Jealousy Marriage – Part 2

Title : Jealousy Marriage

Main cast :
• Park Jiyeon
• Park Sanghyun

Other cast : Find at the story

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disc : The plot is MINE!

Credit Poster : YeonNiaARTwork

Backsong : Infinite – White Confession (Author promosi)

A/N : Annyeong😀 Author dengan banyak typo datang! Wooah maaf kalo part ini lama banget. author lagi buntu ama tugas. part ini kayaknya juga pendek. jadi author mau minta maaf sebesar-besarnya ama readers u.u

HOPE YOU LIKE IT

***

Preview

Kriiiiiiiiiingggggg……….. bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa keluar kelas untuk beristirahat ataupun hanya untuk sekedar bersantai. Dan di istirahat itu lagi, Krystal kembali menarik Sanghyun untuk ke kantin bersamanya. Jiyeon tidak suka melihatnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan. Kalau ia berbuat hal yang aneh, orang-orang akan curiga padanya. Lagipula sepemikirannya, Krystal itu adalah pacar Sanghyun.

“Jiyeon-ah… kau bawa bekal apa?” tanpa izin, Jieun mengobrak-abrik isi tas Jiyeon.

Namun ia menemukan hal lain. Benda yang hampir mirip seperti undangan. Jieun menarik benda tersebut keluar.

Jieun tak mampu menyembunyikan kekagetannya saat melihat benda tersebut secara keseluruhan.” Jiyeon-ah, ini apa?”

Jiyeon menoleh ke arah Jieun.”I-itu…….”

Preview End

Author POV

“I.. Itu… Apa kau tidak bisa membacanya, huh?” bentak Jiyeon.

“Bisa. Yang kubaca disini… ini undangan ulang tahunnya Kim Jaejoong. Ini, Kim Jaejoong ‘JYJ’?” Tanya Jieun penasaran.

“Iya,” sahut Jiyeon singkat.

“Darimana kau bisa mendapatkannya? Cepat beritahu aku!” Jieun menarik-narik seragam Jiyeon gemas.

Jiyeon menyeringai tipis. Ia senang memperlakukan Jieun seperti ini. Biasanya dia yang selalu ditindas.

“Kalau ku beritahu, nanti aku dibeliin komik ya?” goda Jiyeon.

“Iya, iya! Darimana kau mendapatkannya?”

“Kau mau tahu? Sebenarnya aku mendapatkan itu dari…. TEMPAT SAMPAH! Hahahah!” tawa Jiyeon menggelegar begitu saja di ruangan kelas yang sepi itu.

“Sudah kuberitahu kan? Jangan lupa pulang sekolah nanti, belikan aku komik ya?”

“Aish! Tidak adil! Kupikir kau punya hubungan apa dengan Jaejoong ‘JYJ’. Ckck… siapa orang yang tega membuang undangan dari artis setampan dia,” Jieun mengusap undangan tersebut penuh kasih sayang (?). “Undangannya kuminta saja ya?”

“Ambil saja. Asalkan jangan lupa belikan aku komik,” ucap Jiyeon.

“Iya… Iya,”

***

8 PM KST

 

Jiyeon POV

 

“Jieun-ah… masa komiknya Cuma 1?”

“ Lalu kau maunya berapa?” sahut Jieun sambil melihat-lihat komik yang ada di rak. Sekarang kami sedang berada di toko buku favorit kami.

“BANYAAAAK. Itu kan undangan milik artis,~”

“Tidak bisa. Satu tetap saja satu,” sahut Jieun, acuh.

‘Dasar pelit,’ batinku.

DRRT DRRT DRRT DRRT

Handphoneku bergetar. Ku merogohnya di saku. Telpon  dari Dara unnie?

“Yobosseo?”

‘Jiyeon-ah.. kau dimana?’

“Aku sedang di toko buku, unnie. Waeyo?”

‘Toko buku? Kau bisa pulang ke rumahmu sekarang? Sanghyun menelpon, katanya dia sedang demam. Unnie sedang ada urusan, jadi tidak bisa ke rumahmu,’

“Aaaa… ba-baiklah,”

KLIK

Sanghyun demam? Ada apa? Perasaan dia baik-baik saja.

“Waeyo, Jiyeon-ah?” Tanya Jieun.

“Ah-ahniyo. Bukan apa-apa. Err… Jieun-ah, aku ada urusan mendadak. Kau tidak apa-apa kan kutinggal?”

“Urusan penting? Baiklah. Aku bisa menelpon Wooyoung oppa untuk menjemputku, kok.” Sahut Jieun. Haaah… untunglah aku punya sahabat pengertian sepertimu, Jieun.

“Keurayo. Aku pergi dulu ya. Gomawo komiknya!” aku langsung keluar komik dan memberhentikan taksi pertama yang kulihat. Huff…. Kenapa aku jadi cemas seperti ini?

***

Author POV

 

Jiyeon membuka pintu kamarnya pelan. Ia berjalan pelan kearah tempat tidur. Gundukan besar dilapisi selimut di atas ranjang, menunjukkan ada sesuatu di dalamnya. Jiyeon menyingkap selimut itu perlahan. Terlihat Sanghyun yang sedang menggigil, berusaha menahan dingin di tubuhnya, dengan memakai baju yang sudah berapa lapis dalamnya.

“Aigo! Sanghyun-ah… kau kenapa?” Jiyeon mengubah posisi tidur Sanghyun menjadi terlentang.

“Di… ding… in… grr…”

“Kalau demam, jangan pakai baju tebal-tebal. Itu justru akan menaikkan suhu tubuhmu. Ayo sini kulepas,” dengan tak sabaran, Jiyeon membuka beberapa baju Sanghyun, sehingga hanya menyisakan satu lapisan saja. Setelah itu, ia kembali menidurkan Sanghyun dan menyelimutinya.

“Kau tunggu disini ya. Jangan bergerak. Pakaian mu jangan dipakai lagi!” perintah Jiyeon kemudian menghilang keluar. Sementara Sanghyun hanya bisa menggertakkan giginya sambil menggengam erat selimutnya.

Tak berapa lama, Jiyeon kembali dengan sebuah sebuah Loyang berisi air dan sekaligus handuk kecil di tangannya.

Jiyeon duduk di samping ranjang. Ia menyelupkan handuk tersebut ke dalam air, meremasnya, dan meletakkan di kening Sanghyun.

Sanghyun tetap menggigil kedinginan. Jiyeon jadi bingung melihatnya. Akhirnya ia mengambil beberapa handuk lagi, menyelupkannya kemudian menaruh mereka ke seluruh tubuh Sanghyun.

“Cepat sembuh Sanghyun-ah…” ucap Jiyeon, khawatir. Ia memandang Sanghyun yang hampir terlelap.

“Mianhae, Sanghyun-ah. Aku hanya pergi jalan-jalan saja, sementara kau kedinginan di sini. Aku… bukan istri yang baik,” Jiyeon menunduk menyesal.

“Bagaimana aku bisa menepati janjiku pada ayah? Bagaimana aku bisa membuatmu cinta mati padaku, kalau pada awalnya saja aku sudah begini?” Jiyeon mendongakkan kepalanya menatap Sanghyun lagi. Ia mengelus pipi Sanghyun dengan lembut dan perlahan.

Jiyeon tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya dan menekan angka-angka yang sudah sangat ia hapal.

“Yobosseo, Jieun-ah. Apa kau tahu makanan apa yang cocok untuk orang yang sedang demam?”

***

Sanghyun POV

Sanghyun terbangun dari tidurnya. Ia sedikit mengerang dan memijit kepalanya yang terasa sedikit sakit. Matanya langsung menuju kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 10.12. terlepas dari itu, Namja itu terheran-heran melihat tubuhnya yang penuh dibaluti handuk basah. Siapa yang melakukan ini?, pikirnya.

Ia mengeluarkan handuk-handuk itu satu persatu. Sedetik kemudian, ia mencium bau wangi masakan menyeruak masuk ke dalam kamar.

Ia berjalan keluar kamar, mengikuti bau masakan yang berasal dari dapur itu. Sesampainya di dapur, matanya tertuju pada beberapa makanan yang sudah tertata rapi di meja makan. Pandangannya beralih pada sesosok yeoja yang tengah sibuk membersihkan peralatan masakan di wastafel dapur. Ia melongo, samapi tak sadar kalau yeoja itu sudah berbalik memandangnya.

“Sanghyun-sshi… kau sudah bangun?” Jiyeon berjalan mendekati Sanghyun. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Sanghyun. “Syukurlah… demammu sudah turun. Ayo makan,”

Jiyeon menarik Sanghyun duduk di salah satu kursi meja makan, dan mulai menuangkan sup buatannya di mangkuk. Sementara Sanghyun, ia masih cengo bego dengan apa yang terjadi (?).

“Kenapa kau melamun?” Tanya Jiyeon sambil menyentuh tangan Sanghyun. Sentuhan Jiyeon, reflex membuat Sanghyun tersadar.

“A-ahniyo. Kenapa kau bisa ada disini? Bukannya kau sedang jalan-jalan dengan Jieun?” Tanya Sanghyun balik.

“Oh… itu… aku langsung pulang saat Noona-mu menelpon. Katanya kau sedang demam. Jadi aku buru-buru pulang,”

Jantung Sanghyun berdetak kencang mendengarnya? Apa itu berarti kalau Jiyeon khawatir padanya?

“Sebenarnya, kau demam kenapa?”

“Mollaseo. Mungkin aku kelelahan saat olahraga tadi siang,” Sanghyun mengambil sendok dan mulai memakan sup buatan Jiyeon sendiri, sampai tangan yeoja itu menahannya.

“Biar aku suapi. Kau kan masih sakit,” ucap Jiyeon sambil tersenyum manis. Ia mengambil alih sendok yang ada di tangan Sanghyun dan mulai menyuapi suaminya itu. Sementara Sanghyun hanya bisa diam sampai isi mangkuk habis. Ia berharap selama itu, Jiyeon tidak mendengar detak jantungnya yang berpacu 1000 kali lebih cepat.

***

“Kau tidak sedang kerasukan atau sakit kan sekarang? Tanya Sanghyun pada Jiyeon yang sedang membereskan tempat tidurnya.

“Sakit? Kerasukan?” refleks Jiyeon menghentikan kegiatannya. Ia memiringkan kepala, melihat Sanghyun yang tegap berdiri di pintu kamar mandi.

“I-iya. Kau pasti punya alasan membuatkanku makanan. Benar kan?”

“Memang ada harus alasannya? Aku hanya melakukan tugasku. Walaupun kita menikah, err… karena kesalah pahaman, aku harus tetap melaksanakan tugasku sebagai istrimu.”

Sanghyun tertegun. “Benarkah?”

“Iya. Kalau kau  merasa tidak nyaman, aku tak akan mengulanginya lagi,” ujar Jiyeon datar, sambil melanjutkan aktivitasnya.

“Bukan begitu… Sudahlah. Kau tidur saja. Lupakan saja perkataanku tadi,” sahut Sanghyun. Ia berjalan menuju sofa yang akhir-akhir ini menjadi tempat melepas lelahnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Jiyeon.

“Aku? Tidur.” Sahut Sanghyun polos.

“Kau.. tidak mau tidur di… tempat tidur saja?” ucap Jiyeon ragu-ragu.

“Mwo?”

“Ah-ahniyo. Tidak jadi,” Jiyeon buru-buru langsung menghempaskan diri ke ranjang dan menyelemuti seluruh tubuhnya.

Sanghyun mengerutkan kening melihatnya. Namun sedetik kemudian, ia hanya mengendik dan pergi tidur di sofa.

***

Sanghyun POV

 

Kriiinggggggggg……….. Haaah.. akhirnya bel istirahat juga. Badanku hampir remuk semua menulis terus. Ku baru saja berdiri, sampai tiba-tiba Krystal masuk ke kelas dan meneriakkan namaku lagi.

“Sanghyunnie…. Kita makan yuk!” seperti biasa, ia mulai bergelayutan manja di lenganku lagi. Aduh yeoja ini… sampai kapan ia akan terus begini?

Ku mengalihkan tatapanku ke belakang. Tepatnya ke tempat duduk Jiyeon. Kupergoki ia sedang menatap ke arahku dan Krystal dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Namun sedetik kemudian, ia mengalihkan pandangannya. Apa ia cemburu?

Ku melirik lagi kearah Krystal yang masih saja terus menarikku. Istriku adalah Jiyeon. Dan yeoja yang ku sukai adalah Jiyeon. Kenapa aku harus pergi dengan Krystal kalau sementara Jiyeon hanya sendiri? Mumpung Jieun tidak hadir. Tidak ada yang menjadi kecemasan Jiyeon. Aku harus menggunakan kesempatan ini.

“Maaf Krystal-ah…” dengan halus ku melepaskan tangan Krystal dan berjalan kearah Jiyeon.

“Jiyeon-ah, ayo kita ke kantin.” Tanpa menunggu jawaban, ku langsung menariknya ikut denganku. Aku tak memperdulikan teriakan Krystal yang kesal. Haha…

***

Author POV

 

“Ya… Sanghyun-sshi, kenapa kau mengajakku? Bukannya Krystal sudah mengajakmu tadi? Jiyeon Nampak cemas dan tak nyaman dengan keberadaanya yang pergi hanya berdua dengan Sanghyun.

“Wae? Sekali-kali aku ingin makan denganmu. Lagipula… kau kan istriku,” sahut Sanghyun sambil memelankan suaranya.

“Ya, meskipun begitu, kau tidak bisa seenaknya. Kita harus tetap merahasiakan ini. Apa kau juga tidak memikirkan perasaan Krystal?”

“Kenapa dengan dia?” Tanya Sanghyun balik. Ia mengambil sepotong kentang goreng kemudian memakannya.

“Heii… dia kan yeojachingumu. Masa kau tidak memikirkan perasaannya?”

“Uhuk… Uhuk!” Sanghyun tersedak mendengar perkataan Jiyeon. Ia buru-buru meminum air mineralnya.

“Yeojachingu?”

“Ne. Krystal,” ucap Jiyeon singkat.

“Sejak kapan ia jadi yeojachingu-ku? Kau ini… aneh-aneh saja,” geleng Sanghyun.

“Jadi dia bukan yeojachingumu? Lalu… kenapa kalian selalu pergi berdua?” raut wajah tidak bisa diprediksi saat ini. Wajahnya menyiratkan bahagia dan sedikit kebingungan.

“Jadi dari dulu kau sudah memperhatikan kami ya? Apa kau cemburu?” goda Sanghyun.

“Ahni!” teriak Jiyeon sambil bangkit dari duduknya. Tatapan mata para siswa-siswi di kantin beralih padanya. Jiyeon menelan ludahnya.

“Mana mungkin aku cemburu?” ucapnya pelan. Setelah itu, ia langsung keluar kantin meningaalkan Sanghyun.

Sanghyun terkekeh kecil melihat tingkah Jiyeon. Namun hatinya tak bisa menyembunyikan perasaanya yang amat bahagia. Ia sudah bisa menangkap kalau Jiyeon juga menyukainya. Yang ada di pikirannya sekarang, adalah bagaimana agar membuat yeoja itu mau mengakuinya.

TO BE CONTINUED

 


38 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s