali dalam satu minggu. Jihwan oppa bilang, sekarang jantungnya sudah mulai membaik. Meskipun dia mulai merasakan nyeri itu lagi akhir-akhir ini. Tapi, itu bisa diatasinya dengan obat penahan rasa sakit dari dokter.
Beberapa bulan yang lalu, dia juga bilang kalau dia diterima di Harvard. Sungguh menakjubkan! Makadari itu, akhir-akhir ini Jihwan oppa jarang menghubungiku. Sepertinya cukup berat juga kuliah di Harvard.
Sementara Jihwan oppa berkuliah di Harvard, aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di Fakultas Sastra Universitas Dankook. Sejak tahun lalu, aku resmi menjadi salah seorang mahasisiwi disini. Keajaiban sekali aku bisa di terima di universitas ini.
Jam kuliah hari ini sudah selesai. Aku harus cepat pulang dan membantu Sungri eonnie di toko. Sebelumnya, aku harus mengambil tas dan beberapa bukuku di loker. Kubuka lokerku, dan kudapati ada sebuah kotak kecil berwarna pink ada di atas tumpukan buku sastraku. Hari ini memang white day. Tapi, sepertinya aku tidak memberi chokollit pada siapapun valentine lalu. Jadi, ini chokollit balasan dari siapa?
Kuambil kotak itu, kemudian membukanya. Benar saja, isinya chokollit faforitku. Tapi, siapa pemberinya? Ada sebuah kartu di bawah sekotak chokollit itu. Kubaca saja.
‘annyeong… chokollitnya sudah kau terima ya… ^^
Kuharap chokollit faforitmu masih sama dengan beberapa tahun yang lalu.
Kau pasti penasaran siapa aku.
Temui aku di depan patung beruang hitam hari ini, sepulang kuliah.
Kutunggu,,, Jirae-ya…^^’
Cih, siapa pengirim misterius ini? Berani sekali dia memanggilku ‘Jirae-ya’ memang dia pikir aku ini siapanya?!
Aku langsung berjalan ke patung beruang hitam ditengah kampus. Aku benar-benar penasaran dengan orang misterius ini.
Sampai disana, banyak sekali mahasiswa yang sedang berkumpul. Mulai dari yang bergosip ramai-ramai, berdua-duaan, sampai yang hanya duduk-duduk atau membaca buku sendirian.
Mataku terhenti pada seorang namja yang duduk tepat di depan patung beruang hitam, lambang kebanggaan kampus kami itu. Namja itu, memakai hoodie berwarna biru, dengan headset bergambar mickey mouse menempel di telinganya. Namja berambut coklat itu terlihat sangat familiar, meskipun aku hanya melihatnya dari samping. Kudekati namja itu perlahan tapi pasti. Baru saja kuulurkan tanganku untuk menepuk pundaknya ketika tiba-tiba…
“Jirae!!!” Namja itu berbalik dan memelukku begitu saja. Membuat semua mata tertuju pada kami.
“Yaaa… kau siapa???!!!” Kulepas pelukannya, kemudian kupukuli pundaknya dengan buku yang kubawa.
“Yaaa… apayo! Aiihh…” Namja itu menghalau bukuku dengan tangannya, kemudian menarik tanganku, membuatku terdiam menatapnya. Dia…
“Kau tidak ingat denganku?!” Namja itu menatapku dengan tatapan mata yang sangat kukenal. Dia juga menunjukkan senyuman yang sudah sangaaaatttt kurindukan…
“Jihwan oppaaa!!!” Teriakku langsung memeluknya kencang.
“Hahaha… haruskah aku memukulmu dengan buku sastra?” Canda Jihwan oppa sambil tertawa.
“Mianhae, habisnya kau sok misterius sekali!” Kulepas pelukanku, kemudian menatapnya dengan bibir mengerucut sepanjang tiga centi.
“Hehehe… bogoshipo…” Jihwan oppa mengacak rambutku, kemudian membenturkan dahinya ke dahiku perlahan.
“Auuhh… nado bogoshipo…”
“Yaaa… jangan cemberut seperti ini. Cantik sekali kau…” Goda Jihwan oppa sambil mencolek daguku.
“Aaasshhh…” Kugeleng-gelengkan kepalaku menghindari godaanya.
“Kita pulang saja. Umma juga pasti sudah merindukanmu!” Ujarku sambil menggandeng lengannya dan mengajaknya berjalan keluar kampus.
“Ne, kkaja…”
“Oppa…” Panggilku ketika kami melewati sebuah lorong menuju keluar kampus.
“Nde?”
“Kapan kau kembali ke Amerika lagi?”
“Kau ini, baru saja bertemu sudah menyuruhku pulang ke Amerika. Kau tidak ingin aku disini ya?”
“A- andwaeyo… bukan itu maksudku…” Kugeleng-gelengkan kepalaku mantap. “Maksudku, aku ingin oppa tidak kembali ke Amerika. Aku tidak mau kita berpisah lagi…” Kupeluk namja di sampingku itu erat. Aku benar-benar tidak mau berpisah dengannya lagi.
“Aku sedang mengurus kepindahanku kesini. Kau doakan saja ya. Oppa janji, kita tidak akan terpisah lagi…” Jihwan oppa membelai kepalaku lembut. Nyaman. Sudah lama kurindukan saat-saat seperti ini.
“Ne. Jirae juga janji…” Kuanggukkan kepalaku mantap. Tapi, tiba-tiba…
“Nggg… Jirae…” Jihwan oppa merintih seperti kesakitan.
“Nde oppa?” Kulepas pelukanku, dan kudapati Jihwan oppa dengan wajah menahan sakit sedang menekan dadanya sendiri. Nan eottohkhae?!
“Oppa!!!” Langsung kupegang pundaknya, kemudian kuajak dia duduk di lantai, bersandar di tembok. Jihwan oppa terus saja menekan dadanya kuat-kuat dengan tangan kanannya. Sementara, tangan kirinya menggenggam tanganku kencang.
“Injoon oppa!!!” Kupanggil Injoon oppa yang secara kebetulan lewat di depanku.
“Nde? Eh… Jihwan?!” Injoon oppa langsung mendekati kami dan membantuku mengangkat Jihwan oppa.
“Cepat ke rumah sakit!”
“Ne…” Injoon oppa langsung membawa Jihwan oppa masuk ke mobilnya, kemudian melajukan mobil kencang menuju rumah sakit.
Sementara itu, kutelfon umma. Kuberi kabar bahwa kami sudah ada di rumah sakit. Umma benar-benar terdengar khawatir. Bukan hanya beliau, akupun begitu.
Kami baru saja berjanji untuk tidak berpisah. Tapi, bagaimana mungkin penyakit itu datang lagi mengancam kebersamaan kami?! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi…

SEOUL STREET HOSPITAL, 14TH MARCH 2013

Sekarang, Jihwan oppa sedang di dalam ruang ICU. Sudah sekitar satu jam dia diperiksa beberapa dokter di dalam. Aku masih duduk di depan ruang tunggu, sementara umma masih di sampingku, terus menangis. Sementara Injoon oppa menenangkan beliau. Air mataku terus keluar. Tapi, entah mengapa aku tidak bisa mengekspresikan rasa sedihku dengan menangis tersedu-sedu. Aku hanya bisa menatap kosong ke arah tembok yang ada di depanku dengan air mata yang terus mengalir di pipiku.
Appa juga sudah datang bersama yeoja yang dipanggil ‘umma’ oleh Jihwan oppa. Yeoja yang kupanggil ‘ajjuma’.
CKLEEKKK…
Terdengar pintu ruang ICU dibuka, disusul dengan dokter Joongsoo yang keluar dari dalam ruangan. Sebentar kemudian, kami sudah berkeliling di antara dokter Joongsoo. Kami sepua panik. Kami semua khawatir.
“Jeon-ssi, Yong-ssi, harus ada yang kita bicarakan. Jirae juga, mari ikuti saya…” Joongsoo oppa mendahului kami berjalan menuju ruangannya, kemudian diikuti appa. Aku berjalan bersama umma di belakang.
Kami bertiga mengikuti Joongsoo-ssi memasuki sebuah ruangan berwarna serba putih. Di dalamnya, ada sebuah meja yang penuh dengan berkas-berkas, dengan sebuah papan nama bertuliskan ‘Park Joongsoo’, lengkap dengan sebuah kursi putar di sebuah sisinya.
Di sekitar meja itu, ada beberapa pot tanaman dan alat-alat yang tidak kumengerti. Dokter Joongsoo mempersilakan kami duduk di sebuah sofa di samping mejanya. Sementara itu, dia duduk di kursinya sendiri, menghadap ke arah kami.
“Irohke…” Dokter Joongsoo terlihat menghela nafasnya pelan, sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya. “Jihwan harus sesegera mungkin melakukan transplantasi. Jantungnya sudah tidak kuat lagi.”
“Lakukan saja dok… kami akan menanggungnya berapapun biayanya.” Sahut appa terdengar sangat cemas.
“Ne dok… lakukan apapun yang bisa membuat Jihwan sembuh…” Giliran umma mendesak dokter Joongsoo. Aku hanya bisa menatap nanar ke arah namja yang dipanggil dokter Joongsoo itu. Aku lebih berpikir apa yang bisa kulakukan untuk Jihwan oppa daripada aku harus mendesak dokter Joongsoo untuk menyembuhkannya.
“Sekarang, masalahnya bukan terletak pada biaya atau caranya tuan, nyonya… kami tidak mempunyai donor jantung yang cocok untuk Jihwan.” Donor?
“Apakah tidak ada cadangan?!” Appa mulai terlihat tidak sabar.
“Aniya… kalaupun ada, belum tentu cocok.” Aku mulai mendapatkan sebuah ide.
“Dokter, apakah kalau dari kembarannya pasti cocok?” Ujarku, membuat umma dan appa menatapku kaget.
“Ne… hampir bisa dipastikan cocok, apalagi kalau kembar identik.” Bukankah aku dan Jihwan oppa kembar?! Ne! Kami kembar!
“Jirae… apa yang kau bicarakan nak?” Tanya umma dengan suara bergetar.
“Tenang saja umma, Jirae dan Jihwan oppa akan hidup bersama. Ambillah jantung saya dok…” Kontan, pernyataanku langsung membuat mereka bertiga membelalakkan mata mereka menatapku. Aku tahu mereka tidak akan setuju. Tapi, hanya ini caranya agar aku dan Jihwan oppa bisa terus hidup bersama tanpa berpisah sedikitpun.
“Jirae… apa-apaan kau ini?!!! Ini bukan lelucon april mop kau tahu?!” Appa sedikit membentakku, sementara umma memelukku erat dan mulai menangis lagi.
“Aku juga tidak menyampaikan lelucon april mop… ambillah jantung saya dokter…” Kutatap dokter Joongsoo mantap. Aku benar-benar ingin memberikan jantungku untuk Jihwan oppa.
“Andwae Jirae… tidak bisa… kami tidak bisa melakukan transplantasi jika sang pendonor masih hidup.”
“Kalau begitu bunuh saja saya.”
“Jirae!!!”
PLAKK…
Kurasakan pipiku memanas, menyusul tangan appa yang tiba-tiba menamparku.
“Sudah!!! Jangan bertengkar! Jirae, kau istirahat saja ya… umma yakin, Jihwan pasti akan segera mendapatkan donor jantung…” Ujar umma menenangkanku, sementara appa menatap tangannya sendiri seolah tidak percaya beliau telah menamparku.
Aku berdiri, kemudian kulihat ada sesuatu berkilat di atas meja dokter Joongsoo. Itu, pisau bedah! Seperti mendapat angin, aku langsung melepas pelukan umma dan berjalan mendekati pisau itu. Kusambar pisau itu begitu saja, kemudian mengarahkannya ke urat nadiku yang ada di pergelangan tanganku.bukankah aku bisa mendonorkan jantungku untuk Jihwan oppa jika aku mati? Iya ‘kan? Maka aku harus mati sekarang!
“Jirae!!!” Kurasakan umma mencegahku dari belakang, sementara appa memegang tanganku, dan berusaha mengambil pisau itu dibantu dokter Joongsoo.
“Andwaeyo! Jirae harus mati appa! Jihwan oppa harus tetap hidup!” Kupertahankan pisau itu di genggamanku. Aku benar-benar ingin mati sekarang. Karena, jika aku mati, Jihwan oppa bisa memakai jantungku, dan kami bisa hidup bersama. Aku akan tetap hidup selama jantungku berdetak. Jadi, aku masih bisa hidup di dalam diri Jihwan oppa.
“Andwae Jirae! Kita akan mendapatkan donor untuk Jihwan!” Akhirnya, appa berhasil mengambil pisau bedah itu, kemudian memelukku erat.
“Ne… kami berjanji akan mendapatkan donor untuk Jihwan secepatnya. Tolong kau percaya pada kami Jirae…” Kurasakan tangan dokter Joongsoo menggenggam tanganku erat.
“Bagaimana kalau kalian tidak bisa mendapatkannya?!!!” Kutatap dokter itu tajam dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahku.
“Kami pasti bisa mendapatkannya. Kami janji…”Dokter Joongsoo memperat genggaman tangannya, mencoba meyakinkanku.
“Berjanjilah satu hal padaku.” Tuntutku sambil masih tetap menatap namja itu tajam.
“Mwo?”
“Kalau di malam hari tanggal 30 Maret kau dan timmu itu belum menemukan donor untuk Jihwan oppa, kalian harus menyuntikku mati. Kalian harus memberikan jantungku pada Jihwan oppa!”
“Jirae… kau tidak boleh begini nak…” Kurasakan umma memelukku erat, disusul pelukan hangat appa. Hhh… apakah salah satu dari kami harus menderita dulu baru kami bisa merasakan kehangatan ini lagi?
“Berjanjilah Dokter Joongsoo… kumohon…” Ujarku dari dalam pelukan kedua orang tuaku.
“Ne… kami akan mendapatkannya sebelum malam tanggal 30 Maret. Kami akan mendapat jantung baru untuk Jihwan…”

SEOUL STREET HOSPITAL, 24TH MARCH 2013

Satu minggu lagi, hari ulang tahun kami yang kedua puluh tahun. Tak terasa, kami sudah saling memberi dan membagi selama dua tahun. Terkadang, memang ada suatu saat, ketika hati kami terasa sakit. Ketika kami merasa tidak kuat lagi, meskipun hanya untuk berdiri di atas kaki kami.
Tapi, tidak jarang juga kami menghabiskan waktu kami dengan tertawa terbahak-bahak. Sampai perut ini rasanya sangat kaku untuk di gerakkan. Atau, kami akan kehilangan suara kami keesokan harinya karena terlalu banyak tertawa.
Banyak orang bilang, kalau sepasang bayi yang dilahirkan kembar namja-yeoja adalah jodoh. Kurasa, aku dan Jihwan oppa adalah jodoh. Kami kembar, cinta kami tidak akan berakhir. Bukankah begitu? Aku akan terus mendukungnya, menjadi kekuatan untuknya. Apapun yang terjadi.
“Saranghae…” Kukecup kening oppa kembarku itu perlahan. Sekarang, dia sedang terbaring koma di depanku. Sampai sekarang, Joongsoo-ssi belum juga mendapatkan donor untuk Jihwan oppa. Waktunya tinggal enam hari lagi, atau dia harus menyuntikku mati.
“Annyeong oppa,… Jirae datang lagi hari ini…” Sapaku sambil duduk di samping tempat tidurnya. Dokter bilang, orang koma bisa mendengar orang yang berbicara padanya. Jadi, mereka menyarankan padaku untuk terus mengajak Jihwan oppa berkomunikasi. Aku hanya tidak boleh mengatakan hal-hal yang akan membuat kondisinya turun. Aku harus tetap menjaga semangat hidupnya.
“Oppa, oppa ingat ‘kan? Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun kita yang kedua puluh. Hari itu, aku ingin meminta hadiah dari oppa. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, oppa harus bisa memberikan hadiah itu padaku. Wajib!” Kuhentikan sebentar kalimatku, aku harus mengambil nafas agar air mataku ini tidak jatuh. Aku tidak ingin Jihwan oppa melihatku sedih karenanya.
“Hhhh…” Kuhembuskan nafasku pelan, kemudian kulanjutkan lagi kalimatku.
“Oppa tahu hadiah apa yang kuinginkan? Aku ingin, di hari ulang tahun kita, oppa membuka mata oppa dan tersenyum untukku. Itu tidak sulit ‘kan? Bahkan, aku yakin. Oppa pasti bisa memberikan hadiah yang lebih baik dari itu.” Kuangkat tangannya, kemudian kukaitkan jari kelingkingku ke jari kelingking Jihwan oppa yang masih sangat lemas.
“Aku berjanji, akan memberikan kado terbaik yang bisa kuberikan pada kakak kembarku, JEON JIHWAN di hari ulang tahunnya yang kedua puluh.” Janjiku dengan memberi penekanan pada namanya. Aku memang belum tahu apa yang akan kuberikan untuk Jihwan oppa. Tapi, aku pasti akan memberikan yang terbaik untuknya.

CHEONHAN, DANKOOK UNIVERSITY BUSS STOP, 30TH MARCH 2013

Hari ini, hari terakhir Dokter Joongsoo untuk menepati janjinya. Sepulang kuliah, aku akan ke rumah sakit. Aku harus menjenguk Jihwan oppa. Aku akan melihatnya terbangun dengan jantung barunya, atau di suntik mati untuk memberikan jantungku untuknya. Apapun hasilnya, aku sudah mengikhlaskan semuanya…
JIRAE… ADA YANG MENELFONMU!!!
Suara Jihwan oppa terdengar dari dalam tasku ketika aku masih berdiri di pinggir jalan raya, menunggu jalan sepi untuk menuju halte buss yang ada di seberang. Ternyata, dokter Joongsoo yang menelfonku. Semoga kabar baik.
“Yeoboseyo…” Sapaku.
“Yeoboseyo.. Jirae, ada kabar baik, hari ini ada seorang namja mengalami kecelakaan di Incheon. Golongan darahnya sama dengan golongan darah Jihwan, semoga jantungnya cocok!” Jelas dokter Joongsoo terdengar senang. Begitupun aku. Aku benar-benar senang mendengarnya.
“Syukurlah… aku akan kesana secepatnya dokter. Gomawo, semoga jantungnya benar-benar cocok untuk Jihwan oppa…” Ternyata beberapa orang yang tadi berdiri di sampingku sudah menyebrang. Kuikuti mereka, berjalan menyebrang ke halte yang ada di seberang jalan.
“Annyeong…”
“Annyeong dok…” Kuputuskan hubungan telfon, kemudian kumasukkan ponselku ke dalam tas ketika tiba-tiba….
TIIINN… TIIINNN….
Kudengar suara klakson sebuah kendaraan cukup keras. Ketika kutengok, sudah ada sebuah Truk barang yang melaju cepat di depanku. Terlambat!
BRUUAAAKKKK…..

JEON JIHWAN

Aku berjalan di sebuah tempat yang luas. Luaaasss… sekali…. di sekeliling yang kulihat hanyalah rerumputan dan langit biru. Tempat ini luas sekali seakan tidak mempunyai ujung. Aku merasa damai disini. Semua rasa sakit yang ada di sekujur tubuhku itu tidak kurasakan lagi. Apakah ini surga?
“Oppaaa…” Kulihat Jirae berdiri tidak jauh dariku, dia memakai gaun pendek berwarna putih. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahku. Kalau benar ini surga, kenapa Jirae ada disini?
“Jirae… ini dimana?” Tanyaku sembari berjalan ke arahnya.
“Ini tempat Jirae oppa… jadi, oppa harus pulang…” Jirae menunjukkan senyumnya, senyum yang mendamaikan. Tapi, aku tidak tahu apa yang dikatakannya tadi. Apa maksudnya dengan ‘oppa harus pulang’?
“Aniya… kita sudah berjanji tidak akan berpisah. Jadi, oppa akan tetap disini bersamamu.” Kugenggam tangan adik kembarku itu erat. Aku tidak akan meninggalkannya lagi.
“Oppa,, oppa ingat kan oppa harus memberi Jirae hadiah. Oppa harus membuka mata oppa di hari ulang tahun oppa. Jirae saja sudah memberikan hadiah. Masa oppa tidak?” Jirae menunjukkan senyumnya lagi. Entah kenapa, senyumnya kali ini benar-benar menentramkan jiwa. Dia tersenyum layaknya seorang yeoja, bukan seperti adik kembarku lagi.
“Jirae… kita tidak bisa melanggar janji, kita harus tetap bersama…” Aku masih meyakinkannya untuk membawaku bersamanya. Aku benar-benar takut kehilangan dia lagi.
Jirae tidak menjawabku, dia tersenyum dan membuka kedua tangannya. Langsung kupeluk dia erat seolah tidak akan melepasnya lagi. Tapi, semakin erat aku memeluknya, tubuh Jirae terasa semakin ringan. Tapi, tubuhnya mulai menghilang perlahan, dan akhirnya… tubuh Jirae yang ada di pelukanku berubah menjadi sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Memaksaku untuk menutup mataku menggunakan lenganku.

SEOUL STREET HOSPITAL, 31st MARCH 2013

Kubuka mataku perlahan, ketika kurasakan cahaya itu semakin meredup. Kepalaku terasa berat sekali.
“Jihwan… kau sadar nak…” Itu suara umma, beliau terdengar senang, meskipun aku masih bisa mendengar sisa-sisa isak tangis disana.
“Jihwan…” Sekarang suara appa.
Kubuka lagi mataku lebih lebar. Samar-samar, kulihat umma tersenyum di sampingku dengan mata sembab dan penuh air mata. Tangan beliau menggenggam tanganku erat. kukitarkan pandanganku, dan kudapati appa berdiri di samping umma, beliau tersenyum. Tapi, ada sisa air mata di mata beliau. Tidak biasanya appa menangis. Apa aku terlalu membuat mereka khawatir? Kulanjutkan mengitarkan pandanganku. Ada ‘umma’, Sungri noona, dokter Joongsoo, Injoon hyung, dan Zhoumi hyung juga disini. Tapi, dimana Jirae? Aku sudah membuka mataku untuknya. Ini hadiah untuk ulang tahunnya kami yang kedua puluh. Tapi, dimana dia saat kubuka mataku untuknya?
“Ji..rae…” Ucapku terbata memanggil namanya. Orang pertama yang paling ingin kutemui ketika kubuka mataku.
“Sayang… Jirae…” Umma tidak sanggup melanjutkan kalimat beliau. Beliau hanya menunduk dan mengeluarkan airmata lagi. Sementara, appa merangkul pundak umma, menenangkannya.
“Um..ma.. ma..na.. Ji..rae?” Kucoba duduk dari tidurku. Injoon hyung langsung menolongku duduk dengan sigap.
“Jihwan… ini titipan dari Jirae…” Sungri eonnie memberiku sepucuk surat. Kubaca surat itu. Ini tulisan tangan Jirae. Aku mengenalnya dengan baik.
Pandanganku mulai buram karena airmata yang memenuhi mataku. Kertas surat Jirae juga sudah basah karena airmataku. Aku masih tidak percaya ini. Tak kusangka kalau janjinya akan terus bersamaku akan dia wujudkan dengan cara seperti ini.
“ANDWAE JIRAE!!!” Kuteriakkan namanya sekeras mungkin, berharap dia bisa mendengarku dan kembali lagi disini bersamaku.
Semua orang memelukku, berusaha menenangkanku. Tapi, aku tidak bisa tenang tanpa Jirae disini. Dia yang selama ini menenangkanku, memberiku semangat agar aku tetap hidup. Sekarang, dia benar-benar membuatku hidup dalam arti yang sebenarnya.
Jirae sudah memenuhi janjinya untuk terus bersamaku, dia juga sudah menepati janjinya untuk memberiku hadiah terbaik untuk ulang tahun kedua puluh kami, KEHIDUPAN.

‘Annyeong oppa… ^^ kau sudah membaca ini, berarti kau sudah menepati janjimu untuk memberiku hadiah kesadaranmu. Tapi, kau membaca surat yang ini ya… itu berarti, aku juga sudah memberikan hadiah terbaik yang bisa kuberikan untukmu. Aku menepati janjiku kan… ^^
Mungkin, memang sudah tidak ada lagi yeoja bernama Jeon Jirae, adik kembar dari Jeon Jihwan. Tapi, bukankah manusia akan terus hidup selama jantungnya berdetak? Sekarang, jantungku berdetak di dalam tubuhmu oppa. Berarti aku tidak mati, aku masih hidup. Lihat, aku benar-benar menepati janjiku untuk tidak berpisah denganmu kan… ^^
Aku akan terus memberikan kekuatan padamu oppa. Meskipun aku tidak ada secara nyata di sampingmu. Tapi, aku akan terus hidup di dalam dirimu. Kita tidak akan terpisah sedikitpun.
We are twins, our love never end. Saranghae…^^’
Jeon Jirae, Cheonhan 29 Maret 2013’

9 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s