She Isn’t My Sister – Part 3

She Isn’t My Sister
Casts:
 
Choi Minho SHINee
Park Ji Yeon T-ara
 
Other Casts:
 
Park Sanghyun MBLAQ
Choi Family
Park Family
Cho Kyuhyun Super Junior
 
Genre:
 
Family, Romance
 
Author:
 
Leni Nur Anggraeni
 
 
ORIGINAL, MY IMAGINATIONS ABOUT MINJI COUPLE^^

Beberapa menit kemudian setelah aku memasukkan mobilku ke dalam garasi, aku pun menyusul Ji Yeon masuk ke dalam rumah.
 
            “Appa dan Eomma ternyata belum sampai rumah. Mungkin masih ada urusan lain.” batinku.
 
            “Minho oppa..” panggil Ji Yeon yang sedang menuruni anak tangga dan berjalan ke arahku.
            “Nae, Ji Yeon-ahh??”
            “Perutku sangat lapar….”
            “Aku juga sangat lapar, sebaiknya kau sebagai calon anae yang baik untukku, siapkan makanan untuk calon nampyeonmu ini. arraseo!! Aku mau mengganti pakaianku dulu.”
 
            Setelah selesai mengganti pakaiannku, aku pun menghampiri Ji Yeon yang sedang sibuk memasak di dapur. Secara perlahan aku menghampiri Ji Yeon. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggal Ji Yeon, menyandarkan kepalaku di bahu kanan Ji Yeon.
 
            “Ahh.. Minho oppa.. Hentikan!! Aku sedang memasak.” Ucap Ji Yeon pelan.
            “Anii.. Aku ini sangat merindukanmu Ji Yeon-ahh…”
            “Ahh.. Oppa.. Aku mohon tunggulah di meja makan..”
            “Anii, aku ingin menemanimu disini.”
            “Tapi, lepaskan pelukanmu padaku oppa. Gerakku menjadi tidak leluasa.”
 
            Aku melepaskan pelukanku. Dan membalikkan tubuh Ji Yeon sehingga menghadap ke arahku. Aku memeluknya dan mengecup kening Ji Yeon cukup lama.
 
            “Oppa, hentikan!!! Kenapa kau jadi sangat genit sihh….”
            “Itu karena salahmu, Ji Yeon-ahh. Kau membuatku merindukanmu selama 3 tahun…”
 
            “Oppa….. Tunggulah aku di meja makan nae??” Ji Yeon memberikan aegyonya dan mencium pipi kananku sekilas.
            “Baiklah, chagi….. Saranghae…”
 
            Aku pun menunggu Ji Yeon di meja makan. Beberapa menit kemudian, Ji Yeon pun tiba bersama makanan yang dibuatnya. Ji Yeon tersenyum ke arahku. Dan duduk di meja makan di seberangku. Aku terus memandang wajah Ji Yeon.
 
            “Neomu yeoppo.” Batinku.
 
            “Minho oppa, jangan memandangku seperti itu..”
 
            “jjangmyeon??” aku mengalihkan pandanganku pada makanan yang sudah ada di meja makan.
 
            Tanpa menunggu lama aku dan Ji Yeon segera menyantapnya.
 
            “Masakanmu enak, Ji Yeon-ahh..”
 
            “Aku belajar memasak dari Tae Hee ahjumma…”
 
            Aku berdiri dari tempat dudukku saat ini dan menghampiri Ji  Yeon.
            Aku menarik lembut ke dua tangan Ji Yeon dengan kedua tanganku.
            Aku memeluknya sangat erat.
 
            “Saranghae Ji Yeon-ahh… Jangan tinggalkan aku, Ji Yeon-ahh. Berjanjilah padaku. Cukup 3 tahun kau menyiksaku….”
            “Kau sudah menyiksaku lebih dari 3 tahun, Minho oppa.” Ji Yeon menundukkan kepalanya.
            “Mianhae Ji Yeon-ahh.. Takkan pernah ku ulangi lagi…”
            “Ahh… Aku lupa.. ponselku kemana? Ahh.. aku meninggalkannya di kamar. Minho oppa, pinjamkan aku ponselmu padaku nae?? Hanya 5 menit….” Ji Yeon mengeluarkan aegyonya.
            Aku pun meminjamkan ponselku pada Ji Yeon. Aku tidak ingin melihat aegyo Ji Yeon semakin lama. Jika aku melihatnya lebih lama, aku semakin ingin memilikinya.
 
            Ji Yeon mulai menekan beberapa nomor.
 
            “Yeoboseyeo, Sanghyun oppa.. Ini aku Ji Yeon. Aku meminjam ponsel Minho oppa. Mianhae aku baru menghubungimu. Aku sudah sampai rumah dengan selamat.. hhehhe^^”
            “Nae, istirahatlah oppa..”
 
            Ji Yeon menutup sambungan teleponnya.
 
            “Siapa yang kau hubungi???”
            “Sanghyun oppa..”
            “Kenapa kau terlihat sangat akrab dan dekat dengannya.”
            “Aku kan sudah bilang, aku sudah menganggap Sanghyun oppa sebagai oppaku, begitupun sebaliknya.” Ucap Ji Yeon dengan nada yang agak tinggi.
            “Arraseo!!! Mianhae, Ji Yeon-ahh..”
            “Ahh.. Minho oppa, aku sangat lelah.. Aku ingin beristirahat di kamarku. Annyeong…”
            Sebelum Ji Yeon benar- benar menuju kamarnya, aku terlebih dahulu menarik lengan kanannya dan mendekap tubuh mungil Ji Yeon ke dalam pelukanku lagi..
            Aku pun menggendong paksa Ji Yeon dan mengantarnya ke kamar. Setelah di kamar Ji Yeon, aku membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
            Aku menatap wajah Ji Yeon dengan lekat.
 
            “Minho oppa, kau sangat berlebihan….”
            “Aku akan membayar setiap tetes air matamu yang keluar karena aku, aku akan selalu membuatmu tersenyum…”
            “Gomawo, Minho oppa… Saranghae Minho oppa…”
            “Nado jeongmal saranghae Ji Yeon-ahh…”
 
Akupun mulai melangkahkan kakiku ke luar kamar Ji Yeon. Namun, Ji Yeon menarik lengan kananku. Ji Yeon membenarkan posisinya menjadi duduk di samping tempat tidurnya.
 
“Minho oppa…”
“Nae, Ji Yeon-ahh??”
“Besok pagi temani aku ke tampat asuhan dimana kalian mengadopsiku, nae??”
Aku tersenyum pada Ji Yeon.
“Tentu, besok aku akan menemanimu kesana.”
“Gomawo, Minho oppa…”
 
Aku pun keluar dari kamar Ji Yeon. Aku memutuskan untuk menonton tv. Namun, bukan acara tv yang aku tonton. Aku hanya membayangkan kembali setiap moment yang aku lakukan hari ini bersama Ji Yeon. Berawal dari saling canggung dan akhirnya kami menjadi sepasang kekasih. Aku tersenyum- senyum sendiri. Tanpa, aku sadari ada 2 pasang mata yang sedang memperhatikan gerak- gerikku.
 
“Kyaaa….. Choi Minho, kau gila????” tanya Appa dan duduk disampingku.
“Oh iya, Ji Yeon mana?” tanya Eomma.
“Sedang istirahat di kamar, Eomma..”
“Syukurlah, kalau begitu.”
“Appa, Eomma… Ada yang ingin aku katakan tentang Ji Yeon pada kalian.”
“Tentang Ji Yeon?? Mwo??” tanya Appa.
Appa dan Eomma menatapku penasaran.
“Aku sudah memberitahu Ji Yeon, bahwa dia bukan anak kandung Appa dan Eomma.”
“Mwo??? Wae???”
“Aku mencintai Ji Yeon..”
“Lalu reaksi Ji Yeon, bagaimana?” tanya Appa.
“Dia terlihat sangat sedih mendengarnya. Besok Ji Yeon memintaku untuk menemaninya ke panti asuhan dimana kita mengadopsi Ji Yeon untuk mencari tahu asal- usul Ji Yeon.”
“Sejak kapan kau mencintai Ji Yeon, Minho-ahh…”
“Molla… Sekarang aku dan Ji Yeon adalah sepasang kekasih. Appa, Eomma……. Aku mohon restui aku dan Ji Yeon. Aku akan membahagiakan Ji Yeon.”
“Jika itu memang yang terbaik dan menjadi pilihanmu, Appa dan Eomma akan merestui kau dan Ji Yeon.” ucap Appa.
“Gomawo, Appa… Gomawo, Eomma……”
 
 
Ji Yeon pov..
 
“Kriiiiing……………..” jam wekker di kamarku berdering.
Aku pun segera bangun dari tidurku dengan penuh semangat, karena hari ini aku akan mencari tahu siapa Appa dan Eommaku sebenarnya. Dan yang sangat menyenangkan lagi adalah aku ditemani oleh Minho oppa. Aku pun segera mandi. Setelah selesai mandi aku menata diriku, setelah selesai dengan penataan penampilanku, akupun keluar dari kamarku menuju ruang makan.
 
“Annyeong…..” aku menyapa Siwon appa, Yoona eomma, dan Minho oppa yang sudah duduk di meja makan.
“Annyeong, my princess…..” jawab Siwon appa.
“Annyeong, puteri eomma yang selalu cantik..” jawab Eomma.
Berbeda dengan 3 tahun yang lalu, kali ini Minho oppa ikut menjawab sapaanku.
“Annyeong, chagi…” jawab Minho oppa dan tersenyum ke arahku.
“Minho oppa….”
“Tidak apa- apa Ji Yeon-ahh. Appa dan Eomma sudah mengetahui semuanya dari Minho. Mianhae telah merahasiakan hal ini darimu selama belasan tahun.” ucap Siwon appa.
Aku masih terbengong- bengong..
“Eomma dan Appa merestui hubungan kau dan Minho, Ji Yeon-ahh.” Ucap Eomma.
Aku melirik ke arah Minho oppa, dia hanya tersenyum menatapku.
“Ji Yeon-ahh..” panggil Appa.
“Nae??”
“Minho selalu bertanya kapan kau kembali.” jawab Appa.
“Jeongmal???”
“Nae, untung saja dia masih bertahan hidup..” sindir Eomma.
“Benarkah begitu, Minho oppa?? Pantas saja setiap hari bulu mataku jatuh, ternyata Minho oppa yang merindukanku.. hahhah^^”
“Ahh.. Appa… Eomma….. Kenapa kau mengatakan itu pada Ji Yeon…” ucap Minho oppa dengan kedua pipinya sudah merah padam.
“Aku sudah selesai sarapan. Ji Yeon-ahh, aku menunggumu di mobil. Jangan membuatku menunggumu terlalu lama, arraseo!!” ucap Minho oppa. Namun, kali ini berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Setiap Minho oppa menatap dan berbicara padaku, dia selalu memberikan senyuman padaku dan nada bicaranya sangat lembut.
Setelah selesai sarapan dan berpamitan pada Siwon Appa dan Yoona Eomma, aku menyusul Minho oppa yang sudah menungguku di luar.
 
“Kajja…..” Minho oppa menarik tanganku. Minho oppa membukakan pintu mobil untukku, akupun masuk ke dalam mobil. Setelah aku sudah berada dalam mobil, giliran Minho oppa yang masuk ke dalam mobil.
 
“Minho oppa….”
“Nae?”
“Apa letak panti asuhannya cukup jauh?”
“Begitulah…….”
 
Minho oppa menyalakan DVD yang ada di mobilnya dan memutar lagu- lagu Super Junior. Saat ini kami sedang menikmati lagu “Your Eyes” yang dinyanyikan oleh dua lead vocal Super Junior, yaitu Yesung oppa dan Kyuhyun oppa. Sambil menikmati indahnya jalanan di Seoul.
 
“Minho oppa, apakah masih lama sampai panti asuhan???”
“Kau ini cerewet sekali….”
Aku hanya mendengus kesal mendengar jawaban dari Minho oppa. dan kembali mendengarkan lantunan lagu yang berasal dari DVD yang ada di mobil Minho oppa. Kali ini aku menikmati lagu “My All Is In You” dari Super Junior.
 
“Aku baru tahu, ternyata Minho oppa suka Super Junior. Aku pikir dia hanya menyukai SHINee.” Batinku.
Minho pov..
 
“Ji Yeon-ahh..”
Tidak ada jawaban…. Aku menoleh ke arahnya. Ternyata Ji Yeon sedang tertidur. Aku pun membuat kepala Ji Yeon agar bersandar di bahuku. Lalu ku kecup lembut puncak kepala Ji Yeon..
 
“Ji Yeon-ahh…” aku membangunkan Ji Yeon dengan lembut.
“Sudah sampaikah, oppa??”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum pada Ji Yeon.
Aku dan Ji Yeon turun dari mobil dan masuk ke dalam panti asuhan untuk menemui kepala yayasan. Kepala yayasan menceritakan semua yang terjadi 19 tahun yang lalu. Ternyata kepala yayasan hanya menemukan Ji Yeon di tempat yang tidak jauh dari tempat ini. Dan tidak mempunyai data- data tentang kelahiran Ji Yeon. Tapi, kepala yayasan memberikan sebuah liontin hati dengan inisial PJY.
 
“Ahhh…. Oppa….. Apakah kedua orang tuaku sengaja membuangku???” tanya Ji Yeon saat kami sudah berada dalam mobil.
“Masih ada jalan Ji Yeon-ahh.. Mana liontin itu??”
“Ini…” Ji Yeon menyerahkan liontinnya padaku.
“Disini ada inisial PJY, mungkin ini adalah inisial nama aslimu, Ji Yeon-ahh..”
Ji Yeon hanya menundukkan kepalanya.
“Ji Yeon-ahh pakai selalu liontin ini. Siapa tahu ada yang mengenali liontin ini.”
“Nae..”
“Ji Yeon-ahh kau jangan cemberut seperti itu….”
“Peluangku untuk menemukan kedua orang tuaku sangatlah tipis, oppa…”
 
Tiba- tiba ponselku berdering, menampilkan nama Appa di layar ponselku.
 
“Yeoboseyeo, appa. Wae??”
“Minho, cepat ke kantor. Appa ada urusan penting, kau yang menggantikan appa memimpin rapat bulanan hari ini.”
“Nae, appa. Aku akan segera kesana..”
Tuuuttttt….. aku menutup ponselku.
 
“Ji Yeon-ahh, aku harus ke kantos sekarang.”
“Pergilah..”
“Bagaimana denganmu.”
“Aku akan baik- baik saja, oppa. Turunkan aku di halte dekat sini. Aku akan pulang duluan.”
 ===
TBC

9 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s