[1 Shoot] I Feel You

Tittle: I Feel You

Author: Nana Cho

Genre: Romance (default)

Rate: T

Main Cast:

  • Lee Joyeon [OC]
  • Kim Sunggyu [Infinite Sunggyu]

Other Cast:

  • Jeon Jirae [OC]
  • Kim Myungsoo [Infinite L]
  • ChinGyus ^^ [Sunggyu’s Fandom]

A/n: yang mau tahu pengumuman tentang member ‘Abernathy’ bisa click disini ^^

[…]

I can feel your heartbeat,

I can hear your sound,

I always feel like you here close be my side,

I feel you,

Do you feel the same?

[…]


[I Feel You]

‘I feel that         

Euimi eopneun nae pyojeongeul

Kkeojyeo ganeun naeui sumeul

Geurigo tto

Ijeuryeo haetteon neoeui gieok

I feel that

Han eopshi tteolligo inneun

Nae nungwa ibsul shimjangeul

Geureohkedo

Jiugo shipteon neoeui heunjeok

Always I feel you’

-Infinite (Sunggyu Solo) Because-

Because, lagu middle-beat itu masih menggema di rongga telingaku. Massih terus memenuhi pendengaranku, sekaligus memenuhi memori otakku dengan beribu pikiran tentang namja itu, namja yang sukses membuatku terus memikirkannya. Namja yang, namja yang telah merebut seluruh hati dan pikiranku.

Sunggyu. Ya, bayangan namja bermata sipit itu sedang sbuk ber’gentayangan’ di dalam otakku beberapa tahun terakhir ini. Sejak aku mulai menyukainya, bahkan sejak sebelum dia melakukan debute-nya sebagai penyanyi.

SPLASH.

Sebuah cahaya berpendar, menyadarkanku dari lamunanku tentang seorang namja bernama Kim Sunggyu. Kutolehkan kepalaku kearah seorang yeoja yang tengah duduk di sampingku sekarang, Jeon Jirae – sepupuku yang agak childish – sedang sibuk dengan sebuah kamera SLR di tangannya. Apalagi yang dia lakukan? Tentu saja mengambil foto Kim Myungsoo – namja idamannya – dari atas atap ini.

“Foto yang keberapa kali ini?”

“Er, hari ini aku hanya mendapat 20 fotonya. Aku tidak ada kelas bersamanya hari ini.”

“20? Hanya kau bilang? Ckckck…”

Kadang, aku iri dengannya. Jirae bisa mendapat sebanyak apapun foto Myungsoo yang dia mau. Dia bisa mengambilnya sendiri, dan itu eksklusif. Tak sepertiku, foto eksklusif Sunggyu yang kupunya hanya foto ketika kelulusan SMA-nya, dan beberapa foto keetika kami kecil. Selebihnya, hanyalah foto-fotonya yang kudapat dari internet.

Bahkan, ketika Jirae mulai sibuk dengan kameranya dan mengambil foto Myungsoo sebanyak yang dia mau dari atas atap ini, aku hanya bisa mendengar suara Sunggyu dari I-pod. Bukankah ini cukup menggenaskan?

Cinta platonis, mungkin itu yang kurasakan sekarang. Tapi, aku ingin bertemu denganmu Sunggyu.

“Aku pergi dulu. Kau pulang sendiri ya.” Kubenarkan letak slingbag di pundakku, seraya berdiri dari tempatku duduk.

“Ne, temuilah Sunggyu-mu itu, hwaiting!”

“Ne.” Kutunjukkan senyum lebarku menjawabnya.

“Annyeong.”

“Annyeong, hati-hati Joyeonnie.” Jirae melambaikan tangannya seraya tersenyum kearahku yang mulai berlari kecil keluar kelas. Aku harus cepat. Aku ingin bertemu Sunggyu secepatnya.

Kumasuki main hall department store lokasi peluncuran album Sunggyu kali ini. Yang kulihat di sekitar hanyalah lautan manusia. Lautan fangirl lebih tepatnya. Mereka berteriak. Histeris. Memanggil nama Sunggyu. Meneriakkanya. Memekakkan telinga.

“KYAAA…” Teriakkan mereka semakin menjadi ketika seseorang memasuki panggung. Siapa dia? Dialah yang kami tunggu!

“Annyeong ChinGyus…”

“ANNYEONG…” Well, akhirnya aku bergabung dengan mereka. Berteriak demi membalas sapaannya.

Beat drum mulai terdengar, mengawali lagu yang akan Sunggyu nyanyikan. Because. Inilah lagu yang selama beberapa bulan terakhir ini memenuhi otakku. Lagu ini bahkan menghabiskan lebih banyak memori otakku, daripada materi kuliah yang seharusnya kuhapalkan.

“I feel that. Euimi eopneun nae pyojeongeul.” Sunggyu memulai lagu itu dengan baik. Membuat kami lebih keras lagi meneriakkan namanya, juga menyanyi bersamanya seraya menggoyangkan balon dan lightstick kebanggaan kami di udara. Disini, aku berdiri sebagai fans-nya. Sebagai ‘ChinGyu’ yang akan selalu mendukung dan mencintainya sepenuh hati. Meskipun jauh, jauh, jauh sekali di dalam hatiku, aku benar-benar mencintainya. Selayaknya perasaan seorang yeoja pada namja. Bukan perasaan seorang fangirl kepada idol.

“Sekarang, saatnya pembagian tanda tangan. Untuk para ChinGyu, dimohon untuk berbaris dengan tertib sesuai dengan nomor urut yang telah diberikan.” Terdengar suara announcer dari pengeras suara yang tergantung di atas kami.

Dengan rapi, kami yang telah terpilih mengantri di depan pintu sebuah ruangan yang digunakan untuk fanssign. Ya, pihak penyelenggara hanya memberi kesempatan untuk 100  orang ChinGyu yang beruntung untuk mendapatkan tanda tangan Sunggyu. Aku bersyukur karena termasuk dalam ChinGyu yang beruntung itu, dan nomor urutku? 98. Agak di belakang memang. Tapi, tak mengapa jika ini untuk SungGyu. Hehehe….

Satu persatu dari kami mulai memasuki pintu tempat Sunggyu berada.  Disana, masing-masing dari kami akan mendapat poster, yang akan langsung ditandatangani oleh Sunggyu. Aku sudah tak sabar menunggu giliranku sendiri!

Sudah lebih dari tiga  jam aku berdiri di antrian ini. Di belakang 97 ChinGyu lain. Yang kutahu, ada sekitar lebih dari 80 ChinGyu telah mendapat tanda tangan Sunggyu. Itu berarti, giliranku sudah tak lama lagi. Can’t wait!

Tak terasa, ternyata aku sudah berdiri di belakang tali pembatas. Kakiku sudah lelah, pegal. Sangat pegal. Tapi, semua rasa lelah dan sakit di kakiku itu langsung terobati begitu kulihat Sunggyu sudah ada di dekatku. Dia menunduk, menggoreskan tanda tangannya, kemudian memberikan poster itu seraya tersenyum pada yeoja di depannya. Menunjukkan matanya yang semakin menyipit saja ketika dia tersenyum. Sangat manis. Dia benar-benar tak berubah, masih saja memiliki senyuman itu.

“Silahkan, sekarang giliran anda Agassi.” Suara seorang namja mengembalikanku dari duniaku sendiri yang masih saja sibuk dengan Sunggyu di depanku.

“Oh! N – ne…” Aku terbata. Kulangkahkan kakiku mendekati meja Sunggyu seraya mendekap erat pack album pertamanya di dadaku. Bahkan, aku hanya bisa berdiri mematung memandang teman kecilku itu ketika kami berhadapan.

Begitu pula dengannya, dia terlihat kaget mendapatiku datang sebagai fans-nya yang akan meminta tanda tangannya. Mata kecilnya terus menatapku dalam-dalam, langsung menembus manik mataku. Kami berdua mematung bersama, kaget bersama. Bisa kulihat ada rasa bahagia tergambar di matanya. Apakah dia juga bahagia dapat melihatku lagi setelah selama ini?

“Kyaaa…” Teriakan para ChinGyus yang ada di belakangku otomatis mengagetkan kami. Kuberikan pack album itu pada Sunggyu, kemudian dengan segera di goreskannya tanda tangan di album itu. Tapi, dia tak hanya menggoreskan tanda tangan disitu, dia juga menuliskan sesuatu.

“Ige. Gomawo sudah mendukungku.” Ujarnya seraya mengelungkan pack album dan segulung poster yang sudah di tanda tanganinya, lengkap dengan senyum di bibirnya itu.

“Cheonmaneyo, Kim Sunggyu.” Kubalas senyumnya, kemudian berjalan keluar ruangan itu. Kudekap album bertanda tangannya itu erat-erat, seakan tak ingin melepasnya lagi. Nan johahae….

FLASHBACK

 

“Joyeon-aa, coba dengarkan ini.” Ujar seorang namja, kemudian memasang headset di telingaku tiba-tiba. Memenuhi seluruh pendengaranku dengan lagu yang tengah di putar di player-nya.

“Ya! Neo –” Baru saja akan kulayangkan protesku padanya, ketika sebuah suara terdengar dari headset di telingaku. Suaranya memang tidak terlalu lembut, agak serak. Tapi, nada tingginya benar-benar menakjubkan. Terlebih, pelafalan ‘S’-nya yang tidak terlalu jelas malah membuatku semakin terpesona dengan suara ini.  Suaranya indah. Bagus. Kyeopta. Er, kata apalagi yang pantas kuungkapkan? Aku tahu, ini suara Sunggyu. Teman kecilku yang sudah menghabiskan memori di otakku untuk terus menerus mengingat dan memikirkan tentangnya.

“Eottohkhae?” Tanyanya sambil tersenyum antusias.

“Bagus. Aku suka lagu ini.”

“Jeongmal?” Mata kecil itu menatapku berbinar. Menyiratkan banyak harapan dan mimpi disana.

“Jeongmal. Waeyo?”

“Haa… syukurlah kalau kau suka.” Senyumnya semakin lebar.

“Besok aku akan berangkat ke Seoul. Aku akan mencoba memasukkan lagu ini untuk demo rekaman. Semoga saja aku diterima. Kau harus mendoakanku. Ne?” Besok? Seoul?

“Oh! Ne…”

“Sudahlah. Aku pulang dulu. Aku harus menyiapkan semuanya untuk besok. Annyeong.” 

“Annyeong.” Kutatap punggungnya yang sudah menjauh dariku, melewati gerbang rumahku.

Besok? Seoul? Rekaman? Kenapa begitu mendadak? Kenapa sejauh itu? Bagaimana kalau dia diterima dan berhasil menjadi penyanyi? Mungkin aku egois. Tapi, aku tidak ingin kehilangannya. 

 

FLASHBACK END

Kulangkahkan kakiku memasuki sebuah buss yang berhenti di depanku. Bus yang tak begitu penuh. Kupilih untuk mengambil sebuah tempat di tengah, di dekat jendela. Kuhenyakkan tubuhku disana, masih dengan album Sunggyu yang kudekap erat. Eh, bukankah Sunggyu menuliskan sesuatu disana tadi? Coba kubaca.

‘Tak kusangka kau datang. Kuharap kau punya waktu luang barang sebentar untukku. Tunggu aku di air mancur depan department store. Aku akan menemuimu setelah menyelesaikan semua urusanku. Ini tak akan lama.’

Mwo?! Air mancur? Aigoo… kenapa aku baru membacanya sekarang? Aku harus kembali kesana dan menemuinya, meskipun salju sedang turun sekarang. Aku tak peduli.

“Aku turun disini Ajjusi.” Teriakku pada supir buss di depan. Kulangkahkan kakiku sesegera mungkin keluar buss, kemudian berlari menuju department store secepat yang kubisa. Salju sedang turun, terlebih hari sudah mulai gelap. Aku tak yakin bisa mendapat buss ke department store dengan cepat. Lagipula, jarak dari tempatku turun tadi, ke department store tak terlalu jauh. Tak masalah jika aku berlarian menembus salju sampai tujuanku.

“Hosh… hosh…” Kuhentikan langkahku tepat di depan air mancur yang Sunggyu maksudkan. Kuatur nafasku yang berantakan seraya membungkuk memegang lututku. Lelah. Kenapa lelah sekali seperti ini?

Setelah kurasa nafasku mulai stabil, kutegakkan badanku, kemudian menelusuri apa saja yang ada di sekelilingku. Mencoba mencari Sunggyu. Berharap dia masih disini untuk menemuiku.

“Joyeon-ah?” Kurasakan sebuah tangan menepuk pundakku lembut, menyusul sebuah suara namja yang tak terlalu berat. Sura yang sangat kukenal.

Kubalikkan badanku, dan mendapati seorang namja dengan jacket tebal, capuchon, dan syal yang melilit di sekitar lehernya, menutupi sampai setengah wajahnya. Dia, dia…

“Sunggyu!” Kupeluk erat namja di depanku itu. Aku sudah tak bisa menahan diriku lagi. Aku terlalu merindukannya sampai melupakan statusnya sebagai artis sekarang.

“Aigoo… kau bisa pelan sedikit tidak?” Bisiknya di dekat telingaku seraya membalas pelukanku.

“Hehehe… mianhae.”

“Gwaenchana, Joyeon-ah.” Kurasakan namja ini memererat pelukannya padaku. Nyaman. Sangat nyaman. Tapi,

“Sunggyu, aku tak enak dlihat orang. Lagipula kau ini ‘kan artis.” Kucoba melepas pelukannya perlahan. Tapi, yang terjadi adalah, dia tak melepasku. Dia hanya semakin memererat pelukannya.

“Biar saja. Aku tak peduli. Yang kupedulikan sekarang hanya, aku tak mau jauh-jauh darimu lagi.”

“Hei, kau tak boleh begini. Kau ini artis. Kau bukan Kim Sunggyu bocah ingusan yang dulu lagi.” Masih kucoba untuk melepas pelukannya sesegera mungkin. Beberapa orang disini sudah mulai menyadari bahwa namja ini adalah Sunggyu.

“Tapi, kau tetap Joyeon-ku. Kau tetap Joyeon milikku seorang.” Eh, apa katanya tadi?

“Apa maksudmu?”

Akhirnya, dilepaslah pelukannya pada tubuhku. Meskipun sebenarnya, aku masih ingin dipeluknya.

“Nan jeongmal saranghaeyo.” Ucapnya tanpa ragu seraya menatap kedalam mataku. Mwo?! apakah aku tak terkena halusinasi karena terlalu dingin?

“Joyeon-ah?”

“N – nde?”

“Apa kau juga menyukaiku?”

Kuanggukkan kepalaku semangat menjawabnya.

“Jeongmal?”

“Jeongmal. Nan jeongmal saranghaeyo Sunggyu-ya.”

“Gomawo!” Didekapnya tubuhku erat. Lebih erat dari pelukannya yang sebelumnya. Aku nyaris tak bisa bernafas!

“Sung – Sunggyu, aku tak bisa bernafas…”

“Mwo?! oh! Mianhae…” Langsung dilepasnya pelukan eratnya itu. Kemudian, jarinya bergerak membelai pipi chubby-ku. Hangat. Tangannya hangat.

Manik hitam itu masih menatap mataku dalam, ketika kurasakan jarak wajah kami semakin dekat. Dibukanya syal yang menutup separuh wajahnya itu sampai sebatas leher. Dibukanya juga capuchon yang menutupi kepalanya. Membiarkan tiap butir salju turun menimpa kepalanya. Membiarkan beberapa orang – terutama yeoja – disini melihat seorang Kim Sunggyu disini. Bisa kudengar mereka terpekik, saling berbisik, dan lebih banyak lagi yang berteriak. Terlebih, kudengar teriakan mereka semakin menjadi-jadi ketika kurasakan bibir hangat Sunggyu menyentuh bibir dinginku lembut. Agak kaget memang. Tapi, lama kelamaan aku bisa menikmati ciuman pertamaku ini. My first kiss, between the snow and the fangirls that shout for my boy.

6 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s