You never know how much I love you Part 6

Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Im Yoona, Choi Siwon, Hwang Mi-Young, Kim Jongwoon

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Previous part : You never know how much i love you [Yoona’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

♥Part 3♥

♥Part 4♥

♥Part 5♥

The way I love [Siwon’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves. Kyuhyun-Sooyoung couple version in Kyuyoungshipperindo blog🙂

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

♥ You never know how much i love ♥

 “Yoona-ah !” Siwon masih terus meneriakiku. Ia pun menarik tanganku dan berkata, “Aku bisa jelaskan semua Yoong. Tolong, dengarkan aku. Dan kenapa kau bersama dia?” Siwon melirik Yesung dengan sinis.

“Dia adalah pacarku,” ucapku yang lalu menarik Yesung agar mencium bibirku.

Aku membenamkan tubuhku di dada Yesung. Perasaan bersalah kini aku rasakan. Bagaimana bisa aku mencium namja yang baru aku temui? Apa otakku benar-benar tak berfungsi? Atau aku yang memang keterlaluan?

Mianhae,” ucapku dengan berbisik. Aku hanya ingin Yesung yang mendengar.

Gwenchana ,Yoona-ah,” dia  membelai rambutku lembut, berusaha menenangkan diriku.

“Im Yoon Ah!” Siwon menggertak diriku. Aku masih menundukkan wajahku. Aku tak berani menatap wajahnya. Aku takut.

“Kita sampai disini saja Siwon-ah,” ucapku tanpa menatap matanya. Tak terasa aku mengucapnya dengan air mata yang sedikit demi sedikit mengalir.

Yesung semakin mengeratkan pelukannya, “Kau dengar kan? Dia tak memerlukanmu,” Yesung menyeringai kearah Siwon. Menatap Siwon dengan aura membunuhnya. Yesung mengangkat dahuku agar aku bisa menatap wajahnya, “Ayo kita pulang, ini sudah malam,” ia mengapit lenganku dan menuntunku menuju rumah. Karena rumahku yang jaraknya tak begitu jauh kami lebih memilih berjalan kaki.

Kutolehkan wajahku menatap sekilas Siwon yang bersama yeoja itu. Menyebut namanya saja aku tak mau. Memuakkan. Siwon hanya menampilkan wajah kecewanya. Kecewa? Apakah ia tak memikirkan perasaaan ku yang rapuh? Dan yeoja itu, hanya tersenyum bahagia. Hwang Mi-Young, kenapa baru sekarang ia merusak hidupku? Kenapa aku baru sadar selama ini Tifanny selalu melihatku dengan sinis saat aku bersama Siwon. Oh bagus, sekarang aku bisa menyebut nama yeoja itu. Sepertinya pasangan itu berhasil membuatku terluka. Sekarang, aku sungguh kecewa pada diriku yang begitu mudah mempercayai  Siwon. Siwon hanya mempermainkanmu Yoona! Sadarlah.

Setidaknya kehadiran Yesung bisa membantuku. Ya, sekarang kami berjalan beriringan tanpa berbicara. Tak ada satu kata pun yang terlontar.  Ini wajar karena kami baru kenal. “Kansahamida, Yesung-ah,” ucapku yang berusaha memecah keheningan. Ia pun menoleh kearahku dan tersenyum tulus.

Aku memang membutuhkan sebuah dukungan. Tapi, kenapa Kim Jongwoon bisa datang disaat yang tepat? Apa memang Tuhan tau kalau Siwon akan melukaiku? Terus, selama ini apa yang telah kulakukan bersama Siwon? Menjalin hubungan tanpa status? Atau hanya sebagai teman dan Tifanny lah pacar sesungguhnya? Kenapa seperti ini?

“Kau baik-baik saja?” tanyanya yang melihat kearahku dengan cemas. Apa raut wajahku benar-benar mengekspresikan kalau aku dalam keadaan yang rapuh? Kenapa namja ini bisa melihatnya?

Aku berdeham dan bergumam,  “Aku baik-baik saja,” jawabku yang berbohong. Aku berusaha tersenyum, berharap ia tak mengkhawatirkanku saat melihat senyumku. Atau senyumku ini terlihat menyakitkan?

“Kau tak pandai berbohong,” ia tersenyum kecil.

Aku memutar bola mata dan mencoba membelalakan mataku.“Apa aku terlihat menyedihkan?” tanyaku. Well, sepertinya semua orang akan bisa melihat ekspresi wajahku yang sangat menyedihkan ini. Aku ingin berusaha tersenyum, tapi sakit itu lebih mendominasi dari kebahagian yang selalu ingin kuingat. Kenapa rasa bahagia tak dapat aku rasakan sekarang?

“Wajahmu terlihat biasa tapi, ekspresimu terlihat rapuh,”

Aku tersenyum samar. “Apa terlalu terlihat?” aku mengehentikan langkahku saat kami sampai dirumahku. Aku memandang singkat rumahku lalu ke Yesung.

Dia tersenyum tipis dan mengacak rambutku pelan, “Sudahlah, kau pasti lelah. Istirahatlah Yoona-ah,”

Dia pun melambaikan tangannya dan tersenyum. “Sampai jumpa lagi Yesung ah,” teriakku melambaikan tanganku dengan tersenyum.

Kini aku hanya memandang lurus kedepan, rumah Siwon. Aku baru sadar Siwon sudah di depan pintu rumahnya. Dia, baru saja melihat adegan perpisahan kami.  Dia hanya menatapku kosong. Aku menghela nafas dan lebih memilih tidak menatap kedua bola mata itu. Karena, itu mengingatkan bahwa aku takkan bisa memilikinya.

Aku menundukkan wajah dan melipat tanganku. Membenamkan wajahku dan berusaha menghapus sedikit genangan air di pelupuk mata.

“Yoong!!” pekik suara halus yang membuatku mendongakkan wajah dan mencari asal suara tersebut. Ternyata itu suara Sunny.

Aku sedikit berdeham dan berusaha tersenyum. “Apa?”

Sunny berlari menuju kursiku. “Ada Yesung oppa,” pekiknya histeris.

Aku melebarkan mataku dan menatapnya dengan alis bertaut. “What? Yesung? Kim Joongwon? Dia sekolah disini juga?” tanyaku.

Sunny menatapku dengan heran. “Kau tak mengenal Yesung oppa?” ia memutar bola mata dan sedikit melambaikan tangannya. Mungkin berusaha menyadarkanku.

“Tidak. Aku juga baru bertemu dengannya kemarin. Tapi, aku baru tau kalau dia sekolah disini.” Jawabku. Sunny yang mendengarnya hanya memasang wajah cemberut dengan aegyo khasnya.

“Kau benar-benar gila. Masa, tak mengenal siapa itu Yesung oppa? Sudahlah dia mencarimu.”  Gerutu Sunny. Aku hanya terkekeh kecil.

“Apa? Dia mencariku?” pekikku yang membuat Sunny terlonjak kaget.

“Iya, cepat sana.” Balas Sunny dengan menarik tanganku.

Aku dengan malas bangkit dari dudukanku. Aku berjalan menuju Yesung sunbae. Baiklah, aku baru mengetahui ia sekolah disini. Murid macam apa aku ini? Tidak mengenal senior seperti Yesung sunbae? Benar-benar aneh.

Ia melambaikan tangannya dan mengisyaratkan aku untuk menuju kearahnya. Aku melangkahkan kakiku dengan malas. Menyeret tiap jejak kakiku. Aku berusaha membentuk sudut di pipiku. Membentuk senyum menawan. “Apa?”

Dia menggaruk tengkuknya dan tersenyum simpul, “Apa kau mau ke kantin bersamaku?” ajaknya dengan tersenyum malu-malu. Membuat yeoja akan berlutut di depan hadapannya karena pesona dirinya.

“Ne,” ucapku singkat.

Ia tersenyum lalu mengapit lenganku dan menarikku ke kantin. Dan aku bisa rasakan sepasang mata menatapku cemburu. Tapi, aku tak peduli. Karena, dia yang memulainya. Memulai sebuah perperangan dengan menyakiti diriku. Menghancurkan hatiku yang rapuh.

Aku menopang daguku dengan tangan dan sedikit memasang wajah manis melihat Yesung Sunbae dengan lahap memakan makanannya. Yesung Sunbae sedikit memerah saat ia melihat diriku memerhatikan gerak-geriknya. Itu menyenangkan. Melihatnya seperti itu sangat lucu.

Yesung melirikku dengan malu-malu dan bertanya, “Apakah wajahku terlalu tampan hingga kau terpesona?” ucapnya disertai kekehan kecil dari bibirnya.

Aku mendesah pelan. “Kya.. Kau terlalu percaya diri Sunbae,” elakku dengan menyeruput jus jeruk dihadapanku.

Dia masih tertawa pelan. Memasang wajah meledek. “Jangan panggil aku Sunbae. Panggil aku oppa,” usulnya yang diluar topik pembicaraan kami. Ia masih menunggu respon dari diriku. Aku harus memanggilnya ‘oppa’ ?

Aku memutar bola mataku dan memasang wajah berfikir. “Tidak, aku tidak mau,” tolakku dengan senyum meledek. Ia mendecak kesal dan meraih puncak kepala ku untuk ia acak-acak sesuka hatinya.

Aku sedikit tersenyum saat ia melakukannya. “Ehm,” Siwon tiba-tiba datang dan berdeham. Menatap kami dengan tatapan datar dan tak ada ekspresi yang tergambar diwajahnya. “Kau dicari Park Shin Ri Songsaenim,” seru Siwon dengan menatap Yesung. Dia berbicara denganku atau Yesung? Kenapa wajahnya terus menatap Yesung?

“Aku atau Yesung oppa?” tanyaku lagi. Hei, aku memanggilnya ‘oppa’? Ah, apa yang aku lakukan?

Siwon mendelik kearahku dan menunjuk telunjuknya tepat ke hidungku. Membuatku reflek memundurkan diriku dan saat itu Yesung merangkul diriku. Aku mendesah lega saat mendapatkan diriku tidak jatuh. Sedangkan, Siwon mendecak kesal dengan amarah yang tersimpan.

Aku beringsut dan berpamitan, “Aku pergi dulu ya oppa,”

“Apa?” pekikku dengan melebarkan sedikit mataku. Menatap Park Shin Ri Songsaenim dengan seksama. Memastikan perkataannya tadi benar. Apa aku memang harus mengecek gendang telingaku? Ah, Tidak. Aku dengar dengan baik. Aku akan dipindahkan errr.. lebih tepatnya akan naik satu tingkat. Bukankah itu berarti satu angkatan dengan Yesung? Dan aku akan meninggalkan Siwon?

Apakah ini jawaban atas semua masalahku? Setidaknya menjauh dari Siwon mungkin akan lebih baik. Apa ini membuat masalahku semakin rumit? Membawa Yesung pada masalahku. Menyeretnya yang sama sekali tak mengetahui masalahku.

“YoonA sshi?” Songsaenim melambaikan tangannya. Berusaha menyadarkanku dengan kemelut pikiran yang bergulat di otakku. Ah, benar-benar membuatku pusing.

“Baiklah Songsaenim aku mengerti,” aku menundukkan diriku dan keluar ruangan guru.

Aku melangkahkan kakiku menuju kelas. Menghirup udara segar semampuku. Menghembus perlahan. Ah, baiklah anggap ini merupakan keberuntungan. Kau harus semangat YoonA. Kenapa kau merasa tidak rela? Bukankah, ini baik? Kau bisa menghindari dari Siwon dan Tifanny. Dan lebih fokus pada pelajaranmu.

“Lihatlah wajamu sangat kusam? Kenapa kau tekuk seperti itu?” pekik Yesung yang tiba-tiba mencegah diriku. Ia sedikit menundukkan badannya untuk melihat wajahku. “Kau kenapa?” dia menyingkirkan sedikit rambutku dan ia sematkan ketelingaku.

Aku tersenyum dan mencoba menenangkannya. “Aku akan naik ke kelas 12 oppa,” jawabku dengan menampakkan wajah yang bertolak belakang. Seharusnya, aku harus bahagia. Tapi, kenapa ekspresiku seperti ini?

“Benarkah? Aku berharap kita sekelas,” gumamnya dengan tersenyum arti. Membuatku hanya menganggukan wajahku. “Baiklah, ini sudah bel. Kau cepat masuk sana,” perintahnya dengan tersenyum kearahku.

Aku menatap langit yang biru nan cerah. Gumpalan awan yang terbentuk sangat cantik. Aku memperhatikan awan-awan tersebut dengan tersenyum. Semilir angin masuk melawati celah jendela kamarku. Membuat rambutku sedikit tersibak dengan terbawanya angin. Aku menatap kearah rumah didepanku. Memperhatikan seseorang dibalik kaca jendela itu.

Aku sedikit menyipitkan mataku. Menyesuaikan pupil mataku agar dapat menangkap cahaya dan membiasakannya. Terlihat jelas Tifanny yang merangkul Siwon dari belakang. Namun, Siwon hanya diam dan berkutit pada layar komputernya.

Aku mendesah lemah. Terlihat sekali Tifanny mencoba menggoda Siwon. Aku terus mengamati mereka. Berharap Siwon melihat kearahku dan melakukan hal yang lebih mesra lagi dengan Tifanny. Supaya, mataku lebih terbiasa melihat mereka berdua.

Kini aku menundukkan wajahku saat melihat Siwon merespon lingkaran tangan Tifanny dipundaknya. Beringsut dari dudukannya dan menciup kening gadis itu. Terlihat sekali sangat bernafsu. Tifanny melingkarkan tangannya dan Siwon mengecup bibir gadis itu. Siwon saja tak pernah mencium bibirku seperti itu. Tapi, dengan Tifanny? Terlihat sekali dengan perasaan. Memuakkan.

Aku langsung menarik tirai kamarku. Menghentikan pemandangan tadi. Aku merebahkan diri dikasurku. Menatap langit kamarku dengan tatapan kosong. Baiklah, aku akan memulainya. Memulai dari awal. Memulai luka ini dengan kebahagiaan yang akan kudapatkan.

Aku tersenyum saat memandang semua orang yang berlalu-lalang dihadapanku. Terlihat sangat bahagia. Membuat diriku sedikit melupakan kesedihan saat melihat kebahagian orang lain. Aku sedikit terperangah saat mendapatkan tangan yang menutupi mataku.

“Siapa?” aku terus mencoba menyingkirkan tangan yang menutupi mataku.

“Coba tebak,” serunya dengan kekehan kecil. Kalau didengar dari suaranya pasti Yesung.

“Berhenti oppa, aku sudah tau,” balasku. Kini ia melepaskan tangannya. Memutarbalikan tubuhku agar menatap dirinya.

“Kau bisa tau kalau ini aku?” tanyanya dengan sedikit terperangah. Aku tersenyum kecil.

“Itu mudah karena aku bisa mengetahuinya. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu. Benarkan?” selidikku. Ia hanya menggaruk tengkuknya.

Ia tersenyum kecil. “Benar juga…” gumamnya. Ia sedikit memandang diriku dan berkata, “Bisakah kau kembali tersenyum lagi?” desisnya.

Aku hanya tersenyum getir. Rasanya lidahku ini kelu untuk berucap dan resah kini menggelayuti diriku. Apakah aku bisa tersenyum walau hatiku terlah hancur? “Entahlah… aku harap aku bisa kembali tersenyum,” desisku. “Dan aku memang ingin sekali tersenyum.. Tapi, entahlah sepertinya aku sudah lupa cara untuk tersenyum,”

Ia memandangku dengan rasa iba. Baiklah, aku tau aku menyakitkan. Tapi, haruskah? “Ijinkan aku untuk membuat senyum itu mengembang lagi wajahmu,” ia membelai rambutku dengan lembut. Aku bisa merasakan ketentraman disisinya. Seperti hati malaikat yang ingin mendekapku erat. “Jika kau mengijinkan… Aku akan membuat dirimu lebih bahagia,”

Aku menundukkan wajahku. Mendesah pelan dan mencoba berfikir sewajarnya. “Aku tau kau pasti bisa. Tapi, hatiku…”

Ia langsung memelukku erat. Membuatku menghentikan ucapanku.“Aku akan menjaga hatimu. Percayalah padaku untuk sekali ini saja,” janjinya. Entahlah, mendengar ia berjanji seperti itu membuat perasaan padaku semua lenyap. Rasa risau yang bertahta dihatiku sedikit berkurang.

Aku sedikit mengayunkan tubuhku pada ayunan yang tergeletak di teras rumahku. Menikmati udara Seoul yang cukup hangat. Aku menarik nafas dan menhembuskannya perlahan. Udaranya sangat segar.

Kini aku menjamah novel Yuri yang kebetulan ia tinggalkan. Dia memang ceroboh. Untuk itu, aku memilih membaca buku itu dan menyesap ice lemon tea ku.

Tergiur akan kebiasaan Yuri yang sering mengumbar senyumannya saat membaca novel kesukaannya. Yuri sering mengatakan padaku atau mungkin membujukku untuk membaca novel koleksinya. Ia selalu bilang dengan membaca kita akan mengerti kenapa cinta begitu sulit.

Setelah cukup berkelut dengan pikiran-pikiran di otakku, aku mengambil novel tersebut dan membuka lembar pertama. Sepertinya memang menyenangkan. Dan aku memang tergiur untuk membaca lebih dalam.

Aku membuka lembar selanjutnya dan disaat itu mataku sedikit menyipit membaca kata-kata yang sangat menyentuh.  Seperti memberi inspirasi pada masalahku.

Aku mendongakkan wajahku saat merasa hembusan nafas disekitarku. Tepat sekali mendapatkan Siwon berdiri dihadapanku. Apa yang ia lakukan? Apa ia masih berani menampakkan wajahnya?

“Kenapa?” sunggutnya saat melihat ekspresi wajahku yang tak menyambut kehadiran dirinya. Memang, aku tak menginginkan dirinya dihadapan wajahku sekarang.

Dia sedikit melirikku dengan rasa bersalah. Menarik tubuhku agar beringsut dan mendekapku erat. “Aku bodoh telah menyakitimu… Maaf,”

To be continued

Aku merasa gak ini gagal banget? Hueee T,T comment ya biar semangat ngelanjutin. Kalau comment banyak aku akan panjangin dan publish secepatnya🙂 Tapi, kalau engga aku akan bikin FF ku yang lain *lirik tumpukan fic*

Saran dan kritikan sangat membantuku.

@Rekindria (95 line) ^o^

83 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s