My Lovely Stalker

Tittle: My Lovely Stalker

Author: Nana Cho

Length: 1shoot

Genre: Romance

Rate: T

Main Cast:

  • Kim Myungsoo [Infinite L]
  • Jeon Jirae

Other Cast:

  • Lee Joyeon
  • Goo JoonHee

Disclaimer: ff ini punya saya, Myungsoo juga punya saya :p

A/n: saya tau crita ini pasaran banget tapi bener deh versi ini murni dari pikiran saya. ini remake dari ficlet yang pernah di post di blog pribadi saya. bisa di check ko ^^

[…]

This flashing lights caps the picture of you.

1… 2… 3… 100… only your face that I see.

No matter what they say,

No matter what you feel,

The matter just

I love you

[…]

SPLASH.

Blitz kameraku berpendar, menangkap gambar seorang Makhluk ciptaan Tuhan yang tak pernah berhenti untuk kukagumi disana. He’s just showing his charm.

“Foto yang keberapa kali ini?” Tanya Joyeon – sepupuku – yang duduk di sampingku sekarang.

“Er, hari ini aku hanya mendapat 20 fotonya. Aku tidak ada kelas bersamanya hari ini.”

“20? Hanya kau bilang? Ckckck…” Joyeon menggelengkan kepalanya menatapku heran.

Apakah kalian sama herannya dengan Joyeon? Kalian tidak akan heran jika kalian tahu siapa target kameraku. Dia, Kim Myungsoo. Mahasiswa jurusan Musik. Dia tampan, memesona, tapi juga – terlihat – sangat dingin. Justru sikap dinginnya itu yang membuatku makin tak bisa melepaskan mataku darinya. Sudah kubilang ‘kan, He’s just showing his charm.

“Kyaaa… dia melihat kemari.”

SPLASH.

Ya, beginilah kehidupanku. Mengikutinya kemanapun dia pergi, dan mengambil setiap fotonya. Stalker, begitulah orang lain menyebutku.

Hari ini, Joyeon bilang dia akan pergi ke department store, dia ingin datang ke fans sign Sunggyu, penyanyi pendatang baru itu. Tapi, aku tidak ada ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Myungsoo lebih menarik dari namja manapun bagiku.

Jadi, terpaksa sore ini aku pulang sendiri, hanya ditemani kamera SLR putih yang menggantung dileherku ini.

“Hey yo, an doeneunge ttak hana isseo. Mot chamneunge ttak hana isseo. Neojanha aljanha tumyeonghan. Nae namja son daeji ma…” Kudendangkan lagu Boyfriend itu seraya memperhatikan beberapa foto Myungsoo yang ada di kameraku. Membuatku berjalan tanpa memerhatikan apa yang ada di depanku. Sampai tiba-tiba…

DUK.

“Aaaw…” Kuusap-usap keningku yang nyeri karena terbentur tiang listrik di depanku. Aigoo….

“Chagiya, kau tahu ‘kan kalau aku menyukaimu selama ini.” Joonhe? Ratu kampus itu? Sedang apa dia di tempat sesepi ini bersama Myungsoo? Mereka berdiri agak jauh dariku. Tapi, aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Araseo. Lalu?”

“Jadi, kau harus mau menjadi naui namja chingu, araseo?” JGAR. Serasa tersambar petir ketika kudengar apa yang baru saja dikatakan Joonhee. Jadi, dia juga menyukai Myungsoo? Dia sainganku? Tak mungkin upik abu ini menang dari sang ratu kampus. Sepertinya, takdirku hanya akan berhenti sebagai stalker-nya.

“Harus?” Myungsoo dingin. Sementara, Joonhee terus melangkahkan kakinya mendekati Myungsoo. Bahkan, hingga punggung namja tampan itu berbenturan dengan tembok. Dia tidak bisa bergerak lagi.

“Ne, harus Kyeopta…” Cih. Pemaksaan, dan apa-apaan itu yang dilakukannya. Dia terus mendekatkan wajah jelek penuh make up-nya ke wajah tampan alami Myungsoo. Menjijikkan!

Jarak wajah mereka semakin dekat. Wajah yeoja itu menjijikkan sekali, ekpresi apa itu yang ditunjukkanya? Myungsoo saja tetap dingin, bahkan matanya tak menatap yeoja itu. Dia memalingkan mukanya ke samping. Aaarrghhh aku sudah tak tahan dengan pemandangan ini.

“Yaa! Nappeun yeoja! Ini bukan tempat mesum! Mengganggu pemandangan saja tingkahmu itu. Menjijikkan!!!” Okay, aku lepas control. Aku berteriak-teriak di depannya, di depan Myungsoo. Ini memalukan, kau tahu?

“Mwo? hooh… kau itu yang memalukan, tiba-tiba datang mengganggu kami. Oh! Aniya, tiba-tiba? Bukankah kau selalu mengikuti kemanapun Myungsoo oppa pergi, STALKER.” Ujarnya dengan lagak angkuhnya yang sangat menjijikkan. Lagipula, kenapa dia harus memberi penekanan pada kata stalker? Menyebalkan!

“Memang kenapa kalau aku ini stalker?! Ha?! Kau bermasalah denganku?!” God, kenapa suaraku harus bergetar?

“Tidak denganku. Tapi, kau sudah mengganggu Myungsoo oppa dengan blitz kameramu itu. Babo yeoja.” Sekarang sang ratu kampus sudah berdiri tepat di depanku. Berkacak pinggang dengan gaya congkak-nya yang berlebihan.

Aku memang tak bermasalah dengan julukan stalker yang selama ini kudapat. Tapi, jujur saja, aku akan sangat sakit jika ada yang mencercaku seperti ini.

Aku tak bisa membalasnya. Aku hanya bisa menatapnya tajam, sambil menahan emosiku agar tak meledak. Aku tidak ingin Myungsoo melihatku marah. Aku tidak ingin terlihat buruk di matanya. Meskipun air mata sudah berjejalan di pelupuk mataku sekarang.

“Wae? Kau ingin menangis stalker? Kau tidak malu kepada kameramu itu? Hmm?” Wajahnya… ingin sekali kutampar wajah jelek itu. Tapi, ada Myungsoo… aku tak boleh menjadi yeoja yang kasar.

“Neo –”

“Kkaja pulang.” Tiba-tiba kurasakan seseorang menarik tanganku. Membuatku berjalan mundur menjauhi yeoja itu.

“MWO?! Chagiya!!! Urusan kita belum selesai!” Yeoja itu berteriak. Dia marah. Bersumpah serapah seraya mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia kecewa. Tentu saja, Myungsoo yang menarikku pergi.

Mwo? Myungsoo?! Sekarang jantungku berdebar-debar tak karuan. Apakah jantungku akan meledak?

Kami berjalan dalam diam. Dia, kyeopta namja yang masih menggenggam pergelangan tanganku erat, diam seribu bahasa. Entah karena dia memang pendiam dan dingin, atau karena tak ada topic pembicaraan, atau bahkan karena dia sama gugupnya denganku? Tapi, sepertinya alasan yang terakhir tak mungkin. Aku saja tak yakin dia tahu siapa namaku.

“Kau ini bodoh atau apa?” Ujarnya tiba-tiba seraya menghentikan langkahnya di sebuah halte. Untung halte ini cukup sepi.

“Eh, maksudmu?” Bahkan, dia juga menganggapku bodoh? Apa aku memang hanya ditakdirkan untuk menjadi stalker-nya?

“Ada seorang yeoja menghinamu habis-habisan seperti itu, kau hanya diam tak melawan sedikitpun. Apa kau tak sakit hati? Atau kau memang bodoh?” Pertama kali ini, aku melihat Myungsoo penuh dengan emosi, dan ini mengerikan. Membuatku takut menghadapinya.

“Aku…”

“Mwo?”

“Aku melakukan itu semua karenamu! Myungsoo babo!” Ooupss.. apa yang kukatakan ini? Aasshh… aku sudah gila kurasa.

Aku sudah berteriak dan mengatakan bahwa dia babo, kemudian berlari begitu saja meninggalkannya. Aku sudah menghancurkan citra yang selama ini kubentuk di depannya. Aku bodoh, ya, sangat bodoh. Air mata ini juga membuatku terlihat semakin bodoh. Aku benci diriku sendiri!

***

“Mana kameramu Jii?” Tanya Joyeon ketika baru saja kuhenyakkan tubuhku di kursi di depannya. Kami akan sarapan sekarang.

“Ada di kamar.”

“Kau tak membawanya?”

Kugelengkan kepalaku menjawabnya. Membuat mata Joyeon membola menatapku. Tak hanya Joyeon, Eomonim dan Abeojie juga membulatkan mata mereka menatapku. Ya, mulai sekarang aku tak akan menjadi stalker Kim MyungSoo lagi.

“Mworago?” Tanya mereka bertiga kompak.

“Gwaenchana, Jii berangkat dulu Eomonim, Abeojie.” Pamitku setelah meneguk susu coklatku. Kemudian, kulangkahkan kakiku keluar rumah. Meninggalkan mereka bertiga terheran-heran dengan tingkahku. Sebenarnya, aku saja heran dengan keputusanku ini.

Mulai hari ini, aku tak akan mengambil gambar Myungsoo lagi. Mungkin akan sedikit susah. Atau, sangat susah. Tapi, aku ini juga tahu diri. Namja yang kusuka sudah mengataiku bodoh. Aku tidak bisa melanjutkan hobiku menjadi stalker-nya.

“Yaa! Jirae sang stalker, mana kamera putihmu? Apa kau lupa membawanya? Hahaha…” Ujar seorang namja ketika kulewati koridor menuju kelas, diikuti tawa teman-temannya. Tak kupedulikan omongan  mereka, yang ku tahu aku hanya berjalan lurus menuju kelas. Meskipun semua orang menatapku aneh karena tak membawa kamera. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang mengolokku. Yah, beginilah kepopuleran seorang stalker.

Kumasuki kelas Publikasi Musikku hari ini, jadwalku satu kelas dengan Myungsoo. Kudapati namja itu duduk di kursi paling belakang, dekat jendela. Kenapa dia menempat kursiku? Aasshh… Hari ini, terpaksa ku letakkan tasku di kursi paling depan. Aku cenderung menghindari Myungsoo sekarang. Anggap saja ini lembaran hidupku yang baru.

Sudah satu minggu ini aku menghindari kyeopta namja itu. Menghindarinya, dan berhenti mengambil gambarnya, kuakui ini membuatku cukup tersiksa. Aniya aniya… aku sangat tersiksa… aku merindukan kameraku.

Ditambah lagi, hari ini Joyeon tak masuk kuliah. Aku harus pulang sendiri, menunggu bus di halte sendirian. Benar-benar sendirian, karena tak ada kameraku yang menemaniku, dan lagi, kenapa jalanan harus sesepi ini? Apa karena hari ini bersalju? Haaa…

SRAAASS…

Butir demi butir salju turun ke bumi. Orang-orang melangkahkan kaki mereka mencari tempat perlindungan dengan terburu. Seolah membenci dinginnya salju. Sedangkan aku, masih disini, di halte ini sendiri. Menunggu buss yang entah berapa jam lagi akan tiba di hari bersalju seperti ini. Hanya ditemani guguran salju yang semakin deras. Menutup jalanan hitam menjadi putih. Bahkan, dinginnya bisa menembus mantel tebal selutut, dan sepatu boot yang kugunakan. Penutup telinga babi ini juga seolah tak berfungsi. Kenapa dingin sekali? Seperti Myungsoo…

GRAK.

Kurasakan seseorang menghenyakkan tubuhnya di sampingku. Tak ku pedulikan orang itu, tetap kulanjutkan kegiatanku menatapi kakiku yang mengayun-ayun di bawah.

“Hhhh…” Orang itu menghela nafas. Dia namja. Aku tahu dari nafasnya yang berat.

Kulihat kakinya ikut mengayun-ayun di samping kakiku. Aku juga bisa merasakan tangannya ada di samping tanganku sekarang. Mungkin dia melakukan hal yang sama denganku.

“Hatchii…” Hidungku gatal sekali. Kuusap-usap hidungku tanpa mengangkat kepalaku. Hidungku ini, pasti sudah memerah sekarang.

Tiba-tiba, kurasakan seseorang menutupi tubuhku dengan sebuah mantel besar dan tebal. Hangat. Sangat hangat.

“Eh, goma –” Baru saja akan kuucapkan rasa terimakasihku pada orang itu, ketika mataku berhenti menatapnya. Dia, namja itu.

Myungsoo, sekarang dia sedang duduk disampingku, sambil membenarkan syal hitamnya. Dia namja yang memberikan mantelnya padaku? Sementara dia hanya memakai hoodie dan syal – meskipun aku yakin dia pasti memakai selapis longjure dibalik hoodie-nya. Tapi, dia pasti kedinginan ‘kan?

“Gomawo, kau pakai saja.” Kulepas mantelnya perlahan.

“Aniya, aku tak begitu kedinginan. Kau lebih membutuhkannya.”

“Tapi…”

“Sebenci itukah padaku?” Myungsoo merubah tatapan matanya menjadi lebih lembut. Dia menatapku dalam. Bisa kutangkap ada rasa bersalah di matanya. Aigoo…

“Aniya, aku tak pernah membencimu. Jeongmal!”

“Tapi, kau tak pernah mengambil gambarku lagi sekarang.” Disandarkannya punggung tegap itu ke tembok dingin di belakang kami. Matanya terlihat menerwang ke salju yang terus saja turun di depan kami. Aku tak tahu pasti apa yang sedang dipikirkannya.

“Itu akan mengganggumu.” Jawabku sekenanya seraya menyandarkan tubuhku di sampingnya. Melakukan sama seperti apa yang dilakukannya.

“Aku tak pernah menganggapmu pengganggu.”

“Tapi aku terlihat bodoh dimatamu.”

“Dulu.”

“Maksudmu?” Kualihkan pandanganku kearah Myungsoo. Memperhatikan wajah kyeoptanya dari samping.

“Dulu, ketika pertama kali aku sadar ada seorang yeoja yang teus memperhatikanku tanpa sungkan, bahkan dia tak bersembunyi sedikitpun ketika mengambil fotoku. Aku merasa, yeoja itu sangat konyol. Dia seolah tak punya rasa malu.” Terangnya tanpa menatapku. Menyebalkam!

“Tapi, aku merindukan blitz kameranya sekarang.” Manik hitam itu menatapku tajam. Benarkah yang baru saja kudengar ini?

“Kau tak perlu menjadi stalker-ku lagi sekarang.”

“Ne, aku memang tak berniat untuk menjadi stalker-mu lagi.” Kualihkan pandanganku ke jalanan, ketika kurasakan tangan besarnya memegang pundakku, menghadapkan wajahku kearahnya. Memaksaku menatap matanya.

“Apa kau berminat untuk menjadi yeoja chingu-ku?” MWO?! Mataku membola dengan sigap ketika mendengarnya.

“Kau boleh mengambil fotoku kapan saja, aku tak pernah merasa terganggu dengan semua tingkahmu. Aku menyukaimu, aniya. Jeon Jirae, saranghae.” Eommaaaa… anakmu ini eommaaa…

“Nado. Jeongmal saranghae!”

Kurasakan udara di sekitar kami menjadi lebih hangat, bersamaan dengan Myungsoo yang memeluk tubuhku erat. Kali ini, untuk pertama kalinya kurasakan Myungsoo sehangat ini. Now, he’s not only showing his charm, but he also spread his warm.

26 responses

    • hehe gomawo ching :*
      bikin yg cast-nya myungsoo? banyak noh ff saya yang cast-nya myungsoo, baca aja, terus komen #promo
      sekali lagi gomawo ^^

  1. Aduh aku gg bosen2deh baca ff’a author nana cho,
    Eonni ada yang baru gg ??
    Aku kgn nii ma ff’a eonni yang so swiit so swiit,,
    Oia btw bolehhh req ff gg ?? Boleh donk yayayaya
    Ehehheehehheh #maksa

    • hehe… gomawo ^^
      yang baru? itu ada written book sama ini juga mau post baru lagi ko, hehehe…

      req ff? boleh aja, tapi aku ga janji bisa jadi cepet ya,
      soalnya hobiku kan koleksi utang request #plakk
      req apa beib? kirim ke e-mail nana_cho@ymail.com
      kasi tau cast, genre, sama jalan cerita yang kamu pengen ya, biar bisa cepet dibikin, hehehe…

  2. kyaaaaa L so sweet…
    ff yg ini nyambung sama ff yg cast-nya Sunggyu ama Woohyun itu kan? bener ga?
    bagus Thor,
    lanjutin lagi ya,kalau bisa member INFINITE semuanya ikut main,
    genre-nya friendship aja,
    ga usah pakai cewe,
    suka cemburu soalnya.kekeke..
    author punya blog pribadi ga??

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s