My Glow Shadow

Tittle: My Glow Shadow

Author: Nana Cho

Genre: Romance (default), Comedy (failed)

Rate: T

Main Cast:

  • Woohyun [Infinite Woohyun]
  • Lee Sungri [OC]
  • Jessica Jung [SNSD’s Jessica]

Other Cast:

  • Lee Kira [OC]
  • Sunggyu [Infinite Sunggyu]
  • Hyoan [Infinite’s Manager]

Disc: This ff is belong to me!

A/n: sebelumnya, mian yakk ada sedikit ‘bashing chara’ disini. Maap banget kalo ada yang ga trima. saya cuma coba tuangin ide di kepala saya aja. ._.v

Satu lagi, ada beberapa adegan di bagian akhir ff ini yang terinspirasi dari Infinite Sesame Player 2 Jadi, yang belum nonton, cepet nonton sana. Bagus lhooo kkk~ #promo

Happy reading!

[…]

Shadow, is something that gonna follow you wherever you go.

Shadow, it never gonna be far away from you.

What the color of your shadow?

Is it gray?

Is it black?

My shadow is glow by itself.

[…]

[My Glow Shadow]

TAP. TAP. TAP.

Suara benturan hak sepatu dan lantai marmer terdengar jelas memenuhi lorong yang kami lewati, membuat setiap orang menengokkan kepalanya, menghentikan kegiatannya sejenak untuk sekedar menilik siapa yang tengah melewati mereka kala itu. Bukan aku, tentu saja.

Jessica Jung, siapa yang tak mengenalnya? Hallyu star yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Wajahnya cantik, dia tak begitu tinggi, tapi kakinya juga tak terlalu pendek. Dia mungil, manis. Tapi, sayang sekali sikapnya tak semanis wajahnya.

“Tolong bawakan ini.” Lihat saja, sekarang di letakkannya begitu saja tas hermes-nya itu diatas tumpukan baju yang kubawa. Apakah tak dilihatnya tanganku penuh dengan baju-bajunya, ditambah dengan tas make up, dan satu tas berisi sepatu koleksinya. Dia masih menambah bebanku dengan light-green hermes ini? Kurasa dia benar-benar gila.

“Annyeong…” Ya, dia memang gila. Setelah meletakkan begitu saja di tasku, mulailah dia menyapa semua orang yang ada di ruang ganti ini, dan mulai mengobrol dengan asik. Melupakan keberadaanku.

Aku? Siapa aku? Namaku Lee Sungri. Aku asisten pribadi Jessica.  Sebenarnya, aku juga tak begitu berminat dengan pekerjaan ini. Bahkan, aku tak begitu menyukai yeoja itu. Tapi, bagaimana lagi, aku membutuhkan uang untuk biaya kuliahku.

“Kkaja kubantu.” Tiba-tiba kurasakan seseorang mengambil tumpukan baju Jess di tanganku.

“Eh, Woohyun-ssi. Tak perlu…” Kuambil lagi baju itu, dan membawanya seperti semula.

“Aniya, ini pasti berat sekali. Nenek sihir itu, benar-benar tak mempunyai perasaan.” Woohyun-ssi mengambil lagi baju-baju itu dari tanganku, kemudian membantuku menatanya di gantungan.

“Gamshahamnida Woohyun-ssi.”

“Cheonmaneyo, tak perlu seformal itu padaku.” Ujarnya seraya menunjukkan senyumnya padaku. Dia benar-benar tampan.

Nam Woohyun, atau yang biasa dikenal dengan Namstar, dia soloist namja dengan suara emas. Tak hanya suaranya yang emas. Bagiku, hatinya juga emas. Dia tak pernah menganggapku sebagai asissten Jessica, dan memandangku rendah. Dia sangat rendah hati, dia juga tak pernah malu membantuku membawakan beberapa – atau biasanya banyak – barang-barang keperluan Jessica. Ya, dia memang berhati emas. Jujur saja, aku menyukainya sejak pertama kali melihat debutnya di televise. Awalnya, aku hanya mengaguminya sebagai seorang ‘New Clear’ – sebutan untuk fans-nya. Tapi, entah sejak kapan perasaan ini mulai berubah menjadi sesuatu yang serius.

“Ya! Sungri, kau letakkan dimana jepit rambutku yang bertahtakan rubby tadi?!” Kupikir Jessica tak perlu meneriakiku seperti ini, hanya gara-gara jepit rambut. Terlebih, ini di ruang ganti yang sangat ramai orang. Semua orang tak harus mengetahui bahwa dia memiliki jepit rambut bertahtakan ruby ‘kan?

“Ini, Jessica-ssi.” Kuelungkan jepit rambut sumber keributan kali ini. Sikap ‘‘Ratu Kampus’’-nya benar-benar menyebalkan.

“Sepatuku?” Ujarnya menyebalkan seraya memasang jepit rambut di kepalanya.

“Yang merah.” Lanjutnya lagi.

Kuletakkan sepatu high heels steletto di depan kakinya. Aku tak ingin terlalu banyak berbicara kali ini.

“Aku siap.” Sang ‘Ratu Kampus’ berdiri dari duduknya, kemudian berjalan dengan tingkat kepercayaan diri dan aura angkuh yang sangat besar. Menuju panggung tempatnya akan bernyanyi kali ini. Hhh… kenapa dia begitu menyebalkan? Aasshh… Micheoso!

Kuhenyakkan tubuhku di sofa yang ada di sudut ruangan, lalu mulai menekan beberapa nomor yang sudah kuhapal. Kira, kutelfon sahabatku itu. Aku butuh berbicara dengannya.

“Yeoboseyo?” Suara renyah seorang yeoja terdengar, sesaat setelah nada tunggu berhenti.

“Yeoboseyo, kau ada waktu Kira-ah?” Kusilangkan kaki kananku di atas kaki kiriku seraya menyandarkan punggungku di sandaran sofa. Memposisikan diriku di posisi duduk ternyaman.

“Ada. Tapi, tak banyak. Kau tahu sendiri aku sangat sibuk latihan akhir-akhir ini. Mworago?”

“Araseo, aku ingin mengobrol denganmu. Bagaimana kalau besok  sore kita bertemu di kedai ramen Kim Ajjuma?”

“Hmm… boleh juga, sepertinya besok aku tak ada latihan. Pasti ini masalah si ‘Ratu Kampus’ itu. Ne?”

“Tahu saja kau.”

“Kira! Waktu istirahatmu sudah habis!” Suara seorang namja asing terdengar di belakang Kira. Pasti itu suara pelatih tarinya yang galak itu.

“Nee… sudah dulu ya Sungri-ah, sampai jumpa besok.”

“Ne. Annyeong…”
“Annyeong…”

“Pasti namja-mu.” Ujar seorang namja yang tiba-tiba duduk di sebelahku. Tepat ketika baru saja kututup flap ponselku.

“Woohyun-ssi? Aniya… ini temanku, bukan namjaku.” Kugoyang-goyangkan tanganku di depan wajahku sendiri, menyangkalnya. Walaupun aku tahu dia tak akan menyukaiku seperti apa yang kulakukan, tapi aku tak mau dia salah paham tentang statusku.

“Sudah, kau mengaku saja. Tak mungkin ‘kan yeoja secantik dirimu belum mempunyai namja.” Eh? cantik katanya?

Blush. Dia berhasil membuat pipiku memerah tanpa blush on. Pintar.

“Aniyo…”

“Hahaha… lihat pipimu memerah. Kau jadi makin cantik Sungri-ssi.”

“Woohyun-ssi!” Agak berteriak kupanggil namanya, seraya melayangkan sebuah pukulan ringan ke pundaknya. Bukannya berhenti, dia malah tertawa semakin keras. Ini membuatku semakin malu! Ditambah dengan beberapa idol yang masih di ruang ganti ini yang juga ikut tertawa karena kelakuan kami. Aasshhh… memalukan.

Kepulan asap putih yang menghambar dari panci Kim Ajjuma menyambutku ketika baru saja kulangkahkan kakiku memasuki kedai ramennya. Aroma kaldu sapi dan rempah-rempah yang menyebar bersama asap kuah ramennya selalu membuat siapa saja yang menciumnya ingin memasuki kedai ini.

“Oseo oseyo… Sungri-ah, lama tak mampir kesini.” Ujar yeoja paruh baya itu menyambutku dari dalam dapurnya yang terletak di bagian depan kedai.

“Annyeong Ajjuma, mianhae aku disibukkan pekerjaanku akhir-akhir ini.”

“Ya sudahlah, kau duduk sana. Kira sudah menunggumu.”

“Ne Ajjuma. Oh! Iya –”

“Kimchi Ramyun dan teh?” Tebak Kim Ajjuma tepat.

“Ne. hehehe…”

Kulangkahkan kakiku memasuki kedai ramen yang cukup ramai itu lebih dalam lagi. Kutengokkan kepalaku memandang seluruh penjuru ruangan. Sampai kutemukan Kira ada di kursi di sudut ruangan, tempat faforit kami.

“Ya!” Sapanya seraya melambaikan tangan dan menunjukkan senyumnya. Kubalas senyumnya, kemudian berjalan kearahnya.

“Mianhae, apa sudah lama?” Kuletakkan tasku di meja depan kami, sambil menghenyakkan tubuhku di kursi rotan.

“Tidak juga, baru sekitar sepuluh menit yang lalu. Mworago?”

“Hhh… kau pasti tahu alasanku ingin menemuimu.”

“Pasti sang ‘Ratu Kampus’.” Tebak Kira tepat. Sangat tepat dan akurat.

“Gamshahamnida…” Ujarku ketika seorang pelayan menghidangkana pesananku di meja. Pelayan itu mengangguk, lalu pergi begitu saja.

“Ya, begitulah. Kelakuannya akhir-akhir ini benar-benar menyebalkan.” Lanjutku kemudian.

“Bukankah sudah kubilang, lebih baik kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu itu. Kalau aku jadi dirimu, tak sudi aku mengikuti yeoja menyebalkan itu.”

“Kau tahu aku membutuhkan uangnya Kira.”

“Tapi, percuma juga ‘kan kalau batinmu tersiksa. Lagipula, kau ini berbakat. Aku yakin kau bisa mendapat pekerjaan lain, segera setelah kau mundur dari pekerjaanmu ini.”

Benar juga apa yang dikatakan Kira. Aku bisa saja mencari pekerjaan lain yang lebih baik dari ini. Tapi, apa? Mungkin aku akan mulai mencarinya dari sekarang. Jadi, kapanpun aku mundur dari pekerjaan ini, aku sudah mempunyai cadangan.

DDRRTT… DDRRRTT…

“Eh, tunggu sebentar, pelatih sial itu menelfon.” Pamit Kira seraya menempelkan ponsel ke telinganya, kemudian beranjak berjalan menjauh dariku.

“Ne.” Kuanggukkan kepalaku menjawabnya. Sekarang, aku pusing sendiri. Kira-kira, pekerjaan apa ya yang pantas untukku?

“Sungri-ah, mianhae aku harus pergi sekarang. Ada latihan mendadak.” Ujar Kira tiba-tiba seraya menyambar tasnya di kursi.
“Oh! Ne, gwaenchana. Hati-hati di jalan.”

“Ne, annyeong.”

“Annyeong…”

Sebentar Kemudian, Kira sudah menghilang di balik pintu keluar. Meninggalkanku sendiri di kedai ini.

Kuaduk-aduk ramyun di depanku seraya melayangkan pandanganku ke depan. Tak tahu apa yang kulihat sekarang. Aasshh… apa yang harus kulakukan sekarang?

“Sungri-ssi?” Suara seorang namja tiba-tiba mengagetkanku. Mengembalikanku dari lamunan, kemudian menengokkan kepalaku kearahnya.

“Nde? Woohyun-ssi?” Agak susah memang mengenalinya dengan jacket tebal dan scraft yang menutupi hampir separuh wajahnya. Ditambah dengan kacamata hitam itu. Tapi, aku bisa mengenali suaranya dengan baik.

“Hehehe… kau kenal ternyata. Boleh aku duduk disini?” Jari panjangnya menunjuk sebuah kursi di depanku.

“Ne. Tentu.”

“Gomapta.” Dihenyakkan tubuhnya di kursi rotan itu tanpa melepas semua perlengkapan menyamarnya. Terkadang, menjadi seorang idol memang agak merepotkan.

“Ada acara apa bisa sampai sini, Woohyun-ssi?”

“Tak ada, aku hanya berjalan-jalan, dan kebetulan saja bertemu denganmu disini. Hehehe…”

“Jinjja? Tanpa manajermu?” Kuputar kepalaku ke sekililing ruangan, mencoba menemukan sosok Hyoan oppa – manajernya.

“Aniya, Hyung bilang aku boleh bersenang-senang hari ini.”

“Beruntungnya kau.” Kutunjukkan senyumku kearahnya.

“Oh! Iya, kau tak pesan sesuatu Woohyun-ssi?” Lanjutku seraya menyuapkan ramyun ke mulutku.

“Apa yang paling enak disini?” Diambilnya lembar menu yang ada di depannya.

“Kimchi Ramen-nya enak. Aku suka.”

“Bisa kau pesankan untukku?” Bisa kulihat, Woohyun-ssi tersenyum di balik scraft-nya. Dia masih saja terlihat memesona dengan wajah tertutup begitu.

“Tentu.” Kupanggil pelayan. Memesankan makanan itu untuk Woohyun-ssi.

Well, apa kalian agak meraasa ada yang janggal dengan namja ini? Dia selalu muncul dimanapun aku berada. Mungkin, jika dia hanya bertemu denganku di belakang panggung, itu masih wajar. Dia juga mengisi acara. Tapi, ini di kedai ramen. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya di perpustakaan umum, dan yang paling aneh, aku bertemu dengannya di Hongdae, ketika jadwalnya sedang sangat padat beberapa minggu lalu. Apa dia mengikutiku? Ahahaha… tak mungkin. Pasti ini hanya kebetulan semata. Ya. Hanya kebetulan.

“Sungri! Kau bisa jalan lebih cepat tidak?” Sang ‘Ratu Kampus’ sudah berjalan di depanku. Mendahuluiku dengan tiga tas besar yang ada di tanganku.

“Menurutmu?” Balasku ketus. Tak ada sopan santun terhadap atasan lagi. Toh, aku sudah ingin berhenti dari pekerjaan gila ini.

“Ya! Bisakah kau berbicara lebih sopan lagi padaku? Aku ini yang membayar gajimu, kau tahu?!” Ujarnya seraya melangkahkan kaki memasuki ruang tunggu.

Sementara, aku masih kesulitan dengan semua barang-barang ini. Tas kotak sepatu, tas kostum, tas makeup, semua ada di tanganku, dan ini tak ringan!

“Sungri! Kau ini benar-benar lambat!”

BRUK.

Kutubruk begitu saja Jessica yang entah sejak kapan sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu. Tak terhindarkan lagi, tasnya jatuh, isinya berserakan, dan tentunya… Jessica juga turut terjengkang ke belakang. Aku tahu, ini cukup membuat sebuah keributan. Tapi, sekali-kali lucu juga melihat Jess mengaduh seperti itu.

“Aaasshh apo… paboya! Kau tak bisa melihat jalan hah?! Aasshh… kakiku apoo…” Berlebihan!

“Kau yang pabo! Untuk apa kau berdiri di tengah pintu seperti tadi? Harusnya kau paham, aku harus masuk melewati pintu ini dengan semua barang-barangmu. Nona Jung!” Kesabaranku benar-benar sudah habis sekarang.

“Ya! Beraninya kau… aasshh…” Dia mencoba untuk bangkit dari jatuhnya. Tapi, dengan segera dia terduduk lagi karena kakinya yang sepertinya terkilir. Orang lain yang melihat ini tak menengahi kami. Tapi, hanya memperhatikan kami seolah kami berdua adalah tontonan gratis yang tak boleh di lewatkan.

“Waeyo? Kenapa aku harus takut padamu, ha?!”

“Ya! Kau minta gajimu –”

“Aku minta keluar!”

BRAK.

Kuhempaskan begitu saja tas make up yang semula masih melingkar di bahuku. Membuatnya membulatkan matanya kaget menatapku.

“Neo –”

“Mwo?! Aku berhenti dari pekerjaan gila ini. Kau tak punya hak untuk menyuruh-nyuruhku lagi. Kau hanya berkewajiban untuk mentransfer sisa gajiku bulan ini. Annyeong Jung-ssi.” Kulangkahkan kakiku meninggalkan yeoja itu terduduk di depan pintu.

Dia bersumpah serapah, mencaci makiku, sampai mencaci maki kakinya yang terkilir. Bahkan, bisa kudengar dia mencaci siapa saja yang mencoba untuk membantunya berdiri. Well, I’m a free person now.

Hari ini, sudah satu minggu aku berhenti dari pekerjaanku sebagai asissten Jessica. Sudah satu minggu pula aku menganggur. Untungnya, ‘Ratu Kampus’ itu memenuhi kewajibannya. Kemarin lusa seluruh sisa gajiku di bayarnya. Ya, paling tidak ini bisa kugunakan untuk sekedar berjalan-jalan ke department store, menonton showcase Sunggyu-ssi.

Acara itu berakhir dengan baik. Meskipun aku tak mendapat kesempatan untuk mendapat tanda tangannya. Tapi, ini cukup menghibur. Setidaknya, aku sedikit melupakan masalahku yang masih mencari pekerjaan.

Udara dingin menyambutku ketika baru saja kulangkahkan kakiku keluar dari department store. Ini sudah malam, dan mulai bersalju. Kurapatkan jacket-ku, serta membenarkan letak sekantong plastik berisi minuman hangat dan beberapa camilan di tanganku.

“Kyaa Kyaaa…” Teriakan heboh beberapa yeoja terdengar dari arah air mancur. Mworago?

Kulangkahkan kakiku kesana, mencoba bergabung dengan keributan itu.

Omo?! Bukankah itu Sunggyu-ssi? Apa dia sudah gila mencium seorang yeoja di tengah keramaian begini?! Ckckck…

Lebih baik aku tak disini, fangirls Sunggyu-ssi pasti akan lebih heboh dari ini. Mungkin duduk di bawah lampu taman lebih baik untukku.

Kubuka sekaleng kopi panas yang kudapat dari dalam deprtment store tadi. Menenggaknya kemudian. Hangat sekali. Membuatku lebih nyaman duduk di bawah guyuran salju.

“Sungri-ssi!” Seseorang tiba-tiba berlari dan memelukku erat. Membuatku menyemburkan kopi panasku dan terbatuk begitu saja.

“Uhuk uhuk uhukk…”

“Aigoo… mianhae.” Namja itu mengeluarkan saputangannya kemudian menyeka ceceran kopi di sekitar bibirku. Dia, Woohyun-ssi?

Aku terpaku. Tak tahu apa yang harus kulakukan dengan namja yang sedang membersihkan wajahku sekarang ini. Jarak wajah kami tak lebih dari duapuluh centi sekarang. Bahkan, nafasnya saja bisa kurasakan. Tak pernah kusangka kami bisa berada dalam jarak sedekat ini.

“Sungri-ssi?” Suaranya mengembalikanku lagi ke dunia nyata.

“Eh, n… nde?”

“Akhirnya aku menemukanmu disini. Kau tahu, aku sudah mencarimu kemana-mana. Tapi, aku tak menemukanmu.” Woohyun-ssi menghenyakkan tubuhnya di sampingku dengan mata berbinar. Benarkah yang baru saja kudengar ini?

“Ada apa mencariku Woohyun-ssi?”

“Irohke, kudengar kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu dengan Jess?” Wajahnya berubah serius. Kuanggukkan kepalaku menjawabnya.

“Kalau begitu, apa kau mau menjadi asisstenku?” Wajahnya menjadi lebih serius sekarang, ditambah tangannya yang sudah menggenggam tanganku hangat.

“Asissten – mu?”

“Ne, asissten pribadiku. Hanya aku. Aasshh… apa yang kukatakan ini. Aku akan jujur padamu sekarang.” Ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung dan gugup sekarang. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Meskipun sebenarnya aku juga bingung.

“Apa kau tak merasa aneh? Aku selalu muncul dimanapun kau ada.”

“Ne. Aku merasakanya.”

“Itu bukan kebetulan. Tapi, itu karena aku yang sengaja mencari keberadaanmu. Atau, lebih tepatnya mengikutimu. Aku seperti bayanganmu saja sekarang.” Eh, benarkah yang kudengar ini?

“Jinjja? Waeyo?”

“Jinjja. Aku benar-benar mengikutimu, karena… waaa” Woohyun-ssi menarik tanganku tiba-tiba. Membawaku berlari bersamanya. Untung saja reflekku bagus. Aku bisa menyesuaikan langkahku berlari bersamanya.

Kutengokkan kepalaku kebelakang dan kudapati Hyoan Oppa berlari mengejar kami. Jadi, dia kabur kali ini, dan Hyoan Oppa mencoba menangkapnya?

“Hosh.. hosh… Aasshh… jinjja.” Nafas kami tersengal-sengal. Kubungkukkan badanku seraya memegang lututku, bersembunyi di balik tembok sebuah rumah.

“Mianhae hhh… aku mengajakmu berolahraga malam-malam begini.”

“Gwaenchana… kau hhh belum menjawab pertanyaanku.”

“Itu, itu karena, aku menyukaimu Sungri-ssi. Saranghae.”

GLAR. Benarkah yang kudengar ini? Woohyun-ssi menyukaiku?

“Bagaimana denganmu?” Ditunjukkannya senyum itu padaku.

“Aku, tentu saja aku –”

“Whoooaaaa!” Woohyun-ssi menarikku untuk berlari lagi. Reflek kulangkahkan kakiku mengikutinya.

“Nado Saranghae Woohyun-ssi!” Teriakku seraya berusaha berlari mengikutinya.

“Jinjja?!” Namja ini! Tiba-tiba dia menghentikkan langkahnya, membuatku yang berlari di belakangnya menubruk tubuhnya. Untung dia memelukku dengan sigap.

“Aasshh…”

“Benar kau mencintaiku juga Sungri-ssi?” Tanyanya masih sambil memelukku erat.

“Ne, jeongmal saranghae.” Kutatap matanya dalam-dalam, seraya menunjukkan senyumku.

“Saranghae…” Dipeluknya tubuhku makin erat. menyebarkan seluruh kehangatan dan kebahagiaan ini ke seluruh tubuhku.

Kubalas pelukannya, ketika tiba-tiba…

“Ya. Kembali ke apartmentmu Woohyun.” Suara Hyoan oppa memecah kebahagiaan kami. Apakah kami harus berlari lagi? Jawabannya adalah,

“Whhooaaaa!!!” Ya, kami berlari. Woohyun oppa lebih tepatnya. Karena aku ada di dalam gendongannya sekarang. Merangkul lehernya erat agar tak terjatuh dari gendongannya. Aaasshh… jinjja, apakah ini yang disebut dengan ‘Kawin Lari’?


12 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s