She Isn’t My Sister part 1

Casts:

 
Choi Minho SHINee
Park Ji Yeon T-ara
 
Other Casts:
 
Park Sanghyun MBLAQ
Choi Family
Park Family
Cho Kyuhyun Super Junior
 
Genre:
 
Family, Romance
 
Author:
 
Leni Nur Anggraeni
 
 
ORIGINAL, MY IMAGINATIONS ABOUT MINJI COUPLE^^
 
 
Author pov….
 
            18 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 07 Juni 1993. Im Yoona isteri dari seorang pengusaha sukses di Korea Choi Siwon, melahirkan anak keduanya di sebuah rumah sakit terbaik di Seoul, Seoul Hospital. Namun, proses kelahirannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Im Yoona melahirkan seorang bayi perempuan, namun dalam keadaan tidak selamat. Bayi perempuan itu meninggal saat baru dilahirkan.
 
@Seoul Hospital
 
            Choi Siwon sambil mengendong putera pertamanya bernama Choi Minho yang baru saja berusia 2 tahun memandang keadaan sang isteri di jendela yang tersedia di pintu ruang rawat isterinya. Setelah memandang cukup lama, ia bersama putera semata wayangnya memutuskan untuk menghampiri Yoona.
 
            “Argghhh……” ucap Yoona pelan, membuka kedua matanya perlahan- lahan.
            “Gwaenchana, yeobeo????” tanya Choi Siwon, sudah duduk di sebuah kursi, disamping ranjang Yoona, dan Choi Minho sudah berada di lahunan Choi Siwon.
            “Suamiku, bayi perempuanku. Bagaimana keadaannya?? Puteriku baik- baik saja bukan??” tanya Im Yoona bertubi- tubi pada Choi Siwon.
            “Puteri kita……”
“Puteri kita baik- baik saja kan, suamiku?? Dimana dia sekarang?? Antarkan aku untuk menemui puteriku… Jebal!!!” Im Yoona memotong ucapan Choi Siwon.
“Puteri kita sudah kembali lagi pada Nya, isteriku.. Relakan dia, nae???” Choi Siwon mencoba menenangkan Im Yoona.
“Anii.. Tidak mungkin… Kau hanya bercanda kan, suamiku?? Ayo cepat katakan yang sebenarnya….” ucap Im Yoona dengan nada tinggi, perlahan air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
“Aku mangatakan yang sesungguhnya, isteriku. Relakan dia.. Kita masih mempunyai seorang putera. Choi Minho masih membutuhkanmu, isteriku.”
“Aku gagal menyelamatkan puteriku.. Eomma macam apa aku ini???”
“Tidak ada yang perlu disesali, isteriku. Mungkin ini adalah terbaik yang diberikan Nya pada kita.”
 
Dua minggu setelah kejadian itu, keluarga Choi mulai bisa menerima kepergian puterinya. Terutama Im Yoona.
 
18 tahun kemudian……..
 
Seorang yeoja cantik sedang memperhatikan penampilannya di sebuah cermin besar yang ada di kam1arnya
 
“Cantik.. hhehe..” ucap yeoja cantik itu dan menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis.. *membuat para namja meleleh jika melihatnya…
 
Yeoja cantik itupun keluar dari kamarnya dan turun ke bawah menuju ruang makan.
 
“Annyeong Appa, annyeong Eomma, annyeong Minho oppa….” sapa yeoja cantik itu.
“Annyeong My Princess, Choi Ji Yeon…” jawab Appanya.
“Annyeong puteri Eomma dan Appa yang sangat cantik….” jawab Eommanya.
Namun, tidak dengan Oppanya, Choi Minho hanya diam dan melanjutkan sarapannya.
 
Ji Yeon pov…
 
“Annyeong Appa, annyeong Eomma, annyeong Minho oppa….” aku menyapa Appa, Eomma, dan Oppa.
“Annyeong My Princess, Choi Ji Yeon…” jawab Appa.
“Annyeong puteri Eomma dan Appa yang sangat cantik….” jawab Eomma.
Namun, tidak dengan Minho oppa. Minho oppa hanya diam dan melanjutkan sarapannya.r
“Ji Yeon-ahh, makan yang banyak. Nae??” ucap Eomma.
“Nde, Eomma…”
“Sarapanku sudah habis, aku pamit ke kampus duluan.. Ji Yeon, cepat habiskan sarapanmu. Aku tunggu kau di mobil.” Ucap Minho oppa, meninggalkan kami.
Setelah aku menghabiskan sarapanku, akupun pamit ke kampus pada Appa dan Eomma.
 
“Lama sekali….” ucap Minho oppa..
“Mianhae, oppa..” jawabku tulus.
“Ya sudah cepat naik mobil.”
Aku duduk di kursi depan disamping Minho oppa.
Sepanjang perjalanan suasana hening. Tidak ada yang bicara. Sejak kecil aku dan Minho oppa memang tidak akrab, berbeda dengan kakak adik pada umumnya. Bahkan Minho oppa terkesan sangat membenciku. Ahh.. Tapi, ya sudahlah.. Mungkin Minho oppa memiliki alasan tersendiri bersikap seperti ini padaku.
Sekitar 30 menit kemudian, aku dan Minho oppa pun tiba di Seoul University.
 
“Minho oppa……” seorang yeoja memanggil Minho oppa dan tersenyum ke arahnya. Kini dia menghampiri aku dan Minho oppa. Aku memandang ke arah Minho oppa, dia membalas senyuman dari yeoja itu. Sebenarnya aku sedikit cemburu pada yeoja ini, aku saja yang adiknya tidak pernah mendapat senyuman darinya.
“Seohyun-ahh…” ucap Minho oppa.
“Oppa, ayo kita ke kelas bersama. Ji Yeon-ahh bolehkan??”
“Tentu saja, eonnie. Kenapa harus meminta izin padaku???”
“Kau kan adiknya Minho oppa…”
Aku hanya tersenyum mendengar pernyataan Seohyun eonnie.
Minho oppa dan Seohyun eonnie pun pergi ke kelas bersama. Aku hanya memandang kepergian mereka berdua dengan senyuman palsu.
 
“Minho oppa.. Kenapa kau tidak bisa bersikap selayaknya seorang oppa pada dongsaengnya??” batinku.
 
Akupun mulai melangkahkan kakiku menuju kelasku dengan langkah yang gontai.
 
“Kenapa Minho oppa tidak bisa bersikap lebih baik padaku?? Bukankah aku adiknya, tapi kenapa seakan- akan dia menganggapku sebagai orang asing?? 18 tahun sudah aku hidup bersama dengan Minho oppa, namun aku belum pernah merasakan kebahagiaan seorang adik dari oppanya.. Malang benar nasibku ini….” batinku
Sepanjang perjalanan menuju kelasku, aku hanya memikirkan tentang sikap Minho oppa padaku selama ini. Aku ingin sekali mengetahui alasan Minho oppa bersikap sangat dingin padaku. Dia tidak menganggap kehadiranku.
 
“Ji Yeon-ahh…” seseorang memanggilku dan menghampiriku dengan senyuman yang membuatnya semakin tampan, sekaligus menyadarkanku dari semua lamunanku.
“Kyuhyun sunbae….” ucapku dan membalas senyuman Kyuhyun sunbae.
“Ada apa denganmu, Ji Yeon-ahh???” tanya Kyuhyun sunbae mengapit kedua pipiku dengan kedua tangannya. Kyuhyun sunbae menatap kedua mataku lekat dan ada sedikit raut kekhawatirannya padaku.
“Gwaenchana, Ji Yeon-ahh?? Apakah kau memiliki masalah?? Ayo ceritakan padaku. Aku akan membantu memecahkan masalahmu.”
“Nan gwaenchana, Kyuhyun sunbae. Gomawo telah memperdulikanku. Setidaknya aku masih mempunyai sedikit kebahagiaan..” Kyuhyun sunbae masih menatapku dan mengernyitkan kedua pasang alisnya.
“Maksudmu?? Aku tidak mengerti, Ji Yeon-ahh..”
“Karena kau, Kyuhyun sunbae. Kyuhyun sunbae masih mau memperdulikanku. Sedangkan oppaku sendiri, dia sangat acuh, dingin, dan sama sekali tidak memperdulikanku.”
“Minho masih bersikap seperti itu padamu??” ucap Kyuhyun sunbae, dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku pun tak kuasa menahan air mataku.
“Jangan terlalu dipikirkan tentang Minho padamu, Ji Yeon-ahh.. Aku akan selalu berada disampingmu, Ji Yeon-ahh.. Jika kau merasa kesepian, segeralah hubungi aku! Jika kau membutuhkan seseorang berada disampingmu, cukup pikirkan aku! Aku akan segera datang untukmu, Ji Yeon-ahh.” Bisiknya tepat di telingaku.
“Gomawo, Kyuhyun sunbae. Aku harus segera ke kelasku. Annyeong….” ucapku setelah melepaskan pelukan Kyuhyun sunbae.
 
Minho pov..
 
Saat aku akan masuk ke dalam kelasku, aku melihat sosok sepasang namja dan yeoja yang sangat aku kenal. Mereka adalah Ji Yeon dan Kyuhyun hyung.
 
“Apa yang sedang mereka berdua lakukan??”
“Aiishhh…. Kenapa Kyuhyun hyung mengapit kedua pipi Ji Yeon dengan kedua tangannya?”
“Isshh… Apa lagi ini?? Kenapa Kyuhyun hyung memeluk Ji Yeon???”
“Aisshh…….. Apa- apaan ini? Aku saja belum pernah melakukan hal itu pada Ji Yeon…”
“Tunggu dulu, apa peduliku?? Bukankah aku selalu acuh pada Ji Yeon? Tapi, kenapa merasa sangat tidak suka jika Ji Yeon bersama namja lain??”
“Kyaaa…. Choi Minho.. Ayo masuk ke dalam, sampai kapan kau akan berdiri disini?? Lee Songsaenim sebentar lagi akan tiba.” Ucap seorang namja, menyadarkanku.
 
Mata kuliah hari ini pun selesai. Seperti biasa, aku menunggu Ji Yeon di tempat parkiran Seoul University.
 
“Minho oppa, mianhae.. Membuat oppa menungguku lama lagi..” ucap Ji Yeon sambil mengatur nafasnya karena dia menghampiriku dengan berlari- lari.
“Lama sekali. Aku hampir berjamur karena menunggumu.”
“Baiklah, mulai besok jika kau lelah menungguku. Kau boleh pulang lebih dulu, aku bisa naik bus.”
“Naiklah..”
 
Seperti biasa, suasana hening………
 
“Minho oppa, jika oppa merasa terganggu olehku. Aku tidak akan lagi mencampuri urusanmu lagi. Dengan begitu oppa bisa menjalani hidup oppa sesuai dengan keinginan hatimu. Mianhae, jika selama ini aku hanya mengganggu hidupmu. Mianhae, jika selama ini aku hanya membebanimu. Mianhae, jika selama ini aku hanya bagaikan benalu bagi kehidupanmu. Mianhae, karena aku telah dilahirkan ke duniamu. Seharusnya aku tidak dilahirkan ke duniamu. Namun, jika aku memang ditakdirkan untuk terlahir ke dunia ini, tidak seharusnya terlahir sebagai salah satu anggota keluarga Choi.” Ucapku panjang lebar, mengalihkan pandanganku ke luar jendela mobil. Minho oppa hanya diam.
            “Mulai besok aku akan berangkat dan pulang dari kampus naik bus. Jadi, oppa tidak akan membuang waktu oppa sia- sia hanya untuk menunggu yeoja sepertiku.” Ucapku lagi. Minho oppa masih diam, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.
 
Minho pov..
 
Deg…
Deg…
Deg…
 
“Kenapa Ji Yeon berkata seperti itu?? Ini semua memang salahku. Mianhae, Ji Yeon-ahh.. Aku telah menyakitimu. Mianhae, aku tidak bisa memberikan sebuah kasih sayang yang seharusnya dilakukan oleh seorang oppa pada dongsaengnya. Sejujurnya, sejak 16 tahun yang lalu, sejak kau diadopsi oleh kedua orang tuaku. Aku masih belum menerimamu dan sampai saat ini aku masih tidak bisa menganggapmu sebagai dongsaengku. Akupun tidak mengerti dengan tindakan yang ku lakukan ini. Hati ini masih berat untuk mengakui bahwa kau adalah dongsaengku. Aku tidak tahu alasannya apa. Mianhae, Ji Yeon-ahh.. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerimamu sebagai dongsaengku. Kau hanya anak angkat keluarga Choi. Kau bukan adik kandungku, Ji Yeon-ahh.” Batinku.
“Baiklah, jika itu memang yang kau inginkan. Aku senang jika kau mengerti itu.” Jawabku pada Ji Yeon dengan ekspresi dingin.
“Nde. Mianhae Minho oppa. Aku akan bicara pada Appa dan Eomma, aku akan meneruskan kuliah di Amerika saja. Dengan begitu, kau tidak akan merasa terganggu lagi dengan kehadiranku.”
 
Deg….
 
“Apa dia serius???” batinku.
 
“Terserah kau saja, Ji Yeon-ssi.”
“Nde. Oppa pasti sangat senang kan?? Jika Minho oppa bahagia, akupun bahagia.”
“Oh Tuhan… Mianhae telah menyakiti yeoja sebaik Ji Yeon..” batinku.
 
 
Hari ini aku, Appa, dan Eomma mengantarkan Ji Yeon ke bandara.
 
“Ji Yeon-ahh.. Jaga dirimu baik- baik disana, arraseo!!!” ucap Eomma dan memeluk Ji Yeon.
“My Princess, sering- sering hubungi Appa, Eomma, dan Minho. arraseo!!!” ucap Appa yang juga Ji Yeon.
“Nde, Appa, Eomma.. Aku pasti akan sangat merindukan kalian….” jawab Ji Yeon dan melepaskan pelukan Appa dan Eomma pada Ji Yeon.
Ji Yeon  memandang ke arahku.
“Minho oppa, terimakasih telah menjagaku selama ini. Mianhae, telah merepotkanmu selama ini. Aku sangat menyayangi Minho oppa..” ucap Ji Yeon padaku. Aku hanya diam dengan tatapan kosong.
Ji Yeon pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku, Appa, dan Eomma menuju pesawat.
 
“Appa, Eomma.. Aku pulang duluan…” ucapku dan meninggalkan Appa dan Eomma.
 
Aku mengendarai mobilku tanpa arah. Yang ada dipikiranku saat ini penuh dengan Ji Yeon.
 
“Ji Yeon-ahh… Mianhae…………………….” aku berteriak sambil mengemudikan mobilku.
 
 
Sudah 2 minggu, Ji Yeon berada di Amerika.
 
“Bagaimana keadaannya?? Apakah dia baik- baik saja disana?? Nan bogosippoh, Choi Ji Yeon..” batinku.
 
Saat ini aku terduduk di sebuah kursi kosong yang berada di taman Seoul University, sambil mendengarkan lagu yang ada di i-podku.
 
Tiba- tiba saja ada seorang namja menghampiriku dan duduk disampingku.
 
“Kyuhyun hyung…”
“Annyeong, Minho-ahh…”
“Tumben hyung menghampiriku dan berbicara padaku..?”
“Karena kau adalah oppa Ji Yeon. Siapa tahu dengan aku berbicara denganmu, rinduku pada Ji Yeon sedikit terobati. Aku sangat merindukan dongsaengmu, Minho-ahh.. Bagaimana keadaannya? Baik- baik sajakah? Kapan terakhir kali Ji Yeon menghubungimu? Sejak keberangkatannya ke Amerika, Ji Yeon belum menghubungiku lagi.”
“Entahlah… Ji Yeon juga belum menghubungiku lagi. Aku yakin dia baik- baik saja. Jadi jangan berlebihan mengkhawatirkannya.”
“Kau sama sekali tidak merindukan dongsaengmu, Minho-ahh??”
“Ji Yeon bisa menjaga dirinya baik- baik.”
“Kau ini, kenapa bersikap seperti itu pada dongsaengmu sendiri. Kau tahu, betapa banyaknya air mata yang Ji Yeon teteskan hanya untuk seorang namja sepertimu Minho-ahh.. Bersikaplah lebih baik pada Ji Yeon. Ji Yeon memiliki seorang Oppa, seakan- akan di tak mempunyai Oppa. Kau selalu acuh pada Ji Yeon dan semua itu membuat hati Ji Yeon sakit. Coba kau posisikan dirimu menjadi seorang Choi Ji Yeon, Choi Ji Yeon yang selalu diacuhkan oleh oppanya sendiri. Seharusnya kau merasa beruntung memiliki seorang dongsaeng secantik, sepintar, dan sebaik Ji Yeon. Tidakkah sedikit kau merasa bangga memilikinya? Sejujurnya, aku sangat bosan melihat Ji Yeon selalu menangisi namja sepertimu. Setiap aku bertemu dengannya, hanya kau yang dia bicarakan..” ucap Kyuhyun hyung panjang lebar.
Aku mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan Kyuhyun hyung.
“Jika tujuan hyung hanya untuk membahas Ji Yeon, alangkah lebih baiknya aku pergi. Annyeong..” aku meninggalkan Kyuhyun hyung.
 
“Kyuhyun hyung terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Ji Yeon, apakah dia menyukai Ji Yeon???” batinku.
 
Ji Yeon pov..
 
Sudah 2 minggu di Amerika dan tinggal bersama sebuah keluarga yang sangat baik padaku. Keluarga ini berasal dari Korea juga. Aku merasa bahagia tinggal di keluarga ini, keluarga Park. Kebahagiaan yang aku cari, aku bisa menemukannya disini. Disini aku tinggal bersama Park Seung Hun ahjussi dan Park Tae Hee ahjumma, beserta putera tunggalnya Park Sanghyun.
Seharusnya aku tinggal di sebuah apartement yang telah appa siapkan untukku. Tapi, ini semua berawal dari kejadian beberapa hari yang lalu.
 

TBC

10 responses

  1. wah wah brother complex nih,walaupun bukan sedarah,aku yakin pasti ji yeon anak tuan park,hahahaha… *readersnya kaya dukun nih

    Terus…terus…terus….
    *ky tukang parkir jadinya.

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s