She Isn’t My Sister – Part 2

She Isn’t My Sister part 2
Casts:
 
Choi Minho SHINee
Park Ji Yeon T-ara
 
Other Casts:
 
Park Sanghyun MBLAQ
Choi Family
Park Family
Cho Kyuhyun Super Junior
 
Genre:
 
Family, Romance
 
Author:
 
Leni Nur Anggraeni
 
 
ORIGINAL, MY IMAGINATIONS ABOUT MINJI COUPLE^^

Ji Yeon pov..
 
Sudah 2 minggu di Amerika dan tinggal bersama sebuah keluarga yang sangat baik padaku. Keluarga ini berasal dari Korea juga. Aku merasa bahagia tinggal di keluarga ini, keluarga Park. Kebahagiaan yang aku cari, aku bisa menemukannya disini. Disini aku tinggal bersama Park Seung Hun ahjussi dan Park Tae Hee ahjumma, beserta putera tunggalnya Park Sanghyun.
Seharusnya aku tinggal di sebuah apartement yang telah appa siapkan untukku. Tapi, ini semua berawal dari kejadian beberapa hari yang lalu.
 
*flasfback..
 
Pada saat aku belanja di sebuah supermarket untuk membeli kebutuhan makanku untuk seminggu kedepan.
 
Aku melihat seorang ahjumma memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Refleks aku mendekati ahjumma dan mencoba untuk membantunya.
 
“Can I help you??” tanyaku.
“Medicine… Medicine….” jawab ahjumma.
“Where??”
“My bag…”
 
Aku pun mengambil sebuah obat di tas ahjumma. Ajhumma pun meminum obat itu. Beberapa menit kemudian, kondisi ahjumma jauh lebih baik.
 
“Thanks you..” ucap ahjumma.
“You’re wellcome.” Jawabku dan menyunggingkan sebuah senyuman.
“What’s your name?” tanya ahjumma padaku. Saat ini kami sudah berdiri saling berhadapan.
“My name is Choi Ji Yeon. You can call me, Ji Yeon..”
“Are you from Korea??” tanya ahjumma.
“Yes, I’m from Korea.”
“Choneun Park Tae Hee imnida. Panggil aku Tae Hee ahjumma. Jadi kau tidak usah memakai bahasa inggris saat berbicara denganku.”
“Nde.. Tae Hee Ahjumma..”
“Ji Yeon-ahh….”
“Nde, ahjumma…?”
“Namamu mengingatkanku pada seseorang..”
“Nugu??”
“Puteriku, tapi sekarang sudah tiada.. Aku akan menceritakan tentang puteriku padamu, asalkan kau mau mampir ke rumahku, nae? Hanya untuk sekedar makan malam bersama sebagai tanda terimakasihku padamu.”
Aku pun mengangguk tanda mengiyakan.
 
Di dalam mobil Tae Hee ahjumma menceritakan tentang puterinya.
 
“Sesungguhnya aku tidak tahu persis, apakah dia sudah meninggal atau masih hidup. 16 tahun yang lalu saat aku, suamiku, dan kedua putera dan puteriku pergi jalan- jalan bersama, kami tidak menyadari bahwa puteri kami tidak bersama kami lagi saat itu. Kami mencoba untuk mencarinya dengan bantuan kepolisian, tapi hasilnya nihil.” Ucap Tae Hee ahjumma. Dia pun menangis. Entah ada perasaaan apa yang timbul padaku, refleks aku memeluk Tae Hee ahjumma.
 
Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di rumah keluarga Park.
 
“Ji Yeon-ahh, kau tunggulah disini sambil menonton tv. Ahjumma mau ganti baju dulu, setelah itu ahjumma akan menyiapkan makan malam.” Ucap Ahjumma.
Aku hanya mengangguk.
 
Beberapa menit kemudian, Tae Hee ahjumma turun dari kamarnya dan menuju dapur. Tanpa disadari Tae Hee ahjumma aku mengikutinya sampai dapur..
 
“Ahjumma…”
“Ji Yeon-ahh, kenapa kemari. Kau kan tamu di rumah ini, sebaiknya kau duduk saja sambil nonton tv..”
“Anii.. Aku ingin membantu ahjumma memasak.”
“Tapi…..”
“Apa ahjumma meragukan kemampuan memasakku??” aku memotong ucapan ahjumma.
“Baiklah kalau begitu…..”
 
Aku da Tae Hee ahjumma pun memasak bersama.
 
Tiba- tiba…
 
“Eomma…. Aku pulang….” teriak seorang namja.
“Nae, Eomma mendengarmu Sanghyun-ahh.. Cepatlah mandi.. Eomma sedang menyiapkan malam.” Jawab Ahjumma sedikit berteriak.
 
Tiba- tiba…
 
“Isteriku, aku pulang….” teriak seseorang lagi. Dan aku sangat yakin suara itu adalah suara suamin Tae Hee ahjumma.
 
“Akhirnya selesai juga….. Ji Yeon-ahh bantu ahjumma mengantarkan semua makanan ini menuju meja makan, nae??”
“nae, ahjumma..”
 
Saat aku dan Tae Hee ahjumma sudah selesai menata makanan di meja makan sebagai menu makan malam, 2 orang namja datang menghampiri kami.
 
“Eomma, dia siapa??” tanya seorang namja, sepertinya puternya Tae Hee ahjumma.
 
“Aku jadi merindukan Minho oppa…” batinku.
 
“Annyeong, choneun Choi Ji Yeon imnida.”
“Annyeong, Park Jungsu imnida, suami Tae Hee-ahh”
“Annyeong, Park Sanghyun imnida, putera Jungsu Appa dan Tae Hee Eomma.”
“Wahhh… Hari ini kau masak banyak, isteriku?”
“Nae, ini semua masakanku dan Ji Yeon-ahh.”
“Yummy… Eomma, Ji Yeon-ssi, masakan kalian daebak!!!!”
“Gomawo..” ucapku.
Kami pun menghabiskan makanan makan malam kami.
 
Setelah selesai makan malam, Jungsu ahjussi mengajakku, Tae Hee ahjumma, dan Sanghyun-ssi ngobrol bersama di ruang tengah, sambil nonton tv.
 
“Kalian berdua bertemu dimana?” tanya Jungsu ahjussi.
“Tadi siang saat aku belanja di supermarket, tiba- tiba kepalaku pusing dan Ji Yeon lah yang menolongku.” Jawab Tae Hee ahjumma. Aku hanya mengangguk.
“Kalau diperhatikan wahah Eomma dan Ji Yeon sangat mirip..” ucap Sanghyun-ssi.
“Jeongmal??” tanya Tae Hee ahjumma.
“Nae. Benar apa yang dikatakan Sanghyun-ahh. Kau dan Ji Yeon terlihat sangat mirip..” Jungsu ahjussi menyetujui.
“Aku seperti menemukan kembali dongsaengku yang sudah 16 tahun hilang..” ucap Sanghyun-ssi, menundukkan kepalanya.
 
Suasana menjadi hening sesaat……..
 
“Ji Yeon-ssi, kau tinggal dimana dan bersama siapa disini??” tanya Jungsu ahjussi.
“Di sebuah apartement, letaknya tidak jauh dari sini Ahjussi. Hanya sendiri. Kedua orang tua dan oppaku tinggal di Korea.”
“Bagaimana kalau kau tinggal bersama kami saja selama berada di Amerika??” usul Sanghyun-ssi.
“Ide yang sangat bagus, Sanghyun-ahh..” Tae Hee ahjumma sependapat dengan puteranya.
“Bagaimana Ji Yeon-ssi??” tanya Jungsu ahjussi.
“Apa tidak merepotkan??” tanyaku ragu.
“Sama sekali tidak merepotkan, Ji Yeon-ahh.. Mulai saat ini kau tinggal bersama kami, nae? Aku sangat kesepian di rumah sebesar ini..” ucap Sanghyun-ssi.
Aku hanya mengangguk..
            “Ji Yeon-ahh, mulai sekarang anggaplah kami sebagai keluarga barumu. Dan penggil aku Sanghyun oppa, arra??”
            “Nde, Sanghyung oppa….”
 
*flashback end…
 
            Aku cukup bahagia dengan kehidupan baruku di Amerika. Ada Jungsu ahjussi, ada Tae Hee ahjumma, dan Sanghyun oppa. Mereka sangat baik dan sangat menyayangiku. Apalagi sikap Sanghyun oppa padaku, sikap yang belum pernah Minho oppa berikan padaku. Sanghyun oppa benar- benar memberikan kasih sayangnya sebagai oppa kepada dongsaengnya.
            Meskipun aku baru beberapa hari tinggal bersama keluarga Park, aku sudah sangat merasa nyaman dan dekat dengan mereka.
 
2 tahun kemudian………….
 
Minho pov…
 
“Eomma, Appa.. Apa sudah ada kabar dari Ji Yeon??” tanyaku pada Eomma dan Appa disela- sela saat kami menyantap sarapan pagi.
“Tadi malam Ji Yeon-ahh menelepon kami, sayangnya kau sudah tidur Minho-ahh.. Ji Yeon-ahh bilang, dia baik- baik saja di Amerika.” Jawab Appa.
“Kapan dia pulang?”
“Tahun depan, Minho-ahh..”
“Omoo…. Masih lama….”
“Kau ini aneh sekali, saat Ji Yeon masih berada disini, sikapmu sangat dingin terhadapnya. Tapi, setelah dia jauh dari kita, kau malah bertanya tentangnya setiap saat..” sindir Eomma.
“Ya sudah Appa, Eomma. Aku pergi ke kantor duluan….” Aku sudah menyelesaikan kuliahku dan saat ini aku bekerja membantu Appa di kantornya sebagai assistant keuangan.
 
Aku mengendarai mobilku menuju kantor..
 
“Nan bogosippoh, Ji Yeon-ahh.. Jeongmal bogosippoh….” teriakku di dalam mobil….
 
 
3 tahun kemudian…….
 
Ji Yeon pov..
 
2 Minggu lalu, aku telah menyelesaikan kuliahku di Amerika. Dan hari ini aku akan pulang ke Korea. Aku pulang ke Korea tidak sendiri, Jungsung ahjussi, Tae Hee ahjumma, dan Sanghyun oppa juga memutuskan untuk kembali ke Korea.
 
2 jam kemudian kami pun tiba di bandara di Seoul..
 
“Eomma……… Appa………” aku memanggil kedua orang tuaku, dan memeluk Eomma.
“Eomma sangat merindukanmu, Ji Yeon-ahh……”
“Appa juga sangat merindukanmu, Ji Yeon-ahh…”
“Nado bogosippoh…..”
 
“Ji Yeon-ahh…” aku pun menoleh ke arah suara.
“Nae, Tae Hee ahjumma?”
“Kami pulang duluan, nae??”
“Tunggu dulu…. Appa, Eomma kenalkan mereka adala keluarga Park. Selama aku tinggal di Amerika, aku tinggal bersama mereka. Mereka sangat baik dan menyayangiku.”
“Annyeong.. Park Jungsu imnida, di samping kananku Park Tae Hee “isteriku”, dan disamping kananku Park Sanghyun “puteraku”.”
“Annyeong.. Choi Siwon imnida. Disamping kananku ini adalah Choi Yoona “isteriku” dan disamping isteriku Choi Minho, putera kami dan oppa Ji Yeon.”
“Senang bertemu dengan kalian..” jawab Jungsu ahjussi.
“Kalau begitu kami pamit duluan, Tuan Choi dan Ny. Choi..” ucap Jungsu ahjussi.
“Ji Yeon-ahh…” panggil Sanghyun oppa
“Nae, oppa..”
“Jika kau sudah sampai rumahmu, hubungi aku segera, arraseo!!!!”
“Nae, oppa..” Sanghyun oppa mengacak- acak pelan rambutku.
 
Keluarga Park pun sudah pulang duluan.
 
“Sampai kapan kita disini. Kajja, kita pulang!” ucap Appa.
“Ji Yeon-ahh.. Kau pulang bersama oppamu…” ucap Eomma.
Aku melirik ke arah Minho oppa, mengangguk pelan.
 
Minho pov..
 
            Aku pulang menuju rumah bersama Ji Yeon. Seperti biasa, suasana hening……
 
            “Oppa…” Ji Yeon memulai pembicaraan.
            “Hmmm…” aku hanya bergumam.
            “Nan bogosippoh. Aku yakin kau pasti sangat tidak menyukai aku kembali ke Seoul kan??”
            “Nado bogosippoh….” jawabku pelan.
            “Jeongmal??? Aku kira…………..”
            “Nan bogosippoh, Ji Yeon. Aku sangat sangat merindukanmu…” dengan nada cukup tinggi, membuat Ji Yeon kaget. Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan.
            “Ooo..ppa….”
            Aku melepaskan safety belt milikku dan Ji Yeon.. Ke dua tanganku meraih sepasang bahu Ji Yeon, membuat tubuh Ji Yeon menghadap ke arahku. Aku menatap mata Ji Yeon lekat..
            “Nan bogosippoh, Ji Yeon. Aku sangat merindukanmu Ji Yeon-ahh…” aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.
            “Nan bogosippoh Ji Yeon-ahh..” bisikku tepat di telinga Ji Yeon. Ji Yeon hanya diam. Aku memeluk Ji Yeon cukup lama. Aku pun melepaskan pelukanku pada Ji Yeon dan menatap kedua mata Ji Yeon lekat.
            “Nan bogosippoh, Ji Yeon-ahh. Mianhae, atas semua sikapku padamu selama ini.” secara perlahan wajahku mendekati wajah Ji Yeon.
 
            Deg…
            Deg..
            Deg…
 
            Bibirku pun mendarat mulus di bibir mungil nan merah muda milik Ji Yeon. Ji Yeon terlihat sangat kaget dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku mencium lembut bibir mungil Ji Yeon. Ji Yeon tidak menolak maupun membalas ciuman dariku ini. Cukup lama aku mencium Ji Yeon. Akhirnya aku melepaskan ciumanku.
 
            “Min…Minho oo..ppa… Apa yang baru saja kau lakukan padaku?” tanya Ji Yeon dengan kedua matanya yang sudah berkaca- kaca.
 
            “Mianhae.. Ji Yeon-ahh..” ucapku tulus dan menarik tubuh Ji Yeon ke dalam pelukanku lagi. Aku rasa Ji Yeon mulai menangis..
 
            “Minho oppa… hikz hikz hikz….”
            “Mianhae Ji Yeon-ahh..”
            “Ini semua salah, oppa.. Tidak seharusnya oppa melakukan hal itu padaku.”
            “Mianhae, Ji Yeon-ahh..”
            “Ooo…pppaa.. Hikz hikz hikz..”
            Aku semakin memeluk erat tubuh mungil Ji Yeon untuk memberikan sebuah ketenangan.
 
            “Saranghae, Ji Yeon-ahh.. Saranghae Ji Yeon-ahh… Kau tahu sangat, amat, teramat menyakitkan tanpamu. Jadilah milikku, Ji Yeon-ahh..” entah kenapa kalimat itu keluar dari mulutku sendiri.
 
            “Minho oppa, apa kau sedang mabuk???”
            “Aku serius Ji Yeon-ahh.. Jadilah milikku. Aku tidak akan menyakiti hatimu lagi, percayalah…..” ucapku lembut dan melepaskan pelukanku pada Ji Yeon.
            “Aku ini dongsaengmu, oppa..” ucapnya lirih.
            “Kau hanya dongsaeng angkatku, Ji Yeon-ahh. Diantara kita sama sekali tidak ada hubungan darah. Appa dan Eomma mengadopsimu saat usiamu 2 tahun di sebuah panti asuhan. Karena itulah, sikapku acuh padamu. Karena kau adalah orang asing yang tiba- tiba masuk ke dalam hidupku.” Jawabku panjang lebar.
            “Benarkah??” air mata Ji Yeon menetes lagi.
            Aku hanya mengangguk.
            “Jadilah yeojaku, Ji Yeon-ahh.. Aku tidak ingin kau meninggalkan aku lagi. 3 tahun hidup tanpamu sangatlah menyakitkan Ji Yeon-ahh.” Aku kembali mendekatkan wajahku pada wajah Ji Yeon dan mencium lembut bibir mungil Ji Yeon dengan penuh perasaan dan Ji Yeon pun membalas lembut ciuman dariku. Kami berciuman cukup lama…”
 
            “Saranghae jeongmal saranghae, Ji Yeon-ahh..”
            “Oppa…..”
            “Nae?”
            “Lantas, siapa Appa dan Eommaku. Bagaimana dengan Siwon appa dan Yoona eomma dengan apa yang telah kita lakukan, oppa??”
            “Kau bisa mencari tahunya di panti asuhan dimana kau tinggal saat itu. Aku akan tetap mempertahankan cintaku padamu Ji Yeon-ahh..”
            “Sejak kapan oppa mencintaiku?”
            “Aku tidak tahu sejak kapan, namun aku baru menyadarinya saat melihat kau berpelukan dengan Kyuhyun hyung.”
            Aku menatap kembali kedua mata Ji Yeon.
            “Jadi, bagaimana? Jadilah gadisku, jadilah calon isteriku…”
 
            Deg…
            Deg…
            Deg….
 
            “Aku tidak tahu perasaanku padamu, Minho oppa…”
            “Kau membalas ciuman kedua dariku. Itu tandanya kau menerimaku.. hahha..”
            “Omoo.. Minho oppa kau tertawa?? Baru kali ini aku melihat oppa tertawa setulus itu di hadapanku. Kau terlihat sangat tampan, oppa…”
            “Jadi, bagaimana Ji Yeon-ahh???”
            “Andwae!!! Kau ini adalah oppaku, meskipun bukan oppa kandungku. Aku masih menghormati Siwon appa dan Yoona eomma.”
            “Tapi, aku mencintaimu Ji Yeon-ahh. Atau kau sudah menjadi milik Sanghyun-ssi??”
            “Sanghyun oppa sudah menganggapku sebagai dongsaengnya oppa dan aku pun begitu sebaliknya.”
            “Syukurlah…..”
            “Mwoo??”
            “Ayolah Ji Yeon-ahh, jadilah milikku..”
            “Kau ini pemaksa sekali..”
            “Aku akan bicara pada Appa dan Eomma…Saranghae, Ji Yeon-ahh..”
           
            Kali ini, Ji Yeon yang mendekat padaku.
 
            Bibir mungil Ji Yeon hinggap di bibirku. Akupun mencium bibir mungil Ji Yeon untuk yang ketiga kalinya. Aku berusaha memberikan kenyamanan untuk Ji Yeon. Akhirnya Ji Yeon melepaskan ciuman kami.
 
            “Nado saranghae, Minho oppa…” bisiknya pelan dan mencium kilat pipi kananku.
 
            “Kau ini sangat nakal ya… Tekhnikmu mencium seorang namja sangatlah kacau..” aku mengacak- acak lembut rambut Ji Yeon. Terlihat Ji Yeon hanya mengerucutkan bibir mungilnya itu. Aku hanya terkekeh melihat tingkah yeoja yang ternyata ku cintai ini.
 
            “Oppa.. Sampai kapan kita berada disini? Ayo kita pulang..”
 
            Aku pun memasangkan safety belt untuk Ji Yeon. Saat aku memasangkan safety belt, Ji Yeon hanya menatapku aneh. Setelah selesai, barulah aku memasang kembali safety belt milikku. Aku mulai menyalakan mesin mobilku dan pulang ke rumah.
 
            “Minho oppa….”
            “Nae, chagi???”
            “Mwo??? Chagi???”
            “Mulai saat ini kau adalah yeojacingu sekaligus calon isteriku Ji Yeon-ahh…”
            “Mungkin kalau aku tidak pergi ke Amerika selama 3 tahun, Minho oppa akan terus mengacuhkan aku. Menyebalkan!!!!”
            “Tapi, jika kau tetap berada disampingku, mungkin aku tidak akan pernah menyadari perasaanku padamu, aku tidak akan pernah merasakan betapa menyedihkan dan menyakitkannya menjalani tanpa seorang yeoja yang sangat dicintai. Kau tahu, betapa lelahnya aku menunggu kau kembali ke sisiku lagi. Namun, aku tetap bertahan untukmu Ji Yeon-ah..”
            “Gomawo, Minho oppa.. Aku juga merasa sangat beruntung meninggalkan Minho oppa selama 3 tahun. Aku bisa bertemu dengan keluarga Park yang sangat baik padaku. Hehhe^^”
 
            Aku dan Ji Yeon pun akhirnya tiba di rumah.
 
            Sebelum Ji Yeon benar- benar turun dari mobilku, aku segera menarik kembali lengan kanan Ji Yeon sehingga dia masih duduk di tempat semula.
 
            “Ji Yeon-ahh, tetaplah bersamaku sampai kapanpun. Saranghae jeongmal saranghae Ji Yeon-ahh..” ucapku pelan dan mengecup kening Ji Yeon cukup lama. Ji Yeon hanya menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis dan masuk lebih dulu ke dalam rumah.
 
            Beberapa menit kemudian setelah aku memasukkan mobilku ke dalam garasi, aku pun menyusul Ji Yeon masuk ke dalam rumah.

15 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s