Be with you [5/?]

                Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Choi Sooyoung, Shim Changmin, Im Yoon Ah

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship,

Length : Part 1 ׀ Part 2 ׀ Part 3 ׀ Part 4 ׀ Part 5 ׀ Part __

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Poster by @dwikusumaa

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

♥ Be With You ♥

Happy reading guys ♥

And don’t forget to leave comment dan like ^^

Previous part :

“Aku dan Changmin oppa akan bertunangan lagi. Aku harap kau datang,”

“Apa harus kukatakan aku mencintaimu? Kau bisa merasakannya. Coba perhatikan dengan baik,”

“Aku juga merasakan detakan itu. Apa arti perasaan ini?”

“Iya. Bukannya aku sudah janji padamu? Beri aku waktu… dan akan kupastikan perasaan itu kembali lagi,”

“Aku tak bisa hidup tanpamu walau kamu bukan untukku… sampai maut memisahkan,”

~Part 5~

Changmin melirik singkat Sooyoung yang menundukkan wajahnya. Terlihat sekali Sooyoung yang terlihat gugup. “Aku tahu.. aku juga merasakannya,” balas Changmin dengan mengalihkan pandangan matanya saat manik mata Sooyoung menangkapnya.

“Lalu, kenapa kau menyakitiku?” tanya Sooyoung dengan memainkan tuts piano. Terdengar nada yang tak berirama.

Changmin bangkit dari dudukannya, berjalan kearah jendela yang menghadap ke luar. Memandang langit, berusaha mendapatkan jawaban dari langit itu. Ia sandarkan tubuhnya ke daun jendela tersebut. Menghela nafas sebentar lalu berkata, “Apa ini menyakitimu? Kalau begitu menjauhlah dariku,”

Sooyoung hanya menatap pilu Changmin dengan seberkas cahaya jingga matahari yang menerpanya. Sooyoung berajalan kearah Changmin, menyamakan posisi mereka. “Apa kau mencintaiku?” tanya Sooyoung dengan perasaan gundahnya. Ia benar-benar tak mengerti perasaan pria. Kenapa pria tak bisa mencintai satu wanita saja? Apa memang semua pria pasti mencintai dua serpihan hatinya? Apa mereka tak bisa memilih salah satu?

Changmin tak tau harus berkata apa. Sepertinya keegoisannya membuat gadis yang ia cintai sakit hati. Lidahnya pun sangat kelu untuk mengucapkan satu katapun. Apa yang harus ia lakukan?

“Kenapa hanya diam saja? Kau tak mencintaiku kan?” pekik Sooyoung dengan mata yang mulai mengenang di sudut matanya walau samar.

Sooyoung melangkah meninggalkan Changmin namun itu terhenti, karena tangan kekar itu berhasil mencengkram tangannya kuat. Dengan sekali hentakan Changmin membalikkan posisi Sooyoung menghadapnya. Seakan seperti kapas yang mudah ia raih.

Sooyoung terhenyak saat ia menyadari tangannya menyentuh dada bidang Changmin yang hangat. Membuat ia tenggelam pada tubuh Changmin. Dan detakan jantung itu kembali bergema. “Apa harus kukatakan aku mencintaimu? Kau bisa merasakannya. Coba perhatikan dengan baik,”

“Mmmm.. benar juga,” gumam Sooyoung dengan mendongakkan wajahnya. Membuat bibir mereka bersentuhan.

Bukannya menghindar, keduanya semakin terhanyut pada perasaan mereka yang bergemuruh.  Membiarkan matahari yang tersenyum merasakan perasaan mereka yang tak bisa diartikan.

****

                Seorang namja melengang dengan santai di airport. Memandang gumpalan awan tersebut. Ia hirup udara Seoul dan menghembuskannya perlahan dengan wajah riang.

Seorang pria separuh baya datang dan memberi hormat pada pria yang bahkan lebih muda darinya. “Tuan, apa sudah semua?”

Namja tersebut menoleh dan tersenyum. “Semua sudah dipersiapkan?”

“Tentu,”

Namja yang berparas tampan itu pun menuju mobilnya. Selama diperjalanan ia terus memandang kota Seoul yang sudah lama tak ia kunjungi. Memang, ia orang Korea asli. Tapi, sejak umur belasan ia pindah ke Amerika untuk studynya.

“Kau sudah mencari informasi tentangnya bukan?” tanya namja tersebut kepada supirnya.

Pria paruh baya yang merupakan orang kepercayaan dari namja tersebut melihat kearah pantulan cermin yang ada di mobil. Ia mengangguk dan tersenyum, “Tentu saja, sekarang saya akan antarkan tuan muda ketempatnya,”

“Baiklah,”

Dan beberapa saat kemudian namja tersebut sudah ada dilokasi yang ia dambakan.

Gadis yang merupakan penghuni apartement tersebut membuka pintunya. YoonA membelalakkan matanya saat mendapatkan sosok namja yang sangat ia kenal dihadapannya. Ia sipitkan matanya untuk memastikan memang namja tersebut ada di Korea dan di hadapannya sekarang.

Oppa? Kenapa kau ada di Korea?” pekik YoonA dengan melihat namja dihadapannya dengan detail. Memerhatikan tubuh pria itu dari atas kebawah dan ia yakin sosok itu.

“Aku ‘kan warga Korea juga,” sunggut pria tersebut dengan melenggang masuk ke apartement YoonA tanpa permisi.

YoonA menutup pintu tersebut lalu ia menghampiri pria dihadapannya. “Oppa ! Jawab! Kenapa kau ke Korea?”

Pria tersebut menautkan alisnya singkat lalu tersenyum arti. “Bukankah aku sudah bilang padamu? Bahwa aku takkan meninggalkanmu sampai kapanpun. Aku akan merebutmu kembali,”

****

                Hyoyeon menatap Sooyoung prihatin. Merasa pilu mendengar curhatan Sooyoung dengan topik yang sama. “Sudah kukatakan lebih baik menjauh,” hanya ucapan itu yang terus terlontar dari bibir Hyoyeon. Seakan hanya itu jalan satu-satunya.

Sooyoung menekuk wajahnya. “Aku sudah mencoba… Tapi, tetap tak bisa,” jawab Sooyoung.

Hyoyeon meraih minumannya. Ia meneguk Jus Jeruknya hingga tandas. “Kenapa tidak bisa?” selidik Hyoyeon dengan memainkan sedotannya. Seakan meledek Sooyoung dengan tatapannya.

Sooyoung memutar bola mata lalu mengangkat bahunya. “Mollayo,” desisnya. Ia berfikir sebentar lalu menatap Hyoyeon dengan seksama. “Ini seperti pertanyaan ‘Apa kau bisa hidup tanpa Eunhyuk?’ Bagaiman menurutmu? Apa kamu bisa? Tidak ‘kan? Nah, seperti itu juga perasaanku,” cecar Sooyoung beruntun.

Hyoyeon hanya bisa diam. Memang perasaan Sooyoung pasti takkan bisa meninggalkan Changmin. Sama sepertinya, tak bisa meninggalkan permata hatinya walau kadang pria itu suka sekali membuatnya jengkel.

“Tapi, ini kasusnya beda. Aku dan Eunhyuk oppa saling mencintai. Tapi… Kalian?” selidik Hyoyeon yang tak mau kalah berargumen dengan Sooyoung.

Sooyoung semakin menatap Hyoyeon serius. “Kami saling mencintai.. hanya saja penghalang itu sangat susah diterobos,” kilah Sooyoung.

“Jadi, intinya dia bukan takdirmu ‘kan?”

Sooyoung menautkan alisnya bingung. “Takdir? Memang kau dan Eunhyuk oppa sudah ditakdirkan?” rengut Sooyoung lagi.

Hyoyeon hanya bisa mendesah kesal. Ia senderkan badannya ke kursi lalu berdecak, “Kalau takdir akan dimudahkan. Tapi, jika bukan takdir itu akan susah,” cibir Hyoyeon. Hyoyeon menepuk bahu Sooyoung halus berusaha memberi kekuatan pada sahabatnya itu. “Kau pasti bisa mendapatan yang lebih baik Sooyoung ah. Percayalah,”

****

                YoonA menopang dagunya lalu kembali menatap namja dihadapanya. “Yah Lee Donghae ! Sudah kukatakan aku takkan bisa mencintaimu,” pekik YoonA menggebu.

Pria yang bernama Lee Donghae hanya tersenyum manis saat mendengar pernyataan gadis dihapannya. Ia tahu betul perasaan gadis dihadapannya. Seperti menyembunyikan suatu hal yang ingin segera ia luapkan.

YoonA menghempaskan tubuhnya ke sofa. Lalu hanya diam tanpa suara. Ia cukup lelah menghabiskan semua suara untuk meluapkan kekesalannya pada Donghae.

“Kau sudah marahnya?” tanya Donghae dengan milirik YoonA meledek.

YoonA hanya meresponnya dengan deruan nafas yang berat. Ia benar-benar tak menyangka pria itu mengejarnya sampai ke Korea. Padahal, ia sudah jelaskan tak mungkin dijodohkan dengan Donghae. Tapi, mau bagaimana lagi? Sepertinya Donghae benar-benar sudah jatuh cinta dengan YoonA. Hingga, ia tak rela melepaskannya.

YoonA bangkit dari dudukannya dan berjalan meninggalkan Donghae. Namun, Donghae malah membututi gadis itu kemana saja. Semakin membuat YoonA geram. “Aish.. Jinjja, Apa yang kau inginkan?” umpat YoonA kesal pada pria dihadapannya.

“Bukannya aku sudah bilang kalau aku takkan melepaskanmu? Jadi, takkan kubiarkan kau luput dari pandanganku,” rengut Donghae dengan tatapan mata khasnya.

Oh, ini lah yang membuat semua yeoja akan luluh melihat tatapan yang innocent itu. “Baiklah, Tapi, kau tau sendiri ‘kan kalau aku akan bertunangan?” YoonA menghembuskan nafas beratnya.

“Aku tau.. Tapi, hanya tunangan ‘kan? Bukan menikah?” Donghae tersenyum saat melihat segurat wajah YoonA yang pasrah.

“Kau!!” pekik YoonA dengan amarah yang tak bisa lagi ia simpan.

****

                Changmin menghirup sebuket bunga yang ia beli. Terdapat senyum diwajahnya saat membayangkan gadis yang akan menerimanya tersenyum manis kepadanya. Namun, di detik selanjutnya senyum getir terulas diwajahnya. Bayangan akan kejahatannya menyakiti Sooyoung. Ah, ia sendiri benar-benar bingung kenapa ia bisa membagi kedua hatinya?

Changmin pun berjalan menuju apartement YoonA. Derapan kakinya kini terdengar sebuah keyakinan.

Setelah sampai pada apartement YoonA, ia memasukkan sandinya. Ia memang tahu sandi apartement tunangannya sendiri. Sehingga, ia tak perlu repot jika ingin berkunjung menjumpai YoonA.

“Yoong !” pekik Changmin yang bergema. Hingga membuat YoonA yang ada di dapur pun mendengar pekikan Changmin.YoonA menolehkan kepalanya mencari sosok Changmin. Dan Donghae juga mengikutinya.

Seulas senyum Changmin yang terlihat saat YoonA membalas ucapannya tiba-tiba menghilang. Ia mengerutkan kening saat mendapati sosok pria dibelakang YoonA. Siapa pria itu? Setaunya YoonA tak mempunyai teman di Korea. Apa dia salah?

Waeyo oppa?” tanya YoonA yang heran pada raut wajah Changmin yang berubah.

Changmin melangkah mendekat lalu bertanya,“Dia siapa?”

Donghae yang mengerti langsung tersenyum dan merengkuh tubuh YoonA mesra. “Aku calon suaminya. Kami dijodohkan saat di Amerika.”

Changmin memekik pelan, “Apa?”

****

“Oh, bisahkah kalian tidak mengumbar kemesraan seperti itu?” cibir Sooyoung yang iri pada Eunhyuk dan Hyoyeon. Terlihat sekali mereka saling menikmati hidup mereka. Sedangkan dia? Terus berkelut dengan pria yang bahkan tak tegas memilih hatinya.

Andai saja waktu bisa diulang. Ia ingin sekali mengenal Changmin lebih dulu.. atau mungkin tak bertemu sosok itu selama hidupnya? Agar ia lebih bahagia menikmati hidupnya. Tidak seperti ini. Sepertinya raut wajah Sooyoung selalu mengisyaratkan beban hidupnya sangat menghimpit dan menyiksa. Berlebihan.

Hyoyeon hanya mendesah lemah lalu meledek sahabatnya, “Sudah kubilang lepaskan dia. Kau bisa cari yang lain. Apa perlu aku carikan?” tawar Hyoyeon yang berhasil mendapatkan satu pukulan ringan dikepalanya. Sedangkan Hyoyeon hanya meringis pelan saat sahabatnya menyiksanya.

Hyoyeon mendengar kekehan kecil yang ternyata itu berasal dari Eunhyuk. “Kenapa kau ketawa? Itu tidak lucu oppa,” rengut Hyoyeon manja dengan memukul ringan bahu pria tersebut.  Sedangkan Eunhyuk semakin menjadi-jadi kejahilannya.

“Sudahlah jangan pamer kemesraan lagi okay?” pekik Sooyoung dengan nada tinggi.

Kini giliran Eunhyuk yang meledek sahabat pacarnya. “Hahaha.. makannya kau harus mendengarkan apa kata Hyo. Dia benar. Kau harus bangkit..bukan terpuruk pada namja bodoh seperti dia. Ayolah, kau pasti bisa mendapatkan yang lebih baik,”

Sooyoung hanya mengapit kedua lengannya lalu berdesis, “Baiklah,”

****

Changmin menghempaskan tubuhnya lemah ke sofa. Ia menatap tajam kearah YoonA. “Jadi, dia itu calon suami ? Lantas, apa pertunangan kita ini suatu permainan Im Yoon Ah ?” pekik Changmin dengan mendelik kesal.

YoonA hanya menghembuskan nafas berat saat mendengar kecemburuaan Changmin yang berlebihan. Padahal, ia juga sering melihat Changmin dengan asiknya bersama Sooyoung. Sedangkan dia hanya bertemu Donghae saja, Changmin sudah kalang kabut. Benar-benar pria egois.

“Ayolah oppa.. Kau saja bersama Sooyoung aku tak melarang. Kenapa aku bersama Donghae oppa kau jadi seperti ini?”

Changmin mengerutkan dahinya kesal. “Oh.. Jadi, namanya Donghae?” Changmin bangkit dari dudukannya dan menuju dapur. “Terlihat sekali kalian mencintai…” gumam Changmin.

YoonA juga bangkit dan mensejajarkan dirinya pada Changmin. Ia meraih tangan Changmin saat pria itu ingin membuka lemari es. “Tunggu… kalau misalkan aku dan Donghae saling mencintai.. apa kita bisa menyudahi pertuangan kita?” tanya YoonA dengan hati-hati.

Changmin menyingkirkan tangan YoonA dari pergelangan tangannya. “Aishh.. Terus, kenapa kau ingin bertunangan denganku kalau kau mencintai Donghae ?”

YoonA memundurkan tubuhnya saat melihat raut wajah Changmin yang menyeramkan. “Ini seperti pertanyaan ‘kenapa kau ingin bertunangan denganku padahal kau mencintai Sooyoung’…” YoonA menghembuskan nafas perlahan lalu melanjutkan, “Ini susah dijelaskan.. Jadi, menurutku.. Kita, harus bisa memilih yang benar,”

****

                YoonA membaca novel di sebuah taman dekat apartementnya. Hari ini, dia janji bertemu dengan Sooyoung. Untuk menghilangkan rasa jenuh karena menunggu lama ia memilih membaca novel.

“Yoong !” pekik Sooyoung dengan melambaikan tangannya kearah YoonA. Terlihat senyum mengembang saat melihat YoonA.

Sooyoung berlari kecil lalu membungkukan tubuhnya. “Kau menunggu lama?” tanyanya. “Ah.. Hari ini menyenangkan bukan?” seru Sooyoung dengan nada riang.

YoonA menyuruh Sooyoung untuk duduk disebelahnya. “Bagaimana kabarmu?”

“Tentu saja baik,” balas Sooyoung berusaha membalas dengan senyum di wajahnya. “Bagaimana hubunganmu dengan Changmin oppa?” tanya Sooyoung dengan melirik YoonA singkat.

YoonA mendesah saat mendengar nama Changmin. “Baik.. Tapi, kami memutuskan untuk mengakhiri pertunangan kami.” Jawab YoonA yang berhasil membuat Sooyoung membelalakan matanya. Ia heran kenapa YoonA dengan mudah bisa berbicara seperti itu. Padahal, ia sudah cukup bisa merelakan Changmin bersama YoonA. Terus, usahanya gagal begitu?

Sooyoung meraih tangan YoonA. Berusaha meringankan beban hati YoonA. “Apa ini semua karenaku Yoong?” tanya Sooyoung dengan senyum getir terulas di bibirnya.

YoonA menggeleng dan berkata, “Ini karena ketidakjujuran kami. Aku mencintai orang lain namun menutupinya. Begitu pula Changmin oppa… Makannya kami jadi tersiksa.” YoonA terdiam lalu melanjutkan, “Aku harap kau bisa jujur pada perasaanmu Soo. Itu menyakitkan saat kau membohongi hatimu,”

Sooyoung menghela nafas. Mencerna setiap kata YoonA yang berisikan semangat untuknya. “Aku tau.. Aku tau,” Sooyoung menyibakkan rambut tipisnya karena tertiup angin. “Lantas, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

YoonA memutar bola matanya, berfikir. “Mungkin aku harus kembali ke Amerika. Dan melanjutkan kuliahku.”

****

                “Aku sudah dengar semua dari YoonA,” desis Sooyoung dengan menatap Changmin. Ia berjalan menuju taman rumah Changmin dan melanjutkan lagi, “Aku tak tau harus berbahagia atau prihatin,”

Changmin mengikuti langkah Sooyoung dan duduk disamping gadis itu, dengan jarak yang ia jauhkan sedikit. “Apa aku terlalu egois?” tanya Changmin dengan melirik Sooyoung singkat.

“Jawaban jujur atau tidak?”

“Yang pasti jujur lah,” balas Changmin dengan senyum tipis di sudut pipinya.

Sooyoung menghela nafas lalu menjawab, “Sangat dan aku tak menyukainya,”

“Apa?” pekik Changmin dengan menggelegar. Membuat Sooyoung reflek memundurkan tubuhnya dan hampir terjungkai dari kursinya. “Kau ini,” Changmin mengacak rambut Sooyoung.

****

                Donghae menatap YoonA dengan senyum manis diwajahnya. Dia sangat rindu pada raut wajah yang setiap malam terngiang di mimpinya.

“Jadi, selama di Korea kau seperti ini?” tanya Donghae dengan membelai lembut rambut YoonA. Membuat gadis itu sedikit nyaman saat bersama Donghae.

“Mungkin,” balasnya singkat dengan menerawang langit. “Bintang sangat indah hari ini,” gumam YoonA dengan memandangi bintang yang bertaburan indah. Padahal, selama ini ia hampir tidak pernah melihat bintang bertaburan dari balkon apartementnya.

Donghae terkikik pelan saat melihat mata YoonA yang berbinar. “Itu karena kau melihat bintang bersama orang yang berharga. Bintang tidak akan bertaburan indah saat ada yang terluka,” ucap Donghae yang membuat YoonA bergedik saat mendengar rayuan Donghae. Membuatnya tenggelam pada rayuan Donghae.

“Maafkan aku oppa.. Maafkan aku yang tak jujur pada perasaanku padamu,” desis YoonA dengan air mata yang mengenang di sudut matanya.

Donghae merengkuh pinggang gadis itu dan membelainya mesra. Menyeka buih krystal itu yang tak pantas mengalir di wajah cantik gadisnya. “Gwenchana YoonA ah.

****

                Changmin hanya memerhatikan Sooyoung yang lahap memakan makanannya. Dia tersenyum tipis saat melihat gadis itu. “Kau terlalu lapar?” ledek Changmin. Membuat Sooyoung hanya mendecak kesal.

“Sooyoung ah,” panggil Changmin manja.

“Apa?” tanya Sooyoung yang masih asik melahap makannya.

“Bolehkan aku meminta satu permintaan darimu?” rajuk Changmin dengan memasang wajah memelas.

Sooyoung memutar bola mata lalu menganggukan kepalanya. “Boleh. Asal jangan macam-macam,”

“Kalau begitu.. Jika, aku merindukanmu.. Bolehkah aku menghubungimu?”

To be continued

No SIDERS !

Komentar akan sangat membantu untuk melanjutkan fanfic ini ^^

Kalau kalian comment kan aku jadi semangat~

Maafkan keancuran fanfic ini T,T

Kritik dan saran sangat membantu untuk memperbaiki tulisanku ^o^

@Rekindria (95 line)

Iklan

13 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s