First Snow 1st Part [When The Snow Fall]

Tittle: First Snow 1st Part [When The Snow Fall]

Author: Nana Cho

Cast:

  • Cho Kyuhyun [SJ’s Kyuhyun]
  • Yoon Yeorum [OC]
  • Ok Taecyeon [2pm’s Taec]
  • Kwon Gyeoul [OC]
  • Yoon Donggoo [Actor Yoon Siyoon]
  • And Other Supported Cast

Genre: Romance, Tragedy (little)

Rate: T

Disc: ff ini punya gueh, Kyuhyun juga punya gueh #gaholabes #plakdor

Let’s go to the story~~~

YOON YEORUM

 

SEOUL  . HAN RIVER PARK . EARLY WINTER 2008

 

“Cho noon…” Teriakku riang menyambut salju pertama yang baru saja turun. Aku selalu suka salju. Makadari itu, hari ini aku dan Kyuhyun oppa – naui namja –  pergi ke taman untuk melihat salju pertama yang  diramalkan akan turun hari ini, serempak di seluruh Korea.

Sekarang, aku sedang berrputar-putar di tengah salju, dengan mantel dan syal, lengkap dengan sepatu boot. Tapi, tidak dengan sarung tangan. Aku suka menyentuh salju.

“Pakai sarung tanganmu chagi-ya…” Ujar Kyuhyun oppa seraya berjalan ke arahku dengan sarung tangan milikku di tangannya

“Aniya oppa. Aku suka menyentuh salju.” Kutunjukkan senyumku ke arahnya. Tak kuperdulikan tanganku yang sudah mulai membeku.

“Coba lihat tanganmu.” Kyuhyun oppa mengambil tanganku, kemudian menggosok-gosokkan telapak tanganku serta meniupinya. Membuat tanganku lebih hangat. Ini juga salah satu alasanku, mengapa tidak memakai sarung tangan. Hehehe…

“Hangat oppa…”

“Siapa suruh kau keluar tanpa sarung tangan?” Ujar Kyuhyun oppa, kemudian menatapku dengan tatapan ‘evil’-nya yang lebih terlihat mempesona daripada menakutkan untukku.

“Oppa tahu ‘kan aku suka menyentuh salju.” Kukerucutkan bibirku seraya menatap namja yang sedang memakaikan sarung tangan ke tanganku itu. Namja dengan image – yang menurut orang lain – ‘evil’. Tapi, dia terlihat lebih seperti ‘angel’ bagiku.

“Araseo… tapi, kalau kau sakit siapa yang khawatir?” Ditatapnya lagi mataku dalam-dalam dengan mata ‘evil’-nya itu.

“Eomanim.” Sahutku singkat, padat, jelas dan berisi.

“Yang pasti aku, neoui namja, juga ikut khawatir Yoon YeoRum…” Kyuhyun oppa mencubit hidungku gemas. Membuatku meringis karena ulahnya.

“Apayo!”

“Mianhae…” Setelah mencubit hidungku, di acak-acaknya rambutku yang masih tertutup topi putih yang baru saja dibelikannya minggu lalu.

“Yaa! Rambutku berantakan oppa!” Kugeleng-gelengkan kepalaku menghindar dari tangan jahilnya.

“Khekhekhe… mianhae…”

“Aniya! Oppa tak termaafkan!” Kujulurkan lidahku ke arahnya seraya merapikan topi dan rambutku.

“Chagi-ya…” Kyuhyun oppa mulai mengeluarkan rengekan ‘maut’-nya padaku. Cih! Aku tidak akan termakan rengekannya kali ini.

“Jeongmal mianhae. Ne?” Ini yang membuatku sebal padanya. Dia selalu membungkuk, mensejajarkan wajahya dengan wajahku, kemudian menatapku menggunakan ‘puppy eyes’ yang dimilkinya.

“Ne…” Akhirnya, kuanggukan kepalaku ,menjawabnya. Aku kalah.

“Gomawo.” Ditunjukkannya sebuah senyum untukku. Menyusul bibirnya yang mengecup pipiku lembut.

“ Sudah sore, kkaja pulang.” Ujarnya lalu menggandengku menuju keluar taman.

Aku terdiam di tempatku, tidak mengikutinya. Aku masih ingin disini.

“Chagi…” Kyuhyun oppa membalikkan badannya menatapku yang masih diam. Aku tidak ingin pulang!

“Aku masih ingin main oppa. Aku belum mengajukan permintaan.”

“Kalau begitu, ajukan permintaanmu sekarang. Lalu, kita pulang.” Kyuhyun oppa berjalan mendekatiku lagi, dan berdiri tepat di depanku.

“Nanti saja. Aku masih ingin bersamamu disini.” Kupeluk tubuh kurus itu erat. Sangat erat.

“YeoRum… ini sudah sore, dan aku tak mau kau kena pukul appa-mu lagi.” Kurasakan sebuah tangan mengusap kepalaku lembut.

“Oppa tahu?” Kulepas pelukanku, menatapnya tajam.

“Mwo?” Mata evil-nya menatapku lembut. Tatapan yang jarang ditunjukkannya di depan kebanyakan orang.

“Daripada rasa sakit karena pukulan appa, lebih sakit lagi merindukanmu beberapa bulan terakhir.” Kupukul dadanya pelan, kemudian berjalan keluar taman. Aku tahu ini sedikit kekanakan. Tapi, jadwal belajar dan kursus, ditambah dengan jadwal konsernya bersama Super Junior, dan ketidak setujuan orang tuaku dengan hubungan kami membuatku benar-benar tersiksa karena merindukannya.

“Aku tahu, aku tahu pasti bagaimana rasanya.” Dicekalnya tanganku, membuat langkahku terhenti.

“Aku juga merindukanmu. Tapi, waktunya belum tepat untuk kita Chagiya. Kau tahu itu ‘kan.”

“Ayo pulang.”

“Chagiya…”

“Ne. Araseo! Ayo pulang.”

“Kau tidak ingin mengajukan permintaanmu pada salju pertama dulu?”

“Aniya. Waktunya belum tepat.”

“Ckckck…”

GREB

Dipeluknya tubuhku tiba-tiba. Membuatku hanya bisa terdiam di dekapnya.

“Aku, Cho Kyuhyun, member Super Junior dengan umur dibawah rata-rata member yang lain ingin bisa hidup tenang bersama naui yeojachingu, Yoon YeoRum. Menjalin hubungan dengan tenang bersamanya, tanpa tentangan dari orang tuanya, dari manajemenku, dan dari fans-ku. Apa harapanmu chagiya?”

Kuangkat kepalaku, menatap wajahnya yang lebih tinggi dariku, walaupun dia sudah menundukkan wajahnya.

“Tidak ada yag lebih baik lagi dari harapanmu oppa.” Kutunjukkan senyumku. Ya, mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk kami. Tapi, aku yakin suatu hari nanti pasti akan datang waktu untuk kami.

INCHEON – YOON’S FAMILY HOUSE . EARLY WINTER 2008

“Sudah berapa kali umma katakan padamu?! Jauhi namja itu!!!” Bentak umma padaku, setelah kesekian kalinya aku melanggar larangan umma dan appa untuk berhenti menemui naui namja.

“Tapi, aku menyukainya umma!”

PLAK.

Aku terjatuh, pipiku terasa panas. Terlebih, ketika kurasakan setetes darah segar menetes dari ujung bibirku.

Entah sudah berapa kali appa menamparku gara-gara ulahku yang tidak menurut. Tapi, itu tidak membuatku jera. Berbagai macam cambukan dan pukulan yang bisa appa lakukan pernah kurasakan, tidak membuatku semakin menjauh dari Kyuhyun oppa. Tapi, aku jadi semakin sering menemui namja yang mereka benci itu, namja yang kucinta.

“Sudahlah yeobo. YeoRum, kau masuklah ke kamarmu…” Perintah umma.

Kumasuki kamarku sambil memegang pipiku yang masih memerah karena tamparan appa.

“Lagi?” Tanya DongGoo oppa tepat sebelum aku memasuki kamarku.

Kutengok ke arahnya, yang sudah berdiri di samping pintu kamarku. DongGoo oppa, satu-satunya orang yang membuatku masih tahan tinggal di rumah ini. Coba saja kalau tak ada dia. Aku pasti sudah tidak ada disini sekarang. Lebih baik aku pergi bersama Kyuhyun oppa, daripada aku tinggal disini dengan ribuan aturan yang mengekangku.

“Oppa…”

GREP.

Kupeluk namja di depanku itu erat. Air mataku mulai menetes, dan menetes semakin deras ketika kurasakan tangan oppa membelai rambutku.

Di depannya aku bisa menumpahkan semua bebanku.

Semua rasa sakit yang kurasakan selalu kusimpan dan membuatku berlaku seolah semua-baik-baik-saja. Tapi, jika di depan DongGoo oppa dan Kyuhyun oppa, aku pasti akan merasakan rasa sakit itu, dan menumpahkan semua bebanku.

“Sudahlah, ayo kita obati lukamu.” DongGoo oppa melepas pelukannya, kemudian menatapku lembut.

Aku hanya bisa mengangguk lemah sambil mengikuti langkahnya yang menuntunku memasuki kamar.

“Kau tunggu disini dulu. Kuambilkan obat.”

“Ne.”

DongGoo oppa keluar dari kamarku, meninggalkanku yang masih kesakitan sendiri.

Sebentar kemudian, DongGoo oppa datang sambil membawa sekotak perlengkapan p3k. Dia mengobati lukaku dengan telaten. Selalu seperti ini, setiap aku kena pukul karena menemui Kyuhyun oppa, DongGoo oppa akan datang dan mengobati lukaku.

“Selesai. Aku sudah bosan mengobati lukamu. Kuharap kau berhenti menemuinya.” DongGoo oppa menempelkan sebuah plester kecil di ujung bibirku.

“Aniya… Aku tidak akan menjauhinya selama aku masih bisa mengingatnya.” Aku menggeleng mantap.

“Hhh… Sesukamu sajalah. Oppa ke toko dulu, kau tidur sana.” Oppa berdiri sambil mengusap rambutku. Aku hanya mengangguk, kemudian memperhatikannya pergi dari kamarku dan menghilang di balik pintu.

Aku butuh refreshing. Kulangkahkan kaki menuju meja belajarku, kemudian duduk di kursinya dan membuka tasku, mengambil ipod nano yang selalu kubawa kemanapun.

Ige? Kutemukan sebuah psp di dalam tasku. Ini pasti milik Kyuhyun oppa. Sudahlah, biar besok kuberikan saja kalau bertemu.

Kupasang earphone berwarna pink di telingaku, kemudian mulai memutar sebuah lagu yang akan merefresh otakku lagi.

_Now Playing: Super Junior-first snow_

‘Ee nyuhn eul kkoh bahk gee dah reen guhl yo

Gyuh ool ee nuh moo geu ree wuh jyuh suh

Hah roo gah duh ook gee ruh

Chuht noon ee oh gee mahn gee dah ryuh…’

Suara itu memenuhi otak dan telingaku, membuatku merasa lebih tenang, melupakan semua masalah-masalahku.

Suara itu, suara Super Junior Kyuhyun, naui namja. Dialah namja yang membuatku merasakan puluhan kali tamparan dan pukulan dari appa. Tapi, dia juga satu-satunya obat dari semua luka itu. Aku menyayanginya, meskipun orang tuaku membencinya.

Menurut orang tuaku, pekerjaannya sebagai artis hanya akan membuatku menderita. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk memisahkanku dari Kyuhyun oppa. Tapi, aku tidak akan meninggalkannya selama aku masih bisa mengingatnya.

‘Heen noon ee oh myuhn dong neh gah deuk hee

Kkoh mah deul oo seum soh ree nuhm chyuh wah

Nan nuh yae jang nahn seu ruhn mee soh I can’t stop loving you…’

Lagu faforit kami berdua ini masih terus terdengar di telingaku, terekam di otakku, terasa di hatiku.

TAAKK…

Ada suara dari arah jendela? Kulepas earphoneku, dan menajamkan telingaku.

“Ssstt… Chagiya… Apakah kau di dalam? Chagiya…” Seseorang berbisik di depan jendela kamarku. Itu pasti Kyuhyun oppa!

Langsung aku berlari menuju jendela, kemudian membukanya sepelan mungkin agar umma tidak mengetahuinya.

“Ne… Mworago?” Bisikku sambil menyembulkan kepala.

“Pspku? Terbawa di tasmu ‘kan?” Aigoo… Kukira dia kesini karena mengkhawatirkanku!

“Ne. Sebentar kuambilkan…”

Kuambil psp Kyuhyun oppa di dalam tasku, kemudian memberikannya. Dia menerimanya sambil menunjukkan senyum evil-nya yang bisa membuatku membeku seketika.

“Gomawoyo. Hajima pipimu…” Ternyata Kyuhyun oppa menyadari luka ini.

Tangannya sudah bergerak akan menyentuh pipi kananku yang terluka, tapi kugerakkan badanku menjauh. Aku tidak ingin dia semakin khawatir.

“Mianhae, seharusnya aku tak memaksamu tadi.” Wajah Kyuhyun oppa terlihat sangat khawatir dan bersalah.

“Nan gwaenchana. Aku sudah terbiasa oppa.”

“Ini pasti sakit sekali.” Tangannya memegang pipiku, kugenggam tangannya yang ada di pipiku, dan menunjukkan senyum termanis yang bisa kutunjukkan.

“Sudah tidak sakit sekarang, ‘kan ada kau oppa.”

“Mianhae, aku akan terus berusaha untuk meyakinkan orang tuamu. Karena, kita tidak akan terpisah selama kita masih saling mengingat ‘kan?” Kyuhyun oppa mempererat genggaman tangannya. Membuatku merasa lebih nyaman berada di sampingnya.

“Ne. Its a promise…” Kuangkat jari kelingkingku di depannya.

“Ne. Promise.” Kyuhyun oppa melingkarkan jari kelingkingnya ke jariku, kemudian menunjukkan senyum itu lagi.

“Oh! Iya chagi. Besok, kau bisa menemaniku bermain ski?” Tanyanya tiba-tiba.

“Tapi, aku tidak bisa bermain ski…”

“Kan ada aku chagi… Aku bisa mengajarimu. Ne?” Kyuhyun oppa menggenggam kedua tanganku sambil memandangku dengan tatapan memelas yang membuatku ingin tertawa.

“Hhaha… Ne.”

“Horeee!!!”

“Ssst… Joyonghi! Oppa ingin aku terluka lagi?”

“Aniya. Mianhae, aku terlalu senang. Khekhekhe…”

“Apa besok tidak ada jadwal dengan Super Junior?”

“Aniya, comeback kami masih beberapa bulan lagi.”

“Ooo…” Kubulatkan mulutku sambil mengangguk-angguk beberapa kali.

“Chagi, ini pasti sakit sekali ya?” Kyuhyun oppa mengernyitkan dahinya sambil memegang pipiku perlahan.

“Itu kau sudah tahu.”

“Kuobati ya.”

“Obat… Hmpft…”

Tiba-tiba Kyuhyun oppa menciumku, membuatku tidak bisa melanjutkan kalimatku.

Angin dingin berhembus menerpa wajah kami. Tapi, hanya kehangatan yang kurasakan sekarang. Disini, di hatiku.

 

DAEMYUNG RESORT . VIVALDI PARK . EARLY WINTER 2008

 

Pagi-pagi tadi, aku sudah pergi ke toko roti milik keluargaku, tempat pelarianku, dan tempatku bertemu dengan Kyuhyun oppa. Karena, dengan alasan membantu oppa, aku bisa kesana kemudian melarikan diri dari rumahku.

Sekarang, disinilah aku, di tempat persewaan alat-alat ski, bersama Kyuhyun oppa, bersiap untuk bermain ski. Hhh… Semoga aku bisa memainkannya dengan baik.

“Chagi, ada yang ingin kukatakan…” Kyuhyun oppa menarikku ke pojok ruangan.

“Mwo?”

Kyuhyun oppa merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sebuah benda yang berkilau. Ditunjukkannya benda itu padaku, sebuah kalung emas putih dengan liontin krystal salju. Aku masih menatapnya heran.

“Untukmu. Lihat, aku juga punya satu.” Ditunjukkannya psp yang telah diberi gantungan dengan liontin yang sama dengan kalungku. Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Kupakaikan ya.”

“Ne…” Kubalikkan badanku, dan sedikit menyibakkan rambutku. Kemudian, Kyuhyun oppa memakaikan kalung itu di leherku.

“Bagus sekali chagi.”

“Gomawo… Ayo kita keluar.”

“Ne… Kkaja kkaja…” Kyuhyun oppa semangat sekali. Tapi, perasaanku merasa akan ada sesuatu yang buruk. Sudahlah, abaikan abaikan! Kami datang kemari untuk bersenang-senang.

“Kkaja chagi…” Kyuhyun oppa menarik-narik tanganku dengan semangat, seperti anak kecil yang menarik umma-nya untuk masuk ke toko permen.

Melihatnya seperti ini saja sudah membuatku sangat senang dan tidak ingin meminta apa-apa lagi. Aku hanya tersenyum-senyum melihatnya kegirangan.

Tiba-tiba…

SRAAASSHHH….

Salju turun, menghujani kami. Kulepas sarung tanganku, kemudian kuangkat tanganku ke atas, menangkapi setiap butir salju yang turun. Aku, YeoRum, musim panas yang mencintai salju.

“Aigoo… kebiasaanmu buruk sekali. Bagaimana kalau tanganmu membeku.” Kyuhyun oppa meraih tanganku cepat. Kemudian, menggosok dan meniupinya. Membuat tanganku hangat.

Aku terdiam. Aku hanya bisa terdiam menatapnya yang masih sibuk dengan tanganku. Tampan. Ya, semua orang tahu jika Magnae Super Junior ini tampan. Sikapnya juga tidak terlalu buruk. Suaranya bisa menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Kurasa, orang tuaku tidak mempunyai alasan yang cukup logis untuk menghalangi kami. Aku hanya mencintainya. Tanpa memandang statusnya sebagai artis. Aku hanya mencintainya karena dia adalah Cho Kyuhyun. Tanpa alasan apapun. Dia sudah cukup menjadi alasan untuk semua pertanyaan.

“Chagi?” Suara beratnya menyadarkanku dari lamunan.

“N…nde?” Kudapati matanya tepat berada d depan mataku sekarang.

Kami berdua saling bertatapan untuk beberapa detik, dibawah guyuran salju yang masih terus turun.

Perlahan, kurasakan jarak kami semakin mendekat, sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kupejamkan mataku, aku tidak sanggup menatap matanya yang membuatku membeku. Sampai akhirnya, kurasakan bibir kami bersentuhan, mengirimkan sebuah perasaan yang hangat di hatiku. Menghangatkan tubuhku yang terguyur hujan salju.

Aku merasakan ‘sentuhan’ itu cukup lama, sampai akhirnya dia melepasku dan menatapku lagi dengan tatapannya yang bisa membuatku membeku.

“Saranghae.” Kyuhyun oppa memelukku erat, membuatku merasa sangat nyaman dan tidak ingin melepasnya lagi.

“Nado saranghae. Kau bilang kita akan main ski?”

“Oh! Iya. Kkaja kkaja.” Kyuhyun oppa melepas pelukannya, kemudian dengan semangat di tariknya aku untuk berjalan perlahan.

“Pelan-pelan saja chagi, kau pasti bisa!!”

“Ne… Aku masih mencobanya.” Lutut dan kakiku masih gemetar kaku. Aku takut sekali! Untung saja ada Kyuhyun oppa disini, menggenggam tanganku. Menjagaku agar tak jatuh.

“Sekarang, kulepas ya.”

“Aaaa…. N – n – ne…”

Perlahan, Kyuhyun oppa melepas genggaman tangannya. Satu detik, aku bisa meluncur perlahan dengan kaki yang sangat kaku. Sejauh ini, semua baik-baik saja. Kyuhyun oppa meluncur di sampingku, dia tersenyum padaku, dan semuanya berjalan dengan lancar.

“Bagaimana, kau sudah bisa ‘kan…” Ujar Kyuhyun oppa yang meluncur di sampingku.

“Ne. Gomawo chagiya…” Kutatap namja di sampingku itu sambil menunjukkan senyum termanis yang bisa kutunjukkan.

Tapi, tiba-tiba air mukanya yang terlihat menyenangkan itu berubah. Air mukanya berubah menjadi panik, bingung, dan khawatir. Seperti melihat sesuatu yang menakutkan.

“Chagi awas!!!!” Teriakan Kyuhyun oppa membuatku menengok ke arah jalurku yang seharusnya.

Di depanku, ada sebuah pohon besar, sedang di sebelahnya adalah lereng curam yang digunakan untuk meluncur.

Terlambat! Aku tidak bisa menghindar lagi!

“KYAAAAAA!!!!!!”

BRAAAAKKKK…

Kurasakan kepala dan tubuhku membentur sesuatu, berputar-putar, dan semuanya gelap.

YOON DONGGOO

 

SEOUL – CHOCOFFEE BAKERY . EARLY WINTER 2008

 

OPPA OPPA… ANGKAT TELFONNYA…

Suara lembut YeoRum terdengar dari ponselku. Kuambil ponselku dari dalam kantong, kulihat sebentar LCD yang memunculkan sebuah nama.

_’Calling: Kyuhyun’_

Mworago? Bukankah dia bersama YeoRum?

“Yeoboseyo?” Sapaku.

“Hyung – YeoRum – hosh.. YeoRum hyung…” Suara Kyuhyun terdengar panik. Mworago?!

“Mworago?! Apa yang terjadi pada naui dongsaeng?”

“YeoRum kecelakaan! Kami sudah di rumah sakit. Cepatlah kemari! Hosh hosh hosh…” Aku terpaku mendengar pernyataan Kyuhyun. Bagaimana… Asshhh…

“Ne, aku, umma dan appa akan segera kesana. Tunggulah.”

TUUT.. TUUT…

Langsung kupacu mobilku menuju rumah sakit sambil menelfon appa dan umma.

Aku tahu, appa pasti sangat marah. Terlebih appa membenci Kyuhyun. Hancurlah hubungan mereka. Asshhh… Babo kau Kyu!!!!

 

SEOUL – STREET  HOSPITAL . EARLY WINTER 2008

 

Kuparkir mobilku, bersamaan dengan appa dan umma yang juga baru sampai di rumah sakit. Wajah beliau berdua benar-benar terlihat sangat marah dan khawatir.

Kami bertiga langsung berlari menuju UGD. Di depan UGD, terlihat Kyuhyun sedang duduk di salah satu kursi. Dia menunduk, seperti sedang berdoa.

Menyadari kedatangan kami, Kyuhyun mengangkat kepalanya. Matanya terlihat basah. Perlahan, dia berdiri dan berjalan mendekati appa dan umma.

“Mianhae…” Ujarnya dengan suara bergetar sambil bersimpuh di depan appa.

“Neo –” Appa mengangkat kerah baju namja itu, hingga dia berdiri.

PLAAAKKK!

“Sekarang, puas kau membuat anakku menderita?!!! Hah?!!” Appa benar-benar marah. Sedang, umma hanya bisa menangis. Kurangkul naui umma, menenangkan beliau.

“Ini –  Kecelakaan Ajjusi…” Suara Kyuhyun tercekat. Aku tahu, dia pasti juga khawatir dengan keadaan YeoRum. Tapi, appa tidak akan memperdulikan perasaanya.

PLAAAKKK!

Lagi, appa menampar namja di depan beliau itu. Setetes darah segar menetes dari ujung bibirnya.

“Sekarang, pergi kau!!! PERGI!!!!”

“Tapi Ajjusi, aku ingin melihat keadaan YeoRum…”

Seorang dokter dengan seragam yang serba putih keluar dari dalam UGD.

“Dokter, bagaimna keadaan anak saya?!” Umma menghampiri dokter itu.

“Anak anda, Yoon YeoRum?” Sang dokter membetulkan letak kacamatanya.

“Ne…”

“Ehem… Benturan itu, mengenai salah satu syaraf YeoRum. Menyebabkan ingatannya terperangkap ketika dia berumur 10 tahun.” Umur YeoRum sekarang 19 tahun. Berarti, dia akan melupakan semua kenangannya selama 9 tahun terakhir ini?!

Tangis umma semakin kencang. Kyuhyun, dia terduduk lemas di lantai mendengar penjelasan dokter.

Mereka, Kyuhyun dan YeoRum bertemu 2 tahun yang lalu, ketika chott noon di depan toko kami. Itu artinya, semua kenangan tentang Kyuhyun tidak akan diingat YeoRum. Kecuali, ada usaha-usaha yang dilakukan untuk memancing ingatannya yang hilang itu. Tapi, orang tua kami tidak akan membiarkan YeoRum mengingatnya. Aku yakin itu.

6 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s