[MBA’s Sequel] You Must Marry Me (Before Story) 2/2

You Must Marry Me (BEFORE STORY) Chapter 2

Author      : Trik is ChoiPutri (15 to 16 yo)

Length      : Twoshot

Genre       : AU, R-O-M-A-N-C-E, Friendship

Rating      : PG

Cast          : Kwon Yoora (OC), Lee Sungmin (SUJU), Park Richan (OC), Cho Kyuhyun (SUJU), Park Jiho (Ulzzang) and other cast you can find it by yourself ;)

Disclaimer: Castnya punya Tuhan, FF ini juga punya Tuhan tapi disalurkan melalui saya :D

Previous Story : MBA Chapter 1 I MBA Chapter 2 I MBA Chapter 3 I MBA Kyuhyun’s Side I UM3 Before Story Chapter 1

Next Story       : UM3 Chapter 1 I UM3 Chapter 2 I UM3 Chapter 3 I UM3 Chapter 4UM3 Chapter 5 I UM3 Chapter 6

 

Riri membuka kelopak matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak. Matanya melebar ketika mendapati dirinya tidak berada di kamarnya lagi, melainkan di halaman belakang sebuah gedung. Ia bangkit dari duduknya dan baru sadar tubuhnya terbalut pakaian putih panjang. Gaun pengantin. Kepalanya penuh dengan tanda tanya. Bingung.

Berhenti larut dalam kebingungan, ia pun mengedarkan pandangannya mencoba mencari tahu dimana ia berada. Pelan-pelan, ia mulai melangkahkan kakinya.

‘Satu, dua, tiga,…’ terus ia menghitung dalam hati tiap kakinya melangkah hingga sampai di depan gedung yang ternyata adalah sebuah gereja.

Ia menatap gereja di hadapannya dengan pandangan penuh tanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, dimana ia sekarang? Bagaimana bisa ia berada di tempat itu? Dan, haruskah ia masuk ke dalam gereja?

Dengan hati yang mantap, ia melangkahkan kakinya memasuki tempat suci tersebut.

 

Matanya menemukan dua sosok pria begitu masuk ke dalam gereja. Seorang pastur yang tengah menatapnya dengan senyum tersungging dan seorang pria dengan balutan Tuxedo di tubuhnya yang berdiri memunggunginya.

Riri menyipitkan matanya. Dalam hati ia berusaha meyakinkan diri bahwa pria yang berdiri memunggunginya di atas altar bukanlah Sungmin.

 

Begitu kaki Riri berpijak di atas altar, pria tersebut memutar tubuhnya dan…

 

TOK TOK TOK!!!

Riri tebangun dari mimpinya karena ketukan di pintu kamarnya. Pikirannya masih melayang entah kemana.

“Tadi itu mimpi apa ya??” gumamnya.

 

“Riri-ya, kau belum tidur kan?? Aku… Aku menolak lamaran Sungmin oppa…” suara Yoora terdengar dari balik pintu kamar Riri. Riri tertegun. Antara senang dan sedih.

Sementara Yoora, ia tersenyum lega.

‘Aku tahu kau mencintainya. Dan aku tahu aku memilih keputusan yang tepat untuk menolaknya.’ Batin Yoora.

 

~-~

 

12 Februari 2012


Riri mengaduk-aduk minumannya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tapi Sungmin tak kunjung datang.

 

“Mian terlambat! Kau sudah menunggu lama.” Riri tersenyum ketika melihatnya tiba.

“Tidak lama. Hanya 28 menit.” Sahut Riri membuat Sungmin terkekeh.

“Aigoo.. mianhae dongsaeng ah. Ternyata kau menunggu selama itu.” Ucap Sungmin sembari mengelus-elus pipiku membuat Riri tersipu.

 

“Ngomong-ngomong, ada apa kau mengajakku bertemu disini?” tanya Riri basa-basi padahal ia tahu pasti Sungmin mengajaknya bertemu untuk curhat tentang Yoora dan perasaannya terhadap Yoora.

“Haaah… kemarin Yoora menolakku lagi.” Raut wajah Sungmin menampakkan kekecewaan.

‘Ya. Aku tahu.’ Ucap Riri dalam hatinya. “Kan sudah aku katakan padamu berkali-kali oppa, kalau ia hanya mencintai Kyuhyun seorang.”

“Aku ingin melupakan perasaanku padanya!”

Riri tersentak mendengar ucapan Sungmin. ‘Apa aku tak salah dengar?? Ia… ingin melupakan perasaannya pada Yoora??’ tanya Riri dalam hatinya, bingung. Untuk yang kesekian kalinya, haruskah ia senang??

 

“Yoora, hanya menganggapku sahabat dan oppanya. Ia menyuruhku untuk melupakan perasaanku padanya.” Ucap Sungmin lagi.

“Lalu? Apa yang mau kau lakukan?” tanya Riri.

“Aku… ingin mencari wanita lain yang bisa aku cintai.” Jawab Sungmin.

“Nikahi saja aku!” kalimat yang tersusun dari tiga kata tersebut, meluncur begitu saja tanpa Riri inginkan. Dalam hati ia terus merutuki kelancangan mulutnya yang melontarkan kalimat tersebut begitu saja.

 

Sungmin menatap Riri membuatnya mengalihkan pandangannya, malu.

“Kau serius?? Kalau begitu ayo kita menikah!”

Riri memutar kepalanya dan menatap Sungmin tak percaya.

“Haha.. bercandamu lucu sekali!” tawa Riri, memaksa.

Sungmin bangkit dari duduknya lalu menghamipiri Riri dan memeluk Riri.

“Ya, oppa! Apa yang kau lakukan?!” seru Riri. Untung café tempat mereka bertemu sedang sepi pengunjung.

“Kita menikah sekarang! Kajja!!”

“Ya! Oppa! Jangan bercanda!!” seru Riri sembari berusaha melepas tangan Sungmin yang menarik tangannya.

“Aku serius Riri-ya!! Lagipula tadi kau yang menyuruhku untuk menikahimu kan?!” ucap Sungmin sambil mendorong Riri masuk ke dalam mobilnya.

“Tapi, opp..”

“Cukup! Tadi kan kau yang menawarkan dirimu! Sekarang, duduk yang manis dan kita akan pergi ke rumah orang tuaku!”

‘Astaga… ya Tuhan… ini bercanda kan?!’ batin Riri, masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

 

~-~

 

Riri’s POV

 

“Omo… oppa… kenapa kau sungguhan membawaku kemari?!” tanyaku tak percaya.

“Kan aku sudah bilang tadi. Kita akan menikah sekarang! Pokoknya aku tidak mau mendengar penolakan darimu! Kau harus menikah denganku! TITIK!!” ucapnya.

Aku menatapnya takjub.

Ah! Pantas saja semalam aku bermimpi tertiban durian runtuh setelah mimpi aneh itu.

Ternyata ini nasib baik yang aku dapatkan??

Oh Tuhan…. Terima kasih atas anugrah yang kau berikan padaku.

Hahaha… kalau begini sih aku tak akan menolak. Asalkan bersama Sungmin oppa, aku mau.

Yoora-ya, gomawo!! Berkat penolakanmu, Sungmin oppa menikahiku!

 

“Hei, mau sampai kapan kau bengong seperti itu?!” tegur Sungmin oppa.

“Ee? Ah.. mian, mian. Aku hanya tak percaya dengan apa yang aku alami saat ini!” ucapku.

“Sudahlah, kajja! Orang tuaku sudah menunggu kita!” ajaknya sembari menarikku ke dalam rumahnya.

Astaga! Ya Tuhan! Ia menggenggam tanganku lagi!! Jantungku mau lompat saking deg-degan dan senangnya!!

 

“Oi hyung!” panggil seseorang membuat kami berhenti berjalan dan berbalik.

Sungmin oppa melepas genggaman tangan kami lalu memeluk pria yang memanggilnya.

“Sungjin! Apa kabar?”

“Baik hyung! Ngomong-ngomong, gadis itu siapa?” tanya pria bernama Sungjin sembari menunjukku.

“Oh ya, kenalkan ini Park Richan, eung… pacarku! Bagaimana? Cantik kan?” ucap Sungmin oppa mengenalkanku pada Sungjin.

Pacar?? Ia memperkenalkan aku sebagai pacarnya?! Tuhan, aku ingin melompat saking senangnya!!

“Dan, Riri-ya, kenalkan, ini Lee Sungjin, adik kandungku!” aku menyambut uluran tangan Sungjin dan tersenyum padanya.

“Ah! Eomma dan Appa ada dirumah?” tanya Sungmin oppa pada Sungjin.

“Ada, cari saja di dalam!” jawab Sungjin.

“Riri-ya, ayo kedalam!” ajak Sungmin oppa sembari merangkul pundakku.

Oppa…. Kau mau membuatku terkena serangan jantung ya?

“Jangan tegang! Okey?” bisiknya. Aku menganggukkan kepalaku.

 

~-~

 

“Ya! Kenapa baru sekarang kau kenalkan pacarmu yang cantik ini pada kami?!” seru eomma Sungmin.

“Hehe… mian eomma! Aku baru sempat sekarang.” Kekeh Sungmin.

“Ngomong-ngomong, ada angin apa kau kemari?” tanya appa Sungmin. Aduh.. aku deg-degan >.<

“Eung… aku… err…. Mau meminta restu dari kalian! Kami berdua mau menikah!” jawab Sungmin oppa membuatku tersipu.

“Omo! Terburu-buru sekali!” kaget eomma Sungmin.

“Kau serius ingin menikah dengannya? Kau mencintainya kan?”

 

Deg! Pertanyaan appa Sungmin sukses membuatku down.

 

“Te..te..tentu saja aku serius! Err.. aku mencintainya appa! Kalau aku tidak mencintainya, mana mungkin aku mau menikah dengannya!”

 

JLEB!! Sakit dan senang menjadi satu. Sakit, karena Sungmin oppa berbohong. Dan senang, karena Sungmin oppa mau menikahiku dan mengatakan ia mencintaiku meskipun hanya di bibir, bukan dari hati.

 

“Dia tak sedang hamil kan Sungmin-ah?” tanya appa Sungmin lagi.

“Omo! Sungmin-ah, kau sudah besar ya sayang. Sudah bisa melakukan ‘itu’ dengan seorang gadis!” aduuuh… eommanya Sungmin ini membuatku malu >.<

“Eh, ani! Dia tak sedang hamil kok appa! Tapi akan hamil! Hehe.. makanya aku mau buru-buru menikahinya sebelum ia hamil sungguhan!”

Sungmin oppa…. Mengapa kau menjawab seperti itu T.T

Appamu pasti mengira kita pernah melakukan hubungan itu dan kau buru-buru menikahiku sebelum aku ketahuan benar-benar hamil -_-

“Ckckck.. anak muda jaman sekarang.” Komentar eomma Sungmin.

“Kapan kalian akan menikah??” tanya appa Sungmin.

“Sekarang!”

“MWO?!” pekikku, eomma, dan appa Sungmin bersamaan.

Sungmin oppa gila! Gila! Gila! Gilaaaaaaa!!!

 

“Aku tidak mau menunda lagi appa. Lagipula hanya pernikahan sederhana agar tak ada media yang tahu! Kau kan tahu aku ini artis!” ucap Sungmin oppa.

“Yang penting aku menikah dengannya sah dari sudut pandang agama dan hukum. Itu saja sudah cukup!” sambungnya lagi.

Ya Tuhan… aku terharu :”)

 

~-~

 

Aku menatap cermin di hadapanku, memperhatikan refleksi diriku sendiri. Wajah yang tersenyum bahagia dan tubuh yang terbalut gaun indah pesanan Sungmin oppa itu adalah aku. Park Richan atau Riri Park yang sebentar lagi akan menjadi seorang Nyonya Lee. Riri Lee.

 

Aku meraih handphone di hadapanku. Aku masih punya waktu 10 menit sebelum aku berjalan ke altar. Lebih baik aku memberitahu eomma dan appa tentang pernikahanku.

 

“Yeoboseyo?? Riri-ya, ada apa??” suara eomma yang begitu aku rindukan terdengar ketika telepon tersambung,

“Eomma… eerr… apa appa ada bersamamu??” tanyaku. Sejujurnya aku bingung harus memulai darimana.

“Ada, ia sedang membaca koran di sampingku!”

“Tolong aktifkan loudspeaker handphonemu eomma, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan. Ini… serius.” Ucapku hati-hati. Ya Tuhan, semoga penyakit jantung ayahku tidak kumat ketika mendengar berita mengejutkan ini.

“Sudah. Bicaralah!”

Aku menarik nafas dalam-dalam, “Eomma, appa, hari ini aku menikah…” ucapku pelan-pelan.

“MWO?!?!” sudah ku duga akan begitu reaksinya.

“Kenapa terburu-buru Riri-ya?? Ada apa?? Apa sesuatu yang buruk terjadi padamu?? Kau… kau hamil??” tanya Eomma.

“Tidak eomma, tidak terjadi sesuatu apapun.” Jawabku.

“Lalu, kenapa kau terburu-buru sekali??” kali ini appa yang bertanya.

“Karena calon suamiku hanya punya waktu sekarang untuk menikah. Dia artis appa, dan jadwalnya padat sekali. Jadi, daripada pernikahan yang sudah kami rencanakan selama berbulan-bulan ini tertunda lagi, kami putuskan untuk menikah hari ini. Maaf, jika sebelumnya aku tidak memberitahu kalian dan pernikahan ini sangat mendadak sehingga sangat tidak memungkinkan untuk kalian hadir di acara pernikahanku.” Jelasku berdusta. Mian appa, eomma, lebih baik kalian tidak tahu yang sebenarnya.

Kami diam selama beberapa saat hingga akhirnya appa bicara lagi, “Kalian saling mencintai kan??”

DEG!

Apa kami saling mencintai?? Kenapa appa menanyakan itu??

“Te..ten..tu saja. Iya, tentu saja kami saling mencintai!” dustaku lagi. Ya Tuhan, tolong ampuni dosa hambamu ini yang telah mendustai orang tuanya sendiri.

“Jangan memaksakan diri. Hentikan pernikahanmu jika nantinya hanya akan membuatmu sakit.”

“Appa, aku mencintainya. Aku ingin hidup bersamanya. Aku berjanji, aku pasti bahagia. Dia orang yang baik appa. Dia tidak mungkin menyakitiku.”

Appa, andai kau tahu, air mataku telah mengalir sekarang. Apa yang ku katakan barusan, aku sendiri tidak yakin. Aku hanya berharap, berharap aku akan bahagia hidup bersamanya. Dan juga berharap, agar ia tak pernah menyakitiku.

“Yeobo, sudahlah, Riri sudah besar. Ia tahu apa yang terbaik dan apa yang buruk untuknya. Kalau memang ia bahagia dengan pernikahannya, maka kita sebagai orang tua haruslah merestui dan mendoakan agar putri cantik kita ini selalu bahagia.” Ku dengar suara eomma yang meminta appa untuk merestui pernikahanku.

“Hhhh…” aku mendengar appa menghela nafas. Dalam hati aku terus berharap agar appa merestui pernikahanku.

“Baiklah, jika kau bahagia, aku juga bahagia. Menikahlah. Tapi… jika suatu saat nanti ia menyakitimu, kembalilah ke rumah.” Aku menghembuskan nafas lega.

“Ne appa.” Aku menganggukkan kepalaku meskipun aku tahu appa dan eomma tak akan melihatnya.

 

“Riri…” aku membalik badanku dan mendapati ayah Sungmin oppa berjalan ke arahku.

“Ah! Ahjus.. ehm, maksudku abeoji, apa pernikahannya sudah dimulai??” tanyaku.

“Belum. Tenanglah! Ngomong-ngomong, siapa yang kau telepon?? Apa orang tuamu??” aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaan calon ayah mertuaku.

“Boleh aku bicara dengan mereka??”

“Ne. Ini.” Aku menyerahkan handphoneku pada ayah Sungmin oppa dan menyimak apa yang ayah Sungmin oppa bicarakan dengan kedua orang tuaku.

 

POV End

 

~-~

 

Riri memasuki gereja dan semua jemaat berdiri. Ia berjalan dengan anggunnya di samping ayah Sungmin. Semakin dekat dengan altar, maka detak jantungnya semakin cepat.

Berkali-kali ia menahan nafas, dan berkali-kali juga ia menghembuskannya. Matanya terfokus pada sesosok pria yang berdiri memunggunginya di altar.

“Aku senang kau menjadi menantuku…”

Riri sedikit menolehkan kepalanya ketika mendengar suara ayah Sungmin. “Ku harap kau juga senang menjadi menantuku.” Sambung ayah Sungmin.

Riri tersenyum kecil. “Bukan senang lagi ahjussi, tapi aku bahagia…” ucap Riri.

Mereka kembali terdiam, hingga akhirnya ayah Sungmin kembali membuka mulutnya.

“Aku menaruh harapan besar padamu, tolong jaga putraku. Bantu ia menjadi semakin dewasa. Bantu ia menemukan apa arti hidup sesungguhnya. Dan sadarkan dia… jika pernikahan bukanlah permainan.”

DEG!

Hati Riri seolah terketuk ketika mendengar kalimat terakhir dari ayah Sungmin.

“Kau tahu, 25 tahun aku hidup dengannya. Itu bukanlah waktu yang singkat untukku mengenal bagaimana anakku sendiri. Mulut bisa berkata apapun, namun mata, tak akan pernah bisa membohongiku.”

Jantung Riri berdebar semakin kencang. Matanya tidak lagi fokus pada Sungmin. Ia sedikit menundukkan kepalanya, menatap lantai gereja yang sedang ia pijaki.

Lidahnya kelu. Tak satupun kata yang keluar untuk membalas ucapan ayah Sungmin.

“Kalau kau meragukan pernikahan ini, mundurlah sekarang sebelum aku menjalankan amanat ayahmu untuk menyerahkanmu pada putraku.”

Riri bergulat dengan pikirannya sendiri. ‘Apa yang harus aku lakukan?? Haruskah ku lanjutkan pernikahan ini?? Ya Tuhan, tolong beri aku petunjukmu.’ Batin Riri.

Tinggal beberapa langkah lagi ia sampai di altar. Namun hatinya masih diliputi keraguan.

‘1, 2, 3, 4, 5, 6, 7…’ Riri menghitung dalam hati. Ia memejamkan matanya sejenak, mencari jawaban atas keraguannya.

Riri menghentikan langkahnya membuat ayah Sungmin ikut berhenti dan menatapnya. Perlahan Riri membuka matanya dan menoleh, membalas tatapan ayah Sungmin.

“Ahjussi… Aku mencintai putramu.” Ucap Riri mantap. Ayah Sungmin kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Seulas senyum kecil terbentuk di wajahnya. Dia tahu, wanita di sebelahnya memang wanita yang tepat untuk putra tertuanya.

“Beberapa detik lagi, kau resmi menjadi istri dari putraku. Dan itu artinya kau akan menjadi putriku. Maka, jika Sungmin menyakitimu, katakan padaku! Aku sendiri yang akan menghajarnya dengan tanganku!”

Riri terpana mendengar ucapan calon ayah mertuanya. Senyum pun tak dapat ia sembunyikan lagi dari wajahnya.

~-~

 

Sungmin masih sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Sudah tak terhitung berapa kali ia menghela nafas.

‘Apa ini keputusan yang salah?’ tanyanya pada dirinya sendiri. Ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana dan mengambil kotak cincin di dalamnya. Ia membuka kotak tersebut dan memperhatikan isinya. Cincin yang Riri pilih untuk pernikahannya dengan Yoora.

Ia tersenyum pahit dan kembali memasukkan kotak tersebut ke saku celananya. ‘Kenapa aku begitu jahat??’

‘Pria macam apa aku ini? Menjadikan gadis sebaik Riri sebagai pelarianku. Haish…’

‘Riri-ya, mianhae. Aku… aku tidak bermaksud begitu…’

Sungmin berhenti menggumam dalam hati ketika Riri dan ayahnya sampai di altar. Pelan-pelan ia membalik badannya.

‘Ya. Seperti yang Nyonya Chang katakan, Riri memang cantik dengan gaun pengantin itu.’ Batin Sungmin.

 

Sungmin mengulurkan tangannya.

“Sungmin-ah.” Panggil ayah Sungmin.

“Ne?”

“Hhh… kau sudah besar sekarang. Kau tahu mana yang baik, dan mana yang buruk. Ku harap, keputusan yang kau ambil ini adalah keputusan yang baik dan benar.”

Sungmin menganggukkan kepalanya pelan. Dalam hati ia berpikir, apakah keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang benar?

“Kau akan memasuki kehidupan barumu, yaitu berumah tangga. Pesanku dan kedua orang tua Riri, jaga Riri baik-baik, jadilah suami yang baik, dan jangan sakiti Riri. Karena… jika sampai kau menyakitinya, maka, bukan orang tua Riri lah yang menghajarmu, tapi aku sendiri yang akan menghajarmu dengan tanganku sendiri.”

Deg!

Jantung Sungmin berdetak cepat. “Nn..ne..ne appa.” Angguknya.

Ayah Sungmin pun menyerahkan tangan Riri ke tangan Sungmin.

 

~-~

 

Kini Riri berdiri sejajar dengan Sungmin. Tangannya mulai basah dan dingin.

Setelah beberapa doa dan lagu-lagu khas pernikahan di lantunkan, Pastur membacakan Titah Tuhan lalu bersiap menanyakan mereka beberapa pertanyaan peneguhan.

“Pada pernikahan suci ini, yaitu di Katedral Gongseri, pada hari Minggu, tanggal 12 Februari 2012, akan dipersatukan, Lee Sungmin dengan Park Richan.” Ucap Sang Pastur.

“Sekarang sebagai seorang hamba Allah saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria dan mempelai wanita. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui  kesungguh-sungguhan  mereka  dalam memasuki  pernikahan kudus ini. Saya juga akan menanyakan sebuah pertanyaan kepada Jemaat Tuhan untuk dijawab bersama-sama. Mempelai pria dan mempelai wanita diharapkan untuk menjawab dengan bebas dan tegas karena memang janji nikah harus diucapkan  dengan sungguh-sungguh,  bebas,  tanpa  paksaan dan disaksikan oleh Allah dan JemaatNya.
Inilah janji nikah saudara yang harus dipegang teguh sampai maut memisahkan. Sesuai dengan niat hati saudara yang tulus dan suci, hendaklah saudara-saudari berdiri dihadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya  serta menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan tegas.” Jelas Pastur.

Pastur menatap Sungmin dan mulai melontarkan pertanyaan yang harus dijawab Sungmin dengan tegas.

“Lee Sungmin , apakah kau bersedia mengakui dihadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya bahwa kau mau menerima Park Richan sebagai istrimu satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidupmu?”

Riri menelan ludahnya. Ia takut mendengar jawaban Sungmin.

“Saya… Bersedia!” jawab Sungmin agak ragu namun tegas pada akhirnya.

“Apakah kau bersedia mengasihinya sama seperti kau mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama kalian berdua hidup?”

“Saya Bersedia!” jawab Sungmin lagi dan Riri hanya menatapnya dengan tatapan penuh harap.

“Apakah kau bersedia menjaga kesucian pernikahanmu ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?”

“Saya Bersedia!”

Riri bernafas lega. Namun itu tidak lama, karena sekarang ia kembali gugup. Pastur tersebut kini menatapnya. Jantungnya berdetak sangat kencang.

“Park Richan, apakah kau bersedia mengakui di hadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya bahwa kau mau menerima Lee Sungmin sebagai suami saudari satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidupmu?”

‘Semoga ini bukanlah keputusan yang salah.’ Batin Riri sebelum menjawab, “Saya bersedia.”

“Apakah kau bersedia tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan  atau  kekurangan,  dalam keadaan sakit dan sehat  dan setia kepadanya selama kalian berdua hidup?”

“Ya. Saya bersedia!” jawab Riri. Sekarang, ia tak terlalu gugup seperti tadi.

“Apakah kau bersedia menjaga kesucian perkawinan  ini  sebagai istri  yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?”

Riri menarik nafasnya lalu menjawab, “Saya Bersedia.”

Kini Pastur menghadap ke depan, menatap jemaat yang hanya beberapa orang (Keluarga Sungmin yang tinggal di Seoul).

“Kepada seluruh sidang Jemaat Tuhan dan para hadirin yang menyaksikan dan mendengarkan janji-janji ini saya bertanya, Apakah Bapak/Ibu, Saudara/i mendukung dan mendoakan kedua saudara ini dalam hidup nikah mereka? Kalau sidang Tuhan dan para hadirin bersedia, harap  bersama-sama menjawab Amin.”

“AMIN.” Jawab seluruh jemaat.

Sang Pastur kembali menghadap Sungmin dan Riri. Kini tiba saatnya pengucapan janji setia suami istri.

“Saudara Lee Sungmin, sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan.” Ucap Pastur.

“Demi nama ALLAH BAPA, ALLAH ANAK, DAN ALLAH ROH KUDUS. Saya, Lee Sungmin menerima Park Richan menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi JemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu.” Ucap Sungmin dengan lantang tanpa ragu sedikit pun.

“Saudari Park Richan, sekarang ucapkan janji nikah saudari dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan.”

Kembali Riri menarik nafas. “Demi nama ALLAH BAPA, ALLAH ANAK, DAN ALLAH ROH KUDUS. Saya, Park Richan menerima Lee Sungmin menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu.”

 

Setelah pengucapan janji, tibalah saatnya pengenan cincin.

Sungmin mengambil kotak cincin dari dalam sakunya dan membuka kotak tersebut.

“Cincin ini menggambarkan kasih antara seorang suami dan isteri. Cincin yang melingkar tidak mempunyai ujung dan pangkal, melambangkan kasih yang tidak akan berhenti. Cincin ini terbuat dari emas murni tidak akan berkarat, melambangkan kasih yang tidak akan luntur dan rusak. Demikian kiranya kasih antara kedua saudara ini, Lee Sungmin dan Park Richan tidak akan berakhir selama keduanya hidup, bertambah hari bertambah suci, bertambah hari bertambah matang dan bertambah hari bertambah tulus.” Ucap Sang Pastur yang diamini Riri dalam hati.

Sungmin melangkahkan kakinya, berpindah posisi, dari di samping Riri menjadi di hadapan Riri.

“Saudara Sungmin, masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan saudari Richan sebagai tanda kasih saudara kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur.”

“Lucu sekali ya? Akhirnya cincin ini kusematkan di jarimu, bukan Yoora. Kekeke… sepertinya cincin ini hanya ingin dengan orang yang memilihnya.” Ucap Sungmin pelan sembari menyematkan cincin tersebut di jari Riri.

Riri hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan Sungmin. Senyum yang pahit.

“Saudari Richan, masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan saudara Sungmin sebagai tanda kasih saudari padanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur.”

Sungmin mengambil cincin tersebut lalu meraih tangan Sungmin dengan lembut.

‘Sesakit apapun aku, aku tidak  akan menyesali pernikahan ini!’ batin Riri sembari menyematkan cincin tersebut di jari Sungmin.

 

Tiba saat yang paling mendebarkan bagi Riri.

Sungmin membuka kerudung yang menutupi wajah Riri.

“Lee Sungmin, inilah saudari Richan, wanita yang Tuhan berikan kepadamu sebagai penolong yang sepadan. Terimalah dengan ucapan syukur dan ketulusan. Dan Park Richan, inilah saudara Sungmin, pria yang Tuhan berikan kepadamu sebagai istri yang kepadanya engkau menjadi penolong dan pendamping yang setia. Terimalah dengan ucapan syukur dan ketulusan.”

Setelah Pastur mengucapkan hal tersebut, Sungmin mendekati Riri lalu meraih pinggang Riri dengan tangan kirinya.

Nafas mereka sama-sama memburu bak orang yang habis berlari marathon.

Tangan kanan Sungmin bergerak menyentuh pipi Riri yang dingin dan lembut. Debaran jantungnya tak kalah cepat dari debaran jantung Riri.

Pelan-pelan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Riri.

Sungjin dari bangku jemaat sudah bersiap untuk kembali memotret setiap moment langka dalam pernikahan kakaknya.

 

“Apa… aku boleh menciummu?” tanya Sungmin, meminta izin sebelum ia benar-benar mencium Riri.

Riri menelan ludah kembali lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Sungmin pun mencium bibir Riri. Lembut dan –mungkin- penuh perasaan.

Sensasi ketika ia mencium bibir Riri benar-benar berbeda dengan saat ia berciuman dengan gadis lain ataupun pria lain (Kyuhyun, heechul, etc. -_-). Benar-benar menenangkan dan membuatnya menginginkan ciuman itu untuk lebih lama lagi.

 

Setelah prosesi pembukaan kerudung dan ciuman, acara kembali dilanjutkan. Mulai dari penyerahan alkitab, persembahan buah sulung kedua mempelai, ucapan terima kasih kepada orang tua, menyanyikan lagu pujian, doa, dan nyanyian penutup, mereka berduapun dipersilakan meninggalkan ruangan.

Sungmin memposisikan telapak tangannya di perutnya sendiri membentuk segitiga agar Riri bisa melingkarkan tangannya.

Awalnya Riri ragu, namun akhirnya Riri melingkarkan tangannya dan melangkah beriringan bersama Sungmin.

 

‘Sekarang, semua dimulai. Inilah awal aku menjadi seorang Lee Richan… dan akan terus menjadi Lee Richan sampai akhir.’

 

~UM3 Before Story’s Status: End~

 

Yeah!!! Akhirnya kelar juga yg ini… fiiiuuuuuhhhh….

Semoga gak mengecewakan :”)

5 responses

  1. kyaaaa…….
    senangnya membacanya seakan-akan aku sendiri yg menikah………
    Pernikahan yg suci
    jdi kebayang2 klo nikah apa aku kyk gitu ea????
    *mengkhayaltingkatdewa*

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s