Other Side 7

Title : Other Side

Author : Qey.Yeonsone a.k.a kikiy

Main cast : SNSD’s member

Other cast : Temukan sendiri!

Rating : PG 15

Length : Chaptered

Genre : Mystery, Thriller

Disclaimer : all is mine except the cast

 

Note For Author: Kalau FFnya mau di isi gambar, tolong gambarnya di attach terpisah. Jangan dijadiin satu sama FFnya -_- atau, kasi link gambarnya aja di dalam FF. Sekian.

 

 

~~

 

~sesuatu telah mengikat alam bawah sadarku~

 

~~

 

Normal PoV

 

“Hiks…hiks…”

isakan yeoja cantik itu makin mengeras seiring berlalunya waktu. Ia menekuk kedua kakinya di depan badan mungilnya. Dipeluknya dua kakinya seakan itu guling yang biasa menemani tidurnya.Badannya terguncang karena isakan kerasnya.

 

Suara pintu terbuka tidak membuat yeoja itu menghentikan tangisannya yang keras itu.

 

“Yoona-ya??” yeoja yang baru masuk memanggil yeoja yang menangis itu.

 

Yeoja yang dipanggil Yoona itu sama sekali bergeming. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda hendak menghentikan tangisannya. Malah justru tangisannya semakin keras.

 

Yeoja yang baru masuk mendekat ke arah Yoona yang duduk meringkuk di samping tempat tidur.

 

Yeoja yang lebih pendek dari Yoona itu duduk bersila di sebelah Yoona.

 

“Yoona-ya?Uljima. Aku yakin Yuri-a akan baik-baik saja. Tenang saja.Gwenchanayo.” bisik yeoja itu.

 

“Taeyeon onnie, aku tidak mengerti. Hiks… Sebenarnya siapa orang yang tega menghancurkan kita seperti ini? Aku takut onnie… Hiks… Hiks…” sahut Yoona terisak.

 

Yeoja yang ternyata adalah Taeyeon itu tampak berfikir.

“Ye, aku pun berfikir demikian.”

 

“A…aku harap Yuri onnie baik-baik saja. Hiks… Hiks…” ucap Yoona tersendat-sendat.

 

Taeyeon tampak sependapat.Ia menganggukkan kepalanya lalu merangkul Yoona dengan sayang.

 

“Hajiman…” Taeyeon melirihkan nada suaranya, membuat Yoona menunda tangisannya dan menatap Taeyeon.”Aku mencurigai beberapa orang Yoona-ya? Apaa… Kau berfikir seperti apa yang kufikirkan.” lanjut Taeyeon dengan volume suara yang sangat minim.

 

Yoona mengangguk.”Aku rasa ada kaitannya dengan onnie yang dulu kecelakaan.Mereka semua berubah. Daaan… Bukankah sebelum Seohyun meninggal, yang punya masalah dengan Seohyun adalah keempat orang itu?”

 

“Ne, kau benar.Mereka berempat juga bermasalah dengan Manager Oppa sebelum Manager Oppa meninggal.”

 

“Well, kita tidak tahu. Atau mungkin juga sebenarnya ada orang lain diluar snsd yang berniat menghancurkan kita.”

 

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya.Tampak ragu dengan pendapat Yoona.

 

~~

 

Ketujuh member snsd sedang duduk diruang tunggu.Menunggui Yuri yang sedang mengalami masa kritis di dalam ruang ICU.

 

“Cih, kenapa banyak sekali yang terjadi beberapa bulan terakhir ini?Mengganggu hidupku saja.” cibir Sooyoung pada Hyoyeon, Jessica dan Sunny.

 

“Ne, sangat merepotkan.” desis Sunny.

 

“Huh, aku berharap Yuri mati saja.Asal kalian tahu, selama ini aku sangat membencinya.Dia berlagak seperti Main Dancer saja.Dia pikir main dancernya siapa?Aku atau dia?Padahal melakukan gerakan yang sangat mudah saja salah.” tukas Hyoyeon berapi-api. *ampuun~ yuristable~*

 

“Ne, kaulah main dancernya Hyo, kau tapi Yuri seakan merebut tempat itu dari kau.” ujar Jessica mendukung.Seakan lupa bahwa Yuri adalah sahabatnya.

 

Taeyeon yang mendengarkan percakapan yang sangat tidak mengenakkan itu langsung menyumpal telinganya dengan earphone.Dan menaikkan volumenya hingga level teratas.

 

~~

 

“Keluarga Nona Kwon Yuri, siapa disini yang keluarga Kwon Yuri?” tanya seorang suster yang keluar dari ruang ICU. Taeyeon langsung bangkit dan menghampiri suster itu.

 

“Err… Suster, keluarga Kwon Yuri belum tiba. Saya Kim Taeyeon, leadernya. Dan ini manager saya.” tunjuk Taeyeon ke seorang yeoja disebelahnya yang merupakan manager barunya.

 

“Oh, kau leader Girls Generation itu ya? Baiklah, saya akan beritahukan bahwa Kwon Yuri sudah sadar. Meskipun kesehatannya belum pulih sama sekali.”

 

Taeyeon langsung mengukir senyum diwajahnya.

“Jinjja?Boleh kami melihatnya suster?”

 

“Ne, silahkan.”

 

~Normal PoV end~

 

~~

 

~Taeyeon PoV~

 

Keadaan Yuri sangat-sangat parah.Aku bahkan sangat bingung mencari kata yang pas untuk menggambarkan keadaannya saat ini. Yang jelas ia sangat parah. Perban dimana-mana, luka menganga disana-sini.Aigoo~ aku ingin menangis melihat keadaannya kini.

 

“Yuri-a.” panggilku.

 

Yuri menoleh.Sebelah matanya diperban, disatukan dengan perban untuk kepalanya.Pipinya juga diperban salah satu.Hidungnya di lapisi dengan selang oksigen. *author kagak tau namanya –v*

 

Aku masih bisa melihat dia berusaha tersenyum tabah.Tiba-tiba kulihat sudut matanya berair. Air itu turun ke pipi kanan

 

“Yuri-a, uljima.” setelah aku mengucapkan itu tangisku pecah seketika.”Semuanya akan baik-baik saja.”

 

Baru saja aku mengatakan kata ‘saja’.Yuri terlihat terbatuk.Entahlah kenapa.Lama-lama batuknya makin keras.Yuri mengatupkan kedua belah tangannya ke arah mulutnya. Begitu ia buka tangannya. Aigoo~ aku membulatkan mataku. Ditangan Yuri banyak sekali bercak darah segar.

 

Manager Onnie langsung memanggil dokter dan suster.Beberapa orang berpakaian putih mengerubungi kami.Menyingkirkanku dari sisi Yuri.Kulihat sudut mata Yuri semakin menghasilkan banyak air yang mengalir.Diiringi batuk darahnya yang seakan tidak berhenti.

 

Orang-orang berpakaian putih itu mendorongku keluar.Tolong, jebal.Jangan pisahkan aku dengan Yuri.Aku tahu dia membutuhkanku.Orang-orang itu masih berusaha mendorongku.Samar-samar masih kutangkap senyum Yuri yang ditujukan untukku.

 

Yuri, kumohon bertahanlah.Demi aku, Yoona, Tiffany dan semua keluargamu. Bertahanlah, bertahanlah Kwon Yuri!

 

~~

 

“Mianhae.Kami sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan Nona Kwon.Mianhae.”

 

Kenapa?Kenapa harus kalimat itu yang kudengar?Kenapa bukan kalimat yang menyatakan bahwa Yuri baik-baik saja?

 

Tak puas dengan pernyataan Dokter, aku tertawa getir dan kembali tertawa.

 

“Mworago?Cih, siapa lagi yang merencanakan jebakan konyol seperti ini?Konyol sekali, bahkan aku sama sekali tidak berniat untuk tertawa.” cibirku pada Dokter muda itu.

 

Dokter itu hanya menatapku dengan tatapan simpatik. Cih, tatapan apa itu? Apa disangkanya aku begitu bodoh masuk ke dalam kebohongannya hah?

 

“Ya! Miyoungie! Yoona-ya! Kalian kan, yang merencanakan jebakan aneh ini? Come on! Are you crazy? Yuri tidak mati kan?” aku menatap Tiffany dan Yoona, meminta penjelasan.

 

Tiffany dan Yoona hanya menunduk.Menyembunyikan tangisannya.Aku geram.Dengan murka aku mendekati Tiffany, mencengkram bahunya.

 

“TATAP AKU MIYOUNGIE! KATAKAN YURI BAIK-BAIK SAJA!!” bentakku kasar.Tiffany bergeming, malah menambah volume tangisannya. “JAWAB MIYOUNG!”

 

“YEON-A!!!” sebuah suara yang familiar berdengung di telingaku.

 

Aku menoleh, mendapati Leeteuk Oppa, Donghae Oppa dan Siwon Oppa mendekatiku.

 

“Apa yang terjadi, Tiffany?” tanya Siwon Oppa.

 

“Yuri… Hiks, hiks…” Tiffany.

 

Aku menggeleng kuat.

“Adwaeyo! Kalian jahat! Ini keterlaluan! Ini sungguh lelucon yang tidak lucu. ADWAE! ADWAE!!” jeritku yang bisa dipastikan akan mengganggu ketenangan pasien lain.

 

Leeteuk Oppa memelukku erat.Sementara aku masih berkutat dengan raunganku.Tiffany dan Yoona nampak berpelukan sambil terisak kuat.Lalu masih kulihat, keempat member itu tidak menangis.Sangat sulit meraba ekspresi mereka.Yang jelas mereka tidak menangis.

 

Aigoo~ Tuhaan~~ kenapa sekali lagi kau ambil dongsaengku?Aku menyayangi Seohyun dan Yuri.Kenapa kau mengulang cobaan yang baru saja kurasakan.Cobaan yang kurasa sangat berat sepanjang sejarahku hidup.Kenapa kau gariskan sebuah garis takdir yang sangat memilukan?Apa kau tidak menyayangiku?

 

~~

 

Lee Soo Man ahjussi, beberapa staff, dan keluarga-keluarga terdekat Yuri datang ke Rumah Sakit saat Yuri hendak dibawa pulang.Aku hanya duduk di bangku ruang tunggu yang berwarna putih.Menatap orang-orang hilir-mudik yang fokus pada kegiatannya sendiri.Aku sendiri, termenung.Walau mataku nampak mengamati setiap gerakan orang yang ada di depanku, namun otakku tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 

Hatiku terasa ngilu sekali.Ya, sekali lagi.Sekali lagi aku gagal.Aku gagal.Yeah, aku gagal.Saudara sekalian, aku gagal. Aku membiarkan setetes air hangat jatuh kepipiku. Dan juga tetes lainnya masih kubiarkan mengalir.Aku gagal total.

 

“Apa kau merasa sedih?” suara Leeteuk Oppa mengagetkanku.

 

Aku menarik sebelah bibirku.Membentuk sebuah lengkungan getir.

 

“Naega… hhh… Molla.Aku tidak merasakan apa-apa.Mungkin apakah aku terlalu sedih hingga mati rasa?Tapi yang jelas, disini.” aku mengangkat tangan di dada.”Disini rasanya sakit sekali.” ujarku lirih nyaris seperti bisikan semata.

 

Kurasakan tangan lembut Leeteuk Oppa meraih bahuku.Menarikku ke dalam dekapan hangatnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mati rasa, ya tubuhku mati rasa.

 

~~

 

Suasana upacara pemakaman berlangsung sendu.Tidak berbeda jauh dengan upacara pemakaman Seohyun.Di ujung peti Yuri, tergeletak sebuah pigura berwarna coklat kayu.Di dalamnya sudah bisa dipastikan itu adalah foto Yuri.Ia tengah tersenyum bahagia. Aku masih sulit mempercayai bahwa mungkin selamanya aku tidak akan pernah melihat senyum seperti itu lagi.

 

“Taeng?” suara yeoja menghampiriku.

 

Aku menoleh, mendapati Tiffany tengah berdiri tegak di belakangku.Matanya menyiratkan sesuatu hal.

 

“Aku harus bicara sesuatu padamu dan pada Soo Man ahjussi.” lirih Tiffany, berusaha agar orang lain tidak mendengarnya.

 

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

 

~~

 

Aku mengikuti Tiffany ke dalam van kami.Kulihat ada Soo Man ahjussi disana.Sedang mengutak-atik sebuah iPad. Hey, bukankah itu iPad Tiffany? Ada apa?

 

“Oh, Taeyeon-a.Kau sudah datang?”

 

Aku hanya mengangguk singkat.Aku dan Tiffany duduk di jok sebelah Soo Man ahjussi.

 

“Waeyo?Ahjussi?” tanyaku.

 

“Tiffany menunjukkan foto-foto selca kalian di depan kedai makanan.” timpal Ahjussi.

 

Aku mengerutkan kening.Bisa-bisanya Ahjussi membahas foto selca saat Yuri sedang dimakamkan?

 

“Dan… Ada satu foto yang, ah, lihatlah ini.”Soo Man ahjussi menyodorkan iPad Tiffany padaku.

 

Aku memiringkan kepala.Apa maksudnya? Disana terlihat foto Yoona sedang mengarahkan dua jarinya membentuk tanda ‘peace’.Dan lidahnya terjulur.Aku ingat, dia menselca dirinya menggunakan iPad Tiffany.Apa yang aneh? Ini gambar biasa.Aku mengendikkan bahu.

 

“Aish, kau tidak lihat?Ini, dibelakangnya.” celetuk Tiffany tidak sabar.

 

Aku mengamati sesuatu dibelakang bahu Yoona.Di pinggir jalan.Seorang yeoja tengah lurus memandang jalan. Daan… Chankaman! Dibelakangnya ada orang lain. Tengah menjulurkan tangannya terlihat seperti gerakan mendorong.Aku membulatkan mataku. Itu Yuri. Dan di belakangnya… Sang pembunuh?

 

“Coba zoom.” perintah Soo Man ahjussi.

 

Aku menzoom *?* hingga batas paling besar.Tapi terlihat hanya siluet saja.Tapi jelas orang itu menggunakan jaket panjang dan kerudung jaket itu menutupi kepalanya.

 

“Ah, sial. Hanya siluet hitam saja.” desis Soo Man ahjussi.

 

“Chankaman.Lihat ini.”Tiffany menunjuk kaki si pembunuh.

 

Aku melebarkan mataku berusaha melihat lebih jelas. Yak! Bukankah itu boot putih yang dipakai kami saat perform sebelumnya. Memang tidak terlalu jelas. Tapi bentuknya memang sama.

 

“Itukan…” bisikku.

 

Tiffany mengangguk lemah.

 

“Apa itu artinya…” Tiffany menggantung ucapannya.

 

“Member snsd?”

 

“Empat orang itu?”

 

“Tunggu, tunggu. Hajiman, bisa saja orang lain yang memakai sepatu kalian agar terlihat member snsd yang membunuhnya?” sanggah Soo Man ahjussi.

 

“Benar juga.” gumam Tiffany.

 

“Siapa yang sudah tidak memakai boot itu?”

 

“Aku juga sudah tidak pakai, kutaruh di samping kursi meja makanku di kedai.Aku memakai sneakersku.” sahut Tiffany.

 

“Aku ingat Hyoyeon dan Yoona juga melakukan hal yang sama dengan Tiff.” timpalku.

 

“Jadi bisa saja ada orang yang mengambilnya dan memakainya untuk mengelabuhi kita.” sambung Soo Man ahjussi.

 

“Tapi bisa juga Hyoyeon melepas sepatunya didepan kita lalu memakainya lagi saat hendak membunuh Yuri.Yah, semacam membuat alibi.” sanggahku.

 

“Kau mencurigai Hyoyeon?” tanya Soo Man ahjussi.

 

“Bukan begitu, hanya sajaa~ kelihatannya memang Hyoyeon tidak begitu menyukai Yuri.”

 

Kami saling berpandangan.

 

“Aku semakin tidak mengerti.” bisikku.

 

“Pulanglah kerumah salah satu member.Kerumahmu saja Tae.Dirumahmu mungkin kalian bisa menenangkan diri bersama.” usul Soo Man ahjussi.

 

“Ne, sajangnim.”

 

~~

 

Kupandangi suasana dorm yang terasa sepi. Tiff dan Yoong sedang membereskan barang untuk persiapan pergi ke rumahku besok.

 

Aku mengedarkan bola mataku ke seluruh sudut ruangan.Hyoyeon sedang memasak. Dan Jessica, Sooyoung, Sunny nampak duduk di meja makan. Aku menghela nafas.Aku rasa ini saatnya bicara pada mereka.

 

Aku mendekat ke arah mereka.Belum juga aku sampai.Empat pasang mata elang langsung menatapku buas.Seakan aku adalah mangsa mereka.Aku menenggak ludah.Menghirup oksigen disekitarku dengan rakus.Lalu menghembuskannya dengan sembarangan. Oke, TAEYEON. Ini bukan saatnya menjadi penakut.

 

“Aku harus bicara dengan kalian.” ungkapku mencoba menatap mata mereka.Menyelami setiap manik matanya satu-persatu.

 

Mereka tampak berpandangan.Hyoyeon tampak mengendikkan bahu.Lalu Jessica menarik sebelah ujung bibir sebelah kanannya.

 

“Waeyo?” tanya Jessica.

 

“Aku hanya ingin tanya. Dimana kalian saat Yuri meninggal??”

 

Sooyoung yang sebelumnya tengah asik dengan bimbapnya kini terlihat mulai tertarik dengan arah pembicaraan kami.

 

“Wae?” sekali lagi aku mendapat pertanyaan yang sama. Kali ini dilontarkan Sunny.

 

“Aku hanya bertanya.”

 

“Apa itu penting??” sahut Hyoyeon, jelas sekali dia berusaha memojokkanku.

 

“Nde.Tentu.Ini tentang siapa yang membunuh Yuri.” sekuat tenaga kutahan amarahku.Berusaha agar tetap tenang.Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat dan juga mengepalkan tanganku erat.

 

Jessica menarik sebelah alisnya.Ia memiringkan kepalanya.

 

“So… You want to accuse us, huh?” ucap Jessica.

 

“Aku hanya… Tck. Aku hanya bertanya, Sica.”

 

“Yeah, i think so.” tambah Sooyoung.

 

“CHOI SOOYOUNG!!”

 

“Hey, hey. Kau bilang kau hanya bertanya kan, Kim Taeyeon?” selidik Sunny.

 

“Atau… Jangan-jangan kaulah yang membunuh Yuri?Lalu menyalahkan kami?Agar permainanmu terlihat rapi?” kini Hyoyeon yang menatapku penuh selidik.

 

“NO! I don’t!!” pekikku kesal.

 

Percuma saja aku bicara dengan mereka.Mereka semua memiliki tingkat negative thinking yang mengerikan.

 

~~

 

Aku terjaga.Dengan mata yang memicing, aku berusaha melihat jam weker coklat yang ada di mejaku. Jam 12.00 malam hari. Kerongkonganku terasa kering.Aku terduduk, lalu bangkit hendak ke dapur.

 

Badanku mengejang.Bulu kudukku berdiri seketika saat aku mendengar suara aneh di dapur.Aku berhenti.Melepas sandal rumahku.Mengendap-endap menuju ke dapur.

 

Kutatap sesosok yeoja yang tengah berjibaku dengan apa yang sedang ia kerjakan. Yeoja itu terlihat tinggi.Aku semakin memperhatikannya. Itu Sooyoung! Apa yang ia lakukan disini?

 

Aku memperhatikan gerak-geriknya.Ia membawa sebuah backpack. Aku rasa itu yang akan dia bawa besok ke rumahku. Apa dia diam-diam mencuri makanan? *?*

 

Aku terus melihatnya sampai aku terpaku menatap benda berkilat yang ia masukan. Aku menelan ludah.Itu pisau.Pisau dapur paling besar yang Hyoyeon punyai.Ia juga memasukkan lagi. Itu sarung tangan karet yang biasa dipakai untuk operasi.

 

Apa-apaan ini?Apa yang akan Sooyoung lakukan? Jadi selama ini yang membunuh Manager, Seohyun dan Yuri adalah Sooyoung?Aku menahan air mataku lalu mengendap-endap pergi ke kamarku.

 

 

 

 

 

~~

END of part 7

~~

 

sampai juga part ini. -,-

aneh? Geje?Jelek? Comment yah?

 

Fb: adzkiars@yahoo.co.id

twitt: @kikiyeoniiee

wp: kikiykpopers.wordpress.com

 

 

16 responses

  1. annyeong
    euh, ak deg2an bcanya
    jd bener ya sooyoung pembunuhnya ?
    T.T
    Eonnie teganiaya dirimu !
    Author, taetae eonni jgan smpe di bunuh jga ya*maksa
    peace thor
    ditunggu lanjutannya ya

  2. Waaaaah chinguuu jahat…
    Kmrn ud seohyunie skrg yuri, nti spa lg??ud donk chinguuuu huuuaaaaaaa.. #nangiskejer
    chingu udahan ah maen bnuh”anny, ga cocok bgt dh ah, ga rela nie huhuhuuuu…
    Andwaaaeeeee, jebaaaal…

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s