She Always Look at Me

Title                 : She Always Look at Me

Author             : Park Sooyun

Cast                 : Lee Taemin, Choi Jinri

Genre              : Romance, Sad

Rating              : PG 13+

Length             : Oneshoot

 Note from Admin: Gambarnya nggak bisa di upload karena kamu gak pisahin sama text-nya. Seharusnya kamu attach gambarnya dipisah. Nggak di jadiin satu sama FFny. Sekian.

 

/…/

.

.

.

.

/… Kenapa aku baru melihatnya saat semuanya sudah terlambat? …/

.

.

.

.

/…/

 

 

 

SHE ALWAYS LOOK AT ME

Taemin’s POV

 

Aku melangkahkan kakiku dan memasuki halaman sekolah. Aku bisa melihat yeoja-yeoja yang melihatku sedang tersenyum. Tentu saja mereka begitu. Aku ‘kan namja terkenal di sekolah ini *Tataem narsis xD*

Tiba-tiba… jepret!

Aku menyipitkan mataku ketika sinar blitz kamera menerpa mataku. Aishh~~ Aku sudah tahu pekerjaan siapa ini.

“Anneyeong, oppa,” sapa si pemotret. Dia tersenyum lebar ke arahku sambil mengangkat kamera coklat-nya. “Selamat datang.”

“Kenapa kau selalu memotretku, Jinri-ah?” tanyaku kesal pada Jinri.

Dia hanya terkikik pelan. “Aku ingin agar aku selalu mengingatmu,” jawabnya.

Sudah kuduga ia akan menjawab itu. “Terserah,” desisku pelan. Dia hanya tersenyum.

Cih! Dasar yeoja menyebalkan. Dia selalu mengikutiku kemana-mana dan memotretku. Dia seperti paparazzi saja. Aku tahu aku ini tampan, kaya, pintar dan bintang di sekolah. Tapi tidak segitunya.

Dan terlebih lagi, aku kesal dengan senyuman polosnya itu. Itu sangat mengangguku. Setelah ia memotretku, ia hanya tersenyum dengan tampang polosnya. Bagaimana aku tidak kesal? Setiap aku bertanya mengapa ia selalu memotretku, ia terkikik pelan lalu menjawab, ‘Aku ingin agar aku selalu mengingatmu’. Begitu terus. Sampai aku sudah bosan mendengarnya.

Aku berjalan menuju kelasku tanpa memperdulikan Jinri.

“Akhir pekan kau mau kemana?” tanya Jinri sambil berusaha untuk menyusulku.

“Tidak kemana-mana,” jawabku datar. Aku berusaha untuk mengabaikannya.

“Kau mau pergi ke pantai bersamaku?” tawarnya sambil tersenyum. Hhh… Gadis ini memang pantang menyerah.

Aku membalikkan badanku dan menatap Jinri. Dia hanya tersenyum lebar. Aku menghela napas. “Terima kasih atas tawarannya, Jinri-ah. Tapi akhir pekan nanti aku harus kerja bakti di rumahku.”

“Baiklah. Mungkin lain kali,” katanya, dan masih tersenyum. “Aku harus pergi. Anneyeong.” Ia berlalu sambil mengutak-atik kameranya. Aku heran, kenapa setiap hari ia selalu membawa kamera coklat itu. Sudahlah… Yang penting sekarang aku terbebas dari yeoja itu—walaupun untuk sementara.

 

$#@#$

“Untuk tugas kali ini, saya akan buatkan kelompok.”

Aku hanya menguap mendengarkan penjelasan Leeteuk songsaenim.

“Kelompok yang pertama, Jonghyun dengan Sunyoung. Kedua, Jinki dengan Qian. Tiga, Kibum dengan Amber…”

Ya ampun… Sebenarnya Leeteuk songsaenim membagi kelompok atau menjadi mak comblang sih? Aku dapat melihat Jonghyun tersenyun lebar sambil melirik Sunyoung, Jinki melirik Qian dengan malu-malu *appa gak usah malu sama umma#apadeh* ataupun Kibum yang terlonjak kesenangan ketika dipasangkan dengan Amber. Aishh~~ Ketiga temanku itu memang gila.

“Yang terakhir, Taemin dengan Jinri.”

Deg!

Apa yang songsaenim katakan? Aku dengan Jinri? C-H-O-I-J-I-N-R-I-? Gadis itu? Si paparazzi? Andwaee!!! Ini tidak boleh terjadi.

“Ada yang ingin ditanyakan?”

Aku segera mengangkat tangan.

“Ya. Taemin. Apa yang ingin kutanyakan?”

“Bolehkah aku mengganti pasanganku?” tanyaku.

“Apa alasannya?”

“Uhm…” Aku memutar otak. Ya ampun. Apa yang harus kukatakan pada songsaenim. “Uhm, kebetulan…rumahku dan rumah Jinri agak jauh…” Akhirnya kata-kata bohong itu meluncur dari mulutku.

“Saya sudah membagi kelompok ini dengan cukup adil, jadi saya tidak bisa merubahnya.”

“Tapi…”

“Maaf Taemin. Sayangnya keputusan saya tidak bisa diganggu gugat,” kata songsaenim.

Apa?! Tidak bisa di ganggu gugat? Kenapa seperti pengadilan agama saja?

Aku menurunkan tanganku sambil menatap Leeteuk songsaenim dengan tatapan kesal. Dasar guru menyebalkan! Aku melirik ke belakang—ke tempat Jinri. Ia tersenyum lebar ketika ia melihatku sedang menatapnya. Ya ampun… Kenapa aku harus sekelompok dengan yeoja paparazzi itu? Ditambah lagi, tugas kali ini adalah tugas karya tulis dan pembuatannya membutuhkan waktu yang agak lama.

Hhh… Aku harus sabar menghadapi cobaan ini.

 

$#@#$

“Jadi, kita akan menulis tentang apa?”

Aku hanya diam sambil menyeruput minuman yang aku pesan. Kulihat Jinri sedang berpikir sambil mengetuk (?) dagunya dengan jari.

“Bagaimana kalau tentang Pantai Eurwangni?” usulku karena aku sudah bosan melihat tingkahnya itu.

Ia tersenyum lebar. “Pilihan yang bagus.”

Aku hanya mengangkat bahu.

“Kapan kita akan mulai menulis?” tanyanya dengan menekan kata kita. Aku yang mendengarnya hanya menghela napas.

“Terserah. Yang penting jangan minggu ini. Aku sibuk.”

“Baiklah. Kalau begitu kita mulai minggu depan saja.”

 

One week later…

 

Aku berdiri di depan halte sambil mendengarkan lagu dari iPod. Aku sedang menunggu Jinri yang entah kemana. Dia menyuruhku untuk menunggu disini. Rencananya kami akan pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan karya tulis.

Hah? Kami?

Aku meringis memikirkan kata-kata itu. Bagaimana bisa ada kata kami antara aku dan Jinri?  Itu tidak mungkin. Perkataanku mengartikan seolah aku membenci Jinri. Aku bukannya membenci Jinri, hanya sedikit kesal. Dan ketika aku mendapat kelompok bersamanya, aku menjadi bertambah kesal. Sudah lagi masalah di keluargaku. Membuat mood-ku bertambah hancur.

“Anneyeong.”

Kukenali suara cempreng bernada ceria itu. Siapa lagi kalau bukan si paparazzi?

“Hai,” sapaku datar.

“Sudah siap?” tanyanya sambil memperlihatkan senyum khasnya.

“Tentu.”

 

@library

 

Setelah naik bis, aku dan Jinri berhenti di sebuah perpustakaan di Seoul. Kami memasuki perpustakaan yang terbilang cukup besar itu. Aku melihat Jinri sedang membuka-buka buku tentang fotografi. Melihat kesempatan itu, aku langsung melenggang pergi.

Aku berjalan ke rak bagian belakang. Kucari buku tentang Pantai Eurwangni. Kutelusuri tiap lemari tetapi tidak ketemu.

“Kau mau mencari ini?”

Aku menoleh ke belakang. Jinri sedang berdiri di depanku sambil mengacungkan sebuah buku. Kubaca judulnya, Pantai Eurwangni—A Beautiful Heaven.

“Dimana kau menemukannya?”

“Rak bagian depan.”

Aku menghela napas. “Ayo kita mulai bekerja.”

Kami pergi ke sebuah meja di sudut ruangan yang agak sepi dan duduk disana. Aku mendudukan pantatku. Jinri sedang membaca buku yang tadi ia temukan. Sedangkan aku hanya menatap langit-langit perpustakaan.

“Kau sedang ada masalah?”

Aku mengerjap kaget. Lalu kutatap Jinri. “Memangnya kenapa?” tanyaku dan bernada agak sinis.

“Kalau kau punya masalah, ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantumu,” tawarnya halus.

“Aku tidak punya masalah.”

“Jangan bohong. Aku tahu kau punya masalah. Aku bisa membacanya lewat matamu.”

“Sudah kubilang aku tidak punya masalah,” sergahku keras. Kenapa gadis ini mau mencampuri urusanku?

“Jika punya masalah, jangan dipendam sendiri. Karena itu akan menjadi beban di dalam hatimu dan bisa mengerogoti hatimu perlahan. Lebih baik membagi beban itu dengan orang lain daripada dipikul sendiri,” jelasnya panjang lebar.

Aku terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Jinri. Tidak seharusnya aku menyimpan beban ini sendiri. Aku menatap Jinri.

“Jadi, begini…” Aku mulai bercerita. “Kakak perempuanku sedang sakit ginjal. Dan ia tidak mau cuci darah. Katanya ia tidak mau menyusahkan orang tuaku yang telah bersusah payah untuk mencari biaya cuci darah. Orang tuaku sudah membujuk bahkan memaksa kakakku untuk cuci darah, tapi ia tidak mau.” Aku menghela napas. “Entah apa yang harus kami lakukan untuk membujuk kakakku.”

Jinri memajukan badannya. “Bilang pada kakakmu, untuk apa menyimpan penyakit seperti itu di dalam badannya. Itu tidak ada gunanya. Hanya membuat raga menjadi semakin sakit.”

Aku terdiam mendengar perkataan Jinri.

“Dan jika kakakmu tetap tidak mau cuci darah,” lanjut Jinri. “biarkan saja. Keluargamu ataupun kau tidak akan rugi jika ia tidak cuci darah. Justru dirinya sendiri yang akan rugi. Ia akan menyesal suatu hari nanti ketika pilihannya membuat badannya menjadi lemah dan ia harus terbaring di rumah sakit. Ia hanya bisa melihat keluarga serta teman-temannya yang melakukan aktivitas seperti biasa dari tempat tidur.” Jinri menatapku sambil tersenyum. “Aku yakin setelah kakakmu diberi pengertian seperti itu, dia akan mau cuci darah.”

Aku terpana mendengar penjelasan Jinri. Ternyata Jinri yang selama ini aku pikir jauh lebih berpikiran luas. Tak pernah kupikir tentang penjelasan Jinri selama ini. Tanpa sadar, aku tersenyum.

“Terima kasih, Jinri-ah.”

“Sama-sama.”

 

$#@#$

“Sudah kubilang aku tidak mau!”

Aku mendengar suara Hyorin nuna dari kamarku. Dia pasti sedang bertengkar dengan appa dan umma soal cuci darah. Aku menutup buku yang sedang aku baca.

“Aku tidak mau merepotkan umma dan appa.”

“Tapi sayang…” Kini giliran umma yang berbicara.

Aku bergegas turun dari kamarku. Kulihat Hyorin nuna duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Aku tidak mau membuat umma dan appa membanting tulang demi aku.”

“Kalau nuna tidak mau cuci darah, itu sama saja nuna tidak menghargai kerja keras appa dan umma,” kataku.

Hyorin nuna memandangku dengan tatapan kaget. “Apa maksudmu Taemin?!”

“Untuk apa nuna menyimpan penyakit seperti itu? Itu hanya membuat badan nuna menjadi semakin sakit. Lalu nuna akan menyesali pilihan nuna sendiri. Badan nuna akan semakin lemah lalu nuna akan terbaring di rumah sakit. Nuna hanya bisa memandangi teman-teman nuna yang bebas beraktivitas dari tempat tidur dengan tatapan menyesal. Apa nuna mau seperti itu?” tanyaku.

Hyorin nuna hanya memandangiku dengan tatapan tak percaya.

“Lagipula, jika nuna tidak mau cuci darah, itu sama namanya dengan tidak menghargai kerja keras orang tua kita. Nuna tidak kasihan pada umma dan appa yang sudah bekerja keras demi kesembuhan nuna?”

Hyorin nuna terdiam sambil bergantian menatap umma dan appa. Lalu ia berjalan ke kamarnya. Aku hanya berharap ia mau merubah pikirannya.

 

$#@#$

Aku berlari menghampiri Jinri yang sedang duduk di kantin sekolah sambil menyeruput es-nya.

“Jinri-ah, terima kasih!”

“Untuk apa?” tanyanya.

“Terima kasih untuk kata-katamu minggu lalu. Sekarang kakak perempuanku mau cuci darah,” kataku senang. Tadi pagi, Hyorin nuna keluar dari kamarnya setelah mengurung diri selama hampir seminggu. Lalu ia menghampiri umma dan appa sambil berkata ‘Aku mau cuci darah’. Tentu saja itu membuat keluargaku senang. Aku bercerita pada umma dan appa kalau semua itu berkat perkataan Jinri. Bahkan umma menyuruhku untuk mengajak Jinri ke rumahku.

Jinri tersenyum lebar. “Sudah kubilang ‘kan?”

“Terima kasih banyak. Apa yang bisa kulakukan sebagai ungkapan terima kasih?”

Ia berpikir sebentar. “Bagaimana kalau menemaniku pergi ke pantai Eurwangni besok sore? Sekalian kita mencari gambar untuk tugas kita.”

“Baiklah.” Aku duduk di samping Jinri. “Ngomong-ngomong, kau bisa ke rumahku minggu depan?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku bercerita kepada ibuku bahwa berkat perkataanmu, Hyorin nuna mau cuci darah. Lalu beliau menyuruhku untuk mengajakmu ke rumah. Kau mau ‘kan?”

“Tentu saja,” jawabnya sambil tersenyum.

 

$#@#$

Kutatap yeoja dihadapanku ini. Ia sedang memotret pemandangan Pantai Eurwangni dengan senyuman menghias wajahnya. Sinar matahari senja membelai wajahnya—menambah kesan kelembutan di wajahnya.

Beberapa kali ia memanggil namaku dengan suara khasnya untuk melihat hasil jepretannya.

“Oppa! Bisakah kau lihat hasil jepretanku?”

Aku menghampiri yeoja itu sambil tersenyum.

“Mana?” tanyaku.

“Ini.” Ia menunjukkan kamera coklatnya kepadaku. Kulihat sebuah pemandangan menakjubkan yang tercetak di layar kameranya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wow.

Aku tidak tahu kemampuan fotografinya sebaik ini.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Bagus. Darimana kau belajar memotret sebagus ini, Jinri-ah?”

Jinri menunjukkan eye-smilenya. “Aku tidak pernah belajar. Aku hanya memotretnya dengan naluri dan perasaanku.” Ia kembali mengangkat kameranya dan menjepret beberapa gambar.

Sosok wanita di hadapanku ini berbeda sekali dengan sosok wanita yang aku kenal beberapa minggu yang lalu. Dia berpikiran luas, positif, dan dewasa. Berbeda sekali dengaku yang kekanak-kanakan.

“Bolehkah aku memotretmu?” tanya Jinri sambil mengangkat kameranya.

“Tentu,” jawabku singkat. Aku tersenyum ke arah kameranya dan… jepret!

Kali ini aku tidak marah ia memotretku. Justru aku merasa senang.

Aku berlari ke arah Jinri untuk melihat hasil fotonya. Tiba-tiba saja aku tersandung batu dan terjatuh.

“Aww.” Aku meringis ketika darah keluar dari lututku.

“Oppa! Kau tidak apa-apa?” tanya Jinri sambil menghampiriku.

“Aku baik-baik saja.”

Jinri menatapku dengan tatapan heran.

“Apa?” tanyaku.

“Kau tidak menangis?”

“Hah?” Apa maksudnya?

“Biasanya seseorang akan menangis setelah ia terjatuh dan berdarah,” jawab Jinri dengan polos.

Aku tertawa mendengar jawabannya yang super polos itu. “Aku bukan anak kecil lagi,  Jinri. Lagipula menangis itu pantang bagi seorang laki-laki.”

Ia tersenyum. “Baiklah. Aku pegang kata-katamu jika laki-laki pantang menangis.”

Aku membalas senyumannya.

 

$#@#$

Kemana gadis itu?

Aku sudah menunggu Jinri selama berjam-jam di halte bus. Ia menyuruhku untuk menunggunya disini. Tapi ia tidak kunjung datang.

Aku melirik jam tanganku.

Sudah hampir jam 5 sore. Padahal aku menunggu disini dari jam 3. Kenapa ia tidak datang? Bukankah ia sudah berjanji untuk datang ke rumahku hari ini? Atau ia memang mengingkari janjinya?

Aku berusaha untuk menepiskan pikiran itu. Jinri adalah gadis yang selalu menepati janjinya.

Langit mulai mengeluarkan air matanya. Aku hanya menatap hujan yang perlahan semakin deras. Aku merapatkan jaket yang aku pakai dan memutuskan untuk pulang.

 

$#@#$

Gadis itu membuatku bad mood.

Kemarin aku sudah menunggunya sampai hujan turun. Bahkan ibuku sudah repot-repot membuat banyak kue dan jajan hanya untuk kedatangan gadis itu. Aku sudah meneleponnya, tapi ia tidak mengangkat. Sikapnya kemarin benar-benar membuatku kesal.

“Anneyeong.”

Aku mengangkat kepalaku dan melihat gadis itu dengan senyumannya yang membuatku muak.

“Mau apa kau kesini?” tanyaku dingin.

“Aku hanya ingin menyapamu,” jawabnya—masih dengan senyum menghias wajahnya.

“Pergilah,” usirku dengan agak kasar.

“Kau punya masalah?”

“Tidak,” jawabku ketus.

“Lalu ada apa? Apa aku membuat kesalahan?”

Kesabaranku mulai habis. “Tidak! Yang bersalah adalah aku. Kesalahanku adalah kenapa kemarin sore aku mau saja menunggumu di halte bus sampai berjam-jam dan kau tidak kunjung datang. Lalu membiarkan ibuku membuang uang dan tenaganya untuk membuat kue sebagai tanda terima kasih padamu. Dan kesalahan terbesarku adalah kenapa aku percaya padamu!” seruku. Untung saja kantin sudah sepi, jika tidak, perdebatan ini akan menarik perhatian.

“Aku minta maaf karena aku tidak datang dan tidak memberitahumu…” kata Jinri dengan nada menyesal. “Aku benar-benar…”

“Cukup!” potongku. “Aku tidak butuh penjelasanmu karena aku yakin kau tidak bisa menjelaskannya. Benar begitu?” tanyaku dengan nada sinis.

Ia hanya menunduk. “Aku tahu aku bersalah. Dan aku sangat menyesal.” Ia mengangkat wajahnya dan menatapku. “Sebenarnya, kemarin aku tidak datang karena aku sibuk mengedit foto jepretanku.”

“Oh… Begitu. Lalu bagaimana hasilnya?” tanyaku sarkastik.

“Kau mau melihatnya?” tanyanya sambil menyodorkan kamera cokelatnya padaku.

Sebenarnya bagaimana jalan pikiran yeoja ini?! Apa ia benar-benar tidak mengerti?!

Aku menarik kameranya dan membantingnya ke tanah. Dalam sekejap, kamera itu hancur berkeping-keping. Kulihat Jinri mengerjapkan matanya kaget.

“Apa kau pikir dengan melihat hasil fotomu bisa memaafkanmu?” tanyaku sambil berjalan meninggalkannya.

 

$#@#$

Hatiku merasa resah.

Setelah aku membentak Jinri, aku merasa menyesal. Tidak seharusnya aku marah-marah seperti itu. Bahkan aku sampai membanting kameranya. Aku merasa sangat tidak enak.

Dan kini perasaanku bertambah resah karena sudah seminggu Jinri tidak masuk sekolah. Ia bahkan tidak membuat surat ijin. Bagaimana kalau ia tidak masuk karena marah padaku?

Aduh… Aku harus berbuat apa kalau begini? Sebaiknya aku pergi ke rumahnya nanti sore.

 

$#@#$

Aku berdiri di depan pintu rumah Jinri dengan keringat dingin mengucur dari dahiku. Aku berdoa dalam hati. Semoga saja Jinri tidak marah padaku.

Kuketuk pintu rumahnya dengan pelan.

“Anneyeong. Ada orang di rumah?”

Tiba-tiba saja pintu dibuka oleh seseorang. Kulihat seorang wanita muda berdiri di depan pintu.

“Siapa kau?” tanyanya.

“Aku… aku teman Jinri,” jawabku.

“Kau Lee Taemin?”

Aku mengangkat alisku. “Darimana Anda tahu nama saya?”

Ia tersenyum. “Jinri… ia selalu menceritakan tentang dirimu. Mari masuk.”

Aku memasuki rumah Jinri. Rumah itu kelihatan kecil tapi rapi. Kulihat beberapa foto keluarga. Ada foto Jinri bersama keluarga saat ia masih kecil.

“Perkenalkan. Aku kakak Jinri. Namaku Sunghee,” kata Sunghee sambil membungkukkan badannya.

“Senang berkenalan denganmu, Sunghee-ssi. Apa Jinri ada di rumah?” tanyaku.

Mendengar pertanyaanku, wajah Sunghee nuna berubah menjadi pucat. “Jinri… dia tidak ada disini,” katanya pelan.

“Lalu ia dimana?”

“Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kau harus melihat kamar Jinri dulu,” kata Sunghee.

Aku hanya menganggukkan kepalaku walaupun aku bingung. Yang penting aku bisa bertemu dengan Jinri.

Sunghee naik ke lantai atas. Aku pun mengikutinya dari belakang. Lalu kami berdiri di depan sebuah pintu. Sunghee membuka pintu itu dengan pelan. Kami pun masuk ke dalam kamar itu.

Betapa kagetnya ketika kulihat kamar Jinri. Dinding kamar Jinri dipenuhi dengan berbagai foto yang sepertinya hasil jepretannya sendiri. Ia memasang semua foto yang ia ambil di sekolah. Di pojok kamarnya ada sebuah computer dan printer serta beberapa lembar kertas foto yang berantakan. Sepertinya Jinri suka sekali mengedit dan mencetak hasil fotonya.

Aku mendekati meja belajar Jinri. Aku melihat sebuah buku berukuran agak besar. Aku menatap Sunghee nuna yang berdiri di depan pintu.

“Bolehkah aku…”

Ia mengangguk.

Aku membuka buku tersebut. Betapa kagetnya ketika aku melihat fotoku terpajang disitu. Foto pertama adalah fotoku saat aku datang ke sekolah. Aku terlihat sangat sipit disitu karena saat itu aku kaget ketika Jinri memotretku. Ia menuliskan sesuatu di bagian bawah foto.

“Datang ke sekolah dengan senyuman^^… Hahaha, wajahnya lucu sekali.”

Foto kedua menunjukkan saat aku sedang kantin sambil menatap kimbab buatan ibuku dengan tatapan tidak bernafsu.

“Kenapa ia tidak memakan kimbab-nya? Apa tidak enak? Kalau begitu, aku bisa membuatkannya satu. Hahaha^^”

Foto ketiga. Aku sedang dihukum oleh Kyuhyun songsaenim karena tidak sengaja tertidur di kelas.

“Kasihan sekali ia harus dihukum Kyuhyun songsaenim. Tapi itu salahnya sendiri karena ia tertidur di kelas…”

Aku membalikkan satu persatu halaman. Aneh sekali. Hampir semua foto disitu adalah fotoku. Aku berhenti ketika melihat suatu foto. Difoto itu terlihat kamera Jinri yang aku banting di sekolah.

“Dia membanting kameraku. Sekarang bagaimana aku bisa mengingatnya jika ia menghancurkan kameraku? Untungnya aku masih punya kamera ponsel. Yah… walaupun hasilnya tidak sebaik dengan kamera lamaku.”

Keningku berkerut sama ketika membaca tulisan dibawahnya. Apa maksud dari semua ini?

“Sunghee-ssi, apa maksud semua ini?” tanyaku sambil menatap Sunghee. “Kenapa Jinri memasang foto-foto itu?”

“Dia ingin agar dia bisa selalu mengingat kenangannya  di dunia,” jawab Sunghee dengan nada pelan.

Tiba-tiba aku teringat dengan kata-kata Jinri.

Aku ingin agar aku selalu mengingatmu…

Jinri selalu mengatakan itu jika aku bertanya padanya kenapa dia selalu memotretku.

“Maksudnya apa?” tanyaku masih tak jelas.

“Jinri… ia terkena kanker otak satu tahun yang lalu.” Aku terlonjak kaget mendengar perkataan Sunghee nuna.

“Saat penyakit itu berhasil dideteksi dokter, kankernya sudah menyebar ke seluruh otaknya. Dokter meramalkan jika umur Jinri hanya sekitar enam bulan lagi. Tapi kenyataannya, Jinri bisa bertahan selama hampir setahun.

“Beberapa bulan yang lalu, kanker itu bertambah parah. Ketika kankernya kambuh, Jinri akan merasa pusing dan kepalanya akan merasakan sakit yang amat sangat. Setelah itu ia akan pingsan. Ia akan bangun setelah beberapa menit. Tapi, setelah ia bangun, ia mengalami amnesia.

“Setelah menyadari hal itu, Jinri memutuskan untuk memotret segala kenangannya di dunia dengan kameranya. Ia melakukan itu agar ia bisa terus mengingat memorinya.”

Secara tak sadar, air mataku menetes. Aku tidak menyangka. Gadis seperiang Jinri ternyata mengalami penyakit yang sangat parah. Tapi ia tetap tersenyum dan tertawa. Ia melakukan itu demi semua kenangannya di dunia.

Aku membuka lembaran terakhir buku jurnal milik Jinri. Aku melihat fotoku dimana aku tersenyum sambil menghadap langit senja di Pantai Eurwangni. Aku membaca tulisan di bawahnya.

“Ia tersenyum. Seandainya aku bisa hidup lebih lama, aku pasti bisa terus melihat senyumannya…”

Setelah membaca kalimat terakhir itu aku tidak bisa menahan diriku. Aku menangis. Menangisi Jinri. Menangisi diriku sendiri. Menangisi sikapku yang tidak melihatnya selama ini. Padahal ia selalu melihatku.

Kenapa?

Kenapa aku tidak pernah menganggapnya selama ini? Kenapa aku selalu membenci keberadaannya di dekatku? Kenapa aku selalu menganggapnya penganggu? Kenapa aku baru melihatnya di saat semuanya sudah terlambat?

“Kau tahu kenapa Jinri bisa bertahan selama itu?” tanya Sunghee.

Aku hanya diam.

“Itu karena kau. Jinri selalu bilang, ia bertahan karena ingin selalu melihat senyumanmu. Senyumanmu membawa kekuatan bagi dirinya. Jika ia melihat senyumanmu, ia merasa jika ia sudah sembuh dari kankernya. Ia merasa ia akan hidup lebih lama, walaupun sebenarnya waktunya tidak lama lagi.”

Mendengar perkataan Sunghee nuna, badanku bergetar. Aku menangis semakin keras.

“Bisakah kau memberitahu dimana Jinri berada?” tanyaku pada Sunghee nuna.

 

$#@#$

Aku menggenggam pintu kamar rumah sakit yang terasa dingin. Kukumpulkan seluruh kekuatanku untuk membukanya. Kulihat seorang wanita paruh baya duduk di samping Jinri sambil menatap Jinri. Mungkin ia ibu Jinri.

“Permisi…” Aku masuk ke dalam kamar.

Ibu itu menoleh ke arahku. “Kau Lee Taemin?” tanyanya.

Aku mengangguk kecil.

“Aku rasa, Jinri menunggumu. Sebaiknya aku keluar.” Ibu itu keluar dari kamar rumah sakit.

Aku menatap wajah Jinri yang nampak pucat. Ia terlihat tenang dalam tidurnya. Aku berjalan menghampiri tempat tidur Jinri dan duduk di sebelahnya. Kutatap matanya yang terpejam. Kuberanikan diri untuk membelai pelan pipi Jinri. Tiba-tiba Jinri membuka matanya.

“Oppa…” panggilnya lemah. Bahkan disaat seperti ini, ia masih berusaha untuk tersenyum.

Aku tersenyum. “Kau masih mengingatku?”

Ia menunjukkan jarinya yang kurus ke arah sebuah foto yang diletakkan di meja sebelahnya. Itu adalah fotoku ketika di Pantai Eurwangni.

“Aku selalu berusaha untuk mengingatmu,” kata Jinri lemah. Senyum masih menghias wajahnya.

Ya Tuhan… Melihat senyumannya membuatku ingin sekali menangis. Senyuman itu mengingatkanku jika umur Jinri tidak lama lagi.

“Kenapa kau memasang foto itu?” tanyaku sambil mencoba untuk tersenyum.

Jinri menatap foto yang ada disampingnya. “Itu adalah foto terindah yang pernah kudapat. Ketika melihat foto itu, aku merasa kuat. Aku merasa bisa bernafas lebih lama lagi, walaupun kenyataannya tidak.”

Aku tidak dapat menahan air mataku lagi. Jinri bertahan untuk tetap sembuh hanya karena aku. Dia tersenyum sambil menahan rasa sakitnya. Tapi aku menambah rasa sakitnya dengan tidak menganggapnya.

“Jangan menangis…” kata Jinri.

Aku menatap Jinri sambil tersenyum. Aku menggenggam erat tangan kurusnya.

“Kau bilang laki-laki itu pantang menangis.”

“Laki-laki harus terlihat lebih tegar,” kataku.

“Tapi pada kenyataannya, jika kau tidak sekuat itu, air mata akan mengalir dari matamu.” Aku tertegun mendengar perkataan Jinri. “Air mata adalah bahasa yang paling jujur. Ia bisa mengungkapkan apa saja yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata.”

Inilah Jinri yang baru beberapa minggu lalu kukenal. Begitu dewasa dan ia selalu berpikiran positif. Ia mampu merangkai kata-kata indah yang bisa menyentuh perasaan orang.

“Jika kau ingin menangis, menangislah… Jangan tahan semua perasaan yang ada di dalam hatimu.”

Aku tersenyum. “Ya… kau benar.” Kami terdiam beberapa saat. “Apa kau tidak akan berangkat sekolah lagi?”

“Aku ingin sekali sekolah. Tapi aku tidak bisa mengingat semua pelajaran yang sudah kuterima,” jawabnya. Disaat seperti ini, ia bahkan berusaha untuk membuatku tertawa. Padahal itu tugasku. Aku merasa sangat tidak berguna.

“Maaf karena aku menghancurkan kameramu. Aku tahu kamera itu sangat berharga bagimu.”

“Tidak apa-apa. Aku masih punya kamera ponsel. Lagipula, jika kamera itu masih ada, aku tidak akan bisa menggunakannya lagi,” katanya.

Air mataku turun lagi. “Apa kau tidak takut dengan semua ini?” tanyaku dengan nada bergetar.

Ia tersenyum. “Aku selalu berusaha untuk mencari sisi positif dalam segala hal. Dan aku menemukannya sekarang. Jika aku sudah tiada, aku akan melebur bersama semua kenang-kenanganku di dunia. Aku tidak perlu untuk mengingatnya lagi karena aku sudah melebur bersamanya.”

“Tapi kau tidak bisa melihat keluarga dan teman-temanmu lagi.”

“Aku akan melihat mereka dari surga.”

“Lalu bagaimana denganku?” tanyaku. “Aku tidak akan bisa melihatmu lagi.”

Jinri mengambil sesuatu dibalik bantalnya. Ternyata selembar foto. Ia menyerahkannya padaku. “Kau bisa melihatku lewat foto itu. Aku juga akan melihatmu lewat foto itu. Dan jika kau merindukan aku, datanglah ke Pantai Eurwangni setiap senja menjelang. Panggil namaku dan aku akan datang.”

Kutatap foto yang diberikan Jinri padaku. Di foto itu terlihat Jinri sedang tersenyum. Aku mengangkat wajahku dan menatap Jinri. Menatap wajahnya membuat hatiku bertambah sakit. Aku berharap bisa melihatnya terus, tetapi ia akan pergi jauh ke dunia lain. Aku berharap bisa mendengar tertawaan dan candaannya terus, tetapi ia suara di surga akan meredamnya. Aku berharap bisa memilikinya, tetapi tidak bisa karena Tuhan yang akan memilikinya.

“Aku rasa sudah waktunya…”

Aku menatap Jinri. “Ada apa?”

Jinri tersenyum. “Selamat tinggal Oppa.”

Air mataku turun semakin deras. “Tidak! Jinri… jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku mohon. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, Taemin oppa.” Jinri mengeratkan genggaman tangannya di tanganku. Perlahan ia menutup matanya.

“Jinri…. Jinri…” Aku menggoncang-goncangkan badannya. Tapi ia tidak bergeming. “Jinri… Andwae!!” teriakku.

Tiba-tiba aku merasa semuanya lenyap begitu saja. Semuanya menjadi kenangan semata. Aku merasa hatiku sudah tidak berada lagi di tempatnya.

 

$#@#$

One week later…

 

Aku berjalan menyusuri pantai. Kutatap langit senja di ufuk barat. Sekelebat kenangan muncul di otakku. Kupejamkan mata agar bisa meresapi kenangan itu. Aku dan Jinri pergi ke Pantai Eurwangni. Saat itu Jinri memotretku sambil tertawa. Lalu aku melihat diriku terjatuh karena tersandung batu dan Jinri datang untuk menolongku. Semuanya muncul begitu saja.

Aku membuka mataku. Sekarang aku sudah melupakan semuanya. Aku bukannya melupakan Jinri, aku hanya melupakan kesedihanku. Aku berusaha untuk tegar dan tetap kuat. Aku tahu Jinri dapat melihatku di surga. Dan aku tahu Jinri mencintaiku. Begitu juga aku. Aku akan tetap mencintainya.

Aku duduk di bawah pohon kelapa. Kuambil selembar foto yang diberikan Jinri padaku. Aku menatap foto itu. Kulihat senyum khasnya menghiasi wajahnya. Betapa kurindukan senyuman itu.

“Aku merindukanmu Jinri…” ucapku pelan.

Tiba-tiba angin bertiup pelan. Menerpa rambut dan wajahku. Aku merasa suasana di sekelilingku berubah dari dingin menjadi hangat. Sama seperti saat aku bersama Jinri…

Aku menutup mataku, berusaha untuk menikmati suasana. Kuhirup udara yang nyaman ini agar memenuhi paru-paruku. Aku tersenyum. Dapat kurasakan kehadiran Jinri disini. Aku merasa sangat bahagia. Terima kasih kau telah datang, Jinri…

Aku membuka mataku. Kutatap langit senja. Aku tahu kau bisa melihatku dari sana. Dan aku tahu sekarang kau sedang berada disisiku.

“Aku mencintaimu…”

Angin bertiup lagi. Pohon-pohon melambai menyambut angin itu, seolah-olah berkata ‘aku juga mencintaimu’.

Aku berjanji di dalam hati. Aku akan selalu melihatmu…

 

The End

Readers ada yang nangis gak waktu baca FF ini?

Saya waktu ngetik FF ini, nangis bombay. Beneran deh… Saya bisa ngerasain perasaannya Tataem gimana. Malahan ibu saya ampe heran kenapa saya nangis sendiri.

Percaya nggak? Saya dapet ide FF ini pas saya lagi UTS! Waktu itu kan lagi pelajaran Bahasa Jawa, lha waktu itu ada soal tentang basa krama, saya ngelamun karena saya gak bisa basa krama. Eh, tiba-tiba aja ketiban ide dari langit #lebeh

Yang penting, jangan lupa buat komen!!

 

14 responses

  1. baguuus!!!
    aku juga nyaris nangis😀.
    Tapi pas bagian akhirnya kok sedikit kurang dramatis ya?
    atau perasaan aja?
    hehehe, tapi intinya FF-nya bagus!
    Hwaiting!

  2. annyeong..
    chingu , kau sudah berhasil membuatku menangis ..
    pas aku baca yg sulli ada di rs , aku nangis kejer …
    pokoknya perfect banget deh buat ff yg sedih banget ..
    chingu sequel nya dong .. #plakk
    hwaiting … gomawo …😀

  3. hiks,hiks…beneran deh aku nangis,chingu. hiks…andai aku taemin oppa,pasti dah nangis berat dah chinguu… good job. kapan-kapan bwt yg lebih super duper mega ultra sedih dari ini yaa…. tpi,sumpah kerennnnnn bgt!!!! hiks..

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s