Be With You [4/?]

Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Choi Sooyoung, Shim Changmin, Im Yoon Ah

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship,

Length : Part 1 ׀ Part 2 ׀ Part 3 ׀ Part 4 ׀ Part__

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Poster by @dwikusumaa

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

♥ Be With You ♥

Cuap-cuap Author :

Dulu, aku sempet janji cuma ampe 5 part ._. Tapi, kayaknya kalau cuma 5 takut kecepetan. Jadi, maaf ya T,T. Oke, maaf atas kegalauan part kemaren. Semoga, part ini gak galau HAHAHA. Oh ya, aku baru selesai UTS nih jadi jangan salahkan kalau di FF ini banyak kegalauan dan kerisauan. Soalnya, aku juga galau karena nilai haha.

So~ Happy reading guys ♥

And don’t forget to leave comment dan like ^^

Previous part :

“Untuk apa cemburu? Kamu hanyalah masa lalu Changmin oppa. Aku adalah masa depannya. Mungkin kau memang cinta pertamanya. Tapi, aku adalah cinta terakhir. Kau hanya masa lalu yang cepat atau lambat akan tergantikan,”

“Dia kan pacarmu Changmin sshi,”

“Jika aku masa lalu, apakah Sooyoung adalah masa depanmu oppa?

“Aku merasa ia takdirku yang sebenarnya,”

“Kalau begitu perasaanku padamu harus disingkirkan. Sebelum aku semakin menyadari aku memang mencintaimu,”

~Part 4~

Changmin melirik Sooyoung singkat dengan ekor matanya. Ia bisa lihat dengan jelas air mata menggenang di mata indahnya. “Kau kenapa?” tanyanya khawatir. Seakan mencoba menghilangkan rasa sakit yang dapat ia lihat dari gadis disisinya.

Sooyoung menyeka air mata lalu tersenyum riang, walau itu terlihat dibuat-buat. “Aku tidak apa-apa… Aku hanya bahagia mendengarnya,” ia menghela nafas lalu melanjutkan, “YoonA adalah gadis yang beruntung. Ia bisa mendapatkan namja yang selalu setia menunggunya.”

Changmin mengacak rambut gadis itu dan tersenyum samar, “Aku tahu.. Kau pasti bahagia mendengarnya ‘kan?”

Sooyoung mendesah lemah, “Tentu saja,”

“Baiklah aku harus bertemu dengan YoonA. Bye Soo ah,” pamit Changmin yang berjalan menjauhi Sooyoung.

Sooyoung menatap sendu bayangan Changmin menjauh. Inilah yang akan terjadi. Changmin akan pergi meninggalkannya tanpa tau perasaan lebihnya. “Tuhan, bisakah kau buat hatiku tidak terlalu sakit?” desisnya dengan air mata yang berurai.

****

Sooyoung menyeret kakinya dengan lunglai. Perasaannya berderu dan rasa kalut merajai dirinya. Oh, bagaimana bisa ia merasakan perasaan ini secepat yang ia fikirkan. Apa hati tak bisa dikendalikan? Kenapa perasaaan seperti itu bisa datang saat bukan waktunya. Apa cinta benar-benar sesuka hatinya?

Ia terus merutuki dirinya yang begitu bodoh merasakan perasaan yang jelas-jelas masih samar. Tapi, di lubuk hatinya ia mengakui…ia menyimpan perasaan lebih untuk Changmin. Perasaan bahagia saat melihat senyum yang Changmin berikan padanya walau terlihat lebih kesebuah ejekkan.

Haruskah ia berbohong pada perasaannya yang tak menentu? Perasaan berdegup saat Changmin menatap wajahnya lekat. Saat itulah ia merasakan jantungnya berdetak lebih dari ukuran normal. Atau mungkin memang jantungnya bermasalah setiap dekat Changmin?

Memang perasaannya tidak terlalu dalam. Tapi, bukankah sebuah benih akan tumbuh jika terus dipupuk? Begitulah perasaannya. Ia merasakan setiap hari melihat wajah Changmin membuatnya merasakan hal aneh setiap harinya. Semakin dalam dan semakin dalam. Sampai, ia tak tahu perasaan itu kapan akan berhenti.

Dan sekarang bagaimana nasibnya? Changmin hanya menganggapnya rekan kerja. Tapi, Sooyoung menginginkan lebih. Selalu bersama Changmin selama hidupnya. Terlalu egois? Memang. Karena, cinta tak bisa dirasakan saat kita belum memiliki cinta tersebut.

Otteoke?” desisnya dengan suara parau.

“Sooyoung sshi?” pekik suara lembut kearah Sooyoung. Membuat gadis yang sedari tadi menundukkan wajahnya melihat kearah sumber suara tersebut. “Kau sedang disini? Kebetulan sekali bukan?” gurau YoonA dengan senyum manis diwajahnya. Bukan senyum yang terakhir ia lihat. Tapi, senyuman ini terlihat tulus. Tentu saja senyum itu menghiasi wajahnya. Ia tahu, YoonA bahagia mendapatkan Changmin yang memang untuknya.

Sooyoung menatap gadis dihadapannya dengan berusaha tersenyum ramah. “Annyeong,” sapanya dengan membungkukkan badannya kearah YoonA.

YoonA membalasnya dan bertanya, “Sedang apa kau disini?” ia memerhatikan Sooyoung yang terlihat kacau. Sangat kacau.

Sooyoung menghela nafas. Melihat YoonA membuatnya mengingat Changmin. “Aku hanya ingin menghirup udara segar. Aku sangat lelah. Kau tau, banyak sekali pikiran yang membuat otakku terkuras. Dan perasaanku sekarang membuatku tak mengherti,” jelas Sooyoung.

YoonA menganggukan kepalanya seolah mengerti perasaan gadis dihadapannya. Gadis yang tak secara sengaja ia buat hancur. “Aku ingin bicara denganmu. Bagaimana kalau kita mampir ke restoran terdekat?” tanya YoonA meminta persetujuan Sooyoung. Memang sepertinya tak nyaman saat kau berbicara seperti yang YoonA dan Sooyoung lakukan. Mereka pun memilih mencari tempat yang lebih baik.

Sooyoung mengangguk dan berkata, “Tentu saja. Asal kau yang bayar,” ledeknya.

****

Sooyoung menyumpit makanan dan melahapnya dengan nikmat. Baginya makanan membuatnya lebih baik. “Jadi apa?” Sooyoung memutar bola matanya lalu melirik YoonA yang juga terlelap dengan makanannya. “Pasti ada hal penting ‘kan?” lanjutnya lagi.

YoonA tersenyum kecil lalu bergumam, “Kau sangat pintar Sooyoung sshi. Aku hanya ingin memastikan semua baik-baik saja. Karena, aku tak mau kau terluka. Aku tidak mau keegoisanku menyakiti dirimu.” YoonA mengambil minumannya dan meneguk soda tersebut. “Apa kau mencintai Changmin oppa?” tanya YoonA dengan selidik. Berusaha menangkap apa yang mata Sooyoung siratkan.

Sooyoung terkesiap dan merebahkan tubuh lemahnya ke kursi. “Mollayo,” elaknya. “Tapi, aku merasakan perasaan berbeda saat bersamanya. Dan, aku tak tau perasaan apa ini,” tambahnya lagi.

“Kau mencintainya Sooyoung. Kau mencintainya. Dan aku bisa lihat Changmin oppa juga punya rasa yang sama,” cecar YoonA. Sooyoung memandang gadis itu dengan bersalah karena mencintai pria miliknya. “Ini bukan salahmu. Aku tau, cepat atau lambat memang Changmin oppa akan menyadarinya. Menyadari aku hanya masa lalunya,”

Mianhae,” desis Sooyoung lemah. Ia menatap YoonA dengan hati-hati. “Tapi, aku akan baik-baik saja jika kau bersama Changmin oppa. Aku hanya mengaguminya bukan mencintainya,” lanjut Sooyoung lagi.

YoonA meraih tangan gadis dihadapannya. “Ini,” serunya dengan menaruh sebuah undangan kecil di tangan Sooyoung. Membuat Sooyoung sedikit menyipitkan lalu membuka lebar kedua matanya.

“Undangan?” tanya Sooyoung dengan membolak-balik kertas kecil tersebut. Ia buka sedikit kertas tersebut. Ia tahu persis apa undangan itu. Undangan pertunangan atau mungkin pernikahan.

YoonA mengambil tissue lalu menyelesaikan makanannya. “Aku dan Changmin oppa akan bertunangan lagi. Aku harap kau datang,” jelas YoonA yang mengerti mimik wajah Sooyoung. “Kau bilang sendiri ‘kan kalau kau baik-baik saja?” tanya YoonA dengan melirik singkat Sooyoung.

Sooyoung menghela nafas berat lalu bergumam, “Tentu saja. Aku akan baik-baik saja,”

****

Changmin hanya memperhatikan YoonA yang terus memandang cincin yang bertautan berlian dengan kagum. Entahlah, sepertinya ia malas sekali membicarakan pertunangannya. Apa tak mau bertunangan?

“Bagaimana bagus ‘kan oppa?” tanya YoonA dengan mata yang berbinar.

Ne,” balas Changmin singkat. “Ayo kita pulang. Aku sangat lelah.” Ucap Changmin yang berjalan lebih cepat dari YoonA.

YoonA mempercepat langkahnya lalu mengapit lengan Changmin. Changmin memandang YoonA tak mengerti. “Ini lebih baik oppa,” YoonA tersenyum saat merengkuh erat tubuh Changmin.

****

Sooyoung memandang buih-buih hujan di jendela kamarnya. Seakan dunia mengerti perasaannya. Hujan yang lebat seakan mewakili perasaannya sekarang.

“Semua akan baik-baik saja.  Fighting Choi Sooyoung !” ia terus berusaha menyemangati dirinya. Namun, di detik berikutnya ia kembali menangis. Ia ingin berhenti mengalirkan krystal tersebut. Tapi, air matanya sudah menganak sungai dan tak bisa berhenti. “Aku tau ini perasaan yang salah,”

Suara gemericik air hujan dan aromanya membuat Sooyoung mengerti akan keterpurukannya. Ia tahu, ini bukan akhir. Ia hanya perlu bangkit dan menemukan cinta sesungguhnya. Karena, kau takkan merasakan arti cinta sesungguhnya jika kau belum merasakan apa yang dinamakan sakit hati. Ia tahu, ia harus melupakan Changmin. Sebelum perasaan itu benar-benar nyata.

Sooyoung menorehkan wajahnya saat mendengar nada dering ponselnya bergema. Ia berjalan dengan lemah. Melihat dengan cepat nama yang tertera dilayar Handphonenya.

Yobseo?

“Aku didepan apartementmu Sooyoung ah. Tolong buka pintunya,” perintah suara sebrang sana yang Sooyoung hafali suaranya. Shim Changmin, dia sekarang di depan apartementnya? Apa pria itu gila? Ini hujan. Dan bukannya lebih masuk akal jika ia lebih memilih mampir ke rumah YoonA?

“Baiklah,” balas Sooyoung singkat seraya menyeret kakinya menuju pintu.

Sooyoung memutar knop pintu dan mendapatkan Changmin dihadapannya dengan basah kuyub. “Kau gila?” pekik Sooyoung namun Changmin tak menggubris gadis dihadapannya. Ia malah melangkahkan kakinya masuk ke apartement Sooyoung tanpa ijin.

Changmin langsung merebahkan badannya ke sofa milik Sooyoung. Sooyoung menghembuskan nafas tak percaya bahwa pria ini masih suka membuat hatinya jengkel. “Kau gila? Untuk apa hujan deras seperti ini kau kesini? Seharusnya kau ke rumah tunanganmu. Jika, YoonA mengetahuinya ia akan membunuhku. Kau benar-benar ingin membuat hidupku hancur HA?” cecar Sooyoung beruntun dengan gejolak api yang tersirat di ucapannya.

Changmin merentangkan tangannya. Memutar bola mata lalu menggigit bibir bawahnya. “Ah, dingin sekali. Kau ada handuk?” tanya Changmin tanpa menanggapi aura Sooyoung yang berapi-api.

Sooyoung mendesah lemah. Memang ia harus mengalah pada pria dihadapannya. “Baiklah, akan kusiapkan cokelat hangat juga,”

Beberapa menit kemudian Sooyoung menghampiri Changmin dan duduk disampingnya. “Keringkan badanmu sebelum kau kena flu,” khawatir Sooyoung yang membuat Changmin tersenyum.

Sooyoung menghela nafas lalu menegak cokelat hangatnya. “Bagaimana rencana pertunanganmu?”

Changmin menghembuskan nafas beratnya. Ia sungguh tak mood membicarakan tentang pertunangan yang membuat hatinya risau. Ia sendiri aneh kenapa ia merasa tak menginginkan pertunangan itu. Padahal, awalnya ia merasa yakin ingin menjalin hubungan dengan YoonA untuk kedua kalinya. Tapi, dari hari ke hari perasaan yakin itu memudar. Digantikan oleh perasaan yang membuatnya tak mengerti. Perasaan ingin melindungi gadis menyebalkan dihadapannya. Penasaran akan Sooyoung yang membuatnya benar-benar menginginkan Sooyoung menjadi miliknya. Apakah itu artinya ia mencintai Sooyoung juga?

Changmin mendesah seakan mencoba menghilangkan semua benak di pikirannya. “Baik-baik saja,” balas Changmin dengan senyum getir.

“Baguslah,” balas Sooyoung. Kemudian mereka terdiam. Hanya detak jantung mereka yang berdetak lebih kencang dan cepat.

Sooyoung menggigit bibir bawahnya dan sesekali mengelus dadanya. Berusaha menghentikan detak jantung itu. Tapi, tetap suara jantungnya malah bertambah parah. Apakah memang ia mengidap penyakit jantung?

“Jangan ditutupi. Aku mendengarnya,” ucap Changmin yang menyingkirkan tangan Sooyoung dari dadanya. “Aku juga merasakan detakan itu. Apa arti perasaan ini?”

“Bukan apa-apa.. Mungkin, memang jantungku yang bermasalah,” kilah Sooyoung.

“Kalau begitu jantungku juga bermasalah,” cibir Changmin.

“Baiklah, mungkin memang aku merasakan perasaan ini saat bersamamu,” tutur Sooyoung dengan menundukkan wajahnya.

Changmin meraih tangan gadis dihadapannya dan mengarahkannya untuk merasakan detakan jantung Changmin. “Kau merasakannya?”

Sooyoung mendonggakkan wajahnya menatap Changmin. Melihat manik indah miliknya. Ia yakin sekarang cintanya memang terbalas. Walau, keinginan untuk bersatu sangat tipis.

Ia merasakan degupan jantung Changmin sangat cepat bahkan lebih cepat dibanding jantungnya. Apakah mungkin penyakit Changmin yang lebih parah? “Kau harus pulang,” sunggut Sooyoung yang menyadarkan semua pikirannya.

“Aku tidak mau.. aku mau disini bersamamu,” rajuk Changmin dengan wajah aegyonya.

Sooyoung tersenyum lalu mengangguk. “Baiklah, aku ijinkan untuk sekali saja,” balasnya. Mendengar hal tersebut Changmin langsung merebahkan kepalanya ke bahu Sooyoung. Sangat nyaman. Ia merasa bersandar dengan Sooyoung membuat semua perasaan kacaunya sedikit menghilang.

****

Keindahan akan datang saat kegelapan itu selesai. Seperti sekarang ini, setelah hujan dan gemuruh petir yang mewarnai malam Seoul sekarang berubah menjadi indah nan cerah. Bola oranye itu terlihat malu-malu keluar dari persembunyiannya. Namun, cahayanya berhasil membias kearah dua insan manusia yang tersenyum dalam tidurnya.

Jika diingat dari kejadian semalam bukankah Changmin yang menyadarkan kepalanya kebahu Sooyoung ? Tapi, sekarang terlihat Changmin merekuh tubuh Sooyoung. Seakan melindungi gadis yang dicintainya itu.

Changmin mencoba membuka matanya. Membiasakan pupil matanya menangkap seberkas cahaya yang menerpanya. Ia terbangun dan tersenyum melihat gadis dibahunya yang tertidur dengan senyum yang mengembang. Sudah lama ia tak melihat senyum itu. Yang selama ini ia lihat hanya senyum getir.

Changmin membelai wajah Sooyoung. Degupan jantung itu kembali terdengar. Ia sangat senang bisa merasakan perasaan itu setelah dua tahun hatinya kosong. Ia tahu, Sooyoung telah mengisi kekosongan hatinya. Sedangkan YoonA, ia sekarang mengerti yang ia rasakan hanya rindu pada gadis itu. Ia rindu akan masa indahnya. Tapi, cintanya pudar perlahan.

“Kau sudah bangun Changmin sshi?” tanya Sooyoung yang juga terbangun dari tidurnya.

Changmin menahan Sooyoung yang ingin bangkit dari dudukannya. “Biarlah seperti ini. Ini sangat nyaman,” pintanya. “Sampai kapan kau akan terus memanggilku baku seperti itu?” rengut Changmin.

Sooyoung menautkan alisnya lalu berkata, “Aku harus memanggil apa? Oppa begitu?” tanya Sooyoung.

Changmin terkekeh. “Itu terdengar lucu walau tak pantas haha,”

“Kau mulai lagi?” gerutu Sooyoung.

Mianhae,”  rajuk Changmin dengan menggelayuti lengan Sooyoung.

Changmin merengkuh erat Sooyoung dan tersenyum saat melihat senyum gadis dihadapannya. “Kita mau sarapan apa hari ini?”

Sooyoung memainkan jarinya di bibir bawahnya seperti terlihat berfikir. “Aku terima dimana saja. Asal Changmin sshi yang bayar,” ledeknya.

Changmin memukul puncak kepala Sooyoung. “Kau ini,”

Sooyoung terkekeh dan berkata, “Sesama shikshin dilarang meledek,”

****

“Aku tau kau mencintainya oppa,” desis YoonA saat menatap Changmin dengan lekat. Ia menopang dagunya dan menatap Changmin yang lahap memakan makanannya.

Changmin tersedak dan berkata, “Mungkin. Tapi, aku benar-benar tak mau menyakitimu,”

YoonA menundukkan wajahnya. Tak mengerti apa kemauan pria dihadapannya. “Terus? Apa kau ingin menuruskan pertunangan kita?”

“Iya. Bukannya aku sudah janji padamu? Beri aku waktu… dan akan kupastikan perasaan itu kembali lagi,” pintanya.

YoonA menghela nafas panjang lalu berkata, “Kalau kau terus bertemu dengannya bukankah perasaan itu semakin tumbuh? Aku akan tetap menunggumu oppa. Sampai kapanpun,”

Changmin menggigit bibir bawahnya lalu berfikir keras. Mungkin benar ucapan YoonA. Dia bingung kenapa dirinya begitu egois ingin memiliki keduanya. Tapi, ia sudah berjanji untuk mencintai YoonA walau hatinya untuk Sooyoung.

****

“Ternyata rumahmu sangat luas. Kenapa kau lebih memilih tinggal di dorm?” racau Sooyoung yang kagum mengamati tiap detail rumah Changmin.

“Itu sudah tuntunan pekerjaan,” balas Changmin singkat.

Sooyoung hanya menganggukan kepalanya. Matanya berbinar saat melihat piano. Ia berlari kecil kearah piano tersebut. “Mainkan satu lagu untukku,” pinta Sooyoung dengan menunjuk-nunjuk tangannya ke arah piano itu.

Changmin melangkahkan kakinya lalu duduk di kursi tersebut. Sooyoung juga duduk disebelahnya. “Kau mau lagu apa?”

Sooyoung memutar bola mata. “Can’t let you go even if i die.. Mainkan untukku,”

“Kau menyukai lagu 2AM?”

Ne, liriknya sangat menyentuh,”

Changmin mengangguk. Ia juga menyetujui apa yang Sooyoung ucapkan. Lagu tersebut memang bagus. Kini, tangannya mulai lincah bermain di tuts-tuts piano tersebut. Jarinya terlihat rileks memainkan setiap nada.

Suara Changmin yang merdu seakan mengalun serasi dengan dentingan piano yang ia ciptakan. Membuat Sooyoung bisa merasakan makna lagu tersebut. Sebuah perasaan yang takkan hilang walau ia telah tiada.

Sooyoung bertepuk tangan setelah mendengar  Changmin memainkan lagu tersebut untuknya. Membuatnya terbuai akan makna lagu yang Changmin alunkan. Tapi, ia harus sadar YoonA lah serpihan hati Changmin bukan dirinya.

“Kau menyukainya?” tanya Changmin.

Sooyoung tersenyum tipis lalu berkata, “Tentu saja. Karena lagu itu mengisyaratkan hatiku.”

Changmin menautkan alisnya bingung. “Maksudnya?”

“Aku tak bisa hidup tanpamu walau kamu bukan untukku… sampai maut memisahkan,”

To be continued

No SIDERS !

Komentar akan sangat membantu untuk melanjutkan fanfic ini ^^

Kalau kalian comment kan aku jadi semangat~

Maafkan keancuran fanfic ini T,T

Kritik dan saran sangat membantu untuk memperbaiki tulisanku ^o^

@Rekindria (95 line)

16 responses

  1. akhirnyyyoooo stlh ditunggu sekian lamaaaaaa….
    makin pnsarsn cingu…huuuaaaa…
    changminny malah bingung euyyy…

    lanjutanny jgn lama2 y cingu…
    DAEBAK

  2. jadi galau semua…….
    YoonA kyaknya rela deh nglepasin ChangMin…..
    Tp ChangMin nya yang takut…….
    sudah aarrgghh……………….. sama aku aja ya.aya.ayaaaa….

  3. ah changmin gimana sih udah mau tunangan sama yoona masih ngedeketin sooyoung.#abaikan
    tapi jadi penasaran loh chingu siapa yang bakalan dipilih sama changmin
    next part-nya ditunggu..

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s