Love At The First Sight

(One Shoot)Love At The First Sight
 
Main Casts:
Lee Donghae Super Junior
Park Ji Yeon T-ara
 
Genre:
Romance, sad
 
Author:
Leni Nur Anggraeni
 
Happy Reading^^
 
                Author pov..
 
                07 Juni 1993
 
                Kim Tae Hee, seorang wanita muda berusia 23 tahun melahirkan seorang puteri yang sangat cantik dan menggemaskan, buah cintanya dengan seorang pria yang sangat ia cintai Park Jin Young. Park Jin Young menikahi Kim Tae Hee satu tahun yang lalu. Park Jin Young adalah salah satu pengusaha terkaya di Korea dalam bidang perhotelan, sedangkan Kim Tae Hee adalah salah satu designer ternama di Korea.
                Malam ini pasangan yang saling mencintai ini sangat berbahagia karena Tuhan telah menganugerahkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan menggemaskan.
 
                “Tuan dan Nyonya Park, ini dia puteri kalian. Puteri kalian sangat cantik seperti eommanya.” Ucap seorang suster, memberikan puteri Park Jin Young dan Kim Tae Hee pada orang tua kandungnya. Dan kini, bayi perempuan itu berada di gendongan eommanya.
                “Yeobo, puteri kita sangat cantik dan menggemaskan. Coba kau lihat! Kedua pipinya cabi, memiliki warna kulit putih dan halus bagaikan susu.” Ucap Kim Tae Hee, pandangan kedua matanya masih terfokus pada puteri pertamanya.
                “Tentu yeobo, secantik eommanya. Aku beruntung memiliki anae dan puteri secantik kalian.” Jawab Park Jin Young.
                “Kita beri nama siapa, puteri kita yang cantik ini??” tanya Kim Tae Hee.
                “Bagaimana kalau Ji Yeon??” usul Park Jin Young dengan antusias.
                “Nae, choneun Park Ji Yeon imnida.” Kim Tae Hee menyetujui usulan sang suami.
                “Tuhan terimakasih, karena telah memberikan anugerah terindah dalam keluarga kecil kami.” Ucap Kim Tae Hee, bulir- bulir putihpun menetes di pipinya.
                “Tuhan terimakasih, karena telah mempersatukanku dengan Kim Tae Hee dan memberikan kami seorang malaikat kecil yang sangat cantik dan menggemaskan. Aku akan selalu menjaga dan melindungi dua wanita yang sangat istimewa dan berharga dalam hidupku ini. Aku akan selalu membuat anae dan puteriku selalu berbahagia.” Do’a Park Jin Young dan memeluk isterinya.
                “Park Ji Yeon-ahh, jadilah yeoja yang baik, pintar, peduli pada sesama, dan selalu berbakti pada Eomma dan Appa. Arraseo!!!” ucap Kim Tae Hee.
 
                18 tahun kemudian
 
                Ji Yeon’s pov.
 
                “Ji Yeon-ahh, cepatlah bangun! Bukankah hari ini adalah hari pertamamu masuk kuliah??” teriak Eomma dari luar kamarku.
                “Nae, eomma. Aku sudah bangun sejak tadi. Aku akan segera keluar.” Jawabku sedikit berteriak agar eomma mendengar apa yang aku katakan.
                “Hmm… Tidak terasa.. Sudah 18 tahun aku hidup di dunia yang sangat indah ini. Terimakasih Tuhan, karena telah melahirkanku di sebuah keluarga yang sangat menyayangiku. Terimakasih karena aku memiliki sahabat- sahabat yang sangat menyayangiku.” Ucapku pada diriku sendiri sambil memandang diriku sendiri di cermin yang cukup besar terletak di kamarku.
                Akupun keluar dari kamarku menuju ruang makan untuk sarapan bersama appa dan eomma.
                “Annyeong appa, eomma..”
                “Annyeong my princess.” Jawab appa.
                “Annyeong, Ji Yeon-ahh. Cepatlah kemari, eomma telah menyiapkan roti dengan selai vanilla untuk puteri eomma yang sangat cantik ini.”
                Akupun segera duduk di seberang tempat duduk eomma dan mulai menyantap sarapanku pagi ini.
                “Wahh, puteri appa semangat sekali pagi ini..” goda appa.
                “Bukankah setiap hari aku selalu bersemangat, appa.”
                “Namun hari ini berbeda..”
                “Berbeda apanya, appa??”
                “Tidak hentinya kau menyunggingkan senyuman pada kami.”
                “Appa tidak suka??”
                “Anniya, appa sangat menyukai jika puteri appa dan eomma berbahagia.”
                “Eomma harap, hari ini kau akan menemukan seorang namja tampan lalu segera mungkin pertemukan dia pada eomma dan appa. Kau ini sudah 18 tahun, tapi eomma belum pernah melihat puteri eomma mempunyai namjacingu. Jangan terlalu banyak berpacaran dengan buku- buku tebalmu itu, Ji Yeon-ahh. Tidak salahnya kan kau sedikit memikirkan seorang namja.” Eomma angkat bicara.
                “Sampai detik ini belum ada namja yang membuat jantung ini berdetak lebih kencang saat melihatnya, eomma. Lagipula, aku belum yakin appa akan rela melepaskan puteri kesayangannya ini menjadi milik namja lain. Benarkan appa??”
                “Nae, benar apa yang dikatakan oleh Ji Yeon. Biarkan semuanya mengalir bagaikan air. Lagipula, Ji Yeon kan juga ingin menjadi designer sama seperti eommanya. Sebaiknya untuk saat ini Ji Yeon lebih banyak belajar.” Jawab appa.
                “Ahh, kalian appa dan anak sama saja. Baiklah, kali ini eomma mengalah..”
                “Bukan mangalah, tapi memang selalu kalah. Benarkan Ji Yeon?” ucap appa dan berhigh five denganku.
                “Appa, eomma, kita berangkat sekarang saja ya?? Aku tidak ingin di hari pertamaku masuk kuliah terlambat.”
                “Baiklah..” jawab appa dan eomma.
 
                Appa bertanggung jawab untuk mengantar dan jemput aku ke kampus dan eomma ke boutiqenya.
 
                30 menit kemudian, akupun tiba di Seoul University.
 
                “Wahh…. Akhirnya aku bisa juga menginjakan kaki ini di sebuah universitas terbaik dan ternama di Korea. Universitas yang aku idam- idamkan.” Aku menghembuskan nafas ringan dan mulai melangkahkan kakiku menuju kelasku.
                “Ji Yeon-ahh…….” panggil seorang yeoja yang sangat aku kenal, dia berlari ke arahku.
                “Jieun-ahh……”
                “Aisshh, sejak kau baru turun dari mobilmu, aku sudah memanggil namamu berulang- ulang kali. Namun, sayangnya kau tak mendengarku dan terus melangkahkan kakimu.” Ucap Jieon mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat berlari, mengerucutkan bibirnya.
                “Mianhae, Jieun-ahh. Jujur aku tidak mendengarmu. Jeongmal mianhae……”
                “Untuk kali ini aku ma’afkan kau, Park Ji Yeon. hehhe..”
                “Kenapa kau malah terkekeh seperti itu???”
                “Anniya.. Ji Yeon-ahh. Aku sangat senang bisa satu kampus denganmu.” Ucap Jieun, merangkul tubuhku.
                “Nae, aku juga sangat senang Jieun-ahh. Oh iya, kau tidak berangkat bersama Luna?”
                “Luna sudah berangkat lebih dulu. Mungkin dia sekarang sudah berada di kelasnya.”
                “Wahh, kau satu kelas dengan Luna. Iyakan??”
                “Nae, satu kelas dengannya. Minatku dengan Luna kan sama, sama- sama berminat di dunia tarik suara. Ji Yeon-ahh, sepertinya kita berpisah disini. Sampai Ji Yeon-ahh.”
                “Nae, sampai jumpa Jieun-ahh..”
                “Hmmm… Aku harap di kelas baruku aku akan menemukan teman seperti Jieun dan Luna.” Batinku.
 
                Namun, di tengah perjalanan menuju kelasku.
 
                “Bruuuukkkkkkkk…..” aku bertabrakan dengan seorang namja.
                “Ahh, mianhae. Aku benar- benar tidak sengaja.” Ucapku merasa bersalah dan membungkukan tubuhku di hadapannya.
                “Nan gwaenchana. Kau mahasiswi baru disini? Sepertinya aku sangat asing denganmu.”
                “Ahh, nae. Aku mahasiswi baru jurusan designer. Sekali lagi mianhae jeongmal mianhae.”
                “Sampai kapan kau akan menundukkan kepalamu? Aku tidak bisa melihat wajahmu.” Akupun mulai menegakkan kepalaku dan memandang wajah namja di hadapanku.
                “Ommoo, neomu kyeopta.” Batinku.
                Deg
                Deg
                Deg
                “Ommoo….. Perasaan apa ini. Tuhan, kembalikan detak jantungku senormal mungkin.” Batinku.
                “Choneun Lee Donghae imnida. Aku adalah songsaenim kau disini. Namun, sayangnya aku tidak akan mengajarmu, karena aku mengajar di jurusan administrasi perkantoran.”
                “S..song..sae..nim..” ucapku terbata- bata.
                “Nae, siapa namamu?? Kenapa kau terlihat gugup seperti itu? Kau terpesona oleh paras wajahku yang tampan. Iyakan??”
                “Park Ji Yeon imnida. Nae, Songsaenim sangat tampan.” Jawabku polos.
                “Sudah ku duga. Sebaiknya kau segera masuk ke dalam kelasmu. Mata kuliah pertama akan segera dimulai.”
                “Nae, annyeong songsaenim.” Jawabku, tersenyum ramah pada Donghae songsaenim dan Donghae songsaenim membalas senyumanku.
 
                Donghae’s pov.
 
                Saat aku akan menuju kelas dimana aku mengajar, karena aku sangat terburu- buru, aku melangkahkan kakiku dengan cepat. Namun, tak disangka- sangka sebuah kecelakaan kecil terjadi.
 
                “Bruuukkkkkkkkkkkkk…” aku menabrak seorang yeoja. Aku merasa sangat asing dengan wajahnya. Dan aku pikir dia adalah mahasiswi baru.
                “Ahh, mianhae. Aku benar- benar tidak sengaja.” Ucapnya merasa bersalah dan membungkukan tubuhku di hadapanku. Padahal seharusnya aku yang meminta ma’af padanya.
                “Nan gwaenchana. Kau mahasiswi baru disini? Sepertinya aku sangat asing denganmu.”
                “Ahh, nae. Aku mahasiswi baru jurusan designer. Sekali lagi mianhae jeongmal mianhae.”
                “Sampai kapan kau akan menundukkan kepalamu? Aku tidak bisa melihat wajahmu.” Diapun mulai menegakkan kepalaku dan memandang wajah namja di hadapanku.
                “Ommoo, neomu yeppoh.” Batinku.
                Deg
                Deg
                Deg
                “Ommoo….. Perasaan apa ini. Tuhan, kembalikan detak jantungku senormal mungkin.” Batinku.
                “Choneun Lee Donghae imnida. Aku adalah songsaenim kau disini. Namun, sayangnya aku tidak akan mengajarmu, karena aku mengajar di jurusan administrasi perkantoran.”
                “S..song..sae..nim..” ucapnya terbata- bata.
                “Nae, siapa namamu?? Kenapa kau terlihat gugup seperti itu? Kau terpesona oleh paras wajahku yang tampan. Iyakan??”
                “Park Ji Yeon imnida. Nae, Songsaenim sangat tampan.” Jawabnya polos.
                “Yeoja ini sangat cantik dan menggemaskan. Oh Tuhan, mimpi apa aku tadi malam sampai- sampai pagi ini Kau mempertemukanku dengan yeoja secantik, selucu, dan sangat menggemaskan sepertinya.” batinku.
                “Sudah ku duga. Sebaiknya kau segera masuk ke dalam kelasmu. Mata kuliah pertama akan segera dimulai.” Ucapku berusaha menutupi perasaan gugup *mungkin???
                “Nae, annyeong songsaenim.” Jawabnya, tersenyum ramah padaku dan akupun membalas senyuman darinya.
                “Omoo.. Saat dia tersenyum pun dia semakin cantik.. Oh Tuhan, perasaan apa ini??” batinku.
 
                Akupun segera melangkahkan kakiku menuju kelas yang aku aku ajar.
 
                Sepanjang aku memberikan materi pada para mahasiwa dan mahasiswi, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Aku selalu teringat yeoja yang baru saja aku temui pagi ini, Park Ji Yeon.
 
                Setelah selesai mengajar, aku segera masuk ke ruang dosen dan duduk di tempatku.
 
                “Donghae-ahh, ada apa denganmu hari ini? Kau mendapat undian???” tanya Yesung, dosen di bidang tarik suara. Dan berhasil membangunkanku dari lamunanku.
                “Wae, hyung?”
                “Aissh, kenapa kau malah bertanya ulang padaku? Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apa yang terjadi pada dirimu sendiri hari ini.”
                “Memangnya ada perubahan di wajahku? Apakah aku semakin tampan, hyung?” aku pura- pura kaget di hadapan Yesung hyung.
                “Kyaaa… Kau ini narsis sekali… Ku akui kau memang tampan, Donghae-ahh. Tapi, bukan itu yang ku maksud.” Yesung hyung mulai kesal dengan tingkahku.
                “Yaaa, hyung.. Mian….”
                “Cepat katakan padaku, apa yang terjadi dengan kau pagi ini? Kanapa kau tertawa- tawa sendiri? Jangan- jangan kau sudah gila….” tanya Yesung hyung bertubi- tubi.
                “Hyung…..”
                “Nae?”
                “Apakah seorang songsaenim menyukai mahasiswinya berdosa??”
                “Jika mereka tidak ada hubungan darah sama sekali tidak dosa. Wae?? Kenapa kau bertanya hal itu padaku, Donghae-ahh??” Yesung hyung mengernyitkan kedua alisnya tanda penasaran.
                “Anniya, hyung. Aku hanya bertanya saja.”
                “Tidak mungkin kau bertanya tentang itu jika tidak ada akarnya.”
                “Hyung…”
                “Nae?”
                “Tadi pagi aku bertemu dengan seorang bidadari. Dia sangat cantik, dia sangat manis, dia sangat menggemaskan, dia sangat lucu, dia sangat polos, sepertinya aku menyukainya hyung.. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Kau tahu hyung, saat kedua mataku ini ini bertemu tatap dengan kedua mata indahnya, jantung ini tiba- tiba berdetak sangat kencang melebihi batas normal, jantung serasa akan lepas dari tubuhku. Tidak pernah aku merasakan hal seperti ini sebelumnya jika bertemu dengan yeoja. Hyung… Aku benar- benar jatuh cinta dengannya. Semenjak kejadian tak terduga pagi itu, jujur aku tidak bisa melupakannya. Dia telah menempati relung hati yang kosong ini, hyung. Ruang hati ini telah siap untuk ditempatinya, hyung. Hyung, kenapa dalam waktu singkat…………………………” sebelum aku meneruskan perkataanku, Yesung hyung lebih dulu memotong perkataanku.
                “Dia dia dia dia dia dia dia.. Aku tidak tahu siapa yeoja yang kau maksud, Donghae-ahh.” Ucap Yesung hyung kesal.
                “Namanya Park Ji Yeon, mahasiswi baru Seoul University jurusan designer.”
                “Mwo??? Jadi kau menyukai mahasiswi di kampus ini????”
                “Nae, hyung…….”
                “Aissshh, apa kau yakin benar- benar jatuh cinta padanya? Setahuku kau adalah namja yang cukup sulit untuk jatuh cinta. Tapi, kenapa kali ini dengan gamblangnya kau mengakui telah jatuh cinta pada seorang yeoja, yang tak lain adalah mahasiswi Seoul University. Apalagi kau baru bertemu dengannya pagi ini.”
                “Akupun tidak mengerti dengan apa yang sedang ku rasakan, hyung. Menurutku, dia adalah yeoja yang selama ini ku cari. Dia berbeda dengan yeoja lain, hyung.”
                “Jika kau sudah mengambil keputusan seperti itu, apa boleh buat. Aku akan selalu mendukungmu, Donghae-ahh. Kau tahu yang terbaik untukmu sendiri. Aku jadi penasaran, Park Ji Yeon itu seperti apa ya? Sehingga berhasil meluluhkan hati namja dingin sepertimu.”
                “Cepat atau lambat, kau akan segera mengetahuinya hyung..”
                “Donghae-ahh.”
                “Nae, hyung.”
                “Kau tidak lapar?”
                “Tentu saja aku lapar, kajja kita ke kantin..”
 
                Aku dan Yesung hyung pun tiba di kantin. Dan sungguh aku sangat bahagia saat ini. Disini aku melihat seorang yeoja yang baru saja aku kenal pagi ini. Dia sedang makan bersama 2 yeoja, mungkin temannya. Aku dan Yesung hyung pun duduk di sebuah kursi dan meja yang kosong tidak jauh dari kursi dan meja yang ditempati Ji Yeon dan teman- temannya.
                “Hyung…”
                “Nae?”
                “Bukankah kau ingin melihat yeoja seperti apa yang berhasil meluluhkan hati ini?”
                “Yeoja itu ada disini?” Yesung hyung melihat ke sekitar untuk menemukan Ji Yeon.
                “Itu hyung..” aku menunjukkan telunjukku ke arah Ji Yeon.
                “Neomu yeoppoh.” Puji Yesung hyung.
                Aku hanya tersenyum mendengar komentar Yesung hyung terhadap yeoja yang aku sukai.
                “Sepertinya usianya masih sangat muda, Donghae-ahh..” bisik Yesung hyung.
                “Sepertinya iya. Tapi, cinta itu tidak mengenal usia, kasta, atau perbedaan yang lainnya, hyung. Dalam hal ini yang berperan sangat penting adalah hati.” Ucapku serius.
                “Hari ini setiap kalimat yang kau ucapkan penuh arti dan makna, Donghae-ahh. Apa ini dampak dari jatuh cinta???”
                “Sepertinya begitu, hyung. Hhehhe.. Makanya, kau juga harus segera jatuh cinta pada seorang yeoja, hyung.. Kau ini hanya mengurusi Ddangkoma, kura- kura kesayanganmu itu. Jangan sampai aku yang lebih dulu melangkahkan kakiku ke pelaminan sebelum kau, hyung. Hahhah..”
                “Aiisshhh… Kau ini. Bersikaplah lebih sopan pada hyungmu ini. Arraseo!!!”
               
                Ji Yeon’s pov.
 
                “Ji Yeon-ahh. Ada apa denganmu hari ini?” tanya Jieun sedikit heran padaku.
                “Jieun-ahh, Luna-ahh. Pagi ini aku merasa sangat beruntung.”
                “Wae?” tanya Jieun dan Luna serempak.
                “Apakah kalian berdua mengenal Donghae songsaenim??”
                “Tentu saja aku mengenalnya Ji Yeon-ahh. Donghae songsaenim kan dosen paling tampan di Seoul University.” jawab Luna.
                “Benarkah??”
                “Nae. Kenapa kau bertanya tentang Donghae songsaenim pada kami, Ji Yeon-ahh?”
                “Tadi pagi aku tidak sengaja menabraknya saat akan masuk ke kelasku.”
                “Mwo?? Beruntungnya kau, Ji Yeon-ahh…” ucap Jieun dan Luna serempak.
                “Ku rasa aku menyukainya.” Ucapku sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
               
                Saat aku, Luna, dan Jieun akan meninggalkan kantin. Aku melihat Donghae songsaenim dan temannya sedang makan di meja yang letaknya tidak jauh dari meja yang baru kami tempati. Mataku dan Donghae songsaenim bertemu. Donghae songsaenim memberikan senyumannya padaku dan akupun membalas senyuman serupa pada Donghae songsaenim. Kami pun berlalu menuju luar kantin.
 
                “Ji Yeon-ahh, sepertinya Donghae songsaenim tersenyum padamu.” Bisik Luna.
                “Yang ku dengar dari mahasiswi lain, Donghae songsaenim termasuk tipikal namja yang sangat dingin pada yeoja. Dosen wanita dan mahasiswi Seoul University banyak yang mengejar- ngejar Donghae songsaenim, namun tak satupun dari mereka yang mendapatkan respon dari Donghae songsaenim.” Ucap Jieun panjang lebar.
                “Dan berbeda dengan sikap Donghae songsaenim padamu, Ji Yeon-ahh. Apalagi, dia lebih dulu memberikan senyuman padamu. Wahh, beruntungnya kau, Ji Yeon-ahh.. Aku sangat mendukung hubunganmu dengan Donghae songsaenim. Aku yakin pasti banya yang iri padamu.” Ucap Luna.
                Aku hanya tersenyum mendengar setiap ucapan yang Jieun dan Luna lontarkan.
 
                Donghae’s pov.
                Karena mata kuliah hari ini telah selesai, akupun segera pulang. Namun, untuk ke tiga kalinya di hari yang sama. Tuhan kembali mempertemukanku dengannya. Aku melihatnya sedang berdiri di halte bus dekat Seoul University. Akupun memberhentikan mobilku tepat di depan halte bus. Akupun turun dari mobilku, mencoba untuk mendekatinya.
 
                “Annyeong… Kita bertemu lagi disini, Ji Yeon-ssi.”
                “Annyeong, Donghae songsaenim. Senang berjumpa denganmu lagi.”
                “Kau sedang menunggu bus??” tanyaku, Ji Yeon hanya menganggukan kepalanya.
                “Ini sudah terlalu sore, bagaimana jika aku mengantarkan kau pulang.”
                “Anniya. Tidak usah Donghae songsaenim. Aku tidak ingin merepotkan songsaenim.”
                “Anniya, aku tidak merasa direpotkan. Justru aku sangat senang melakukannya.”
                “Mianhae, songsaenim. Aku tidak bermaksud untuk menolak ajakan songsaenim, tapi aku dan Donghae songsaenim baru mengenal hari ini.”
                “Apakah tampangku ini seperti seorang penculik, Ji Yeon-ssi??”
                “Aku bukan bermaksud seperti itu, Donghae songsaenim. Hanya saja……..”
                “Hanya saja kau sedikit curiga padaku?? Tenang saja Ji Yeon-ssi, aku tidak akan melakukan hal apapun terhadapmu. Aku hanya ingin berbaik hati padamu. Lagipula, aku tidak mungkin membiarkan seorang yeoja cantik sepertimu pulang sendirian naik bus. Aku mohon terima tawaranku, Ji Yeon-ssi. Sungguh aku tidak bermaksud yang tidak- tidak terhadapmu.”
                “Tapi, Donghae songsaenim…….” sebelum Ji Yeon melanjutkan perkataannya aku segera menarik lembut tangan kanan Ji Yeon dan membukakan pintu mobil untuknya. Setelah Ji Yeon sudah duduk di samping tempat duduk pengemudi, aku pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ji Yeon.
                “Ji Yeon-ssi.”
                “Nae, songsaenim???”
                “Jangan gugup seperti itu, Ji Yeon-ssi. Percayalah padaku. Aku akan mengantarkan kau ke rumahmu dengan selamat.”
               
                Setiap hari aku selalu mengantar pulang Ji Yeon, aku sangat senang melakukannya. Tiga bulan sudah aku melakukan pendekatan dengannya. Dan akupun semakin mencintainya.
 
                Aku sering menghabiskan waktu bersama dengan Ji Yeon.
 
                ***************************************************************
 
                Donghae’s pov.
 
                Hari ini seperti biasa aku pulang bersama dengan Ji Yeon. Hampir seluruh mahasiswa, mahasiswi, dan para dosen sudang mengetahui kedekatanku dengan Ji Yeon.
 
                Hari ini aku memutuskan untuk mengajak Ji Yeon untuk jalan- jalan sekitar Sungai Han.
 
                “Donghae songsaenim, wahhh………… indah sekali……………”
                “Kau sangat lucu, Ji Yeon-ahh…….” aku mengacak- acak lembut rambut Ji Yeon.
                Entah setan apa yang merasuki tubuhku, tiba- tiba aku memeluk tubuh mungil Ji Yeon dari belakang. Aku memeluknya semakin erat memberikan kehangatan untuk Ji Yeon. Awalnya Ji Yeon mencoba untuk memberontak namun, karena aku semakin memeluk erat tubuh mungil Ji Yeon. Ji Yeon hanya diam. Aku bisa mencium wangi farfum Ji Yeon yang sangat aku sukai.
                “Songsaenim, apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau ada mahasiswa Seoul University yang melihat ini.”
                Namun, aku tetap memeluk tubuh mungil Ji Yeon semakin erat.
                Aku memeluknya cukup lama. Setelah itu, aku melepaskan pelukanku. Kedua tanganku membalikkan tubuh Ji Yeon sehingga berhadapan denganku. Ku tatap lekat kedua mata indah Ji Yeon. Wajahku mulai mendekati wajah Ji Yeon secara perlahan. Hanya dalam hitungan detik bibirku telah menyentuh bibir mungil dan merah milik Ji Yeon. Ji Yeon membelalakan kedua matanya, namun secara perlahan Ji Yeon menutup kedua matanya, begitupun denganku aku memejamkan mataku. Aku mencium bibir Ji Yeon cukup lama, sedangkan Ji Yeon sepertinya menikmati setiap sentuhan bibirku terhadap bibirnya.
                “Saranghae jeongmal saranghae, Ji Yeon-ahh.” Ucapku setelah melepaskan ciumanku. Ku lihat kedua pipi Ji Yeon sudah merah padam.
                “Songsaenim…..” kedua mata Ji Yeon sudah mulai berkaca- kaca.
                “Oh Tuhan, apakah aku telah menyakitinya?” batinku.
                Ji Yeon memeluk tubuhku tiba- tiba dan erat. Akupun membalas pelukannya. Dia menenggelamkan kepalanya di dada bidangku dan sepertinya dia menangis.
                “Neo gwaenchana, Ji Yeon-ahh??” ucapku khawatir.
                “Nan gwanchana, Donghae songsaenim.” Jawabnya disertai isakan tangisannya.
                “Ji Yeon-ahh…” aku melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata indah Ji Yeon semakin lekat.
                “Kenapa kau malah menangis, Ji Yeon-ahh??” tanyaku lembut.
                “Na…do saranghae, songsaenim…” jawabnya.
                Aku pun memeluk tubuh mungil Ji Yeon lagi.
                “Would marry me, Ji Yeon-ahh???”
                “Songsaenim, I will…..”
                “Mulai sekarang kau jangan memanggilku dengan embel- embel songsaenim lagi, arraseo!! Sekarang aku adalah calon nampyeonmu….” aku menghapus bekas air mata Ji Yeon yang masih menempel di kedua pipinya.
                “Nae, Donghae oppa.”
                “Anniya.. Jangan panggil aku dengan sebutan oppa juga..”
                “Lantas panggil apa, Donghae-ssi???” tanyanya sambil menjulurkan lidahnya padaku. Namun aku segera menarik tubuh mungilnya lagi, ku cium lagi bibirnya.. Aku menciumnya cukup lama dan kali ini Ji Yeon membalas ciumanku.
                “Panggil aku yeobbo atau jagiya, sayang……” bisikku dan mencium pipi kanan Ji Yeon sekilas.
                “Aku tidak mau songsaenim….” Ji Yeon mencoba untuk lari dariku, namun aku segera mengejarnya dan memeluknya sangat erat.
                “Jika tidak mau, aku akan menciummu lagi…..”
                “Nae nae nae nae… Donghae oppa, my yeobo, my jagiya…” ucap Ji Yeon, menunjukkan aegyeonya padaku.
                “Saranghae jeongmal saranghae jagiya.” Ucapku dan mengecuk kening Ji Yeon cukup lama.
                “Nado saranghae, jagiya…..”
 
 
THE END

15 responses

  1. Waaah,alur crtanya kcpetan chingu..!!tpi tetep seru kok..hehe
    bkin lgi donk ff haeji_ny,law prlu bkin yg sequel/chaptered..hehe
    q tungGu krya mu slajuTnya y chingu..!!faigthing B-) ;-D

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s