^60 Second^ [Oneshoot]

Annyeong,.

Aku Author tetap baru disini, panggil aku Haiyu. Jadi, aku mohon bantuannya. Ini ff pertamaku yang aku post dan aku minta komen kalian buat memperbaiki ff ku lebih baik lagi. Ff ini asli pikiranku sendiri. Kalau kalian nemu yang sama, itu aku. Cz aku gak cumand ngepost disini doank yang penting by Haiyu Spazzer. Happy reading!!🙂

Tittle : 60 Second

Author : Haiyu Spazzzer

Cast: Jessica Jung, Kim Jaejoong, Krystal Jung, Tiffany Hwang, Seo Joo Hyun, Choi Sooyoung

Rating : PG

Genre : Romance, family, AU, Friendship

Length : Oneshoot

======

Matahari terbit dari timur. Memancarkan sinarnya sebagai tanda malam tlah berlalu. Kicauan burung mengawali pagi. Suaranya yang lembut menenangkan hati. Semua orang mengawali hari pagi yang cerah dengan senyuman yang menyeringai di wajahnya. Apakah aku bisa merasakan itu?

Aku coba membuka mataku perlahan-lahan. Lalu, membentuk bibirku melengkung sabagai senyuman yang terpancar diwajahku untuk menyambut pagi yang indah ini. Aku pun bangun dari ranjangku. Tapi, kanapa tangan ini tidak bisa digerakkan. Tubuhku lemah, tidak bisa ku gerakkan. Penyakit ini kambuh. Aku mencoba menenangkan diriku dan mulai berhitung mengikuti detak jam dinding yang ada di kamarku.

“1…..2…..3…..,” aku pun memulai menggerakkan jari-jari tanganku perlahan. Jari-jari tanganku pun mulai bergerak. Ku coba menolehkan kepalaku dan berhasil begerak. Aku pun merasa lega. Aku pun bergegas pergi ke kamar mandiku dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

“Unnie, kau sudah bangun?” tanya dongsaengku, Krystal. Dia sangat perhatian denganku dari pada appa dan eomma. Aku bersyukur memiliki dongsaeng sepertinya.

“Ne.. Aku sudah bangun,” jawabku seraya membuka pintu kamarku.

>Dining Room

“Bagaimana Krystal, kau suka dengan namja itu. Tampan kan?” tanya appaku lalu memasukkan sepotong roti ke mulutnya.

“….,” Krystal hanya diam saja, tidak mengeluarkan kata-kata satu pun.

“Appa, sudah ku bilang, jangan jodohkan Krystal dengan namja pilihan appa. Sica gak rela Krystal akan hidup dengan namja yang tidak dicinatainya!” marahku kepada appa yang semakin memaksa Krystal dekat dengan namja itu. Sebenarnya eomma juga tidak menyetujuinya. Tapi gimana lagi. Keputusan appa adalah yang terpenting.

“Unnie, ayo kita berangkat. Nanti kita telat,” Krystal mengalihkan pembicaraan. Ia tau kalau masalah ini dibiarkan, aku dan appa akan bertengkar.

“Baiklah, let’s go!,” setuju ku.

“Hati-hati dijalan!” kata eomma dengan mencium pipiku dan Krystal.

>In School

Seperti biasa, tak ada yang berubah suasana di sekolah. Tapi, aku merasa ada yang berubah. Pusing, itu yang kurasakan.

“Chagi!!” teriak seorang namja dari belakang ku.

“Ne..” aku pun menoleh dan ku dapatkan itu adalah Jaejoong namjachingu ku yang ku sayangngi.

“Chagi, kamu sakit?” tanya jaejoong.

“Aniyo, wae oppa?” tanyaku balik.

“Kamu terlihat pucat, Chagi”

“Jinjja?” aku mengelak.

“Chagi kalau kamu sakit, istirahatlah di UKS!” suruh Jaejoong, mungkin ia tau kalau aku bohong.

“Aniyo, aku baik-baik saja. Ayo kita ke kelas!” ajak ku.

Tiba-tiba aku mulai kehilangan keseimbangan. Untung saja di belakang ku ada Jaejong yang langsung menangkapku dari belakang. Dan menuntunku duduk di bangku pinggir taman sekolah.

“Oppa, kepalaku pusing. Aku tidak tahan lagi. Oppa tetaplah disini,” suruhku pada Jaejoong.

Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit ini pada Jaejong. Ia mengerti yang kumaksud. Jaejoong langsung menggendongku menuju UKS. Aku dan Jaejoong gak mempedulikan orang-orang yang melihatku yang digondong oleh Jaejoong.

Tidak lama kemudian, Soehyun, Fanny, dan Sooyoung menghampiriku.

“Jess…” mereka memanggilku.

“Mworago?” tanyaku.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Fanny balik.

“Ne, aku hanya butuh istirahat,” jawabku singkat.

“Kau sangat pucat Jess,” Seohyun mulai cemas. Teman-temanan Jessica sudah mengetahui penyakit yang dideritanya. Tidak ada satu pun keluarga Jessica yang mengetahui hal itu. Jaejoong pun juga tidak mengetahuinya.

Tett….tett….tett….

“Chagi, sudah waktunya masuk kelas. Kamu nggak keberatankan aku tinggal?” tanya Jaejoong.

“Ne, aku baik-baik saja. Aku tidak akan marah kalau oppa tidak ke kelas. Sana, pergila!” suruhku pada Jaejoong.

“Kita juga ke kelas dulu Jes. Nanti aku ijinin deh sama songsaenim, sampai jumpa,” salam Tiffany.

Kini aku sendirian di UKS. Sepi, tidak ada satu orang pun yang menemaniku. Aku pun menutup mataku dan terlelap dalam tidurku.

“Jess, bangunlah. Kamu sudah membaik?” tanya Sooyoung.

“……,” aku hanya terdiam, tubuhku tidak bisa digerakkan lagi.

“Jess, penyakit mu kambuh lagi?” bingung Tiffany.

“1…2…3…4…5…,” aku menghitung detik dan bertahan dua detik lebih lama dari yang tadi. Aku mencoba untuk menjawab pertanyaan Tiffany.

“Ne, penyakit ini lebih sering kambuh,” jawabku lirih. “Mungkin sekarang ini saatnya untuk mengakhiri hubunganku dengan Jaejong oppa. Aku tidak mau ia akan tersakiti dengan penyakitku ini. Maukah kalian membantuku?”

“Ne, kita akan bantu kamu Jess,” jawab Seohyun tegas.

“Annyeong chingu.,” salam Jaejoong tiba-tiba muncul dari pintu ruang UKS dengan senyumnya yang khas membuatku tidak ingin meninggalkannya.

“Annyeong oppa,” balas ku dan kuperlihatkan senyum termanisku untuk Jaejoong.

***

Aku pulang sekolah di antar Jaejoong. Aku berniat untuk putus sama Jaejoong walaupun aku tisak mengharapkan itu. Sebelum sampai rumah, Jaejoong mengajakku ke sebuah warung di pinggir jalan. Aku fikir ini saatnya yang tepat untuk mengatakan itu.

“Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu dengan oppa.”

“Tentang apa?” tanya Jaejoong.

“Hubungan kita oppa,” tanyaku sedikit gemetar.

“Kamu sudah kenyang chagi?” tanya Jaejoong mengalihkan pembicaraan.

“Ne, tapi…” jawabku dan kataku terpotong karena Jaejoong langsung menarik tanganku dan pergi dari sini.

“Oppa, kita mau kemana?” tanyaku bingung.

“Kesuatu tempat. Kamu pasti suka,” jawab Jaejoong dengan senyumannya yang membuat hati ku meleleh. Aku bingung, siap atau tidak putus dengan Jaejoong.

Aku dan Jaejoong akhirnya sampai di tempat tujuan. Ternyata ia mengajakku ke sungai Han. Aku semakin tidak bisa untuk meninggal kan Jaejoong. Aku harus bagaimana?

“Oppa,. Aku ingin….,” kata-kataku langsung teputus seketika Jaejoong menutup mulutku dengan jari telunjuknya. Kemudian ia menempelkan kedua tanganya ke pipiku sambil mendongakkan kepalaku agar aku menatapnya.

“Jess, aku sudah tau semua yang terjadi. Aku tau semua tentang dirimu. Aku tahu kamu punya penyakit itu. Tapi satu hal yang kamu harus tau, aku tetap mencintaimu. Tolong, jangan suruh aku pisah denganku. Aku tidak bisa Jess,” jelas Jaejoong.

Aku sangat terkejut. Dari mana Jaejoong tau kalau aku punya penyakit. Aku terus menatap matanya. Aku tidak menemukan kebohongan yang terlukis di matanya. Aku sangat senang Jaejoong tetap berada di sampinggu walaupun keadaanku yang sekarang ini.

Ia menatapku sangat lama. Aku merasa jarak diantara kita semakin dekat. Tidak lama kemudian..

CHU~~~

Jaejoong mendaratkan bibirnya tepat berada di bibir ku. Sangat lama hal itu berlangsung. Aku tidak bisa menolaknya karena aku juga menikmatinya.

“Oppa,” kata pertama ku yang ku ucapkan setelah ciuman kita berakhir. Jantungku sunggu berdebar kencang. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol perasaanku.

Jaejoong langsung memelukku dengan erat. Hangat, itu yang kurasakan. Aku semakin tidak bisa untuk melepas Jaejoong. Aku merasa nyaman berada disampingnya. Ia juga mengecup keningku. Akhirnya pun aku diantar pulang.

***

Matahari menyinari bumi dengan cahayanya yang indah. Seperti  biasa aku pergi sekolah dengan Krystal walaupun sekolah kami berbeda. Aku pun memasuki sekolahku dan tidak ada suasana yang berbeda, hari ini Jaejoong tidak masuk sekolah karena ia mewakili sekolah untuk olimpiade biologi. Aku pun melanjutkan perjalanku menuju kelas.

BRUKKK!!!

Seketika itupun aku terjatuh di depan pintu kelas. Teman-teman ku melihat dan mengerubungiku. Seohyun, Fanny dan Sooyoung langsung menolongku dan berteriak minta tolong.

“Aku baik-baik saja. Bantu aku berdiri saja dan duduk di bangku saja,” suruhku. Aku menghitung lagi dalam hati,”1…..2…..3…..4….5…..6….7…..8….9…..10…..”. Aku gerakkan tubuhku sedikit dan akhirnya bergerak. “makin lama penyakit ini bertahan dalam diriku,” gerutuku dalam hati.

“Jess, sebaiknya kau ke UKS aja. Istirahatlah disana!” suruh Sooyoung yang dapat anggukan dari teman sekalas.

“Ne Jess, nanti tambah parah,” cemas Seohyun yang semakin menambah.

“Aniyo, aku hanya kecapean saja,” elakku sambil tersenyum agar mereka tidak mencemaskan ku.

Tettt…Tettt….Tettt….

Bel sekolah berbunyi menandakan masuk sekolah. Mrs. Lee menerangkan dipapan tulis. Aku semakin tak berdaya. Aku tak bisa berfikir. Kepalaku semakin pusing. Aku takut… Aku takut…

Aku sandarkan kepalaku di atas meja ku. Aku diam lagi mencoba menenangkan diriku, aku ingin bergerak tapi tidak bisa. Wae,, waeyo? Ketakutan semakin menyelimutiku.

“1…..2……3……4……5……6…..7……8…..9…..10…..11….12…..13……14……15….,”aku menghitung lagi. Penyakit ini semakin senang bertahan ditubuhku.

Aku coba sekali-lagi menggerakkan tubuhku. Aku behasil. Tapi tetap saja, pelajaran yang di berikan oleh mrs. Lee tidak bisa aku terima.

Aku masih pusing. Kapan pusing ini hilang?

Tettt….tettt…tettt…..tettt…

Bel pulang sekolah pun terdengar. Semua siswa keluar kelas. Kecuali aku yang masih duduk terdiam di bangkuku. Kepalaku sangat pusing, aku sangat tidak kuat menahan ini. Tubuhku lemas, sangat lemas lalu ku menutup mataku.

“Tuhan, aku siap kapan pun kau mengambilku. Tapi tolong, sebelum aku meninggalkan mereka, aku ingin berbahagia dengan orang-orang yang ku sayangi. Beri aku kesempatan lagi. Aku mohon..,” gumamku dalam hati.

“Jess.. Jessica… wake up. Udah sore, ayo kita pulang,” Fanny membangunkan ku.

“Aku dimana ini?” tanyaku sampil mengedip-kedipkan mataku.

“Di sekolah. Kita biarkan kau tidur, habis tidurmu sangat nyenyak,” jawab Sooyoung.

“Kita menunggu mu bangun. Ayo kita pulang,” lanjut Soehyun.

Akhirnya aku menurut mereka untuk pulang. Mereka juga mengantarku sampai rumah.

>In Jessica’s House

Suasana rumah sangat ribut. Suara eomma dan appa sampai ke teras depan rumah. Setelah aku buka pintu, tiba-tiba Krystal muncul dari belakang pintu dan langsung memelukku.

“Unnie, appa menyuruhku untuk dinner lagi dengan namja itu dan eomma tidak setuju dengan appa. Sekarang appa sama eomma berantem,” isak Krystal sambil memelukku erat. Krystal menangis, aku rasakan bahuku basah.

Waeyo,.! di akhir hudupku tidak ada yang sempurna. Aku menenagkan Krystal dan menghapus air matanya yang keluar. Ku suruh Krystal untuk pergi ke kamar. Sesegera mungkin aku bertemu appa.

“Appa,! Jangan suruh Krystal untuk melakukan hal bodoh lagi. Sebagai unnienya, aku tidak rela kalau dongsaengku di perlakukan seperti ini. Aku saja yang sebagai unnienya tidak rela, apalagi appanya. Seharusnya appa lebih tidak rela lagi. Aku benci appa. I… H….A….T…E… U..,” ucapku dengan amarah ku yang meluap-luap dan kata-kata terakhir ku mulai merendah.

Brukkk….

Aku tejatuh lagi. Kali ini aku berada di hadapan orangtuaku. Mereka tidak mengetahui penyakitku. Aku takut mereka menghawatirkan ku.

“Jessica!!!” teriak appa dan eomma. Mereka menggotongku ke kamar dan melatakkan ku di atas kasur. Mereka juga memanggil dokter untuk memeriksaku.

“1….2….3….4….5…..6……7…..8…..9…..10…..11…..12…..13…..14……15………………20,” tubuhku pun mulai bisa digerakkan sekali lagi.

Penyakit ini semakin lama berada ditubuhku. Kenapa harus aku yang menderita dengan penyakit ini. Seperti hanya aku yang pantas menerima penyakit ini. Dan sekarang appa dan eomma sudah mengetahui fakta tentang diriku dan penyakit ini. Aku takut mereka mengkhawatirkan aku dan lupa pada Krystal.

Dokter Prak memeriksaku dengan serius. Appa, eomma dan Krystal menunggu di luar kamar. Setelah selesai diperiksa, ku liat dokter Park keluar kamar dan berbicara pada appa dan eomma.

“Bagaimana dok? Apa yang terjadi dengannya? Jessica baik-baiksajakan dok?” Tanya eomma khawatir.

“……..,” dokter tidak menjawab pertanyan eomma. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Dok, cepat jawab! Ada apa dengan putriku?” appaku berteriak didepan dokter itu.

“Kalian belum tahu apa yang dialami putri kalian?” dokter Park kembali bertanya.

“Ada apa dok? Cepat katakan!” pinta appaku.

“Kalian seharusnya sudah tahu bahwa Jessica memiliki penyakit still’s disease, yaitu penyakit sendi. Kalau penyakit itu kambuh, Jessica akan seperti orang lumpuh yang tidak bisa bergerak. Untuk menghindari penyakit itu kambuh, ia harus menghindari pikiran yang berat-berat. Tetapi kali ini sudah terlambat. Jessica sudah di fosis sudah stadium akhir. Kini sudah tinggal menunghu hari itu tiba,” jelas dokter Park.

Appa, eomma dan Krystal menangis, air mata mereka berlinang mendengar kata-kata dokter Park. “Jess…sic…ca….,” eomma memanggil nama ku diselah isak tangisnya. Krystal yang mendengar itu langsung berlari ke kamarnya. Aku tidak bisa melihat keluargaku yang seperti ini. Menangiskan keadaanku yang seperti ini. Aku pun kini mulai terlelap dalam tidurku.

Matahari sudah menghilangkan sinarnya di bumi ini dan digantikan oleh bulan dan bintang yang menghiasi langit di malam hari.

“ Unnie bangunlah!! Sudah ditunggu appa sama eomma di bawah,” suruh Krystal yang membangunkan ku.

“Mmmm,. Sekarang jam brapa, Krys?” tanyaku sambil mengucek mataku.

“ Jam 7 malam, ayo cepat mandi dan turun ke appa sama eomma!”

Setelah mandi aku bergegas turun ke kebawah ke tempat appa dan eomma berada. Aku tidak percaya dengan semua ini. Appa dan eomma mengadakan pesta kebun di halaman belakan rumah. Dan yang paling mengejutkan, Sooyoung, Tiffany, Seohyun dan Jaejjong ada di sana. Semua orang ku sayangi ada di taman belakang rumah.

“ Terima kasih Tuhan, kau memberikan kebahagiaan dan kebersamaan yang sangat hangat ditengah-tengah gelapnya malam sebelum aku meninggalkan dunia ini. Aku juga ingin seperti ini pada malam-malam selanjutnya. Tapi apakah itu mungkin?” kata-kata yang kuucapkan sangat lirih di depan pintu taman belakang rumah.

“ Jess, ayo kesini! Kita pesta bersama,” kata Jaejoong, namjachingu ku.

“ Ne, oppa,” aku pun segera berlari ke tempat semua orang-orang berkumpul. Sungguh, aku merasa sehat saat ini, seperti tidak ada penyakit yang menyerang tubuh ku. Aku sungguh ingin mala mini adalah malam yang sangat panjang.

Sooyoung, Seohyun, Tiffany dan Krystal bernyanyi dengan diikuti alunan musik malam yang membuat kegemiraan diantara kita. Appa dan eomma sibuk menata makanan untuk kita semua. Aku dan Jaejoong duduk bersampingan sambil menikmati suasana saat itu.

“Chagi, ingatlah aku akan selalu ada di sampingmu sampai kpan pun. Gak akan pernah yang bisa menggatikan mu dalam hidupku. Saranghae chagi,” ucap Jaejoong.

“Oppa, berjanjilah jika sudah saatnya aku meninggalkan kamu, kamu harus mencari yeoja lain sebagai penggantiku,” selah ku.

“Anieo, gak ada yeoja lain yang bisa menggantikanmu chagi.”

“ Tapi….”

“Chagi, jangan pikirkan itu. Sekarang yang harus kamu pikirkanadalah semangat. Hwaighting!!” selah Jaejoong.

Malam ini, malam yang tidak pernah ku lupakan. Aku berharap lebih dari semua ini. Tapi itu mustahil. Hanya kebersamaan dan kebahagiaan ini sudah cukup untukku. Semangat ku untuk bertahan bertamah, aku berusaha agar malam selanjutnya bisa seperti ini. Membuat nuansa kebersamaan dan kebersamaan indah dan penuh kenangan.

Aku senang saat ini, namja yang dijodohkan kepada Krystal tidak datang. Krystal pun juga sama sepertiku, ia berharap bahwa appa sudah berubah tidak menjodohkannya lagi.

Waktu semakin berlalu, malam juga semakin gelap, tapi suasana di taman belakang rumah masih terasa hangat dan menyenangkan. Tapi Sooyoung, Tiffany, dan Seohyun harus pulang karna mereka seorang yeonja. Semakin lama suasana berubah semakin sepi, kehangatan pun mulai menghilang.

Sekarang tinggal kesunyian dan kedinganan yang kurasakan. Aku merasakan kehilangan dan kedinginanku pun menyelimutiku. Tubuhku sangat dingin sekali. Aku segera menuju tempat tidurku dan menutup rapat-rapat tubuhku dengan selimut

*****

Matahari mulai menampakkan keberadaannya. Aku merasakan sinar matahari yang menembus kamarku. Kicauan burung pun masih ku dengar. Tapi dingin yang ada di dalam tubuhku dari tadi malam belum juga berubah. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Dan sekarang mataku juga tidak digerakan, aku juga tidak bisa bicara.

“1…2…3…4…5…6…7…8……10…….15…….20………..25…..”

Tubuhku masih belum bisa digerakkan. Aku takut… aku takut… Aku mencoba menghitung lagi.

“1…2…3…4…5…6………15………30……”

Tubuhku tidak bisa digerakkan dan sekarang suara Krystal terdengar dari luar kamar.

“ Unnie.. kau sudah bangun?” tanya Krystal dari belakang pintu.

“…….,” aku tidak bisa menjawab. Tubuhku semakin lemah. Dingin tubuhku semakin bertamah. Aku benar-benar menggigil sekarang.

“ Unnie jawab aku!!! Unniiiiiieeeeee!!!!!!! Tolong jawab aku… Unnieeee!” teriak Krystal semakin  kencang aku masih tetap tidak bisa menjawab

Ku dengar suara kaki appa dan eomma yang sedang berlari bergegas menuju kamarku.

“ Waeyo Krys? Teriak-teriak seperti itu,” tanya eomma pada Krystal.

“ Unnie.. Unnie.. Unnie, tidak menjawab ku dari tadi. Dia tidak menjawabku. Appa.. eomma… unnie tidak menjawab,” jelas krystal dengan isak tangisnya.

“Jess.. Jessica..! jawab appa Jes! Jess.. jangan berjanda! Jawab appa Jess..!” teriak appa sambil ngegedor pintu kamarku.

“……..,” aku masih tidak bisa menjawab.

“Jessica!!! Ayo jawab eomma sayang, jawab eomma! Tolong Jess, jawab eomma mu ini!”

Suara eomma semakin tidak bisa ku dengar. Ada apa ini?

“1…2…3…4…5…6……….10………..15……..30……..45……..,”

Aku menghitung lagi, tapi hasilnya nihil.

BRAKKKKKK!!!!!!

Appa mendobrak pintu kamarku, dan langsung melihat keadaanku yang terbaring lemah di atas ranjangku. Krystal dan eomma menangis seketika itu juga. Appa menelepon dokter Park untuk memeriksaku.

“ Unnie…. Unnie… jangan tinggalkan aku. Aku mohon unnie! Jangan tinggalkan aku,” Krystal memohon kepadaku dengan ku dengan airmata yang berlinang di pipinya.

“Jessica… bangunlah putriku! Sekarang sudah pagi. Ayo sayang, bangunlah! Sudah saatnya bangun!,” bujuk eomma agar aku bangun. Tapi itu semua percuma, aku tetap tidak bisa bangun.

Tapi, tuhan telah member ku kesempatan untuk membuka mata dan berbicara sesuatu pada appa, eomma dan Krystal.

“Appa… eomma… Krystal… semoga kalian akan bahagia tanpa ku dikehidupan kalian. Aku sungguh menyayangi kalian lebih dari apapun. Aku akan selalu berada di samping kalian untuk selamanya. Mianhaeyo, aku berpamitan dengan cara seperti ini. Aku akan selalu menyayangi kalian ever and never. Goo..odd… Byeeee…..,” itulah kata-kata terakhirku yang bisa ku sampaikan kepada mereka.

“Tuhan kalau memang sekarang sudah saatnya, aku akan menerimanya. Dan terima kasih atas kebahagian yang telah kau berikan kepadaku pada malam itu. Aku tidak akan pernah melupakan malam itu sampai kapan pun,” aku berkata dalam hati.

“1…2…3…4…5……….10……………..15……………….20…………….30…………….45……………….60.…”

Ku hitung 60 detik mata ini tidak terbuka lagi. Kini mata ku menutup untuk selamanya dan tidak akan kembali membuka seperti dulu. Aku tidak bisa merasakan apapun yang ada ditubuhku. Kedingina, kehangatan tidak kurasakan saat ini.

Dokter Park akhirnya datang ke rumah dan segera menuju kamarku. Appa dan eomma menyuruh dokter Park untuk segera memeriksaku.

“ Dok, bagaimana dengan putriku?” tanya appa kepada doktet Park.

“…..,” dokter Park hanya bisa diam dan menggelengkan kepala saja.

“ Waeyo dok?” tanya Krystal sam bil benggoyangkan tubuh dokter Park.

“ Berdo’a lah agar putri kalian berada disisi Tuhan. Dan ikhlas kan dia agar bisa hidup tenang di surga,” suruh dokter Park.

“JESSSSIIICCCAAA!!!!” teriak eomma yang langsung memelukku dengan erat. Menggoyang-goyangkan tubuhku agar aku bisa hidup kembali. Krystal membanjiri pipinya dengan air matanya yang keluar dan bergegas pergi untuk menyendiri. Sedangkan appa hanya bisa melihatku dengan keadaan seperti ini dan menenangkan eommaku agar berhenti menangis.

***

Saat pemakaman ku, Sooyoung, Seohyun, Tiffany dan keluargaku datang. Di tenggah pemakaman berlangsung, Sooyoung, Seohyun, dan Tiffany langsung menghampiri keluarga ku. Mereka memberikan surat yang aku titipkan sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku.

“ Ahjusi, Ahjuma, Jessica memberikan kita surat untuk kalian,” kata Seohyun sambil menyerahkan surat yang bewarna kuning.

“ Krystal, kamu juga dapat surat dari Unnie mu,” kata Sooyoung dan meberikan surat bewarna biru muda.

Tiffany pun berjalan kearah Jaejoong yang sedang menangis di pinggir nisan ku.

“Oppa, ada surat untuk oppa dari Jessica,” Tiffany pun segera menyerahkan surat bewarna pink ke Jaejoong.

Pemakaman pun selesai. Semua yang hadir pulang ke rumah masing-masing termasuk appa, eomma Krystal dan sahabat-sahabatku, termasuk namjachinguku Jaejoong.

Saat di rumah, appa dan eomma membuka surat kuning yang diberikan Seohyun dari ku. Mereka membuka perlahan-lahan dan hati-hati dengan surat itu. Pertama kali terlihat di surat itu adalah foto ku, eomma dan appa yang sudah dulu sejak aku masih keci yang menjadi kenang-kenangan ku yang tak terlupakan. Di bawah foto itu terdapat tulaisan yang kemudian dibaca oleh appa dan eomma ku.

Appa…Eomma…..

Jessica masih teringat masa-masa saat keci. Kalian selalu memberikan kasih sayang kepadaku. Sampai sekarang pun aku masih bisa merasakan kasih sayang itu. Sampai kapan pun aku gak akan pernah lupakan kasih sayang yang telah kalian berikan kepadaku. Aku teringat saat liburan kita yang pertama kali. Appa dan eomma membelikan semua yang aku inginkan. Tapi sampai saat ini aku belum pernah membalas kasih sayang kalian kepadaku. Mianhaeyo, aku meninggalkan kalian seperti ini. Untuk appa, aku mohon jangan suruh Krystal untuk menikah dengan namja yang tidak ia cintai. Kalian juga harus mengikhlaskan ku pergi dari kehidupan kalia. Kalau tidak, aku akan menghantui kalia, hahahaha…. Walaupun Jessica sudah pergi, tapi hati Jessica masih ada di sekitar kalian.

Love you Appa… Eomma…

Saat ini Krystal ada di dalam kamarnya. Ia membuka surat biru mudah yang khusus ku berikan untuk dongsaengku, Krystal. Ia tau kalau aku sangat menyayanginya. Ia mulai membuka surat itu dan terlihat fotoku bersama Krystal saat liburan di pantai. Hanya dengan meilhat foto kita saja, ia mulai meneteskan air matanya.

Krystal…

Jangan menangis lagi. Unnie tidak suka melihatmu menangis karna kamu telihat jelek, nanti tidak ada namja yang mau dengan mu. Selagi aku tidak ada di lingkungan mu, aku minta tolong agar kamu menjaga appa dan eomma. Sekarang anak appa dan eomma hanya kamu saja, jadi bahagiakan mereka kecuali kalau menyakitkan mu. Tenanglah, hati unnie akan selalu ada di hatimu.

Di lain tempat Jaejoong pergi ke sungai Han. Ia belum membuka surat pink itu. Jaejong menikmati hembusan angin yang ada di sungai Han. Ia diam berdiri di pinggir sungai Han. Ia masih ragu untuk membuka surat itu. Tidak lama kemudian ia membuka surat itu. Sebelum membukanya ia menghela nafas terlebih dahulu. Setelah terbuka, jaejong menemukan cincin yang yang ada dalam surat itu. Cincin itu adalah cincin tanda cinta Jaejoong kepadaku. Lalu, ia membaca isi surat itu.

Oppa…

Mianhaeyo aku meninggalkanmu sendirian. Jujur saja aku tidak bisa meninggalkan mu. Tapi takdir ini yang telah memisahkan kita. Aku tidak mau melihatmu sendirian tanpa yeoja disamping mu. Aku mohon, bejanjilah untuk mencari yeonja penggantiku yang lebih baik lagi dariku. Aku yakin diluar sana pasti ada yeoja yang cocok buat kamu. Oppa, jadilah orang sukses, kejarlah impianmu menjadi dokter dan jadilah namja yang dibanggakan oleh keluarga. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun dan dimanapun. Saranghaeyo Jaejoong!

Jaejoong langsung bertekuk lutut di pinggir sungai. Air matanyapun keluar begitu cepatnya. Ia tidak dapat menahan perasaan yang ada di dalam hatinya. Jaejoong berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan semua hal yang mengganjal dalam hatinya.

“Pabbo, kau Jess. Sudah ku bilang aku gak akan mencari yeoja lain. Hanya kamu yang ada dihatiku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan mu. Aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa bersama kembali. Tunggu aku!!” ucap Jaejoong dengan isak tangisnya dan air matanya yang membanjiri pipinya.

10 years latter……………..

“Dok, bagaimana dengan putraku?” tanya orang tua pasien.

“Putra anda harus segera dioperasi. Kalau tidak,  ia akan meninggal. Dan operasi itu butuh organ dari orang yang sudah meninggal dan yang masih berfungsi,” jawab dokter Kim.

Tiba-tiba seorang suster memasuki ruangan itu dan memberikan data kepada dokter Kim. “Tidak ada data yang menyatakan bahwa walinya menyetujui untuk menyumbangan organ itu.”

“Baiklah aku mengerti,” kata dokter Kim sambil menutup data yang ia baca. “Siapkan semua kebutuhan oprasi secepatnya! Suruh dokter Park untuk mengoprasiku dengan pasien ini!,” lanjut Jaejoong.

“Mak..sud.. Dok..ter?” tanya suster itu yang bingung dengan kata-kata dokter Kim.

“Aku akan mendonorkan organku untuk pasien ini. Biarkan dokter Park yang mengoprasi kita!” jelas Jaejoong singkat.

“Mwo, tapi dokter bisa meninggal,” elak suster itu.

“Itulah tujuanku. Aku sudah berjanji pada yeoja yang sangat aku cintai untuk bersamanya. Mungkin ini saatnya yang tepat untuk menebus janjiku itu. Cepatlah tidak ada waktu lagi!”

Suster itupun langsung mengangguk mengerti. Ia sesegera mungkin melakukan yang diperintahkan dokter Kim.

Jaejoong sudah berada diruang oprasi bersama pasiennya. Hatinya berdekup kencang dengan kuputusannya. Tapi ia juga menunggu hal ini dari dulu dan sudah memikirnya matang-matang.

Dokter Park sudah memasuki ruangan. Ia menyuntikkan obat bius kepada pasien dan Jaejoong. Dokter park sudah memulai kegiatan oprasinya.

30 menit kemudian….

Jaejoong dan pasien itu dibedakan kamarnya. Tubuh jaejoong lemah tak bedaya. Seohyun, Sooyoung dan Tiffany yang mengetahui itu langsung pergi ke rumah sakit tempat Jaejoong di operasi. Mereka juga menghubungi Krystal untuk datang ke rumah sakit.

Sesampainya dirumah sakit, Sehyun, Sooyoung dan Tiffany begegas menuju kamar Jaejoong. Mereka melihat tubuh Jaejoong yang lemah dan banyak alat-alat yang menempel di tubuhnya. Mereka yang mengetahui itu langsung meneteskan air mata.

“Apakah ini namanya cinta sejati?” tanya Seohyun.

“Maybe,” jawab Tiffany singkat.

Ceklek….

Suara pintuk kamar terbuka. Muncullah yeoja dari belakang pintu. Dengan suara langkah kakinya menuju tempt dimana Jaejoong sedang berbaring.

“Krys,” Sooyoung pun langsung memeluk Krystal yang baru saja datang.

“Pabbo!” kata-kata pendek yang terucap di mulut Krystal yang berada di pelukan Sooyoung.

“Wae? Waeyo oppa wae?” tanya Krystal dan berteriak dihadapan tubuh lemas Jaejoong. Dan suara Krystal berhasil membuat Jaejoong membuka matanya.

“Aaa..akkk..kuuu.., beeerr…hasil!” seru Jaejoong disela tawanya. Dan saat itu juga Jaejoong menutup matanya untuk selamanya. Alat ukur detak jantungpun berbunyi menandakan tidak ada kehidupan lagi di diri Jaejoong. Sooyoung pun segera memanggil dokter.

***

Saat pemakaman Jaejoong berlangsung, Tiffany, Seohyun dan Sooyoung ikut hadir. Tidak hanya mereka Krystal pun ada di tempat itu, tapi kali ini Krysal bersama seorang namja yang ia cintai. Appa ku sadar bahwa dalam menjalin hubungan haruslah ada rasa cinta satu sama lain.

Saat pemakaman telah usai, semua yang hadir kembail pulang tetapi tidak untuk Sooyoung, Tiffany, Seohyun, Krystal dan namjachingu Krystal.

“Oppa, kamu membuatku iri. Aku ingin sekali punya namjachingu yang sepertimu. Setia sampai kapanpun,” ucap Seohyun.

“Oppa, kamu membuat keputusan yang membuat dirimu celaka. Sungguh pabbo!” ejek Tiffany.

“Oppa, aku salut denganmu,” puji Sooyoung.

“Oppa, kamu sudah menyusul unnie ku. Sekarang unnie ku udah gak sendirian lagi. Kamu harus janji padaku, kamu harus jaga unnieku di alam sana dengan sangat baik. Aku percakan unnie ku padamu. Semoga hidup kalian berjalan dengan baik,” ucap Krystal dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.

***

Aku senang semuanya berjalan dengan baik. Mulai dari Sooyoung, Tiffany dan Seohyun yang semakin menjadi yeoja sukses. Sooyoung meneruskan perusahan milik ayahnya, Tiffany yang melanjutkan studinya di Amerika dan Seohyun yang menjadi guru TK. Walaupun mereka punya kegiatan masing-masing, mereka pasti meluangkan waktu untuk bersma.

Sekarang ini appa dan eomma sudah tidak menjodohkan Krystal denga namja pilihan mereka dan sudah menerima Krystal berpacaran dengan namjachingunya. Dan hari ini Krystal dan namjachingunya mengucapkan janji mereka di altar.

Sedangkan aku dan Jaejoon memiliki kehibupan sendiri disini.

~End~

Bagaimana?

Mian kalau ceritanya jelek, mian kalau ceritanya gak enak di hati reader, mian juga kalau kepanjangan. Tapi Haiyu tetep butuh coment kalian. Gomawo~~🙂

36 responses

  1. Aaiiihh romantic tp sedih, si jae sama ajee bunuh dirii doong? Tp ┏̲G̶̲̥̅̊┓̲P̶̲̥̅̊┏̲P̶̲̥̅̊┓̲ cinta jae always buat sica..

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s