Unforgettable

Unforgettable

Author by Icha / Lee Hyeo Rin

Genre > Romantic

Rating > G

Henry Lau / Mochi [Super Junior M]

Lee Hyeo Rin [as You]

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

~          ~          ~

Henry duduk di sebuah taman, ia menyandarkan kepalanya menatap langit yang mulai berwarna jingga karna matahari hampir separuh terbenam udara pun semakin dingin. Di taman ini, sunset dan sunrise selalu dapat terlihat dengan sempurna saat cuaca sedang bagus.

Henry tidak peduli, ia bukannya pergi malah makin mengeratkan pelukannya pada sebuah benda. Sebuah violin, violin itu memang bukan violin model terbaru. Itu violin lama yang sampai saat ini masih di pakai oleh Henry.

Henry mendesah resah, ia mengeluarkan violin itu dari dalam tas khususnya dan mulai memainkan violin itu, terdengar alunan nada yang sangat indah namun pilu dan menyayat hati. Namja putih berpipi chubby itu mulai menitikkan air matanya saat ia meresapi dan terlarut dalam alunan music yang ia mainkan sendiri.

Henry menghela nafas panjang, ia berusaha untuk menenangkan fikirannya, ia menghapus air matanya dan memutuskan untuk menyudahi permainan violinnya. Angin malam mulai menghembus kencang, dan suasana taman kota pun makin sepi dan senyap. Henry melangkahkan kakinya keluar dari taman, penantian hari itu tidak membuahkan hasil.

~          ~          ~

            Kamu telah berdiri selama hampir satu jam di antrian lautan amnesia yang hendak menyaksikan sebuah konser. Kaki mu serasa mau copot dan sudah beberapa kali kamu memijat – mijat betismu. Satu jam berlalu, dan akhirnya gerbang pun terbuka.

Berduyun – duyun namun teratur, itulah yang selalu kamu rasakan tiap kali kamu menonton konser mereka. Petugas – petugas keamanan yang sangar namun ramah mulai memeriksa barang bawaan para penonton yang masuk. Dan panitia bertugas untuk memeriksa tiket masuk serta memberikan sebuah souvenir.

Kamu berdesak – desakkan di antara mereka, seringkali kamu terjepit hanya karna kamu menyelinap untuk mencapai bagian pinggir panggung, konser pun di mulai dan kamu dapat melihatnya dengan leluasa dari pinggir panggung ini.

Kamu tersenyum kecil saat melihatnya yang penuh semangat dan energik menyanyi dan menari. Hatimu menghangat melihat senyumnya yang mengembang dari bibirnya dan lambaian tangannya saat ELF meneriakkan namanya.

Bagimu, dialah yang paling bersinar di matamu. Walaupun banyak ELF yang lebih menyukai evil magnae, fishy, atau bahkan anchovy sekalipun, tapi bagimu dia tetap yang berarti dalam hidupmu. Karna biar bagaimanapun, dia pernah masuk ke dalam hidupmu. Dulu..

Tubuhmu membeku saat kamu menangkap matanya tengah memandangmu. Ia memandangmu dengan focus dan tajam, tatapannya hanya terpaku padamu di satu titik. Tatapan mata yang penuh kerinduan, namun protective, seolah di sana hanya kamulah yang bisa ia lihat, seolah apabila ia mengalihkan pandangannya darimu walau sedetikpun, ia akan kehilanganmu. Dan memang itulah yang akan kamu lakukan.

Saat ia berlari sambil ngedance untuk berkumpul dengan member yang lainnya di tengah panggung, kamu menenggelamkan dirimu dalam lautan sapphire blue.

Kamu masih bisa melihatnya dari layar besar yang di pasang di tempat konser itu, sekarang bagiannya untuk bermain violin, part yang paling kamu sukai dan paling kamu tunggu – tunggu setiap kali kamu menonton konser ini. Ternyata ia masih menggunakan violin lama itu, dan memainkan nada yang sama di tiap konsernya, nada yang sendu dan pilu yang dapat membius para ELF hingga dapat membuat mereka menangis.

Padahal yang kamu tau, ketika kamu membaca di web tentang mereka, ia baru saja membeli sebuah violin baru dengan model yang sangat indah. Tapi kenapa dia masih menggunakan violin lama itu?

~          ~          ~

            Henry kembali datang ke taman, di jam yang berbeda kali ini, setelah konser berakhir. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang hampir rontok sekalipun.

Henry selalu datang membawa barang yang sama, violin. Violin yang selalu ia pakai di setiap konsernya walau beberapa hari yang lalu ia baru saja membeli sebuah violin.

Henry tidak pernah terfikir sedikitpun untuk memakai violin yang baru itu, mengingat betapa berharganya violin yang lama ini baginya. Orang yang memberikan violin itu sangat berarti, dan Henry sangat menyesali. Henry baru menyadari betapa berharganya orang itu di saat orang itu telah menghilang dari hidupnya entah kemana.

Henry memandangi langit malam yang menghitam. Kali ini di hiasi oleh kerlip bintang – bintang. Henry tersenyum miris, ia mengingat bahwa orang yang memberikan violin itu sangat menyukai bintang. Mengingat orang itu selalu membuat Henry di landa rasa bersalah, karna biar bagaimanapun orang itu menghilang karna sikapnya yang kasar. Ia mulai memainkan violinnya lagi dengan nada yang selalu sama, sendu..dan pilu..memecah keheningan malam yang sunyi di taman itu.

~          ~          ~

            Henry menunggu dan terus menunggu, ia selalu datang ke taman itu setiap harinya dengan membawa sejuta harapan yang besar. Yaitu bertemu dengan orang itu. Meskipun begitu ia tetap konsisten dengan jadwalnya bersama Super Junior M.

Hari ini Hnery sedang tidak ada jadwal sama sekali, ia memiliki waktu yang banyak untuk pergi ke taman. Setelah ia berpamitan dengan Zhou Mi, ia berjalan menuju taman itu dengan membawa violinnya.

Hari ini cuaca sangat cerah, matahari bersinar dengan indahnya sehingga banyak orang yang memutuskan untuk menikmati cuaca yang indah ini di taman kota. Begitu sampai di depan taman, Henry sedikit tercengang melihat betapa ramainya taman hari ini, dan Henry melihat kebahagiaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah setiap orang yang berada di situ.

Henry melewati sebuah keluarga yang sedang berpiknik, membawa keranjang makanan dan bermain bersama seorang anaka balitanya yang mungil dan lucu, Henry melewati seorang kakek dan nenek yang sedang berjemur menikmati hangatnya matahari di bangku taman, Henry melewati sepasang anak SMA yang sedang menikmati ice cream di dekat kakek dan nenek itu. Semua terlihat sangat berbahagia di hari yang cerah ini.

Berbanding terbalik dengan Henry, ia memeluk violinnya, berjalan melewati orang – orang tersebut dengan tatapan yang kosong menuju sebuah bangku taman yang juga kosong. Bangku yang selalu di tempati oleh Henry, di taman yang seramai ini semua bangku taman terisi penuh, namun tidak dengan bangku itu. Semua orang seakan telah mengetahui bahwa bangku itu hanya untuk Henry.

Henry duduk di bangku itu, ia meletakkan tas khusus violinnya di sebelahnya, ia memandang bangku kosong yang terisi oleh violinnya tersebut. Dulu, ia sangat bahagia dan bisa menikmatai udara cerah seperti ini bersama orang itu.

Seseorang yang selalu ada untuknya, seseorang yang selalu mendukungnya saat ia mengikuti audisi SM Ent. Seseorang yang berusaha membelanya mati – matian saat ia di hujani kritik dan ketidaksukaan para ELF waktu dulu ia dan Zhou Mi di nyatakan sebagai anggota baru dari sub group Super Junior.

Henry mengeluarkan violin dari dalam tasnya, ia menatap benda yang berada di pangkuannya ini dengan rasa bersalah. Apa yang ia berikan untuk orang itu? Henry selalu menyepelekannya, ia hanya datang pada orang itu di saat ia susah, tapi di saat ia senang, ia meninggalkannya dan menganggapnya sebagai pengganggu kesenangan orang.

Henry malah menyuruhnya pulang ketika hari dimana Henry di panggil untuk audisi SM Ent. Bagi Henry, orang itu terlihat sangat memalukan karna ia selalu melompat – lompat seperti kelinci seraya menyamakan langkahnya dengan langkah Henry di sepanjang koridor gedung SM Ent sambil mengucapkan kalimat ‘Kamu pasti bisa Mochi, Wo Ai Ni..’

Henry mengucapkan kalimat yang pedas, terlalu pedas malah sampai baru kali ini ia melihat mata orang itu berkaca – kaca menahan tangis. Orang yang selalu tersenyum dan penuh semangat itu menangis karenaku.

“kau tidak perlu melaukan hal yang nggak penting dan nggak kamu kuasai. Kalau bicaramu salah sedikit, bisa berakibat fatal bagiku dan Zhou Mi gege, bisa – bisa ELF malah makin membenci kami!!”

“tapi..”

“udahlah, kamu tuh ggak tau apa – apa tentang dunia kami. Jangan ikut campur. Udah ada manager dan para gege dari Super Junior yang membantu dan membela kami setiap saat.”

Orang itu mengigit bibir bawahnya, matanya berkaca – kaca. Saat itu Henry sedikit menyesali tindakan kasarnya itu, namun Henry udah cukup gerah meladeni orang itu. Orang itu berbalik, ia berlari dengan setengah menangis entah kemana. Zhou Mi pun sempat memarahi Henry karna di anggap Henry terlalu keras. Sejak saat itu, keberadaan orang itu tidak pernah Henry ketahui, ia menghilang bak di telan bumi.

~          ~          ~

            Hari mulai menjelang tengah malam lagi, Henry masih duduk di bangku taman. Henry mengusap wajahnya dengan telapak tangannya dan mulai memainkan violinnya lagi.

‘aku terus menunggumu disini..kenapa kamu tidak pernah datang?’

Henry mulai meneteskan air matanya.

‘aku benar – benar telah melukai hatimu? Aku minta maaf.. sampai kapan kau siksa aku untuk menunggumu di sini? Aku mulai menyerah..’

‘aku tau kau selalu ada di antara ribuan bintang, tapi kenapa kau tak pernah datang padaku?’

‘tolong maafkan aku, temuilah aku di sini seperti janjimu padaku…’

~          ~          ~\

            Kamu membungkukkan badanmu seraya mengucapkan terima kasih dan tersenyum pad managermu. Setelah keluar dri ruangan itu, kamu mendekap erat amplop putih yang berisi lembaran uang hasil kerja mu bulan ini. Kamu merasa sangat bahagia hari ini.

Memang jumlahnya tak banyak, namun dengan gaji yang kamu dapatkan hari ini bisa menggenapi jumlah uang yang telah kamu kumpulkan sebelumnya untuk membeli sebuah barang yang kamu inginkandari dulu, dari 2 tahun yang lalu.

Di kota yang kecil ini, tidak mudah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Bagimu, bekerja di kedai kecil seperti ini saja sudah merupakan sebuah keberuntungan untuk menghidupi dirimu di sini, untuk makan, pembayaran cicilan apartement, tabungan, dan simpanan untuk membeli barang tersebut.

Kamu melirik arloji di lenganmu, sudah waktunya untuk pulang. Denagn langkah yang riang kamu menuju lockermu dan mengambil tasmu. Hari ini kamu akan langsung membeli barang itu, sambil bersenandung kecil, kamu pergi menuju toko music.

~          ~          ~

            Henry menyeret kakinya dengan malas menuju taman, hari ini genap 2 tahun ia menunggu orang itu. Henry sudah mulai menyerah, ia kembali duduk di bangku taman yang biasa.

Kali ini Henry datang tepat di saat matahari terbenam, Henry memutuskan tidak akan terlalu lama menunggu seperti saat – saat sebelumnya.

‘aku terlalu lelah menunggu, tapi aku ingin bertemu denganmu..bisakah kamu menepati janjimu? Menemuiku?’

Hati kecil Henry bicara. Henry menatap langit dengan mata yang menerawang. Ia menggosok – gosokkan telapak tangannya untuk mencari kehangatan di tengah udara yang makin dingin malam itu. Tetesan air hujan jatuh rintik – rintik tepat di wajah Henry, Henry menggeleng sendu dan menghela nafas panjang.

‘mungkin ini saatnya aku menyerah.’

Henry buru – buru bangun dari posisi duduknya, ia tidak ingin kehujanan apalagi ia sedang membawa violin kesayangannya. Ia memsakukkan benda yang berharga itu kembali ke dalam tasnya, segera ia merapikan jaketnya, menyelempangkan tasnya di bahunya dan membalikkan badannya.

Sebuah tangan mungil memeluknya dari belakang. Henry tertegun.

“Mochi.. wo ai ni..” bisiknya tepat bersamaan dengan hujan mulai mengguyur bumi. “datanglah ke pertigaan jalan dekat taman ini, aku menunggumu di sana.”

Pelukannya terlepas, sementara itu Henry masih tetap dalam posisinya. Ia terlalu shock mendapati kejadian tiba – tiba itu. Henry tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapapun, hanya samar – samar bayangan pohon yang ia lihat di tengah derasnya hujan yang turun.

~          ~          ~

Kamu memandang benda yan tadi kamu beli di toko music, benda itu terbungkus dengan rapih. Walau sedikit membuatmu kerepotan karna barang yang kamu beli bukanlah barang yang kecil. Tapi hatimu senang bukan main mengingat kamu akan menuntaskan janjimu padanya.

Janji yang membuatmu sering di landa rasa bersalah, karna janji itu telah terlalu lama kamu buat. Dan kamu sangsi apakah dia masih mau menunggumu?

Butuh waktu hampir 2 jam dari kotamu untuk mencapai tempat yang kamu janjikan padanya dulu. Sementara itu langit mulai berwarna keabu – abuan, dan tak lama rintikan air hujan turun. Kamu cemas hujan akan membuat barang yang kamu beli menjadi rusak.

Kamu turun dari bis di sebuah halte, dari halte itu kamu hanya perlu menyebrang ke pertigaan jalan dan berjalan sedikit maka sampailah di tempat itu. Kamu kerepotan mencari posisi yang nyaman untuk membawa benda itu karna benda itu selalu menghalangi pandanganmu.

Kamu merasakan sesuatu yang keras menghantam tubuhmu. Pandanganmu gelap seketika dan bau anyir darah menyeruak menusuk indra penciumanmu. Tapi kamu masih dapat merasakan seseorang mengguncang – guncangkan tubuhmu dan meneriakkan namamu.

Kamu mendegarnya, kamu mengetahui suaranya walau semuanya gelap. Suara yang selalu kamu rindukan, suara yang selalu menyanyikan lagu – lagu yang kamu sukai di bangku taman, suara yang sekarang sudah tak pernah kamu dengar lagi untuk memanggilmu atau berbicara denganmu, suara itu hanya dapat kamu dengar di tv atau di setiap konsernya. Namun suara ini sekarang sangat dekat denganmu.

Kamu memaksakan membuka matamu, walau kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi kamu tau siapa dia.

“Mochi..wo..ai..ni..” ucapmu lirih dan terbata – bata. Dia..Henry..

“Hyeo..bertahanlah..” Henry menggenggam tanganmu erat, ia menangis terisak – isak.

Kamu mengumpulkan kekuatan untuk menjulurkan tanganmu ke arahnya. Menyentuh pipinya yang lembut dan kenyal, lalu mengusap butiran bening itu perlahan. Kamu memaksakan untuk dapat menyentuhnya.

“lihat, aku bawain kamu violin baru. Seperti…janjiku..kan?” kepalamu terasa sangat sakit, kamu meringis dan merintih.

“aku nggak perlu janji itu, aku perlu kamu Hyeo..aku ingin kamu…” ratapnya.

“kenapa..kamu..masih pakai vi..olin yang lama itu?”

“itu pemberian darimu Hyeo-ah..aku nggak bisa menggantikannya..”

Pandanganmu menggelap lagi, kamu mulai kehabisan nafas, sekujur tubuhmu sakit semua. “pakai violin baru ini…violin itu udah..nggak layak..di pakai..”

Henry berteriak frustasi “aku nggak perduli dengan violin!!!! Bertahan Hyeo!!! Bertahan!!!” tangisnya makin kencang.

Kamu berharap kamu bisa mengabulkan keinginan Henry. Namun kamu tidak mau menjanjikan apa – apa lagi padanya. Kamu takut membuatnya menunggu terlalu lama lagi.

“Hyeo..wo ai ni..” katanya di tengah isakannya.

Kata – kata yang selalu ingin kamu dengar dari dulu. Dan sekarang sudah terucap, cintamu telah berbalas, kamu tersenyum lemah, kamu mendengarnya.

Dan kegelapan abadi itu, membutakan matamu selamanya.

~          ~          ~

END ^^

Gimana ceritanya? Pasti jelek kan? Mianhae readers karna nggak dapet feel sedihnya atau bahkan nggak ngerti ceritanya ><

Author Cuma lagi iseng pas lagi bête di kantor😄.

Don’t forget to comment ^^ gomawooooooo ^^

 

5 responses

  1. ah jleb!(?)
    kirain bakal happy ending, ga taunya sedih…..
    ndak bisa bayangin Mochi ngomong sekasar itu, sekalipun dia calon evil maknae SuJu sekalipun…..

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s